JALAN RAYA MENUJU SURGA

(THE HIGHWAY OF HEAVEN)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 35:8

11-09-75

 

 

Ini merupakan alat yang paling kecil yang pernah saya lihat. Saya tidak tahu mereka membuatnya sedemikian. Dia mempunyai empat dari katup-katup ini disertai dengan sebuah benda yang kecil dan bagaimana anak laki-laki itu dapat memainkannya! Ah, demikianlah yang akan terjadi ketika kita sampaike surga dan mereka membunyikan sangkakala itu. Oh, saya senang mendengarkan permainan musik anda. Lagu itu membuat hati saya yang sudah tua ini menjadi merasa baik hanya berada di sini untuk pelayanan lagi itu saja. Seandainya kita tidak pernah melakukan hal yang lain lagi: mendapatkan berkat itu, akan berharga untuk datang ke rumah Tuhan dan mendengarkan Tuhan dipuji sebagaimana yang saudara-saudara sekalian lakukan.

 

Kami menyambut saudara-saudara yang bersama-sama dengan kami dari Gereja Baptis Pertama di kota Dallas mengikuti kebaktian ini melalui siaran radio dan televisi. Ini adalah Pendeta yang menjelaskan dengan lebih mendalam tentang sebuah bagian ayat yang menutup pasal yang ke tiga puluh lima dari kitab Yesaya serta menutup bagian pertama yang besar dari nubuat tersebut. Dan warta ini diberi judul dengan: Jalan Raya Menuju Ke Surga. Saya akan membacakan keseluruhan pasal yang ke tiga puluh lima dari kitab Yesaya tersebut:

 

Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga;

Seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihatkemuliaan Tuhan, semarak Allah kita.

Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah.

Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati; “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”

Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.

Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara;

Tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber mata air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan.

Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus, orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.

Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ,

Dan orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.

 

Sungguh sebuah nubuat yang tiada bandingannya! Ini merupakan pasal klimaks dari nubuat agung bagian yang pertama dari nabi Yesaya. Latar belakangnya membuat segalanya menjadi lebih berhubungan serta penuh dengan makna serta tegas. Ketika nabi Yesaya mengucapkan nubuat tersebut, Kerajaan Israel bagian utara sudah terlebih dahulu dirubuhkan dan masuk ke dalam pembuangan bangsa Asyur yang bengis dan kejam itu.

 

Dan di dalam harapan, nabi itu sudah terlebih dahulu meramalkan terjadinya pembuangan bangsa itu oleh kerajaan Babilonia yang kejam dan tidak mengenal ampun. Dan di dalam penglihatannya, terhampar di hadapannya negeri yang kosong, hampa, tandus dan gersang. Orang-orang dibawa ke dalam pembuangan serta perbudakan di Babel dan di dalam diaspora, tersebar ke sluruh penjuuru dunia, menggantunghan kecapi-kecapi mereka di pohon ek serta menangis di dalam penyesalan serta di dalam kesedihan yang mendalam di hadapan Tuhan Allah.

 

Seandainya nubuat itu hanya sedemikian saja, segala sesuatunya akan menjadi suatu kesedihan serta penuh dengan kesengsaraan, akan tetapi Tuhan telah membukakan mata hamba Tuhan serta mengangkat wajahnya menghadap ke langit , sehingga hamba Tuhan itu melihat penglihatan yang lain. Kali ini penglihatan itu mengenai kemuliaan hadirat Tuhan ketika Dia mengingat penyesalan serta kesedihan bangsa-Nya. Dan di dalam penglihatannya dia melihat negeri itu, suatu padang pasir akan bersukacita dan akan berbunga seperti layaknya bunga mawar. 

 

Suatu waktu, saya pergi melintasi pintu gerbang itu ketika dengan menyedihkan Yerusalem sudah terbagi dua. Saya beranjak dari sisi kepunyaan orang-orang Arab menuju ke sisi milik bangsa Yahudi. Dan ketika saya sudah melintasi pintu gerbang tersebut, di sana terdapat seorang teman seperjalanan yang menyenangkan yang menyambut kami sebagai layanknya seorang turis. Dan membelakangi tembok itu, itu merupakan kali yang pertama saya pernah melihatnya, ada sebuah medali besar, sebuah medali yang sangat besar. Lambang dari pemerintah Israel bangsa terdapat pada medali tersebut disertai dengan kalimat-kalimat ini di sekelilingnya: “Dan padang pasir akan berbunga seperti bunga mawar.” Itu adalah nubuat dari nabi Yesaya dan bukan hanya itu saja, akan tetapi nabi itu melihat timbulnya sebuah jalan pintas yang besar. Dan pada jalan raya yang luar biasa besarnya itu, begitu tinggi dan menjulang, dia melihat para perantau beserta dengan orang-orang yang terbuang berjalan melintasinya untuk pulang ke rumah. Dan mereka sedang bernyanyi, sukacita dan kegirangan telah meliputi mereka. Dan ketika mereka kembali, kembali ke rumah mereka, dari pembuangan, dari perbudakan, dari kedukaan serta keluh kesah, sekarang semuanya akan menjauh dan menjadi sirna dan yang ada hanyalah kemuliaan serta kebaikan Tuhan Allah yang ada di hadapana mereka.

 

Di dalam masa nubuat itu yang dekat dan di dalam penggenapan nubuat itu yang masih sebagian, tentu saja ketika keluarga terpilih Tuhan itu kembali ke rumah mereka. Di mana saja dia telah tersesat, ketika dia kembali pulang ke rumahnya di negeri itu, ini merupakan sebahagian dari penggenapan dari nubuat ini. Sebahagian daripadanya terjadi di zaman kita dan kita dapat melihatnya di dalam hidup kita, ketika bangsa Tuhan berdiri menghadap ke arah negeri mereka dan padang pasir akan berbunga seperti bunga mawar. Bunga-bunga anggrek yang begitu indah itu, rumpun-rumpun tanaman jeruk itu, proyek-proyek irigasi itu, negeri itu menghijau kembali, hutan-hutannya tumbuh dengan suburnya, tanaman akan melimpah kembali dan negeri itu akan penuh kembali dengan buah di hadapan Tuhan kita. Ini adalah saat penggenapan yang dekat dari nubuatan yang penuh dengan keagungan ini, akan tetapi penggenapan yang terakhir dan penghabisan terjadi ketika orang-orang yang telah diselamatkan dan yang telah ditebus oleh Tuhan, ditebus dengan darah dan menjadi diselamatkan, semuanya sedang menghadap ke arah langit dan ke atas di hadapan Tuhan Allah. Ketika kita berada di zamannya Yerusalem baru kita serta rumah kita yang terakhir dan kekal.

 

Maka nabi itu menggambarkan penyempurnaan yang terakhir dan penghabisan itu, ketika anak-anak Tuhan berjalan beriringan pulang menuju ke rumah mereka, nabi itu menguraikannya dengan kata-kata yang begitu indah serta luar biasa. Dan saya akan memberikan penjelasannya dengan lebih mendalam lagi sekarang juga. Satu, dua, tiga, empat, lima, jalan raya menuju surga ini, jalan menuju kemuliaan ini.

 

Yang pertama, nabi itu mengatakan bahwa jalan itu merupakan jalan yang mendatar: suatu jalan yang tidak mungkin keliru, suatu jalan yang sederhana. Dia mengatakan, “Orang yang tidak tahir – orang-orang yang tidak diajar, orang-orang yang tidak terlatih - tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.”

 

Bahkan seorang asing tidak mengenali jalan tersebut. Tidak juga dengan seorang ahli ilmu agama. Bahkan tidak diperkenalkan kepada Injil Anak Allah itu. Mungkin saat yang pertama kalinya dia mendengarkannya dari paham kefasikan serta paham keberhalaan, dia dapat menemukannya dan seorang anak kecil, yang tidak diajar, dengan begitu sederhananya dia dapat berjalan di atas jalan raya tersebut. Bukankah nabi itu telah mengatakannya dalam cara yang luar biasa? Seorang asing melintas. Dan di sanalah seseorang yang sedang melancong tidak akan berbuat kekeliruan kembali.

 

Apakah saudara-saudara ingat ajakan Alkitab yang terakhir? Tertulis di dalam kitab Wahyu 22:17: 

 

“Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” 

Apakah saya memperhatikan ajakan itu? Roh Allah meminta manusia untuk datang kepada Yesus. Pengantin Kristus memohon kepada manusia untuk datang kepada Yesus. Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!”

 

Itu hanya orang-orang yang melintas saja, hanya orang-orang asing saja, biarkanlah ia mengulangi bagian ulangan itu dengan penuh keagungan serta kegirangan, ajakan yang penuh dengan berkat dari seluruh ajakan, marilah, inilah jalan itu. “Orang yang tidak tahir, orang-orang yang tidak diajar tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya.”

 

Jalan itu adalah sebuah jalan yang datar, sebuah jalan yang sederhana, sebuah jalan di mana seorang anak kecil dapat melaluinya – bahwa seorang anak kecil dapat menerima serta memahaminya. Dan jalan itu begitu mendatarnya dan begitu sederhananya sehingga seorang manusia yang telah menjalani seluruh hidupnya, katakanlah seseorang dari zaman batu, seperti orang-orang Indian Inca, dapat diselamatkan dari latar belakang kemiskinan serta kurangnya pengajaran kepada mereka, dari ketidak tahuan mereka yang begitu mendalam, mereka dapat berjalan di dalam perjalanan untuk pulang kembali ini menuju kepada kemuliaan.

 

Jalan itu hanyalah sebuah jalan yang sederhana dan jalan itu adalah jalan yang biasa-biasa saja sehingga bahkan orang-orang yang pandir tidak alan mengembara di atasnya, jalan itu juga merupakan jalan darah, jalan yang penuh dengan warna, jalan raya yang berwarna merah, jalan yang berwarna merah tua. Orang-orang yang telah ditebus dan orang-orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan akan berjalan di sana. Yaitu, dilalui oleh salib itu, jalan itu melalui bukit Kalpari. Jalan itu adalah jalan akan darah pertobatan, dicucibersih di dalam darah Anak domba.

 

Seperti yang dikatakan di dalam kitab 1 Yohannes 1:7:  “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”

 

Itu adalah sebuah jalan darah. Itu merupakan sebuah jalan akan pertobatan. Itu adalah sebuah jalan akan penebusan dosa. Jalan itu merah. Jalan itu berwarna merah tua.

 

Diselamatkan oleh darah Yang Disalibkan. 

Segala pujian bagi Bapa,

Segala pujian bagi Anak,

Segala pujian bagi Roh,

Tritunggal Yang agung. 

Diselamatkan oleh darah Yang Disalibkan.

 

Jalan itu adalh sebuah jalan berwarna merah, jalan raya menuju sorga ini berwarna merah tua.

 

Seperti yang beberapa orang dari saudara-saudara ketahui, seluruhnya dari minggu yang lalu, sejak dari hari Senin sampai dengan hari Jumat, saya sedang mengajar kepada fakultas dan kepada para pelajar dan kemudian kepada orang-orang di kota yang ingin menghadiri Seminari Theologi Gereja Baptist Wilayah Selatan di kota Louisville, Kentucky. Minggu itu merupakan minggu yang paling besar yang pernah saya jalani seumur hidup saya. Minggu itu merupakan salah satu pengalaman rohani saya yang paling dalam, hal itu memberkati hati saya jauh melebihi apapun juga yang dapat saya katakan atau saya gambarkan. Ada sekelompok kecil pelajar yang meminta saya untuk datang dan apa yang mereka sebut dengan dialog, saya diminta untuk berbicara kepada mereka.

 

Jadi, dalam kelompok itu, salah seorang anak muda itu berkata, “Beritahukanlah kepada kami apa yang menjadi pengalaman pemberitaan anda yang paling hebat yang pernah anda alami di dalam hidup anda?”

 

“Baiklah,” kata saya, “Berikanlah saya waktu sejenak untuk memikirkan pengalaman pemberitaan saya yang paling hebat yang pernah saya alami di dalam hidup saya.”

 

Saya membayangkan suatu waktu beberapa tahun yang lalu ketika saya menyampaikan pidato penutup pada Konvensi Gereja Baptis wilayah Selatan di kota San Francisco dan ketika saya mengakhiri pidato tersebut, karena menjadi yang terakhir dan tidak ada lagi urusan yang lain di sampingnya, saya melontarkan sebuah ajakan. Dan rasanya seperti berada di dalam kemuliaan. Ada beratus-ratus banyaknya orang yang kemudian memberikan tanggapannya. Bahkan orang yang memiliki sistem PA serta mengatur pekerjaan kelistrikan dari konvensi tersebut meninggalkan tempatnya, untuk kemudian menuju ke auditorium itu, menuju ke mikrofon serta mengumumkan kepada orang-orang banyak yang duduk di ruangan pengendalian bahwa dia telah menyerahkan hatinya kepada Tuhan dan dia ingin supaya seluruh dunia mengetahui bahwa dia telah menjadi seorang Kristen sekarang. Itu merupakan sebuah momen yang luar biasa.

 

Lalu kemudian saya membayangkan tentang suatu hari di Buena Park ketika saya sedang memberikan khotbah kepada para pendeta, seluruh pendeta di wilayah California. Jalan mereka telah ditebus, mereka telah dilindungi dalam minggu itu dan mereka semua berada di sana. Pada suatu hari Kamis malam, ketika saya sedang berkhotbah, seorang pendeta berdiri lalu kemudian berjalan menuju ke depan. Dan peristiwa itu terjadi di sebuah ruang pertemuan Nazarene dan dia berlutut di sana di sebuah bangku untuk orang-orang yang berkabung sebagaimana yang dimiliki oleh gereja-gereja Nazareth, dia mulai menangis serta terisak-isak di hadapan Tuhan.

 

Lalu kemudian yang lain lagi menyusul dia, dan lagi, dan yang lain lagi, persis di tengah-tengah khotbah saya dan pada akhirnya, ada sebanyak tiga ratus orang lebih mereka yang menjeritkan isi hati mereka kepada Tuhan. Suara yang terdengar dari ketiga ratus orang itu, yang terisak-isak di hadapan Tuhan Allah merupakan sebuah peristiwa yang tidak akan dapat saya lupakan. Saya membayangkan itu semua. Momen-momen yang luar biasa.

Saya memikirkan tentang sebuah kebaktian dari Gereja Baptis Jalan Kain di Hong Kong bertahun-tahun yang lalu. Ketika saya sedang berkhotbah, mereka mulai berdatangan dan berdiri di depan dengan sikap seorang China dengan kedua tangan mereka saling menjepit dan mereka menundukkan kepala mereka. Pada akhirnya saya berbalik ke arah penterjemah itu dan saya berkata, “Apa yang tengah dilakukan oleh orang-orang ini?”

 

Dia menjawab, “Oh, Pak Pendeta, terpujilah Tuhan, Terpujilah Tuhan Allah. Mereka ini adalah kaum pria dan wanita China yang tidak dapat menunggu sampai anda selesai dengan khotbah untuk mereka dan mereka sedang berdiri di sini dalam sebuah keyakinan serta pertanda yang sederhana bahwa mereka sedang memberikan hati mereka kepada Tuhan Yesus Yang diurapi.”

 

Saya memikirkan tentang kebaktian di sini di dalam gereja kita yang terkasih ini. Ketika saya terpanggil sebagai seorang pendeta, saya datang untuk memberitakan untuk yang pertama kalinya sebagai seorang pendeta sebuah gereja pada hari Minggu yang pertama di bulan Oktober. Ketika khotbah itu telah disampaikan, saya berlutut di sini di samping meja persembahan yang kudus ini dan berdoa.Dan ketika saya melakukannya, tangis dari semua jemaat meledak. Mereka tidak pernah melihat hal yang seperti itu sebelumnya. Dan seolah-olah kerumunan orang banyak itu diremas-remas sehingga menjadi satu, menjadi satu di dalam Tuhan. Ketika kebaktian itu usai, Bob Coleman berjalan bersama-sama dengan saya ke ruangan ketika kamar kerja itu biasanya berada di belakang auditorium ini. Dan sembari melingkarkan tangannya di pundak saya dia berkata, “Hari Minggu yang pertama di bulan Oktober akan selamanya menjadi hari peringatan anda. Kami belum pernah mengikuti kebaktian seperti itu di dalam gereja ini sebelumnya.”

 

Saya memikirkannya, dan saya memikirkan tentang sebuah konperensi mengenai penjemaatan ketika berada di Fort Worth. Ketika saya selesai berkhotbah, ada seorang pria yang berdiri ditengah-tengah jemaat itu di bagian belakang balkon yang paling atas. Dia mulai berteriak dengan sekuat tenaganya – dia merupakan salah seorang pendeta kita yang terbaik. Dan di sepanjang lorong dari atas balkon lalu kemudian di koridor serta kemudian naik ke panggung di mana saya sedang berdiri, orang itu meneriakkan kemuliaan Tuhan dan semua petugas pelayanan yang berada di sana merasakan hal yang sama di dalam hati mereka. Saya juga memikirkan hal itu.

 

“Apa yang menjadi pengalaman memberitakan terbesar yang pernah saya alami seumur hidup saya?” Akhirnya saya menjawab: “Anak-anak muda, salah satu pengalaman memberitakan terhebat yang pernah saya alami seumur hidup saya terjadi pada suatu hari Minggu malam beberapa tahun yang lalu di gereja kita yang terkasih di kota Dallas ini. Dan peristiwa itu kebetulan terjadi pada hari Minggu malam tepat ketika malam Tahun Baru. Dan kita senantiasa mengadakan sebuah kebaktian di gereja ini pada malam Tahun Baru. Jadi, beberapa orang dari Diaken saya secara berkelakar mendatangi saya dan berkata, ‘Sekarang Pak Pendeta, anda selalu mengeluhkan bahwa anda tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan khotbah anda.

Sekarang, kami memperhatikan bahwa malam Tahun Baru jatuh pada hari Minggu malam maka mengapa anda tidak memulainya pada pukul 7:30 dan berkhotbah sampai lewat tengah malam dan kita bisa melihat apakah anda tidak dapat menyelesaikan khotbah anda.’

 

“Sekarang mereka telah mengatakannya di dalam keceriaan, bukan mengejek, akan tetapi secara berkelakar dan di dalam kegembiraan. Itulah sebabnya mereka mengatakannya kepada saya. Nah, kemudian saya pulang ke rumah, dan mulai memikirkannya. Dan saya berfikir keras, bahwa mungkin itu merupakan sebuah tugas dari sorga. Itu kemungkinan merupakan sebuah perintah dari Tuhan Allah sendiri. Ucapan mereka itu mungkin telah terisnpirasikan.

 

“Maka malam hari itu telah diumumkan bahwa saya akan memulainya pada pukul 7.30 dan saya akan berkhotbah sampai lewat tengah malam. Ketika saya berdiri di sini, di atas mimbar ini, tempat itu di sesaki oleh orang-orang dan mereka sampai berdiri di sekeliling tembok-tembok yang membelakangi anak-anak tangga itu di atas dan di bawahnya. Saya berfikir bahwa jika saya akan berkhotbah selama beberapa jam saja, sebagian besar jemaat itu tentu sudah pulang.

 

Saudara-saudara yang terkasih, apakah saudara-saudara masih bersama saya? Ketika saya menyelesaikannya lewat tengah malam, mereka masih tetap berdesak-desakan di dalam auditorium ini dan berdiri di sekeliling tembok-tembok yang membelakangi anak-anak tangga itu di atas dan di bawahnya. Peristiwa itu adalah salah satu pengalaman memberitakan yang paling besar yang pernah saya alami seumur hidup saya. Apakah saudara-saudara ingat pokok pengajaran kita waktu itu? Itu merupakan benang merah di seluruh isi Alkitab. Pokok pengajarannya waktu itu telah terpilih sebagai sebuah tema dari institut kita, mengajarkan benang merah di seluruh isi Alkitab.

 

Dan Dewan Sekolah Minggu kemudian mengambilnya dan membuatnya menjadi sebuah buku ikatan yang sangat indah yang mereka katakan bahwa mereka akan tetap membuatnya tersedia untuk bertahun-tahun kemudian:  Benang Merah Melalui Alkitab.

 

Khotbah itu seperti ini: Kisah Merah Kayu Salib, sejak dari permulaan Kitab Kejadian ketika Tuhan membunuh seekor hewan yang tidak berdosa untuk menutupi ketelanjangan serta dosa dari orang tua kita yang pertama-tama itu: Darah Abel, Darah Paskah, Darah Hukum Musa karena kehidupan daging berada di dalam darah. “Dan Aku telah memberikannya kepadamu di atas altar untuk membuat sebuah penebusan untuk jiwamu karena adalah darah yang melakukan penebusan untuk jiwa-jiwa.”

 

Dan melalui sistem kurban dari Perjanjian Lama – dan kemudian darah dari Yohannes Pembaptis serta isak tangis serta penderitaan serta darah dari Tuhan kita di taman Getsemane, di dalam pendirian Tuhan telah mengalami penderitaan, menjalani Via Dolorosa. Kemudian dipakukan ke kayu salib, terlihat dari wajah-Nya dan kedua tangan-Nya dan kedua kaki-Nya, kesengsaraan serta kasih bercampur dan mengalir turun ke bawah, darah dari kayu salib yang mengenyahkan dosa-dosa kita. Dan pengorbanan dari para rasul; Stefanus martir yang pertama itu. Dan Yakobus, putra dari Zebedeus, yang dipenggal kepalanya oleh Herodos merupakan yang pertama. Dan semua martir yang ada di sepanjang abad dan tahun serta masa sejak saat itu.

 

Dan pada akhirnya, bagian ayat yang telah saudara-saudara bacakan dari kitab Wahyu: “Siapakah mereka ini – mereka yang mengenakan pakaian jubah yang berwarna putih yang menjadikan mereka sedemikian adanya?” Dan jawabannya adalah: “Mereka ini adalah orang-orang yang telah mencuci jubah mereka sehingga menjadi bersih di dalam darah dari Anak Domba.”

 

Sudah pernahkah engkau pergi kepada Yesus untuk mendapatkan kekuatan untuk membersihkan? 

Apakah engkau sudah dicuci di dalam darah Anak domba?

Apakah engkau benar-benar penuh dengan kepercayaan dalam kasih karunia-Nya saat ini juga? 

Apakah engkau sudah dicuci di dalam darah Anak domba? 

 

Jalan raya menuju ke sorga adalah sebuah jalan yang berwarna merah. Jalan itu berwarna merah darah. Jalan itu adalah sebuah jalan darah. Jalan itu melalui jalan Kayu Salib. Apakah saudara-saudara memperhatikan kembali bahwa jalan itu merupakan sebuah jalan penyesalan? Jalan itu merupakan sebuah jalan yang penuh dengan kesedihan serta pengakuan yang mendalam. Sebuah jalan akan kerendahan hati serta kesederhanaan. Dan kesengsaraan serta keluh kesah akan menjauh dan mereka yang menjalani jalan kepulangan kepada kemuliaan itu adalah mereka yang telah mengalami kesengsaraan serta isak tangis dan berseru-seru.

 

Setiap orang yang pernah menghadapi, dengan sebenarnya, kehadiran surgawi yang murni penuh dengan kemuliaan pasti akan merasakan hal seperti itu. Tuhan, tidak layak, tidak pantas, tidak bersih, tidak suci. 

 

Tidak seorangpun yang mengikuti jalan pulang menuju kepada kemuliaan itu dalam kesombongan diri serta kebenaran diri sendiri. Mereka yang bereda di dalam perjalanan pulang dalam kemuliaan ini, kepada Tuhanlah mereka yang membungkukkan badan mereka dalam rasa penyesalan yang mendalam, dalam pengakuan yang penuh dengan kerendahan diri di hadapan hadirat Tuhan Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Ini adalah jalan raya itu, jalan yang besar menuju pada kemuliaan yang mana telah ditapaki oleh Daud: “Oh Tugan, aku mengakui dosa-dosaku kepada-Mu. Oh Tuhan, bersihkanlah aku dengan disiplin. Aku akan menjadi bersih. Bersihkanlah aku. Bersihkanlah aku. Aku akan menjadi putih bersih seperti salju. Kembalikanlah kepadaku sukacita keselamatanku. Tuhan, dika Engkau menginginkan sebuah pengorbanan, maka aku akan memberikannya. Akan tetapi kesenangan-Mu bukanlah di dalam korban-korban bakaran. Korban dari Tuhan Allah adalah patahnya semangat. Hati yang hancur dan bersedih, oh, Tuhan, Engkau tidak akan menganggap hina.”

 

Jalan itu adalah jalan dari pengakuan serta kesedihan yang mendalam: Seperti Simon Petrus, ketika Tuhan melihat kepadanya, dia pergi dan menangis. Seperti orang-orang umum yang berada di dalam Bait Suci serta di rumah Tuhan tidak akan begitu banyak ketika mengangkat wajahnya menghadap ke langit, akan tetapi menundukkan kepalanya serta menepuk-nepuk dadanya seraya berkata, “Tuhan, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini.” Demikianlah bahasa Yunaninya. Orang yang berdosa. Seolah-olah tidak ada orang yang lain lagi di dunia ini yang pernah berdosa. “Tuhan, kasihanilah aku. Bukan saudara laki-lakiku dan bukan pula saudara perempuanku, akan tetapi aku, oh, Tuhan, berdiri dalam kebutuhan doa. Semoga Tuhan akan bersedih dan bermurah hati kepadaku, Tuhan, ampunilah dosa-dosaku demi nama Yesus.”

 

Setiap hari dari hidup kita ketika kita sampai pada akhir dari hari-hari kita, seharusnya kita bertanya kepada Tuhan untuk membersihkan kaki kita. Dia yang telah dibersihkan tidak perlu diselamatkan untuk membersihkan kakinya. Yaitu, dia yang telah diselamatkan tidak perlu untuk diselamatkan kembali. Tuhan tidak perlu mati demi dia kembali. Akan tetapi ketika saudara-saudara berjalan di sepanjang hari itu, kakimu akan dibersihkan dari debu tanah, maka Tuhan membersihkan kaki kita pada akhir dari masing-masing waktu. Demikianlah seharusnya cara kita di dalam hidup kita.

 

“Tuhan, pada hari ini, kadang kala aku tidak berbuat yang baik. Dan ada ketidakberdayaan yang yang mencolok, yang mengganggu citra keilahian Tuhan Allah di dalam diriku. Dan Tuhan, hanya ada ketidakberdayaan yang menyerang aku dan aku tidak dapat mengatasi mereka. Tuhan, kasihanilah aku dan merasa sedihlah melihat aku. Tuhan, ampunilah aku.”

 

Itulah perilaku serta jalan dari seorang Kristen. Berjalan di atas jalan raya sang Raja dalam pengakuan, di dalam rasa penyesalan yang mendalam, di dalam kerendahan hati yang paling mendalam pula. Maukan saudara-saudara memperhatikan yang dikatakannya di sini dalam nafas yang sama dan juga ini merupakan sebuah jalan kemuliaan serta suka cita dan kegirangan dan nyanyian? “Orang-orang yang diselamatkan serta orang-orang yang telah ditebus akan pulang dan masuk ke Sion, Yerusalem surgawi itu dengan sorak sorai dan nyanyian serta sukacita yang tidak berkesudahan berada di atas mereka. Mereka akan mendapatkan sukacita serta kegirangan.”

 

Bukankah itu sesuatu hal yang luar biasa bahwa keduanya berada di dalam satu hati yang sama? Suatu penyesalan yang mendalam, suatu ketidakberdayaan serta isak tangis dan sedu sedan di hadapan Tuhan, dan pada saat yang sama turut bersukacita di dalam Tuhan Juru Selamat kita. Anda tahu, itulah yang diharapkan dari seorang anak Tuhan. Saudara-saudara sekalian akan mendapatkan keduanya di dalam hati saudara-saudara pada saat yang bersamaan. Seperti seorang martir yang dibakar di tiang pancang dan sementara nyala api itu menghanguskannya, dia akan memuji dan memuliakan Tuhan Allah. Hatinya akan dilimpahi dalam kegirangan yang penuh dengan keagungan serta sukacita yang tidak berkesudahan pada saat yang sama ketika dia sedang dibakar sampai mati.

 

Bukankah itu sesuatu hal yang aneh, hidup dari seorang pemeluk agama Kristen – menangsi serta bersukacita serta memuji Tuhan Allah pada saat yang bersaman? Demikianlah dengan iman kepercayaan kita. Agama kita bukanlah membuat kita berputusasa seolah-olah Tuhan Allah telah meninggalkan kita dan hidup itu hampa dan kelam serta tidak memiliki arti apapun juga. Tidak, iman kepercayaan bukanlah membuat kita menjadi begitu menyedihkan, akan tetapi untuk menghapus air mata dari mata kita sekalian.

 

Visi serta mimpi kita bukanlah datang dari setan yang turun dari anak tangga yang menakutkan dari neraka. Akan tetapi mimpi kita serta pandangan kita datang dari sebuah tangga dan para malaikat menaikinya. Dan puncak anak tangga itu bersandar pada takhta Tuhan Allah sendiri yang begitu cemerlang. 

 

Pada hari Senin, aku merasa gembira. 

Dan pada hari Selasa, penuh dengan sukacita. 

Pada hari Rabu, aku memiliki kedamaian di dalam diriku

Bahwa tidak ada sesuatupun yang menenangkan. 

Pada hari Kamis, dan pada hari Jumat,

Aku berjalan di dalam terang. 

Oh, hari Sabtu adalah hari surgawi

Dan hari Minggu selalu benar. 

Oh, kemuliaan, kemuliaan, kemuliaan. 

Oh, kemuliaan bagi Anak domba. 

Haleluya, aku telah diselamatkan

Dan agu begitu gembira bahwa aku sudah mendapatkannya. 

Oh, kemuliaan, kemuliaan, kemuliaan. 

Oh, kemuliaan bagi Anak domba. 

Haleluya, aku telah diselamatkan, dan

Aku menuju tanah yang dijanjikan itu.

 

“Dan orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka.”

 

Dan satu yang lain lagi: jalan itu bukan hanya sebuah jalan yang sederhana sehingga seorang anak kecilpun dapat mengikutinya. Jalan itu bukan hanya sebagai sebuah jalan yang berwarna merah tua: jalan itu dilalui dengan Kayu Salib. Jalan itu bukan hanya sebagai suatu jalan yang penuh dengan penyesalan serta pengakuan dari kerendahan hati semata, bukan hanya sebagai sebuah jalan akan sukacita serta kegirangan, akan tetapi jalan itu juga dari pengakuan kepada umum serta terbuka …

 

Seandainya kita memiliki waktu untuk menjelaskan kata dalam bahasa Ibrani itu untuk “jalan raya” dan kemudian sebuah jalan raya akan disebut juga dengan “jalan kudus”.

 

Dan mereka yang mengikutinya, yang berjalan di atasnya adalah orang-orang yang telah ditebus dan yang telah diselamatkan Tuhan Allah. Dan ketika mereka berkumpul bersama-sama menuju kota yang kudus itu, senantiasa disertai dengan sorak-sorai serta sukacita yang tidak berkesudahan yang melimpah diatas mereka, dan keluh kesah dan kedukaan akan menjauh.

 

Sekarang, seandainya kita masih memiliki waktu yang cukup – kata “jalan raya” itu – maknanya adalah jalan yang timbul. Maknanya adalah jalan perlintasan yang besar. Saudara-saudara sekalian dapat melihatnya, begitu mendatar, dengan jelas ketika menghembuskan jalannya sampai ke seluruh negeri, di sepanjang masa, selama bertahun-tahun, sepanjang beradad-abad lamanya dan pada akhirnya, masuk ke dalam pintu gerbang yang berkilauan seperti mutiara di sorga itu sendiri. Jalan itu adalah sebuah jalan umum yang begitu terbuka.

 

Bukankah itu merupakan sesuatu yang luar biasa? Secara terbuka dan terbuka untuk umum? Tuhan Allah sudah senantiasa seperti itu. Musa berdiri di depan perkemahan dan dia berkata: “Semua dari antara kamu sekalian yang berada di pihak Tuhan, biarkanlah dia datang dan berdiri di sampingku.”

 

Rasul Paulus bahkan memberikan pengertian tentang keselamatan kita di dalam hubungan akan perbuatan yang dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh khalayak ramai. Dalam kitab Roma 10:9-10. 

 

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya di dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara oang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

 

Bukankah Tuhan mengakui kebenaran rohaniah agung yang sama di dalam kitab Matius 10:32- 33. 

 

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

 

Jika saudara-saudara sekalian pernah mendengar saya membaptis orang, saya akan sering sekali merubah rumus pembaptisan itu di dalam tatanamanya, akan tetapi ada suatu bagian dari dalamnya yang senantiasa berada di sana dan hal itu adalah: Pada pengakuan saudara-saudara sekalian di depan umum akan iman kepercayaan dalam Kristus.

 

Pada komitmen hidupmu yang tidak malu kepada Tuhan Allah, itulah jalan yang telah dipilihkan Tuhan bagi kita untuk kita jalani di dalam kerajaan-Nya serta menuju kepada kota kudus-Nya, secara terbuka, didepan umum, di mana semua orang dapat melihat kepada kita.

 

Seperti Darah Paskah, darah itu dipampangkan secara terbuka dan didepan umum di dalam bentuk sebuah salib di bagian depan rumah; di ambang pintu serta di kedua sisi tonggak pintu.

 

Di mana setiap orang yang melintas dapat melihatnya: Ada satu keluarga yang merupakan milik dari Tuhan Allah. Ini adalah orang yang percaya di dalam Tuhan Yesus, Yang Maha Perkasa, kepercayaannya dipampangkan secara terbuka dan di depan umum.

 

Demikian juga dengan kita yang berada di dalam perjalanan pulang menuju sorga, secara terbuka dan di depan umum, dan tidak malu, kita harus mengakui iman kepercayaan kita di dalam Tuhan Yesus. Anda tahu, ada sesuatu hal terjadi dari musim panas yang lalu, sehingga saya mau memberikan segalanya untuk melalui hari-hari yang berlalu serta berdiri di mana saya berdiri pada musim panas yang lalu.

 

Saya sudah ribuan kali memikirkannya di dalam benak saya. Pada waktu itu, ketika saya berdiri di sana, saya mendapatkan suatu gerakan hati yang begitu mendalam untuk melakukannya dan kemudian saya menghalanginya di dalam jiwa saya. Dan saya tidak melakukannya. Oh, saya harap saya dapat kembali dan melakukannya. Apakah saudara-saudara sekalian tahu apa itu gerangan?

 

Demikianlah kisahnya: Kami berada di taman Hyde Park dan ribuan orang yang bergerak kesana dan kemari dan orang-orang saling berbicara di semua tempat di sana. Kebanyakan mereka adalah penganut paham komunisme, mereka memiliki bendera merah itu.

 

Dan di bawah bendera merah itu, mereka sedang menyampaikan injil tentang atheisme dan kefasikan dan sosialisme dan paham komunisme serta kesejahteraan statisme, dan berbicara serta berbicara dan mengutuk Tuhan Allah dan mengutuk gereja dan mengutuk nama Kristus.

 

Anda tahu, di taman Hyde Park, setiap orang dapat berbicara mengenai segala sesuatu dan mengenai apa yang mereka lakukan. Baiklah, apakah saudara-saudara sekalian tahu, di tengah-tengah kerumunan orang-orang banyak yang hilir mudik kesana dan kemari itu, ada seseorang hamba Tuhan, seorang pemberita Yesus yang sederhana.

 

Dia berdiri di sana dengan banyaknya orang yang berada di sekeliling dia dengan sebuah kitab yang terbuka di dalam genggaman tangannya dan dia dengan kesetiaan yang teguh memberitakan Injil dari Yesus Tuhan kita.

 

Saudara-saudara seharusnya mendengarkan orang itu ketika dia diejek-ejek dan ketika dia dicemoohkan dan ditertawakan. Tidak ada sesuatu apapun yang tidak dikatakan oleh kerumunan orang banyak itu mengenai dia dan mengenai apa yang sedang diberitakannya.

 

Di dalam khotbahnya, dia akan mengatakan: “Dan apa yang akan kamu lakukan dengan Yesus yang disebut dengan Kristus itu?

Dan seseorang keluar serta menggengam kepalan tangannya dan berkata: “Aku akan membunuhnya jika saya sanggup jika dia berada di sini hari ini juga.” Dan yang lain keluar seraya berkata: “Kami akan menyalibkan dia sebagaimana --- dan semua jenis benda yang seperti itu.

 

Anda tahu, ketika saya melihat kepada pendeta yang rendah hati itu, berdiri di sana dengan kitab yang terbuka di dalam genggaman tangannya, hanya memberitakan nama Yesus saja dalam semua kasih serta dalam semua kasih karunia, dan semua orang itu berdiri di sana hanya mengatakan hal-hal yang paling keji kepada dia dan kepada Yesus serta kepada Injil.

 

Anda tahu, saya tidak tahu mengapa saya tidak melakukannya. Hati saya sudah menyuruh saya untuk melakukannya. Saya tidak tahu mengapa saya tidak melakukannya. Melakukan apa yang telah diperintahkan hati saya untuk saya lakukan. Saya fikir, saya hanya naik ke atas lalu berdiri di sampingnya.

 

Dan di dalam kerumunan masa yang lapar, sangat lapar itu, para serigala pemakan daging itu, binatang-binatang buas itu yang begitu membenci Yesus itu, saya hanya akan berdiri di sampingnya dan dengan penuh kesungguhan dan secara perlahan-lahan saya akan mengatakan, “Saudaraku, aku ingin supaya engkau mengetahui bahwa saya juga seorang pemeluk agama Kristen. Aku telah ditebus oleh darah Yang Telah Disalibkan itu.”

 

Dan saya ingin agar engkau bersama-sama dengan orang-orang yang menggonggong, menyangkal serta menghujat di sekelilingmu ini, aku hanya ingin agar engkau mengetahui bahwa aku ingin menjadi terhitung di tengah-tengah mereka yang mengasihi Tuhan Allah serta mengasihi Yesus dan menuliskan namaku bersama-sama dengan namamu serta kelompokmu yang memegang teguh kesetiaan serta keyakinan.”

 

Mengapa saya tidak melakukannya? Saya tidak tahu. Akan tetapi saya tidak melakukannya. Saya rela memberikan apa saja jika saya dapat kembali ke musim panas yang lalu itu dan berdiri di tempat yang sama.

 

Dan ketika pemberita sederhana itu berdiri di sana dengan kitab terbuka yang ada di dalam genggaman tangannya itu, saya berharap bahwa saya mendapatkan kesempatan untuk berdiri di sampingnya. Saya, juga, terhitung di antara mereka yang percaya dan memanggil nama Tuhan Yesus.

 

Demikianlah yang diharapkan dari seorang anak Tuhan. Sebuah jalan raya yang besar muncul, dan mereka yang berjalan di sana kelihatan, mereka itu telah mengenal, mereka itu telah memberikan janji mereka, mereka itu terpanggil, mereka itu sudah merubah keyakinan mereka, mereka adalah anak-anak Tuhan. Jalan raya menuju sorga. Waktu kita sudah habis.