JALAN ANTARA MANUSIA DAN ALLAH

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 55:8-9

05-16-76

 

 

Ini adalah pendeta gereja, yang menyampaikan warta yang diberi judul: Jalan Antara Manusia dan Allah. Warta ini merupakan penjelasan yang lebih terperinci dari sebuah nas bacaan, dari sebuah bagian ayat di dalam pasal yang ke lima puluh lima dari kitab Yesaya. Sebagaimana kami sedang memberitakan melalui penyingkapan Tuhan Allah terhadap nabi-Nya yang agung dan benar, kita mulai membacanya dari ayatnya yang keenam. Kitab Yesaya pasal yang ke 55, di mulai dari ayatnya yang ke 6: 

 

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

 

Ini merupakan satu alinea bersama-sama. Merupakan sebuah bagian di dalam nubuat itu. Maka bagian yang terakhir memiliki kaitan dengan bagian yang pertama. Dan seperti Tuhan Allah yang mengutarakan rancangan-rancangan-Nya dibandingkan kepada rancangan-rancangan manusia berdosa, dan seperti mengakui bahwa rancangan-Nya serta jalan-Nya lebih tinggi dari rancangan-rancangankita dan jalan kita, seperti maha luasnya langit yang tiada berbatas yang berada di atas kita, apakah gerangan yang sedang diutarakan oleh Tuhan Allah itu?  Apabila kita mengikuti bagian ayat tersebut dan jujur terhadap nas bacaan tersebut, apa yang diutarakan oleh Tuhan Allah ketika Dia mengakui bahwa rancangan-Nya tidak seperti rancangan kita dan jalan-Nya dan tanggapan-Nya tidak seperti jalan kita dan tanggapan kita?

 

Mengikuti nas bacaan tersebut, Tuhan sedang berbicara tentang dosa dan keselamatan. “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.. Karena,” dan rancangan itu berlanjut, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” 

 

Yaitu, bagaimana seorang manusia berfikir tentang dosa tidak seperti Tuhan Allah berfikir tentang dosa dan perbuatan-perbuatan kita yang keliru. Dan bagaimana Tuhan Allah merespon dan bagaimana Tuhan Allah melihat kepada dosa tidak seperti kita dan seperti respon kita terhadap dosa. Dan pendapat-pendapat kita mengenai keselamatan agak berbeda dengan dari pendapat-pendapat dan rancangan-rancangan Tuhan Allah serta jalan Allah mengenai keselamatan. Oleh karena itu, warta itu, akan menjadi suatu perbandingan tentang bagaimana seorang manusia berfikir tentang dosa dan keselamatan dan bagaimana Allah berfikir tentang dosa dan keselamatan.

 

Sangat mudah bagi kita untuk melakukannya, karena kita adalah manusia dan kita mengetahui pemikiran-pemikiran kita dan kita semua berfikir hampir serupa. Dan dari penyingkapan yang diberikan oleh Tuhan Allah di dalam Kitab Suci, kita mengetahui bagaimana Tuhan Allah berfikir dan bagaimana Tuhan Allah menjawab serta memberikan tanggapan terhadap dosa dan usulan-Nya kepada keselamatan kita.

 

Oleh sebab itu, saat ini kita akan memperbandingkan kedua-duanya. Yang pertama, tentang hal dosa – sudah alaminya. Kita semua, kita semua serupa. Kita mencirikan dosa. Beberapa dari antaranya, kita katakan dosa yang kecil dan beberapa dari antaranya adalah dosa-dosa besar. Kita mengatakan bahwa beberapa dari antaranya adalah dosa-dosa ringan dan dapat diampuni. Kita mengatakan bahwa beberapa dari antaranya adalah dosa-dosa kematian, dan dosa-dosa itu telah mengutuk kita. Kita yang mengkategorikan dosa-dosa itu. Kita fikir beberapa dari antaranya bersifat sepele, dan akan dilupakan. Yang lainnya bersifat mengerikan dan luar biasa.

 

Demikianlah caranya bagaimana kita melihat pada dosa. Akan tetapi di pandangan Allah tidak ada kategori. Dosa itu mencelakakan. Dosa menghancurkan. Dan dosa tetaplah menjadi dosa. Bagaimanapun kita dapat menggambarkan dosa-dosa itu dan membagi-baginya menjadi beberapa bagian, bagi Tuhan Allah semuanya sama suramnya dan sama mencelakakannya.

 

Yakobus, di dalam pasal yang kedua dari ayatnya yang ke sepuluh dari bukunya menggambarkan hal tersebut. Dia berkata, “Sebab barang siapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.”

 

Di sini ada seorang yang baik dan adil dan terpuji. Akan tetapi dia telah berbuat dosa. Dan ketika dia melakukannya, seolah-olah dia telah bersalah terhadap setiap kekeliruan di dalam kategori tersebut. Bagaimana hal seperti itu boleh terjadi? Itulah sebabnya mengapa rancangan Tuhan Allah bukanlah rancangan kita, dan jalan Tuhan Allah bukanlah jalan kita. Karena kita melihat dosa dari satu arah, akan tetapi Tuhan Allah melihat pada dosa dengan cara yang berbeda. 

 

Dan beginilah cara Tuhan Allah melihat kepada dosa: meskipun seseorang boleh memandang dirinya sebagai seorang yang sudah adil, dan dia berjalan di dalam integritasnya sendiri, meskipun Tuhan Allah mengetahui isi hatinya dan Tuhan Allah mengetahui kehidupannya. Dan tidak seorang manusiapun yang tidak berdosa. Dan bersama-sama dengannya, dosa turut membawa suatu pemisahan dan pengasingan diri dari Tuhan Allah. Dan manusia hancur. Manusia terjatuh.

 

Di dalam auditorium yang besar ini, dulu ada enam buah tempat lilin yang terbuat dari kaca di sisi sebelah sini dan enam buah di sebelah sana. Salah satu dari antaranya terjatuh ke lantai dan menjadi hancur berkeping-keping. Terima kasih Tuhan, peristiwa itu terjadi ketika gedung ini sedang kosong, karena kandelar-kandelar itu luar biasa beratnya, kandelar kaca yang dibalut dengan besi. Saya meminta supaya mereka mengeluarkannya semua, semua yang ada. Dan mereka telah mengeluarkannya.

 

Ada berapa banyak ikatan di dalam rantai itu yang harus putus sebelum kandelar itu terjatuh? Apakah semuanya? Tidak. Hanya satu saja. Hanya satu. Dan benda itu terjatuh ke lantai. Demikian juga dengan hidup kita. Kita memikirkan tentang dosa sebagai suatu makhluk – yang ini dapat diampuni, yang sana dapat diampuni. 

 

Allah berfirman, hanya satu saja. Hanya satu saja dan kita akan dihancurkan ke dunia ini. Kita berbeda di dalam rancangan-rancangan kita dari rancangan-rancangan Tuhan Allah berkaitan dengan akibat yang wajar, mengenai penyertaan yang selalui menyertai dosa.

 

Kita ini seperti begini: dosa seseorang boleh saja suram dan mengerikan dan menghancurkan, akan tetapi tidak dengan dosa kita. Di hadapan Tuhan Allah, kita semua memiliki perilaku tersebut, seharusnya Dia tidak diserang terutama sekali oleh apa yang telah saya lakukan, karena ada keadaan-keadaan yang meringankan dan ada alasan-alasan untuk apa yang telah terjadi kepada saya dan untuk apa yang telah saya lakukan. Dosa-dosa saya seharusnya telah dilupakan. Seharusnya dikategorikan sebagai dosa-dosa yang ringan dan tentu saja, seharusnya dosa-dosa itu tidak meminta suatu penghukuman yang luar biasa dari pada Tuhan Allah. 

 

Akan tetapi apa yang dilakukanoleh Tuhan Allah? Semuanya ini adalah rancangan-rancangan Tuhan Allah: apapun bentuk dosa itu, bersama-sama dengannya turut serta suatu hukuman yang tidak terelakkan lagi, sebuah hukuman yang tetap, tidak berubah, yaitu kematian dan kutukan. Karena seperti yang saudara-saudara lihat, dunia ini mencerminkan karakter dari Tuhan Allah. Alam semesta yang telah diciptakan ini semata-mata adalah hasil pekerjaan tangan-tangan-Nya. Dia telah menciptakannya. Dan bersama-sama dengan dunia ini telah diberikannya juga di dalam hukum. Dan bersama-sama dengannya, hukum itu turut membawa serta suatu hukuman yang tidak terelakkan lagi. Keseluruhannya secara bersama-sama.

 

Tidak ada hukum tanpa suatu sanksi atas pelanggaran terhadapnya. Dan seluruh dunia, termasuk kita yang berada di dalamnya, terjaring dan merupakan perwakilan dari hukum-hukum yangada di dalam karakter Tuhan Allah tersebut. Ada hukum-hukum tentang keplanetan, hukum-hukum tentang gaya gravitasi, hukum-hukum tentang ilmu mekanikal, hukum-hukum tentang termodinamika. Ada hukum-hukum tentang khusus. Ada hukum-hukum tentang ilmu-ilmu fisika. Ada hukum-hukum tentang ilmu pemerintahan. Ada hukum-hukum tentang ilmu anatomi. Ada hukum-hukum tentang ilu kemasyarakatan. 

 

Keseluruhan alam semesta ini diletakkan secara bersama-sama di dalam tangan Tuhan Allah. Dan hukum dilandaskan di dalam sifat-sifat-Nya. Dan bersama-sama dengannya, hukum selalu membawa serta hukuman sebagai akibat pelanggaran terhadapnya. Selalu. Tuhan Allah telah melakukannya.

Sebagai contoh, hukum gaya gravitasi. Di sini ada seorang pria yang berkata, “Hukum gaya gravitasi?” Dan dia tersenyum dan mengejek lalu melangkah pergi meninggalkan sebuah gedung berlantai sepuluh ke dalam ruang yang kosong. Dia terjatuh ke bawah, mati dengan tubuh yang berhamburan. Dia tidak melanggar hukum itu, dia hanya mengilustrasikannya. Karena tidak ada suatu hal apapun namanya yang dapat melanggar hukum Tuhan Allah. 

 

Atau kita lihat kembali, sebuah hukum anatomi. Tubuh kita harus mengikuti beberapa garis kimiawi yang tertentu. Jadi, di sini ada seorang pria yang tersenyum sembari mengejek dan menertawakan hukum-hukum Allah tentang ilmu anatomi. “Bawakan kepadaku botol strychnin kecil itu” – dan dia meminumnya dan dia meninggal di dalam keadaan tertawaan yang mengerikan.

 

Saya telah melihatnya. Sungguh tidak terkatakan. Ada hukum tentang kependudukan, hukum-hukum pemerintahan. Demikianlah Tuhan Allah itu. Dengan sederhana Alkitab berkata bahwa pemerintahh dan hukumnya berasal dari pada Tuhan Allah. Masyarakat menjadi mustahil menjadi ada tanpa adanya hukum-hukum tersebut. Dan sebenarnay, orang-orang yang anarkis percaya di dalam penghancuran, bunuh diri dari ras umat manusia.

 

Atau di sini ada seorang pria yang berdiri di hadapan hakim dan dia berkata, “Saya sadar bahwa saya telah melanggar hukum, akan tetapi semuanya itu merupakan sesuatu yang dapat diampuni. Tidak ada artinya. Dan saya berharap saya dilepaskan.”

 

            Dan dengan tegas hakim itu menjawab, “Akan tetapi tuan, saya harus menegakkan hukum, dan anda harus mematuhi hukum. Karena tanpa saya menegakkan hukum dan ketaatan anda terhadap hukum, kita akan dilanda teror dan pembunuhan serta pemerkosaan danm perampokan. Karena untuk itulah hukum itu ada. Di dalamnya terdapat sebuah hukuman.”

 

Demikian juga dengan hukum moral Tuhan Allah. Ketika kita melanggar hukum moral Tuhan Allah, bersama-sama dengan hukum itu terdapat suatu hukuman yang tidak terelakkan lagi, karena Tuhan Allah telah mematrikan keduanya secara bersama-sama. Biar bagaimanapun seseorang boleh membuat rancangan, Tuhan Allah tidak membuat rancangan seperti seorang manusia.

 

Lihatlah, dengan standar-standar etika Kristen modern, kadang kala mata kita menghakimi orang-orang yang telah hidup ribuan tahun yang sudah lalu. Dan hal itu tidaklah benar. Karena mereka hidup sesuai dengan norma-norma yang berlaku di saat itu. Nah, izinkanlah saya memberitahukan salah satu dari norma-norma tersebut kepada saudara-saudara sekalian – katakanlah di zaman raja Daud, yang hidup seribu tahun sebelum lahirnya Kristus. Salah satu dari norma-norma itu adalah demikian: seorang Raja dari Timur itu bersifat mutlak. Dia bertindak sebagaimana yang disenanginya. Dia berada di atas hukum dan di atas orang-orang serta di atas seluruh kritikan dan hukuman, demikianlah norma yang berlaku saat itu, raja dari Timur melakukan apa yang di senanginya. 

Maka raja Daud, pada saat melihat Batsyeba mandi segera mengambil dia. Dia adalah seorang raja dari Timur, dia dapat melakukan seperti apa yang disenanginya. Dan ketika Uria, suami Batsyeba pulang dari peperangan, raja Daud mengirimkannya ke tengah-tengah pertempuran sehingga dia dapat terbunuh di sana.

 

Nah, lihatlah bagaimana seorang manusia membuat rancangannya. Raja Daud mutlak melakukan seperti dengan mutlak dia memiliki hak-hak kemutlakan untuk melakukannya. Dia adalah seorang raja dari Timur dan dapat melakukan apa yang disenanginya. Oleh sebab itu, ketika kisah tersebut mengkisahkan tentang Batsyeba dan tentang Uria, kalimat yang berikutnya tertulis, “Akan tetapi Tuhan . . .”  Baiklah, bukankah hal itu luar biasa?

 

Norma yang ada mengatakan bahwa dia berhak melakukan apa saya yang membuatnya senang. Prosedur-prosedur pemerintah yang dapat diterima mengatakan bahwa raja itu, raja dari Timur itu di zaman itu, dapat mengikuti jalan apapun yang dipilihnya. Akan tetapi Tuhan berfirman, “Marilah berfikir kembali.”

 

Izebel berkata kepada Ahab, “Jadi engkau menginginkan kebun anggur milik Nabot? Aku akan mendapatkannya untukmu.”

 

Dan mereka mengalami persidangan hukum. Dan Izebel membuat sendiri saksi-saksinya dan Nabot kemudian dihukum mati dengan cara dilempari dengan batu hingga mati dan darahnya mengalir serta mengering di hisap oleh bumi. Dan raja Ahab pergi ke kebun anggur milik Nabot untuk menguasainya. Mengapa? Hukum. Saksi-saksi. Persidangan. Penghukuman. Hukuman dari seorang manusia. Apa yang telah mereka katakan dan apa yang telah mereka pikirkan.

 

            Kemudian kisah itu berlanjut: “Akan tetapi Tuhan, Akan tetapi Tuhan, Akan tetapi Tuhan menampakkan diri kepada Elia nabi itu dan berkata, ‘Bangunlah engkau dan pergilah ke kebun anggur Nabot.’”

 

Dan Elia berhadap-hadapan dengan raja Ahab, yang telah sampai di kebun anggur milik Nabot untuk menguasainya. Dan Ahab raja itu memandang kepada Elia dan berkata, “Sekarang engkau telah mendapatkanku, hai musuhku?”

 

Bukankah itu sesuatu yang datang terjadi ketika seseorang begitu mendekatkan diri sampai Tuhan Allah adalah musuhnya?

 

Dan Elia berkata, “di tempat di mana anjing-anjing menjilati darah Nabot itulah anjing-anjing itu akan menjilati darahmu. Dan Izebel, isterimu dan ratu itu, yang telah mengajukan saksi-saksi itu dan menyebabkan penghukuman terhadap orang yang baik itu – anjing-anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel.”

 

Bukankah itu sesuatu hal yang luar biasa? Bagaimana saudara-saudara sekalian dapat melarikan diri dari Tuhan Allah? 

 

“Jalan-Ku bukanlah jalanmu dan rancangan-Ku bukanlah rancanganmu.”

 

Maka orang itu berkata, dan saya telah ribuan kali mendengarnya mengatakannya, “sungguh kasar! Sungguh suatu penghakiman! Kutukan dan neraka! Akan tetapi Tuhan Allah tidak akan melakukannya. Dia terlalu – saya katakan, Dia terlalu seperti lunak. Dia terlalu kecut. Tuhan Allah tidak akan melakukan hal itu. Menghakimi. Menghukum. Kematian. Neraka, Kutukan. Tidak.

 

            “‘Jalan-Ku bukanlah jalanmu, ”demikianlah firman Tuhan.”

 

Karena tujuan dari hukum tersebut adalah sehingga kita dapat dibawa kepada Yesus, sehingga kita boleh mengetahui kekeliruan dari dosa-dosa kita.

 

“‘Ketika Aku hidup,’ demikian kata Tuhan, ‘Aku tidak mendapatkan kesenangan pada saat kematian si jahat itu, akan tetapi si jahat itu mau kembali dari cara dan hidupnya yang jahat itu. Oh, berpalinglah, berpalinglah dari jalanmu yang sesat. turn ye, turn ye from your evil way.  Karena mengapa engkau akan mati?’”

 

Seorang anak kecil - “Sayang, api itu menghanguskan. Api itu membakar, jangan sentuh kompor yang menyala. Api itu menghanguskan.” Dan anak kecil itu harus belajar, hal kecil yang indah itu. Jatuh itu menyakitkan. Saudara-saudara sekalian jangan pernah terjatuh dari sandaran tangga atau terjatuh dari serambi atau dari lemari atau dari kursi.” Jatuh itu sakit. Sebuah peniti dapat menusuk. Peniti dapat menusuk. Dan anak kecil mempelajari hukuman sebagai akibatnya, mencubit anak-anak yang masih belia itu.

 

Demikianlah yang terjadi ketika kita menelusuri jalan kehidupan itu. Ada lampu merah yang menyala. Dan ada lonceng yang berbunyi, berbunyi: ada kereta api cepat yang mau datang. Perusahaan jawatan kereta api bukanlah musuh saya, terhadap lampu merah itu dan terhadap bunyi lonceng itu. Demikianlah sehingga saya boleh diselamatkan.

 

Atau menelusuri jalanan itu, dan jambatan itu sedang diperbaiki. Dan Departemen Jalan Raya mendirikan barikade menyeberanginya. Dan di sana terdapat sebuah rambu yang mengatakan: jembatan sedang diperbaiki. Departemen Jalan Raya bukanlah musuh saya ketika dia meletakkan barikade tersebut di sana bersama-sama dengan rambu itu, kalau tidak, saya akan binasa, kalau tidak saya akan membunuh diri saya sendiri. Dan apabila saya melintas melewati barikade tersebut, saya akan membawa kehancuran bagi diri saya sendiri dan bagi orang-orang yang ikut di dalam perjalanan bersama-sama dengan saya.

 

            Demikian juga dengan Tuhan Allah. Seseorang berkata bahwa ada sebanyak lima ratus kali di dalam Perjanjian Baru disebutkan neraka. Yaitu, ada sebanyak lima ratus rambu yang telah ditempatkan oleh Tuhan Allah di sepanjang jalan yang kita lalui yang mengatakan, “Jalan ini, arah ini, mengarah kepada neraka. Lihatlah, berhentilah. Pertimbangkanlah.” Demikianlah Tuhan Allah.

Dan orang itu tidak menghargainya. Tidak ada yang tersisa kecuali penghakiman dan kematian serta kebinasaan.

 

            “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalan-Ku bukanlah jalanmu.”

 

Kita harus bergegas. Bagaimana Tuhan Allah membuat rancangan mengenai dosa, dan bagaimana kita berfikir mengenai hal tersebut. Bagaimana Tuhan Allah berfikir mengenai keselamatan, dan bagaimana kita berfikir menganai hal tersebut.

 

Nah, beginilah caranya seorang manusia akan berfikir tentang keselamatan – selalu. Kecuali bahwa saudara-saudara diajarkan oleh Roh Kudus dan dibawa ke dalam penyingkapan serta kebenaran Tuhan Allah yang luar biasa, seluruh ras umat manusia, semuanya, berfikir tentang keselamatan ini.

 

            Beginilah pemikiran seorang manusia: “Di satu sisi, apa yang telah saya lakukan adalah tidak baik. Dan di sisi yang sebelah sini, apa yang telah saya lakukan adalah hal-hal yang baik. Dan di dalam penghakiman yang agung nantu, di sana akan ada sebuah jalan. Dan apabila kebaikan itu lebih banyak daripada yang tidak baik, maka saya akan diselamatkan. Saya akan berjalan masuk ke dalam kerajaan itu. Apabila perbuatan-perbuatan yang tidak baik itu lebih berat dari pada yang baik, maka saya akan tersesat.”

 

Lalu manusia itu berfikir: “Saya harus berkelakuan baik. Saya harus memberikan tambahan ke salah satu sisi timbangan tersebut. Saya harus melakukan lebih baik lagi.”

 

Maka manusia itu melakukan pembaharuan: “inilah yang akan saya lakukan: saya akan memotong yang ini dan saya akan berhenti melakukan yang sana. Saya akan menolong diri saya sendiri. Saya akan berbuat lebih baik lagi.”

 

Atau, kadang kala, dia memiliki kepercayaan bahwa, “Saya akan menjadi seorang Filantropis dan seorang Altruistik. Beberapa dari sejumlah uang yang saya miliki ini, saya akan melakukan kebaikan-kebaikan dengannya. Dan beberapa dari waktu yang saya miliki ini, saya akan melakukan kebaikan-kebaikan dengannya. Dan saya akan menjadi seorang Filantropis dan Altruistik yang dermawan. Saya akan berkelakuan baik. Saya akan menolong diri saya sendiri.”

 

Dan kemudian dia akan sampai ke tempat di mana dia akan menjalani penebusan dosanya. Dan dia akan terjatuh ke dalam sikap penghukuman akan diri sendiri, sikap disiplin yang paling keras, seperti Martin Luther. Dalam rangka untuk membuat dirinya sendiri terpuji kepada Tuhan Allah, Martin Luther memukuli dirnya sendiri. Memukuli tubuhnya sendiri. Mencoba untuk membuang segala dosa dan menba untuk membuat dirinya berharga kepada Tuhan Allah.

 

Dan akhirnya, orang itu akan sampai kepada semua jenis ritual-ritual keagamaan untuk menolong dirinya sendiri. Dia akan percaya kepada pembaptisan dan di dalam kerumunan orang banyak serta di dalam persekutuan dan di dalam pengakuan dan kepada kebaktian-kebaktian malam dan kepada nyanyian-nyanyain Mazmur dan kepada ucapan-ucapan. Dan dia akan melalui seluruh pemujaan. Dan dia akan membawa lilin-lilin dan altar serta jubah-jubah dan ornamen-ornamen dan upacara-upacara keagamaan, dan ribuan hal lainnya untuk membuat dirinya berharga kepada Tuhan Allah. Demikianlah manusia. Demikianlah seorang manusia.

 

            Nah, tentang apa yang difikirkan Tuhan Allah, dan bagaimana Allah itu? Demikianlah rancangan Tuhan Allah. Yang pertama: ketika kita sampai kepada saat kami mendapatkan khotbah melalui kitab Yesaya, semua kebajikanmu akan menjadi kotor seperti kain lap yang dekil.

 

            Saya berharap saya dapat menterjemahkannya seperti bagaimana dituliskan di dalam bahasa Ibrani, akan tetapi saya tidak dapat melakukannya di dalam rombongan yang baik. “Semua kebajikanmu akan menjadi kotor seperti kain lap yang dekil.” Yaitu, tidak ada suatu hal apapun yang dapat saya perbuat yang di dalamnya tidak terdapat suatu nada tambahan dari sifat alami saya yang merosot. Saya bukan hanya merosot di dalam tubuh fisik saya saja dan sedang menantikan ajal, akan tetapi saya akan mengalami kemerosotan dari semua pancaindera saya. Saya mengalami kemerosotan di dalam pikiran saya. Dan saya mengalami kemerosotan di dalam emosi dan kehendak saya. Saya tidak dapat berdoa dengan benar. Bahkan di dalam setiap doa saya terdapat kekosongan.

 

            Dan saya tidak dapat mengasihi dengan sepenuhnya. Bahkan di dalam cinta kasih saya terhadap Tuhan Allah, senantiasa terdapat suatu kekosongan. Dan saya tidak dapat menyembah secara langsung dengan benar. Bahkan di dalam penyembahan saya yang tertinggi selalu ada tarikan dari jasmaniah saya serta sifat alami saya yang merosot.

 

Tuhan Allah berfirman bahwa semua kebajikan yang saya lakukan akan menjadi kotor seperti kain lap yang dekil di hadapan-Nya. Di dalamnya, terdapat suatu penyertaan akan noda dari dosa-dosa.