PEMISAH ANTARA KAMU DAN ALLAH

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 57:20-21; 59:1-2

06-06-76

 

           

Kita mengangkat hati kita di dalam puji-pujian kepada Tuhan Allah Yang Mahakuasa bersama-sama dengan saudara-saudara sekalian. Dan untuk kumpulan dari saudara-saudara sekalian yang sedang mengikuti kebaktian ini bersama-sama dengan kami melalui siaran radio dan siaran televisi, kami mengucapkan banyak terima kasih.

 

Bagian pertama dari minggu yang lalu ini, beberapa orang dari antara kita semua berada di Arkansas. Dan sebenarnya ada sekumpulan dari antara saudara-saudara yang berada di tengah-tengah negara bagian besar yang ternashyur itu yang mendengarkan kepada kebaktian yang disiarkan melalui siaran televisi ini pada setiap hari Tuhan. Saudara-saudara sekalian memberikan berkat kepada hati kami di dalam dukungan doa saudara-saudara sekalian yang begitu setia dan ketika mengirimkan surat kepada kami.

 

Bagian yang terakhir dari minggu yang lalu, saya sudah menyampaikan ceramah permulaan pada sebuah perguruan tinggi di pegunungan Georgia Utara yang namanya sesuai dengan  pendahulu saya yang termashyur, Dr. George W. Truett.

 

Pada tanggal empat bulan Juli, saya akan memimpin sebuah kebaktian relijius patriotik yang besar di Atlanta, Georgia, di dalam sebuah stadion sepak bola, disponsori oleh orang-orang Kristen dari seluruh kota tersebut. Maka mereka meminta saya untuk datang lebih cepat sehingga saya boleh memberikan beberapa pengumuman, yang akan direkam dan diulangi di stasiun-stasiun televisi di kota tersebut. Dan di dalam salah satu stasiun televisi yang menakjubkan di kota Atlanta itu, manajernya mendatangi saya untuk berbicara dengan saya. Dia berkata bahwa dia telah mendengar berita mengenai saya sehingga ingin bertemu dengan saya. Dia baru saja menjadi seorang pengikut Kristus.

 

Dan dia berkata, “Kami memanjatkan doa dan mengundang anda untuk membawa kebaktian gereja anda serta menyiarkannya melalui televisi bagi orang-orang di kota Atlanta dan Georgia, melalui siaran stasiun televisi kami.”

 

Saya memanjatkan doa sehingga Tuhan Allah mengizinkan kami melakukan hal tersebut, dan di dalam dukungan dari saudara-saudara sekalian dan dengan doa-doa dari saudara-saudara sekalian serta sura-surat yang telah saudara-saudara layangkan kepada kami. Tuhan Allah akan memampukan kami untuk melakukannya.

 

Adalah suatu mujizat modern bahwa seseorang boleh berdiri di tempat yang dikuduskan ini dan dengan sungguh-sungguh dapat dilihat dan dapat didengarkan oleh kata-kata, memberitakan Injil ke seluruh dunia. Malaikat dari radio dan televisi mengumumkan Injil yang tidak berkesudahan itu ke seluruh penjuru dunia – hal itu merupakan sebuah penglihatan di dalam Wahyu yang menjadi nyata terjadi di depan mata kita sendiri. 

Ini adalah Pendeta yang menyampaikan warta yang diberi judul: Pemisah Antara Kamu dan Allah. Di dalam khotbah kami melalui kitab Yesaya, kita telah sampai kepada kedua ayat yang terakhir dari pasalnya yang ke lima puluh tujuh dan dua ayat yang pertama dari pasalnya yang ke lima puluh sembilan. Ini adalah bacaan dari apa yang tertulis di dalam firman Tuhan, dari kitab Yesaya 57, ayat yang ke 20 dan 21:

 

“Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. Tiada damai bagi orang-orang fasik itu.”

Firman Allahku.

 

Dan dua ayat yang pertama dari dalam pasal yang ke lima puluh sembilan:

 

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.

Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” 

 

Ada tiga hal di dalam pesan kenabian dari nabi Yesaya ini yang menggambarkan iman kepercayaan kita yang paling kudus, agama Kristen.

 

Nomor Satu: merupakan yang pertama dan di atas segalanya, moral dan etika. Agamanya di dasarkan di dalam karakter Tuhan Allah Yang Mahakuasa, yang namanya kadosh, kudus, terpisah dari dosa. Bagi saya untuk mengatakan bahwa saat ini semuanya sudah basi. Sudah biasa. Sudah dipahami. Akan tetapi untuk telah mengatakan kalimat seperti itu di zaman dahulu pasti akan membuat suatu hal yang membuat takjub, suatu pemberitahuan yang tidak masuk akal, karena di zaman dahulu kala, agama itu dipisahkan dari moralitas. Keduanya dipisahkan.

 

Sebagai contoh, seandainya saudara-saudara pergi bersama-sama dengan saya dan bersama-sama kita mengunjungi sebuah kuil di tanah Mesir zaman dahulu kala. Di sekelilingnya pastilah terdapat dinding dan di sebelah dalam terdapat istananya. Ketika kita memasuki bagian terluar istana, di sana, di depan kita pastilah terdapat sebuah altar di tempat mana kurban-kurban tersebut dibakar. Persis di belakang pastilah terdapat sebuah bokor di tempat mana para imam itu membasuh tangan mereka. Dan tepat dibelakangnya pastilah terdapat naos, tempat pemujaan itu dengan pintunya untuk masuk ke tempat yang kudus itu.

 

Ketika kita masuk ke dalam, di sana pasti terdapat perabotan kudus itu, dan persis di belakang selubung itu. Lalu saya akan menjulurkan tangan saya untuk menarik selubung yang ada di dalam kuil kuno di tanah Mesir itu, dan di sanalah saya akan menemukan sebuah tabut yang kudus. Akan tetapi ketika saya melihat pada tabut tersebut, saya takjub pada apa yang saya lihat – pada objek pemujaan serta penyembahan dari para pemuja berhala zaman dahulu itu. Karena di dalam sanctum sanctorum itu, di dalam tempat itu, di tengah-tengah dan di jantung agama itu, saya pasti akan menemukan Ibis yang dikeramatkan, seekor burung bangau. Saya , I would have found a sacred ibis, a heron, a stork.  Saya akan menemukan patung buaya yang dikeramatkan. Saya akan menemukan patung kucing yang dikeramatkan. Saya akan menemukan patung lembu yang dikeramatkan. Inilah jantung dari iman kepercayaan relijius dari dunia di zaman dahulu kala.

 

Ikutlah dengan saya sekarang juga ke Bait Suci Allah Yahwe yang besar di kota Yerusalem. Di sekelilingnya saudara-saudara sekalian akan menemukan tembok dan di sebelah dalamnya terdapat bait sucinya. Itu sudah biasa. Kita sudah melihat yang seperti itu sebelumnya. Di sebelah luar bait suci, di sana kita akan melihat altar itu. Itu sudah biasa. Kita sudah melihat yang seperti itu sebelumnya.

 

            Di belakang altar itu, kita akan menemukan sebuah ruangan di mana para imam itu membasuh diri serta membasuh kedua tangan mereka. Paling biasa kita kenali. Kita sudah melihat yang seperti itu sebelumnya.

 

Persis di belakangnya terdapat naos, tempat pemujaan yang besar itu, bersama-sama dengan pintu menuju ke dalam. Lalu kita beranjak menuju ke dalam, dan di sana terdapat tempat kudus dengan perabotannya yang begitu indah. Paling biasa kita kenali.  Kita sudah melihat yang seperti itu sebelumnya. Dan persis di belakangnya terdapat selubung yang memisahkan Tempat Kudus itu dari Altar. Paling biasa kita kenali.  Kita sudah melihat yang seperti itu sebelumnya.

 

            Saya menjulurkan tangan saya dan menarik selubung itu, dan di sana terdapat sebuah tabut – pusat iman kepercayaan keagamaan yang kudus. Sangat biasa kita kenali.  Kita sudah melihat yang seperti itu sebelumnya. Akan tetapi ketika saya melihat ke dalam tabut Perjanjian yang berada di dalam Bait Suci besar milik Allah Yahwe di Yerusalem itu, apakah saya melihat patung seekor bangau, atau patung seekor buaya atau patung seekor kucing atau patung dari seekor lembu keramat? Tidak! Saya melihat Kesepuluh Perintah Allah yang dianugerahkan oleh Tuhan Allah yang hidup dan dituliskan langsung oleh tangan-Nya pada dua buah loh batu.

 

Pusat agama dari Tuhan Allah Yang Mahakuasa selamanya dan selalu bersifat moral dan etika. Senantiasa berkaitan dengan keadilan dan perbuatan yang baik.

 

Hal yang kedua yang saya pelajari mengenai iman kepercayaan kita yang paling kudus dari pesan kenabian tersebut. Juga merupakan sebuah penyajian dari satu Allah akan belas kasihan dan pengampunan, akan keselamatan dan mengampuni.

 

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.” 

 

Tuhan Allah kita Yang Maha Agung berkuasa untuk menyelamatkan. Dan Dia berkuasa untuk menjawab doa. Dia benar-benar menyelamatkan dan Dia bersungguh-sungguh menjawab doa. Hati Tuhan Allah, di dalam kemurahan dan di dalam belas kasihan, terbuka untuk anak-anak manusia. Pesan itu senantiasa mengenai kembalinya, mengenai pertobatan, menenai pengampunan dan mengenai keselamatan.

 

Nabi Yesaya memulai nibuatannya yang agung itu di dalam pasal yang pertama dari ayatnya yang ke delapan belas: “Marilah – marilah, baiklah kita berperkara! Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”

 

Atau ketika nabi Yehezkiel di dalam pasal yang ke tiga puluh tiga dari ayatnya yang ke sebelas: “‘Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya suapaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati?’”

 

Tuhan Allah Yang Mahabesar, Mahaadil dan Mahakudus yang di sorga, yang tidak dapat memikul untuk melihat ketercemaran dan kejahatan adalah Allah akan keselamatan dan jawaban-jawaban doa.

 

Kemudian mengapa tidak semua dari kita diselamatkan? Mengapa begitu banyak dari antara kita yang tersesat? Dan mengapa doa-doa yang telah kita panjatkan tidak dijawab dan Tuhan Allah tidak mendengarkan kita?

 

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

 

Dan itulah hal yang ketiga yang saya pelajari mengenai iman kepercayaan kita yang kudus. Hal itu juga bersifat penghukuman. Di dalamnya terdapat sebuah sanksi dan sebuah hukuman ketika kita meninggalkan Tuhan Allah dan kita menentang perintah yang dikuduskan itu.

 

Tidakkah saudara-saudara akan mengira bahwa seseorang yang memilih untuk mengatakan tidak bagi Tuhan Allah, yang memilih untuk menjadi seorang penentang terhadap hukum-hukum dari Allah – tidakkah saudara-saudara akan mengira dia memilih demikian karena di sana terdapat sesuatu yang lebih baik lagi? Di dalamnya ditemukannya suatu penghargaan yang lebih besar dan tentang alternatif-alternatif – untuk memilih Tuhan Allah atau memilih penentangan dan jalan perlawanannya sendiri – dia memilih jalannya sendiri. Dan dia menentang Tuhan Allah Allah dan melanggar perintah-perintah dari Tuhan Allah karena di dalamnya telah ditemukan sesuatu yang lebih baik lagi.

 

Akan tetapi Tuhan Allah yang di sorga sendiri berfirman, “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. Tiada damai bagi orang-orang fasik itu.”

 

Ketika seorang manusia berpaling dari Tuhan Allah dan di dalam penentangan mengikuti jalannya sendiri yang penuh dengan dosa, tidak akan ada ketenangan. Tidak ada kedamaian. Tidak ada yang mendiami kecuali kesusahan, kesusahan, kesusahan – seperti arus laut yang menimbulkan sampah dan lumpur.

 

Pertama-tama kita akan membicarakan tentang kejahatan yang terbuka dan mencolok, tentang dosa-dosa jasmani dan kasar. Manusia itu membelakangi Tuhan Allah dan dia mengikuti jalannya sendiri yang penuh dengan segala kesengajaan. Dengan penghukuman itu Tuhan Allah berfirman, “Tidak ada kedamaian.” Tidak ada ketenangan kecuali kesusahan, kesusahan dan kesusahan.

 

Ada seorang manusia yang menyerahkan dirinya terhadap sifat tamak, dan kepada keserakahan, kekayaan, uang, pengaruh, keberhasilan, penghargaan dan untuk dirinya telah ditetapkannya beberapa tujuan akhir, dan dia berfikir, “Seandainya saja saya dapat memiliki sebanyak ini, lalu kemudian saya akan merasa puas.”

 

Dan dia mendapatkannya. Dia menemukannya. Berhenti untuk menjadi kaya. Dan kemudian dia menetapkan tujuan-tujuannya untuk sedemikian banyak, lalu kemudian untuk sebegini banyak, dan untuk sebegini banyak. Dan dia tidak akan pernah merasa puas, dan dia tidak akan pernah merasa tenang, dan dia tidak akan pernah merasa damai, dan pada akhirnya, jika dia menguasai dunia, dia akan mendambakan bulan dan bintang-bintang disamping. Tidak ada ketenangan, tidak ada kedamaian. Tuhan Allah berfirman, tidak ada ketenangan, tidak ada kedamaian.

 

Seorang dokter, berkata kepada sahabatnya, seorang ahli bedah, “jadi anda tidak memiliki waktu bagi Tuhan Allah dan hari-hari Minggu anda dihabiskan di dalam profesi anda agar supaya anda dapat menghasilkan uang? Baiklah, semakin banyak pasien-pasien bedah yang anda layani, semakin besar pula penghasilan anda, dan anda menghasilkan uang, anda terus menghasilkan uang, dan anda terus menghasilkan uang dan anda tidak akan pernah merasa puas. Anda menghasilkan uang dan uang dan uang dan uang yang lebih banyak lagi.” Dan dokter itu berkata, “Tuan, anda akan menjadi ahli bedah terkaya di areal pemakaman itu.”

 

Tidak lama kemudian dia meninggal dunia karena suatu serangan jantung. Dia dikebumikan di sana - ahli bedah terkaya di areal pemakaman itu. Tidak ada ketenangan. Tidak ada kedamaian. Orang yang menyerahkan dirinya kepada ketamakan dan keserakahan senantiasa menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih dan lebih banyak lagi, dan dia tidak pernah merasa puas.

 

            Demikian dengan seseorang yang menyerahkan dirinya kepada ambisi keegoisan untuk bangkit, untuk menjadi lebih tinggi daripada yang lain, menginjak-injak yang lain, lebih tinggi daripada yang lainnya, mengabaikan cinta kasih dan persahabatan serta kebajikan dan belas kasih di dalam ambisi, di dalam suatu ambisi. Tidak akan ada ujungnya. Tidak ada ketenangan. Yang ada hanyalah kesusahan. Tidak ada kedamaian. Tuhan Allah berfirman, tidak ada kedamaian. Tidak damai. Tidak ada kedamaian.

 

            Ada seseorang yang mendambakan puji-pujian. Pujian. Kedengaran seperti alunan suara musik ke dalam telinganya jika mendapatkan pujian, jika dipuji. Dan pujian yang kecil akan membiakkan suatu ketamakan akan lebih banyak lagi pujian, dan pujian itu akan mencari lebih banyak lagi pujian, dan menginginkan pujian, pujian dan lebih banyak lagi pujian. Tidak ada kedamaian. Tidak ada ketenangan. Tidak ada kejenuhan. Tidak ada perasaan jenuh. Demikianlah selamanya.

 

Ada seseorang yang menyerahkan dirinya sendiri kepada nafsu. Kepada birahi. Kepada sifat jahat dan gairah yang membakar. Kepada nasu birahi. Dan tidak ada kedamaian di sana dan tidak ada ketenangan di sana. Akan tetapi di sana terdapat kesusahan seperti ombak lautan yang menimbulkan lumpur dan sampah. Dia memiliki suatu hubungan intim dengan yang satu ini. Tidak merasa puas. Lalu kemudian dengan yang di sana. Tidak merasa gembira. Dan dengan yang satu ini. Tidak merasa jenuh. Dan dengan yang satu di sana. Tidak menemukan kepuasan. Dan hal itu terjadi dari yang satu kepada yang lainnya, dan yang lainnya dan yang lainnya lagi, dan dia menyerahkan dirinya sendiri kepada sebuah kehidupan yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan gairah yang jahat. Tidak ada kedamaian. Tidak ada ketenangan. Tuhan Allah berfirman, hal itu seperti kuburan, tidak pernah penuh.

 

            Ada seseorang yang menyerahkan dirinya kepada amarah. Kemarahan, pahitnya kemarahan. Melahirkan perasaan dendam. Mengingat suatu peremehan atau sakit hati atau suatu kekeliruan. Kebencian. Kemarahan, dan tidak ada ketenangan di sana. Dan tidak ada kedamaian di sana. Dan seperti ombak lautan yang menimbulkan lumpur dan sampah, hati dan kehidupan itu sudah dihancurkan.

 

Tuhan Allah berfirman, “Jangan biarkan matahari turun ke dalam kemarahanmu.” Buatlah menjadi benar di hari itu; sebelum saudara-saudara memberikan persembahan, sebelum Tuhan Allah mau berdamai. Akan tetapi membenci dan menjadi penuh dengan amarah serta tuduh menuduh, untuk membayarkan kembali keping pembalasan dendam tersebut – Tuhan Allah berfirman, tidak ada kedamaian di sana dan tidak ada ketenangan di sana. Berombak seperti air dari sebuah laut yang murka menimbulkan lumpur dan sampah.

 

Iri hati, kecemburuan, tidak berbahagia; orang yang lain lagi; pujian, orang yang lain lagimencari uang yang lebih banyak, orang yang lain lagi, kesuksesan yang lebih banyak lagi, orang yang lain lagi, menginginkan lebih banyak segalanya. Lebih, lebih, lebih banyak segala sesuatunya, dipenuhi dengan keirian dan dengan kecemburuan. Tidak ada kedamaian di sana dan tidak ada ketenangan di sana. Seperti laut yang berombak-ombak.

 

            Raja agung Israel yang menjulang tinggi, raja Saul, mendengar nyanyian perempuan-perempuan Israel yang kembali dari peperangan melawan orang-orang Filistin, yang mengatakan, “Saul telah membunuh ribuan, akan tetapi Daud membunuh puluhan ribu banyaknya.”

 

            Dan sejak saat itu, Saul mengawasi Daud, dan dia merasa cemburu terhadap Daud, dan merasa iri terhadapnya dan bersikap dingin kepadanya. Dan dia tidak pernah mendapatkan ketenangan ataupun kedamaian, dan tahun-tahun terakhir pemerintahannya telah dihancurkan oleh sifat iri hati dan oleh kecemburuan. Dan Alkitab berkata, “Dan Roh Tuhan telah meninggalkan Saul, dan roh yang jahat dari Tuhan telah menyusahkan dia.”

 

Seperti lautan yang berombak-ombak yang airnya menimbulkan sampah dan lumpur. Tidak ada ketenangan. Tidak ada kedamaian. “Tidak ada kedamaian di sana,” demikianlah firman Tuhan, terkecuali sebuah kehidupan akan ketidak tenangan yang berkesusahan.

 

Demikian juga dengan kesombongan, ketika seseorang mengangkat dirinya sendiri di dalam penghargaan kepada dirinya sendiri, dan dia memikirkan lebih banyak lagi dari dirinya daripada yang seharusnya yang dipikirkannya, dan dia begitu bangga. Dengan mudahnya dia dapat dilukai. Dengan mudahnya dia dapat diremehkan, dan dengan mudahnya dia dapat disakiti, dan dia begitu sombong.

 

Demikian di dalam pasal yang ke dua puluh delapan dari kitab Yehezkiel, adalah kesombongan yang telah meninggikan hati Iblis, dan Tuhan Allah telah melemparkannya ke dalam neraka. Tidak ada kedamaian di sana dan tidak ada ketenangan di sana, ketika seseorang meninggikan dirinya sendiri di dalam kemuliaan dirinya sendiri.

 

Obat-obatan terlarang serta minuman keras. Tidak ada akhir di sana. Tidak ada ketenangan. Dan tidak ada kedamaian di sana. Sedemikian banyak. Akan tetapi untuk mendapatkan suatu sensasi darinya, dibutuhkan sedikit lebih banyak lagi. Dan kemudian lebih banyak lagi, dan kemudian lebih banyak lagi, dan kemudian lebih banyak lagi, dan kemudian lebih banyak lagi, dan kemudian lebih banyak lagi. Dan tidak ada ketenangan di sana. Tidak ada kejenuhan di sana. Tidak ada sebuah akhir di sana. Tidak ada kedamaian di sana, berombak-ombak seperti lautan yang resah dan murka yang menimbulkan sampah dan lumpur.

 

Tiada damai bagi orang-orang fasik itu.” Firman Allahku.

 

Mazmur 7:12 mengatakan bahwa setiap saat Tuhan Allah murka kepada orang-orang fasik itu. Kekudusan Tuhan Allah membara terhadap dosa-dosa. Tuhan Allah melakukan peperangan untuk selama-lamanya yang dinyatakan terhadap kejahatan. Tidak pernah terdapat suatu gencatan apapun. Dan bagi seseorang yang telah menyerahkan dirinya terhadap perlawanan tehadap Tuhan Allah memutuskan susunan alam semesta milik Tuhan Allah, serta menghina karakter agung dari Yang Mahakuasa, dan dia menyerahkan dirinya kepada kesusahan, kesusahan, kesusahan, kesusahan. Kegelisahan. Kesedihan.

 

“Ah, akan tetapi saya akan menemukan ketenangan serta kesukaan di dalam kesenangan.” Tuhan Allah berfirman, tidak ada perdamaian. Tidak ada perdamaian. Tidak ada perdamaian.

 

“Akan tetapi saya akan menemukan ketenangan di dalam penyertaan.” Tuhan Allah berfirman, tidak ada kedamaian di sana. Tidak ada ketenangan di sana. Tidak ada kedamaian di sana.

 

“Akan tetapi saya akan menemukannya di dalam minuman atau di dalam obat-obatan terlarang atau di dalam dosa atau di dalam dunia.” Tuhan Allah berfirman, tidak ada ketenangan di sana. Tidak ada kedamaian di sana. Tidak ada keheningan di sana. “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. Tiada damai bagi orang-orang fasik itu.” Firman Allahku.

 

Sekarang kita berpaling dari dosa-dosa jasmani dan dosa-dosa kasar terhadap kejahatan yang terhormat. “Saya bukanlah seorang pembunuh yang kejam. Saya bukan seorang yang tergantung kepada obat-obatan terlarang. Saya tidak menganjurkan orang untuk memakai heroin. Dan saya bukanlah orang yang berdosa besar yang tinggal di dalam dunia yang kacau balau di luar sana.”

 

Dia adalah seorang pelaku kejahatan yang terhormat. Tuhan Allah memerintahkan untuk bertobat. Dia tidak bertobat. Tuhan Allah berfirman supaya memiliki iman percaya di dalam Kristus. Dia tidak percaya di dalam Kristus. Tuhan Allah berfirman untuk memberikan hatinya serta keyakinannya kepada Tuhan Yesus, dan dia tidak melakukannya. Dan dia menolak tawaran akan kasih karunia. Dan dengan angkuhnya dia menolak darah perjanjian yang telah menguduskan Juru Selamat kita. Dan walaupun demikian dia melakukannya terhadap perebutabn akan Roh Kristus dan kemudian dia mengikuti jalan hidupnya sendiri.

 

Tuhan Allah berfirman, tidak ada ketenangan di sana. Tidak ada ketenangan di sana. Tidak ada ketenangan di sana. Tidak ada kedamaian di sana. Manusia itu telah berdosa terhadap terang itu, dan dia telah berdosa menentang Kitab Suci itu, karena Tuhan Allah berfirman untuk datang, Roh Kudus berkata percaya dan dia mengatakan tidak, tidak. Dan dia mendapatkan kesusahan, dan dia menjalani sebuah kehidupan tanpa adanya ketenangan dan tanpa adanya kedamaian.

 

            “Akan tetapi anda akan melihat, saya akan pergi ke gereja. Saya akan menghadiri kebaktian-kebaktian itu.” Tidak ada kedamaian, demikianlah firman Tuhan. Tidak ada kedamaian.

 

“Tetapi saya akan menerima sakramen-sakramen tersebut. Saya akan bertekuk lutut, saya akan membungkukkan badan.” Tidak ada kedamaian, demikianlah firman Tuhan. Tidak ada ketenangan.

 

“Akan tetapi anda tidak mengerti; saya akan berjalan sebagai seorang warga yang jujur.” Tuhan Allah berfirman, tidak ada kedamaian dan tidak ada ketenangan.

 

“Akan tetapi saya bahkan akan pergi lebih jauh lagi. Saya akan mengambil bagian di dalam perusahaan umum filantropis yang baik dari komunitas saya, dan saya akan memberikan kontribusi saya dan saya akan berjalan masuk dan keluar di hadapan orang banyak itu sebagai seorang pria yang terhormat..” Tetapi Tuhan Allah berfirman bahwa Tidak ada kedamaian di sana dan tidak ada ketenangan di sana. Yang ada hanyalah air yang berombak-ombak dari sebuah lautan yang murka menimbulkan sampah dan lumpur.

 

Karena seperti yang saudara-saudara lihat, di luar Kristus, dia akan disusahkan. Dan hatinya tidak menemukan kedamaian. Kemarin, dia turut mengebumikan salah seorang dari sahabatnya. Dan ketika berbalik dari kuburan yang terbuka itu, di dalam dirinya hatinya menjerit, “Hari itu akan tiba bagiku. Dan aku belum siap untuk mati. Aku belum berdamai dengan Tuhan Allahku. Dan apabila saat itu tiba, akankah hal itu akan menjadi kemenangan bagiku? Apakah saat itu akan menjadi saat dan hari keselamatan?”

 

Dan dia merasa kesusahan. Dan dia merasa kesusahan. Dan pada hari sebelumnya dia turut mengebumikan salah seorang sahabatnya, dan dia tinggal di satu dunia di mana dia bertambah tua. Dan hari-hari bertambah serta tanda-tanda dari suatu akhir muncul tidak terelakkan lagi mengetuk pintunya. Tampak kaki-kaki burung gagak di depan matanya. Uban sudah memenuhi kepalanya. Dan dia telah kehilangan kekuatannya dan semangat muda kedewasaannya, dan dia merasa susah.

 

“Apa yang akan terjadi padaku dan apa yang akan terjadi kepada jiwaku, dan pada saat aku berdiri di hadapan Tuhan Allah, apa yang akan aku katakan?” Tidak ada kedamaian di sana. Tidak ada ketenangan di sana. Dengan angkuhnya dia telah menolak keselamatan yang agung dari pada Tuhan Allah.

 

Beberapa dari antara saudara-saudara sekalian, bukankah dua puluh tahun yang lalu saya pernah bertanya kepada saudara-saudara, bukankah saya pernah berkata kepada saudara-saudara sekalian, “Dua puluh tahun mulai dari sekarang, apakah saudara-saudara sekalian masih akan tetap menolak Tuhan Allah?” Seharusnya saudara-saudara menjawab, “Oh, pada saai itu saya pasti sudah menjadi seorang pengikut Kristus. Pada saat itu, saya pasti telah menerima Kristus. Karena saya hanya menangguhkannya saja sampai pada saat lain yang tepat, sampai pada musim lain yang lebih menyenangkan, akan tetapi saya akan melakukannya, dan saya berniat melakukannya. Saya tidak berencana untuk menjadi tersesat. Saya tidak bermaksud untuk menjadi lemah. Saya akan diselamatkan.”

 

Dia hampir saja masuk ke dalam kerajaan itu. Dia hampir saja dapat diyakinkan. Lalu kemudian dia menyamping. Oh, betapa tragis dan betapa menyedihkan! Seorang manusia yang hampir jujur merupakan seorang pendusta dan bajingan. Seorang manusia yang hampir saja diselamatkan dari api menjadi hangus terbakar. Seorang manusia yang hampir saja disembuhkan menjadi mati. Seorang manusia yang hampir saja ditangguhkan hukumannya di dalam kamar gas atau di atas kursi listrik atau di dalam jerat tali algojo. Dan seorang manusia yang hampir saja menjadi seorang pengikut Kristus menjadi bukan seorang pengikut Kristus. Dan seorang manusia yang hampir saja diselamatkan terperosok ke dalam kutukan. Kata-kata ‘hampir’ tidak dapat membantu. Kata-kata ‘hampir saja’ tidak ada artinya kecuali kegagalan. Sungguh menyedihkan dan betapa menyedihkan! Jalan yang penuh dengan kepahitan itu, hampir, akan tetapi menjadi tersesat.

 

Oh, Tuhan Allah, berkatilah pekerjaan ini.  “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

 

Tuhan Allah berkuasa menyelamatkan. Tuhan Allah bersiap sedia untuk mendengarkan. Hanya saja, saya harus datang. Saya harus membungkukkan badan di hadirat-Nya. Saya harus mengakui dosa-dosa saya. Saya harus meminta Tuhan Allah untuk mengampuni saya atas dosa-dosa saya. Saya harus membukakan pintu hati saya terhadap sorga dan terhadap Tuhan Allah. Saya harus menerima pengampunan yang datang dari kasih-Nya dan kasih karunia-Nya. 

 

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.  Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati?”

 

Ada kedamaian dan ketenangan serta pengampunan dan doa-doa yang terjawab. Datanglah, datanglah, datanglah.