KERAJAAN ITU AKAN TIBA

(THE KINGDOM IS COMING)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Yesaya 11:1-9

08-17-75

 

      

Melalui siaran radio, melalui siaran televisi bersama-sama dengan anggota jemaat yang sangat besar dari gereja ini, datanglah. Saudara-saudara sekalian sedang bersama-sama mengikutinya, saudara-saudara  yang sedang mendengarkan kebaktian dari Gereka Baptis Pertama di kota Dallas melalui siaran radio dan yang sedang menonoton acara televisi. Dan ini adalah pendeta yang menyampaikan warta yang diberi judul dengan: Kerajaan yang akan tiba, Kerajaan itu akan tiba. 

 

Ini merupakan suatu uraian yang lebih terperinci dari sebuah nubuat dari dalam bagian yang belakangan dari pasal yang kesepuluh dari kitab Yesaya dan bagian yang pertama dari pasal yang kesebelas. Pada hari Minggu yang lalu, kita telah membicarakan tentang nubuat di dalam bagian yang pertama dari pasal yang kesepuluh kitab Yesaya dan sekarang kita melanjutkannya ke bagian yang belakangan dari pasal tersebut dan ditambahkan dengan bagian permulaan dari pasal yang ke sebelas:

 

“Lihat, Tuhan, Tuhan, semesta alam – Tuhan dari Sabaoth - akan memotong dahan-dahan pohon dengan kekuatan yang menakutkan; yang tinggi-tinggi tumbuhnya akan ditebang, dan yang menjulang ke atas akan direndahkan.

Belukar rimba akan ditebas dengan kapak, dan Libanon dengan pohon-pohonnya yang hebat akan jatuh.

Suatu tunas – sebuah pucuk - akan keluar dari tunggul – tunggul, batang -  Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya – sebuah netzer, sebuah Nazarene - akan berbuah

Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan.

 

Dan kemudian ayat-ayat itu menggambarkan pribadi dari Raja yang akan datang itu. Dimulai dari ayat yang ke enam, kita telah melihat sebuah penjelasan mengenai kerajaan tersebut. Yang pertama, seorang Raja yang penuh dengan kemuliaan akan datang. Dan yang kedua, kerajaan yang penuh dengan kemuliaan pada mana Dia dengan pasti dan penuh dengan kejayaan akan memerintah.

 

“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput, dan anakya akan sama-sama berbaring, sedang singa  - pemakan daging yang rakus itu - akan makan jerami seperti lembu.

Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, seperti air laut menutupi dasarnya.

 

Dapatkah saudara-saudara  membayangkan nubuatan yang lebih agung dan yang lebih optimistis daripada nubuatan ini, mengenai sang Raja dan Kerajaan-Nya yang akan datang? Semuanya itu timbul dari urgensi, tragis dan penuh dengan penderitaan akan hari di mana Yesaya hidup di dalamnya.

 

Dari kaki langit ke kaki langit dunia yang beradab, bangsa Asyur menggenggam dunia ini di dalam genggaman tangan-tangan besi, sebuah kerajaan yang tidak mengenal belas kasihan dan kejam. Adalah kerajaan Asyur yang telah menyerbu Palestina dan memusnahkan seluruh kerajaan sebelah utara dengan ibukotanya Samaria. Dan ada sebanyak empat kali di sepanjang hidup nabi Yesaya ini dia menghancurkan serta menyerbu Yehuda. Kalau bukan karena campur tangan dari Tuhan Allah sebagai sebuah jawaban atas doa dari Hizkia raja yang baik itu, kerajaan Asyur sudah akan menghancurkan kerajaan kecil Yehuda.

 

Akan tetapi nubuat itu di mulai dan berakhir di dalam suatu perbedaan yang tajam dan nyata. Yang pertama, nubuat yang berkatian dengan kerajaan Asyur: “Tuhan akan memootong-motong dahan-dahannya, tangan-tangan Tuhan yang perkasa akan menebangnya seperti pohon cedar di Libanon.” Dahan itu akan dijatuhkan. Kemudian – dan bukankah itu hal yang memalukan bahwa ada sebuah judul pasal yang berada di atas ini? Ketika Yesaya menuliskannya tidak ada judul dari pasal tersebut, hanya sebagai kelanjutan saja. Membedakan penghancuran oleh kerajaan Asyur, lalu kemudian dia berbicara tentang kebangkitan kembali, kebangkitan bangsa Israel kembali. “Suatu tunas – sebuah pucuk - akan keluar dari tunggul – tunggul, batang -  Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.”

 

Perbedaannya di sini antara sebatang pohon cedar dan sebatang pohon ek. Ketika sebatang pohon cedar ditebang, karena turut bersamanya genus dari keluarga pinus-pinusan, tidak ada tunas di sana, tidak ada puuk di sana, tidak ada alat perkembanga-biakan di sana. Ketika sebatang pohon cedar ditebang, sama dengan semua keluarga pinsu-pinusan, tidak akan ada yang tersisa kecuali puntungannya dan batang pohon tersebut akan membusuk di tanah.

 

Nabi Yesaya berkata bahwa kerajaan Asyur yang besar, sangat luas dan tidak kenal ampun itu akan seperti pohon cedar itu. Tuhan Allah sendiri yang akan menumbangkan pohon cedar raksasa itu dan ketika pohon tersebut telah ditumbangkan, maka poho itu akan musnah untuk selama-lamanya. Kerajaan Asyur itu akan benar-benar musnah dengan sempurna dari muka bumi ini sehingga dalam beberapa abad kemudian, pasukan dari Alexander yang Agung berbaris di atas Niniwe, ibu kota yang sangat besar itu tanpa menyadari, sama sekali tidak mengetahui, bahwa sebuah kerajaanyang sangat besar dan sebuah peradaban yang besar terkubur di bawah kakinya.

 

            Tuhan Allah berkata, “Asyur akan dibinasakan seperti sebatang pohon cedar yang perkasa ditebang dan tidak akan ada tunas di sana.” Tidak akan ada tunas yang akan keluar dari tunggul yang tersisa tersebut. Lalu kemudian melalui ilham, nabi itu berbicara memperbedakan bangsa Israel seperti sebatang pohon ek. Dan ketika pohon ek itu ditebang, dari akar-akarnya dan dari tunggulnya saudara-saudara  akan melihat tunas, pucuk yang bersemi. Di dalam tunasnya dan di dalam pucuknya dan di dalam tandannya masih memiliki adanya kehidupan. 

 

Dan datang dari kehancuran Israel itu, dan datang dari pembuangan suku Yehuda yang terakhir dan penghabisan, masih ada hidup dari Tuhan Allah yang tersisa. Dan kemudian nubuat yang luar biasa itu: “Dari tunggul itu akan tumbuh sebuah cabang.” Matius menyebutnya dengan sedemikian, sebuah netzer, sebuah Nazarene; dan Dia akan menjadi Tuhan Allah dari segala keadilan.

 

Kitab Perjanjian Baru sering sekali menyebutnkanya seperti yang ada di dalam ayat itu. Di dalam pasal yang ke dua puluh satu, pasal yang terakhir dari kitab Wahyu, Tuhan membicarakan tentang diri-Nya sendiri sebagai tunas dan keturunan dari Daud, mengacu kepada ini. Datang dari urat Daud, keturunan dari Daud, Mesias akan bangkit. Dan kemudian penjelasan mengenai kerajaan penuh dengan kemuliaan yang tidak ada tandingannya itu mengikuti sesudahnya.

 

Bukankah hal itu sungguh sebuah hal yang luar biasa untuk dilihat? An memperbandingkannya dengan kerajaan Asyur, marilah kita juga memperbandingkannya dengan kebudayaan dan kehidupan dari bangsa Yunani yang begitu meresapi dunia itu, dan sampai sekarang juga masih merembes di dalamnya. Tanpa terkecuali, orang-orang Yunani melihat kembali ke pada masa-masa keemasan mereka yang terdahulu. Kepada para pahlawan mereka yang hidup di zaman dahulu kala. Bahkan Plato mencetuskan pemikiran tentang benua khayalan itu, yang dinamakannya dengan nama Atlantis, yang suatu kali ada di belakang pilar-pilar Hercules, di belakang gerbang selat Gibraltar, dari samudera yang begitu luas, yang sekarang sudah tenggelam ke dalam air, lenyap untuk selama-lamanya. Zaman keemasan, bagi Plato, adalah kemarin, musnah untuk selama-lamanya.

 

Semua puisi dan kedaramatisan dari kebudayaan kuno dunia melihat kembali kepada masa permulaan terhadap hari-hari akan kebahagiaan dan sukacita serta tidak berdosa. Nabi-nabi Yahudi serta para rasul dan abak Tuhan yang ada di dalam Alkitab hanyalah berlawanan dengannya; tidak pernah melihat ke belakang akan tetapi sebaliknya semua mereka selalu melihat ke arah depan. Pahlawan yang Agung itu masih belum datang juga. Dan kerajaan Mesias yang luar biasa itu sedang dalam perjalanan, kerajaan yang akan disempurnakan itu, kerajaan yang akan direalisasikan itu.    

 

Semangat akan pengharapan serta optimisme itu – bagaimanapun kemungkinan kehadirannya penuh dengan penderitaan yang bukan kepalang – semangat akan kemenangan tersebut senantiasa dituliskan besar-besar di setiap lembaran dari Kitab Suci itu. Ketika Yusuf meninggal di tanah Mesir, dia memanggil saudara-saudara kandungnya dan memaksa mereka bersumpah di hadapan Tuhan Allah bahwa mereka akan mengangkat tulang belulangnya dan membawanya kembali ke tanah yang dijanjikan itu.  “Karena,” demikian kata Yusuf, “Tuhan Allah pasti akan mengunjungimu.” 

 

Ketika Musa menghadapi suatu kematian yang penghabisan, dia memanggil saudaranya dan berkata, “Tuhan Allah akan membangkitkan seorang Nabi” – huruf besar “N” - “Tuhan Allah akan membangkitkan seorang Nabi yang sama seperti aku dan kepadanya kamu sekalian akan mendengarkan. Ada seorang Mesias yang Agung yang datang.” Ketika anak-anak dari suku bangsa Yehuda di bawa ke dalam pembuangan, ke kota Babel, nabi Yeremia berkata, “Meskipun demikian setelah tujuh puluh tahun, Tuhan Allah akan mengunjungimu dan engkau dapat pulang kembali ke rumahmu di tanah Kanaan negeri yang baik dan bahagia.” Pada tahun 70 SM, Titus menghancurkan keduniawian Yerusalem, akan tetapi di dalam kitab Wahyu peramal itu melihat sebuah Yerusalem yang Baru datang dari pada Tuhan Allah dari sorga, dipersiapkan seperti seorang pengantin yang dihiasi untuk suaminya. 

 

Semangat akan pengharapan serta optimisme itu, bagaimana kemungkinan gelapnya saat sekarang, akan pernah menggolongkan ke arah atas, ke arah pada Tuhan Allah dari mereka yang mampu melihat kehendak Tuhan Allah melalui mata iman terhadap umat manusia. Sekarang, adalah kerajaan yang akan tiba itu, kerajaan yang kita bicarakan saat sekarang yang suci ini. Kerajaan itu akan tiba tepat pada waktunya di dalam sejarah di dalam dua arah, di dalam dua sifat. Yang pertama, kerajaan itu akan tiba tepat pada waktunya dan di dalam sejarah secara perlahan, berangsur-angsur akan tetapi secara pasti dan benar-benar.

 

Suatu hal yang sukar kita sadari – tangan-tangan Tuhan di dalam sejarah. Dia tidak pernah menariknya kembali; dan apa yang bagi kita kelihatannya seperti kekegelapan dan kemuraman dan keputusasaan dan kegagalan dan kehancuran dan menjadi membusuk dan kematian memiliki suatu kehendak akhir dari Tuhan Allah yang Mahaperkasa di dalamnya. Karena kerajaan itu akan tiba.Dan kerajaan itu datang dengan cara Tuhan dan di dalam kehendak Tuhan, akan tetapi kerajaan itu sampai secara pasti dan sebenarnya. 

 

Di dalam ayat yang pertama dari Alkitab, Tuhan Allah menciptakan langit dan bumi. Akan tetapi ayat yang kedua adalah ayat yang kelam: “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Saya fikir, ketika Lusifer jatuh, seluruh alam semesta turut jatuh bersam-sama dengannya. Bintang-bintang yang besar saling bertubrukan dan meledak. Seluruh penciptaan Tuhan Allah telah musnah. Dosa senantiasa musnah.

 

Lalu apa yang terjadi? Apakah Tuhan Allah meninggalkannya dalam keadaan kacau balau dan gelap gulita dan kosong dan belum berbentuk? Tidak. Karena ayat itu melanjutkannya, “dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air,” membawa tatanan dan keindahan terhadap kekacauan itu. Demikian juga dengan tangan-tangan Tuhan di dalam sejarah modern. Keadaannya sama gelap gulitanya di beberapa tempat di dunia ini sebagaimana adanya. Akan tetapi tangan-tangan Tuhan berada di China. But the hand of God is in China.  Tangan-tangan Tuhan berada di Rusia. Tangan-tangan Tuhan berada di negara-negara di Afrika dan di kepulauan yang ada di lautan, walaupun seolah-olah Amerika terikat kepada keretakan serta disintegrasi, tangan-tangan Tuhan berada di Amerika. 

 

Kerajaan itu datang dengan perlahan-lahan, secara pasti, secara rahasia, secara sembunyi-sembunyi; akan tetapi kerajaan itu sedang dalam perjalanan. Uhan sendiri yang mengatakan hal itu. Tuhan berfirman, “Kerajaan Allah datang bukan dengan pengamatan.” Saudara-saudara sekalian tidak dapat melihatnya. Hanya Tuhan Allah yang dapat melihatnya dan memahaminya. Akan tetapi kerajaan Tuhan Allah itu datang bukan dengan pengawasan kita. 

 

Sekali lagi, di dalam pasal yang keempat dari kitab Markus, Tuhan berfirman bahwa kerajaan Allah seperti seseorang yang menaburkan benih di tanah dan dia pergi tidur, dan dia tertidur, dan dia bangun serta pergi tidur kembali. Dan dia tidak mengetahui bagaimana caranya – dia tidak mengetahui rahasianya demikian juga bahwa tidak seorang manusiapun yang pernah mengetahui rahasianya – akan tetapi dari debu diatas tanah itu, benih itu akan mengeluarkan tunasnya, benih itu akan mengeluarkan kecambahnya, selembar daun yang kecil, sebatang tangkai yang kecil, sekumpulan bunga, dengan buah. Adalah cara rahasia Tuhan Allah tentang mengendalikan takdir dari alam semesta yang telah diciptakan-Nya.

 

Maka kerajaan itu datang dan semakin mendekat, dan akan tiba nantinya, dan akan tiba tepat pada waktunya dan di dalam sejarah, secara perlahan-lahan, berangsur-ansur, sedikit demi sedikit, tanpa pengawasan. Seperti yang dikatakan oleh pengarang Kitab Ibrani, “Janganlah merasa letih ataupun jatuh ke dalam keputusasasaan; karena Dia akan datang, secara pasti akan datang.” Saya tidak dapat memahami. Saya tidak melihatnya, akan tetapi Dia dapat. Dan Dia telah menjanjikan kerajaan itu kepada bangsa-Nya, kepada kita semua. “Jadilah pesorank yang baik, anak-anak,” demikianlah firman Tuhan. “Adalah kegembiraan Bapa yang baik yang menganugerahkan kerajaan itu bagimu.” 

 

Bukan hanya kerajaan itu saja yang tepat waktu dan di dalam sejarah – datang dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit mendekat, secara pasti di dalam hikmat Allah yang tidak berbatas – akan tetapi tepat pada waktunya dan di dalam sejarah, kerajaan itu akan sampai secara tiba-tiba, dengan membawa suatu perubahan yang besar, penuh dengan kejayaan, secasra terbuka, penuh dengan kemenangan, dan secara pribadi. 

 

Di dalam kitab Wahyu, di dalan pasalnya yang ke dua puluh dua, ada tiga kali dalam waktu yang berbeda Tuhan Allah mengatakan, “Lihatlah, Aku datang dengan segera.” tachu.  “Lihatlah, aku datang dengan cepat” – secara tiba-tiba, membawa suatu perubahan yang besar. Di dalam waktunya Tuhan, seribu tahun itu sama dengan sekajap saja, sama seperti satu hari saja. Dan ketika saatnya tiba, kerajaan itu akan sampai. Kita akan melihat Tuhan kita dan pemerintahan-Nya akan ditetapkan di bumi ini.

 

Dia berkata bahwa hal itu sama seperti petir yang bercahaya dari arah timur ke barat – secara terbuka dan di depan khalayak ramai. Itu merupakan hari yang penuh dengan keagungan serta kejayaan bagi bangsa Tuhan; campur tangan Tuhan Allah di dalam sejarah umat manusia. 

 

Rasul Paulus, di dalam pasal yang ke sebelas dari kitab Roma berkata, “Ketika jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk” – ketika pleroma - pleroma adalah kata sederhana dari bahasa Yunani yang artinya jumlah yang penuh - “Ketika jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk,” lalu kemudian, adalah penyempurnaan zaman serta penetapan kerajaan tersebut; ketika orang yang terakhir yang namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba itu masuk melalui lorong-lorong tersebut. 

 

Ketika jiwa yang terakhir yang dikenal oleh Tuhan Allah di dalam pemilihan-Nya telah diselamatkan, tujuan yang telah dipersiapkan sebelumnya – ketika yang satu itu memberikan tanggapannya, akhir zaman itu akan tiba. Tuhan akan muncul serta menetapkan kerajaan-Nya di muka bumi ini.

 

Akan tetapi kerajaan itu tiba bukan hanya dua kali lipat saja – secara berangsur-angsur dan tanpa adanya pengawasan dan akan membawa suatu perubahan yang besar, secara terbuka dan penuh dengan kejayaan – akan tetapi di dalam kerajaan itu juga terdapat komponen dari jumlah pemilih, di dalamnya terdapat juga sifat alami manusia, semuanya itu juga berjumlah dua kali lipat. Yang pertama, kerajaan itu akan bersifat rohaniah. Tuhan berfirman kepada Pilatus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Yaitu, bukan seperti Roma atau Athena atau kota Niniwe-nya Asyur dan kota Babel-nya Babilonia. Bukan juga seperti Washington atau kota London atau kota Paris atau kota Peking atau seperti kota Moskow. “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Kerajaan itu berasal dari tatanan yang berbeda dan sifat yang berbeda. 

 

Oleh karena ilham Rasul Paulus menuliskan, “Saudaraku, darah dan daging tidak dapat mewarisi kerajaan Allah. Demikian juga kejahatan mewarisi yang tidak jahat.” Hal itu merupakan tatanan yang berbeda. Itu adalah kerajaan rohaniah. 

 

Akan tetapi yang kedua, hal itu merupakan suatu kerenggangan juga, berada di dalam waktu, berada di dalam sejarah, berada di dalam ruang. Hal itu sama nyatanya dengan segala sesuatu yang nyata kita kenal. Di sana akan ada langit yang baru, akan tetapi langit itu akan menjadi suatu langit, suatu langit yang sebenarnya. Di sana akan ada sebuah kota yang baru, sebuah ibu kota yang baru, akan tetapi kota itu akan menjadi sebuah kota yang sebenarnya, sebuah ibukota yang sebenarnya. Di sana akan ada sebuah dunia yang baru, akan tetapi dunia itu akan menjadi dunia yang sebenarnya, dunia ini, dunia yang telah diperbaharui. Di sana akan ada tubuh yang baru, akan tetapi kita akan mendapatkan tubuh yang sebenarnya. 

 

Saya tidak dapat memahami anomalinya, perbedaannya, melekat di dalam apa yang akan dikatakan oleh Alkitab – sebuah tubuh rohaniah. Kedua kata tersebut merupakan dua kata yang saling berlawanan. Saudara-saudara sekalian mungkin dapat mengatakannya seperti garam-gula. Saudara-saudara boleh mengatakan seperti panas-dingin seperti juga mengatakan sebuah tubuh rohaniah. Kedua kata itu berlawanan, akan tetapi Tuhan Allah mengatakan demikian. Kita akan mendpatkan tubuh rohaniah di dalam ruang, di dalam waktu, di dalam sejarah – tubuh yang dibangkitkan kembali serta yang telah dipermuliakan ini tak lain adalah tubuh yang sebenarnya. Dan ini merupakan ajaran pokok dari iman kepercayaan Kristen.

 

Tuhan kita telah diberi tanda. - horizo seperti yang telah dituliskan oleh Rasul Paulus di dalam kitab Roma 1:4. Dia telah dinyatakan. Kata horizon – itu merupakan garis di antara langit dan bumi ditandai. Tuhan kita telah ditandai; Dia telah dinyatakan sebagai Anak Allah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Ketika mereka datang kepada-Nya pada saat penjelmaan-Nya sebagai manusia dan berkata, “Pertanda apa yang dapat Engkau berikan kepada kami bahwa Engkau adalah Anak Allah?” Dia berkata, “Sama seperti ketika Yunus berada di dalam perut ikan paus semala tiga hari dan tiga malam, Anak Manusia akan berada di dalam tanah selama tiga hari dan tiga malam.” Kebangkitan-Nya merupakan pertanda Agung akan ketuhanan-Nya.

 

Ketika mereka datang menjumpai Dia di dalam kesempatan yang lain dan berkata, “Berikanlah pertanda bagi kami,” Dia berkata, “Rubuhkanlah bait suci ini dan di dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Dan Yohannes menulis berdasarkan inspirasi, “Akan tetapi Dia berbicara tentang bait suci dari tubuh-Nya.” Kebangkitan kembali Tuhan kita merupakan pertanda yang agung, kebangkitan kembali Tuhan kita merupakan sebuah bukti yang besar, penandaan bahwa ini adalah Anak Allah, Juru Selamat dunia.

 

Nah, adalah merupakan hal yang sama di dalam penjelasan-Nya terhadap diri-Nya sendiri kepada murid-murid-Nya. Adalah Yesus yang sejati yang telah memberikan kebenaran kepada iman pengikut Kristus. Hal itu bukanlah suatu ilmu metafisika; bukan sebuah filosofi, bukan sebuah spekulasi; akan tetapi hal tersebut merupakan hal yang sebenarnya. Hal itu nyata. Ketika murid-murid itu melihat Dia masuk ke dalam ruangan itu dengan pintu yang masih tertutup, mereka ketakutan. Mereka terkejut, ketakutan, karena mereka pikir mereka telah melihat hantu. 

 

Dan Tuhan berkata, “Mengapa, hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang engkau lihat Aku miliki. Mari, rabalah Aku dan lihatlah bahwa ini adalah Aku, diri-Ku sendiri.” Dan ketika mereka percaya bukan karena sukacita, Dia berkata, “Apakah ada padamu makanan di sini, sesuatu untuk dimakan?” Dan mereka memberikan-Nya sepotong ikan goreng dan sepotong sarang madu, dan Dia memakannya di depan murid-murid itu – Tuhan Yesus yang sebenarnya. Itu merupakan kerajaan rohani, akan tetapi kerajan itu bersifat renggang, kerajaan itu juga nyata, kerajaan itu juga bersifat materi. Tuhan Allah menciptakan zat. Dia yang menciptakannya, Dia pasti menyukainya. Tuhan Allah menciptakan makan. Dia yang meciptakannya. Dia pasti menyukainya, dan saya menyukainya juga. 

 

Di dalam kerajaan itu, kita akan didudukkan di sebuah pesta perjamuan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub, dan kita akan memecah-mecahkan roti bersama-sama dengan Tuhan. Kita akan berpesta kepada makan malam pernikahan Anak Domba. Keseluruhan kerajaan itu sama nyatanya dengan di dalam realisasinya, di dalam kenyataannya, di dalam aktualisasinya, di dalam penyempurnaannya, dengan setiap bagian dari hidup manusia yang kita kenal sekarang ini, hanya saja hal itu akan diabadikan serta dipermuliakan. 

 

Ajaran Agung pokok dari iman kepercayaan pengikut Kristus merupakan kebangkitan kembali dari antara orang yang mati yang sebenarnya. Seluruh agama yang lainnya hampir-hampir percaya di dalam hal keabadian, hidup yang berkelanjutan dari roh di balik kubur. Akan tetapi hanya iman serta hanya agama yang percaya di dalam kebangkitan dari tubuh ini dari antara orang mati merukana iman kepercayaan Kristen. Dan itu merupakan sebuah ajaran yang utama karena hal itu didasarkan pada Paskah, karena di dasarkan pada harinya Tuhan. Hal itu berdasarkan kejayaan akan kebangkitan Tuhan kita kembali mengalahkan maut dan dosa dan kubur. 

 

Karena Dia hidup, demikian dikatakan oleh para rasul itu, kita juga akan hidup. Dan sama seprti Dia yang memiliki tubuh yang telah bangkit dan dipermuliakan, tubuh yang kekal dan indah. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Tuhan Allah mengenai iman keperceyaan orang-orang Kristen tersebut. 

 

Saudara-saudara mengetahui sebuah perkataan di dalam ilmu fisika yang mana cukub saudara-saudara  ketahui dengan baik: alam tidak menyukai kehampaan. Yaitu, di manapun keberadaan suatu kehampaan di muka bumi ini, seluruh kekuatan dari alam semesta akan bergegas mengisinya. Itulah sebabnya mengapa saudara-saudara memiliki angin putting beliung dan angin topan serta angin puyuh dan apa yang saudara-saudara  dapatkan di bumi ini. Ada suatu kesibukan dalam rangka untuk mengisi sebuah tempat yang entah bagaimana menjadi di bawah tekanan. Alam tidak menyukai adanya kehampaan merupakan sebuah aksiona di dalam ilmu fisika. 

 

Sekarang, di sini ada sebuah aksioma yang tidak kurang faktualnya dan tidak kurang kebenarannya. Iman Kristen tidak menyukai penjelmaan ini. Tidak berpakaian, bertelanjang, sebagaimana disebut oleh para rasul itu, roh tanpa tubuh, iman Kristen tidak menyukai. Lihatlah akan pengungkapan yang penuh dengan keagungan dalam pasal yang kelima dari kitab 2 Korintus: “karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini” – membicarakan tentang tubuh-Nya – “dibongkar” dan kita mati dan membusuk, kita mendapatkan tempat kediaman yang lain, kemah yang lain, yang dibuat oleh Tuhan Allah, sebuah tempat kediaman, tidak dibuat oleh tangan-tangan manusia, “yang kekal di sorga. Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.” 

 

Kaum Kristen tidak menyukai pendapat mengenai tidak diwujudkan ini. “Jika kita telah berpakaian, kita tidak akan kedapatan ”dilucuti”, telanjang. Karena kita yang berada di dalam kemah mengeluh, terbeban. Kita mendapatkan penyakit, kita menjadi tua, dan akhirnya kita akan meninggal. “Bukannya kita akan bertelanjang,” walaupun kita menjadi tua dan sakit-sakitan dan cacat dan dan meninggal di dalam tempat kediaman ini, di dalam mana sekarang kita hidup sekarang. Kita tidak ingin menjadi telanjang, walaupun kita merasa sakit di dalam tubuh ini. Kita berjuang untuk bernafas. Kita tidak ingin mati.

 

“Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu, bukan bahwa kita akan menjadi tidak berpakaian” - telanjang – akan tetapi mengenakan pakaian – di dalam roh, di dalam tubuh, menjelma – “kematian itu dapat diterima di dalam kehidupan.” Tuhan Allah telah berjanji kepada mereka yang percaya kepada-Nya bahwa Dia akan membangkitkan mereka dari antara orang mati. Tubuh ini, atom-atom ini, molekul-molekul ini, otot-otot dan urat-urat dan kulit-kulit dari daging ini, mereka akan dibangkitkan dari antara orang mati, dari debu, dari dalamnya lautan, dari sebatang pohon ek yang mungkin menghujamkan akar-akarnya melalui substansi saya dan bunga-bunganya serta setiap lembaran daunnya dan getahnya serta bijinya. Saya tidak mengerti. Saya tidak dapat memahami kekuatan dari pada Tuhan Allah. 

 

Saya tidak memahami segala sesuatu yang dikerjakan oleh Tuhan Allah. Misteri adalah tanda pengenal-Nya. Apabila Tuhan Allah melakukannya, kita semua hanyalah mengamatinya saja. Kita tidak dapat menerangkannya atau memahaminya. Begitu juga dengan kebangkitan kembali dari antara orang mati. Tuhan Allah mengambil setiap atom dan setiap moleku; dan tubuh ini dan Dia membangkitkannya dari antara orang mati, lalu dipermuliakan, dikekalkan, sama seperti tubuh Juru Selamat kita yang penuh dengan keagungan ketika Dia dibangkitkan pada pagi hari Paskah itu dari antara orang mati.

 

           Ini adalah kerajaan yang akan tiba itu. Spiritual? Ya, akan tetapi memiliki kerenggangan dan kenyataan serta kebenaran; sebuah kota yang sebenarnya, seorang Raja yang sebenarnya, orang-orang yang memiliki tubuh yang sebenarnya, yang tinggal di dalam rumah-rumah besar yang sebenarnya. Ini adalah iman kepercayaan Kristen.

 

Ketika saya datang ke gereja itu tiga puluh tahun yang lalu dihitung dari sekarang, kami sudah mengadakan banyak upacara pemakaman. Dan ketika saya memakamkan orang-orang itu, saya tidak mengenal mereka. Hal itu tidak menemukan adanya reaksi di dalam hati saya, seperti yang terjadi saat sekarang ini. Nah, ketika kita memakamkan orang-orang yang kita kasihi, hampit tak terkecuali, ada beberapa orang yang telah saya kenal selama bertahun-tahun lamanya. Bagi saya, hal itu seperti memecah-mecahkan sebuah keluarga. Kemarin, saya memakamkan seorang anggota jemaat pria kita. Saya sudah mengenal beliau selama hampir tiga puluh satu tahun lamanya.

 

Besok, saya memakamkan seorang ibu yang baik hati, seorang ibu yang beriman. Saya telah mengenal beliau sejak pertama saya menjadi seorang gembala. Dan di dalam hati saya timbul sebuah reaksi. Bahkan saya mungkin akan menangis. Saya tidak dapat menahan air mata ketika saya membaringkan mereka untuk beristirahat, di dalam perut bumi ini, menjadi satau dengan debu dan tanah, kepada mereka yang telah saya kenal dan kasihi selama lebih dari seperempat abad lamanya. 

 

Kita memiliki sebuah kapel di dalam gereja kita ini, yang didedikasikan kepada sahabat-sahabat kita yang menginginkan ketenangan, kepada sahabat-sahabat kita yang bisu, sahabat-sahabat kita yang tuli. Dan selama bertahun-tahun ini, mereka memiliki seorang pendeta. Kita tidak memiliki sebuah ruangan di dalam kongregasi kita bagi mereka untuk bertemu dengan kami sebagaimana yang biasa kami lakukan. Maka dalam rangka untuk mengusahakan sebuah ruangan bagi orang-orang kita di sini, supaya kita dapat membawa orang-orang kita yang tuli dan mereka dapat memiliki kebaktian mereka sendiri, dan supaya mereka mendapatkan pendeta mereka sendiri. Di dalam kurun waktu itu, ada seorang pendeta dari kalangan saudara-saudara kita yang bisu yang bernama Saudara Landon. Dan salah satu anggota jemaat dari kongregasi tulinya yang kecil sedang menderita sakit parah dan sedang menanti ajalnya.

 

Maka dia membawa saya untuk melihat anggota kapel dari orang-orang tuli kita itu yang tidak dapat lagi menjalani kehidupan ini dan sedang menantikan ajalnya. Ketika kami masuk ke dalam ruangan tersebut, di sana terbaringlah seorang pria di tempat tidur, sedang menghadapi saat-saat terakhirnya yang tidak dapat terelakkan lagi itu, yang semua kita akan hadapi juga nantinya. Kami berkumpul mengelilinginya, kami bersama-sama dengan anggota-anggota keluarganya, di sini, sini dan di sini. Dan saudara Landon, pendeta itu dan saya mengambil tempat di samping para anggota keluarganya sambil menatap wajahnya. 

 

Dan sembari kami berada di sana, pria tuli yang bisu – yang tidak dapat berbicara karena dia tidak dapat mendengar – pria bisu tuli itu menunjuk pada anggota keluarganya dan kepada yang satu lagi dan kepada yang lainnya dan berkeliling ke seluruh anggota keluarganya, mengacungkan jemarinya, dan menunjuk kepada saudara Landon dan menunjuk kepada saya. Setelah dia menunjuk kepada setiap orang yang berkumpul mengelilinginya, dia menunjuk kepada dirinya sendiri seperti ini, dan kemudian dia menunjuk ke arah langit di atas sana seperti ini. Dan saudara Landon berkata kepada saya, “Apa yang dimaksudkannya untuk memberitahu anda adalah demikian, ‘Anda, anggota keluargaku yang baik, dan anda, pendeta saya, saya akan bertemu dengan kalian semua di sorga di atas sana.’”

 

Apakah saudara-saudara  percaya akan hal itu? Jika saudara-saudara sekalian percaya, maka saudara-saudara sekalian adalah seorang Kristen Demikianlah pengajaran inti dan pokok dari iman kepercayaan seorang Kristen, bahwa di dalam Kristus, kita akan bertemu antara yang satu dengan yang lainnya kembali.

 

Aku akan menyanyikan lagu tentang negeri yang indah kepadamu, 

Negeri yang jauh dari rumah jiwa,

Di mana tiada badai yang akan menghantam negeri yang bercahaya itu,

Sementara air mata keabadian menggelinding 

Oh, betapa indahnya berada di negeri yang indah itu,

Begitu bebas dari semua penderitaan dan duka cita, 

Dengan nyanyian di bibir kita dan dengan daun palma di tangan kita,

Untuk menyalami satu dengan yang lainnya kembali. 

 

Seorang Juru Selamat yang sebenarnya, sebuah kerajaan yang sebenarnya, di dalam sebuah kota yang sebenarnya, did alam tempat kediaman yang sebenarnya, tinggal di dalam tubuh nyata yang telah dibangkitkan kembali. Pengharapan yang diberkati, demikianlah Paulus menyebutkannya. Oh, iman yang berharga. Apabila saudara-saudara sekalian percaya akan hal tersebut dan mau percaya kepada Tuhan Allah untuk itu, maukah saudara-saudara sekalian menyerahkan diri saudara-saudara sekalian kepada-Nya bersama-sama dengan kami pada saat pagi hari yang khidmat ini?