MASA DEPAN BANGSA ARAB
(FUTURE OF THE ARAB NATION)
Dr. W. A. Criswell
Yesaya 19:23-25
10-11-70
Saudara-saudara sekalian sedangn mengikuti kebaktian dari Gereja Baptis yang Pertama dari kota Dallas. Ini adalah Pendeta yang menyampaikan warta yang diberi judul: Masa Depan Bangsa-bangsa Arab. Warta ini telah dipersiapkan dari Firman Tuhan dan merupakan sesuatu yang kita semua percaya di dalam Kitab yang seharusnya kita ketahui, kitab yang seharusnya kita pertimbangkan, yang seharusnya kita ingat – dan khususnya serta yang terutama sekali, ketika kita membaca berita utama dari surat kabar harian kita – dan kadang kala hati kita dipenuhi dengan rasa takut serta pertanda yang menyangkut tentang masa depan ke dalam mana kita semua ditarik ke kawasan Timur Tengah.
Ada suatu waktu ketika “Timur Jauh” merupakan daerah yang jauh sekali, ketika kawasan timur berada di sisi dunia yang lain. Ada suatu waktu ketika menyeberangi lautan, kelihatannya orang-orang dipisahkan oleh batas-batas yang hampir-hampir tidak dapat dilalui; akan tetapi masa itu sudah berlalu. Secara harfiah, dunia itu merupakan sebuah balai yang berbisik. Dunia itu begitu kecil. Dan apapun yang terjadi di belahan bumi, jauh di balik benua-benua itu, mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari serta lingkaran dari keluarga kita.
Berapa banyak lagi kebenarannya ketika kita melihat Firman Tuhan dibawa melintas di dalam berkumpulnya bangsa-bangsa di Palestina? Bagaimana cepatnya kita dapat melihat diri kita sendiri dari tempat ke tempat – di samping waktu yang semoit untk sebuah kisah berita untuk keluar dari jangkauan terjauh dan dibaca di sana di depan mata kita sendiri.
Hanya beberapa minggu yang lalu, kami terbang dari Bangkok, melewati Burma, melewati Pakistan, melewati India, melewati Afghanistan, dan hampir semua wilayah Iran, kebanyakan dari Persia di dalam beberapa jam. Seluruh dunia itu hanya seperti ini saja, seperti di dalam telapak tangan saudara-saudara saja. Sebagai akibatnya, hal-hal yang telah kita baca di surat kabar ini, yang kadang kala membawa rasa takut kepada kita. Tetapi itulah sebabnya mengapa kita membutuhkan Firman Tuhan. Tidak ada satupun dari perkembangan ini yang merupakan sebuah kejutan bagi-Nya. Dia melihat ujungnya dari awalnya.
Dan kepada kita telah diajarkan di dalam Kitab Suci ini bahwa Tuhan itu berdaulat atas seluruh ciptaan, atas seluruh sejarah. Dan di dalam kehendak kedaulatan itu, kita semua mendapatkan bagian. Semua hal ini dinyatakan kepada kita di dalam lembaran-lembaran Kitab Suci sehingga kita boleh memiliki pengharapan – sehingga kita tidak boleh terjatuh kedalam keputusasaan. Allah itu hidup dan Allah itu bekerja; Allah itu memimpin dan Allah itu bergerak. Dan Dia menyatakan apa yang sedang dilakukan-Nya melalui rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya yang kudus. Dan bagi kita – yang akan membacanya, dan yang akan mempercayainya – kepada kita mereka membawa semangat serta harapan yang tidak terukur.
Jadi, demikianlah latar belakang dari pilihan warta untuk pagi hari ini: Masa Depan Bagi Bangsa-bangsa Arab. Dalam rangka untuk menyajikan warta ini – dan saya merasakan batasan waktu dan pemahaman saya sendiri yang lebih dari kebanyakan warta lainnya yang telah saya persiapkan, akan tetapi terutama sekali saya merasakan pembatasan waktu tersebut. Ada ribuan segi masalah terhadap pelajaran ini pagi hari tadi sehingga saya tidak memiliki waktu bahkan untuk mengacu pada, lebih kurangnya untuk membahasnya. Akan tetapi garis besar yang luasnya ialah kita memiliki waktu untuk menyajikan dan kita akan melakukannya dari lembaran-lembaran Kitab Suci saudara-saudara.
Saya harus memulainya dengan – mengapa harus Ismael? – karena Mohammad percaya dan dia mengajarkan seluruh pengikut-pengikutnya dari tanah Arab dan hal itu telah dikonfirmasikan oleh Kitab Suci, bahwa bangsa Arab merupakan keturunan dari Ismael. Sama seperti bangsa Yahudi yang merupakan keturunan dari Ishak, maka bangsa Arab adalah keturunan dari Ismael – keturunan dari Abraham.
Ketika seorang Muslim berangkat ke Mekkah, dan dia telah menyelesaikan naik hajinya di sana, dia mengikuti puasa Ismael – karena orang-orang Muslim telah diajarkan dan percaya bahwa adalah Ismael yang akan dikurbankan oleh Abraham di Gunung Moria dan bukan Ishak. Ismael adalah benih dari mana seluruh buah dan bunga dunia Islam-Arab telah diturunkan.
Maka untuk memulainya, kita harus memulainya dengan Ismael. Di dalam pasal yang ke enam belas dari kitab Kejadian, Sara melakukan sesuatu yang dulunya keliru sama seperti sampai dengan sekarang merupakan perbuatan yang keliru. Tidak ada hal yang seperti itu seperti sesuatu yang benar kemudian dan sekarang menjadi keliru. Yang benar adalah tetap abadi menjadi yang benar dan yang salah akan tetap menjadi salah untuk selamanya! Mungkin ada tingkatan akan pemahaman, pertumbuhan dan kepekaan, akan tetapi kebenaran berada di dalam sifat Tuhan Allah. Tuhan Allah tidak berubah! Maka, apa yang telah dilakukan oleh Sara, istri Abraham adalah salah, akan tetapi meskipun demikian dia telah melakukannya.
Sara, ketika dia menjadi semakin tua, dia tidak memiliki seorang anak. Dan hal itu menjadi semakin kelihatan jelas padanya bahwa dia itu steril – dia itu mandul. Dan tidak percaya akan janji Allah, terkejut akan janji Allah bahwa dia akan memiliki seorang anak, bahkan melampaui umurnya, Sara telah melakukan hal yang keliru. Dia memiliki seorang hamba perempuan – dia memiliki seorang budak dari tanah Mesir yang melayani dia. Dan budak itu, perempuan Mesir itu, bernama Hagar. Jadi, ketika Sara merasa ragu akan usian tuanya bahwa dia akan pernah memiliki seorang anak, dia membawa Hagar dan membaringkannya di pangkuan Abraham, dan mengandung. Dan ketika dia melihat bahwa dia bersama dengan seorang anak, dia meremehkan nyonya rumahnya, Sara, karena dia akan memiliki seorang anak dan Sara tidak dapat memilikinya. Dan Sara menjadi sangat gusar. Dan dari kemurkaan Sara, Hagar, hamba perempuan ini, diusir pergi.
Nah, ketika dia berkelana di padang gurun, malaikat Tuhan mendatanginya dan berkata kepadanya:
“Hagar, engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan emenamainya Ismael (“Tuhan mendengarkan” - Ismael)…
Dan aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya …
Dia akan menjadi seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar (hidup di alam terbuka dan di padang pasir); tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia …
Jadi, Ismael dilahirkan sebagai keturunan dari Abraham di tempat kediaman Abraham, di dalam rumah tangga Abraham. Sekarang, di dalam kitab Kejadian dari pasalnya yang ketujuh belas:
“Allah berfirman kepada Abraham: “dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun temurun,
Inilah perjanjian-Ku yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
Haruslah dikerat kulitnya kulit khatanmu dan itulah yang menjadi tanda perjanjian antara Aku dengan kamu.
Jadi, di dalam pasal yang sama yang telah diberikan Tuhan kepada Abraham adalah perjanjian tentang sunat, pemberitahuan itu disampaikan kembali bahwa Sara akan memiliki seorang anak,; dan bahwa, di dalam anak itu, karunia yang agung terhadap dunia dan Mesias akan dilahirkan, akan datang.
Kemudian Abraham berkata: “Oh Tuhan, Ismael itu boleh tinggal di hadapan-Mu!” Itu merupakan suatu hal yang sungguh mengagumkan! Ketika Tuhan Allah berkata Sara akan memiliki seorang anak, dan karunia yang datang bersama-sama melalui anak itu, janji tentang Mesias itu akan ditepati melalui benih Ishak, anak yang telah dijanjikan ini, Abraham berdoa: “Oh Tuhan, mungkin maksudnya adalah Ismael!” Abraham begitu mencintai anak itu sehingga dia berdoa kepada Tuhan Allah bahwa janji itu boleh datang melalui Ismael. Akan tetapi Tuhan berkata: “Tidak!”
Janji itu akan ditepati melalui Ishak dan benih keturunan dari Ishak …
Tetapi sejauh mana Ismael, saya telah mendengarkanmu: Lihatlah, Aku telah memberkati dia, dan membuatnya penuh dengan keberhasilan, dan akan membuat keturunannya menjadi sangat banyak; dua belas raja akan diperanakkannya (dua belas putra akan dimilikinya), dan Aku akan membuatnya menjadi sebuah bangsa yang besar. (Lalu kemudian hal itu berlanjut.)
Maka Abraham membawa Ismael putranya, dan semua yang ada di dalam kediaman Abraham … dan menyunat khatan terlepas dari kulitnya, dalam hari yang sama, ketika Tuhan Allah telah mengatakannya kepada Abraham.
Abraham telah berumur sembilan puluh sembilan tahun, ketika khatannya di sunat dari kulit luarnya. Dan Ismael putranya berusia tiga belas tahun ketika khatannya di sunat dari kulit luarnya. Abraham disunat pada hari yang sama putranya Ismael juga disunat.
Perjanjian tentang bersunat termasuk Ismael dan benihnya serta keturunannya. Ada dua orang putra, dan mereka berdua berada di dalam perjanjian bersunat itu: Ismael beserta kedua belas putra Ismael (dua belas kepala keluarga, dua belas suku bangsa dari Ismael, bangsa-bangsa Arab) dan Ishak, dengan putranya Israel dan kedua belas putra Israel (ke dua belas kepala keluarga) – semua mereka berada di dalam perjanjian bersunat itu.
Sekarang, saya beralih kepada pasal yang ke dua puluh satu dari kitab Kejadian. Ini merupakan kisah dari kelahiran Ishak (tertawa) – sukacita yang seperti itu sungguh tidak dapat dipercaya, tidak dapat dibayangkan, tidak dapat digambarkan oleh Sara dan oleh Abraham. Maka Ishak dilahirkan. Dan Abraham menyunatkan putranya, Ishak karena sudah berumur delapan hari sebagaimana telah diperintahkan oleh Tuhan Allah kepadanya. Yang pertama Ismael; lalu kemudian Ishak – mereka berdua.
Di dalam kisah dari pasal ini, Sara melihat putra dari Hagar perempuan Mesir itu, yang telah melahirkan bagi Abraham, memperolok-olkkan – putranya itu sudah berusia belasan tahun – dan Sara melihat Ismael, putra Hagar perempuan Mesir itu, hamba yang menjadi ibu itu, Sara melihat anak laki-laki itu mengejek bayi Ishak yang masih kecil. Dan kembali di sini, Sara bereaksi dengan amarah. Dan dia berkata kepada Abraham: usirlah pergi hamba perempuan ini dan putranya itu: karena hamba perempuan ini tidak akan bersama-sama mendapatkan warisan dengan putraku, bahkan dengan Ishak.
Sekarang, hal itu menjadi sangat menyedihkan di hadapan Abraham karena putranya, Ismael. Abraham mengasihi Ismael. Dan ketika Sara meminta supaya anak laki-laki itu bersama dengan dia, ibunya itu, diusir ke luar, itu merupakan pemandangan yang menyedihkan di hadapan Abraham. Dia tidak tahu hendak lari ke mana. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Hal itu merupakan sebuah beban dan menyakitkan hatinya. Akan tetapi Tuhan Allah berkata kepada Abraham: “lakukanlah sebagaimana yang diminta oleh Sara.” Dan Dia mengulanginya: “Datang dari putra seorang hamba perempuan, Aku akan membuat satu bangsa karena dia adalah beih keturunanmu. Dan dia juga berada di dalam perjanjian bersunat itu.”
Jadi, hamba perempuan bersama-sama dengan putranya Ismael diusir pergi. Dan Hagar, bersama-sama dengan putranya mengembara di padang gurun, di padang pasir, sampai mereka menghadapi diusir pergi. Jadi, hamba perempuan dan putranya Ismael diusir pergi. Dan Hagar, dengan anak laki-laki yang masih berusia belasan tahun itu mengembara di padang gurun, di padang pasir itu, sampai mereka berhadapan dengan maut karena kehausan. Dan karena tidak sanggup untuk melihat pada wajah dari putranya yang sedang sekarat, Hagar meletakkan putranya ke satu sisi dan menarik dan mendudukkan dirinya sendiri ke padang pasir itu serta menaikkan suaranya dan menangis. Dan sementara dia menangis, berhadapan dengan maut, untuk yang kedua kalinya malaikat Tuhan menjumpai dia:
Dan malaikat Tuhan datang menjumpai Hagar turun dari langit dan berkata kepadanya …
Bangunlah, angkatlah anak itu dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar. (betapa seringnya Allah mengulanginya) … dan Allah memberikannya air untuk diminum.
Allah menyertai anak itu sehingga ia bertambah besar, ia menetap di padang gurun …
Nah, sekarang saya membuka halaman berikutnya kembali. Dari pasal yang ke dua puluh lima kitab Kejadian:
Ini adalah hari-hari dari tahun-tahun yang dijalani oleh Abraham selama seratus tujuh puluh lima tahun,
lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.
Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre (di Hebron itu).
Yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara istrinya. (Banyak dari antara kita yang telah pergi beberapa kali ke sana dan telah mengunjungi makam itu).
Akan tetapi, yang langsung mengikuti ayat-ayat tersebut bukanlah keturunan dari Ishak, akan tetapi keturunan Ismael:
“Inilah keturunan Ismael, anak Abraham yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu.”
Ada dua belas orang putra – dia mendapatkan dua belas orang putra dan satu orang putri. Dan putri yang seorang itu menikah dengan Esau. Esau mengambil dia sebagai istri. Bukankah itu hal yang luar biasa? Ada dua belas orang putra dan satu orang putri dilahirkan bagi Ismael. Ada dua belas orang putra dan satu orang putri, yaitu Dina, dilahirkan bagi Israel.
“…Itulah anak-anak Ismael dan itulah nama-nama anak Ismael, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya.
Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, sama seperti yang dikatakan oleh Abraham, “Dan dia akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.
Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.
Ketika saudara-saudara melihat kembali ke bagian permulaannya, saudara-saudara akan melihat kedua anak laki-laki ini: Ismael, yang lebih tua, putra dari Hagar, benih dari Abraham, seorang anak yang ikut dalam perjanjian bersunat; dan putra yang lain, Ishak, dilahirkan oleh Sara, seorang anak yang dijanjikan oleh Tuhan Allah bahwa melalui dia Tuhan Allah akan memberkati dunia, pengharapan akan Mesias. Dan kedua garis keturunan itu, kedua silsilah itu, dilipat gandakan seturut dengan maksud kedaulatan Tuhan Allah. Dan Ismael dilipatgandakan – leluhur dari orang-orang Arab. Dan keturunan dari Ishak dilipatgandakan, bapa leluhur dari orang-orang Ibrani, orang-orang Yahudi itu.
Dan selama beraba-abad lamanya, dan untuk berabad-abad lamanya, mereka hidup di dalam damai sejahtera. Tentu saja ada penngecualian, seperti adanya beberapa pengecualian di dalam sejarah. Saudara-saudara lihat pada sejarah bangsa Amerika dan lihatlah berapa kali sejarah itu diselubungi oleh peperangan serta perselisihan. Llihatlah pada bangsa kita di zaman sekarang ini. Di sana terdapat orang-orang di dalam negara kita negara Amerika di zaman sekarang ini yang tidak ingin saya miliki sebagai teman sebangsa saya. Saya tidak mau melakukan hal tersebut! Saya tidak ingin melakukannya kecuali saya ditekan dan dipaksa untuk melakukannya! Ada beberapa orang-orang di Amerika yang namanya tidak ingin saya pakai. Bagi saya, mereka itu bersikap tidak cinta terhadap tanah air. Mereka adalah para penghujat. Mereka itu kotor. Mereka itu dekil. Mereka kotor di dalam dosa-dosa mereka. Mereka kotor di dalam kehidupan mereka. Mereka kotor di dalam hati mereka. Mereka bermoral bejad. Mereka adalah orang-orang yang anti Tuhan, anti Gereja, anti Kristus dan anti terhadap segala sesuatu yang pantas dan baik! Dan meskipun demikian, mereka adalah warga negara Amerika. Dan saya harus menghormati mereka sedemikian.
Saya hanya menunjukkan kepada saudara-saudara sekalian bahwa hal itu tidak berarti ketika saya katakan bahwa mereka hidup bersama-sama di dalam damai sejahtera selama berabad-abad, mereka tidak mengalami adanya pertentangan dan perselisihan. Akan tetapi saya mengatakan kepada saudara-saudara sekalian bahwa, di dalam aliran besar dari suku bangsa Semit yang bersepupu itu, keturunan dari Ismael itu dan keturunan dari Ishak bahwa mereka hidup di dalam perdamaian.
Dan bukan hanya itu, akan tetapi di zaman ketika bangsa-bangsa di benua Eropa disebut juga dengan orang-orang Kristen sedang memaksa bangsa Yahudi masuk ke dalam perkampungan Yahudi dan menolak mereka karena mereka adalah orang-orang yang membenci serta orang-orang yang menyalibkan Kristus – kitalah yang menyalibkan Kristus, dosa-dosa kitalah yang melakukannya. Dan salah satu perubahan yang paling tragis dari seluruh perubahan dari kebudayaan yang beradab, adalah gara-gara perilaku dari orang-orang Kristen di Eropa, yang begitu disebut dengan gereja, yang menganiaya bangsa Yahudi, ketika kita semua memiliki andil di dalam hal ini: Kita menekankan pada kening-Nya mahkota berduri dan kita melesakkan paku ke dalam tangan dan kaki-Nya. Dosa-dosa kitalah yang melakukannya!
Tetapi sementara gereja, demikianlah disebutkan, di Eropa terjadi penganiayaan terhadap bangsa Yahudi dan menempatkan mereka di perkampungan-perkampungan Yahudi, dan pada saat itu dan di dalam abad-abad tersebut, dunia Islam menyambut baik kehadiran orang-orang Yahudi di tengah-tengah mereka: Dia adalah seorang petugas pemerintah, dia adalah seorang dokter, dia adalah seorang ilmuwan, dia adalah seorang pelajar, dia adalah seorang guru, sia adalah seorang rabbi. Dia diterima sebagai teman di dunia Arab.
Mengapa, coba kita lihat suku Maimon sebagai contohnya, Moses Ben Maimon, seorang Yahudi yang hebat di abad pertengahan. Dia merupakan seorang rabbi di kota Kairo. Dia merupakan seorang penyusun kitab Talmud yang luar biasa. Dia adalah seorang sarjana yang jauh melebihi daripada siapapun yang saudara-saudara ketahui. Tetapi dia juga seorang dokter, seorang dokter istana Saladin, seorang pemimpin besar dari dunia Muslim yang bersatu. Mereka berjalan beriringan. Mengapa, apakah saudara-saudara tahu di dalam setengah abad yang lalu, menteri keuangan di Mesir dari Raja Fouad adalah Cattaui Pasha, seorang Yahudi? Dan di seluruh dunia Arab, ada beberapa orang Yahudi yang telah diberikan gelar Bey dan Pasha, sebuah gelar kehormatan yang berarti penting di dunia Arab. Dan mereka hidup bersama-sama saling menghargai dan menghormati.
Darimana kemudian perselisihan yang mengerikan yang dapat kita lihat di zaman sekarang ini dengan bangsa Yahudi si sisi yang satu dan orang-orang Arab di sisi yang lainnya? Dan kepahitan yang berlangsung sedalam kehidupan, setinggi langit, dan kelihatannya sepanjang waktu akan berakhir? Dari mana datangnya gerangan? Siapa yang melahirkannya? Apakah karena kebencian-kebencian yang lama? Nah, saya ulangi, saya tidak mengatakan bahwa tidak pernah ada perselisihan terjadi di zaman yang sudak lalu itu, yang saya katakan di sana tidak terdapat kebulatan suara di Amerika. Akan tetapi di masa yang lalu, kebencian-kebencian itu tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan kepada apa yang kita lihat sekarang. Tidak ada sama sekali! Mereka hidup bersama-sama di dalam damai dan di dalam rasa saling menghargai. Lalu dari mana datangnya kebencian yang mengerikan ini? Dan apakah yang menjadi sumber mata air yang memberi makan kebencian itu? Kembali di sini, saya terlalu menyederhanakan masalah-masalah. Akan tetapi saya dapat menunjukkan aliran kebenaran yang luar biasa. Bahwa kebencian yang mengerikan antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Arab timbul dari penindasan, dan adanya penganiayaan serta penekanan dari bangsa-bansa di dunia ini. Kita yang telah melakukannya.
Kisah mengenai Israel modern serta dunia Arab modern merupakan kisah tentang pengungsian. Yang pertama, bangsa Yahudi: kemanapun orang-orang Yahudi pergi, dia akan merasa paling gembira apabila dapat berasimilasi bukan di dalam agama, akan tetapi di bidang kebudayaan, di dalam kehidupan dari negara di mana dia tingal. Berjalan hilir mudik di jalanan kota Dallas. Seorang bangsa Yahudi di kota Dallas akan menjadi seorang warga kota dari kota kita yang seperti ratu ini. Karena sebagian terbesar, saya tidak dapat melihat pada mereka serta memberitahukan mereka setiap perbedaan dari selebihnya kita. Mereka adalah bagian dari diri kita. Mereka adalah warga negara Amerika yang bersifat patriot. Mereka mencintai negara kita. Mereka mencintai kita semua. Mereka adalah sahabat-sahabat kita dan kita mencintai mereka. Maka, bangsa Yahudi berada di Argentina, maka, bangsa Yahudi berada di Jepang: ketika saya bertemu dengan mereka di sana, mereka sudah bericara dengan menggunakan bahasa Jepang, mereka sudah menjalani hidup budaya Jepang, seperti Gulf Stream, berbeda dan terpisah, akan tetapi merupakan bagian dari budaya negara tersebut; dan tanpa ada masalah, sama seperti mereka yang bukan menjadi masalah di Maerika. Mereka adalah sesama warganegara kita. Mereka membantu kita untuk membangun.
Akan tetapi di benua Eropa, di Eropa, ada gairah pada sebagian politikus dan para penguasa, serta sebagian gubernur dan raja-raja, serta pangeran-pangeran untuk membawa bangsa Yahudi dan menekan mereka serta menumpahkan darah mereka; merampas harta benda mereka, merampas kehidupan mereka, dan menyita segala sesuatu yang dimilikinya. Dan ribuan hal lainnya, kekejian serta kejahatan yang mereka lakukan terhadap mereka. Pada suatu ketika, Inggris, mengusir semua orang-orang Yahudi. Selama berabad-abad lamanya, tidak seorangpun bangsa Yahudi berada di Inggris, mereka telah diusir pergi oleh raja. Saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendalaminya.
Dan pada akhirnya, hal itu memuncak di masa hidup saya. Hitler dan Nazi Jerman membantai serta membakar mereka, menikam mereka sampai mati, menelantarkan mereka dalam kelaparan, memasukkan mereka ke dalam kamar-kamar gas, mereka berjumlah enam juta orang Yahudi. Dan dari penganiayaan yang dilakukan oleh bangsa Rusia dan dari penganiayaan yang dilakukan oleh bangsa Polandia, dan dari penganiayaan yang dilakukan oleh bangsa Jerman dan bangsa-bangsa yang menyebut dirinya “Kristen” selebihnya yang ada di benua ropa, yang bukan beragama Kristen, ada orang-orang Kristen yang berada ditengah-tengah mereka, tetapi tidak ada bangsa Kristen. Belum pernah ada! Datang dari penganiayaan yang mengerikan itu, terlahir di dalam jiwa orang-orang Yahudi apa yang kita sebut dengan Zionisme. Yaitu, sebuah pengharapan dan suatu keinginan dan suatu kerinduan untuk mendapatkan suatu tempat sebagai tempat pelarian, suatu tempat untuk dapat hidup. Di masa ketika terjadi penindasan Hitler yang menakutkan itu contohnya, apakah Amerika membukakan pintu-pintunya dan berkata: “Saudara-saudara sekaliandapat datang ke sini.” Tidak, kita tidak mengatakannya! Dan datang dari keputusasaan itu, datang dari tahun-tahun penganiayaan yang mengerikan itu, lahirlah paham Zionisme di dalam hati orang-orang Yahudi.
Saya memikirkan tentang kedaulatan kehendak Tuhan, dia memalingkan wajahnya ke negeri kampung halamannya, persis separti yang dikatakan oleh Tuhan bahwa dia akan melakukannya. Dia mulai melihat ke arah negeri dari kaum leluhurnya. Dan seiring berlalunya hari, dan secara meningkat bangsa Yahudi dianiaya di Rusia dan di Polandia, dan khususnya di Jerman, mereka mulai meminta untuk berimigrasi ke Palestina. Maka, bangsa Yahudi – seorang pengungsi dari mana dia datang sebelumnya, dan asal dari kaum leluhurnya dan kaum leluhurnya sudah pernah berada di dalam negara itu selama beratus-ratus tahun lamanya – bangsa Yahudi, dalam rangka untuk mencari harapan untuk hidup, memanlingkan wajahnya ke arah Palestina. Itulah yang saudara-saudara sekalian katakan sebagai paham Zionism, untuk mendirikan sebuah negara, sebuah negara Israel, di dalam negeri dari kaum leluhurnya sendiri.
Deklarasi Balfour itu tidak berarti apa-apa kecuali hanya sebagai selembar surat saja, satu lembar surat yang dituliskan oleh Lord Balfour kepada Lord Rothschild, seorang Yahudi, yang mengatakan bahwa pemerintahnya melihat dengan kemurahan hati terhadap negeri nasional sendiri dari bangsa Yahudi di Palestina. Maka, para pengungsi yang berkebangsaan Yahudi itu, mencari sebuah tempat untuk hidup, kemudian memalingkan wajah mereka ke tanah kelahiran kaum leluhur mereka yakni Palestina.
Sekarang, dengan jenis yang sama, walaupun agak berbeda sedikit, terjadi kepada dunia Arab. Selama berabad-abad lamanya, dunia Arab berada di bawah tangan-tangan besi dari kepemimpinan seorang diktator, yang mana yang terakhir adalah Ottoman Turks, dari kerajaan Ottoman. Dan perang yang mengerikan itu – dan saya dapat mengingatnya – Perang Dunia I berlangsung antara Jerman dan Austria, serta Turki di pihak yang satu dan sekutu berada di pihak yang lain. Perancis dan Inggris secara diam-diam berjanji kepada orang-orang Arab bahwa jika mereka menang melawan Turki dan kerajaan Ottoman Empire berhasil dicerai beraikan, orang-orang Arab mencari cara untuk merdeka; aspirasi kebangsaan mereka dapat direalisasikan.
Kita telah memenangkan perang itu. Perancis, Inggris, dan Amerika serta sekutu kita, Italia dan yang lainnya telah memenangkan perang itu. Liga Bansa-bangsa bersatu mengeluarkan mandat kepada bangsa Perancis dan Inggris serta bangsa-bangsa Arab itu. Akan tetapi seiring berlalunya waktu Perancis dan Inggris menyerahkan mandat tersebut dan bangsa-bangsa Arab itu terganisir, merealisasikan aspirasi kebangsaan mereka sendiri: bangsa Iran, menjadi merdeka, bangsa Irak, yang dulunya adalah Asyur, menjadi merdeka, Mesir, sebuah negara Muslim, bukan orang-orang Arab, menjadi merdeka, Libanon, menjadi merdeka. Kebanyakan ini terjadi di dalam hidup saudara-saudara dan di dalam tahun-tahun belakangan ini – menjadi bebas! Akan tetapi ketika bangsa-bangsa Arab melihat ke depan kepada aspirasi kebangsaannya, benih keturunan dari Ismael – anak yang ikut di dalam perjanjian bersunat – ketika benih keturunan dari Ismael melihat ke arah kemerdekaan mereka di depan; dan ketika benih keturunan dari Ishak melihat ke arah kemerdekaan mereka di depan, di dalam genggaman tangan mereka, mereka lihat para pengungsi yang tidak terkira jumlahnya, ada jutaan jiwa jumlah mereka semua – jutaan – para pengungsi dari bangsa Yahudi, mencari sebuah tempat tinggal di tanah kelahiran kaum leluhur mereka; dan para pengungsi dari orang-orang Arab itu, lebih dari satu juta penduduk jumlah mereka, berada di dalam dan di sekeliling Palestina.
Dan ketika saya berada di sana lebih dari dua puluh tahun yang lalu, segera setelah penetapan negara Israel itu, ketika saya memandang para pengungsi itu, di dalam hati saya berkata: “Ada lebih dari satu juta orang banyaknya mereka – kecuali di sana terdapat suatu jalan keluar terhadap persoalan yang dahsyat ini, suatu hari nanti, seluruh dunia akan bertemu dengan bencana yang hampir tidak dapat digambarkan.”
Ada ribuan faktor lain yang menyertai di dalamnya. Saya hanya ingin supaya kita mengetahui beberapa hal: Yang pertama, menurut Firman Tuhan, kedua bangsa itu – orang-orang Arab, anak yang telah disunat; bangsa Yahudi anak yang telah bersunat – kedua keluarga besar itu merupakan sepupu suku bangsa Semit dan mereka ikut serta di dalam perjanjian bersunat – keturunan dari Abraham, mereka berdua, keduanya! Yang satu mendapatkan pilihan terpisah dalam kasih karunia kedaulatan Tuhan Allah. Dan melalui bangsa Yahudi – dan saya tidak perlu mengulanginya – Allah telah mengatakan bahwa berkat yang besar akan datang ke bumi. “Israel, warisanku:” akan tetapi mereka berdua merupakan anak-anak dari perjanjian bersunat Abraham. Mereka berdua adalah sesama bani Sem. Mereka berdua adalah sama-sama benih keturunan Abraham.
Nah, apa yang kita hadapi? Apakah tidak akan ada penyelesaiannya untuk selam-lamanya? Apakah tidak ada harapan? Oh, tidak! Allah memiliki suatu tujuan yang besar bagi bangsa-Nya – bagi bangsa Yahudi dan bangsa Arab, bagi keturunan Ishak dan bagi keturunan Ismael. Dia memiliki tujuan kedaulatan yang agung serta takdir bagi seluruh dunia Islam. Tuhan Allah memilikinya! Dan saudara-saudara sekalian dapat membacanya tepet dari dalam Alkitab ini, dari kitab Yesaya pasalnya yang ke sembilan belas:
Pada waktu itu akan ada mezbah bagi Tuhan di tengah-tengah tanah Mesir dan tugu peringatan bagi Tuhan pada perbatasannya.
Itu akan menjadi tanda kesaksian bagi Tuhan semesta alam di tanah Mesir; apabila mereka berseru kepada Tuhan oleh karena orang-orang penindas, maka Ia akan mengirimkan seorang juruselamat kepada mereka, yang akan berjuan dan melepaskan mereka.
Pada waktu itu akan ada jalan raya dari Mesir ke Asyur (ke dalam Irak menuju kota Baghdad), sehingga orang Asyur dapat masuk ke Mesir, dan orang Mesir ke Asyur, dan Mesir akan beribadah bersama-sama Asyur.
Pada waktu itu Israel akan menjadi yang ketiga di samping Mesir (Mesir, Israel, Irak, dan Syria) di samping Asyur, suatu berkat di atas bumi:
Yang diberkati oleh Tuhan semesta alam dengan berfirman: “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel, milik pusaka-Ku.” (melalui tanah kelahiran janji akan datangnya Juru Selamat yang Agung).
Mereka semuanya! Mereka semuanya! Mereka semuanya! “Baiklah, pak Pendeta, saya dapat melihat anda membacanya. Saya dapat melihat! Bagaimana caranya semua hal itu dapat terjadi?”
Baiklah, saya tidak sempat mengajarkan semuanya. Akan tetapi saya yakin bahwa sang Raja Damai akan datang. Saya yakin Tuhan Allah akan campur tangan di dalam sejarah umat manusia. Puluhan ribu rincian telah dinyatakan oleh Tuhan Allah di dalam kitab-Nya ini; akan tetapi saya yakin bahwa hari besar itu akan datang. Dan Mesir akan berseru memanggil-manggil kepada nama Tuhan; dan seluruh dunia Arab akan berseru memanggil-manggil nama-Nya; dan bangsa Israel akan menerima Raja mereka – satu negara telah lahir di dalam satu hari.
Nah, kesudahan dari warta ini: Bagi seorang anak Tuhan, dan kepada seseorang yang percaya akan Kitab Suci, selalu ada harapan di sana, selalu ada hari-hari yang lebih baik, senantiasa ada sebuah kemenangan, hanya di balik bukit itu. Kita tidak akan tinggal di dalam keputusasaan, ketidakberdayaan dan tidak ada harapan sama sekali. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Allah menyatakan masa yang akan datang kepada kita dan mengapa Tuhan Allah berbicara kepada nabi-nabi itu – supaya kita boleh mendapatkan pengharapan. Setiap saat ada anak-anak Tuhan, saudara-saudara sekalian dapat menemukan iman kepercayaan di sana, dan harapan, dan jaminan. Betapapun gelapnya atau tragisnya saat itu, ketika Tuhan Allah menyatakan kepada Abraham bahwa keturunannya melalui Ishak akan berada di dalam perbudakan selama empat ratus tahun lamanya di tanah Mesir, kemudian Tuhan Allah berkata: “Akan tetapi Aku akan mengunjungi bangsa-Ku. Ketika panjang dari suku Amori sudah penuh, Aku akan mengunjungi bangsa-Ku.”
Setelah empat ratus tahun lamanya, ketika Abraham mempersembahkan Ishak sebagai korban di gunungMoria, ketika dia mengangkat tangannya untuk mencabut nyawa dari anak yang telah dijanjikan itu, Kitab Suci berkata, dia percaya bahwa Tuhan Allah akan membangkitkannya dari kematian dan walaupun dia telah dibunuh oleh tangannya sendiri. Ketika Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: “Aku sedang sekarat. Berjanjilah kepadaku bahwa kamu sekalian akan membawa tulang belulangku dan akan menguburkannya di tanah yang dijanjikan karena Allah pasti akan mengunjungi kamu.” Senantiasa bahwa hari besar itu akan datang. Ketika Tuhan berkata kepada raja Daud: “Pedang tyidak akan pernah meninggalkan keluargamu,” Dia juga berkata, “Akan tetapi akan ada seorang anak yang akan duduk di atas takhta Daud untuk selama-lamanya.” Ketika raja Uzia meninggal dan nabi muda Yesaya terbenam di dalam keputusasaan, ayat yang berikutnya mengatakan: “Dan Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang dan ujung jubahnya menyentuh Bait Suci.” Ketika Yesaya bertemu dengan raja Ahas yanmg lemah itu,dan Ahas menolak untuk percaya kepada Tuhan Allah, nabi itu berkata: “Tuhan sendiri akan memberikan sebuah pertanda kepada kita. Seorang perawan akan melahirkan seorang anak dan mereka akan memanggil namanya “Tuhan bersamadengan kita” – Immanuel. Ketika Maleakhi membawa kutukan dari Tuhan terhadap bangsa itu, dia juga berkata: “Akan tetapi matahari kebenaran akan terbit dengan penyembuhan berada pada sayap-sayapnya.” Ketika Tuhan Yesus berkata: “Anak manusia harus disalbkan dan mati,” Dia juga berkata, “Akan tetapi pada hari yang ketiga, Dia akan bangkit dari antara orang yang sudah mati.” Ketika Paulus mengatakan duri dalam daging di dalam diriku ditolak oleh Tuhan Allah untuk dibuang, dia juga berkata: “Akan tetapi Tuhan Allah berkata, kasih karuniaku akan cukup bagimu.” Ketika Yohannes Pembaptis berada di kepulauan Patmos untuk mati kelaparan dan pencahayaan, dia berbalik dan melihat Anak Allah. Dan di akhir dari kesesakan besar itu, oh, suasana yang ada di dalam kitab Wahyu pasal yang ke empat sampai dengan pasal yang ke 19, di tengah-tengah pasal yang ke sembilan belas:
“Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.
Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri.
Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: (Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan).
Dan ketika seluruh bumi dihancurkan oleh api, rasul itu menuliskan: “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru.”
Kita tidak pernah berputus asa. Kita tidak pernah kehilangan harapan. Di dalam usia yang tua, di dalam kematian, di dalam kelamnya setiap kegelapan, berita utama yang telah diramalkan sebelumnya – di atas dan di belakang serta di depan, Tuhan Allah hidup dan Tuhan Allah memerintah! “Jadilah pesorak yang baik, kawanan ternak kecil. Adalah kegembiraan bagiBapamu untuk memberikan kerajaan itu kepadamu.” “Di dalam segala hal Tuhan bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Tuhan.”
Oh, Tuan, berikanlah iman kepercayaan kepada kami, beserta dengan penghiburan, dan keberanian ketika kami melakukan perjalanan melalui padang gurun kehidupan ini. Nah, sekarang waktu kita sudah melampaui batas. Ketika kita menyanyikan himne permohonan kita dan saudara-saudara satu keluarga datanglah, saudara-saudara berpasangan, anda yang sendirian, sembari kita menyanyikan lagu ini, lakukanlah sekarang juga. Lakukanlah di pagi hari ini juga: Inilah aku, Pak Pendeta, dan ini aku datang.”