APA YANG SAYA PERCAYAI TENTANG SORGA: ORANG-ORANG YANG BERADA DI SANA

(WHAT I BELIEVE ABOUT HEAVEN: THE PEOPLE)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 7:9-17

06-10-90

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya telah diminta dengan sangat oleh Tyndale Publishing House untuk menyampaikan beberapa khotbah sehubungan dengan masalah sorga. Semua khotbah itu telah dipersiapkan dengan hati-hati dan cermat, karena mereka akan dicetak dan diterbitkan. Khotbah yang pertama sudah saya sampaikan minggu yang lalu, yaitu tentang, Apa Yang Saya Percayai Tentang Sorga: Sebuah Tempat. Hari ini kita akan berbicara tentang, Apa Yang Saya Percayai Tentang Sorga: Orang-Orang Yang Berada Di Sana. Minggu berikutnya, Apa Yang Saya Percayai Tentang Sorga: Arak-Arakan Kebesaran, apa yang akan kita lakukan. Dan yang terakhir kita akan berbicara tentang, Apa Yang Saya Percayai Tentang Sorga: Kemuliaannya,  jawaban dari pertanyaan yang sering diajukan tentang rumah kita yang kekal. Hari ini, kita akan membahas tentang, Apa Yang Saya Percayai Tentang Sorga: Orang-Orang Yang Berada Di Sana. Bacaan Alkitab kita terdapat di dalam Wahyu pasal tujuh:  

Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"

Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, sambil berkata: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" [Wahyu 7:9-12]. 

Jadi apa makna dari “Amin”?—“jadilah demikian,”—amin. 

Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: "Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?"

Maka kataku kepadanya: "Tuanku, tuan mengetahuinya." Lalu ia berkata kepadaku: "Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari he thlipsis he megale, dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.

Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.

Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."  [Wahyu 7:13-17]. 

 

Apa Yang Saya Percayai Tentang Sorga: Siapakah Yang Berada Di Sana? Nomor satu—para malaikat. Kata “malaikat” disebutkan sebanyak lima ratus lima puluh sembilan kali di dalam Alkitab. Dan “malaikat” secara konstan diidentifikasikan sebagai mahluk sorga. Ketika kita di sana, keberadaan mereka merupakan pemandangan pertama yang akan kita lihat. Jumlah malaikat yang berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa itu. Ibrani 12:22 mengakui hal itu: “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah.” Dan Wahyu 5:11 mengakui hal itu: “Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.”—chiliades chiliadon.  Seperti Wahyu 9:16: muriades muriadon, beribu laksa, malaikat yang tidak terhitung jumlahnya. Dan sering kali di banyak tempat di dalam Alkitab mereka digambarkan dengan jumlah yang sangat banyak, seperti dalam Lukas 2:13: “Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah.” Dan di dalam Matius 26:53, Tuhan berkata kepada Simon Petrus, “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?—tujuh puluh dua ribu hanya dalam satu kesempatan itu. 

Malaikat, mereka adalah pribadi. Mereka diciptakan oleh Allah. Mereka memiliki permulaan keberadaan yang sama seperti kita. Mazmur 148: “Pujilah Dia hai segala malaikatnya. Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya dan memberi ketetapan.” Mereka memiliki sebuah permulaan—sama seperti anda. Mereka memiliki keberadaan—kapasitas dasar untuk memiliki persekutuan dengan Allah. Di dalam perbedaannya dengan binatang dan dunia binatang mereka memiliki kecerdasan. Mereka belajar sama seperti kita. Mereka tidak tahu kedatangan Kristus yang kedua—Matius 24:36. Tetapi mereka berhasrat dan tertarik untuk semua rencana keselamatan dan kemenangan puncak kita di dalam Tuhan—1 Petrus 10-12.  Mereka memiliki emosi—mereka memberikan respon, mereka merasakan sama seperti yang kita rasakan. Mereka bersukacita dan dipenuhi dengan kebahagiaan atas dunia ciptaan Allah. Mereka mengamatinya—Ayub 38:7. Mereka bersujud dalam penyembahan di hadapan Allah—Yesaya 6:3; Ibrani 1:6. Mereka memuji Allah di dalam peninggian pada kelahiran Kristus—Lukas 2:13. Di hadapan mereka  sukacita itu bergema di sorga atas seorang pendosa yang menelusuri lorong bangku dan memberikan hatinya kepada Yesus. Mereka sama seperti kita. Mereka memiliki kepekaan moral, kuasa pilihan dan pembedaan. Sepertiga dari jumlah mereka memilih untuk mengikuti Setan—Wahyu 12:4, dan ditetapkan menjadi iblis sampai selamanya—2 Petrus 2; Yudas 6. Dua pertiga dari jumlah mereka memilih untuk mengikuti Kristus dan selama berada di dalam keselamatan mereka, sama seperti kita yang akan berada di sorga—tidak akan ada lagi pencobaan, kejatuhan, kesalahan dan dosa. Kita akan menjadi sama seperti malaikat, kita akan ditetapkan untuk melayani Allah sampai selama-lamanya. Di mana ada malaikat Allah, di situ kita ada. Di mana tidak ada malaikat dan jika kita tidak berada di sana, maka di sana tidak ada Allah. Di dalam Kitab Wahyu dan di dalam sorga kita melihat malaikat sama seperti kitab lain di Alkitab. Dan di sana kemunculan malaikat lebih sering dibandingkan dengan seluruh kitab lain di Alkitab. Dan kita juga akan muncul dalam jumlah yang sangat banyak. Saya hanya ingin memberi penjelasan kepada anda bahwa di mana ada malaikat di situ kita juga ada, dan Allah ada. Dan jika kita tidak di sana, maka Allah tidak di sana. Mereka selalu bersama-sama. Di dalam golongan yang banyak dan tingkatan-tingkatan. 

Mereka memiliki nama dan memiliki tugas yang berbeda—sama seperti kita. Salah satu dari mereka bernama Mikael—yang berarti “yang seperti Allah.” Dia disebut sebagai penghulu malaikat di dalam Yudas 7. Dia disebut sebagai penguasa besar di Daniel 10 dan Daniel 12. Dia adalah pejuang Allah di dalam pertempuran—selalu seperti itu. Di mana saja Mikael muncul, dia memimpin pasukan Allah melawan iblis—sama seperti dalam Daniel 10 dan Wahyu 12.

Yang lain salah satunya bernama Gabriel—yang berari “yang perkasa dari Allah.” Dia selalu menjadi pembawa pesan Allah—selalu muncul dalam tugas yang sama—kepada Daniel dalam Daniel 8:1; pembawa pesan Allah ke Zakharia di dalam Lukas 1; dan membawa pesan Allah kepada Maria dalam Lukas 1.

Mereka semua tidak sama. Mereka memiliki perintah yang berbeda, sama seperti kita—kita berbeda. Beberapa dari mereka disebut cherubim —bentuk jamak dari cherub.  Kata jamak dari sebuah kata Ibrani adalah “-im,” i-m, “-im”—so cherub, cherubim.  Di dalam Kejadian 3:24 adalah referensi pertama kepada malaikat; itu adalah seorang kerub. Di dalam Keluaran 25:17, 22, mereka berada di atas kursi kemurahan. Sayap mereka menyentuh kursi anugerah. Mereka  diukir di atas tirai. Mereka diukir di atas dinding bait Salomo. 

Beberpa dari mereka adalah seraphim.  A seraphseraphim—yang berarti “yang menyala-nyala”—mereka menghabiskan waktu dalam penyembahan mereka kepada Allah. Mereka berkobar di dalam penyembahan mereka kepada Allah. Mereka berkobar dalamm penyembahan mereka kepada Tuhan—seorang penghulu malaikat di antara para penguasa sorga. Dan beberapa dari mereka adalah malaikat penjaga. Di dalam Markus 18:10, ketika seorang bayi lahir, ada seorang malaikat yang ditugaskan untuk anak itu yang melihat wajah Bapa di sorga. Di dalam Matius 4:6-11 seorang malaikat sedang menjaga keluarga kudus, dan di dalam Lukas 22:43, melayani dan menghibur Kristus di pada saat-saat yang tragis di Getsemani. Ada seorang malaikat yang ditugaskan kepada anda dan dia mengamati anda mengasihi anda. Mereka telah diberikan banyak tugas yang berbeda dan bervariasi. Mereka membuka pintu penjara kepada rasul-rasul di Kisah Rasul 5. Salah satunya memimpin Filipus ke Gaza di Kisah Rasul 8. Salah satunya berbicara kepada Kornelius dari Kaisarea di Kisah Rasul 10. Salah satunya melepaskan Petrus dari Herodes Agripa di Kisah Rasul 12. Dan salah satunya berdiri di samping Paulus di badai Mediterania di Kisah Rasul 27.

Pernahkah anda merasakan bahwa di dalam pencobaan yang berat, seseorang berdiri di samping anda? Apakah anda pernah merasakan hal itu? Itu adalah malaikat Allah yang sedang mengamati anda. Di dalam kalimat pertama dari Kitab Wahyu, ada seorang malaikat yang diutus dan anda mengucapkannya dengan “menyatakannya.” Jika anda mengetahui maknanya dengan tepat maka anda akan tahu secara tepat seperti apakah Kitab Wahyu itu. Jadi di dalam Kitab Wahyu dalam kalimat pertama itu ada seorang malaikat yang diutus kepada Yohanes untuk menyatakan kepada Yohanes  dengan gambaran dan secara dramatis seluruh peristiwa dalam sejarah manusia dan kesudahannya. Seorang malaikat menemani Yohanes ketika dia menyaksikan seluruh pemandangan yang ada di Wahyu. Seorang malaikat  melaksanakan penghukuman Allah yang menakutkan. Dan seorang malaikat menyingkapkan kepada Yohanes kemuliaan dari kota kudus—Yerusalem Baru.

Ketika kita tiba di sorga, siapakah yang akan ada di sana? Tidak hanya para malaikat Allah, tetapi juga orang-orang kudus Allah yang telah menemukan perlindungan di dalam Dia. Seorang pria tua telah bersaksi di gereja pada rabu malam. Dan dia berkata, ketika dia masih kecil, dia berpikir tentang sorga, sebuah kota yang indah dengan tembok yang tinggi dan kubah dan menara kecil dan sekumpulan malaikat yang berjubah putih dan sebuah kumpulan orang banyak yang seorang pun tidak dia kenal. Kemudian ketika hari berlalu, saudara kecilnya meninggal. Dan dia berkata bahwa dia kemudian berpikir tentang sorga sebagai sebuah kota yang indah dengan tembok yang tinggi dan kubah dan menara kecil dan sekumpulan malaikat yang berjubah putih dan sebuah kumpulan orang banyak yang seorang pun tidak dia kenal  dan sebuah wajah kecil. Kemudian orang tua itu bersaksi lagi, ketika tahun-tahun terus berlalu, ibunya meninggal, ayahnya meninggal, istrinya meninggal, seluruh keluarganya meninggal dan hanya dia yang tersisa. Dan dia berkata, sekarang ketika aku berpikir tentang sorga, aku tidak memikirkannya sebagai sebuah tempat yang memiliki tembok yang tinggi, istana yaspis dan malaikat yang berpakaian putih, tetapi aku memikirkannya sebagai tempat dari orang-orang yang kukasihi berada. Tidak ada lagu yang kita nyanyikan yang  paling indah selain dari pada lagu ini:

Aku akan menyanyikan sebuah lagu bagimu tentang negri yang indah itu

Jauh disana, kediaman bagi jiwa

Dimana badai tidak akan pernah menghempas di atas hamparan pantai yang berkilau

Dimana tahun-tahun keabadian menggelinding

Oh, betapa manisnya jika berada di negeri yang indah itu

Terbebas dari semua kedukaan dan kesakitan

Dengan lagu di atas bibir kita dan pengharapan di atas tangan kita

Untuk bertemu kembali antara satu dengan yang lain

 [Ellen M. H. Gates, “Home of the Soul”]. 

 

Itulah sorga. Ibadah pemakaman pertama yang saya hadiri adalah ketika saya masih remaja di sebuah gereja kecil di pedesaan. Saya pergi ke rumah orang miskin, rumah sewaan mereka dan menyaksikan seorang bayi kecil di sana, seorang bayi kecil yang telah meninggal karena penyakit ayan yang mengerikan. Di dalam ibadah pemakaman yang dilakukan oleh gereja kecil di desa itu, setelah ibadah itu selesai, mereka meletakkan jenazah kecil itu di atas truk yang gerobaknya datar. Dan saya bersama dengan pasangan muda itu di sebuah mobil kecil. Dan saya duduk di dekat ibunya dan disampingnya, duduklah suaminya. Dan ketika truk itu berjalan dengan jenazah kecil yang ada di atasnya, wanita itu mulai menangis dengan pilu. Dan suaminya melingkarkan tangannya di leher istrinya dan berkata, “Sayang, jangan menangis. Bayi kita ada di pangkuan Yesus dan Dia akan merawatnya. Dia akan memelihara anak kita dengan aman dan suatu hari, Dia akan memberikan kepada kita bayi kita itu lagi.” Itu adalah ibadah pemakaman saya yang pertama. Penghiburan yang kita miliki dalam janji untuk berkumpul bersama-sama, merupakan sesuatu yang luar biasa, hal yang manis, dan melampaui kata-kata yang dapat menggambarkannya. Dan ketika saya menjawab pertanyaan tentang hal itu, saya akan berbicara tentang bagaimana kita akan mengenal satu sama lain dan seperti apakah kita nanti.   

Ketika kita meninggal, kita akan pergi ke firdaus. Di dalam Lukas 16:22, seorang malaikat membawa pengemis ke pangkuan Abraham—nama lain untuk firdaus. Di dalam Lukas 23:43, Tuhan berkata kepada penyamun yang bertobat itu, “Hari ini—semeron, hari ini—bukan di suatu era yang laian—hari ini engkau akan bersama-sama dengan Aku di firdaus.” Dan sore harinya dia telah bersama dengan Tuhan, berjalan melalui jalan kemuliaan. Lukas 10:20: “Namamu ada terdaftar di sorga.” Kita bersama Yesus dengan segera. Filipi 1:23: “Diam bersama-sama dengan Kristus.” 2 Korintus 5:8: “Beralih dari tubuh, untuk menetap bersama dengan Tuhan”—kita akan langsung segera bersama dengan Tuhan. Dan di sana bersama dengan Tuhan kita menanti kebangkitan tubuh saat kedatangan kembali dari raja yang mulia. Dalam Wahyu 6:9, Yohanes melihat jiwa-jiwa para martir yang berada di bawah mezbah. Mereka belum berada di sorga yang penuh. Mereka sedang menunggu di firdaus. Seperti Musa di celah batu karang—ditutupi oleh tangan Allah, dan mereka aman. Dan sorga yang penuh akan menjadi milik kita. Ketika Yesus datang kembali dan tubuh kita dibangkitkan, kita akan menjadi sama seperti Juruselamat kita dengan  tubuh yang kekal dan mulia. 

Kita akan mengenal satu sama lain di sorga. Itu akan menjadi tempat yang kering jika kita hidup tanpa mengenal dan dikenal. Itu merupakan sesuatu yang sukar untuk dibayangkan. Pengetahua yang intuitif akan memperkenalkan kita kepada setiap orang. Seperti yang disampakan dalam Matius 8:11, “Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam kerajaan sorga.” Bagaimana mereka dapat mengenal Abraham, Ishak dan Yakub? Dalam cara yang sama,  seperti yang terdapat dalam Matius, bagaimana Yakobus, Yohanes dan Petrus mengenal Musa dan Elia di Gunung Transfigurasi, yaitu secara intuitif. Kita akan duduk  dan berkumpul serta memiliki keabadian untuk melakukan hal itu. Kita akan duduk bersama dengan Adam dan berbicara tentang Taman Eden. Kita akan duduk bersama dengan Nuh dan berbicara tentang Air Bah. Kita akan duduk bersama dengan Musa dan berbicara tentang pembebasan dari Laut Merah. Kita akan duduk dengan Elia dan berbicara tentang kereta berapi. Kita akan duduk bersama dengan Paulus dan berbicara tentang jalan Damsyik. Dan dengan orang-orang yang kita kasihi, kita akan menikmati reuni sukacita. Ciuman perpisahan selamat tinggal di ranjang kematian dan di peti mati akan dilupakan di dalam ciuman pertemuan kembali dan sambutan selamat datang di gerbang sorga.

Harta kita berada di sana. Harta yang untuk kita nikmati berada di sana. Semuanya akan diberikan kepada kita dalam dua cara: dengan hak kepemilikan dan dengan upah. Yang pertama, dengan hak kepemilikan atau warisan. Sorga itu sendiri adalah milik kita sebagai warisan. Dia menjadi warisan kita bukan dengan penaklukan atau perbuatan baik atau oleh jasa kemenangan kita, tetapi oleh pemberian di dalam anugerah Allah. Yang lainnya telah dimenangkan bagi kita dan diberikan bagi kita: Tuhan kita Yesus. Dahulu kita jauh, kita adalah benih ular, anak-anak Setan, sumber murka dan kita menjadi anak Allah oleh karena anugerahNya. Kita menjadi ahli waris karena adopsi. Rumah kita yang sesungguhnya berada di sana. Warisan kita berada di sana. Untuk mengasihi Yesus Tuhan kita, kita adalah pengikut ahli waris dan menikmati warisan itu bersama dengan Dia—Roma 8:17. Dan kita akan memiliki harta di sorga karena hasil upah kita, kita dapat menyimpan harta kita di sorga—Matius 6. Upah kita untuk kesetiaan kita dalam ibadah akan diberikan kepada kita di atas  sana.

Yang ketiga dan yang terakhir. Di dalam sorga tidak hanya ada malaikat Allah dan anak-anak Allah yang sudah ditebus, orang-orang kita, tetapi juga Yesus. Sorga adalah tempat di mana Juruselamat kita berada. Di mana Dia ada, di situ juga kita ada, dan disambut oleh Dia. Dengan seseorang yang sangat mulia, kita akan mengalami prosesi di sepanjang jalan emas, dalam barisan kasih dari malaikat menuju takhta Tuhan kita Yesus. Dialah, yang sungguh-sungguh ingin kita lihat.  

Oh, Kristus, Dia adalah sumber mata air,

Yang sangat dalam dan manis, sumur dari kasih

Yang sangat melimpah, dan aku akan minum di atasnya.

Ada sebuah lautan yang melimpah

KemurahanNya yang sangat luas

Dan kemuliaan, kemuliaan yang tinggal di dalamnya

Di negeri Imanuel.

Tatapan mata mempelai wanita bukanlah kepada gaunnya

Tetapi kepada wajah mempelai prianya

Aku tidak akan memandangi kemuliaan,

Tetapi memandang wajah Tuhanku yang terkasih,

Bukan kepada mahkota yang Dia berikan,

Tetapi atas tanganNya yang telah terpaku

Anak Domba adalah semua kemuliaan

Di negeri Imanuel.

 [Anne Ross Cousin, “In Emmanuel’s Land”]

 

Saya menyalin kalimat ini dari pengkhotbah yang terkemua, yaitu T. W. Talmadge, dia berkata: “Aku tidak ingin pergi ke sorga orang-orang skeptis, rasionalis dan materialis. Saya tidak akan menukar ruangan saya yang paling buruk untuk sorga terbaik yang dimimpikan oleh Tom Paine, John Mill, Huxley, Darwin, atau Ingersol –orang-orang kafir yang terkemuka itu. Sorga mereka tidak memiliki Yesus di dalamnya.” Semua mata tertuju kepada Dia. Setiap orang adalah orang-orang yang dikasihinya. Ucapan syukur berkilau dalam setiap pangkuan. Merasakan pujian yang bertambah besar dalam setiap lagu. Kecapi emas menggemakan kebaikanNya dan  jasaNya. Orang-orang kudus melemparkan mahkota mereka di bawah kakiNya dan berkata, “Engkau layak menerima puji-pujian dan kuasa sampai selama-lamanya.” Sama seperti yang disampaikan dalam Wahyu pasal satu, “Bagi Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darahNya, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah BapaNya – bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.” [Wahyu 1:5, 6].  Dan sama seperti penyembahan kepada Yesus akan tetap berlanjut, “Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!" Dan keempat makhluk itu berkata: Amin” [Wahyu 5:13, 14].  Hal itu akan menjadi sebuah berkat bagi kita, melampaui dari segala sesuatu, untuk masuk ke dalam hitungan dari orang-orang yang menyembah itu.

Seorang anak laki-laki yang masih kecil sedang menceritakan Mazmur 23: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mazmur 23:1). Dia menyampaikannya seperti ini, “Tuhan adalah gembalaku, hanya Dia saja yang kuinginkan.” Demikian juga Paulus dalam Filipi 1:23 berkata, “Lebih baik diam bersama-sama dengan Kristus.” Demikian juga dengan penulis Ibrani dalam Ibrani 10: “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” [Ibrani 10:22].  Dan demikian juga dengan Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 3: “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” [1 Yohanes 3:2]. 

Sekarang yang menjadi seruan bagi kita. Mari kita membuat sebuah persiapan yang baik untuk kekekalan yang akan datang. Di dalam kekinian kita yang telah hilang, sifat kedagingan tidak diregenerasikan, kita tidak layak untuk sorga. Kita telah rusak oleh kejatuhan. Bagaimana dengan sebuah perjamuan bagi seseorang yang tidak punya selera? Bagaimana dengan sebuah festival musik bagi seseorang yang tidak memiliki pendengaran? Bagaimana dengan sebuah cakrawala keindahan dan kemuliaan bagi seseorang yang buta? Bagaimana dengan sebuah kehadiran Allah ketika kesenangannya berada dalam keinginan nafsu?  Sorga dapat menjadi sebuah ruang hampa yang dibenci bagi orang-orang yang tidak diregenerasikan. Apa yang akan dilakukan pemabuk di dalam sorga? Apa yang akan dilakukan oleh pelahap di dalam sorga? Apa yang akan dilakukan penzinah di dalam sorga? Apakah yang akan dilakukan oleh para penikmat duniawi dalam sorga? Apa yang akan di lakukan oleh orang-orang yang tidak suka ibadah dan meremehkannya di dalam sorga? Mereka akan berseru: apakah ini akan berlangsung selama-lamanya? Mereka bosan dan tidak tertarik. Apa yang akan mereka lakukan di sana jika pemujaan terhadap Allah berlangsung sampai selama-lamanya? Orang-orang yang tidak diregenerasikan sungguh-sungguh membutuhkan sebuah perubahan hati, hidup, kasih dan kepentingan. Mereka membutuhkan sebuah natur yang baru dalam Kristus. Mereka butuh untuk menyembah dan memuja hal-hal tentang Allah. Kita butuh untuk diselamatkan, untuk dilahirkan kembali, untuk hadir di hadapan kemuliaan Tuhan. Saya membayangkan Lazarus ketika dia bangkit dari kuburan. Dia telah mengenakan kain kafan, tanda dan materai kematian. Dan Yesus berkata, “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Yohanes 11:44). Itulah yang kita butuhkan. Daging kita yang tidak diregenerasikan, natur yang sekarat, dan kita butuh untuk membuang jubah kerusakan dan kematian itu.  Dan kita butuh untuk mengenakan jubah yang kudus dari Allah. Dan itulah yang Yesus lakukan bagi kita ketika kita menemukan sebuah Juruselamat di dalam Dia.