SALIB DAN MAHKOTA

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 53:10-12

04-18-76

 

 

Adalah merupakan satu sukacita dan kegembiraan bagi kami menyambut saudara-saudara sekalian yang turut mengikuti kebaktian ini bersama-sama dengan kami melalui siaran radio dan televisi. Ada berapa banyak orang dari antara saudara-saudara sekalian yang telah menuliskan surat kepada kami, dan hal itu memberikan berkat kepada kami untuk mendapatkan keistimewaan untuk berdoa bersama-sama dengan dan bagi saudara-saudara sekalian.

 

Alamatnya begitu sederhana. Dan alamat itu tertulis di layar televisi saudara-saudara. Tuliskanlah alamat itu. Dan akan menjadi sukacita kami yang paling dalam dari hidup kami untuk berdoa dengan saudara-saudara dan untuk saudara-saudara. Karena Tuhan berada di sana sama seperti Dia berada di sini. Tidak ada tempat di mana Tuhan Yesus kita yang hidup tidak berada di sana. Dan ketika kita berdoa untuk-Nya di sini, dan saudara-saudara membungkukkan badan untuk menyembah di dalam nama-Nya di sana, kita memiliki suatu ikatan dan suatu persekutuan yang menjalin kita untuk selama-lamanya bersama-sama di dalam Dia.

 

Ini adalah pendeta yang menyampaikan warta yang diberi judul: Salib dan Mahkota. Di dalam pemberitaan kami melalui kitab Yesaya, kita telah sampai ke pasal yang ke lima puluh tiga. Dan di dalam pasal ini, saudara-saudara akan menemukan penghinaan serta pengagungan Tuhan kita terjalin secara bersama-sama.

 

Kekhasan dari para nabi ketika mereka mengatakan tentang kedatangan-Nya seperti yang telah dikatakan oleh nabi Yesaya: “Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang di bawa ke tempat pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, Ia tidak membuka mulut-Nya. Sebab – sekarang adalah kemenangan itu - itu Aku akan membagikan kepada-Nya orang-orang besar sebagai rampasan dan Ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan.”

 

Penggambaran mengagumkan yang luar biasa tentang Juru Selamat kita adalah menjadi direndahkan dan menjadi diagungkan ditemukan di dalam diri para rasul. Dan penjelasan yang tipikal adalah bagian-bagian ayat yang ada di dalam Kitab Suci yang telah kita baca bersama-sama beberapa saat yang lalu. 

 

Tuhan kita “ketika berada di dalam bentuk Allah,” di dalam morphe Allah, apapun morphe Allah itu – Tuhan kita “ketika berada di dalam bentuk Allah,” berfikir bahwa itu bukanlah sesuatu hal yang harus dipegang pada, untuk menjadi sama dengan Tuhan Allah, akan tetapi menuangkan diri-Nya sendiri dan membuat diri-Nya sendiri menjadi tanpa reputasi. Dan kepadanya memberikan bentuk sebagai seorang hamba kepada-Nya, dan setelah dibuat dilihat sebagai seorang manusia, Dia menjadi tunduk kepada kematian, bahkan mendapatkan kematian di kayu salib. Mengapa – “sekarang adalah pengagungan itu - “Mengapa, Allah telah mengagungkan Dia demikian tinggi dan memberikan Dia sebuah nama yang berada di atas segala nama, bahwa pada nama Yesus segala semesta di sorga dan semua kumpulan orang banyak di bumi dan mereka yang menghuni dunia bawah akan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.”

 

Dan penghinaan serta pengagungan yang sama, salib dan mahkota itu dan ditemukan kembali dan kembali lagi di dalam kitab Wahyu. Di dalam pasal yang pertama dari kitab Wahyu, Yohannes berkata: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.’”

 

Dan sekali lagi, kekhasan dari Penyingkapan: “Aku memandang dan melihat, aku mendengar sebuah suara dari banyak malaikat yang mengelilingi tahta itu. Dan jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa” – dalam bahasa Yunani disebut demikian, beribu-ribu, tak terhitung jumlahnya – “katanya dengan suara nyaring: ‘Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa.’” 

 

Salib dan mahkota. “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’”

 

Imaginasi kita yang paling tinggi tidak dapat mengikuti ataupun memahami ke dalam kemuliaan ataupun keagungan dari mana Dia datang. Kita juga tidak dapat masuk ke tengah-tengah turunnya Tuhan kita, turun ke bawah dan ke bawah dan ke bawah, jarak yang tidak terukur antara kemuliaan dari Tuhan kita di sorga dan kepada rasa malu kepada mana Dia turun ke bumi ini, turun ke bawah dan ke bawah dan ke bawah, dan pada akhirnya, dibuat dengan bentuk sebagai seorang manusia, yang terbuat dari debu dan tanah. 

 

Dan menjadi seorang pelayan, menjadi orang miskin di tengah-tengah orang-orang miskin. Dan akhirnya, dieksekusikan di dalam suatu kematian yang dipersiapkan bagi para penjahat dan narapidana dan kriminal. Dia bangkit di antara sorga dan bumi, seolah-olah kedua-duanya menolak Dia, dihindari oleh manusia dan tidak diterima oleh Tuhan Allah. Dan seolah-olah penyiksaan itu belumlah cukup buruk, mereka menutupi wajah-Nya dengan air ludah mereka. Dan seolah-olah air ludah itu belum cukup menghina, mereka mencabuti janggut-Nya. Dan seolah-olah mencabuti janggut-Nya belum cukup brutal, mereka memasukkan paku-paku yang berukuran besar itu. Dan seolah-olah paku-paku itu tidak menembus cukup dalam, Dia dimahkotai dengan mahkota yang berduri. Dan seolah-olah mahkota berduri itu belum cukup memberikan penderitaan, dia ditusuk dengan tombak milik prajurit kekaisaran Romawi.

Saat itu merupakan saat yang paling menyedihkan yang dirasakan oleh bumi, dan merupakan hari yang paling kelam dan mendalam bagi kemanusiaan. Pada pukul tiga di sore hari, semuanya sudah selesai. Tuhan dari segala kehidupan dan terang dunia telah kehilangan cahaya-Nya.

 

Berjalan perlahan-lahan di sekitar kayu salib itu, karena Yesus sudah mati. Ulangilah refren lagu itu dengan nada yang dipelankan dan diheningkan: Tuhan dari kehidupan itu sudah mati. Bibir-bibir yang menyelamatkan Lasarus dari kematian sekarang diam di dalam keheningan kematian. Dan kepala yang telah diminyaki oleh Maria dari Bethania sekarang terkulai dengan mahkota berdurinya. Kedua mata yang menangisi Yerusalem itu sekarang mengacai kematian. Dan kedua tangan yang memberkati anak-anak kecil itu telah dipakukan ke sebatang kayu. Dan sepasang kaki yang dulu pernah berjalan di atas air di laut Galilea itu telah diikatkan ke kayu salib. Dan hati yang keluar di dalam kasih sayang dan rasa simpati terhadap orang-orang yang malang dan tersesat di dunia itu sekarang sudah terluka. Dia telah mati. 

 

Orang-orang marah yang berseru meminta untuk penyaliban-Nya berangsur-angsur membubarkan diri. Dia telah mati. Dan orang-orang yang melintas yang berhenti sebentar hanya untuk melihat Dia melanjutkan perjalanan mereka. Dia sudah mati. Orang-orang Farisi yang menggosok-gosokkan kedua tangan mereka untuk mengucapkan selamat bagi diri mereka sendiri, sekarang sudah pulang kembali ke kota. Dia sudah mati. Dan orang-orang Saduki, menarik nafas kelegaan, kembali singgasana mereka di dalam bait suci. Dia sudah mati. Kepala pasukan kekaisaran Romawi itu, yang telah ditugaskan untuk mengeksekusi Dia, menyampaikan laporan resminya kepada wali negara Romawi. Dia sudah mati. 

 

Dan empat orang prajurit dari kekaisaran Romawi  telah dikirimkan untuk membunuh korban-korban itu, melihat pria yang berada di atas salib yang ditengah telah benar-benar mati, tidak mematahkan satu pun dari tulang-tulang-Nya, akan tetapi menusuk Dia sampai tembus dengan sebilah tombak. Dia sudah mati. Dan Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus dari Sanhedrin secara pribadi pergi menjumpai Pontius Pilatus dan memohon kepada wali negara kekaisaran Romawi atas tubuh-Nya, karena Dia sudah mati. Maria ibu-Nya dan wanita-wanita yang bersama-sama dengan dia tertunduk sembari terisak-isak dan linangan air mata. Dia sudah mati. Dan ke sebelas rasul, seperti kawanan domba yang ketakutan, merangkak ke dalam sebelas bayangan untuk bersembunyi dari acungan jari dari Yerusalem. Dan mereka tersedu-sedu. Dia sudah mati. 

 

Di manapun murid-murid-Nya bertemu, di kamar yang ada di sebelah atas, atau di sebuah jalanan yang sepi, atau di belakang pintu-pintu yang tertutup, refren yang sama senantiasa terdengar dengan sedih: Dia sudah mati. Dia berada di dalam sebuah makam. Mereka telah menutup makam itu dan menempatkan seorang penjaga di sana. Dia sudah mati.

 

Dan akan menjadi hampir mustahil bagi kita untuk boleh masuk ke dalam dalamnya penderitaan yang dirasakan oleh hati mereka. Simon Petrus, batu karang itu, tidak lagi menjadi sebuah batu karang. Dan Yakobus bersama-sama dengan Yohannes, putra-putra dari Boanerges, tidak menjadi putra-putra dari guntur lagi. Dan Simon orang Zelot tidak menjadi seorang Zelot lagi. Dia sudah mati. Dan pengharapan dari bumi ini turut sirna bersama-sama dengan Dia.

 

Kemudian, kemudian, kemudian, di dalam penaksiran mereka, manusia telah menghentikan kematian. Ada pesan seperti cairan api yang melompat dari mulut ke mulut dan bahasa ke bahasa dan dari hati ke hati. Seorang malaikat berkata: “Dia hidup.” Maria Magdalena berkata: “Aku telah melihat Tuhan.” Dan Kleopas dari Emmaus berkata: “Kami mengenali Dia pada saat memecah-mecah roti.” Dan Simon Petrus, memang seperti batu karang, memenuhi Yerusalem dengan pengumuman yang berani dan tegas dan penuh dengan semangat dan kemenangan: “Dia hidup! Dia hidup! Dia hidup!”

 

Dan dari ujung ke ujung semua jalan raya dan jalan pintas di daerah Yudea, dan di sepanjang garis pantai dari danau Galilea dan di belakang tanjung laut Mediterania yang besar, dan pada akhirnya di sepanjang jalan menuju Athena dan Roma, dan di setiap gubuk orang-orang miskin, di di setiap istana orang-orang kaya, terdapat Injil yang penuh dengan kemuliaan itu: Dia hidup. Dia hidup. Dia tidak dapat mati. Dia telah datang kembali untuk berkuasa di dalam hati manusia. 

 

Betapa dekat penghinaan dan pengagungan terhadap diri-Nya secara bersama-sama, kayu salib-Nya dan mahkota-Nya.

 

Angkatlah kepalamu,

Hai orang-orang yang sengsara

Dan biarlah hatimu bergembira

Karena hari tersedih di bumi

Dan hari terbahagia bumi,

Di hari Kalpari dan hari Paskah

Hanya terpaut satu hari saja. 

 

Benih yang paling pahit telah membawa setangkai bunga yang indah dan berharga. Kayu salib itu memperbesar serta memuliakan Tuhan kita yang telah bangkit dan diagungkan itu. Setiap titik yang terdapat pada mahkota yang berduri itu sekarang menjadi butiran berlian di dalam mahkota-Nya. 

 

Warna merah tua dari hidup-Nya yang telah tertuang telah menodai jubah kebesaran-Nya yang berwarna ungu. Paku-paku dan tombak besi yang ada di kayu salib yang sekarang menjadi tangkai dari tongkat kebesaran-Nya dengan mana Dia akan memerintah seluruh bangsa yang ada di bumi ini. Kayu dari kayu salib itu adalah tanda pengenal Dia dengan seluruh umat manusia. Tempat yang paling suci di muka bumi ini adalah di bukit Kalpari di tempat mana Dia mati. Dan kayu salib itu sendiri menjadi lambang dari iman percaya Kristen dan pengharapan kita di dunia yang akan datang nantinya. Apabila “di ladang Flander anak-anak anjing tumbuh menjadi dewasa,” maka jadinya akan “berada di antara kayu-kayu salib, baris demi baris.”

 

Dia hidup. Benarkah? Jia Dia benar-benar hidup, di manakah Dia sekarang? Kita memiliki catatan selama hampir dua ribu tahun dari hidup-Nya. Apakah ada bukti? Apakah ada tanda-tanda kebenaran?

 

Seandainya tidak setiap orang di dalam kekaisaran Romawi  telah melihat Dia berjalan keluar dari makam-Nya, seandainya Kaisar Romawi dan seluruh perwiranya dan komandan-komandan pasukannya menyaksikan kebangkitan Kristus kembali pada hari pertama minggu itu, dan seandainya Yosefus dan Tacitus dan Suetonius tidak mencatat di dalam penanggalan historis mereka kesaksian-kesaksian terhadap Tuhan yang hidup, hal itu tidak akan menjadi bukti yang sama nyata benarnya dengan bukti-bukti yang kita miliki saat ini di dalam kehadiran kita, di dalam hidup kita.

 

Bukti apa? Bukti-bukti menguatkan apa dan tanda-randa kebenaran apa? Demikianlah jawabannya. Yang pertama. Bagaimana kita mengetahui bahwa Dia itu hidup di zaman sekarang ini? Kita mengetahui kehadiran-Nya oleh kasih karunia penyembuhan-Nya dan kuasa keselamatan-Nya. 

 

Saya mungkin saja tidak antusias mengenai para penyembuh peramal yang profesional yang hidup dari penderitaan orang banyak. Akan tetapi satu-satunya penyembuhan adalah, penyembuhan yang datang dari pada Tuhan. Seorang ahli bedah boleh saja menajamkan pisau bedahnya dan memotong, dan memotong. Akan tetapi hanya Tuhan Allah yang berkuasa menyembuhkan. Di dalam berapa banyak ruangan, digelapkan oleh penderitaan dan lewat dari berapa banyak kehidupan air mata telah dicurahkan, apakah saya pernah, apakah saudara-saudara sekalian pernah melihat kesehatan dan kehidupan serta umur yang panjang telah diberikan di dalam tangan-tangan penyembuhan yang luar biasa dari Tuhan kita?

 

Saudara-saudara sekalian telah mendengarkan sebuah kesaksian beberapa waktu yang lalu mengenai kehadiran kasih karunia penyembuhan dari Yesus yang hidup untuk menyelamatkan kita dari kematian. Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa Dia hidup? Saya mengetahuinya karena Dia yang menyendengkan telinga-Nya untuk mendengar anak-anak-Nya ketika mereka memanjatkan doa.

 

Tanpa terbatas saat-saat bahwa saudara-saudara sekalian, bahwa saya, telah mengetahui ketika kita membaringkan keputusan-keputusan serta masalah-masalah dan luka-luka di hadapan Tuhan kita Yang terpuji, untuk mana kita tidak layak di dalam hidup kita, dan kita memberitahukan Dia segalanya mengenai hal tersebut. Dan Dia, yang telah dicobai dari segala sudut, sama seperti kita sekarang ini, di dalam rasa simpati dan di dalam pemahaman, telah menyendengkan telinga-Nya untuk mendengar anak-anak-Nya ketika mereka memanjatkan doa. Dia hidup. Saya mengenal Dia di dalam doa-doa yang terjawab. 

 

Dia itu hidup. Bagaimana saya mengetahuinya? Saya melihat kemampuan dari keperkasaan-Nya untuk menjelma, untuk menyelamatkan, untuk membebaskan, untuk mengampuni, untuk membuat pria dan wanita menjadi baru kembali. Saya melihatnya di dalam pertobatan-pertobatan setiap hari, yang sehari-hari di bawa ke hadapan Tuhan Allah, piala-piala kasih karunia di dalam tangan-tangan-Nya yang menyelamatkan.

 

Seorang Simon Petrus, seorang nelayan pengutuk yang keras, atau seorang pemungut pajak seperti Matius, atau Zakkeus yang kerdil, atau Paulus yang penghujat penganiaya bagi jemaat-jemaat Kristen yang pertama, atau Ignatius yang diumpankan kepada singa-singa di dalam Koloseum Romawi. Atau Polycarpus seorang pendeta martir dari Smyrna. Atau John Chrysostom, “John si mulut emas.” Atau Savonarola yang telah mereka gantung dan bakar di taman kota Florence. 

 

Atau John Wycliffe yang mayatnya mereka gali dan mereka bakar lalu menaburkan abunya di sungai Swift yang mengalir menuju sungai Avon, yang kemudian mengalir menuju ke sungai Severn, yang mengalir menuju laut, yang meninggalkan semenanjung dari benua-benua di dunia sembari membawa firman Tuhan. Atau seorang John Wesley dan seorang George Whitfield dan seorang Francis Asbury dan seorang Jonathan Edwards dan seorang Uskup Asbury dan seorang Billy Sunday dan seorang George W. Truett dan seorang Lee R. Scarborough,dan seorang saudara-saudara dan seorang saya – pada hari ini Kristus menggerakkan di dalam kuasa keselamatan sama seperti yang telah dilakukan-Nya kemarin, sama-sama mampu dan berkuasa. 

 

Bagaimana saya mengetahui bahwa Dia hidup? Dia hidup seperti dia berjalan di dalam kasih karunia dan di dalam berkat di tengah-tengah gereja-Nya. Di dalam pasal yang pertama dari kitab Wahyu, “Tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. Dan ditengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Allah.” Kristus berjalan di tengah-tengah bangsa-Nya. Kristus melakukan kunjungan ke dalam gereja-Nya. 

 

Dan Tuhan kita berada di sini, di dalam tempat yang kudus ini, di dalam tempat penyembahan yang kudus dan surgawi ini. Ada waktu yang tidak berbatas, ketika duduk di kursi itu, saya telah menundukkan kepala saya dengan air mata yang mengalir ketika merasakan kehadiran kuasa Kristus di tempat yang kudus ini. Tuhan kita, berada di tengah-tengah gereja-Nya. 

 

Bagaimana saya tahu bahwa Dia itu hiudp? Dia hidup di dalam kemenangan yang telah dibawa-Nya bagi kita melalui kematian. “Janganlah takut,” Demikian kata-Nya, “karena ada pada-Ku kunci dari kematian dan kerajaan maut.” Supaya seseorang tidak boleh berfikir bahwa kunci-kunci itu berada di dalam genggaman tangan lain, Dia mengakuinya, “Aku memiliki kunci bagi kehidupanmu dan bagi kematianmu.”

 

Saya tidak akan mati sampai Dia menginginkannya. Kobaran api atau pedang atau bahaya kelaparan atau wabah penyakit tidak dapat menyentuh saya sampai Dia menginginkan hal itu terjadi. Kunci untuk kematian dan maut berada di dalam tangan-Nya. Tidak juga membuat saya merangkak di depan wajah pencabut nyawa itu, musuh yang terakhir itu, kematian. Karena Tuhan kita telah pergi ke sarangnya dan di sana Dia telah memusnahkan musuh kita, yaitu kematian, dan untuk selama-lamanya Dia akan membawa kemenangan dan kejayaan keluar dari makam itu. Tidak ada sengat di dalam kematian, dan tidak ada kemenangan di dalam kubur, karena Kristus telah membuatnya hanya bagi jalan masuk kita menuju ke sorga.

 

Dan ketika saya meninggal, maka itu akan berada di dalam tangan-Nya dan menjadi pilihan-Nya. Dia akan membukakan pintu itu dan Dia akan membuat jalan menuju dunia yang lebih tinggi dan lebih baik ke dalam mana Dia telah masuk, ke dalam kota yang begitu indah, yang telah dipersiapkan bagi kita pada hari saat kita datang nantinya. Bagi orang-orang Kristen, kematian tidak memberikan teror lagi. Hanya akan berada bersama-sama dengan Yesus. 

 

Seorang anak gadis kecil dari Sekolah Minggu Gereja Baptis kita sedang menantikan ajalnya. Dan ketika benda kecil itu sampai ke akhir hidupnya yang singkat, seluruh dunia berubah menajdi gelap. Dia akan menjadi buta. 

 

Dan di dalam ketakutannya terhadap kegelapan, dia menjerit memanggil ibunya dan berkata, “Oh, ibu, ibu, hari sudah mulai malam. Dan aku merasa takut. Rangkullah aku, ibu, lebih dekat lagi, lebih dekat lagi.”

 

Dan ibu itu menjawab, “Anak manis, Yesus berada bersama-sama dengan kita di dalam kegelapan, sama seperti ketika Dia berada bersama-sama dengan kita di waktu terang hari. Janganlah takut.”

 

“Ya, walaupun aku berjalan melalui lembah bayangan kematian, aku tidak akan takut kepada iblis apapun, karena Engkau bersama-sama denganku.”

 

Saat-saat kematian akan menjadi saat-saat kita yang terbaik. Hari perubahan kita akan menjadi hari terbesar kita. Itu merupakan saat-saat kemenangan kita, ketika bumi mundur dan langit ditarik mendekat. Yang pertama-tama adalah kayu salib, lalu kemudian mahkota. 

 

Oh, kayu salib yang berharga!

Oh, mahkota yang penuh dengan keagungan!

Oh, hari kebangkitan!

Ya, para malaikat, turun dari bintang-bintang, 

Dan memikul jiwaku pergi. 

 

[“Haruskah Yesus Memikul Salib Sendirian” oleh Thomas Shepard]

 

Ini adalah kemenangan ristus yang telah dibawa kepada kita di dalam tangan-tangan berharga-Nya yang tertembus oleh paku. Yang pertama-tama adalah kayu salib, lalu kemudian mahkota.