MENGUKUR BAIT SUCI ALLAH

(MEASURING THE TEMPLE OF GOD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 11:1, 2

19-08-62

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan yang berjudul, Mengukur Bait Suci Allah. Di dalam khotbah kita melalui kitab per kitab dalam Alkitab, setelah bertahun-tahun, kita telah sampai ke dalam Kitab wahyu. Dan di dalam seri khotbah kita melalui Kitab Wahyu kita telah sampai di pasal sebelas. Dan teks kita diambil dari ayat 1 dan 2, dan pembacaan teks kita berasal dari Wahyu pasal sebelas dari ayat satu hingga ayat delapan:

Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.

Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya."

Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.

Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara itu.

Mereka mempunyai kuasa menutup langit, supaya jangan turun hujan selama mereka bernubuat; dan mereka mempunyai kuasa atas segala air untuk mengubahnya menjadi darah, dan untuk memukul bumi dengan segala jenis malapetaka, setiap kali mereka menghendakinya.

Dan apabila mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka.

Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.  [Wahyu 11:1-8]

 

Kotbah pada pagi hari ini adalah kesimpulan dari khotbah, yang pengantarnya telah saya sampaikan minggu yang lalu. Salah satu kekecewaan saya yang saya temukan pada minggu yang lalu adalah, saya hanya dapat menyampaikan kata-kata pengantar. Karena itu agar khotbah ini terlihat sangat jelas maka saya harus mengulang dengan ringkas khotbah yang telah saya sampaikan pada minggu yang lalu, yang merupakan pengantar kepada penafsiran dari bagian yang telah kita baca ini.   

Beberapa ekspositor kita yang terbaik, seperti Dekan Alford menyebut Kitab Wahyu pasal sebelas ini sebagai salah satu pasal yang sulit di dalam Wahyu. Dan ketika kita berusaha untuk mencari sebuah penafsiran atasnya, anda akan menemukan bahwa di dalam pembelajaran mahasisiswa Alkitab, banyak dari mereka yang merujuk ke dalam segala sesuatu yang ada di dalam pasal ini sama seperti segala sesuatu yang lain dalam Kitab Wahyu sebagai sebuah gambaran dari gereja—kepada jemaat dan kepada jemaat. Sebagai contoh, salah seorang penafsir berkata, “Bait Allah yang ada di sini adalah figuratifyang digunakan untuk bagian yang setia dari jemaat.” Kemudian yang lain menulis: “Perintah diberikan kepada Yohanes untuk mengukur Bait suci Allah sebagai upaya untuk memanggil perhatian kepada ukuran jemaat.” Kemudian yang lainnya menulis, “Mezbah adalah jemaat.” Kemudian yang lain lagi, “Halaman yang terbuka menandakan bagian dari jemaat.” Ada lagi yang menulis, “Kota suci yang selalu ada di Wahyu adalah tipe jemaat.” Kemudian yang lain lagi, “Dua saksi itu merupakan jemaat yang terpilih.” Kemudian ada lagi yang menulis, “Seribu dua ratus enam puluh hari  menandakan sebuah periode dimana jemaat tidak berhenti bernubuat.” Kemudian yang lain lagi, “Kematian dua saksi adalah nasib dari jemaat.” Kemudian yang lain lagi, “Di dalam kenaikan dua orang saksi ke sorga, jemaat mempertahankan diri.” Kemudian yang lain lagi, “Tua-tua yang menyembah Allah setelah peniupan sangkakala ketujuh adalah jemaat.” Dan begitu seterusnya. Ini adalah jemaat dan ini adalah jemaat, serta adalah jemaat.

Apapun juga yang menjadi gambaran atau penjelasan atau apapun penglihatan itu atau maknanya, itu adalah jemaat dan hanya jemaat. Maka, bagi saya hal itu merupakan nubuatan yang tidak berkaitan. Tidak tidak memilik makna yang berkaitan. Yang anda miliki di sini hanya sebuah gambaran keledaiskop  dari fakta bahwa itu adalah jemaat. Tetapi apa yang disebutkan orang sebagai sesuatu yang tidak berkaitan, kita justru percaya bahwa ketika Allah menulis sesuatu, di sana ada sebuah makna yang dalam dan bersifat fundamental dan sorgawi dan memiliki arti bagi dunia. Hal itu memiliki sebuah kaitan bagi kita. Dan itulah sebabnya Allah melakukan seperti yang telah Dia lakukan. Dan hal-hal yang berbeda ini memiliki makna dari hal-hal yang berbeda. Jadi, ketika kita melihatnya dalam minggu pagi yang lalu, ada beberapa hal yang sangat jelas dan bukti-bukti yang penting di dalam kata-kata ini.

Sekarang kita akan mengambil keluar, beberapa di antaranya. Ini adalah salah satunya. Di dalam pasal ini, kita akan melihat secara nyata dan terbuka di atas landasan orang Yahudi. Kemudian kita akan melihat beberapa hal yang disampaikan kepada kita. Di dalam ayat delapan dari pasal yang telah saya baca, di situ di katakan bahwa kota besar yang dia bicarakan bersifat rohani, hal itu menyimbolkan Sodom dan Mesir. “Tetapi kota yang aku bicarakan,” kata sang pelihat, “adalah tempat di mana Tuhan kita disalibkan” (Wahyu 1:8). Lalu, katanya, simbol dari itu adalah Sodom karena dosanya. Itu adalah Mesir karena keduniawiannya. Tetapi itu bukan tempat yang sesungguhnya di mana Tuhan kita disalib. Apakah Dia disalibkan di Kairo atau Damaskus atau Beirut atau Amman atau Askelon atau Gaza, atau apakah Dia di salibkan di Yerusalem? Dia disalibkan di luar gerbang kota Yerusalem. Saya berada di tanah Yahudi. Saya berada di Palestina. Kita berada di kota suci, Yerusalem. 

Kemudian hal lain yang saya lihat di dalam teks. Kota itu disebut, “kota suci.”  Dari semua kota-kota yang disebutkan dalam Alkitab, hanya ada satu kota yang disebut dengan “kota suci,” dan itu adalah Yerusalem. Secara berulang-ulang dalam sepanjang Alkitab, kota itu disebut “kota suci,” dan tidak ada kota lain yang dirujuk selain kota itu, yaitu Yerusalem, kota yang besar dan penting. Dari semua kota-kota di dunia tidak ada yang seperti itu. Itu adalah kota dari Raja Besar. Dan dari Sion dihasilkan firman dan wahyu Allah. Dan Yesus secara terus menerus mengarahkan wajahNya ke Yerusalem, kota suci. Saya tahu saya berada di mana, di dalam bagian ini. Kita berada di Palestina. Kita berada di Yerusalem.

Kemudian kita mengetahui kita berada di kronologi nubuatan dari Wahyu Allah. “Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya. Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam” [Wahyu 11:2, 3].  Kemudian kita melihat pasal 11 dan pasal 12 dan pasal 13—dan dalam ketiga pasal itu ada periode yang indentik dan sama: empat puluh dua bulan, seribu dua ratus enam puluh hari, tiga setengah tahun, satu masa dan dua masa dan setengah masa dan sebuah pembagian waktu. Semuanya merupakan jaringan yang identik sama. Mereka adalah periode yang sama. Jadi, apakah Yohanes menggunakannya secara kebetulan atau secara aksidensial? Tidak. Hal itu memiliki sebuah makna profetik yang luar biasa di dalam Firman Allah. Dan hal yang harus kita lakukan adalah berpaling ke Alkitab dan membacanya, dan segera saja kita melihat hal ini bahwa itulah yang dibicarakan oleh Yohanes di dalam Kitab Wahyu pasal sebelas.

Di dalam Kitab Daniel, periode waktu itu dirujuk secara berulang-ulang. Hal itu merujuk kepada  tahun tujuh puluh yang terakhir—masa dari tujuh puluh minggu. Di dalam penglihatan yang terdapat di Kitab Daniel pasal sembilan, sebagai contoh, Daniel membagi seluruh tahun itu berdasarkan karya Allah bersama dengan umat pilihanNya, yaitu Israel, ke dalam tujuh puluh tujuh. Anda memiliki terjemahan di dalam Alkitab versi King James, “tujuh minggu”—“tujuh minggu minggu dari tahun-tahun” akan menjadi sebuah terjemahan yang aktual—tujuh puluh tahun. Dan Daniel di dalam pasal sembilan, berkata bahwa antara keputusan untuk membangun kembali Yerusalem—dimana keputusan itu diberikan pada tahun keduapuluh raja Koresy—dari hari keputusan untuk membangun kembali Yerusalem hingga kedatangan Mesias—hingga penolakannya—akan menjadi enam puluh sembilan tahun. Kemudian Daniel, di dalam Wahyu memisahkan minggu yang ketujuh puluh. Dan antara minggu ke enam puluh sembilan ada sebuah selingan yang sangat luas—sebuah selang antara, sebuah selingan dari masa yang kita tinggali pada saat ini. Para nabi tidak melihat selingan itu, masa yang kita tinggali pada saat ini. 

Rasul Paulus di dalam surat Efesus berkata bahwa selingan yang kita tinggali pada saat ini adalah sebuah musterion—sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam hati Allah; dan tidak seorang pun yag dapat belajar dengan mengamatinya, dengan mempelajarinya. Tetapi hal itu harus disingkapkan oleh Allah. Dan selingan yang luas itu adalah hal ini: zaman dari Roh Kudus—zaman gereja, yang di dalamnya tidak ada hamba atau orang merdeka, pria atau wanita, orang Yunani atau orang barbar, orang Roma atau orang yang bukan Roma, orang asing atau yang asli, tetapi kita semua sama di dalam persaudaraan dari tubuh Kristus. Orang Yahudi tidak melihat hal itu. Nabi-nabi tidak pernah melihat hal itu. Itu adalah sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam hati Allah. Antara minggu keenam puluh sembilan tahun dan minggu ketujuh puluh adalah selingan dari masa yang sekarang kita tinggali. Akan tetapi akan ada datang sebuah kesudahan yang besar. Akan ada sebuah  pencegatan dari Allah di dalam pekerjaan dosa dan maut dan alam maut serta Setan. Pada suatu hari Allah akan campur tangan di dalam sejarah, demikianlah yang disampaikan oleh Alkitab. Dan ketika campur tangan itu dibuat, ketika hari penghukuman itu datang, ketika hal-hal ini telah mencapai puncaknya dan kesudahan itu telah mencapai akhir, itu adalah minggu ketujuh puluh Daniel dan itu adalah Wahyu besar. Penyingkapan bukanlah sebuah penyingkapan dari sejarah manusia. Itu bukanlah sebuah perhitungan sejarah jemaat di bumi. Sebab jemaat tidak disebutkan lagi di dalam wahyu setelah pasal tiga, setelah diangkat ke dalam sorga. Tetapi Wahyu adalah penyingkapan Yesus Kristus—ketika Dia datang di atas awan-awan, bersama dengan ribuan orang kudusNya; dan dengan sejarah dan waktu dan seluruh ciptaan Allah telah menjangkau puncaknya dan sampai pada kesudahannya. Itu adalah minggu ketujuh puluh Daniel dan itu adalah gambaran dari Kitab Wahyu. Dan ketika kita membaca Penyingkapan dan ketika kita membaca Wahyu, kita membaca sebuah hitungan dari bentangan, penyingkapan dari hukuman yang terakhir, kesudahan dari akhir zaman, yang di dalamnya seluruh sejarah bergerak. 

Kemudian di dalam minggu ketujuh puluh Daniel ini, nabi membaginya menjadi dua bagian—tiga setengah tahun pada satu sisi dan tiga setengah tahun pada sisi yang lainnya. Dia membaginya secara tepat ditengah-tengahnya. Dan bagian pertama di dalam Wahyu disebut “Kesusahan Besar,” he thlipsis he megale—“kesusahan besar.” Dan ketika anda tiba di dalam Kitab Wahyu ke empat puluh dua bulan itu, seribu dua ratus enam puluh hari, masa, masa dan pembagian masa, tiga setengah tahun, itulah yang dirujuk. Nabi Daniel menggunakan seluruh ekspresi itu. Dan Kitab Wahyu adalah penyingkapan dari apa yang dimateraikan di dalam Kitab Daniel. Karena itu, ketika saya berpaling ke pasal sebelas Kitab Wahyu dan saya melihat hal-hal ini bersama dengan banyak hal lainnya, saya tahu bahwa kita sedang berdiri di masa penghukuman Allah yang terakhir. Kita berada di minggu ketujuh puluh dan minggu yang terakhir dari Daniel. Kita berada di jantung dari masa Kesusahan Besar. Dan ini adalah tujuan elektif Allah di dalam memurnikan bumi dan membawanya di dalam sebuah kerajaan yang akan Dia perintah—Allah selamanya—dan kita akan menjadi penguasa-penguasa dan pengikut ahli waris yang berada di sisiNya.

Lalu, ketika kita menafsirkan penglihatan itu, kita harus melihat hal lainnya dan hal itu adalah ini: Di dalam selingan antara seri septinarii ini. Ada sebuah selingan antara materai materai keenam dan ketujuh. Ada sebuah selingan antara cawan keenam dan cawan ketujuh—cawan murka dari penghukuman. Ada sebuah selingan antara sangkakala keenam dan sangkakala ketujuh. Hal itu dimulai di pasal sepuluh ayat pertama dan berlanjut hingga pasal sebelas ayat pertama. Dan di dalam selingan itu, pasal yang kita baca ini termasuk di dalamnya. Lalu di dalam Alkitab ini ada sebuah pasal pembagian di dalamnya. Tetapi ketika Yohanes menulisnya, dia tidak meletakkan sebuah pasal pembagi di sana. Itu semua adalah sebuah penglihatan yang besar dan apa yang saya baca di pasal sebelas dari Kitab ini merupakan sebuah lanjutan dari apa yang saya baca dari pasal sepuluh Kitab Wahyu.

Kemudian, pasal sepuluh adalah penglihatan dari malaikat perkasa yang turun dari sorga. Dia menjejakkan kaki kanannya di atas laut, dan meletakkan kaki kirinya di atas bumi. Dia mengangkat tangannya ke atas langit dan bersumpah demi Allah bahwa tidak akan ada lagi penundaan. Masanya tidak akan lama lagi, tetapi waktunya akan datang ketika Allah akan mengambil seluruh ciptaan bagi diriNya. Dan di dalam tangan kanan dia memegang sebuah kitab kecil yang terbuka, kitab kecil yang sama, yang dimateraikan sebelumnya. Dan ketika materai itu dibuka, kepemilikan Setan atas dunia ini akan ditebus, dan hutang itu akan diangkat. Dan Allah di dalam Kristus akan mengangambil kembali bagi diriNya apa yang telah dirampas dari kita di dalam dosa kita dan pemberontakan kita. Dan di dalam tangannya dia memiliki hak kepemilikan atas seluruh alam semesta, dan malaikat itu bersumpah demi Allah dengan tangan yang terangkat ke langit bahwa tidak hanya tidak akan lagi penundaan—dan masanya tidak akan lama lagi. Dan di sana juga rahasia dari Allah sekarang akan digenapi—mengapa rahasia Allah ditunda, mengapa dosa berkuasa, mengapa kuburan tidak pernah penuh, mengapa air mata dan kematian ada di dalam kehidupan manusia dan mengapa umat manusia menjadi debu tanah, mengapa Allah menunda. Tetapi penundaanNya iitu tidak akan lama lagi, sebab pada waktu bunyi sangakakala yang ketujuh, rajhasaia Allah yang besar akan digenapi dan hak kepemilikan atas alam semesta ini berada di tangan malaikat itu ketika dia mengklaim semua itu bagi Allah. Kemudian dia melakukan sesuatu dengan hal itu. Dia memberikan dua perintah. Yang pertama, dia berkata kepada Yohanes: “Ambillah kitab ini dan makanlah. Warisan itu adalah milikmu.” Dan Yohanes sebagai seorang wakil dari kita semua, yang memandang Allah dengan iman, mengambil warisan itu yang manis, manis untuk kita, apa yang akan dilakukan Allah bagi kita, memberikan kita hidup yang kekal, membangkitkan kita dari kematian, dan memberikan kita sebuah warisan bagi kita di dalam sorga. Dan kitab itu rasanya manis. 

Itu adalah tipikal dari para nabi, karena para nabi bertindak dalam nubutan mereka. Di dalam Kitab Yeremia pasal dua puluh delapan, Yeremia digambarkan mengelilingi Yerusalem dengan sebuah kuk di lehernya, memikul sebuah kuk yang berat di lehernya. Dia sedang bernubuat bahwa Yehuda akan dibawa ke dalam perbudakan di Babel, dan dia membawa sebuah kuk di lehernya. Hosea diperintahkan untuk menikah dengan seorang pelacur, menunjukkan persundalan, penyembahan berhala yang dilakukan oleh Yehuda. Yesaya sebagai contoh, diperintahkan Allah untuk memberikan nama kepada putranya yang akan lahir yaitu nama Mahershalalhashbaz.  Sebuah nama yang asing—Mahershalalhashbaz.  Memanggilnya dengan “daging cincang” saya menduga itu adalah lukisan tentang Babel yang datang untuk memangsa mereka. Itu adalah makna dari nama itu. Kemudian, Yohanes yang ada di sini, mulai melakukan tindakan pertama kali dalam nubuatan yang sedang dibuat. Dan dia mengambil warisan itu, dia mengambil apa yang Allah inginkan untuk kita, dan dia memakannya. Dan rasanya manis seperti madu. Tetapi hal itu membuat perut pahit seperti empedu, karena malaikat itu berkata, “Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja” (Wahyu 10:11). Hal-hal yang akan engkau singkapkan adalah pahit. Apa yang telah Allah sediakan bagi kita rasanya manis, tetapi di antara kita dan warisan itu ada sebuah kegelapan, aliran sungai yang dalam. Dan hal-hal yang akan disingkapkan rasanya pahit. 

Kemudian di dalam pasal sebelas: kepahitan itu—apa yang terbentang di depan, gelap dan tragis: “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya” [Wahyu 11:1].  Lalu Bait Suci apakah itu, apakah ini adalah Bait Suci Allah? Ada lima Bait Suci di dalam Alkitab. Yang pertama, yang didirikan oleh Salomo yang kemudian dihancurkan oleh Nebukadnezar pada tahun 587 B.C. Yang kedua, Bait Suci yang didirikan oleh Zerubabel, yang didirikan setelah kepulangan mereka dari pembuangan di Babel, yang akhirnya dinajiskan dan dirampas serta didedikasikan kepada Jupiter atau dewa Yunani Zeus oleh Antiokhus Efifanes pada tahun 168 B.C. Yang ketiga, Bait Suci yang didirikan oleh Herodes yang membangun kembali Bait Suci itu dalam kemewahan dan kemegahan, yang dimulai pada tahun 20 B.C., dan dihancurkan oleh Titus pada tahun 70 A.D. Bait Suci yang keempat adalah Bait Suci ini. Dan Bait Suci yang kelima—salah satu yang tidak saya ketahui—adalah sebuah Bait Suci millennium yang digambarkan oleh Yehezkiel dalam pasal 40 hingga 43 dalam nubutannya

“Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya” [Wahyu 12:1].  Itu adalah Bait Suci yang dirujuk ke dalam Baniel 9 ketika “Penguasa itu” (Daniel 9:25)—Manusia durhaka itu, Antikristus yang utama—membuat sebuah perjanjian dengan bangsa Yahudi dan mereka akan membangun kembali kota mereka dan membangun kembali Bait Suci mereka. Dan di tengah-tengah perjanjian itu, di pertengahan minggu itu, dia melanggar perjanjian itu; dan orang yang dianggap sebagai sahabat Israel itu akan membenamkan diri mereka ke dalam pembalasan atas Israel dan itu akan berlangsung selama empat puluh dua bulan—dari Kesusahan Besar (Daniel 9:27). Itulah Bait Suci yang dimaksudkan di sini. Ini adalah Bait Suci yang sama yang dirujuk oleh Paulus di dalam surat Tesalonika yang kedua dalam pasal dua: “Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” [2 Tesalonika 2:3, 4].  “Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.” Itu adalah Bait Allah yang dibangun kembali oleh orang Yahudi di Yerusalem.

Allah berkata bahwa orang Yahudi akan kembali dalam ketidakpercayaan mereka. Kita dapat menghabiskan waktu satu hari penuh di sini untuk membicarakan tentang nubutan-nubuatan itu. Umat Allah, orang Israel akan kembali ke Palestina dalam ketidakpercayaan. Selama dua ribu tahun, ketika tidak ada orang Yahudi di Palestina, nabi-nabi Allah telah berkata—ribuan tahun sebelumnya—mereka akan kembali. Bangsa Yahudi akan kembali ke Palestina. Bangsa Yahudi akan kembali membangun Yerusalem. Dan bangsa Yahudi, ketika mereka melihat Yerusalem, akhirnya mereka akan kembali membangun Bait Suci. Dan jika anda telah berada di sana dan melihat Mesjid Omar—Kubah Batu, pengikut Mumammad melakukan ibadah di sana—setiap batu yang menjadi bagiannya, setiap bagiannya, setipa hiasannya akan diruntuhkan. Dan di atas tempat itu, di titik kudus di mana Salomo telah membangun Bait Suci di atasnya, di mana Abraham telah mempersembahkan Ishak di Gunung Moria, di tempat itulah orang Yahudi akan membangun kembali Bait Suci yang megah untuk Allah. Tuhan menyebutnya bait suci yang didirikan oleh Herodes yang bangsat itu, orang Edom yang keturunan Esau sebagai “Rumah BapaKu.” Ini akan menjadi sebuah Bait Suci yang didirikan atas nama Allah Yehova. Dan hukum-hukum Musa akan ditegakkan, akan dilaksanakan kembali.  

Sangat sulit bagi kita untuk memahami ketaatan selama ribuan tahun dari orang Yahudi Orthodoks terhadap hukum-hukum Musa. Saya telah berada di Yerusalem, satu tahun setelah mereka merebut sebuah tempat yang kecil dari Gunung Sion yang mereka miliki hingga hari ini—satu-satunya bagian dari kota tua yang berada di tangan orang Yahudi. Mereka telah mengubah bagian yang kecil dari Gunung Sion itu, yang di atasnya terdapat makam Daud menjadi sebuah sinagog. Saya telah berdiri cukup lama di sinagog itu dan melihat ibadah dari Yahudi Orthodoks itu. Ketaatan mereka kepada Taurat, Firman Allah, melampaui dari apa yang dapat anda bayangkan—para tua-tua itu dengan janggut mereka yang panjang, dengan tutup kepala mereka dengan jubah mereka. Setelah ibadah selesai, mereka akan mengambil gulungan Musa itu, Taurat itu, Hukum Musa itu dan menggulungnya. Mereka mencium gulungan-gulungan itu saat mereka menggulungnya. Dan ketika gulungan itu telah selesai digulung mereka mencium pengapitnya. Dan setelah pengapit gulungan itu diletakkan pada tempatnya, mereka mencium jumbainya. Mereka mencium semua alat-alat yang menahan gulungan itu. Dan kemudian mereka mencium semuanya sekali lagi. Kemudian dengan lembut dan penuh penghormatan mereka meletakkannya di dalam tabut.    

Orang-orang itu tidak pernah mampu untuk dicampurkan atau diserap oleh bangsa-bangsa lain di mana mereka hidup. Salah satu bukti terbesar bahwa Allah hidup, dan apa yang disampaikan oleh para nabi adalah apa yang telah disampaikan oleh Allah, bahwa orang Yahudi tetap ada di dunia pada hari ini. Dan Allah berkata bahwa mereka akan kembali ke Palestina. Dan Allah berkata bahwa mereka akan kembali membangun Bait Suci. Dan di dalam pembangunan kembali Bait Suci itu, mereka akan mengadakan persahabatan dengan penguasa dunia—yaitu manusia durhaka itu, yang akan menyiapkan dirinya yang sesungguhnya di tengah-tengah minggu yang terakhir itu, ketika dia mengingkari perjanjiannya, dan ketika bangsa Yahudi diinjak-injak selama tiga setengah tahun. Dan itulah kepahitan yang dirasakan oleh Yohanes ketika dia mengambil warisan itu—hal kepemilikannya terasa manis seperti madu, berharga seperti sorga itu sendiri. Tetapi ketika dia melihat umatnya, berada di dalam darah dan di dalam air mata dan di dalam kematian dan seluruh bangsa-bangsa di dunia merupakan sebuah samudera penghujatan, itu adalah kepahitan, sesuatu yang pahit.

“Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah” [Wahyu 11:1].  Oh, Di dalam Kitab Wahyu pasal dua puluh satu, Yohanes melihat sorga diukur dengan sebuah tongkat emas, sebuah tongkat pengukur yang terbuat dari emas. Tetapi, “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya” Di mana saja, di dalam Alkitab, kata “tongkat pengukur” digunakan untuk penghukuman, koreksi dan penghakiman. “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya.” Dan dengan tongkat pengukur itu, dia diperintahkan untuk mengukur Bait Suci dan orang-orang yang menyembah di dalamnya.  

Kemudian, ketika anda membaca nubuatan-nubuatan yang ada di Perjanjian Lama, seringkali anda akan menemukan “pengukuran itu”  sebagai perintah dari Allah dan hal itu memiliki dua makna yang sangat berbeda. Yang pertama pengukuran dilakukan untuuk mengklaim milik Allah—“Ukurlah ini; ini adalah milik Allah” “Dia memiliki hal ini.” ‘Ukurlah, sebab itu adalah milikKu.” Kemudian, lagi, untuk mengukur bagi Allah merujuk sebuah ketaatan kepada Allah dari orang-orang yang diukur itu untuk koreksi dan untuk penghukuman serta untuk penghancuran. Sebagai contoh, di dalam 2 Samuel pasal delapan, Allah berfirman, “Mengukur Moab untuk dihancurkan” (2 Samuel 8:2). Di dalam ratapan pasal dua, sebagai contoh, Allah berfirman, “Ukurlah Yerusalem untuk dihancurkan” (Ratapan 2:1-11). Dan di dalam Amos—apakah anda mengingat nubuatan yang terkenal itu? Dia melihat sebuah tali pengukur tegak lurus: “Ukurlah Yehuda dan Israel untuk dihancurkan” (Amos 7:7,8). Baik kedua ide itu ada di sini. “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya:--mereka ini adalah umat Allah—dan ukurlah mereka untuk penghukuman dan koreksi” (Wahyu 11:1-2). Ketika orang Yahudi mengarahkan wajah mereka ke tanah kelahiran mereka dan membangun kembali ibukota Yerusalem yang besar, dan membangun kembali Bait Suci dan melaksanakan kembali hukum-hukum Musa dan ritual-ritualnya, mereka melakukannya dengan pengharapan dan antisipasi yang besar. Tetapi Yohanes di dalam penglihatannya, melihat di balik hari-hari yang menggembirakan dan hari-hari yang gemilang itu, Yohanes melihat tongkat pengukur Allah karena ketidakpercayaan mereka, karena penolakan mereka, karena penghujatan mereka terhadap Kristus, Tuhan dan Mesias mereka, Juruselamat dan raja kita. “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya… dan kota suci itu itu akan diinjak-injak selama empat puluh dua bulan lamanya.”

Bolehkan saya menyimpulkan dengan kata-kata dari hukuman Allah untuk kebaikan? Dan sekarang saya tidak akan berbicara tentang hukuman Allah untuk kebaikan atas bangsa-bangasa asing dan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sekarang saya akan berbicara dari Alkitab tetang hukuman Allah bagi kebaikan atas umatNya—tongkat pengukur yang berada di dalam tanganNya itu. Yesaya adalah salah satu nabi yang luar biasa, nabi bangsawan—Yesaya melihat pada masanya—Yesaya melihat sebuah pertempuran yang pasti.  Sargon, Sanherib, Tiglath-Pileser—Yesaya melihat mereka seperti sapuan ombak yang datang dari utara, dari Asyur, dari Niniwe. Dan mereka akan menyapu bersih Israel seperti seseorang yang mencuci pinggan dan membolak-balikkannya. Dan Yesaya melihat kesepuluh suku utara disapu bersih. Dan Yesaya juga melihat kebengisan dan kekejaman dan tidak ada ampun dan kebencian serta penghujatan dari  benteng bersayap Asyur yang kejam itu. Dan berseru kepada Tuhan Allah, Tuhan, bagaimana mungkin? Bagaimanapun Israel adalah milik pusakaMu, sekalipun mereka jahat dan keji, bagaimanapun hujatan mereka, akan tetapi tidak sebanding dengan kekejian dan  kebusukan orang Asyur itu, mereka tidaklah seburuk Asyur? Tuhan, mengapa? Dan Tuhan berkata kepada Yesaya, dan saya akan membacanya untuk anda, “Asyur yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu.” [Isaiah 10:5].  Mereka mungkin keji, dan mereka memang keji; mereka mungkin penyembah berhala dan mereka memang penyembah berhala, mereka mungkin penghujat dan mereka adalah penghujat; tetapi Aku membangkitkan mereka sebagai cambuk murkaKu dan tongkat amarahKu untuk mengoreksi dan menghukum umatKu Israel. 

Hal itu bukanlah sesuatu yang ganjil. Lama setelah kematian Yesaya, di sana bangkitlah seorang nabi yang bernama Habakuk. Dan Habakuk di dalam pasalnya yang pertama menggambarkan tentang kedatangan bangsa Babel, orang Kasdim yang kejam dan bengis. Dan mereka datang dengan sangat mengerikan dan menakutkan. Dan seluruh bangsa Yehuda akan dihancurkan di hadapan mereka, dan Bait Allah diruntuhkan dan kota suci yang besar itu dibinasakan dan dibuat menjadi reruntuhan puing. Dan Habakuk, ketika dia melihat hal itu di dalam nubuatan, berseru kepada Tuhan dan berkata, O Allah—“ Bukankah Engkau, ya Tuhan, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya Tuhan, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa. Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman. Mengapa Engkau memandangi orang-orang yang berbuat khianat itu dan Engkau berdiam diri, apabila orang fasik menelan orang yang lebih benar dari dia?” [Habakkuk 1:12, 13].  “Kami mungkin penuh dosa,” kata Habakuk, “Tetapi Yerusalem dan Yehuda tidaklah lebih keji dan lebih buruk serta lebih mengerikan dibanding dengan orang Kasdim, bangsa Babel. Dan Tuhan, Engkau membiarkan mereka datang dan menyapu bangsa kami serta menghancurkan kota kami, mengapa Tuhan? Tuhan! Tuhan!” Dan kemudian Tuhan menjawab Habakuk—Oh Tuhan, ketika jawaban itu datang!—“ Ya Tuhan, telah Kau tetapkan dia untuk menghukumkan, telah Kau tentukan dia untuk menyiksa.” [Habakkuk 1:12].  Babel mungkin lebih jahat dari Yudea, dan kuil-kuil mereka mungkin didedikasikan kepada ribuan dewa yang tak dapat disebutkan ketika Bait Suci ini didedikasikan kepada Tuhan Yehova sendiri. Tetapi Aku membangkitkan mereka karena kejahatan umatKu. Mereka telah ditetapkan untuk menghukum dan aku telah membuat dia untuk menyiksa. 

Hal itu membuat seseorang gemetar di hadapan Allah. Tuhan di dalam wahyu, dari Penyingkapan, Tuhan Yesaya, Tuhan Habakuk, Tuhan yang kemarin adalah Tuhan pada hari ini. Dan bagaimanapun Tuhan memberkati Amerika dan mewarnai negeri kita yang indah, akan tetapi jika Amerika tidak berpaling kepada Allah, dan jika di antara masyarakat kita tidak ada roh pertobatan dan iman dan doa serta pemyembahan yang kudus, Allah dapat membangkitkan dari jantung Siberia yang luas dan Asia, Allah dapat membangkitkan lima ratus juta Cina Merah, sebagai alat untuk mengoreksi dan sebagai sebuah kemarahan. Dan dari atas langit kita, kematian dapat jatuh dengan mengerikan. Oh Allah. Dan itulah sebabnya kemudian Habakuk berseru, “Tuhan, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya Tuhan, kutakuti!” [Habakuk 3:2].  Permulaan dari hikmat adalah takut akan Tuhan, untuk gemetar di hadapan faktor-faktor yang terdapat di dalam tangan yang Mahatinggi. “Tuhan, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya Tuhan, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!” [Habakkuk 3:2].  Jika ada sebuah keselamatan bagi umatNya, hal itu teletak di dalam sebuah pertobatan yang besar kepada Allah.

Dan itu merupakan khotbah dari nabi Yeremia. “Bertobatlah,” kata Yeremia. “Bertobatlah dan bertobatlah.” Mereka tidak bertobat dan Nebukanezar datang pada tahun 605 B.C., dan membawa Daniel serta para pangeran Yehuda ke Babel. Dan Yeremia mengangkat suaranya dan berseru: Bertobatlah engkau, bertobatlah engkau. Dan Nebakadnezar datang untuk kedua kalinya pada tahun 598 B.C., dan membawa Yehezkiel serta orang-orang Yahudi yang saleh  dan membaurkan mereka dengan para kolonisasi yang berada di Sungai Kebar. Dan Yeremia yang berada di Yehuda tetap berseru: Bertobatlah engkau. Bertobatlah engkau. Nebukadnezar datang untuk ketiga kalinya pada tahun 587 B.C., dan selanjutnya tidak datang lagi karena Yehuda telah dibinasakan. Perempuan-perempuan mereka diperkosa. Anak-anak mereka dijual kedalam perbudakan. Kota suci mereka dihancurkan dan bait suci diruntuhkan. “Tuhan, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya Tuhan, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!” [Habakkuk 3:2].  Jika ada sebuah takdir bagi masyarakat kita, hal itu terletak di dalam faktor-faktor yang terletak di dalam tangan Tuhan Allah.

Saya akan menutup khotbah ini. Tetapi amarahNya tidak akan berlangsung sampai selama-lamanya. Empat puluh dua bulan—hanya selama empat puluh dua bulan. “Di dalam murka, ingatlah kasih saying”—Allah adalah keselamatan bagi umatNya. Allah adalah pengharapan bagi orang-orang yang percaya kepadaNya, dan berdasarkan Alkitab, ada sebuah kegelapan yang terbentang di depan. Air mata terbentang di depan. Penderitaan terbentang di depan. Tetapi dibaliknya, ada kemuliaan yang bersinar dari kehadiran kedatangan Tuhan kita yang hidup dan yang akan berkuasa. Berbahagialah mereka yang menaruh kepercayaan mereka kepadaNya. Dan kita tidak hanya menyelamatkan diri kita ketika kita berpaling kepada Allah, tetapi itu adalah umat Allah yang akan menyelamatkan  bangsa, yang pasukannya menjadi perisai bagi rumah-rumah dari negeri yang indah ini? Ah, mengapakah seseorang berdebat dengan dirinya, apakah dia akan menyerahkan dirinya kepada Yesus atau tidak? Mengapakah seseorang harus mendiskusikan apakah keluarganya akan dipimpin kepada Allah atau tidak? Oh berkata yang tidak terbatas, kesucian yang sempurna dari pintu yang terbuka, untuk datang, untuk bersujud, untuk memandang ke dalam wajah Allah Juruselamat kita dan meminta berkatNya atas rumah, keluarga dan anak-anak dan masyarakat serta bangsa kita.

Semua telah diberikan Allah kepada kita di dalam hidup ini. Dan warisan kudus yang telah di janjikan bagi kita di dalam hidup yang akan datang. Itulah sebabnya mengapa kita berkhotbah. Itulah sebabnya mengapa kita berkumpul. Itulah sebabnya mengapa kita membuat seruan dan menyampaikan undangan. Karena itu pada pagi hari ini, jika ada seseorang dari anda yang ingin berpaling kepada Allah, yang ingin meletakkan hidupnya bersama dengan kami di dalam persekutuan jemaat Juruselamat kita yang agung. Ketika kita menyanyikan lagu undangan kita, mari datanglah. Jika anda berada di atas balkon, ada sebuah tangga di bagian belakang dan  bagian depan, mari datanglah. Jika anda berada di lantai bawah, telusurilah salah satu lorong bangku itu dan majulah ke depan. Katakan,  “Pendeta, inilah saya. Ini istri saya dan anak-anak saya. Kami semua datang pada hari ini.” Ketika Allah berfirman dan  dan Roh Yesus membuka pintu, maukan anda datang? Pada baris yang pertama dan bait yang pertama, datanglah. Katakan, “Pendeta, saya datang dan inilah saya. Saya memberikan tangan saya sebagai tanda bahwa saya telah menyerahkan hati saya kepada Allah. Maukah anda? Maukah anda melakukannya?   

Bagi anda yang masih mendengarkan siaran radio ini. Apakah anda sedang mengemudi di sebuah wilayah dalam sebuah mobil? Apakah anda telah mendengar seruan ini? Pinggirkanlah mobil anda, tundukkanlah kepala anda di atas kemudi mobil anda. Berikan hati anda kepada Allah. Mintalah Allah untuk menyelamatkan anda. Apakah anda berada di rumah? Apakah anda berada di dalam sebuah kursi? Berlututlah disamping kursi anda. Berikan hati anda kepada Allah. Mintalah Allah untuk mengampuni dosa anda. Untuk menyelamatkan anda sekarang dan selamanya. Ada begitu banyak yang telah mendengarkan radio ini telah mengirimkan surat kepada saya dan berkata, “Saya telah menyerahkan hati saya kepada Allah.”  Salah satu anak muda, yang merupakan seorang pendeta berkata kepada saya: “Saya sekarang telah menyampaikan injil Anak Allah. Saya telah mendengarkan anda melalui radio, di mobil saya. Saya berhenti dan menyerahkan hidup saya kepada Allah dan sekarang saya telah menjadi pengkhotbah Injil.” Apakah anda telah mendengar pesan dari radio ini? Apakah Roh telah berbicara kepada jiwa anda? Bertobatlah, serahkan hidup anda kepada Allah. Dan bagi anda semua yang berada di ruangan ini, seruan telah disampaikan ke dalam hati anda, lakuknlah sekarang. Bawalah keluarga anda beserta dengan anda. Atau hanya seseorang dari anda, mari datanglah, ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu kita.

                                                                                                     

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.