INJIL YESAYA

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 55:1-9

05-02-76 10:50 a.m.

 

 

Di dalam pemberitaan kami melalui kitab Yesaya, kita telah sampai kepada pasal yang ke lima puluh lima, salah satu pasal yang paling mengagumkan dari dalam Alkitab. Dan warta yang telah saya beri judul adalah: Injil Yesaya.

 

Ini adalah bacaan dari nas tersebut, di dalam kitab Yesaya pasal yang ke lima puluh lima:

 

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!

 

Nas lainnya dibaca demikian:

 

Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!

Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat. 

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup . . .

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. 

 

Dapatkah saudara-saudara sekalian membayangkan Tuhan Allah seperti itu? Ketika saya berfikir tentang Tuhan Allah di dalam bait suci, benar adanya. Ketika saya berfikir tentang Tuhan Allah di dalam tempat penyembahan, benar. Ketika saya berfikir tentang Tuhan Allah di tengah-tengah saat-saat penyembahan kita, benar adanya. Akan tetapi Tuhan Allah di pasar, menjajakan barang dagangan-Nya? “Ayo, ayo, ayo, datang dan belilah.”

 

Sungguh suatu penggambaran dan penjelasan tentang Tuhan Allah kita yang sangat mengagumkan! Tuhan berdiri di aliran umat manusia ketika mereka berniaga dan membeli serta menual dan tawar menawar. Tuhan berada di pasar umat manusia. Tuhan berada di dalam pusat perniagaan umat manusia. Tuhan berada di dalam kumpulan perdagangan oleh manusia di dalam pasar.

“Ayo, ayo!” – meninggikan suara-Nya untuk meminta perhatian mereka. Dan kata-kata dalam bahasa Ibraninya juga sama persis dengan kata-di dalam bahasa Inggris: “Ho, ho!” Dan Tuhan Allah berbicara di pasar dan memanggil kepada orang-orang yang kehausan.

 

Di wilayah Timur, kadang kala betapa berharganya nilai dari air! Di salah satu kota besar yang telah saya kunjungi di kawasan timur, di sebuah negeri yang besar, luas dan penuh dengan padang gurun, ada orang-orang yang berjalan kian kemari di jalanan hanya menjual air. Dan mereka memanggil di dalam bahasa Arab yang telah diterjemahkan untuk saya. Dan panggilan itu adalah demikian: “Oh, bagi yang haus, air. Oh, bagi yang haus, air.”

 

            “Ayo, ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” 

 

Ada dua hal yang biar bagaimanapun berbeda di dalam penjualan serta barang dagangan yang ditawarkan oleh Tuhan Allah. Yang pertama, kepuasan. Tidak ada kekosongan di dalam apa yang ditawarkan oleh Tuhan Allah. Semuanya penuh dan berkelimpahan serta meluap.

 

Perbedaan yang kedua terdapat pada harganya, karena difirmankan oleh Tuhan Allah jika yang ada adalah harga dan jika yang ada adalah uang, semuanya tanpa uang dan tanpa harga. Semuanya merupakan sebuah hadiah dari Tuhan Allah.

 

“Datang, belilah tanpa uang dan tanpa harga. Jika hatimu merasa lapar, jika engkau rohmu merasa sangat lapar, jika engkau membutuhkan, merasa kosong dan kekurangan, datanglah. Ayo, ayo, saya memiliki air kehidupan untuk saya tawarkan kepadamu. Saya memiliki susu dn madu serta makanan yang berkelimpahan untuk jiwa dan hati. Datanglah, datanglah, datanglah.”

 

Lalu kemudian Tuhan membuktikan panggilan-Nya. Dia memohon dengan calon-calon pembeli dan pelanggan-Nya. Dan Dia berkata, “Mengapa, mengapa engkau menghabiskan uang untuk membeli yang bukan roti dan hasil jerih payahmu untuk yang tidak mengenyangkanmu? Mengapa mengambil hidupmu dan menukarkannya dengan perkara-perkara yang hampa dan kosong dan tandus serta membawa kesedihan dan kerugian? Datanglah, datanglah, Aku memiliki pemberian yang melimpah ruah dan berkelimpahan.”

 

Mengapa menukarkan hidupmu dengan sesuatu? Mengapa membeli sesuatu yang tidak memiliki kesempurnaan dan tanpa sukacita dan tanpa kegembiraan di dalamnya? Tuhan kita berkata, “Dia yang meminum air dari kehidupan ini akan merasa haus kembali. Akan tetapi barang siapa yang meminum air yang Ku-berikan tidak akan merasa haus kembali. Tetapi air yang telah Aku berikan kepadanya akan membuat sumur air di dalamnya, yang memancar seperti sebuah mata iar ke dalam kehidupan yang tidak berkesudahan.”

“Ayo, ayo, ayo. Engkau yang merasa haus, datanglah. Bawalah ke padang air kehidupan itu.”

 

Penguasa muda yang kaya. Lihatlah, kaya, kaya, berkelimpahan, muda – oh, sungguh suatu karunia dari masa muda dan prestise. Terpilih, diagungkan – penguasa muda yang kaya. “Oh, Tuhan, memiliki segalanya, sungguh suatu kekosongan aku dulu. Hatiku hampa dan jiwaku merasa lapar.”

  

“Ayo, ayo, ayo, setiap orang yang merasa haus dan dia yang merasa kelaparan, datanglah. Susu dan madu tanpa uang dan tanpa harga” – hidup yang tidak berkesudahan, sumber mata air, mengalir dengan kekayaan dan dalam dari tangan Tuhan Allah ke dalam jiwa kita. “Mengapa, mengapa, mengapa,” Tuhan memohon di pasar. “Mengapa membeli sesuatu yang tidak mengenyangkan?” – hasil jerih payah untuk perkara-perkara yang hampa dan tandus? “Datang, dan belilah dari-Ku.”

 

Betapa benarnya Tuhan Allah menjelaskan kesia-siaan serta upah yang hampa dari barang-barang yang kita cari di dunia ini! Baru beberapa minggu yang lalu saya berada di Kanada. Minggu yang lalu, saya berada di Nevada, memberikan khotbah di seluruh persekutuan Gereja Baptis kita di Negara bagian Nevada.

 

            Tempat itu merupakan tempat yang paling luar biasa di dalam mana saya pernah memberikan khotbah di sepanjang hidup saya. Saat itu adalah saat yang pertama sekali bagi saya berada di sana sebagai pelayan Injil, dengan sebuah pesan yang dibagi bersama-sama dengan jemaat-jemaat Gereja Baptis kita.

 

Saya tidak pernah melihat hal-hal yang begitu kontras perbedaannya, antara hitam dan putih, sungguh suatu warna yang begitu berbeda, seperti yang telah saya lihat minggu yang lalu. Ah, orang-orang yang ada di sana, mencari dan mencari-cari, berharap, bertaruh dan memahami. Sungguh sesuatu yang menakjubkan.

 

            Kasino-kasino di sana tidak pernah tutup. Mereka buka selama dua puluh empat jam dalam satu hari. Mereka buka setiap hari dalam satu minggu dan setiap minggu dalam setahun. Pintu-pintu kasino mereka tidak pernah ditutup. Dan mereka dijejali dengan ribuan dan ribuan orang banyaknya. Pada pukul empat di pagi hari atau pukul lima subuh, kasino-kasino itu masih tetap penuh. Banyak sekali orang di sana, orang-orang yang lapar hati, orang-orang yang mencari, meraih, dan kekurangan.

 

Dan salah seorang petugas pelayanan yang bersama-sama dengan saya itu berkata, “Lihat, lihat, lihatlah. Anda tidak akan pernah melihat satu senyuman, tidak pernah. Lihatlah, anda tidak akan pernah melihat wajah yang gembira, tidak akan pernah.”

 

            Dan salah seorang pendeta itu berkata kepada saya, “Saya sudah diundang untuk mengunjungi Danau Tahoe di sisi danau Nevada, di seberang sisi California. Saya sudah diundang untuk berkunjung ke danau Tahoe untuk menjadi seorang pelayan dan pendeta di sana.”

Saya berkata, “Maksud anda, orang-orang yang berkepentingan ini, telah mengundang anda?”

 

            “Oh,” katanya, “anda tidak menyadari bagaimana putus-asanya mereka menginginkan kami dan membutuhkan kami.” Katanya lagi, “Semuanya karena, tingkat tindakan bunuh diri yang begitu tingi, tinggi sekali.”

 

Dan saya melihat di dalam kamar hotel saya, dan untuk pertama kalinya di sepanjang hidup saya – saya belum pernah melihatnya di manapun juga di dunia ini – untuk pertama kalinya di dunia ini, di dalam lemari pakaian saya di kamar motel itu, ada sebuah plakat kecil yang bertuliskan nama dan alamat dari seorang pendeta. Jika anda membutuhkan seorang pendeta, pendeta ini sedang bertugas. Dan orang-orang itu, semua orang-orang itu, orang-orang yang lapar hati, yang rohnya merasa sangat kelaparan, mencari dan mencari lagi, dan upah mereka begitu hampa dan begitu kosong serta begitu duniawi.

 

Keseluruhan upah dari dunia ini juga tidak berbeda. Saya berpendapat bahwa figur yang paling manja dan disayangi dari seluruh figur kesusasteraan di dunia ini adalah figur dari Lord Byron. Dia adalah seorang pria berhati luhur. Dia memiliki gelar sebagai seorang Lord. Dia terkenal di seluruh dunia beradab. Dia hampri disanjung serta disembah oleh angkatan tulisan ke dalam masa mana dia termasuk di dalamnya. Dia diagungkan, Lord Byron namanya. Dialah yang menuliskan kata-kata ini: 

 

Hari-hariku ada pada dedaunan berwarna kuning; 

Kembang dan buah Kasih sudah sirna. 

Cacing, membusuk dan dukacita hanya menjadi milikku seorang. 

 

Apakah saudara-saudara ingat sedikit tentang puisi itu? Puisi itu berjudul, “Mendekati Hari Ulang Tahunku Yang Ke Tiga Puluh Tiga” – setelah mana dengan segera diapun meninggal dunia. “Mendekati Hari Ulang Tahunku Yang Ke Tiga Puluh Tiga.” Lord Byron, dari kekayaan, dari pengaruh, dari pujian, dimanjakan dan disayangi oleh seluruh dunia: 

 

Hari-hariku ada pada dedaunan berwarna kuning; 

Kembang dan buah Kasih sudah sirna. 

Cacing, membusuk dan dukacita hanya menjadi milikku seorang. 

 

Hampir-hampir tidak berbeda dengan Bobby Burns, seorang penyair dari Skotlandia – dicintai oleh orang banyak, dikagumi oleh setiap orang, baik yang tua maupun yang masih muda, baik yang miskin maupun kaya, semuanya sama. Bobby Burns. Dan dia telah memberikan hidupnya kepada dunia ini di dalam pengusiran dan pelepasan. Dan yang berikut ini adalah salah satu karyanya – dari Bobby Burns: 

 

Kesenangan, kesenangan bagai candu yang menyebar

Engkau mencengkeram bunga itu, kuncupnya terlepas. 

Atau seperti salju yang jatuh di atas sungai;

Sebentar menjadi putih dan kemudian lenyap untuk selamanya. 

Atau seperti bentuk pelangi yang begitu menawan

Yang menghilang di tengah-tengah badai. 

Atau seperti suku bangsa borealis

Yang terbang tak lama engkau dapat menunjuk tempat mereka. 

 

Penghargaan dunia yang hampa.

 

Di kota Jefferson, Texas, hotel-hotel di sana memiliki buku pencatatan yang telah mereka mulai bertahun-tahun lamanya. Saya melihat kepada satu nama yang telah tercatat di sana yaitu Jay Gould. Pada saat itu, dia adalah orang terkaya di dunia ini. Ketika menandatangani namanya, “Jay,” dia menggambarkan sebuah gambar dari seekor burung Jay Biru, dan kemudian namanya, Jay Gould.

 

Dan ketika saya melihat kepadanya, melihat kepada nama dari hartawan jalan kereta api besar itu, yang hadir untuk melihat-lihat tentang membangun jaringan rel kereta api yang melalui seluruh negara bagian Texas, saya ingat apa yang telah dikatakannya – apa yang telah dikatakan oleh orang terkaya ini. Dia berkata, “Saya duga, saya adalah pria yang paling menyedihkan di dunia ini.”

 

Seperti yang saudara-saudara sekalian ketahui, jika kita sedang mencari seorang kandidat yang akan melakukan uisaha bunuh diri, saya akan pergi mengunjungi Reno atau berkunjung ke las Vegas. Anda tahu, jika saya sedang mencari seorang kandidat yang akan melakukan usaha bunuh diri, saya akan pergi ke Hollywood dan mencari seseorang yang mirip dengan, katakanlah mirip dengan Marilyn Monroe.

 

“Dia yang telah minum air dari kehidupan ini akan merasa haus kembali” – kehampaan dari penghargaan dunia.

 

“Ayo, ayo, ayo, ayo, setiap orang yang merasa kehausan, datanglah segera kepada air kehidupan dan minumlah sampai kenyang. Datanglah dan belilah susu dan madu, makanan bagi jiwa…, tanpa menggunakan dan tanpa menggunakan harga.”

 

Dengarkanlah perkataan-perkataan nabi itu. Semuanya itu bersifat evangelis. Mereka semuanya bersifat penginjilan. “Lihat, lihat, ayo.”

 

            Dia menggunakan kata “datang” dan kemudian “datang” lalu kemudian “datang,” ada sebanyak tiga kali di dalam ayat yang pertama. Lalu kemudian dalam ayat yang kedua, “Dengarkanlah Aku.” Dan kemudian ayat yang berikutnya, “Sendengkanlah telingamu.” Dan kemudian yang berikutnya, “Dengarkanlah.” Dan kemudian yang berikutnya, “Carilah Tuhan.” Dan kemudian yang berikutnya, “Berserulah kepada-Nya.” dan kemudian yang berikutnya, “Baiklah ia kembali kepada Tuhan.”

 

Demikianlah pemberitaan dari para nabi itu, pasti dan tanpa pengecualian. Sama seperti para rasul. Sama seperti utusan-utusan Injil Kristus. Selalu demikian terhadap para penginjil. Semuanya adalah gerakan hati. Yang saya katakan adalah demikian: Para nabi itu tidak pernah menyerukan untuk melakukan upacara keagamaan atau melakukan suatu perayaan atau membentuk suatu perayaan. Demikianlah cara penyembahan terhadap Tuhan Allah di zaman dahulu, di zaman-zaman permulaan dahulu kala. Di sana ada sebuah bait suci. Dan di sana ada sebuah Tabernakel. Dan di sana terdapat altar. Dan di sana ada sebuah laver. Dan di sana ada kaki dian bercabang tujuh serta meja untuk tempat persembahan serta altar tempat kemenyan. Akan tetapi di dalam para nabi, tidak pernah mengadakan, atau melakukan upacara-upacara keagamaan atau merayakannya.

 

            Panggilan para nabi itu selalu langsung memanggil kepada hati, kepada jiwa, untuk percaya, untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa serta mencari pengampunan. Semuanya mengenai pertobata. Semuanya tentang iman. Semuanya mengenai kepercayaan. Semuanya mengenai mencari Tuhan. Saudara-saudara sekalian tidak akan pernah mendengar seorang nabi mengatakan bahwa ke hadapan Tuhan Allah kelemahan kita, kebenaran kita yang sedikit. Nabi Yesaya wpasti akan mengatakan, “Kebenaran kita sseperti kain pel yang kotor di hadapan-Nya.” Akan tetapi undangan besar dari nabi itu, seperti yang menyangkut nabi itu, selalu seperti ini: “Datanglah, datanglah sebagaimana adanya engkau. Sebagaimana adanya dirimu – dosa dan segalanya, datanglah, kain-kain buruk dan semuanya, datanglah. Dan bagi saudara-saudara sekalian Allah telah menyediakan kasih karunia yang berkelimpahan serta pengampunan yang meluap.”

 

Nabi Yesaya memulai nubuatannya yang besar itu dengan kata-kata seperti ini: “Marilah, marilah, baiklah kita beperkara! – firman Tuhan – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. . . . .  Marilah, ayo, ayo, ayo, engkau yang kehasusan dan engkau yang merasa lapar hati, belilah tanpa menggunakan uang dan tanpa harga.”

 

Dan ketika kita sampai di hadapan Tuhan dan muncul di hadapan Tuhan, orang-orang yang sedang menantikan ajalnya, orang-orang yang berdosa, orang-orang yang merasa lapar hati, orang-orang yang roh-nya berkekurangan – ketika kita sampai di hadapan Tuhan, bagaimana boleh terpikirkan bahwa kita dapat memiliki uang yang cukup untuk membeli kasih karunia dan pengasihan Allah? Atau bagaimana kita pernah berfikir bahwa kita ini sudah cukup baik, sudah cukup beriman, untuk mewarisi, atau untuk mendapatkan penganugerahan kasih yang melimpah dari pada Allah? Jika semuanya itu pernah menengahi kita, pastilah berada di dalam kasih karunia-Nya, di dalam kesempurnaan kasih-Nya yang berkelimpahan. Semuanya itu adalah anugerah yang datang dari Allah.

 

Bukankah itu merupakan undangan yang terakhir dari Alkitab, Roh dan pengantin perempuan itu berkata, “Marilah,’ Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan Cuma-Cuma.”

 

Bukankah itu tertulis di dalam kitab Wahyu 22:17? Dan bukankah itu merupakan pemberitaan rasul Paulus yang paling agung? “Karena oleh kasih karunia engkau telah diselamatkan melalui iman kepercayaan. Semuanya itu adalah anugerah dari pada Allah.” Semuanya itu adalah sesuatu yang telah dilimpahkan oleh Tuhan Allah kepada kita dari kasih-Nya dan tangan-tangan-Nya yang penuh dengan belas kasihan. Kita tidak akan pernah mampu membelinya, dan kita juga tidak akan pernah cukup baik untuk mendapatkannya. Semuanya karena kasih karunia. Tuhan Allah telah melimpahkannya kepada kita tanpa uang dan secara cuma-cuma.

 

Dan kita juga tidak pernah dapat memikirkan suatu ilustrasi yang lebih indah mengenai hal tersebut daripada sesuatu yang telah saya baca beberapa waktu yang lalu. Di sebuah kota besar di Amerika, di suatu jalan di pusat kota, di suatu hari Minggu subuh, seorang anak laki-laki penjual koran yang kumal, sedang menjajakan barang dagangannya, dia sedang menjajakan surat-surat kabarnya. Dan ketika dia berjalan di sepanjang jalan itu, di jantung kota besar itu, terdapat sebuah rumah yang indah layaknya sebuah istana, sebuah tembok besar yang mengelilinginya, dan halaman rumput serta semak-semak belukarnya yang juga indah, bersama-sama dengan bunga-bunganya, dan air mancur yang berilauan, menyemprotkan airnya ke atas di bawah sinar matahari pagi.

 

Dan anak laki-laki itu melihat ke dalamnya, bertanya-tanya apa gerangan yang berada di balik pintu gerbang itu dan apa yang telah meliputi keindahan rumah itu. Lalu tiba-tiba dia sudah menemukan dirinya berada di serambi dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, dia membunyikan bel pintunya. Pebisnis yang bertubuh besar itu, Tuan Lowry yang datang ke sendiri ke depan pintu di hari Minggu pagi itu, lalu membukanya dan di sana dia melihat anak melarat yang kumal dengan surat-surat kabarnya berada di lengannya di depan pintu itu.

 

Anak laki-laki itu merasa ketakutan. Dia tidak pernah berencana atau bermaksud sedemikian beraninya. Dan dengan spontan tanpa dipikirkan terlebih dahulu dia berbicara ketika pria besar itu membukakan pintu itu, “Tuan,” katanya, “Tuan, apakah anda memiliki anak?”

 

Dan pria bertubuh besar itu menjawab, “Tidak, tidak, nak. Istri saya dan saya tidak memiliki seorang anakpun.”

 

Dan kemudian dengan spontan tanpa dipikirkan terlebih dahulu dia berbicara, “Oh, Tuan,” katanya, “Saya berharap saya adalah putera anda sehingga saya boleh bermain di dalam halamn rumput yang begitu indah dan tak seorangpun yang memaksa saya untuk pergi, dan tinggal di dalam rumah yang indah ini dan tidak seorangpun yang mengusir saya.”

 

Pria itu merasa begitu terhibur, lalu dia memanggil istrinya. Dan Ny. Lowry turun dengan langkah-langkah yang begitu anggun dan berdiri di samping suaminya dan melihat kepada anak laki-laki yang kumal itu. Dan dengan rasa terhibur yang besar, pria itu berpaling kepada istrinya dan berkata, “Sayang, maukah engkau memiliki seorang anak laki-laki?”

 

Lalu wanita itu berkata, “Ya, ya.” 

Melihat rasa simpati dan pengharapan di dalam mata pria besar dan isterinya itu, anak laki-laki itu, berkata, “Oh, Tuan, jikalau engkau berkenan mengizinkanku menjadi anak laki-lakimu, aku bersedia memberikan segala sesuatu yang aku miliki.”

 

Dan dengan kegembiraan, hartawan bertubuh besar itu berkata, “Baiklah, nak, apa yang engkau miliki?”

 

            Dan anak laki-laki itu menghitung sisa surat kabar dagangannya dan berkata, “Ini.” Dan merogoh isi sakunya dan menghitung uang-uang receh yang dimilikinya, ada tiga belas keping uang ratusan dan memberikan semuanya kepada pria itu.

 

Sang suami melihat kepada istrinya dan istrinya menatap suaminya. Dan kemudian pria itu berkata, “Isteriku, marilah kita lihat. Nak, apakah engkau memiliki tempat tinggal?” 

 

“Tidak.” 

“Apakah engkau memiliki seorang bapa dan ibu?” 

“Tidak.” 

“Di manakah engkau tidur?” 

“Di jalanan sana.” 

“Di manakah engkau tinggal?” 

“Di jalanan sana.” 

 

Wanita itu berkata, “Suamiku, marilah kita bawa dia ke dalam.”

 

Dan mereka membawa anak laki-laki itu ke dalam. Dan benarlah kepada janji anak laki-laki itu, ketika dia berjalan di dalam rumah yang seperti istana itu, dia memberikan sisa suart kabar yang dimilikinya dan semua keping uang receh yang dipunyainya kepada pria bertubuh besar itu. Dan pria yang baik hati itu melihat ke bawah dan menatap wajah anak laki-laki itu dan berkata, “Nak, simpanlah semuanya itu. Kami memiliki lebih dari cukup untuk kami berdua.” 

 

Dan ketika saya membaca kisah itu, hal yang paling membuat saya terkesan di dalam hati saya adalah demikian: kita datang ke hadapan Tuhan Allah dan mempersembahkan ketiadaan kita yang serba sedikit kepada-Nya, kebaikan kita, keimanan kita, apapun yang dboleh kita bawa. Akan tetapi semuanya itu sebenarnya demikian kecil. Dan Tuhan Allah berfirman, “Tidak untuk di perjual belikan. Dan engkau tidak perlu membelinya. Semuanya itu merupakan anugerah dari sorga. Aku memiliki lebih dari cukup untuk kita berdua.”

 

Dan kita sampai untuk menjadi anak-anak Allah oleh kasih karunia dan pengangkatan. Adalah Tuhan yang membukakan pintu itu lebar-lebar. Adalah Tuahn yang merentangkan kedua tangan-Nya lebar-lebar. Dan kita orang-orang yang kumal serta orang-orang berdosa yang malang disambut untuk masuk ke dalam. Dan kepada kita dianugerahkan nama dari Tuhan kita dan diangkat menjadi anggota keluarga Tuhan Allah dan menjadi kepunyaan-Nya.

Oh, Tuhan Allah, sungguh sebuah Injil! Betapa saya berharap saya boleh memberitakannya dan mengatakannya sebagaimana isinya yang sebenarnya! Betapa saya berharap kita boleh menyanyikannya sebagaimana isinya yang sebenarnya! Mempersaksikannya, berbagi di dalamnya, dan memberikan kesakisan terhadapnya. Oh, kasih karunia yang berkelimpahan dari kasih Tuhan Allah bagi kita yang telah tersesat!

 

“Ayo, ayo, ayo, barangsiapa yang merasa haus dan lapar dan tersesat, mari, mari, marilah. Aku memiliki lebih dari cukup untuk dibagi, cukup untuk kita berdua. Hanya kemarilah; terimalah sebagai sebuah anugerah dari sorga.”

 

Pada kebaktian pukul 08:15 tepat di pagi hari ini, datang seorang pria yang paling sedikit telah berusia tujuh puluh tahun. Dia memegang tangan saya dan isterinya berada di samping dia, dan dia berkata, “Selama bertahun-tahun lamanya, saya sudah mencari dan mencari dan mencoba. Dan di pagi hari ini, untuk yang pertama kalinya, saya telah mempelajarinya bahwa itu semua hanyalah anugerah dari pada Tuhan Allah dan saya akan menerimanya.” Lalu kemudian pria itu menambahkan, “Hari ini juga, saya menerimanya. Saya akan membawanya.”

 

Oh, Diberkatilah, diberkatilah Injil! “Bukan karena pekerjaan kebaikan yang telah kita lakukan, akan tetapi seturut kepada belas kasih-Nya” Dia menyelamatkan kita – bukan karena kemampuan kita untuk membeli; kita tidak akan pernah memiliki uang yang cukup untuk membelinya. Dan bukan karena menjadi sudah cukup baik; kita tidak akan pernah mendapatkannya. Akan tetapi karena kasih yang cuma-cuma, Bdan kasih karunia serta anugerah dari pada Tuhan Allah. 

 

“Ayo, ayo, ayo, mari, mari, marilah.”

 

Kita berdiri untuk menyanyikan himne permohonan kita. Dan sembari kita menyanyikannya, satu keluarga dari antara saudara-saudara, satu pasang dari antara saudara-saudara, atau hanya anda sendirian yang akan memberikan dirinya sendiri kepada Yesus. Maukan saudara-saudara sekalian melakukannya sekarang juga?

 

            Saudara-saudara yang telah mendengarkan melalui siaran radio dan melalui siaran televisi, jika masih ada rasa lapar di dalam hati saudara-saudara, rasa haus di dalam jiwa saudara-saudara sekalian, pada hari ini juga, maukah saudara-saudara membukakan pintu hati saudara-saudara ke arah sorga, ke arah Tuhan Allah, dan membiarkan Kristus memenuhi jiwa saudara-saudara dengan kesenangan serta sukacita jauh melampaui apa yang pernah dapat diberikan oleh dunia?

 

Terimalah Dia sekarang juga. Terimalah Dia sekarang juga. Dan bagi saudara-saudara yang berada di sini, di dalam kerumunan orang ini, turunilah anak-anak tangga itu, masuk ke dalam salah satu lorong itu - “Inilah aku, Pak Pendeta, pada hari ini juga. Pada hari ini aku telah membukakan pintu hatiku ke arah Tuhan Allah. Aku menerima pengampunan serta kasih karunia dari hati-Nya yang penyayang dengan cuma-cuma. Dan saya sedang di dalam perjalanan saya.”

Tuhan Allah memberkati saudara-saudara sekalian dan para malaikat akan menyertai saudara-saudara sekalian ketika saudara-saudara datang, sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi.