MISTERI AKHIR ALLAH

(THE FINISHED MYSTERY OF GOD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 10:1-7

07-22-62

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pada pukul sebelas pagi, khotbah yang berjudul: Akhir Dari Misteri Allah. Dan itu adalah sebuah permintaan untuk dijelaskan, karena di dalam jadwal kita, khotbah yang seharusnya pada hari ini berjudul, “Buku Kecil Yang Pahit Manis.” Dan itu adalah tujuan dalam mempersiapkan dan menyampaikan khotbah pada pagi hari ini. Tetapi pada pukul 8:15 pagi, saya hanya dapat mengeksegesis dan menjelaskan  bagian pertama dari pasal sepuluh Kitab Wahyu dan tidak dapat membahas “buku kecil yang pahit manis” sama sekali. Alasannya: dua minggu yang terakhir saya telah berusaha untuk mempercepat khotbah melalui Kitab Wahyu ini. Saya telah berkhotbah selama satu tahun  tujuh bulan melalui Kitab Wahyu. Dan saya takut bahwa banyak dari kita yang terlalu tua untuk mendengarkannya lebih lanjut sebelum saya selesai atau Tuhan akan datang, seperti yang disampaikan oleh seorang remaja ketika saya mengkhotbahkan kitab ini. Jadi saya berpikiran bahwa saya harus mempercepatnya. Dan itu juga yang menjadi tujuan saya untuk khotbah pada hari ini. Tetapi saya bahkan tidak dapat memulai untuk membahas hal-hal yang ingin saya sampaikan. Jadi saya tidak akan mencobanya pada pagi hari ini. Dan sekarang saya telah mengubah khotbah ini karena kita hanya akan mengambil bagian pertama dari pasal sepuluh Kitab Wahyu. Kita akan menyebutnya dengan Akhir Dari Misteri Allah. Penggenapan Misteri Allah—dan seterusnya, itu akan menjadi sebuah eksposisi dari tujuh ayat pertama dalam pasal sepuluh Kitab Wahyu. Dan jika anda mau mengikutinya di dalam Alkitab, anda dapat dengan mudah melakukannya. Segala sesuatu yang saya sampaikan merupakan sebuah eksposisi dari Firman yang tertulis di lembaran-lembaran kudus ini.

Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.

Dalam tangannya ia memegang sebuah gulungan kitab kecil yang terbuka. Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi,

Dan ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum. Dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya.

Dan sesudah ketujuh guruh itu selesai berbicara, aku mau menuliskannya, tetapi aku mendengar suatu suara dari sorga berkata: "Meteraikanlah apa yang dikatakan oleh ketujuh guruh itu dan janganlah engkau menuliskannya!"

Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit,

Dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: "Tidak akan ada penundaan lagi!

Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi." [Wahyu 10:1-7].

 

Bagian yang telah kita baca ini merupakan isi dari sebuah selingan yang panjang antara seri dari septenarii penghukuman. Ketiga seri itu dibuat dengan sama persis. Mereka dibagi menjadi empat dan tiga—seri dari tujuh materai, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan murka Allah. Kemudian ketiga yang terakhir selalu dipisahkan dari empat bagian yang pertama. Lalu bagian ketiga yang terakhir dari semua seri itu dibagi menjadi dua bagian dan satu bagian. Dan antara dua bagian dan satu bagian, antara yang keenam dan yang ketujuh. Dan di sana selalu ada sebuah selingan antara yang ketujuh dan yang keenam. Pasal ketujuh dari Kitab Wahyu adalah sebuah selingan—antara sangkakala keenam dan yang ketujuh. Antara cawan keenam dan cawan ketujuh dari cawan murka. Wahyu 6:15, adalah sebuah selingan. Dan di dalam seri ini yang telah kita ikuti—dari sangakakala penghukuman, sangkakala keenam dan yang ketujuh. Pasal 10, sampai pasal 11 ayat 14 adalah sebuah selingan—selingan yang sangat ringkas antara cawan yang keenam dan yang ketujuh dari cawan murka Allah. Dan selingan yang terpanjang terdapat antara keenam sangkakala yang pertama dengan sangkakala yang ketujuh. Selingan itu ditulis sebagai dorongan dan penghiburan dan jaminan dari umat Allah yang  di dalam sebuah dunian yang gelap dan terbakar. Anda mungkin berpikir dari kemajuan dan perkembangan kejahatan, raja yang paling utama dari bumi ini adalah Setan dan kejahatan akan mengalir seperti sebuah banjir. Tetapi selingan ini ditulis untuk mengingatkan kita bahwa Allah tetap berdaulat dan umatNya tetap diingat dan kemenangan yang pokok itu akan menjadi milik kita.   

Sekarang kita akan memulai penjelasan ini di dalam Kitab Wahyu pasal sepuluh. 

Dan aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari sorga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api….

Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi,

Dan ia berseru dengan suara nyaring sama seperti singa yang mengaum. Dan sesudah ia berseru, ketujuh guruh itu memperdengarkan suaranya….

Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit,

Dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: "Tidak akan ada penundaan lagi! Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah, seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi." [Wahyu 10:1-7]

 

Tidak ada visi pewahyuan yang paling agung yang dapat dibayangkan atau dikhayalkan selain dari pada hal ini. Kehebatan dari penglihatan itu melampaui segala sesuatu di dalam literatur. Sebagai contoh, saya telah menyalin dua reaksi dari manusia yang membaca penglihatan ini. Ini adalah salah satunya: “Uraian dari malaikat ini telah dihormati oleh setiap sarjana klasik. Abstrak dari makna rohaninya dan dipertimbangkan hanya sebagai sebuah produksi literatur. Berdiri tanpa tiada tara oleh segala sesuatu yang kita temui dengan semua bagian-bagian dari Literatur Roma dan Yunani.” Tidak ada gambaran seperti itu di dalam martabat dan keagungan dan kemuliaan dan keajaiban sorgawi seperti gambaran yang diumumkan malaikat di dalam Kitab Wahyu pasal sepuluh. Sekarang saya menyalin hal lainnya—Saya menyukai hal ini. Ini adalah salah satu penghormatan yang paling fasih yang dapat anda bayangkan. Penulis ini mengambil sebuah uraian yang memakai bunyi awalan yang sama dari malaikat itu, dan kemudian inilah yang dia sampaikan: 

Jadilah senang untuk mengamati aspek dari tokoh terkemuka ini. Semua cahaya matahari bersinar dengan terang benderang di wajahnya dan nyala api pada kakinya. Lihat pakaiannya. Awan-awan menyusun pakaiannya dan tirai sorgawi di atas bahunya. Pelangi membentuk mahkotanya dan jangka sorga dengan sebuah lingkaran mulia menjadi hiasan dari kepalanya. Lihatlah sikapnya. Satu kaki berjejak di atas laut dan yang lainnya di atas daratan. Bumi dan dunia air yang luas bertindak sebagai alas bagi ruang yang hebat itu. Pertimbangkanlah aksinya. Tangannya diangkat hingga bintang yang tertinggi. Dia berbicara dan wilayah-wilayah cakrawala bergema dengan aksen yang kuat seperti tengah malam di padang gurun yang bergema dengan auman singa. Artileri dari langit dilepaskan dengan tanda itu. Tujuh guruh menyebarkan tanda bahaya dan mempersiapkan alam semesta untuk menerima perintahnya. Untuk menyelesaikan semuanya dan memberikan penghormatan yang paling tinggi sebagai keagungan yang paling tinggi untuk direpresentasikan, dia bersumpah demi dirinya sendiri yang hidup sampai selama-lamanya.   

Bukankah itu sangat luar biasa? Saya tidak tahu siapakah orang itu. Saya tidak pernah mendengar tentang dia. Tetapi saya akan suka mendengarnya berkhotbah. Itu adalah kefasihan yang sesungguhnya. 

Kemudian, malaikat yang perkasa ini turun dari sorga, tidak begitu banyak hal yang dapat diekspos sebagai sebuah titik keberangkatan tentang kediamannya. Dia adalah seorang    mahluk sorgawi. Dan dia turun dari sorga yang dibalut dengan sebuah awan, sebuah gambaran dari keagungan dan martabat dari pribadinya. Di sekitarnya kakinya ada api yang membara di dalam kemuliaan shekinah Allah. Dan sebuah pelangi di atas kepalanya dan kakinya bagaikan tiang api. Itu adalah sebuah gambaran dari penghukuman Allah, tembaga yang membara, tiang api yang berwarna kuning. Dan sebuah gambaran dari ingatan dan kasih karunia, kovenan pemeliharaan Allah. Wakil yang berasal dari sorga ini memiliki kuasa untuk melaksanakan penghukuman atas bumi—“kakinya bagaikan tiang api.” Tetapi juga mengingat kasih sayang di dalam murka dan penghukuman—“mukanya sama seperti matahari.” Betapa brilian, betapa sukar untuk dilukiskan, gilang gemilang, sangat mulia—seseorang tidak akan dapat memandang wajahnya tanpa mata yang telanjang dan tidak diselubungi!—“mukanya sama seperti matahari.” “Ia menginjakkan kaki kanannya di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi…. Dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: "Tidak akan ada penundaan lagi! Tetapi sekaranglah waktunya ketika Allah akan mengambil bagi diriNya seluruh ciptaan dan akan memerintah atas seluruh bumi.”

Itu merupakan sebuah lukisan yang sangat bagus sekali; begitu luar biasa sehingga hampir semua sarjana setuju dengan suara bulat berkata bahwa malaikat yang kuat itu tidak lain selain dari pada sebuah representasi, sebuah gambaran dari Kristus Tuhan sendiri. Mungkin hal itu benar. Ini mungkin sebuah deskripsi dari Yesus. ini mungkin sebuah gambaran dari Tuhan kita yang mulia. Atau pun saya tidak akan berdebat dengan orang-orang yang melihat malaikat ini sebagai sebuah lukisan dari Juruselamat kita. Saya tidak berpikir seperti itu. Saya berpikir bahwa gambaran dari malaikat yang ada di sini adalah sebuah duta yang berkuasa penuh, yang menjadi wakil Kristus. Di sini disebutkan bahwa mukanya sama seperti matahari. Kemudian di dalam Kitab Wahyu pasal delapan belas ayat pertama merupakan sebuah gambaran dari malaikat. Itu merupakan malaikat yang sama yang turun dari sorga yang memiliki kuasa yang besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaanNya. Tetapi anda melihat bahwa hanya sedikit orang yang akan berkata bahwa malaikat yang ada di pasal delapan belas adalah sebuah lukisan dari Tuhan. Di situ disebutkan bahwa dia memiliki sebuah pelangi di atas kepalanya dan kakinya bagaikan tiang api, dan bahwa di dalam nama Dia yang hidup sampai selama-lamanya, dia mengambil seluruh kepemilikan atas seluruh ciptaan. Mungkin hal itu benar. Hal itu mungkin Tuhan sendiri yang melakukan hal ini. Tetapi nadanya seperti sebuah perwakilan dari Allah. Dia bersumpah demi Tuhan. Lalu, di dalam Kitab Kejadian. Karena Tuhan tidak dapat bersumpah demi orang lain yang lebih besar dari diriNya sendiri, Dia bersumpah atas diriNya sendiri. Hal itu mungkin sama dengan yang di sini. Mungkin ketika Dia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, Dia bersumpah demi diriNya sendiri. Tetapi saya berpikir bahwa dia bukan gambaran dari Tuhan. 

Malaikat ini muncul di sepanjang Kitab Wahyu. Di dalam pasal 5, ada seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: "Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?" [Wahyu 5:2].  Di dalam Wahyu pasal tujuh, disana ada sebuah malaikat imam yang melayani di mezbah Allah dan membawa ke hadapan Allah seluruh ingatan dari seluruh doa-doa dari anak-anak Allah yang kudus. Dan di dalam pasal delapan belas. Dan di dalam pasal delapan belas, malaikat yang cemerlang yang menerangi bumi oleh dengan kemuliaan kehadirannya. Dan kemudian malaikat yang ada di sini. Saya menduga mereka mungkin malaikat yang sama. Tetapi saya juga berpikir bahwa dia adalah beberapa ciptaan yang mulia dari Tuhan Allah yang melayani di hadapan takhta sorga. Sebagai contoh, Mikhael, penghulu malaikat, namanya berarti, “seseorang seperti Allah.” Jika anda melihat bentuk dan sosok dan kemuliaan malaikat, anda mungkin akan berpikir, “Aku melihat anda sendiri.” Kecemerlangan, kehebatan, kemegahan, oh, karunia sorga dari Allah sendiri ada di dalam diri malaikat yang terlihat seperti Allah—Mikhael, seseorang yang seperti Allah. Jadi bagi saya, ini adalah seorang wakil dari sorga dan seseorang yang sangat mulia. Lebih dari enam puluh kali, disamping referensi kepada malaikat dari ketujuh jemaat—lebih dari enam puluh kali malaikat dirujuk di dalam Kitab Wahyu. Dan setiap kali, itu adalah sebuah referensi terhadap pelayanan mereka kepada Allah.

Jadi malaikat ini, sebagai duta dari Allah, mewakili Allah atas bumi, laut dan seluruh ciptaan. Dan dia menginjakkan kaki kanannya di atas di atas laut dan kaki kirinya di atas bumi dan bersumpah demi Allah yang hidup selama-lamanya bahwa hal-hal ini menjadi milik Allah dan dia memegang di dalam tangannya hak yang penuh untuk mereklamasi mereka. Kemudian, ketika dia menjejakkan kakinya di atas bumi dan di atas laut, itu adalah sebuah tanda—bahwa itu adalah sebuah gambaran bahwa Allah bermaksud untuk mengambil hal-hal ini bagi diriNya sendiri. Inilah makna dari gambaran iti, dari tipe itu. Ketika seseorang menjejakkan kakinya di atas sesuatu, itu adalah gambaran dari kepemilikan. Sebagai contoh, di dalam Kitab Ulangan pasal delapan, Allah berfirman kepada umatNya:  “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya….Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu: Tuhan, Allahmu, akan membuat seluruh negeri yang kau injak itu menjadi gemetar dan takut kepadamu, seperti yang dijanjikan Tuhan kepadamu,” itu akan menjadi milikmu [Ulangan 11:24, 25].  Dan hal yang sama diulang kembali dalam Yosua pasal pertama Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.” [Yosua 1:3].  Jadi ketika dia menjejakkan kakinya di atas laut dan bumi, itu adalah sebuah tanda dari kepemilikan hal-hal ini bagi Tuhan Allah. Salah satu hal yang paling lucu yang pernah saya dengar dalam jemaat ini adalah pada saat perjamuan makan. Dan pemimpin acara sedang berbicara tentang pernikahannya. Dan dia berkata, “ Ketika saya menikah, saya mengangkat pengantin perempuan saya di atas lengan saya dan dengan lembut dan penuh kasih saya membawanya ke depan pintu, dan di sana dia menurunkan kakinya.” Itu bermakna kepemilikan—sama seperti yang ada di sini. 

Lalu, malaikat yang memiliki seluruh ciptaan untuk Allah bersumpah bahwa tidak akan ada lagi penundaan.  “Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah,—di dalam tujuan elektif Allah, itu adalah maksud dari Allah—anda memiliki sebuah konstuksi yang berbeda di sini, dalam bahasa Yunani—maka akan genaplah keputusan rahasia Allah” [Wahyu 10:7].  Itu adalah ketetapan Allah, tujuan elektif yang yang ada di dalamnya. Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah—seperti yang telah Ia beritakan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi” [Wahyu 10:7]. 

Lalu, “rahasia Allah” itu adalah penundaan yang lama  dari Tuhan kita untuk mengambil kerajaan itu bagi diriNya sendiri dan dalam membangun kebenaran di dunia. Rahasia dari Allah terlihat di dalam ribuan tahun di dalam dosa dan maut dan huru hara. Tidak ada sebuah desa dan tidak ada dusun kecil tanpa amukannya dan tidak ada hati manusia tanpa kegelapannya, noda yang hitam. Tidak ada kehidupan yang tanpa air matanya dan penderitaannya. Dan tidak ada sebuah rumah yang akhirnya tidak terpecah dan terpisah dan tidak ada keluarga yang tidak berdiri untuk melihat dan mengamati perpisahan itu. Setiap lingkaran terputus—tidak ada kehidupan yang tidak berakhir di dalam kematian. Dan lembaran sejarah, dari masa pembunuhan yang pertama hingga masa sekarang ini ditulis di dalam darah dan air mata serta kematian. Rahasia dari penundaan Allah dalam mengambil kerajaan itu bagi diriNya sendiri. Dan itu adalah rahasia yang paling tidak dapat dijelaskan yang pernah dihadapi oleh pikiran manusia—mengapa ada kejahatan? Mengapa kejahatan hadir? Mengapa selama ribuan tahun ini Allah mengijinkan Setan untuk  membungkus kekejamannya, yang berlumpur dan tentakel guritanya yang kejam dan  dekil di sekitar kehidupan manusia dan sekitar dunia ini? Dan jika Allah mengetahuinya, Dia mengabaikannya dan atau bahkan tidak dapat mengatasinya—rahasia dari penundaan Allah ini.  Rahasia ini telah membawa sandungan yang lebih besar kepada iman umat Allah dari pada orang lain yang mengalaminya dalam hidup dan meletakkannya bersama-sama. Orang kafir dan ateis dan agnostik dan orang-orang yang tidak percaya bangkit dan menghina kita. Dan Allah membiarkan mereka menghina dan membiarkan mereka hidup. Musuh dari kebenaran dan musuh dari segala sesuatu yang kita kasihi bangkit dan meningkat di dalam kekuatan dan menyebarkan darah mereka dan kegelapan mereka di atas muka bumi. Dan anda menjadi ragu: Dimanakah Allah? Misionaris- misionaris dibunuh. Gereja-gereja kita dibakar hingga rata dengan tanah. Manusia di dalam dunia ini berjumlah jutaan orang ditekan dan mereka hidup di dalam keputusasaan. Dan Allah hanya melihat. Dia tidak campur tangan. Dia tidak berkata apa-apa. Dia tidak bergerak. Hal itu terus berkembang dan terus berkembang—rahasia dari penundaan Tuhan Allah!

Tetapi di suatu tempat, di balik langit yang penuh bintang, di sana ada seorang malaikat dengan sebuah sangkakala di tangannya dan dengan keputusan dari Allah, di sana ada sebuah hari, sebuah waktu, sebuah momen, sebuah waktu yang telah ditetapkan ketika malaikat itu akan meniup sangkakala dan kerajaan-kerajaan dunia ini akan menjadi kerajaan Allah kita dan Kristus—“Tetapi pada waktu bunyi sangkakala dari malaikat yang ketujuh, yaitu apabila ia meniup sangkakalanya, maka akan genaplah keputusan rahasia Allah” [Wahyu 10:7]. Kesabaran Tuhan akan berakhir. Allah berkata kepada maut, “Ini adalah korbanmu yang terakhir.” Allah akan berkata kepada Setan, “Ini adalah kehancuran yang terakhir.” Allah akan berkata kepada kejahatan, “Ini adalah nafasmu yang terakhir.” Dan Allah akan berkata kepada dosa, “Ini adalah kerusakan dan hukumanmu yang terakhir.” Iblis menarik seperti Sungai Efrat, yang digulung ke lautan luas yang rusak dan setiap keberangkatan dari Allah adalah sebuah jajahan dari hal itu. Setiap generasi menerima dari generasi sebelumnya, warisan yang mengerikan dan menakutkan ini dari kejahatan yang telah ditetapkan di hadapan kita. Dan mereka telah matang untuk dipanen. Dan kita menyampaikannya kepada anak-anak kita dan cucu kita. Apakah pasang naik akan berlangsung terus menerus? Apakah dosa akan berkuasa selamanya? Apakah kematian akan berkuasa selamanya? Apakah kuburan akan dipenuhi selamanya? Allah berkata bahwa di sana ada sebuah batas, di sana ada sebuah palang, di sana ada sebuah tanggul parit yang mana kejatahan itu tidak akan dapat menggulungnya. Dan Allah berkata di hari malaikat ketujuh itu meniup sangkakala, kerajaan dunia akan menjadi kerajaan Allah kita dan kerajaan Kristus.  

Hal-hal ini kemudian tampak tragis menentang kita dan kita tidak dapat memahaminya dan tidak dapat mengatasi hal itu, Allah berkata bahwa bagi umatnya di sana ada sebuah kemampuan dan kekuatan dan kesanggupan serta perintah. Dan hal-hal ini sangat menekan ketika kita menghadapinya, Allah berkata dalam cara yang misterius, bahwa hal-hal ini adalah untuk membangun jiwa-jiwa kita. Mereka memberi kekuatan bagi hidup kita. Mereka membuat roh kita bertumbuh dan membuat hati kita menjadi besar dan membuat kita semakin besar. Seringkali di dalam banyak cara dan di dalam banyak pertempuran dan di dalam tantangan serta di dalam kekalahan, kita tidak dapat memahaminya, suatu hari Allah akan berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” [Roma 8:28].  Lalu, dengan iman, kita tidak akan kehilangan hati kita dan kita tidak akan menjadi kecewa dan kita tidak akan menyerah dan kita tidak akan berpikir bahwa pertempuran itu akan menjadi milik musuh kita dan kemenangan akan menjadi milik orang-orang yang menentang Allah dan menghujat kita. Tetapi Allah berkata bahwa di balik asap dan kegelapan dan tragedi dan rasa sakit dari waktu yang mengerikan ini ada kehendak dari yang berdaulat. Dan ketika umat Allah memberi diri mereka kepada Dia, tangan kita, hati kita, hidup kita, Allah berkata bahwa hal-hal ini memimpin kepada sebuah kemenangan akhir, rahasia dari Allah. Mengapa Allah memilih hal itu untuk ditempa di dalam air mata, mengapa Allah memilih hal itu untuk ditempa dalan konflik, mengapa Alllah memilih hal itu untuk ditempa di dalam kematian, saya tidak tahu. Itu milik dari rahasia Allah. Tetapi hal-hal ini tidak hanya diciptakan oleh Kristus—hal-hal ini, yaitu dunia luas yang disekitar kita diciptakan untuk Kristus. Dan sejarah dari dunia akan bergerak ke dalam kesudahan besar itu, ketika umat Allah akan berkuasa bersama dengan Tuhan mereka di bumi ini. Itulah sebabnya saya berkata bahwa selingan ini ditulis di dalam Wahyu yang kudus agar semangat anda tidak lemah, agar rahasia Allah ini dapat ditembus, agar di dalam konflik ini kita tidak berpikir bahwa kita sudah kalah di dalam peperangan. Di sana ada sebuah anugerah Allah yang selalu diingat terutama bagi kita. Dan Tuhan akan berkenan untuk memberikan kerajaan itu bagi anak-anakNya. Oh, betapa merupakan sebuah berkat yang luar biasa. Pada waktu dari bunyi sangkakala yang ketujuh; rahasia, kegelapan, kematian penghukuman, penderitaan dan sakit hati, semuanya akan dilemparkan keluar. Bahkan Setan akan diikat di dalam jurang maut selama seribu tahun dan kemudian akan dilemparkan ke dalam lautan api sampai selama-lamanya. Akan datang sebuah hari yang besar, sebuah dunia yang baru akan datang. Ada sebuah karunia sorgawi dan luar biasa dari Allah.

Kemudian anda lihatlah ke dalam teks itu dengan seksama dan kita akan berhenti. Hal-hal ini, hal-hal yang diberitakan Allah kepada hamba-hambaNya yaitu para nabi. Selalu saja di dalam khotbah para nabi, mereka selalu memberitakan kabar baik dari Allah. Nabi mungkin melihat badai dan nabi mungkin melihat hal-hal yang menghebohkan dan nabi mungkin melihat pertempuran dan darah serta konflik—dan mereka memang melihatnya. Anda dapat membaca tulisan mereka dan dipenuhi dengan kesengsaraan dan ratapan dan kepiluan. Tetapi nabi juga sering melihat fajar baru yang mulia. Itulah sebabnya Yohanes menggunakan kata “memberitakan”—menyampaikan kabar baik—kepada hamba-hambaNya yaitu para nabi. Dibalik dari apa yang mungkin kita hadapi, dibalik dari apa yang mungkin kita alami di dalam hidup ini akan selalu ada kemenangan yang terbentang di depan.   

Sekarang, hal yang kedua. Hal-hal ini tidak terjadi sekarang. Kita tinggal di dalam hari-hari penundaan. Kita hidup di dalam hari air mata dan kepiluan dan perselisihan dan konflik. Ini adalah hari-hari kita dari penderitaan dan kedukaan. Lalu, Allah berkata hal itu masih ditunda, sebuah penundaan yang kita terima sebagai misteri Allah. Saya tidak dapat menjelaskannya. Tetapi Kitab Suci sangat setia untuk menunjukkannya kepada kita, dan penundaan ini akan dipenuhi di dalam kemenangan yang final dari Allah. Anda dapat melihat hal itu. Lihatlah hal ini, ketika Tuhan menutup khotbahNya tentang akhir zaman di dalam Matius pasal dua puluh empat, Dia  menutupnya dengan sebuah perumpamaan. Dan perumpamaan itu adalah tentang seorang pelayan yang berkata di dalam hatinya yang jahat: “Tuanku menunda kedatangannya. Dia tidak akan datang. Kita tidak akan melihatnya. Dia tidak datang-datang” (Matius 24:48). Kemudian di dalam pasal yang sama ayat tiga puluh enam: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri” (Matius 24:36). Kemudian di dalam perumpamaan yang terdapat di dalam Matius dua puluh lima.  Semua gadis-gadis itu mengantuk dan tertidur. Hal itu sangat lama dan sangat lama. Yang bijak dan yang bodoh, semuanya mengantuk dan tertidur. Kemudian lihat lagi di dalam Lukas pasal sembilan belas,  “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kemudian dia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, karena mereka berpikir bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan” [Lukas 19:10, 11]—itulah yang akan Allah lakukan segera dan hal ini akan segera kelihatan. Kemudian Dia meyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, tentang seorang bangsawan yang berangkat ke negeri yang jauh untuk menerima kerajaan bagi dirinya. Kemudian anda dapat menemukannya lagi di dalam surat Petrus. Di dalam 2 Petrus pasal tiga: “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek…. Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” [2 Peter 2:3, 4].  Itu adalah sebuah penundaan yang sangat panjang sehingga tidak terlihat sebagai sebuah kemenangan sama sekali.

Memang setiap generasi akan merasakan hal ini, bahwa ini adalah waktu di mana Allah akan campur tangan. Ketika Hawa melahirkan Kain, secara praktis seluruh penafsir akan berkata bahwa saat itu Hawa berpikir  tentang janji yang besar bahwa keturunannya akan meremukkan kepala ular, dia berpikir bahwa hal itu akan digenapi ketika bayinya Kain lahir. Ketika Yohanes mengkhotbahkan Injil, dia berkata, “”Aku memperkenalkan Kristus kepadamu, seorang yang datang sesudah aku, yang akan mengayunkan kapak ke akar pohon yang tidak berbuah dan yang penampinya akan membersihkantempat pengirikan” (Matius 3:10). Dia berpikir bahwa hal itu akan terjadi pada harinya. Sangat jelas para rasul berpikir bahwa itu akan terjadi pada masa mereka. Dan di dalam reformasi, orang-orang berpikir bahwa itu akan terjadi pada masa mereka. Dan kita melihat di dalam sebuah pengharapan ke sorga bahwa itu akan terjadi pada masa kita. Kita tidak tahu. Ada sebuah rahasia di dalam tujuan Allah yang tidak dapat kita duga—sebuah penundaan. Tetapi anda harus yakin akan hal ini: Yang pertama,  di dalam penundaan itu Allah bermaksud untuk memberikan sebuah hal yang hebat bagi umatNya. Dan pencobaan dari hal itu, dan kepilauan dan air mata dan kedalaman dari hal itu, Allah telah memiliki tujuan untuk kebaikan  umatNya. Dan hal yang kedua, anda jangan pernah merasa yakin bahwa pertempuran akan dimenangkan oleh musuh kita. Kemenangan akan menjadi milik kita. Itulah sebabnya mengapa mereka bernyanyi sedemikian rupa “Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya-- dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin” [Wahyu 1:5, 6].  Itulah yang disampaikan oleh Yohanes, ketika Allah memberitakannya, Dia memberitakan kabar baik bagi hamba-hambanya, yaitu para nabi. Dan seorang pelayan injil yang sejati pada hari ini akan memberitakan sebuah gema dari kemenangan akhir itu. Bangkitlah, angkatlah wajahmu. Ambil sebuah pegangan yang baru dari apa yang telah ditugaskan Allah untuk kita lakukan. Karena Roh Allah berbaris dengan penuh kemenangan di depan kita.

Sekarang, ketika kita menyanyikan lagu permohonan kita, jika ada seseorang yang ingin menyerahkan hatinya kepada Yesus, atau yang ingin menggabungkan diri ke dalam persekutuan jemaat ini, anda boleh datang untuk maju ke depan. Ketika kita menyanyikan lagu undangan kita, anda boleh datang dan berdiri di samping saya. Katakanlah, “Pendeta, hari ini saya menyerahkan hati saya kepada Allah. Saya memberikan tangan saya kepada anda. Ini adalah sebuah pengakuan terbuka di hadapan umum tentang iman saya dan kepercayaan saya kepada Tuhan.” Mari datanglah, juga bagi anda, sebuah keluarga yang ingin bergabung dengan jemaat ini, anda dipersilahkan datang. Ketika Allah  berfirman Ia akan memimpin anda di jalan itu, lakukanlah pagi ini. Buatlah keputusan itu sekarang, saat kita berdiri dan menyanyikan lagu.

 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM