BUNYI SANGKAKALA

(THE SOUNDING OF THE TRUMPETS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 8:6-13

08-07-62

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pada pukul sebelas pagi, khotbah yang berjudul, Bunyi Sangkakala. Kita telah berkhotbah selama bertahun-tahun melalui kitab-kitab dari Alkitab, dan kita telah tiba di kitab yang terakhir, kitab yang klimaks, yaitu Kitab Wahyu. Dan di dalam seri khotbah kita melalui kitab Wahyu, kita telah tiba di pasal 8.

Merupakan sebuah kekecewaan yang besar bagi saya bahwa seringkali saya tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan hal-hal tertentu dan makna dari hal itu. Bahkan jika saya berhenti sejenak untuk membuat sedikit penilaian yang lebih atau mendiskusikan sebuah hal tertentu, maka waktunya sudah habis dan saya bahkan belum memulai tujuan yang ingin saya khotbahkan. Saya telah berbicara selama empat puluh lima menit pada pagi ini pukul 8:15, dan saya hanya berbicara sedikit tentang hal-hal ini karena saya telah menyampaikan beberapa dari antaranya, khotbah-khotbah ini telah diterbitkan. Mereka tidak hanya dicetak sesuai dengan apa yang telah saya khotbahkan, tetapi juga telah diterbitkan. Volume yang pertama akan terbit pada musim gugur ini. Apakah anda tahu bagian Kitab Wahyu yang telah diterbitkan itu? Semuanya hanya berisi Wahyu pasal satu. Ketika kita mengumpulkan seluruh khotbah untuk volume pertama, mereka hanya memuat pasal satu. Jadi di sana ada sebuah kesepakatan besar bahwa kita telah memiliki waktu untuk menyampaikan hal itu seluruhnya—untuk melihat ke dalam Alkitab dan melihat makna dari hal-hal ini. Tetapi kita memiliki kesempatan yang kurang, ada begitu banyak hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan, tetapi saya kekurangan waktu, untuk menjelaskan semuanya dengan tampak nyata. Dan dibalik dari hal itu, saya tidak dapat menyampaikan berapa banyak waktu yang saya curahkan untuk hal-hal ini. Dan akhirnya, sebagaimana saya melakukannya, saya memiliki sebuah keyakinan yang dalam tentang hal itu dan berusaha untuk menyampaikannya kepada anda.

Dan sekarang, yang akan menjadi teks bacaan kita—beberapa waktu yang lalu kita telah berbicara dari pasal delapan ayat satu hingga ayat lima. Dan hari ini, kita akan memulai dari ayat enam hingga ayat yang terakhir—

Dan ketujuh malaikat yang memegang ketujuh sangkakala itu bersiap-siap untuk meniup sangkakala.

Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau.

Lalu malaikat yang—

 

Sekarang, ada contoh lain dari hal itu—dan sepertiga bumi terbakar. Hal itu tidak terdapat dalam Revised Version [1901], tetapi itulah yang dituliskan oleh Yohanes, di dalam bahasa Yunani. Sekarang kita lanjutkan—

Lalu malaikat yang kedua meniup sangkakalanya dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut. Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah,

Dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal.

Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air.

Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit.

Lalu malaikat yang keempat meniup sangkakalanya dan terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang, sehingga sepertiga dari padanya menjadi gelap dan sepertiga dari siang hari tidak terang dan demikian juga malam hari.

Lalu aku melihat—

 

Dan yang anda miliki dalam Revised Version [1901], kata yang diterjemahkan oleh King James Version—“seorang malaikat.” Yohanes menulisnya dalam bahasa Yunani yaitu kata “seekor rajawali (Terjemahan Indonesia, ‘seekor burung nasar’)”—

Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: “Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya.” [Wahyu 8:6-13].

 

Kita telah tiba di titik sejarah, sebagaimana kita telah menjelajahi Kitab Wahyu ini, di mana segala sesuatu telah siap untuk akhir yang klimaks dari kesudahan zaman, kedatangan Tuhan kita dan pendirian kerajaan Allah di bumi. Materai ketujuh dan yang terakhir telah dibuka. Dan ada sebuah keheningan di sorga—sebuah harapan, sebuah kepentingan yang mendalam. Ada sebuah perasaan yang kagum yang meluputi seluruh penghuni sorgawi. Di hadapan Allah adalah ingatan dan doa-doa orang kudus sepanjang zaman: “Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu.” Dan ketika kita membawa di bawah materai kelima ada seruan dari orang-orang kudus Allah yang darah mereka telah tercurah ke bumi. Harinya telah datang untuk menjawab seruan itu. Dan doa-doa umat Allah di bawa kehadapan ingatan Allah—doa mereka sepanjang zaman. Dan kemudian di dalam pasal delapan ini, malaikat memenuhi pedupaan emasnya dengan api penghukuman dari mezbah. Dan dia melemparkannya ke bumi—sebuah gambaran dari murka, bencana dan hukuman Allah atas orang-orang yang tidak percaya dan para penghujat yang berada di dunia. Kemudian malaikat penghukuman itu, sedang bersiap-siap untuk meniup sangkakala yang pertama. Dan ketika malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, maka datanglah hari yang terakhir itu—pertempuran Allah yang Mahatinggi terhadap setan dan kedatangan Tuhan kita Kristus dan pendirian kerajaanNya di bumi ini.  

Ada dua peristiwa besar yang menyelimuti seluruh waktu, seluruh masa depan dan seluruh takdir. Kedua peristiwa yang akan datang. Yang pertama, jemaat Allah yang diubahkan dan diangkat ke sorga. Peristiwa yang pertama ialah kedatangan Kristus bagi orang-orang kudusNya. Peristiwa besar yang kedua adalah kedatangan Kristus bersama dengan umatNya dari sorga. Peristiwa besar yang pertama ini sering dibicarakan oleh Rasul Paulus. Anda dapat melihat sebuah bagian dari apa yang dia sampaikan dalam pembacaan Kitab Suci pada pagi hari ini: “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; Sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa.” [1 Tesalonika 4:16, 17].  Ini adalah peristiwa pertama yang akan terjadi di masa depan. Dan hal itu dapat terjadi sewaktu-waktu, setiap waktu, setiap saat. Tidak ada yang memisahkan antara kita dan kedatangan Tuhan bagi umatNya.

Kemudian peristiwa besar yang kedua, terletak di dalam kedatangan Tuhan secara terbuka, yang dapat dilihat oleh semua orang, Dia datang bersama dengan seluruh pasukan sorga di dalam kemuliaan dan orang-orang kudusNya yang ada di sorga. Itu akan menjadi peristiwa untuk mendirikan kerajaanNya di bumi ini, dimana kerajaan itu akan menjadi kerajaan Tuhan kita dan kerajaan Kristus dan Dia akan memerintah sampai selama-lamanya. Di antara kedua peristiwa besar itu, septenarii teori dari hukuman Allah dijatuhkan. Dan ketika yang “ketujuh” ini selesai, maka selesailah misteri Allah di bumi.

Sekarang, ketika kita menghadapi peristiwa yang besar itu, ada tujuh hal yang menjadi karakteristik mereka. Yang pertama adalah kedamaian. Selalu dimulai dengan cara yang seperti itu. Di sini ada seorang pemimpin dunia yang memperkenalkan dirinya sebagai juruselamat dunia. Dan dia memiliki jawaban terhadap seluruh masalah manusia. Dan dia datang dalam pemandangan seperti itu. Kita telah melihatnya secara berulang-ulang. Dan kita sedang melihatnya sekarang. Dan dia datang dalam pemandangan itu dan dia berkata bahwa dia dapat membebaskan umat manusia dari perang. Dan dia  dapat mengatasi seluruh masalah ekonomi. Dan kemudian, selanjutnya diikuti oleh pertumpahan darah, perang, kelaparan, kekurangan dan wabah yang tidak dapat dihindari. Saya melihat hal itu sepanjang masa. Saya membacanya dalam sejarah. Saya membacanya dalam lembaran-lembaran Kuba. Saya membacanya dalam lembaran-lembaran negara Cina. Saya membacanya dalam lembaran-lembaran Eropa Timur. Saya membacanya sepanjang masa, apakah itu di dalam sejarah atau sejarah yang ada di surat kabar. Dan selalu mengikuti pola yang seperti itu. Manusia ini yang datang dengan skema mereka dan program mereka dan mereka membawa utopia bersama dengan mereka. Tetapi dibaliknya, selalu ada pertumpahan darah, mengangkat pedang, pembunuhan besar-besaran, kelaparan, kekurangan, dan kelangkaan serta wabah penyakit. Dan tentau saja, penganiayaan terhadap umat Allah, selalu saja pembunuhan terhadap umat Allah. Dan kemudian tanda peri ngatan yang besar dari Allah di sorga.  Dan kemudian pencurahan dari hukuman dan murka yang terakhir dari Allah yang datang dari atas. Semuanya ada dalam tujuh materai. Yang pertama, kedamaian. Yang kedua, perang. Yang ketiga, peperangan. Yang keempat, wabah penyakit. Yang kelima, penganiayaan terhadap umat Allah. Yang keenam, tanpa peringatan Allah dari sorga. Dan yang ketujuh, hukuman yang terakhir dari atas. Dan dicurahkan dalam tujuh sangkakala. Semuanya adalah hari kemurkaan yang mengerikan dan hukuman dari Allah yang Mahatinggi.  Tidak ada sebuah bangsa, tidak ada seseorang diktator, seorang tiran yang mencemarkan Allah dan tetap hidup. Kejahatan, ketidakpercayaan, kekafiran, ateisme, menentang dan menolak Allah—hal-hal ini selalu mengikutinya. Jadi di dalam peniupan ketujuh sangkakala ini kita telah tiba ke dalam akhir dari kesudahan zaman ketika Allah menghukum orang-orang yang tidak percaya dan yang menolak Dia.

Kemudian, seluruh septenarii itu, seri “tujuh” itu di susun dengan persis sama. empat dan tiga—empat dan tiga. Dan kemudian tiga yang terakhir dipisahkan menjadi dua dan satu. Dan anda menemukan hal itu di dalam peniupan sangkakala itu. Empat sangkakala merupakan sebuah seri tersendiri. Dan yang ketiga merupakan sebuah seri tersendiri—semuanya sama. Dari ketujuh sangkakala itu, yang pertama adalah  penghukuman Allah atas tanah, pohon dan rumput. Yang kedua, adalah penghukuman terhadap laut, dan seluruh makhluk lautan dan perdagangan dunia. Dan yang ketiga atas sumber mata air dan sungai-sungai. Dan yang keempat atas  benda-benda angkasa di langit yang berada di atas kita. Dan ini adalah penghukuman secara umum. Dan kita akan membahas hal itu dalam sesaat dan kemudian tiga sangkakala lainnya, yang sangat menyedihkan, mengerikan, dan menakutkan sepanjang sejarah umat manusia—karena intensitas mereka semakin meningkat hingga sangkakala yang ketujuh. Materai yang kelima adalah penghilangan sekat, pembukaan sebuah pintu antara dunia umat manusia dengan jurang neraka. Dan sangkakala keenam adalah pelepasan dari empat malaikat yang diikat di sungai Efrat yang telah dipersiapkan sebelumnya dua ratus juta penunggang kuda dan tujuh guruh dan kesaksian dan kehidupan dan pergumulan serta penderitaan dari dua saksi Allah yang terbunuh, dibunuh. Dan tentu saja, sangkakala yang ketujuh membawa ke dalam hari pertempuran dari Allah Yang Mahatinggi dan campur tangan Kristus di dalam sejarah manusia. 

Pagi ini, kita akan melihat keempat sangkakala itu—“Lalu malaikat yang pertama meniup sangkakalanya dan terjadilah hujan es, dan api, bercampur darah; dan semuanya itu dilemparkan ke bumi; maka terbakarlah sepertiga dari bumi dan sepertiga dari pohon-pohon dan hanguslah seluruh rumput-rumputan hijau” [Wahyu 8:7].  Kemudian di sana, ada orang-orang yang percaya, dan saya sangat respek terhadap mereka, yang menyebutkan bahwa hal-hal yang dijelaskan di sini, tepat terjadi seperti yang digambarkan oleh Alkitab ini, dan gambaran itu bukanlah sebuah perwakilan, sebuah simbol dari hal-hal lain. Ketika malaikat yang pertama meniup sangkakala, segera saja diikuti oleh hujan es dan dan api bercampur darah. Dan sepertiga pohon-pohon, rumput-rumputan dan sepertiga bumi hangus terbakar. Saya sama sekali tidak mau berdebat dengan penafsiran itu sama sekali. Di dalam Keluaran pasal sembilan disebutkan: “Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke langit, maka Tuhan mengadakan guruh dan hujan es, dan api pun menyambar ke bumi, dan Tuhan menurunkan hujan es meliputi tanah Mesir.Dan turunlah hujan es, beserta api yang berkilat-kilat di tengah-tengah hujan es itu, terlalu dahsyat, seperti yang belum pernah terjadi di seluruh negeri orang Mesir, sejak mereka menjadi suatu bangsa.” [Keluaran 9:23, 24].  Jadi dalam bunyi sangkakala yang pertama ini dan penghukuman Allah atas bumi, saya tidak mau berdebat sama sekali—tidak dengan orang-orang yang melihat hal ini sungguh-sungguh terjadi seperti yang digambarkan oleh Alkitab. 

Tetapi bagi saya, hal-hal ini merupakan simbol. Semuanya adalah gambaran dari hukuman Allah yang kadang-kadang tampak jelas dan kadang-kadang tidak jelas. Sebagai contoh, di dalam peniupan sangkakala yang kedua, disebutkan: “Dan ada sesuatu seperti gunung besar, yang menyala-nyala oleh api, dilemparkan ke dalam laut.” [Wahyu 8:8].  Kemudian dia berkata di dalam malaikat ketiga yang meniup sangkakala, “dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor” [Wahyu 8:10].  Lalu, apa yang disampaikan oleh pelihat itu bukanlah gunung yang sesungguhnya, tetapi sama seperti gunung besar yang menyala-nyala oleh api. Hal itu bukanlah sebuah bintang, tetapi sama seperti bintang, tetapi sebuah lampu, yang jatuh terbakar. Jadi bagi saya, hal-hal ini merupakan simbol penghukuman Allah atas bumi.

Kemudian saya telah menuliskan hal-hal yang saya pikirkan tentang hal-hal ini. Dan supaya dapat masuk ke dalam teks itu ketika khotbah ini diketik, saya akan membacakan apa yang saya pikirkan tentang hal-hal ini. Hujan es adalah sebuah hal yang terjadi secara mendadak, penempatan yang tajam dari hukuman Allah—Yesaya 28:2-17. Api adalah sebuah bukti yang tidak kenal ampun dari murka Allah, hukuman api, kebanyakan dalam bentuk peperangan—Ulangan 32:22; Yesaya 33:14. Darah adalah kematian, kematian moral, kematian rohani, kematian fisik. Itu adalah kematian. Bumi adalah peradaban dunia, otoritan yang dibuat, dunia seperti yang anda tahu berada di bawah pemerintahan yang tetap dan regular. Laut adalah keresahan dari kebanyakan umat manusia—Daniel 7:2-3; Yesaya 57:20. Pohon-pohon mewakili kebanggaan kehebatan umat manusia, yang menyombongkan diri di hadapan dan kemuliaan Allah—Daniel 4:20-22; Yehezkiel 31:3-18. Rumput adalah manusia secara umum—Yesaya 46:7. Dan rumput hijau, tentu saja merupakan bunga dan buah yang terbaik dari umat manusia—yang paing baik. Ketika anda pergi berperang, apakah yang anda hancurkan dalam peperangan? Selalu saja rumput hijau, bunga dan buah serta hasil-hasil ladang yang terbaik. Ketika anda mendaftarkan ke dalam pasukan, di dalam peperangan, tentu saja, mereka dapat merasakan anda, dan jika anda masih hangat anda masuk di dalamnya. Jika anda pergi bergabung dengan angkatan bersentaja, mereka akan selalu memungut hasil panen yang terbaik. Hanya orang-orang muda yang terbaik yang dapat pergi ke dalam sebuah pertempuran.   Mereka pergi ke Annapolis dengan sebuah penunjukan. Mereka pergi ke West Point dengan sebuah penunjukan. Mereka pergi ke Colorado Springs, ke Akademi Angkatan Udara dengan sebuah penunjukan—orang-orang yang terbaik. Dan rumput hijau ini merepresentasikan orang-orang; hijau—bunga yang terbaik di atas tanah. Dan sepertiga dari dunia akan habis terbakar; itu adalah sebuah pertempuran yang sangat luas. Kemudian sebuah gunung—gunung mewakili sebuah kuasa yang ada di bumi, sebuah kerajaan—Yeremia 51:25. Sebuah bintang, sebuah obor,  di dalam Wahyu pasal satu, sebuah bintang adalah seorang gembala, atau seorang guru—seseorang yang memiliki otoritas yang hebat ketika dia berdiri di hadapan orang-orang. Dan obor, lampu, tentu saja merupakan konggregasi—jemaat. Dan ketika hal itu jatuh, itu adalah seorang pengajar sesat yang memenuhi bumi dengan doktrin yang gelap dan tragis serta mengerikan. Dan tidak ada hal lain yang sangat tragis di dunia ini selain memimpin orang ke dalam sebuah evaluasi yang salah, sebuah wahyu yang salah, sebuah doktrin yang salah. Bintang dan lampu. Sungai dan pegunungan, yang menjadi pahit ketika bintang itu jatuh, hal itu mewakili sumber hidup, air yang diberikan—doktrin, keselamatan, pengharapan. Pengajaran yang diberikan adalah racun dan hal itu menjadikan langit di atas menjadi gelap dan membuat pahit sumber kehidupan yang ada di bawah. Dan saya dapat membaca semua hal ini di dalam surat kabar harian saya—tepat seperti yang saya lihat di dalam Alkitab ini—hal yang sama persis.   

Baiklah, mari kita melihat hal itu kembali. Malaikat yang pertama meniup sangkakala yang pertama, kemudian hukuman Allah dicurahkan. Apakah anda memperhatikannya, hanya sepertiga bagian yang hangus terbakar. Itu berarti bahwa kasih karunia Allah masih diberikan kepada manusia. Allah di dalam kemurahannya masih memiliki harapan bagi manusia. Mereka mungkin diindoktrinasi dengan propaganda yang salah yang dapat dipikirkan oleh manusia. Dan anda telah melihat hal itu di Amerika Serikat, dan anda dapat melihatnya tanpa batas di dunia yang berada di balik kita. Dan ketika seseorang mendengarkannya, mengikutinya, maka hal yang terjadi selanjutnya adalah hal-hal yang tragis, kehilangan hidup, kehilangan kekayaan, kehilangan rumah, kehilangan visi yang sejati. Tetapi Allah tetap berbelas kasihan, Allah tetap berharap, Allah tetap berdoa. Ada sepertiga bagian bumi yang dihancurkan.  

Malaikat yang kedua meniup sangkakala yang kedua dan dan ada sesuatu seperti gunung besar—itu akan menjadi sebuah pemerintahan—yang menyala-menyala oleh api dan dilemparkan ke dalam laut, tepat seperti itu, di dalam kegelisahan umat manusia. “Dan sepertiga dari laut itu menjadi darah, Dan matilah sepertiga dari segala makhluk yang bernyawa di dalam laut dan binasalah sepertiga dari semua kapal. ” [Wahyu 8:8, 9].  Di mana saja anda melihat hiruk pikuk dari umat manusia, saya beritahukan secara tepat gunung yang menyala-nyala itu akan dilemparkan ke dalamnya: untuk doktrin sosilaisme dan doktrin komunisme dan doktrin ateisme dan doktrin penolakan dan ketidaktaatan—dari semua hal ini, di mana saja ada sebuah kegelisahan dari umat manusia, lihat dan di sana anda akan menemukan tangan itu. Di sana anda akan menemukan pedang itu. Di sana anda akan menemukan nyala api itu. Sebab mereka tidak dapat hidup, mereka tidak dapat bertahan di dalam masyarakat yang gelisah itu. Dan malahan sebaliknya, bukannya malah membawa keluar dari kekacauan, bukannya malah membawa sebuah kebenaran dan pemerintahan yang jauh dari anarkis, yang terjadi malah sebaliknya di sana ada kekecewaan dan tragedi, dan mereka menumbuhkan hal itu. Karena mereka tinggal di dalam kegelisahan umat manusia itu. Itulah nafas mereka. Untuk itulah mereka memberikan hidup mereka. Dan ketika gunung yang menyala-nyala itu di bawa ke dalam laut, di sana anda akan menemukan dunia, bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok masyarakat akan bermandikan darah. Dan sepertiga lautan akan menjadi darah. Dan sepertiga mahluk ciptaan akan mati. Anda tidak akan lagi mendapatkan sebuah Kuba yang makmur. Perdagangannya dihancurkan. Anda tidak akan lagi melihat sebuah Cina yang makmur. Perdagangannya dihancurkan. Anda tidak akan menemukan sebuah pemerintahan Soviet yang makmur. Depresi akan menghancurkan segalanya. Itulah yang akan terjadi, tepat dseperti yang digambarkan oleh Alkitab. Darah—perdagangan yang hilang dan kehilangan hidup. Tetapi Allah berharap. Allah menunggu. Dan hal itu akan menimpa sepertiga bagian bumi. Bumi ini tidak seluruhnya akan menjadi subjek dari kehancuran yang luas—tidak akan, selama Allah dapat melihat bahwa di sana ada orang-orang yang bersujud di hadapanNya, yang melihat dalam iman, dan mencurahkan hidup mereka ke dalam program yang besar dari Tuhan kita. Hanya sepertiga yang dihancurkan.  

 “Lalu malaikat yang ketiga meniup sangkakalanya dan jatuhlah dari langit sebuah bintang besar, menyala-nyala seperti obor, dan ia menimpa sepertiga dari sungai-sungai dan mata-mata air” [Wahyu 8:10].  Dan di sana tidak akan ada sebuah masa hingga akhir—dan kemudian kita akan datang dalam kemenangan—di sana tidak akan pernah menjadi sebuah masa bahwa doktrin yang salah akan secara penuh menutupi seluruh bumi. Hal  di sana pasti selalu ada pemenang yang benar. Di sana akan selalu ada orang-orang yang memberikan diri mereka kepada kemurnian dari pengajaran dan doktrin. Tetapi tragedi terletak di tangan orang yang meracuni sungai-sungai dan sumber mata air, sumber dari pengharapan kita dan sumber dari hidup kita dan berkat atas takdir kita dihancurkan oleh orang-orang yang mengajarkan doktrin yang salah ini. “Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit” [Wahyu 8:11].  Kemudian anda memiliki hal yang sama dibawa.

Dan ketika malaikat keempat meniup sangkakala yang keempat, terpukullah sepertiga dari matahari dan sepertiga dari bulan dan sepertiga dari bintang-bintang. Racun,  kesuraman, dan awan yang gelap dari kesesatan, pengajaran yang palsu menutupi bumi dan menutupi langit. Dan karena hal itu, betapa Allah sungguh-sungguh membutuhkan bintangNya untuk bersinar, lampuNya untuk menyala, para pengajarNya untuk mengajar, umatnya yang hidup dalam sebuah dunia yang semakin bertambah gelap dan makin gelap, dan matahari, dan bulan dan bintang-bintang telah memudar kekuatannya, menjadi gelap oleh karena pengajaran yang sesat. “Dan sepertiga cahaya mereka pudar.” Lagi, bahwa hal itu tidak sepenuhnya akan menutupi kebenaran. Tidak akan mampu untuk menutupi seluruh bumi. Allah di dalam kebaikanNya, tetap memberikan kepada kita kesempatan untuk hidup, kesempatan untuk bertobat, kesempatan untuk mengajar, kesempatan untuk berkhotbah. Allah memberikannya kepada kita, jika kita memberikan kepada Allah dedikasi kita terhadap kewajiban yang kudus itu.  

Kemudian, di akhir dari sangkakala keempat, “Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar (rajawali, dalam bahasa aslinya) terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: “Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi oleh karena bunyi sangkakala ketiga malaikat lain, yang masih akan meniup sangkakalanya” [Wahyu 8:13].  Ketiga sangkakala yang akan mengikuti selanjutnya sangat mengerikan dan menakutkan, mereka sangat intensif sehingga sebelum malaikat lainnya meniup sangkakala mereka, sebelum hukuman selanjutnya dijatuhkan, ada sebuah peringatan besar yang disampaikan ke seluruh bumi. Seekor burung rajawali—dan lagi seperti yang terdapat dalam Ulangan 28, Yeremia 48, Matius 24: 28—seekor burung rajawali di dalam sebuah contoh seperti ini adalah sebuah tanda penghukuman. Dosa suaranya telah terdengar di sorga. Sebuah eksekusi dan hukuman di atasnya mungkin tidak akan dijatuhkan segera. Tetapi pasti akan datang. Tuhan menunda agak lama pada zaman Nuh. Tetapi hukuman itu tetap dijatuhkan. Izebel hidup dalam kejahatannya dan keburukannya selama bertahun-tahun, tetapi masanya tetap datang seperti yang difirmankan Allah: “Dia akan dimakan anjing, dan mayatnya diinjak-injak oleh kuda.” Dan hal itu digenapi (2 Raja-raja 9:30-37). Dosa memiliki sebuah reaksi di sorga, dan mungkin bukan pada saat ini, dan waktu ini, tetapi akan datang sebuah hari dimana dosa akan dihukum. Dan rajawali ini, sangat jelas merupakan rajawali putih, seperti singa yang merupakan binatang buas di hutan, rajawali adalah burung penguasa, unggas dari angkasa. Dan di dalam  pandangan matanya yang tajam dan cepat, ia dapat terbang melintasi garis bumi yang luas dan ia dapat melihat mangsanya dari jauh. Dan ia berkata dengan suara nyaring, “Celaka, celaka, celakalah mereka yang diam di atas bumi.” Ini adalah sebuah kemurahan dari Allah. Saat kita melihat penghukuman sebelumnya, hanya menghancurkan sepertiga bagian bumi. Itu berarti Allah tetap memberikan peringatan agar manusia bertobat sebelum penghukuman Allah yang mengerikan ini dijatuhkan atas mereka, Allah sungguh menginginkan kita bertobat.  

Sebelum Allah melakukan sesuatu di dalam penghukumanNya, Dia selalu memberi peringatan. Dia melakukannya pada masa Adam. “Adam, jika engkau menjamahnya maka engkau akan mati.” Dia melakukannya pada zaman air bah. Selama seratus dua puluh tahun, Nuh berkhotbah kepada orang banyak. Dia melakukannya pada masa Yehuda dan Dia melakukannya pada masa Samaria dan Dia melakukannya pada masa Israel. Dan Dia melakukannya pada masa Yesus hidup di dunia ini. Dan dia melakukannya pada masa Paulus, dan Dia melakukannya pada masa kita, termasuk pada masa anda. Jika engkau berjalan di jalan ini, maka jalan ini menuju kepada penghukuman dan jalan ini menuju ke pertumpahan darah dan jalan ini menuju kepada kematian. Suatu ketika saya mendengar seorang pengkhotbah yang terkemuka yaitu L.R. Scarborough yang berkata bahwa di dalam Alkitab ini ada enam ratus peringatan tentang neraka. Dan dia menambahkan: “Jika seseorang berjalan dalam sebuah jalan dan di sana ada enam ratus tanda peringatan yang berkata, ‘Jalan ini menuju neraka,’ maka pada saat orang itu berada di sana, hal itu karena pilihannya sendiri dan kemauannya sendiri dan kehendaknya yang gila.” Dan inilah cara yang dilakukan Allah bagi seluruh dunia ini. Allah telah mengajarkannya dan Allah telah membuat jalanNya dengan jelas. Dan Allah berkata, “Jika engkau mengikuti jalan ini maka jalan ini menuju kepada bencana dan penghakiman dan penghukuman dan maut dan neraka.” Dan itulah sebabnya Allah memberi peringatan: Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung rajawali terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: “ Lihat, lihat, berhenti, pertimbangkanlah, celaka, celaka, celakalah. 

Salah satu hal yang paling mengherankan dari Tuhan Allah Yang mahatinggi adalah keenggananNya untuk menyerah kepada manusia—Dia tetap mengutus para pengkhotbahnya ke dunia. Mengapa Allah tidak melenyapkan mereka dari pandanganNya? Mengapa Allah tidak menghancurkan mereka? Mengapa Allah tidak membakar mereka dengan api? Mengapa Allah membiarkan seorang tiran hidup? Mengapa Allah membiarkan orang yang kejam ini tetap berlanjut di dalam kekejaman dan kebengisan mereka? Mengapa Dia melakukannya? Karena Allah adalah Allah yang panjang sabar. Mungkin mereka akan berpaling. Mungkin mereka akan bertobat.  Mungkin mereka akan mendengarkan. Mungkin mereka akan selamat. “Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan Allah, aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu!” [Yehezkiel 33:11].  Sebuah seruan dari Allah, sebuah peringatan dari Tuhan agar kita tidak jatuh ke dalam penghukuman dan maut serta neraka. Itulah sebabnya mengapa ada sebuah peringatan di sini, sebelum tiga sangkakala yang terakhir itu dibunyikan, yang jika peringatan diabaikan maka akan terlambat sampai selama-lamanya. “Lalu aku melihat: aku mendengar seekor burung nasar terbang di tengah langit dan berkata dengan suara nyaring: “Celaka, celaka, celakalah” [Wahyu 8:13]. 

Celaka bagi siapa? Lihatlah ke dalam teks itu. Ada dua kata dalam bahasa Yunani untuk orang-orang yang menetap, orang-orang yang tinggal. Yang pertama adalah paroikeo, yang berarti untuk berdiam sebagai seorang “pengembara” di dunia. Yang lainnya adalah katoikeo, yang berarti untuk “tinggal menetap.” Dan itulah kata yang digunakan di sini. “Celaka bagi orang-orang yang telah kehilangan visi mereka tentang sorga.” Mereka bukan lagi pengembara. Mereka tidak lagi memiliki Allah di dalam hati mereka. Utopia mereka berada di dunia ini. Firdaus mereka berada di dunia ini. Pengharapan mereka berada di sini. Hidup mereka berada di sini. Mereka telah kehilangan visi sorgawi mereka. Mereka tidak lagi merasakan gaya tarik dari atas. Allah yang sejati tidak ada di dalam hati mereka. Celakalah, kata Tuhan bagi katoikeo, orang-orang yang membangun setiap pengharapan dan mimpi mereka di dunia ini dan mereka bukan lagi pengembara dari dunia ini yang menuju dunia yang akan datang.

Hari kemurkaan, hari yang menakjubkan

Ketika dunia hancur berkeping-keping

Dipukul dengan api dan darah serta guruh yang menggelegar

Raja yang agung, dan luar biasa

Yang telah mengirimkan keselamatan bagi kita,

Sumber kemurahan, Oh, menjadi sahabat kita.

 [William J. Irons, trans. “Dies Irae” (“Day of Wrath”)] 

 

Ketika kami menghadapi kematian dan ketika kami menghadapi pencobaan, dan ketika kami menghadapi konflik, dan ketika kami mengahdapi masa depan yang terbentang yang samar-samar, O, sumber kemurahan, O, Allah keselamatan, ingatlah kami, jadilah sahabat kami, selamatkanlah kami!

Sekarang ketika kita menyanyikan lagu pujian kita, jika ada seseorang dari anda yang ingin menyerahkan hatinya kepada Yesus atau yang ingin bergabung dengan jemaat ini. Mari datanglah. Sebagaimana Roh Kristus akan memimpin anda di jalan anda, dan membuka pintu serta berfirman bagi anda, maukah anda datang dan berdiri di dekat saya? Bagi anda yang berada di atas balkon, turunlah melalui salah satu tangga yang ada di bagian depan atau bagian belakang. Bagi anda yang berada di lantai bawah ini, berjalanlah melalui salah satu lorong bangku itu dan majulah ke depan. Katakan, “Pendeta, saya memberikan tangan ini kepada anda sebagai tanda bahwa saya telah menyerahkan hati saya kepada Allah.” Atau “Pendeta, inilah kami, dan kami akan bergabung dengan persekutuan jemaat ini.” Mari datanglah, Allah memberkati kita semua pada hari ini atas kedatangan anda. Sekarang mari kita berdiri dan menyanyikan lagu undangan kita. 

 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM