KITAB KECIL YANG PAHIT-MANIS

(THE BITTER-SWEET LITTLE BOOK)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 10:8-11

29-07-62

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pada pukul sebelas pagi yang merupkan sebuah eksposisi dari Kitab Wahyu pasal sepuluh. Khotbah ini dapat diberi judul Tujuh Guruh dan Akhir Dunia, dan Kitab Kecil Yang Pahit-Manis.  Jika anda suka, anda dapat membuka Alkitab anda di dalam Kitab Wahyu, sehingga anda dapat dengan mudah mengikuti khotbah ini, karena khotbah ini merupakan sebuah eksposisi dari pasal sepuluh ini. Wahyu 10:

Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.

Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka. Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi,

Dan ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum. Dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya.

Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata: "Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!"

Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit,

Dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: "Tidak akan ada penundaan lagi!

Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi."

Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu."

Lalu aku pergi kepada malaikat itu dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam mulutmu ia akan terasa manis seperti madu."

Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.

Maka ia berkata kepadaku: "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja." [Wahyu 10:1-11]

 

Menyampaikan pesan Allah yang tertulis di dalam Kitab itu. Salah satu penglihatan dari seluruh pewahyuan yang paling agung adalah malaikat ini, representasi Allah. Nama Mikhael berarti : “dia sama seperti Allah”—seperti Allah.” Malaikat yang menjadi wakil dari sorga ini adalah sama seperti Allah—berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api. Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi, dan di dalam nama Allah yang hidup selamanya, dia mengklaim seluruh alam semesta bagi Allah. Dan dia mengangkat tangan kanannya ke atas langit dan bersumpah demi Allah yang hidup selamanya, bahwa penundaan keputusan rahasia Allah akan digenapi pada saat bunyi sangkakala berikutnya. Dan di dalam tangannya ia memiliki sebuah kitab kecil. Dan ketika Yohanes, yang pertama kali berada di sini sebagai aktor sebuah drama, ketika Yohanes diperintahkan untuk memakannya, dia memakannya, dan di dalam mulutnya ia terasa manis seperti madu; tetapi sesudah ia memakannya, mulutnya menjadi pahit rasanya. Dan Tuhan berkata, “Setelah mencerna perkataan dari Wahyu, engkau harus menyampaikannya kepada orang-orang, kepada bangsa-bangsa, dan bahasa dan raja-raja.”  

Dan ketika malaikat yang memegang kitab kecil di tangannya itu, berdiri di atas laut dan bumi dengan tangan yang diangkat ke atas langit—ketika dia berbicara seperti singa yang mengaum, seluruh ciptaan Allah mendengarnya. Dan dasar-dasar bumi menggemakan pemberitahuannya. Ketika dia berbicara, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya.  “Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata: "Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!” [Wahyu 10:4].  Dan Yohanes membawanya hingga ke dalam kuburan. Kita tidak tahu apa yang disampaikan oleh suara Allah itu.  Sekarang, yang kita tahu adalah  tipe dari sebuah hal yang menyampaikannya, definit artikel di dalam memperkenalkan ketujuh guruh ini sangat eksplisit. Mereka hanya tidak hanya tujuh guruh, mereka adalah ketujuh guruh. Dan di dalam setiap contoh di dalam bahasa Yunani, definit artikel itu sangat positif dan sangat empatik—“ketujuh guruh.” Mereka tidak hanya gema dari sebuah cahaya kilat, tetapi mereka adalah suara penghukuman Allah. Di dalam Wahyu pasal empat, penglihatan pertama yang dilihat oleh Yohanes adalah sebuah takhta yang sangat indah dan di atasnya duduk Allah Yang Mahatinggi. Kemudian dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu; hal ini adalah pemberitahuan tentang penghukuman dari Allah. Dan beberapa kali di dalam Wahyu, anda akan melihat guruh itu merujuk kepada dan selalu dihubungkan dengan penghukuman dari Yang Mahatinggi. Mereka memiliki jumlah tujuh karena mereka mewakili kepenuhan, kesempurnaan dan penyelesaian dari campur tangan Allah di dalam sejarah manusia. Mereka tidak disebutkan tujuh di dalam penglihatan yang pertama, tetapi mereka disebut tujuh di sini untuk menjaga hubungan dengan karakteristik bilangan takhta. Di sana ada tujuh kaki dian, di sana ada tujuh Roh Allah; di sana ada tujuh materai, tujuh sangakakala, tujuh cawan, tujuh guruh—merepresentasikan seluruh kebesaran, kesempurnaan dari penghukuman Allah.

Maka ketika ketujuh guruh itu merespon kepada suara dari malaikat perkasa yang merupakan wakil dari sorga ini, Yohanes ingin menuliskannya. Dan ketika Yohanes menuliskannya, ada sebuah larangan dari sorga:  “Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya” [Wahyu 10:4].  Lalu, apa maksud dari hal itu? Mengapa dia tidak menyebutkannya? Jika dia tidak boleh menuliskannya mengapa meninggalkan kita dalam ketegangan?  Bagi saya, itu memiliki sebuah pelajaran yang dalam, sebuah nubuat yang dalam bagi kita semua yang mengasihiNya, yang melalui KitabNya berusaha untuk mengamati masa dan depan, bahwa kita semua harus menyadari dan selalu mengingat, di sana ada sebuah garis besar dari masa depan yang disingkapkan oleh Tuhan. Melalui para nabi dan khususnya Rasul Paulus dan akhirnya secara eksplisit di dalam penglihatan Yohanes, bahwa ada sebuah garis besar yang disingkapkan kepada kita. Tetapi di sana juga ada prinsip-prinsip dan agen-agen serta kuasa-kuasa yang bekerja di dalam sejarah yang tidak kita ketahui. Tetapi semuanya itu diketahui oleh Allah. Dan itulah sebabnya tidak seorang pun yang dapat memprediksi masa depan dengan akurat; karena dia tidak mengetahui dan tidak memahami semua kuasa yang bekerja dibelakang insiden yang membentuk catatan kejadian dan dan riwayat serta kisah manusia. Banyak dari mereka yang disingkapkan. Banyak dari mereka yang secara jelas disingkapkan di dalam Alkitab ini. Banyak dari hal-hal ini telah digenapi  sesuai dengan apa yang telah disampaikan. Tetapi ada juga hal-hal yang tidak kita ketahui dan yang kita tidak dapat mengerti dan tidak dapat kita prediksikan di masa depan. Hal-hal ini hanya diketahui oleh Allah.

Ada ribuan pertanyaan secara literal tentang hari-hari yang akan datang yang tidak dapat saya temukan jawabannya sama sekali. Dan saya telah bertanya kepada beberapa sarjana yang tidak memiliki tugas pastoral, mereka tidak memiliki tanggung-jawab secara administratif, mereka telah memberikan hidup mereka secara penuh untuk mempelajari Firman Allah—Saya telah bertanya kepada beberapa sarjana ini dan mereka tidak memiliki ide untuk menjawabnya. Ada ribuan pertanyaan tentang kematian dan kehidupan yang akan datang. Ada ribuan pertanyaan tentang millennium yang tidak dapat saya pahami. Ada ribuan pertanyaan lainnya tentang kekekalan yang tidak dapat saya pahami. Saya tidak dapat melihatnya. Saya tidak dapat menjangkaunya. Mereka melampaui pemikiran saya. Saya tidak dapat memiliki jawaban terhadap mereka. Tetapi mereka juga berada di dalam kehendak Allah. 

Paulus berkata bahwa kita “melihat melalui sebuah cermin yang samar-samar” (1 Korintus 13:12). Kita dapat melihat hal-hal yang tajam, garis besar dari banyak hal, tetapi ada banyak hal lain juga yang tidak kita ketahui. Dan kita akan mengetahuinya hingga hari dan waktu penggenapannya. Itulah sebabnya mengapa kita semua, betapa banyaknya pun kita belajar dan betapa besarnya pun kita berusaha untuk mengetahui dan memahami di sana kita selalu memiliki makna yang dalam bagi umat manusia. Allah memiliki banyak rahasia yang berada di dalam pertimbanganNya dan di dalam hikmatNya.  Dan beberapa hal telah disingkapkan kepada kita, sehingga kita dapat melihat di dalam isyarat yang besar. Tetapi ada banyak hal di dalam studi ini yang hanya diketahui oleh Allah. Dan seandainya Allah berkehendak supaya kita mengetahuinya maka Allah akan menuliskannya. Tetapi ada beberapa hal yang tetap Allah sembunyikan. Dan hal-hal ini tetap menunggu hingga pada hari ketika hal itu dinyatakan dan disingkapkan. Jadi mandat yang berasal dari sorga adalah: “Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya” [Wahyu 10:4].  Bahkan Daniel, yang dikasihi oleh Allah, seorang nabi favorit—bahkan Daniel berkata: “Tuhan, aku mendengar suaraMu dan aku melihat penglihatan. Tuhan apakah maksud dari hal itu? Dan Allah berkata kepada Daniel, “Pergilah, Daniel, sebab firman ini akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman…. Berbahagialah orang yang tetap menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari” [Daniel 12:9, 12].  Dan hal itu tetap tersembunyi hingga akhirnya dibuat jelas dan diketahui, karena sekarang hal itu telah dimateraikan. Banyak hal yang dimateraikan telah Daniel yang tetap tidak dimengerti dan banyak hal yang telah disingkapkan bagi kita pada hari ini. Dan di sini banyak bagian yang sama seperti Daniel, kita berdiri dengan rasa heran terhadap makna dari penglihatan itu, heran terhadap apa yang dirujuk oleh Firman itu. Kita tidak pernah tahu, tidak mengerti secara pokok, hingga pada hari ketika hal-hal ini digenapi.

Kemudian malaikat ini mengangkat tangannya dam bersumpah demi Allah di sorga bahwa akan ada waktu, chronos yang tidak lama lagi. Waktu adalah ciptaan Allah. Seperti dunia materi, seperti dunia kehidupan, jadi, waktu adalah sebuah ciptaan dari Allah. Bagi Allah, tidak ada suatu hal seperti waktu. Waktu adalah untuk kita. Allah melihat seluruh abad sebagai sebuah waktu sekarang. Dia dapat melihatnya di sana. Di dapat melihatnya di sini. Dia dapat melihat dari awal sampai akhir. Dan semuanya terlihat konstan di hadapan Allah. Tetapi tidak bagi kita yang merupakan mahluk ciptaan. Karena kita melihat dalam suatu hari pada suatu waktu, sebuah momen dan hari ketika kita berpaling ke dalam pojok dari setiap urutan hari. Dan kita membagi waktu ke dalam millennium-millenium. Ini adalah seribu tahun. Dan kita membaginya ke dalam abad-abad yaitu seratus tahun. Dan kita membaginya ke dalam tahun-tahun, yang terdiri dari tiga ratus enam puluh hari. Dan kita membaginya ke dalam dua puluh empat jam. Dan kemudian dalam satu jam. Kemudian ke dalam enam puluh detik dan enam puluh menit. Kita membagi waktu. Itu adalah ciptaan Allah. Ini adalah untuk manusia. Hal itu merujuk kepada hari manusia dan jam manusia. Tetapi akan datang kata malaikat itu dengan tangan yang terangkat ke atas langit, bahwa akan datang sebuah momen ketika hari-hari manusia akan berakhir—ketika waktu tidak akan lama lagi, ketika waktu penundaan dari rahasia Allah akan digenapi dan kita masuk ke dalam kesudahan akhir dan ke dalam kekekalan dari abad-abad Allah yang kekal. Sebuah hal yang luar biasa yang disampaikan Allah kepada jiwa manusia bahwa kita akan hidup di dalam milenium-milenium dan ke dalam kekekalan itu, yang membawa seseorang berlutut, dan merendahkan dirinya ketika dia menghadapi hari yang pokok dari Yang Mahatinggi, yang mana pada suatu masa kita akan berdiri dan hidup di dalamnya.

“Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu—ambil kitab itu, makanlah dan bernubuat lagi—sampaikanlah pesannya kepada orang-orang”  [Wahyu 10:8].  Sekarang kita akan berbicara tentang Kitab Kecil Yang Pahit Manis. Yang pertama bagi semua, bagi saya, dan hanya sedikit yang percaya terhadap hal ini, tetapi bagi saya, ketika saya mengamati kitab kecil itu. Penglihatan yang pertama dari Kitab Wahyu, setelah jemaat diangkat ke sorga, penglihatan pertama yang dia lihat adalah takhta Allah dan Yang Mahatinggi duduk di atasnya. Dan di atas takhta itu, tangan Allah menggenggam sebuah biblion.  Lalu anda menerjemahkannya dengan sebuah kitab. Karena itu ketika anda tiba di pasal sepuluh, dan terjemahan yang anda miliki adalah sebuah kitab kecil maka anda dan secara praktis semua mahasiswa dan sarjana akan  melakukan hal yang sama, mereka menduga bahwa ini adalah kitab yang lain. Ada dua kitab kecil. Akan tetapi saya tidak berpikir demikian, karena kata Yunani yang menggambarkan keduanya sama—sekalipun di dalam pasal lima anda memiliki terjemahan “kitab” dan di dalam pasal sepuluh anda memiliki terjemhan “kitab kecil.” Tetapi kata Yunani yang digunakan untuk menggambarkan mereka adalah sama. kata Yunani bagi kitab adalah biblos.  Bible datang dari kata itu—biblos.  Dan bentuk kecil dari sebuah kitab adalah  biblion, atau biblaridion.  Dan di dalam pasal sepuluh, kitab kecil ini disebut biblaridion [Wahyu10:2, 9, 10] tetapi ia juga disebut biblion [Wahyu 10:8].  Dan itu adalah kata yang sama yang digunakan untuk menggambarkan kitab yang di dalam Wahyu pasal lima (Wahyu 5:1,2,3,4,5). Jadi bagi saya kedua kitab itu adalah kitab yang sama—sebuah kitab kecil. Dan di tangan Allah, di dalam penglihatan yang pertama, di sanalah terletak kitab itu. 

Lalu perbedaan yang terdapat di dalam pasal lima dari Kitab Wahyu, kitab kecil itu dimateraikan dengan tujuh materai. Kitab itu dimateraikan dengan sempurna. Di sana ada sebuah materai dan setiap bagian dari kitab itu dimateraikan dan semuanya dimateraikan. Lalu, kitab yang ada di tangan malaikat itu terbuka, dan kata Yunani yang digunakan sama dengan bahsa Inggris, bahwa kitab itu terbuka dengan empatik. “Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka” (Wahyu 10:2). Kemudian di ayat delapan dia berkata, “Dan suara yang telah kudengar dari langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka” [Wahyu 10:8].  Dan kata Yunani dapat menekankan dengan pasti, menekankan sebuah hal yang ingin mereka tekankan. Ini adalah cara yang dilakukan dalam menuliskan hal itu di dalam bahasa Yunani—to biblion to eneogmenon, “kitab kecil, yang satu-satunya, yang terbuka.” Hal itu sangat empatik. Lalu saya mengambilnya dari hal itu—di sana juga ada sebuah referensi terhadap apa yang ada sebelumnya—kitab kecil itu yang terletak di tangan Allah yang dimateraikan dengan tujuh materai. Dan seluruh kitab kecil itu terbuka—kitab kecil yang sama. Lalu, kitab kecil yang dimateraikan yang berada di tangan Allah itu merupakan sebuah warisan yang telah hilang. Dan pembukaan materai itu merupakan representasi penebusan dari warisan itu dan pengusiran terhadap penyusup, pengacau dan perusak dan bagaimana Allah menebusnya kembali kepada manusia—yang akan diberikan kepada kita. Kita akan memerintah bersama dengan Tuhan kita, menjadi ahli warisNya dan imam-imam di bumi. Dan itu kisah dari setiap pembukaan materai. Ini adalah cara yang digunakan Alllah dalam melakukannya, dan inilah caranya dan inilah caranya, demikianlah seterusnya hingga akhirnya , kitab kecil itu terbuka dan anda dapat melihat seluruh garis besar bagiamana Allah akan menebus ciptaan yang hilang ini kembali kepada manusia. Jadi, bagi saya, itu adalah kitab kecil yang sama. Lalu kitab kecil ini sekarang terbuka, seluruh materai itu telah dibuka dan itu adalah sebuah penilaian—itu adalah sebuah pewahyuan. Itu adalah sebuah penyingkapan, bagaimana Allah akan menebus. Bagaimana Dia akan melakukannya—menebus ciptaan yang hilang ini dan memberikannya kembali kepada kita, yang untuk kitalah Allah telah menciptakannya.

Maka, malaikat itu memberikan kitab kecil itu kepada Yohanes. Dan malaikat itu berkata kepadanya, “Ambillah dan makanlah” (Wahyu 10:9). Jadi hal itu sangat jelas dan hal sederhana yang dapat anda temukan di dalam Firmah Tuhan. Untuk memakannya adalah untuk mengolahnya dan menyelami isinya dan mendapatkannya di dalam jiwa anda. Dan Yeremia telah diperintahkan, “Engkau mengetahuinya; ya Tuhan....Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya” [Yeremia 15:15, 16].  Referensi yang lain, dan saya akan merujuk kepada hal itu, yaitu di dalam Yehezkiel pasal dua: “Ngangakanlah mulutmu,” kata Tuhan kepada Yehezkiel, “dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu. Aku melihat, sesungguhnya ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab, lalu dibentangkan-Nya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.” [Yehezkiel 2:8-10].  Dan Tuhan berfirman: “Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah…. Maka kubukalah mulutku…. Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.” [Yehezkiel 3:1-3].  Tetapi hal itu dipenuhi oleh ratapan dan perkabungan dan kesengsaraan. Kita harus mengalaminya dan kemudian merasakannya. Kita harus mempelajarinya dan merenungkannya dan kemudian memberitakannya. Kita harus memahami Firman Allah dan bernubuat. Yohanes memakan kitab itu, kemudian “Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja” [Wahyu 10:11].  Jadi Yohanes melakukan hal itu. Dia mengambil Firman Allah, dia mengambil wahyu dari Yang Mahatinggi, dan dia memakannya dan ketika berada di dalam mulutnya ia terasa manis seperti madu dan di dalam perutnya, ia terasa pahit.

Dan hal itu mengandung salah satu kebenaran yang paling dalam, yang ditemukan di dalam Firman Allah. Wahyu itu sendiri, penyingkapan itu sendiri, pengamatan terhadap masa depan itu sendiri, garis besar dari apa yang dilakukan Allah itu sendiri, sama seperti itu. Kemanisan dari kitab itu, wahyu ini, penyingkapan ini, program penebusan Allah ini—kemanisan dari kitab itu dapat dengan mudah diverifikasi dan terlihat di dalam kumpulan literatur yang tumbuh disekelilingnya. Ada begitu banyak buku-buku perpusatakaan dan tulisan-tulisan dan tafsiran-tafsiran yang berisi tentang Wahyu Allah. Itu adalah hal yang baik sekali dan penuh dengan minat dan telah memberi rasa nyaman bagi hati manusia sejak hal itu ditutup. Tetapi tidak ada mahasiswa Firman Allah dan tidak ada sarjana yang pernah berusaha mengerti pesan nubutan ini, tetapi mempelajarinya dan melihat di dalamnya tentang seluruh kekerasan dari badai yang sedang datang. Dan saya percaya bahwa setiap nabi yang benar yang mempelajari dan yang membaca masa depan adalah manusian yang baik. Dia melihat tangan penghukuman yang mengerikan yang ditulis menentang kita. Dan itulah sebabnya mengapa pesan wahyu dapat menjadi sebuah peringatan bagi kita sehingga kita diselamatkan. Dan saya tidak memiliki waktu untuk kebodohan, saya tidak memiliki waktu untuk fanatikisme, saya tidak memiliki waktu untuk gila untuk menyusuri hal ini. Tetapi saya ingin berkata kepada anda, ketika saya melihatnya dan saya telah melihat perkembangan di dalam dunia ini, ada begitu banyak orang yang memberitahukan kita tentang penghukuman yang mengerikan itu yang akan datang atas seseorang yang menutup mata mereka dan yang membutakan hati mereka, yang menyelubungi hati mereka dan yang menolak untuk melihat. Ah, penghukuman Allah atas seseorang yang berpaling dari kebebasan mereka yang tanpa batas dan berkat Allah yang luar biasa yang diberikan kepada mereka. Untuk memilikinya sangat manis, manis seperti madu.  Untuk memiliki hal-hal yang bersifat sorgawi. Hal itu sama seperti gula. Tetapi di situ ada hal-hal lain, peringatan nubuatan tentang bencana kepada seseorang yang berpaling dan melupakannya. Dan itulah yang secara tepat tertulis di sini. Semua berkat Allah, betapa manisnya mereka. Tetapi ada peringatan dari penghukuman. Dan bagi orang-orang yang menolak nasehat-nasehatnya akan merasakan kepahitan. Jadi, saya hanya memberitahukan bahwa seorang nabi yang sejati sama seperti itu. Setiap nabi yang sejati, persis seperti itu. 

Manusia Allah ini, yang digambarkan secara jelas di dalam Alkitab, manusia Allah ini, berada di dalam cara itu. Firman Tuhan yang luar biasa datang kepada Yesaya. Dia melihat Tuhan di atas tempat yang mahatinggi. Hal itu sangat mulia. Dan di dalam kemuliaan dan keajaiban wahyu yang luar biasa itu, dia mulai melihat ke dalam dirinya sendiri dan dia berseru, “Celakalah aku, celakalah aku” (Yesaya 6:5). Kemudian dia mendengarkan pesan Allah yang harus dia sampaikan. Dan ketika dia mendengarkannya, hal itu dipenuhi dengan peringatan dan penghukuman. Jika orang-orang ini tidak sadar dan tidak bertobat maka mereka akan dihancurkan. Dan Dia kemudian menjelaskan tentang kehancuran itu. Dan Yesaya berkata, “Kemudian aku bertanya: "Sampai berapa lama, ya Tuhan?" Lalu jawab-Nya: "Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi. Tuhan  akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong.” [Yesaya 6:11-13].  Bukankah itu merupakan sebuah hal yang luar biasa? Anda akan menemukan contoh yang lain di dalam 2 Raja-raja, di dalam pasal dua puluh dua. Di sana ditemukanlah kitab Taurat Allah di dalam rumah Tuhan.  Segera sesudah raja mendengar perkataan kitab Taurat itu, dam melihat penghukuman yang mengerikan itu dikoyakkannyalah pakaiannya, dia meratap di hadapan Allah dan meminta kepada Tuhan,  “Sebab hebat kehangatan murka Tuhan yang bernyala-nyala terhadap kita” [2 Raja-raja 22:13].  Anda lihat itu adalah sebuah hal yang manis. Oh, tetapi itu juga adalah nubuatan yang pahit tentang penghukuman. Dan itulah jalan dari masyarakat kita, pemberitaan injil kita dan bangsa kita dan permohonan kita dan jiwa-jiwa kita pada hari ini. Setiap pesan pengharapan dan kemuliaan dan setipa pesan kebebasan dan kehadiran Allah dan setiap pesan keselamatan dan kebaikan, setiap janji yang diingat sorga, hal-hal ini memiliki rasa manis yang luar biasa. Tetapi nabi, manusia Allah yang sejati, manusia yang memiliki pengertian, dapat selalu melihat dibelakang rasa manis dan berkat yang mulia itu. Dia selalu melihat di belakang dari hal itu, yaitu hukuman yang mengerikan, jika kita melupakannya, jika kita menyangkal, jika kita menudungi hati kita, jika kita menutup mata kita, jika kita berhenti untuk menjaga dan memelihara, jika hal-hal ini disingkirkan. Dan sebagai gantinya, hukuman Allah akan dijatuhkan atas kita. Itulah sebabnya kita membutuhkan nabi. Ituah sebabnya kita membutuhkan pengkhotbah yang benar. Itulah sebabnya kita membutuhkan orang-orang yang dapat melihat dan yang dapat membedakan. Dan dia mengambil hal-hal itu yang manis dan yang mulai, yang telah diberikan Allah kepada kita, dan dia memperingatkan kita. Dan dia memperingatkan kita agar hal itu tidak terlepas dari tangan kita, agar kita jangan menghilangkannya, agar mereka tidak binasa dari bumi. Hal itu selalu sama.  

Dan sekarang, bolehkah saya menggambarkan kebenaran yang sama dan identik di dalam pemharapan yang kita miliki di dalam Yesus. Manis seperti madu. Hanya gambaran yang jelas, hanya garis besar dari kemenangan Allah cukup untuk memberi penghiburan kepada seseorang di dalam ratapan yang dalam dan kesengsaraan. Suatu hari di dalam Kristus, Setan akan dikalahkan. Suatu hari di dalam Kristus, Tuhan Allah akan berjaya. Suatu hari, tidak akan ada lagi kegelapan dan dosa dan kesengsaraan dan tekanan serta kematian. Suatu hari di dalam Yesus, kita akan memiliki kemenangan dan kejayaan. Dan kita mengasihi Tuhan kita. Dan Dia telah mengampuni dosa-dosa kita. Dan Dia telah mati bagi kita di atas kayu salib. Dan kita berusaha untuk merefleksikan kebaikan dan kemurahan Allah yang diusahan oleh orang Kristen. Rasanya manis seperi madu. Dan itulah sebabnya mengapa kadang-kadang anak-anak Allah menangis ketika mereka berdoa. Dan itulah sebabnya mengapa keluarga kudus kadang-kadang meratap atas kelalaian dan keroyalan dan ketidakpatuhan dari putra atau putri mereka. Dan itulah sebabnya mengapa jemaat mengadakan doa puasa dan memohon di hadapan Allah. Oh Tuhan, berkat Kristus yang kami renungkan sangat manis bagi kami, manis seperti madu. Tetapi, oh Tuhan, hukuman dari penolakan terhadap hal itu pahit seperti empedu. Betapa luar biasanya menjadi orang Kristen. Betapa mengerikannya untuk menghadapi sebuah kekekalan tanpa pengharapan dan tanpa Allah. Inilah yang dirujuk oleh Paulus ketika dia berkata kita harus memberi warna kepada hidup yang memberi hidup, bagi orang yang percaya. Kita juga memberi warna kepada kematian bagi kematian, bagi orang yang menolak. Manis dan pahit. Dan nabi Allah yang sejati.

Dan saya ingin memberitahukan kepada anda, jika saya memiliki sebuah keberatan terhadap mimbar modern adalah hal ini: Pengkhotbah akan selalu berkhotbah tentang kasih Allah, dan dia akan selalu berkhotbah tentang kasih Yesus dan dia selalu berkhotbah tentang hal-hal yang manis, yang baik dan bagus. Tetapi di dalam mimbar modern itu, mereka telah menyingkirkan suara peringatan yang mengerikan. Mereka mengajarkan bahwa kita tidak perlu lagi  nabi dan pesannya. Anda tidak akan lagi mendengar tentang ancaman Allah dan suara hukuman Allah. Kita membutuhkannya. Karena yang satu sama benarnya dengan yang lain. Betapa luar biasanya menjadi orang Kristen—anak-anak yang manis, rumah yang manis, berkat bagi hidup, kekayaan Allah di atas sebuah bangsa dan sebuah negara dan sebuah masyarakat yang mengasihi Allah. Betapa sangat indah. Oh, betapa tragis kata nabi yang sejati ketika manusia berpaling dari berkat sorgawi dan memberikan diri mereka kepada hal-hal yang menghancurkan jiwa mereka dan menghancurkan kehidupan masyarakat. Kedua hal itu harus bersama-sama. di dalam mulutku manis seperti madu. Tetapi ketika aku melihat ancaman dari hal itu, rasanya pahit seperti empedu. “Maka ia berkata kepadaku: "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja.” [Wahyu10:13].  Masyarakat kita harus diperingatkan. Allah menolong saya untuk memberi peringatan. Masyarakat kita harus didorong. Allah menolong saya uuntuk memberikan dorongan. Masyarakat kita harus mengenal semua yang disampaikan oleh Allah. Allah menolong kita untuk menyatakan seluruh nasehat Tuhan. 

Sekarang, itu adalah seruan kami bagi jiwa anda pada pagi hari ini. Untuk menerima dengan penuh kerendahan hati, dengan sungguh-sungguh, dengan penuh perhatian, berkata Allah yang sangat mulia. Ini adalah sebuah berkah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun. Mengambil karunia Allah dan menerimanya tanpa harus memberikan apa-apa. Cuma-Cuma. Allah telah memilih untuk memberikan karunia yang tidak perlu anda beli. Hal yang terbaik di dalam dunia adalah Cuma-Cuma. Hanya mengambilnya. Dan ketika kita melakukannya, maka seluruh kekayaan dari sorga adalah milik kita, untuk memiliki pengampunan atas dosa-dosa kita, keselamatan jiwa kita, berkat bagi hidup kita, warisan Allah, semuanya menjadi milik kita. Tetapi jika berpaling dari hal itu, untuk mengesampingkannya, untuk mengijaknya di bawah kaki kita, untuk menolaknya, untuk berkata tidak, betapa banyaknya kita kehilangan. Bagi diri kita sendiri, bagi anak-anak kita, bagi keluarga kita, bagi masyarakat kita, betapa banyaknya kita kehilangan. Itulah sebabnya mengapa undangan ini diberikan dengan penuh perhatian dengan penuh kesungguhan dan  penuh berkat, dan semoga Allah menolong kita. Ini adalah undangan yang sangat penting dan sangat berarti. Jika anda ingin menyerahkan hati anda kepada Tuhan pada hari ini, lakukanlah. Katakan, “Pendeta, inilah keluarga saya, kami semua datang pada hari ini, ini anak-anak saya dan istri saya.” Atau seseorang dari anda, katakanlah, “Pendeta, saya datang, dan di sini saya berdiri, dan menyerahkan tangan saya kepada anda, sebagai tanda bahwa saya menerima Tuhan sebagai Juruselamat saya, dan menyerahkan seluruh hati dan hidup saya.” 

Bagi anda yang berada di atas balkon, ada tangga di bagian depan dan bagian belakang serta kedua sisinya. Datanglah. Dan bagi anda yang berada di lantai bawah, berjalanlah menuju lorong bangku yang terdekat dan majulah ke depan. Lakukanlah, agar anda terhitung di antara orang-orang yang memandang dengan iman kepada Tuhan. Buatlah keputusan itu saat kita berdiri dan menyanyikan lagu kita.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM

PENAFSIRAN YANG SANGAT POKOK

(CRUX INTERPRETATORUM)

Dr. W. A. Criswell

Wahyu 11:1-8

12-08-62

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, maupun bagi anda yang sedang menyaksikannya melalui siaran televisi, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pagi dari Kitab Wahyu pasal sebelas. Seperti yang anda tahu, saya telah berkhotbah melalui kitab-kitab Alkitab selama delapan belas tahun. Dan setelah tahun-tahun yang berlalu, kita telah tiba di kitab yang klimaks dan yang terakhir, yaitu Kitab wahyu. Dan kita telah berkhotbah melalui kitab Wahyu kurang lebih sekitar satu tahun tujuh bulan. Karena ketertarikan yang besar terhadap kitab ini, saya mulai berkhotbah ketika kita di Kitab Wahyu dalam kedua ibadah pagi dalam isi khotbah yang sama. Khotbah dalam ibadah pukul 8:15 dan khotbah dalam ibadah pukul 10:50 adalah sama. Lalu, dalam ibadah pukul 8:15, saya telah berbicara selama empat puluh lima menit dari khotbah yang telah saya persiapkan dan menemukan bahwa dalam waktu empat puluh lima menit itu, saya hanya menyelesaikan setengah dari khotbah yang telah saya sampaikan. Jadi apa yang akan saya lakukan adalah mengakui bahwa saya tidak akan dapat menyelesaikan khotbah yang telah saya persiapkan untuk waktu ini. Saya harus memiliki waktu satu jam penuh untuk hal itu. Karena itu, khotbah pada pagi hari ini hanya sepenggal dari yang telah saya persiapkan. Selama waktu ibadah Sekolah Minggu saya berusaha untuk memberi nama dari pengggalan khotbah ini, tetapi saya tidak menemukan sebuah judul yang tepat. Khotbah ini hanya sepenggal. Dan khotbah ini akan selesai pada minggu depan. Jadi anda semua harus memiliki perhatian yang khusus pada minggu depan untuk memahami kesimpulan dari khotbah ini. 

Sekarang, kita berada dalam sebuah tempat yang sulit. Ini bukanlah tugas yang mudah. Saya tidak pernah mendengar seseorang di dalam hidup saya berkhotbah tentang sesuatu atau berdiskusi atau berbicara tentang apa yang sedang kita lakukan, yaitu membahas seluruh Kitab Wahyu ini. Karena itu hanya sedikit orang yang memberikan hidupnya untuk hal ini, bagi dia ini merupakan natur yang kedua. Dia hanya mengetahui hal-hal yang akan dirujuk. Tetapi bagi kita, dalam kebanyakan waktu, telah diperkenalkan terhadap hal-hal ini, bahwa ada ribuan contoh yang dapat menutupi kesalahan. Tetapi bagi kita mereka dibutuhkan dan meminta seruan untuk sebuah penjelasan. Hal ini merujuk kepada apa? Apakah maksud dari hal ini? Jadi, ketika anda berhenti untuk mempelajarinya dan menemukan seperti yang telah Allah tempatkan di dalam hati anda untuk menyelidikinya maka hal itu membutuhkan waktu. Hal itu membutuhkan waktu melampaui segala sesuatu atau sesuatu yang biasa dibayangkan oleh manusia. Membutuhkan waktu untuk mempelajarinya. Dan apa yang mematahkan saya adalah hal ini, setelah mempelajarinya dengan waktu yang lama dan mengusahakannya dengan sangat lama dan penuh ketelitian, saya tidak memiliki waktu untuk menyampaikannya. Jadi ketika saya berusaha untuk mempercepatnya—karena remaja-remaja ini, seperti yang telah saya sampaikan kepada anda, mereka berkata kepada saya, “Pendeta, Tuhan akan datang kembali sebelum anda menelesaikan Kitab Wahyu ini. Jadi lebih baik anda mempercepatnya.” Akhirnya  saya berusaha untuk mempercepatnya, tetapi saya tidak berhasil. Jadi yang harus kita ingat bahwa pagi ini saya hanya menyajikan sebagian. Ini adalah sebuah permulaan. Dan kita akan menyelesaikannya sbagaimana Allah akan menolong kita.   

Sekarang ini adalah pembacaan dari bagian pertama dalam Kitab Wahyu pasal sebelas.

Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: "Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya.

Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya."

Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.

Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Dan jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara itu.

Mereka mempunyai kuasa menutup langit, supaya jangan turun hujan selama mereka bernubuat; dan mereka mempunyai kuasa atas segala air untuk mengubahnya menjadi darah, dan untuk memukul bumi dengan segala jenis malapetaka, setiap kali mereka menghendakinya.

Dan apabila mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka. Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.  [Wahyu 11:1-8]. 

 

Lalu, itu adalah bagian pertama dari pasal ini. Salah satu orang yang paling terpelajar dan yang memiliki kemampaun dari seluruh penafsir bahasa Yunani sepanjang masa bernama Dekan Alford. Dan Dekan Alford berkata bahwa pasal ini tanpa ragu merupakan salah satu bagian yang paling sulit di dalam Kitab Wahyu. Memang ada begitu banyak bagain yang seperti ini. Tetapi tentu saja ini adalah salah satu dari antaranya.  Ada begitu banyak penafsir yang memiliki padangan yang berbeda tentang hal ini—dan jumlahnya sangat banyak. Dan ini adalah pandangan dari beberapa orang dari mereka. Seseorang akan berkata bahwa Bait Suci ini adalah gambaran figuratif yang digunakan tentang  porsi iman dari jemaat Kristus. Baiklah, yang lainnya berkata; perintah diberikan kepada Yohanes untuk mengukur Bait Suci Allah untuk memberi perhatian terhadap ukuran jemaat. Kemudian yang lainnya berkata: Mezbah adalah jemaat. Kemudian yang lainnya berkata: pelataran luar menandakan sebuah bagian dari jemaat. Kemudian yang lain lagi berkata: Kota Suci di dalam Wahyu selalu merupakan tipe dari jemaat. Lalu, yang lainnya berkata: dua saksi mewakili jemaat Allah yang terpilih dari Allah, termasuk Yahudi dan orang Kristen, dan kesaksian yang dia bawa sehubungan dengan Allah, khususnya di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kemudian yang lainnya lagi berkata: seribu dua ratus enam puluh hari mendasari suatu periode dimana jemaat yang berada di bawah tekanan tidak akan berhenti bernubuat. Kemudian yang lain lagi berkata: seluruh penglihatan dari peperangan antara kedua saksi dan binatang adalah simbolik dan niat untuk ide bahwa jemaat di dalam kesaksiannya kepada Allah akan mengalami oposisi. Baiklah, kemudian yang lainnya: kematian dari dua saksi itu adalah nasib dari gambaran jemaat di dalam kehidupan Kristus. Kemudian yang lainnya: di dalam kenaikan dua orang saksi ke sorga, jemaat akan berjaya dalam mempertahankan diri. Dan kemudian yang liannya berkata: tua-tua yang menyembah Allah setelah peniupan sangkakala, yang berada di pasal sebelas adalah jemaat. 

Jadi, setiap ungkapan yang berbeda, setiap gambaran, setiap simbol, setiap pola, setiap penyajian adalah “jemaat.” Lalu, ketika anda melihat hal itu dan ketika anda membaca bagian ini dengan teliti, ada banyak hal di sana berada di dalam pengumuman yang bersifat nubuatan dari manusia Allah yang oleh Roh Kudus mereka berbicara saat mereka digerakkan oleh Roh Kudus. Dan untuk membuat setiap ungkapan dan setiap perbedaan dan setiap penjelasan dan setiap simbol untuk menyampaikan hal yang identik sama—sekalipun hal itu bermakna hal itu atau tidak, sekalipun merujuk kepada hal itu atau tidak, sekalupun para nabi para nabi telah menggunakan hal yang sama itu untuk membuat garis besar sebuah program di dalam tujuan elektif Allah, untuk memaksa hal itu ke dalam makna yang sama, maka hal itu menghilangkan seluruh kesempatan untuk mendengarkan pikiran Roh Kudus sama sekali. Jadi, apa yang harus kita lakukan adalah dengan melihat ke dalam hal ini, dan di dalam terang dari apa yang telah ditulis Allah, untuk melihat apa yang telah disampaikan Allah.   

Lalu, ketika saya melihatnya secara hati-hati dan membacanya dengan sungguh-sungguh, kesan pertama yang saya dapatkan adalah hal ini: Bahwa di sini kita sangat jelas dan tanpa salah berada di landasan orang Yahudi. Sekarang lihat: “Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir.” Tetapi dia berkata, aku sedang merujuk kepada kota “di mana juga Tuhan mereka disalibkan” (Wahyu 11:8). Tuhan kita tidak disalibkan di Damaskus. Tuhan kita tidak disalibkan di Memfis atau Thebes. Tuhan kita tidak disalibkan di Gaza atau Askelon.  Tuhan kita tidak disalibkan di Filipi atau Antiokhia atau Roma. Tuhan kita telah disalibkan di Yerusalem. Lalu, dia sedang menggambarkan dosa dari kota itu dengan menyampaikannya secara rohani bahwa itu adalah Sodom dan diberikan kepada dosa dan Mesir di dalam keduniawian. Tetapi saya sedang berbicara tentang Yerusalem. Kata simbolnya merupakan “Sodom dan Mesir,” tetapi sebenarnya dia sedang merujuk ke Yerusalem.   

Baiklah. Lihat lagi ke dalam pasal itu. Di dalam ayat kedua disebutkan: “Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya” [Wahyu 11:2].  “Kota suci” merupakan sebuah kata, sebuah ungkapan, yang digunakan di dalam Alkitab hanya untuk sebuah kota. Tidak ada kota lain di bumi yang disebut “kota suci” kecuali Yerusalem. Satu-satunya pengecualian terhadap hal itu terdapat di dalam Kitab Wahyu pasal dua puluh satu dimana Yerusalem Baru disebut “kota suci, turun dari Allah, dari sorga” (Wahyu 21:2), dan tentu saja kota itu tidak akan diinjak-injak oleh pasukan dari bangsa-bangsa lain. Semua rujukan lainnya, dan ada begitu banyak rujukan, semua rujukan lain di dalam Alkitab terhadap kota suci merujuk kepada Yerusalem. Sebagai contoh, di dalam Kitab Nehemia pasal sebelas ayat pertama, Nehemia berkata, “Satu dari sepuluh orang menetap di Yerusalem, kota kudus itu” (Nehemia 11:1). Sembilan dari sepuluh ditempatkan di kota-kota lain di Yehuda, tetapi satu dari sepuluh disuruh untuk tinggal di “kota kudus.” Lalu contoh lainnya, yaitu di dalam ungkapan yang indah dan luar biasa dari pujian dan kemuliaan di Yesaya pasal 52, ayat 1: “Terjagalah, terjagalah. Kenakanlah pakaian kehormatanmu hai Yerusalem, kota yang kudus!” (Yesaya 52:1). Contoh lainnya, ketika Tuhan kita dicoabai dalam pencobaanNya yang kedua, iblis membawanya ke “kota suci” dan menempatkan Dia di atas puncak yang tinggi sekali dan meminta Dia untuk menjatuhkan diriNya dan membiarkan malaikat menahanNya sebagai sebuah tanda kepada dunia tentang keilahianNya. Contoh lainnya, terdapat di dalam Injil Matius pasal dua puluh tujuh—di sana ada sebuah catatan setelah kebangkitan Yesus, orang-orang kudus dibangkitkan dari kuburan mereka. Dan mereka menampakkan diri kepada banyak orang di “kota suci”—di Yerusalem. Jadi hal ini tanpa ragu merujuk ke Yerusalem.

Yerusalem adalah sebuah kota yang mengecilkan kota-kota lain di seluruh dunia. Tidak ada yang seperti itu. Tidak ada sesuatu yang di dalam tujuan elektif dan ekonomi Allah yang bahkan dapat mendekatinya. Suatu kali saya telah mendengar perkataan salah satu pelayan yang terkemuka yang berkata: “Ambillah sebuah peta, atau ambillah sebuah bola bumi, dan letakkan sebuah pin di daerah Timur Dekat, di pusatnya, yaitu Yerusalem. Dan ketika anda melakukan hal itu, maka anda akan menemukan bahwa bangsa-bangsa ke bagian kanan dari tempat itu, ke bagian timur, akan membaca dari kanan ke kiri. Kemudian tetap pertahankan pusat anda di sana, semua bangsa-bangsa ke bagian kanan dari tempat itu, ke arah barat, akan membaca dari kiri ke kanan. Kita berada di bagian barat. Kita membaca dari kiri ke kanan. Tetapi jika anda pergi ke bangsa-bangsa yang berada di bagian kanan dari tempat itu, ke bagian timur, Cina, Arab, dan seterusnya, mereka semua membaca dari kanan ke kiri. Tempat itu adalah pusat, seperti yang disampaikan Yehezkiel. Allah menenpatkannya di pusat bangsa-bangsa.” Tiga pusat benua besar berada di negeri itu: Afrika, Asia, Eropa. Itu adalah sebuah jembatan daratan yang besar antara ketiga benua itu. Tempat itu juga membagi waktu. Apa yang telah terjadi di tempat itu membagi seluruh waktu. Sebelum penyaliban Tuhan kita, di tempat itu adalah B.C. setelah penyaliban Tuhan kita, di tempat itu adalah A.D.  

Ada sebuah kepentingan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun di seluruh wilayah yang berada di sana. Yang yang paling besar dan luar biasa dan tidak terukur adalah lumbung minyak berada di area yang besar itu. Dan dengan hal itu nilainya menjadi semakin meningkat tahun demi tahun, itulah sebabnya kendali yang mengerikan di antara bangsa-bangsa di dunia dan terutama musuh-musuh kita, berusaha untuk memiliki kontrol dan untuk menggenggam dan memiliki kekayaan di area yang luar biasa itu. Itulah sebabnya mengapa pemerintahan di bawahan anugerah Allah yang kekal dan itulah sebabnya pemerintah dari dunia yang bebas   dan itulah sebabnya mengapa orang-orang yang mengasihi Allah dan yang mengasihi umat Allah dan kasih yang telah diberikan Allah kepada kita di dalam kemerdekaan kita dan kebebasan kita, mengapa kita tidak punya cara lain selain dari pada melakukan kemampuan terbaik kita, untuk memelihara, harta dan kekayaan yang luar biasa bagi orang-orang yang ada di dunia untuk menikmatinya di dalam kemerdekaan dan kebebasan. Anda tidak akan pernah dapat mengingkarinya, apa pun yang terjadi dalam putaran sejarah, anda tidak akan pernah dapat ingkar dari apa yang telah Allah sampaikan, bahwa pusat dari bangsa-bangsa ditemukan di tempat itu. Sejarah mungkin berubah ke dalam banyak arah, dan kita mungkin tertarik dengan Amerika Latin, kita mungkin tertarik dengan Asia Timur, dan kita mungkin tertarik dengan banyak tempat-tempat lainnya, tetapi ketertarikan Allah dan kepentingan Allah telah fokus di atas area yang ada di Asia Tengah akan tetap abadi sampai selama-lamanya. Jadi ketika saya membaca hal-hal ini di dalam Alkitab, mereka bukanlah sesuatu yang lain dengan apa yang saya baca dalam surat kabar harian, dari pada apa yang saya baca di dalam buku-buku sejarah, dari apa yang terbentang di depan mata saya setiap hari.   

Kemudian di dalam Kitab Roma pasal lima belas, Paulus sedang mendiskusikan apa yang telah Allah pilih bagi seluruh dunia ini. Dan dia memulai dengan kalimat ini: “Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat” [Roma 15:8].  Ia adalah seorang pengkhotbah Israel. “Keselamatan,” kata Tuhan, “berasal dari bangsa Yahudi” (Yohanes 4:22). Dia adalah seorang pelayan dari orang-orang bersunat; untuk menegaskan janji yang telah dibuat kepada bapa-bapa leluhur, sehingga bangsa-bangsa lain dapat memuliakan Allah atas kemurahanNya. “Seperti ada tertulis: Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa” [Roma 15:9]; dan lagi, “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya” [Roma 15:10].  Lalu, apakah anda melihat itu? Tidak ada sebuah berkat seperti sebuah berkat  yang diberikan kepada kita,  yang juga tidak memanggil sebuah berkat atas umatNya.  Seperti yang disampaikan Allah, “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa.” Itu adalah kita.  “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.” Itu bukan sebuah tujuan elektif Allah bahwa kita akan masuk ke dalam sebuah berkat yang besar dan Allah melupakan kovenan perjanjianNya dengan Israel. Kita semua berada pribadi-oribadi yang berasal dari Allah untuk diberkati. Dan kita semua berada di dalam program elektif Allah yang akan diberkati. Tetapi termasuk juga umat Allah. Pemazmur berkata, “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem; Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa” (Wahyu 122:6). Di dalam Alkitab, kita tidak dapat menemukan sebuah program utama dari Allah yang di dalam kesudahannya, yang di dalam puncaknya meninggalkan keluar kovenan perjanjian yang telah dibuat Tuhan dengan bapa-bapa leluhur Israel.  

Kemudian anda memiliki sebuah indikasi luar biasa dari yang lain tentang hal yand sama di dalam unsur waktu yang tertulis di pasal ini. Tidak hanya tempat, di sebelah sana, di jantung negeri itu, tetapi anda juga memiliki sebuah poin yang pasti di dalam waktu yang digunakan di sini: “Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya” [Wahyu 11:2]—empat puluh dua bulan.  Kemudian di dalam ayat berikutnya: “Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya—empat puluh dua bulan” [Wahyu 11:3].  Ketika saya berpaling ke dalam pasal berikutnya, saya membaca di dalam pasal dua belas ayat enam: “Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya” [Wahyu 12:6].  Kemudian saya melihat lagi di dalam pasal yang sama yaitu pasal dua belas, di dalam ayat empat belas: Ia akan dipelihara selama satu masa dan dua masa dan setengah masa”—selama tiga setengah tahun” [Wahyu 12:14]. Dan kemudian di dalam pasal tiga belas ayat lima: “empat puluh dua bulan.” Jadi di sana ada lima ruang  waktu yang selalu merujuk kepada panjang waktu yang sama—empat puluh dua bulan, seribu dua ratus enam puluh hari; tiga setengah tahun. Apakah Dia mengeluarkan begitu saja dari pikiranNya? Apakah Dia hanya membayangkannya saja? Jika seperti itu, mengapa Dia tidak menulisnya di dalam sebuah sorotan yaitu empat puluh delapan bulan? Di tempat berikutnya mengapa Dia tidak berkata seribu dua ratus hari? Di tepat berikutnya, mengapa Dia tidak berkata tiga dan setengah tahun? Mengapa periode waktunya selalu sama? Seribu dua ratus enam puluh hari; tiga dan setengah tahun; satu masa dan dua masa dan setengah masa dan sebuah pembagian waktu. Tentu saja hal itu bermakna sesuatu dan sesuatu yang dalam.  

Jadi hal itu sangat jelas merujuk kepada apa. Karena hal itu telah seringkali saya temukan sebelumnya. Ketika saya melihat ke dalam Kitab Daniel, saya melihat di sana ungkapan dan batas waktu yang sama. Dan dengan membacanya di dalam Kitab Daniel dan berpaling ke dalam Kitab Wahyu, saya dapat melihat secara tepat, apa yang telah diberikan Allah kepada Yohanes ketika dia menggambarkan secara jelas tentang kesudahan zaman. Baiklah, lihat ke dalam bagian itu. Di dalam Kitab Daniel pasal sembilan ayat 24: “Tujuh puluh kali tujuh”—anda memiliki terjemahan yang menyebutnya dengan “masa”  Di dalam bahasa Ibrani kata yang tepat adalah “minggu dari tahun-tahun.” Kata Ibrani adalah “tujuh puluh kali tujuh tahun”—empat puluh sembilan tahun—“Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan (dan untuk membuat rekonsiliasi atas kejahatan kita), untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nubuatan—untuk membawanya ke dalam kesimpulan akhir—dan untuk mengurapi yang maha kudus”—Allah, Kristus Tuhan kita, Raja sorga dan bumi [Daniel 9:24].  Jadi, itu adalah sebuah nubuatan yang sangat jelas. Tujuh puluh kali tujuh tahun, empat puluh sembilan tahun ditetapkan untuk menghapuskan dosa, untuk mengakhiri pemberontakan, untuk membawa ke dalam kebenaran kekal—kerajaan, yang mana di dalamnya kebenaran akan berdiam dengan kekal—untuk memateraikan penglihatan dan nubuatan, untuk menggenapi semuanya—mereka disimpulkan, Alkitab ditutup—dan untuk mengurapi Raja dan Tuhan atas sorga dan bumi, Kritus yang agung dan mulia. 

Lalu, dia mengambil tujuh puluh kali tujuh tahun itu dan membaginya menjadi dua bagian.  “Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali” [Daniel 9:25].  Akhirnya hal itu digenapi pada tahun kedua puluh pemerintahan Koresy pada tahuan [455] B.C.  Dari tahun kedua puluh pemerintahan Koresy, “Dari perintah untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem sampai kedatangan Mesias—hingga kedatangan Yesus—akan menjadi enam puluh sembilan kali tujuh masa, dan sesudah itu Mesias akan disingkirkan (Daniel 9:25-26). Jadi dimulai pada tahun kedua puluh pemerintahan Koresy dan hingga tahun ke enam puluh sembilan maka anda akan smpai ke tahun 30 A.D., ketika Yesus disingkirkan. Dan kemudian dia memisahkan minggu yang terakhir, dari ketujuh puluh minggu itu. Karena minggu ketujuh puluh itu akan membawa kerajaan Allah yang kekal. Hal itu membawa kepada kesudahan zaman. Hal itu menggenapi seluruh tujuan Allah di bumi. Hal itu menggenapi seluruh penglihatan dan nubuatan. Dan kerajaan yang kekal datang dan Kristus berkuasa selamanya dan sesudahnya sebagai Tuhan di sorga dan di bumi.

Lalu bagaimana dengan tujuh minggu yang terakhir itu, yang dipisahkan secara tersendiri? Dia—penguasa itu, antikristus itu adalah seseorang yang berperang melawan Allah—dia akan membuat sebuah perjanjian untuk satu masa itu.  “Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan” [Daniel 9:27].  Dan kemudian diikuti oleh nubutan yang mengerikan yang ada di sini dari Masa Kesusahan Besar. Lalu minggu terakhir itu dibagi oleh Daniel menjadi dua bagian—Allah membaginya menjadi dua bagian—tiga setengah tahun dan tiga setengah tahun—empat puluh dua bulan, seribu dua ratus enam puluh hari; satu masa, dua masa dan setengah masa. Minggu yang terakhir di dalam Kitab Daniel dibagi dua. Minggu dari tujuh tahun itu adalah tiga setengah tahun. Sebagai contoh di dalam Diniel 7:25: “Satu masa, dua masa dan setengah masa—setengah dari masa tujuh tahun itu.” Di dalam Daniel 12:7: “Lalu bersumpah demi Dia yang hidup kekal, sambil mengangkat tangan kanan dan tangan kirinya ke langit: Satu masa dan dua masa dan setengah masa.”  Lalu, itu adalah asal dari bilangan itu. Hal itu berasal dari minggu ketujuh Daniel—minggu ketujuh Allah yang dibagi menjadi tiga setengah tahun. Setengah dari tujuh adalah tiga setengah tujuh tahun; empat puluh dua bulan; seribu dua ratus enam puluh hari, satu masa, dua masa dan setengah masa.

Mingggu yang terakhir itu, minggu ketujuh dari nubuatan itu, membawa kepada kesudahan zaman. Dan apa yang terjadi di dalam Alkitab ini adalah hal ini: Diantara minggu ke enam puluh sembilan hingga Tuhan datang dan disingkirkan—di akhir minggu ke enam puluh sembilan itu dan tujuh minggu yang terakhir yang membawa kepada kesudahan zaman, di sana ada sebuah jeda yang panjang—sebuah selingan yang besar. Dan Paulus berkata di dalam Efesus pasal tiga, dan di beberapa tempat lainnya di dalam surat-suratnya, Paulus berkata bahwa di selang waktu yang panjang itu, yang sekarang kita tinggali, di jeda yang besar itu, dia berkata bahwa itu adalah sebuah musterion.  Itu adalah sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam hati Allah dan para nabi tidak pernah melihatnya. Dan nabi-nabi tidak pernah memimpikannya. Tetapi Allah menyingkapkannya kepada rasul-rasulNya yang kudus—kepada Paulus, kepada Yohanes dan rasul-rasul yang lainnya. Jadi antara minggu keenam puluh sembilan dan tujuh minggu yang terakhir merupakan sebuah periode selingan yang panjang dan jeda yang besar—periode dari jemaat, periode dari pemberitaan Injil, dari gema kabar baik, tentang pengampunan dosa di dalam Kristus Tuhan kita, tentang pembangunan rumah tangga iman yang besar. Hal itu berada di dalam sebuah selingan yang panjang yang tersembunyi di dalam tujuan Allah dan para nabi tidak pernah melihatnya. Dan para nabi tidak pernah mengetahuinya. Daniel yang merupakan nabi Perjanjian Lama tidak pernah melihatnya. Tujuh minggu ini, minggu yang terakhir dari Daniel, minggu itu adalah Wahyu, perhitungan, gambaran yang jelas, penyingkapan dari kesudahan zaman adalah Wahyu. Ketika hal itu disampaikan kepada Daniel, Daniel berkata, “Memang kudengar hal itu, tetapi tidak memahaminya.”  Tetapi Allah menjawab: "Pergilah, Daniel, sebab firman ini akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman” [Daniel 12:9].  Kitab yang dimateraikan yang tertutup bagi Daniel adalah kitab terbuka yang dibentangkan di hadapan nabi-nabi dan pelihat Wahyu. Dan apa yang telah ditutup dan tidak disingkapkan kepada Daniel, sekarang disingkapkan di dalam Kitab Wahyu. Tujuh minggu terakhir yang merupakan akhir dan puncak serta klimaks dari akhir masa, kesudahan zaman—itulah yang dimaksudkan dalam Wahyu. Penyingkapkan bukanlah sebuah uarian tentang hari manusia. Penyingkapan atau Wahyu merupakan sebuah uaraian tentang hari Tuhan. Wahyu bukanlah sebuah penyingkapan dari sejarah manusia. Wahyu adalah sebuah penyingkapan dari kekuasaan Raja yang mulia. Itu adalah Penyingkapan tentang Yesus Kristus. Itu adalah sebuah pembukaan tutup, sehingga kita melihat tentang kesudahan zaman yang terakhir. Dan itulah yang ad abaca di dalam Wahyu. Dan ketika bilangan-bilangan ini digunakan seperti empat puluh dua bulan, seribu dua ratus enam puluh hari, tiga setengah tahun, satu masa, dua masa dan setengah masa, hal itu merujuk kepada klimaks dari minggu ketujuh yang terakhir yang digambarkan di dalam Kitab Daniel—di mana hal itu membawa kedalam kerajaan Allah dan kesudahan zaman. 

Jadi ketika saya membaca di dalam Kitab Wahyu pasal sebelas dan sisa pasal-pasal itu, saya berada di dalam sebuah dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang sekarang saya tinggali. Itu adalah sebuah masa yang berbeda. Itu adalah sebuah dispensasi yang berbeda. Itu adalah sebuah zaman yang berbeda. Sekarang, tidak ada kota suci itu. Tidak ada kota suci di tempat lainnya. Dari semua kota-kota yang ada di dunia saat ini, saya berpikir bahwa Yeruslaen akan dikualifikasikan sebagai salah satu kota terburuk. Ada sebuah bagian yang luas dari Yerusalem, seperempat dari Yahudi yang lama berada di dalam reruntuhan. Itu adalah sebuah daerah tidak bertuan. Itu adalah tempat tinggal dari kelelawar, dan binatang kecil penggangu dan burung hantu serta binatang malam. Itu dalah sebuah tempat yang buruk. Itu adalah sebuah reruntuhan. Tidak ada sebuah kota suci di anatara kota-kota lainnya. Bukan sekarang. Bukan di masa kita. Bukan di era kita. Tidak ada sebuah ruang suci di dunia ini pada saat sekarang, bagi seseorang untuk menyembah Allah. Di sudut dapur sekarang sama baiknya dengan sebuah katedral untuk menyembah Allah. Dan  tempat di mana seseorang berseru kepada nama Allah pada saat sekarang ini merupakan tempat suci. Tuhan kita berkata kepada perempuan Samarian di tepi sumur, Dia berkata:  “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. ” [Yohanes 4:23].  Setiap tempat adalah tempat kudus bagi seseorang untuk menyembah Allah. Anda dapat pergi ke tempat tidur, anda dapat pergi ke dapur, anda dapat pergi ke mana saja. Itu adalah tempat terbaik untuk memanggil Allah setiap saat, setiap hari. Di sebuah meja ketika anda sedang bekerja, atau sementara anda mengemudi di atas sebuah mobil, atau saat anda pergi bekerja di dalam sebuah kendaraan. Ruang kudus kita menurut Kitab Ibrani pasal sepuluh berada di dalam sorga. Imam Besar kita berada di sorga. Dan berdasarkan Kitab Ibrani pasal tiga belas korban kita adalah pujian kepada Allah dan mengasihi sesama. Ini adalam masa yang di dalamnya kita hidup. Di dalam zaman ini, tidak ada manusia yang lebih tinggi dari yang lain. Di sana mungkin ada orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain, di sana mungkin ada orang Yunani dan orang Barbar dan orang Roma atau orang-orang asing, tetapi di dalam pandangan Allah kita semua sama. Di dalam kasih persaudaraan yang besar dari iman Kristen, di dalam jemaat Kristus, kita semua saudara, tidak ada yang lebih tinggi di atas orang lain. Itu adalah masa yang sekarang kita tinggali.

Tetapi, Kitab Wahyu adalah Roma pasal sebelas—dimulai dari ayat dua puluh hingga ayat yang terakhir dari pasal itu: “Jangan kamu sombong,” kata Paulus kepada kita yang berasal dari bangsa-bangsa lain—“jangan kamu sombong, tetapi takutlah; Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli,” dari pohon zaitun Israel dan mencangkokan kamu dan membuat kamu menjadi anggota dari rumah tangga iman, janga lupa bahwa Allah juga dapat—Allah juga dapat mengambil keluar cabang yang dicangkokkan ini dan mengembalikan cabang yang asli.  “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai,” katanya, “aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini  musterion ini,” Sebagian dari Israel telah menjadi tegar.  Hal ini terjadi kepada Israel sampai jumlah yang penuh (pleroma) dari bangsa-bangsa lain telah masuk.  Dan ketika hal itu terjadi seluruh Israel akan diselamatkan oleh Allah. Seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.” Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, … Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu.”  Mereka telah menyalibkan Tuhan Yesus sehingga kita memiliki penebusan di dalam Dia. Tetapi berdasarkan perjanjian mereka adalah kekasih Bapa. Berdasarkan tujuan elektif Allah, mereka berharga di mataNya. Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Allah tidak berubah. “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.”

Lalu, apa yang Allah sampaikan adalah hal ini: bahwa di sana ada sebuah pleroma dari bangsa-bangsa lain. Dan dalam seluruh Firman Allah, hal yang sama digunakan dan diungkapkan secara berulang-ulang. Di sana ada sebuah pleroma—di sama ada jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain untuk masuk ke dalam. Sebelum dasar-dasar dunia ditetapkan, Allah telah menulis di sana, di hadapan Dia Kitab Kehidupan Anak Domba. Dan ketika jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain itu telah masuk ke dalam, ketika semua orang yang namanya tertulis di dalam Kitab Kehidupan telah diselamatkan, ketika orang terakhir yang dikenal di dalam tujuan elektif Allah datang melalui lorong bangku itu dan menyerahkan hatinya kepada Yesus, ketika orang terhilang yang terakhir telah masuk, maka kita akan masuk ke dalam kesudahan akhir, minggu ketujuh yang terakhir dari Kitab Daniel ketika Allah akan mengingat kovenan yang telah Dia buat dengan bapa-bapa leluhur dan bapa-bapa Israel. Dan ketika Allah berdasarkan penglihatan di dalam Kitab Wahyu, berdasarkan penyingkapan Yesus Kristus, ketika Allah akan membawa kerajaanNya ke dunia dan ketika kita bersukacita di dalam penampakan Tuhan Yesus yang mulia, yang akan terlihat secara terbuka dan di hadapan orang banyak sebagai Raja yang luar biasa dari sorga dan bumi, itulah yang dimaksudkan oleh Kitab Wahyu. Kitab Wahyu berisi tentang hal-hal itu. “Oh,” kata Paulus dalam menutup pasal sebelas Kitab Roma—“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” [Roma 11:33-36]. 

 Dan bahwa kita dapat memiliki sebuah jaminan dan di dalam tujuan Allah, Allah membuat kita mengetahuinya, bagaimana kesudahan zaman ini akan digenapi, semuanya ada di dalam pembacaan Kitab Wahyu. Oh, sukar bagi saya untuk mempercayai bahwa mata saya yang fana pada suatu hari akan dapat melihat hal-hal ini, bahwa bingkai yang terbuat dari debu tanah ini pada suatu hari akan berbagi di dalam hal-hal ini yang telah diberikan Allah kepada kita—kepada kita, seorang pengikut ahli waris di dalam kerajaan Tuhan Allah yang luar biasa. Kita tampak begitu miskin. Kita tampak begitu hina. Kita tampak begitu berdosa. Terbuat dari debu tanah, kita seperti cacing-cacing tanah. Tetapi Allah di dalam tujuan elektifNya telah memiliki maksud di dalam hatinya untuk membuat kita lebih tinggi dari malaikat. Oh, mulialah namaNya bahwa kita akan termasuk ke dalam keluarga iman dan rumah tangga yang memiliki kekayaan kekal yang mulia di di dalam Kristus Yesus. Kita tidak dapat mewujudkannya, tetapi hal itu dapat diwujudkan oleh Allah yang menuliskannya di dalam Kitab Wahyu—di dalam Penyingkapan dan penglihatan, supaya kita dapat melihat dan bersukacita. 

Oh, saya benci untuk menghentikan khotbah ini, tetapi kita harus. Kita akan menyanyikan lagu undangan kita, jika ada seseorang yang ingin menyerahkan hati anda kepada Yesus, yang ingin bergabung ke dalam persekutuan jemaat ini. Ketika kita menyanyikan lagu kita dan memberikan undangan, anda boleh datang dan berdiri di dekat saya. Bagi anda yang berada di atas balkon atau yang berada di lantai bawah, mari datanglah. Untuk mengambil posisi anda, keputusan anda, pengakuan anda secara terbuka tentang komitmen anda kepada Kristus. Katakan, “Pendeta, inilah saya dan saya akan datang segera.” Atau sebuah keluarga dari anda, yang ingin bergabung ke dalam persekutuan jemaat ini, katakan, “Pendeta, inilah saya dan saya akan datang segera.” Pada baris yang pertama dari bait yang pertama, buatlah sekarang. Lakukanlah pada pagi hari ini, ketika Allah menyampaikan firman dan menuntun jalan anda, mari datanglah, ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu kita. 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.