ROH TUHAN

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 61:1-3

06-20-76

 

 

Ini adalah Pendeta dari Gereja Baptis Pertama di kota Dallas yang menyampaikan warta yang diberi judul, Roh Yesus. Hari Minggu pagi yang lalu, kita telah menyelesaikan khotbah melalui pasal yang ke enam puluh dari kitab Yesaya. Dan pada hari ini, kita akan memulainya dengan pasal yang ke 61.

 

Kitab Yesaya pasal yang ke 61, dan bacaan dari tulisan kudus ini adalah demikian:

“Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik” – Injil, evangelion, kabar baik – “kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,

Untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.”

 

Semua dari kelompok kata yang terakhir itu mengacu kepada tahun rahmat akan suatu peringatan, ketika negeri yang telah digadaikan itu kembali kepada pemilik mereka terdahulu, kepada keluarga-keluarga yang telah diberikan Tuhan Allah atas tanah itu, dan mereka yang telah terjual di dalam hutang akan dibebaskan dan dilepaskan, ketika kepada para budak telah diberikan pengampunan yang tidak berkesudahan kepada mereka.

 

Untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan” – peringatan besar itu - dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung, untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar, supaya orang menyebutkan mereka “pohon tarbantin kebenaran”, “tanaman Tuhan” untuk memperlihatkan keagungan-Nya.”

 

Tidakkah saudara-saudara sekalian mengerti serta merasakan hal yang sama dengan yang saya mengerti dan saya rasakan mengenai nubuat yang tiada bandingannya itu? Betapa ajaib, betapa mengagumkan!

 

Akan tetapi siapakah yang telah dibicarakan nabi itu di sini? “Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung.”

 

Tentang siapakah yang dibicarakan oleh nabi itu di sini? Siapapun yang dijelaskan oleh nabi itu di sini, dia pastilah seorang raja yang penuh dengan kemuliaan yang datang dari sorga. Dia pastilah Allah yang datang turun ke dunia untuk berada di tengah-tengan umat manusia.

 

Dan sekarang saya membuka pasal yang keempat dari kitab Lukas. Dan dimulai dary ayatnya yang ke enam belas, saya bacakan: “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan.”

 

Pasal yang kedua dari kitab Matius ditutup dengan kata-kata seperti ini, “Setibanya Ia di sana Ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.” Dan dari potongan-potongan ayat-ayat yang indah itu menggambarkan Tuhan kita sebagai Orang Nazaret, komunitas Kristen Gereja Nazaret mengambil namanya. 

 

“Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab” – sama seperti kita yang berdiri dan membaca firman Tuhan bersama-sama di tempat peribadatan ini, “Ia berdiri hendakmembaca dari Alkitab.”

 

            “Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis” dan Dia memmbaca kitab Yesaya 61:

 

“Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik” – Injil, evangelion, kabar baik – “kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.”  

 

Hari pembalasan Allah telah tiba.

 

Dan kemudian Dia menutup kitab itu. Dia menggulung kembali kitab itu dan memberikannya kembali kepada pejabat itu, pemimpin para pegawai itu, lalu duduk, pertanda bahwa Dia akan menyampaikan warta dari kursi kenabian. Dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya lalu Ia mulai mengajar mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kemu mendengarnya.”

 

Ah! Jadi inilah nas yang telah dibaca oleh Tuhan kita ketika Dia memberitakan pesan agung-Nya yang pertama di kota Nazaret. Dan nas ini sama segarnya pada hari ini, sama tepatnya pada hari ini seperti pada saat itu.

 

“Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Dan demikianlah juga dengan saat ini. “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya. . . . .  Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Dia telah mengurapi aku untuk memberitakan Injil.”

 

Sungguh suatu hal yang luar biasa, sungguh suatu hal yang ajaib, memiliki seorang pendeta yang telah diurapi di dalam kuasa dan hadirat Tuhan. Seorang pendeta, seorang pelayan dari sebuah gereja, memiliki banyak hal, dan dia adalah banyak hal. Dia adalah seorang pengurus. Dia adalah seorang pengelola. Dia adalah seorang pengunjung. Dia adalah seorang pengumpul dana. Dia adalah seorang penasehat. Banyak hal.

 

Akan tetapi hal yang paling menakjubkan yang seharusnya mencirikan pelayan serta pendeta dari gereja tersebut adalah bahwa dia adalah seorang pemberita, diurapi oleh Tuhan Allah, seorang nabi-jurubicara dari sorga. Dan itu hendaknya menjadi doa kongregasi yang konstan bahwa dia akan menjadi hanya seperti itu.

 

Biar bagaimanapun banyaknya tugas yang lain yang dimilikinya, yang pertama dari semuanya, bahwa dia akan menjadi seorang pemberita kasih karunia yang diurapi dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus.

 

Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara.” Kepada orang-orang sengsara – mengapa menyebutkan mereka? Karena mereka begitu sering diabaikan dan dilupakan serta disia-siakan. Demikian mudahnya untuk melintas dari depan mereka. Hal yang paling baik dan yang paling menyejukkan yang saya fikir telah saya temukan di dalam firman Tuhan mengenai Yesus adalah, “Dan orang-orang biasa, orang-orang yang sengsara mendengarkan Dia dengan perasaan gembira.”

 

Mereka berkerumun di sekeliling Dia. Perkataan-perkataan-Nya bagaikan manna.  Perkataan-perkataan-Nya bagaikan air kehidupan. Perkataan-perkataan-Nya adalah keselamatan. Dan orang-orang biasa, orang-orang yang sengsara berkerumun dan mendengarkan Dia dengan perasaan gembira.

 

“Mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara. Dia telah mengutus Aku untuk merawat orang-orang yang remuk hati,” Orang-orang yang remuk hati, untuk merawat orang-orang yang remuk hati. Anda tahu, ketika saudara-saudara mematahkan sebuah tulang, dengan mudahnya dokter akan membelatnya dan mengikatnya dan tulang itu akan sembuh – lengan yang patah atau tangan atau kaki atau paha yang retak. Akan tetapi siapa yang mampu merawat hati yang remuk?

 

Ketika semangat menjadi ketakutan, dan hati menjadi remuk, dan hidup menjadi malang, ketika kelihatannya seperti tidak ada kekuatan yang tersisa untuk melawan di dalam pertempuran akan kehidupan, ketika kita dilupakan dan disiasiakan dan dilewati begitu saja, ketika kita seperti sebuah alat yang terabaikan yang mengapung di tengah-tengah kedalaman.

 

Di sinilah kita berada, tidak dipakai lagi dan telah dilupakan, telah dilewati begitu saja. Dan para dokter berkata, “Apa yang engkau butuhkan adalah mengambil sebuah perjalanan yang jauh.” Pergilah ke hutan belantara di benua Afrika atau bersafari di sebelah barat benua tersebut. Atau pergilah ke Swiss dan memandang kepada gunung-gunung yang ada di peguinungan Alpen yang naik menuju ke angkasa dan mengangkat kepala-kepala mereka yang bersalju ke langit. Akan tetapi  bagaimana saudara-saudara sekalian dapat meninggalkan hati saudara-saudara? Saudara-saudara sekalian membawanya turut serta. Dan ketika saudara-saudara menuruni pesawat terbang itu sejauh sepuluh ribu mil dari rumah, bersama dengan saudara-saudara, turut serta juga di bawa roh dan hati saudara-saudara.

 

Dan pada akhirnya, hidup menjadi sebuah beban bagi kita dan sebuah beban bagi semua orang yang mengenal kita.Dan di sana terdapat suatu kecenderungan bagi sebagian orang untuk tidak berasosiasi dengan mereka yang terpuruk, mereka yang sedang patah. Seperti seekor rusa jantan yang tertinggal di belakang oleh kawanannya dalam keadaan bercucuran darah dan sekarat.

 

Sungguh luar biasa seseorang in, yang mampu merawat orang-orang yang remuk hatinya! “Datanglah kepada-Ku,” demikianlah kata-Nya, “semua yang letih dan berbeban berat dan Aku akan menyenangkan engkau.” Dia adalah seorang penyembuh hati.

 

Untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan” – mereka yang berada di dalam penjara. Mereka yang mengenakan kuk penindasan akan dosa. Mereka yang berada di balik jeruji besi dan tembok-tembok batu. Mereka yang telah diperbudak oleh dosa.

 

untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara” – terbukanya pintu-pintu itu. Dia adalah seorang Pelepas Yang Agung dan seorang Pembebas Yang Agung. Untuk melepaskan kita dari dosa menjadi keselamatan, dari yang keliru menjadi benar, dari keegoisan menjadi pelayanan, dari neraka menjadi ke sorga. Meletakkan nyanyian di bibir kita dan puji-pujian di dalam hati kita. Melepaskan mereka yang berada di dalam penjara.

 

             “Pemulihan penglihatan orang-orang yang buta.” Demikianlah cara penyebutan terhadap dosa. Dosa membutakan penglihatan manusia. Dosa tidak pernah dilunasi. Tidak pernah. Dan untuk jatuh serta berjalan sempoyongan di dalam dunia yang penuh dengan dosa adalah untuk menjadi seorang manusia yang meraba-raba di kegelapan malam. Untuk membuka mata saudara-saudara sekalian sehingga cahaya kemuliaan Allah boleh menerangi kita.

 

Untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.” Ah, sungguh seorang pahlawan keselamatan Dia itu! Untuk mengumumkan tahun pembalasan agung Tuhan Allah.

 

Janda Nain meratap di pintu gerbang atas kematian putranya. Mengeringkan mata saudara-saudara. Angkatlah kepalamu. Terang dari Tuhan sudah ada di sini.

 

Dan sang bapa, Yairus, yang membungkukkan badan di dalam dukacita yang tidak terhiburkan pada saat kematian anak gadis kecilnya itu. Riangkanlah hatimu dan bergembiralah. Bersukacitalah! Yesus berada di sini.

 

Apakah seorang Maria ataupun seorang Martha yang meratap karena kehilangan akan saudara laki-laki mereka Lasarus, ataukah karena penyakit kusta yang mencegah serta menolak dia karena dia begitu tercemar, tercemar – saudara-saudaraku, hari kelepasan itu sudah berada di sini. Cahaya kemuliaan Tuhan Allah sudah memberikan sinarnya. Ini adalah tahun penerimaan Tuhan. Bersukacita dan bergembiralah.

 

Jadi, ketika saya membaca potongan ayat indah dan mengagumkan yang menggambarkan Roh Tuhan Allah yang bersemayam di dalam kuasa penyembuhan serta kasih karunia yang menyelamatkan atas Anak dan Juru Selamat kita itu, saya pasti telah berfikir – bukankah saudara-saudara juga begitu? - saya pasti telah berfikir demikian ketika Dia membaca nas tersebut dan memakainya dan menawarkan diri-Nya sendiri sebagai penyelamat hati manusia dan jiwa manusia - saya pasti telah berfikir bahwa orang-orang, dengan satu keselarasan yang sama, telah membukakan lengan mereka dan hati mereka untuk menerima Dia. Mereka seharusnya sudah membungkukkan badan mereka serta menyembah kepada Dia.

 

“Ini adalah Raja Kemuliaan, Anak Allah. Tuhan telah datang untuk berdiam di tengah-tengah kita. Oh, dimuliakanlah, terpujilah nama-Nya yang Ajaib!” Tidakkah saudara-saudara telah memikirkannya?

 

Dia berada di sini. Dia berdiri di sini. Tuhan Allah di dalam wujud manusia, dengan kemampuan serta keperkasaan dan kekuatan dari segala langit untuk menyembuhkan kita dan untuk menyelamatkan kita. Tidakkah saudara-saudara telah memikirkan bahwa mereka akan membungkukkan badan serta menyembah kepada-Nya?

 

Apa yang telah kita baca? “Mendengar itu, sangat marahlah semua orang yang ada di rumah ibadat itu,” dengan kemarahan yang keji, “dan mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.”

 

Apakah saya tidak keliru membacanya? Ya. Ada di sini, di dalam firman Tuhan. Sungguh sebuah tanggapan yang aneh yang dialami manusia! Sungguh suatu penyingkapan akan kelamnya, hitamnya perbuatan jahat dari hati manusia! Anak Allah, yang membawa kedamaian dan pengampunan serta penyembuhan dan keselamatan dan pemberitahuan akan tahun penerimaan agung akan Tuhan Allah, dan mereka menangkap Dia di dalam kemarahan serta kebengisan dan kemurkaan dan menghalau Dia supaya keluar dari kota mereka, membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing yang terjal itu, di mana Dia mungkin akan hancur sampai mati.

 

Ah, bolehkah hal itu terjadi? Bolehkah hal itu terjadi?

 

Minggu yang baru lalu ini di Norfolk, Virginia, ketika saya sedang menghadiri sesi dari Konvensi Gereja Baptis Wilayah Selatan kita, saya mengambil tempat duduk di dalam auditorium dan menantikan kedatangan dari Presiden Amerika Serikat yang rncananya akan menghadiri acara tersebut. Untuk yang pertama kalinya pemimpin eksekutif negara kita yang pernah diundang untuk menyampaikan pidatonya kepada persekutuan kita – membantu kita merayakan perayaan bisentinel, perayaan hari jadi yang ke dua ratus dari negeri kita, Amerika.

 

Ah, kecaman-kecaman atas kedatangannya! Mereka menutup akses ke pusat-pusat kota. Setiap mobil dan kenderaan yang dipikirkan akan melintas di jalanan pusat lota akan diberhentikan dan ditanyai hendak ke mana dan ke mana. Dan selama berjam-jam lamanya, semua akses menuju kompleks-kompleks besar yang berada di sekitar auditorium telah ditutup. Dan sebelum setiap orang diizinkan untuk masuk, dia harus menunjukkan dua macam benda. Yang pertama, dia harus memberikan lencana pendaftaran, yang telah dilekatkan ke pakaian mereka. Dan yang kedua, dia harus memiliki sebuah karcis khusus untuk ditunjukkan kepada para petugas tersebut.

 

Kedua benda tersebut harus dimiliki, bahkan sebelum setiap orang diperbolehkan untuk masuk. Dan kemudian jika sesuatu apapun di bawa serta, maka benda bawaan tersebut harus diletakkan di atas sebuah meja dan diperiksa secara teliti. Dan pada saat saya memasuki aula yang besar itu, bagi saya tempat itu kelihatannya seperti sebuah tempat pertemuan dari departemen kepolisian saja. Mereka berada di mana-mana. Dan pria-pria yang berpakaian biasa itu berdiri di setiap tempat.

 

Ketika saya duduk, persis di belakang sebelah kanan presiden, saya merasakan sesuatu menyikat bagian belakang kepala saya. Saya kemudian berpaling uintuk melihat. Dan persis di belakang saya, berdiri seorang petugas berpakaian sipil dan bagian belakang senjatanya sedang menekan bagian belakang kepala saya – untuk pertama kalinya di dalam hidup saya, saya pernah pergi ke gereja dengan sepucuk senjata persis di bagian belakang telinga kiri saya.

 

Dan di dalam penantian serta di dalam keheningan, kerumunan massa – hanya sebelas ribu orang banyaknya yang diperbolehkan masuk ke dalam arena – menunggu di dalam antisipasi yang hening. Dan akhirnya, dengan diikuti oleh banyak pasukan serta dikawal oleh beberapa orang pria lain, Presiden Amerika Serikat menampakkan diri. Dia masuk ke dalam ruangan dengan martabat serta sosok yang agung, masuk ke dalam gelanggang yang sangat besar tersebut. Lalu kemudian dikawal untuk menaiki panggung. Dan ketika tengah berdiri disambut dengan sambutan serta tepuk tangan orang banyak – mereka bertepuk tangan, terus bertepuk – lalu kemudian dia menyampaikan sebuah pidato.

 

Tidak semua di dalam kehidupan saya pernah saya dengar sebuah pidato yang lebih baik daripada pidato yang telah disampaikan minggu yang baru lalu ini, oleh presiden dari Amerika Serikat. Pidato itu begitu tepat, dan begitu baik di dalam perasaannya, dan dengan nada suaranya, di dalam warna suaranya. Beliau mengutip perkataan dari Dr. George W. Truett, pendeta termashyur dari gereja ini, di dalam pidato Dr. Truett yang disampaikan ptentang kebebasan beragama dari anak-anak tangga gedung Capitol Amerika Serikat di Washington.

 

Dia hanya mengembangkan dari satu ikhtisar ke ikhtisar lainnhya. Sungguh luar biasa. Dan pada saat dia menyelesaikannya, dengan satu keseragaman – walaupun coraknya, politisnya, dari konvensi itu berbeda secara keseluruhan, di dalam partai lainnya, di dalam kandidat presiden lainnya – konvensi itu berkembang dengan suatu penghargaan yang tinggi, dan kemudian sekali lagi disambut dengan tepuk tangan yang meriah ketika pemimpin kita dikawal turun dari panggung tersebut dan dari gedung tersebut.

 

Ketika saya duduk di sana sebelum dan sesudah peristiwa tersebut, saya berfikir tentang khitbah ini dan mengenai saat ini, dan mengenai nas bacaan saya, yaitu dari kitab Yesaya pasal yang ke enam puluh satu, dan membalikkannya di dalam benak saya, memikirkan tentang penyampaian dari warta ini. Tidak dapat tidak, saya tidak dapat menahan untuk memperbandingkan penerimaan dari presiden Amerika Serikat - ketika berada di tengah sambutan serta tepuk tangan dari orang banyak, tidak dapat tidak saya membandingkannya dengan penerimaan atas Raja Kemuliaan yang datang dari sorga.

 

Pada saat presiden Amerika Serikat muncul, kita semua berdiri. Ketika dia berbicara, kita memberinya tepuk tangan yang meriah. Ketika dia pergi, dia meninggalkan ruangan dengan penghormatan yang mendalam. Akan tetapi pada saat Tuhan kita datang dari sorga dan telah memberitahukan kabar yang paling indah yang pernah di dengar di seluruh dunia – pengampunan terhadap dosa-dosa kita, keselamatan akan jiwa kita, penyembuhan terhadap hati kita, terbukanya kedua mata kita, kemerdekaan roh kita, dia ditangkap dengan kemarahan. Dan di dalam rasa amarah mereka menghalau Dia dari tengah-tengah mereka, dan membawanya ke tebing gunung untuk menghalau Dia dari tebing yang terjal itu, di mana Dia mungkin akan hancur sampai mati.

 

Dan apakah kemanusiaan ini? Kitab Suci berkata, “Dia datang ke tengah-tengah bangsa-Nya dan kaum-Nya sendiri telah menolak Dia.” Baiklah, apa yang terjadi pada-Nya? Mengapa mereka dapat begitu marahnya? Dan apakah dakwaan terhadap Dia?

 

Demikianlah jawabannya. Mereka berkata, “Orang ini mengampuni dosa-dosa.” Dan mereka membenci Dia. Dia mengampuni dosa. Mereka berkata, “Dia menyembuhkan orang pada hari Sabbat.”

 

Di rumah ibadah itu, hadir seorang pria dengan sebuah tangan yang lumpuh. Dan dengan rasa kasihan Tuhan berkata kepadanya, “Ulurkanlah tanganmu.” Dan sejak saat itu pria tersebut telah disembuhkan. Dan mereka membenci Dia. Dia menyembuhkan orang pada hari Sabbat di dalam rumah ibadah, persis di tengah-tengah kebaktian.

 

Mereka berkata, “Dia menerima orang-orang yang berdosa dan Dia makan bersama-sama dengan mereka.” Dan mereka membenci Dia. Dia adalah sahabat dari para pemungut cukai dan orang-orang yang berdosa lainnya. Orang-orang yang tersesat dan berputus asa berkerumun di sekeliling Dia dan menemukan harapan di dalam perkataan-perkataan yang telah diucapkan-Nya. Dan mereka membenci Dia, karena telah menyambut para pemungut cukai dan orang-orang yang berdosa.

Dia telah berkata, “Rubuhkanlah Bait Suci ini dan pada hari yang ketiga Aku akan mendirikannya kembali.” Dan mereka membenci Dia. Siapa yang dapat melakukan hal seperti itu? Dan mereka berkata, “Dia berkata bahwa Dia adalah Kristus, seorang raja, dan itulah alasannya.” Dan mereka membenci Dia dan menyerahkan Dia untuk kemudian disalibkan.

 

Pontius Pilatus berkata, “Saya tidak menemukan suatu kesalahan apapun sama sekali.” Akan tetapi mereka meneriakkan dengan lebih keras lagi, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

 

Pontius Pilatus mengambil air dan membasuh tangan-Nya dan berkata, “Bawalah Dia dan salibkanlah Dia, akan tetapi saya ingin supaya kalian tahu bahwa saya tidak menemukan suatu kesalahan apapun pada-Nya.”

 

            Dapatkah saudara-saudara percaya kita melakukannya terhadap Raja Kemuliaan itu? Akan tetapi saudara-saudara mengatakan, “Bukan saya. Akan tetapi Yudaslah yang melakukannya. Yudaslah yang telah menghianati Dia. Bukan saya. Orang-orang Yahudi itu yang telah melakukannya. Merekalah yang telah menyerahkan Dia. Bukan saya. Para prajurit kekaisaran Romawi  yang telah memasukkan paku-paku tersebut menembus ke dalam kedua tangan-Nya dan kedua kaki-Nya, dan adalah seorang prajurit yang telah menombak lambung-Nya. Bukan saya.”

 

Kita semualah yang telah melakukannya. Kita semua turut ambil bagian. Dosa-dosa kita telah menancapkan mahkota berduri itu ke atas kening-Nya. Dan dosa-dosa kita yang telah memasukkan paku-paku yang besar itu tembus ke dalam kedua tangan-Nya dan kedua kaki-Nya. Semuanya ini karena kita. Apakah saudara-saudara ingin melihat kegelapan dosa? Jika saudara-saudara melihat kepada kebejadan sifat alami manusia, itulah jawabannya.

 

Demikianlah yang telah mereka lakukan kepada Raja kemuliaan dan Anak Allah itu. Kita yang telah menyalibkan Tuhan kita.

 

Dan di dalam suatu hanl yang aneh dan mengagumkan, ketika Tuhan membaca nas bacaan tersebut, Dia berhenti di tengah-tengah ayat yang kedua – “untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.” dan Dia berhenti. Akan tetapi ada setengah bagian yang lainnya untuk kalimat tersebut: “Hari pembalasan Allah telah tiba.”

 

Ada pasal yang lain. Sekarang adalah satu hari akan kasih karunia, akan pengampunan, akan undangan, akan permohonan. Setiap orang, di mana saja berada, dapat menyesali dosa-dosanya dapat melihat dengan keyakinan serta kepercayaan di dalam Yesus, diampuni dan diselamatkan – setiap orang, di manapun saja berada. Akan tetapi akan datang waktunya ketika kitab-kitab itu di tutup dan kita berdiri di balik jeruji penghakiman Tuhan Allah Yang Mahakuasa. Lalu kemudian kita akan berhadapan langsung dengan Dia, saling bertatapan wajah.

 

Nas pengungkapan di dalam kitab Wahyu adalah kitab Wahyu 1:7: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia.” Orang-orang yang telah menyerahkan Dia, dan tatapan mata mereka begitu tajam dengan mana mereka begitu membenci Dia, dan mereka yang telah memasukkan paku-paku tersebut ke dalam kedua tangan-Nya dan kedua kakinya – suatu hari nanti mereka akan dipaksa untuk berhadap-hadapan dengan Anak Allah.

 

“Dan juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”

 

Ada hari yang lain yang sedang datang. Ada pasal lain yang sedang datang. Sekarang saya telah melihat pintu yang terbuka untuk kemudian dapat diselamatkan. Sekarang saya dapat mendatangi – Dia di dalam penyesalan serta di dalam permohonan, dan di dalam meminta kepada Tuhan Allah untuk merasa kasihan serta iba terhadap diri saya. Saya dapat mendatangi Dia dan menyadari bahwa Dia adalah seorang Juru Selamat. Akan tetapi ada suatu hari yangsedang menuju ke mari ketika saya akan dipaksa untuk berdiri di hadapan-Nya yang sebagai seorang Hakim. Dan ah, Tuhan Allah, apa yang akan terjadi kepada diriku kemudia?

 

Betapa saya membutuhkan kehadiran seorang penasehat, seorang pembela, seorang pengantara! Tuhan, di dalam dosa-dosa saya, saya tidak dapat tinggal di dalam hadirat Tuhan Allah yang kudus. Semuanya akan hangus terbakar seperti api yang menyala-nyala terhadap dosa. Dan jiwaku yang sengsara, dimuat dengan kekeliruan serta kejahatan serta kesalahan, setiap hari dari seluruh hidup saya – Tuhan, bagaimana saya akan bersaksi? Saya membutuhkan seorang pembela. Saya membutuhkan seorang pengantara. Saya membutuhkan seorang pengacara. Saya membutuhkan seseorang untuk menutupi dosa-dosa saya. Saya membutuhkan seseorang yang dapat mencucikan noda-noda yang terdapat di dalam jiwa saya.

 

Tuhan, saya datang sebagai orang berdosa yang malang, tersesat, orang berdosa yang telah bertobat kepada-Mu. Ya Tuhan, jadilah kekuatanku dan keselamatan-ku, Dan saya datang sekarang juga. Tuhan, berikanlah kepadaku terang dan kehidupan di saat-saat kepulanganku. Lepaskanlah belenggu dan rantai pengikat dosa ini. Tuhan, bukakanlah pintu itu untuk saya, sehingga saya dapat beroleh kebebasan. Dan Tuhan, di saat-saat kematianku, dampingilah aku. Tuhan, tolong aku untuk mati penuh dengan kemenangan serta kejayaan. Dan kemudian, terimalah aku did alam kemuliaan. Sertailah aku.

 

Milikilah aku, ya Tuhan. Katakan, “Aku mengenal dia. Aku mengenal dia. Di hari itu di bulan Juni, di dalam gereja itu, dia mendatangi-Ku dan telah membukakan pintu hatinya bagi-Ku, dan Aku telah menerima dia sebagai anak-anak Allah. Aku mengenal dia. Aku telah menuliskan namanya di dalam Kitab Kehidupan-Ku. 

 

Dia adalah kepunyaan-Ku. Dia adalah salah seorang dari yang telah Ku-tebus itu, salah satu untuk siapa Aku telah mati,di cuci di dalam darah.”

 

Ya Tuhan, biarkanlah demikian dengan kami semua, tanpa kehilangan dari seseorang, sehingga kita sampai kepada Yesus.

 

Ini adalah tahun rahmat Tuhan. Sebentar lagi, kita berdiri untuk menyanyikan lagu permohonan undangan kita. Dan sembari kita menyanyikannya, di dalam balkon dan di sekeliling saudara-saudara sekalian, anda, di lantai yang lebih rendah ini, anda, bukakanlah pintu hatimu kepada Tuhan Yesus. 

 

“Ini aku datang, Pak Pendeta, di sini aku berdiri.”

 

Sepasang dari antara saudara-saudara. Anda satu keluarga. Atau hanya sendiri saja.

 

Hari ini juga, saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat saya dan inilah saya. Ini adalah jkeluarga saya. Kami semua datang ke tempat ini.”

 

Hari ini, ketika Roh Allah akan melesakkan permohonan itu ke dalam hati saudara-saudara, jawablah dengan hidupmu. Lakukanlah sekarang juga. Ambillah keputusan itu sekarang juga. Pada nada yang pertanma dari bait yang pertama, datanglah ke sini. Ambillah keputusan di dalam hati saudara-saudara sekalian saat ini juga. Dan ketika kita berdiri, berdiri, datang dan turunilah anak-anak tangga itu. Berdiri, berjalan di lorong-long itu. Berdiri, berjalan menuju ke lorong tersebut. Semoga Tuhan Allah akan berbaik hati kepada saudara-saudara sekalian dan para malaikat akan menjagai engkau ketika engkau datang. Sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.