MENGAPA ALLAH MENYEMBUNYIKAN DIRI-NYA?

(WHY DOES GOD HIDE HIMSELF?)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 45:15

09-17-86A

 

 

Di manakah Tuhan Allah? Dalam seluruh kekerasan serta badai dan teror di muka bumi ini, bagaimana Tuhan Allah memisahkan diri-Nya sendiri dari kita dan melihat pada dukacita sejati yang kelihatannya tidak bergeming dan acuh tak acuh? Beberapa dari kisah-kisah yang paling tragis yang pernah dapat saudara-saudara bayangkan adalah dari yang terjadi di depan mata saudara-saudara sekalian setiap harinya. Penyiksaan terhadap anak-anak – di manakah Tuhan Allah ketika seorang anak disakiti? Kaum wanita disakiti – di manakah Tuhan Allah ketika mereka yang mabuk atau kecanduan atau yang berbuat gila kadang kala memotong-motong kaum wanita hingga berkeping-keping? Bagaimanakah Tuhan Allah melihat semuanya itu?

 

Dan tidak ada keluarga serta tidak ada anggota dari suatu keluarga yang di suatu tempat, suatu waktu, tidak menghadapi penderitaan serta kesakitan yang menyedihkan. Di manakah Tuhan Allah ketika terjadinya pencobaan serta kesesakan dan penderitaan yang meliputi kita? Apakah Dia melihatnya dengan sikap acuh tak acuh, atau bahkan Dia tidak perduli melihatnya?

 

Ketika saya mempersiapkan warta ini, saya membaca sesuatu hal yang hampir-hampir menyerupai suatu hujatan, akan tetapi hal itu seperti mengilustrasikan kerinduan hati kita terhadap pengenalan akan keadaan sedih kita dari sisi Tuhan: “Sepasang kacamata untuk dikenakan Allah.”

 

“Ya, demikianlah usulan yang tidak sopan yang telah tertulis dengan memakai tulisan tangan tersebut. Tulisan itu diletakkan di tengah-tengah sebuah lapangan yang gosong, terkikis oleh desauan angin. Musim kemarau telah mengeringkan wilayah tersebut. Ketika saya masih anak-anak, saya melompati pagar pertanian kami. Dan pagar itu berada di bawah kaki saya. Pasir mengikis habis wilayah itu ketika musim kemarau berkelanjutan. Tanah yang tertiup angin tertahan karena rumput-rumput liar di pagar yang berkawat duri, di bangun, dibangun, dan saya berjalan di atas pagar yang berada di bawah kaki saya itu. Di manakah Tuhan Allah dalam kehancuran yang seperti itu? Di dalam keputusasaan, para petani lokal menggantungkan ember adonan pada tiang pagar yang rusak karena musim, dan memakukan tanda ini di atasnya. ‘Tolong, sumbangkanlah uang-uang receh di sini untuk membelikan kacamata kepada Tuhan Allah sehingga Dia dapat melihat penderitaan manusia dan hewan.’ Dan kata-kata itu begitu dapat dibaca dengan sederhana serta terlihat di bawah teriknya matahari siang.”

 

Mengapa Tuhan Allah tidak melakukan sesuatu? Mengapa Dia membiarkan penderitaan yang sedemikian? Apakah Dia mengetahuinya dan apakah Dia perduli?

 

Satu malam, seorang pria yang berada di dalam penderitaan, tetap bersimpuh berlutut sepanjang malam memohon kepada Tuhan Allah untuk menampakkan diri-Nya. Dia menjerit, “Hanya satu kata, Oh, Tuhan. Apapun itu. Katakanlah sesuatu. Biarkanlah saya mengetahui untuk suatu kepastian bahwa Engkau berada di sana, dan selebihnya aku akan percaya.”

 

Tidak ada satu patah katapun diucapkan dan tidak ada jawaban dari langit.

 

Di manakah Tuhan Allah ketika kita melihat penghancuran akan kebencian manusia, peperangan, jutaan tentara yang berbaris yang tiada taranya itu? Kebanyakan kita menyadari bahwa kita sudah cukup tua untuk membaca pasukan Hitler yang sedang berbaris itu. Delapan belas juta orang kehilangan nyawanya di dalam pertempuran tersebut. Di manakah Tuhan Allah ketika terjadinya perang yang mengerikan itu?

 

Dan setiap hari kita membaca serta melihat gambar-gambar kelaparan yang terjadi di muka bumi ini – mati kelaparan, anak-anak kecil yang tidak memiliki kemungkinan bahkan untuk tetap ada sekalipun.

 

Dan tentu saja, pada akhirnya, keuniversalan akan kematian. Pada hari ini, saya mengadakan sebuah kebaktian pemakaman. Saya hidup dalam kata-kata yang seperti itu.

 

Baiklah, ada tiga kemungkinan seperti yang kita minta, “Di manakah Tuhan Allah dan mengapa Dia menyembunyikan diri-Nya sendiri dari penderitaan dan kesakitan kita, dari kesesakan kita?”

 

Kemungkinan yang pertama adalah bahwa Tuhan Allah mengetahui dukacita serta penderitaan kita, akan tetapi kekuasaan-Nya terbatas. Dia tidak sepenuhnya Mahakuasa. Itulah kemungkinan yang pertama.

 

Kemungkinan yang kedua, adalah, mungkin saja Tuhan Allah itu Mahakuasa dan Mahaperkasa, akan tetapi Dia tidak perduli. Dia tidaklah baik dengan sebenar-benarnya  serta secara sepenuhnya.

 

Kemungkinan ketiga – kita dapat membuyarkan semua hal sebagai sebuah misteri dan mencoba untuk melupakannya. Seperti yang dikatakan oleh para pelahap makanan itu, “Marilah kita makan dan minum serta bergembira sepuasnya, karena esok kita akan mati.”

 

Akan tetapi kita tidak dapat menghilangkan kerinduan ini dalam hati kita kepada Tuhan Allah, atau menenggelamkannya ke dalam kemabukan atau dalam pembuat sukacita serta pesta pora. Kita tidak dapat melakukannya. Saya tidak dapat melakukannya. Saudara-saudara tidak dapat melakukannya. Di dalam hati kita semua terdapat suatu kerinduan bagi Allah yang tidak akan mati ataupun berkurang.

 

Di dalam kitab Yesaya 64:1-2, kita mendengarkan nabi itu berseru, “Sekiranya Engkau, mengoyakkan langit dan Engkau turun, sehingga gunung-gunung goyang di hadapan-Mu seperti api membuat ranggas menyala-nyala dan seperti api membuat air mendidih – untuk membuat nama-Mu dikenal oleh lawan-lawan-Mu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapan-Mu.” 

Jeritan hati kita persis seperti itu. Di dalam kitab Ayub 13:24 dikatakan, “Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?”

 

Di dalam kitab Mazmur pasal yang ke 10 ayatnya yang pertama dikatakan, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan? Dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan? Si jahat itu berkata di dalam hatinya: “Allah melupakannya; Ia menyembunyikan wajah-Nya dan tidak akan melihatnya untuk seterusnya.” Bangkitlah, Tuhan! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang tertindas.

   

Dalam kitab Mazmur 13:2, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kau lupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap Aku?”

 

Dalam kitab Mazmur 89:47, “Berapa lama lagi, ya Tuhan, Engkau bersembunyi terus menerus, berkobar-kobar murka-Mu laksana api? Ingatlah apa umur hidup itu.”

 

Dan di dalam kitab Yesaya 45:15, “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juru Selamat.”

 

Nah, demikianlah sebagai jawabannya. Mengapa Allah menyembunyikan diri-Nya? Apakah Dia melihat penderitaan kita dan kesesakan kita serta kematian kita yang akan datang dan tidak terelakkan itu?

 

Jawabannya. Siapakah yang menyembunyikan dirinya sendiri – manusia atau Tuhan Allah? Apa yang pertama menyembunyikan dirinya? Sekarang, saya ingin supaya saudara-saudara sekalian membuka Alkitab anda. Semua orang membuka Alkitabnya masing-masing. Masing-masing, bukalah Alkitab saudara-saudara. Ada satu buah di setiap laci bangku saudara-saudara, atau orang yang di sebelah saudara-saudara. Siapakah yang menyembunyikan dirinya? Siapa yang pertama sekali menyembunyikan dirinya sendiri?

 

Kitab yang pertama di dalam Alkitab, kitab Kejadian, pasal yang ke 3, ayat yang ke 6 sampai dengan yang ke 11. Kejadian 3 ayat yang ke-6 sampai dengan yang ke-11. Sekarang, marilah kita membacanya dengan suara yang nyaring bersama-sama. Ingatlah, kita sedang mencari tahu, siapa yang sedang bersembunyi itu? Siapa yang pertama menyembunyikan diri? Kitab Kejadian 3:6-11. Sekarang, marilah kita baca bersama-sama:

 

Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya di diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Maka terbukalah mata mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyematkan daun pohon ara dan membuat cawat.

Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohon dalam taman.

Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

 

Siapakah yang pertama kali bersembunyi? Apakah Tuhan Allah? Jawabnya adalah kita. Jawabnya adalah orang tua kita yang pertama-tama: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

 

Kitalah yang mmbuat jarak antara diri kita sendiri dengan Tuhan Allah. Kita yang melakukannya. Kita memisahkan diri kita sendiri dari Tuhan Allah. Kitalah yang melakukannya. Saya ingin supaya kita membaca satu bagian ayat yang lain lagi. Bukalah Amsal, kitab Amsal, dari pasal yang pertama lagi. Kitab Amsal, pasal yang pertama. Kita akan membaca dari ayat yang ke 24 sampai dengan ayat yang ke 31. Kitab Amsal 1:24-31. Sekarang, marilah kita membacanya bersama-sama.

 

“Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan kamu mengabaikan nasehatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang atasmu, apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan menimpa kamu. Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan Tuhan, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah dari perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.

 

Kitalah yang menempatkan jarak antara kita dengan Tuhan Allah. Tuhan Allah telah membuat dan menciptakan kita untuk dapat bersama-sama dengan Dia sebagai suatu persekutuan.

 

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, di suatu tempat – saya tidak bisa mengingat entah di mana – akan tetapi saya ingat saya sedang duduk di sebuah aula yang besar dan sedang menyaksikan sebuah pementasan drama, pementasan drama orang-orang berkulit hitam, yang diberi judul dengan Padang Rumput Yang Hijau. Ada sebuah dialog di dalam pementasan drama tersebut yang tetap diam di dalam benak saya. Demikianlah kisahnya: ketika Tuhan Allah Yang Mahakuasa telah menciptakan seluruh alam semesta ini, termasuk langit-langitnya, bintang-bintang, planet-planet, matahari-matahari, satelit-satelit, dan telah menciptakan bumi indah yang hijau ini dengan gunung-gunungnya serta dengan sunagi-sungainya dan samudera-samuderanya dan sunga-sungai kecilnya dan hutan-hutan rimbanya – ketika Dia telah menciptakan segala sesuatunya itu, di dalam salah satu adegan drama itu, Tuhan Allah duduk dan Dia melihat pada segala penciptaan-Nya itu, pada bintang-bintangnya serta gunung-gunungnya serta samudera-samuderanya itu, dan Tuhan Allah berkata, “Aku kesepian.”

 

Hal itu membekas di dalam benak saya sebagai suatu realitas akan satu pribadi yang agung. Saudara-saudara diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan saudara-saudara persis seperti itu. Persekutuan seperti apa dan persahabatan seperti apa, kasih atau keintiman yang bagaimana yang boleh ada antara Tuhan Allah dengan satu samudera raya atau sebuah gunung atau sebuah hutan rimba atau dengan sebuah satelit? Dan demikianlah jalannya anda.

 

Bagaimana sehingga kita pernah menemukan kerinduan hati kita terhadap kasih serta persahabatan dengan sebatang pohon atau sebongkah kayu atau sebuah samudera? Allah juga seperti itu.

 

Tuhan Allah berfirman, “Aku kesepian.”

 

Dan Dia menciptakan seorang manusia untuk menjadi menemani-Nya, untuk menjawab Dia, untuk berbicara dengan-Nya, untuk berjalan beriringan dengan Dia, untuk dekat dengan-Nya. Tuhan Allah telah menciptakan kita untuk diri-Nya. Apa yang telah memisahkan kita adalah dosa.

 

“Lihatlah, tangan Tuhan bukan dipendekkan sehingga tidak dapat menyelamatkan; atau tidak juga telinganya terlalu berat sehingga tidak dapat mendengar. Akan tetapi kejahatanmulah yang telah menjauhkan engkau dengan Tuhanmu, dan dosa-dosamu telah menyembunyikan wajah-Nya darimu, sehingga Dia tidak mau mendengar.”

 

Tuhan Allah tidak dapat bersekutu dengan iblis akan tetapi tetap menjadi Allah.

 

            Habakuk 1:13 menangis dengan mengatakan, “mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman.”

 

            Tuhan Allah menarik diri dari kehadiran-Nya dan meninggalkankita sebagai satu keluarga manusia menurut rencana kita. Ini adalah alasannya mengapa terjadi penderitaan serta dukacita dan kematian. Kita menuai upah dari jalan kita sendiri.

 

            Di dalam kitab Ulangan 31:16-18 dikatakan, “Mereka akan meninggalkan Aku . . .  Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka . . . dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. . . . Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka.” 

Di dalam kitab Yesaya 1:15 dikatakan, “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.”

 

Di dalam kitab Hosea 5:6 dikatakan, “Dengan korban kambing domba dan lembu sapinya mereka akan pergi untuk mencari Tuhan, tetapi tidak menjumpai Dia; Ia telah menarik diri dari mereka.”

 

Di dalam kitab Mikha 3:4 dikatakan, “Mereka sendirilah nanti akan berseru-seru kepada Tuhan, tetapi Ia tidak akan menjawab mereka; Ia akan menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka pada waktu itu, sebab jahat perbuatan-perbuatan mereka.”

 

Sekarang, saya ingin supaya kita melihat kepada diri kita sendiri sebagai seorang manusia. Kita mengatakan, “Akan tetapi jika Tuhan Allah berada di sini dan tinggal di tengah-tengah kami, kami akan melayani Dia. Kami akan membungkukkan badan kami di hadapan-Nya. Kalaulah Dia mau turun ke sini dan menjadi salah seorang dari kami. Kalaulah Tuhan Allah mau menunjukkan diri-Nya sendiri, kami akan percaya dan menerima Dia. Kami mau.”

 

Orang-orang yang terkasih, Tuhan Allah telah melakukan hal tersebut. “Nama-Nya akan disebut dengan Immanuel - Immanuel, Tuhan bersama-sama dengan kita. Dia sudah melakukannya. Kita dapat melihatnya dan menyentuh tubuh-Nya dan berbicara dengan-Nya dan mendatangi Dia serta memberi hormat atas kehadiran-Nya. Lalu apa yang telah kita lakukan? Nabi itu, tujuh ratus tahun sebelum kedatangan-Nya, berseru, berteriak, “Kita telah menyembunyikan wajah kita dari-Nya. Dia telah dianggap hina, dan kita tidak memuliakan Dia.” 

           

Di dalam kitab Matius 21:38 dikatakan, “tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh Dia.”

 

Dan mereka telah melakukannya. Kita telah melakukannya. Menampar wajah-Nya dan menarik janggutnya seraya berkata, “Siapakah namaku? Siapakah aku? Mereka meludahi wajah-Nya. Mereka memperolok-olok Dia. Mereka memakukan Dia pada sebatang kayu dan Dia telah wafat – Tuhan Allah yang ada di tengah-tengah kita. Sungguh kita ini adalah orang-orang yang bermoral bejad dan tersesat!

 

Tanda-tanda Tuhan Allah yang dapat dilihat – apakah semuanya itu mengarahkan kita kepada-Nya? Di dalam kitab Perjanjian Lama ada sebuah kisah tentang penyelamatan seorang anak Tuhan keluar dari perbudakan orang-orang Mesir. Dan Tuhan berupa api di malam hari untuk melindungi mereka serta menjadi awan untuk menaungi mereka di siang hari. Dan Tuhan Allah telah memberikan manna bagi mereka untuk dimakan di padang belantara. Apakah mereka sampai kepada tanah yang dijanjikan itu? Tidak. Mereka semua mati di dalam ketidakpercayaan kecuali Kaleb dan Yoshua. Dengan pertanda-pertanda yang mengagumkan itu terlihat keberadaan Allah – dan mereka mati di dalam keadaan penyangkalan dan di dalam ketidak-percayaan. 

Dapatkah suatu kehidupan boleh begitu penuh dan begitu berlimpah dan indah seperti penegasan keberadaan Tuhan Allah di dalam Anak-Nya dan Juru Selamat kita, Tuhan Yesus? Semua penegasan itu – sebagaimana yang telah saudara-saudara ketahui sedang saya khotbahkan pagi hari tadi, pada harinya Tuhan, melalui Injil Yohannes. Yohannes tidak pernah menggunakan kata “mujizat”. Dia senantiasa menggunakan kata semeion, yang artinya “pertanda.” Semuanya merupakan pertanda, penegasan dari sorga bahwa ini adalah Anak Allah.

 

Apakah mereka percaya, meskipun Dia telah bangkit dari antara orang mati, walaupun Dia telah memberi makan banyak orang dengan sedikit keping roti dan ikan? Apakah mereka percaya? Tanda-tanda dari Allah semuanya adalah mengenai kita dan ada di sekeliling kita dan berada di atas kita dan di bawah kita setiap hari di dalam hidup kita, di zaman kita dan di saat-saat yang kita alami.

 

Di dalam khotbah rasul Paulus di kota Antiokhia, seperti yang tertulis di dalam kitab Kisah Para Rasul 14 dan 17, dia berkata kepada para pemuja berhala yang sedang menyembah patung-patung berhala mereka, dia berkata, “Allah yang sejati tidak akan meninggalkan kita tanpa kebajikan.” Lalu kemudian dia menyebutkan keberadaan Tuhan Allah yang luar biasa yang dapat dilihat di dunia di atas serta di sekeliling kita. Semuanya ada di mana-mana, tanda-tanda keberadaan Tuhan Allah. Mereka ada di alam. Mereka ada di dalam tanda-tanda alami akan penegasan dari perhatian serta keberadaan Tuhan Allah.

 

Bumi ini berputar. Ribuan mil jauhnya bumi ini bergerak di dalam satu jam. Jika bumi semakin lambat berputar atau berubah putaran, seluruh kehidupan akan berhenti keberadaannya. Kesetiaan Allah – lapisan udara yang kita hirup, oksigen dan hidrogen, jika sebagian daripadanya berubah, kita akan mati. Gaya gravitasi. Misteri dari gaya gravitasi. Kita dapat bergantung padanya. Itu merupakan sesuatu hal yang datang dari sorga.

 

Saya pernah membaca tulisan seorang ilmuwan besar yang berkata, “Keajaiban alam membuat semua yang ada di dalam Alkitab kelihatannya seperti hal yang biasa-biasa saja.” Keajaiban yang lmengagumkan akan keberadaan Tuhan Allah yang kita lihat seluruhnya mengenai kita.

 

Kabut di kaki langit nun juah di sana,

Langit lembut yang tiada berbatas,

Kekayaan warna ladang jagung yang masak,

Dan angsa-angsa liar tinggi berlayar.

Dan meliputi seluruh tanah tinggi dan dataran rendah

Pesona dari batang-batang keemasan itu.

Beberapa orang berkata, “Ini adalah musim gugur.”

Akan tetapi beberapa dari antara kita berkata, “Inilah Tuhan Allah.”

 

[W. H. Carruth, “Masing-masing Dalam Bahasanya Sendiri”]

            Mereka ada di mana-mana, tanda-tanda dari Tuhan Allah, ada di sekitar kita – dan ada di atas kita semua, yang paling banyak serta yang paling tegas dari semuanya, keberadan Tuhan Allah di dalam diri kita. Kepekaan moral kita, tanggapan kita terhadap kekudusan serta kebenaran Tuhan Allah yang telah menciptakan kita – semuanya kelihatan begitu universal. Demikianlah Tuhan Allah.

 

Nabi Yeremia berkata ketika mereka menganiaya dia oleh karena firman Tuhan, “Aku berkata, ‘Aku tidak akan berbicara lagi di dalam nama-Nya.” Lalu kemudian dia menambahkan, “Akan tetapi firman-Nya berada di dalam tulang-tulangku seperti api yang berkobar-kobar di dalam jiwaku, dan aku tidak dapat menanggungnya.”

 

Tuhan Allah. Kepekaan moral. Ketika Isebel menyuruh supaya Nabot dilempari dengan batu samapi mati, dia berkata kepada suaminya, “Ahab, bangunlah, milikilah. Nabot sudah mati dan tidak hidup lagi.”

 

Dan Ahab bangkit untuk menguasai. Dan ketika dia turun ke ladang anggur di Jezrel, berdirilah di sana di tengah-tengah warisan Nabot, Elia, seperti suara hati yang memiliki tubuh.

 

Dan Ahab melihat kepadanya dan berkata, “Apakah engkau telah menemukan aku,  hai, musuhku?”

 

Tuhan Allah. Dan kita tidak dapat melarikan diri dari keberadaan-Nya, begitu juga dengan saudara-saudara sekalian. Tuhan Allah berada di dalam jiwa kita, di dalam hati kita, di dalam hidup kita sehari-hari. Kita bertemu dengan Dia setiap saat dalam setiap hari keberadaan kita.

 

Dan berapa banyak lagi akan kita temukan keberadaan Tuhan Allah ketika kita membukakan pintu hati kita kepada-Nya serta menjanjikan hidup kita bagi-Nya? Di dalam sebuah pengakuan iman, di dalam suatu resolusi rohaniah yang besar, di dalam suatu tindakan pengabdian yang bersungguh-sungguh – Tuhan Allah berdiam di dalam jiwa kita, menemui kita di dalam doa, menuntun jalan kita di dalam pelayanan serta penyembahan kita yang tulus kepada Dia. Tuhan bersama-sama dengan kita. Immanuel. 

 

            Bolehkah saya mengakhirinya hanya dengan nubuat yang agung? Suatu hari nanti, suatu hari penghabisan nanti, akhir zaman nanti, hari yang terakhir dan penuh dengan keagungan nanti, Dia akan datang. Kita akan melihat Dia.

 

Hal yang paling ganjil: Siang hari tadi, saya sedang berjalan di tepi jalan dan saya mendengar sebuah suara memanggil nama saya. Dan saya kemudian berbalik dan seorang pria yang sedang mengemudikan sebuah truk sampai ke sebuah lampu merah dan berhenti. Dan ketika saya bertanya, “Apa yang telah saudara katakan tadi?”

 

Dia berkata, “Aku bilang, ‘Pak Pendeta, apakah anda menyaksikan langit yang di sebelah timur? Apakah anda sedang mencari Yesus?’”

 

Saya berkata, “Saudaraku – saya tidak kenal siapa dia gerangan – saya katakan, “Benar, saudaraku. Benar.”

 

Di dalam kitab Wahyu 1:7 dikatakan, “Lihatlah. Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia.”

 

Demikianlah Tuhan Allah di dalam keberadaan kita, di dalam perjalananm dan mungkin, Tuhan, kita telah membuat persiapan di dalam hati kita dan jiwa kita serta hidup kita untuk menerima Dia.

 

“Walaupun demikian, datanglah, Tuhan Yesus yang diurapi,” karena di dalam hatiku aku tahu, bahwa aku sudah siap. Hari apa saja, saat kapan saja, datanglah, Tuhan. 

 

            Saudara Denny, kita akan berdiri dan nyanyikanlah sebuah lagu untuk kita, dan sementara kita menyanyikan himne itu, seseorang dari antara saudara-saudara sekalian, yang ingin memberikan hatinya kepada Tuhan Yesus. Seseorang, yang ingin masuk ke dalam persekutuan dari gereja kita yang terkasih.

 

Satu keluarga dari antara saudara-saudara. “Pak Pendeta, ini adalah hari Tuhan bagiku, dan aku dalam perjalanan. Inilah aku berdiri. Dan inilah aku sudah datang.”

 

Ribuan kali selamat datang. Lakukanlah sekarang juga. Lakukanlah malam hari ini juga. Sembari kita berdiri dan sembari kita bernyanyi. Ketika kami menunggu, ketika kita berdoa, ketika kita bernyanyi. Ketika Roh Kudus dari pada Allah menggerakkan hati saudara-saudara. Amen. Amen.