TERORIS DARI TIMUR TENGAH
(THE TERRORISTS OF THE MIDDLE EAST)
01-20-91
Wahyu 6:6-8
“Teroris Dari Timur Tengah.” Itu adalah pusat dari sebuah trilogi khotbah. Minggu yang lalu kita telah membahas khotbah yang berjudul “Apakah Ini Perang Amagedon?” Minggu berikutnya kita akan membahas: “Pergulatan Maut Antara Arab Dan Yahudi.” Dan hari ini, latar belakang agama dari konflik ini dan korbannya yang mengerikan di dalam kehidupan manusia.
Saya memiliki sebuah pengumuman yang sangat menyenangkan. Kita akan mengucapkan selamat datang bagi Mrs. Betsy Lusk dan putrinya Helen yang berharap untuk bergabung dengan jemaat kita melalui televisi. Dia telah dibaptis enam puluh tahun yang lalu. Mereka menyaksikan ibadah kita melalui siaran televisi setiap minggu. Saya memiliki pengumuman lainnya yang juga sangat indah. Mrs. W.W. Burgess, ingin bergabung dengan jemaat kita melalui televisi. Dia menyaksikan ibadah kita setiap minggu melalui siaran televisi. Dia telah dibaptiskan pada usia tujuh belas tahun oleh Lester B. Collins, gembala dari Gaston Avenue Baptist Church.
Sebagai sambutan terhadap mereka, jika anda merasa bahagia untuk menyambut mereka sebagai anggota jemaat kita, maukah anda mengangkat tangan anda, tinggi-tinggi. Terima kasih. Dan sekarang, saudara yang terkasih, anda telah menjadi bagian dari kami.
Dan pada setiap hari selasa dan dimulai pada hari selasa yang akan datang ini, pada pukul 10.30 dan setiap hari Kamis pukul 10.30, saya akan mengajar Kitab Wahyu di sekolah kita; di akademi kita, di kampus yang sangat indah di Gaston Avenue, dan anda diundang untuk datang dan menjadi bagian dari kelas itu, jika anda berhasrat untuk ikut.
Dan inilah yang akan menjadi teks khotbah kita pada hari ini “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keempat, aku mendengar suara makhluk yang keempat berkata: "Mari!" Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi.”
Mohammad meninggal pada tahun 632 A.D., di kota padang gurun Arab Saudi, yaitu Madinah. Ketika dia berumur dua puluh lima tahun dia menikah dengan seorang janda kaya, dan hal itu memberikan dia kebebasan dan kemerdekaan untuk melihat penglihatan dan untuk mendengar suara dan melakukan perang. Alquran membanggakan tentang dirinya yang tidak bisa membaca atau pun menulis—sebuah karunia dari sorga sehingga dia bisa melihat suatu penglihatan dan mendengar wahyu yang kemudian ditulis oleh para pengikutnya dan menjadi kitab suci mereka yaitu Alquran. Segera saja, setelah kematiannya, mengikuti contoh yang telah dia berikan dalam perang yang berkelanjutan, para pengikutnya mulai menaklukkan bagian dunia dengan pedang. Pernyataan iman mereka sangat sederhana: “Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Mumamad adalah utusannya.” Dan para prajurit perusak itu memberikan pilihan kepada orang-orang sebuah pilihan yang sederhana, “Kamu bertobat atau menghadapi perbudakan dan kematian.”
Dalam waktu yang singkat, mereka telah menaklukkan seluruh Afrika Utara, Palestina, Siria, Asia Kecil, Mesopotamia, dan akhirnya Iran, dan bahkan kepulauan Pasifik termasuk Filipina. Islam telah menjadi agama yang berkembang pesat di dunia pada hari ini. Ada lebih dari empat ratus juta orang Muslim. Bahkan di Amerika, kita telah mulai melihat kehadiran dari pertumbuhan mereka. Salah satu petinju kita yang terkenal telah memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Muhammad Ali. Mereka berada di Dallas ini. Mereka telah menaklukan Spanyol. Mereka berada di jalan mereka untuk menaklukkan seluruh Eropa. Dan dalam pertempuran Tour pada tahun 732 A.D., Charles Martel mengalahkan mereka—Martel, kakek dari Charlemagne.
Tetapi pengaruh mereka berkembang di dunia liar. Saya telah berada di Istambul, kota besar itu sedang bersiap-siap untuk merayakan lima ratus tahun keruntuhan kota Kristen Konstantinopel oleh Ottonam Turki. Ketika saya berjalan di sepanjang St. Sophia, gereja Kristen terbesar di dunia dan yang memiliki arsitektur yang menakjubkan, saya menghidupkan kembali di dalam pikiran saya tentang kejatuhan kota Kristen itu. Setelah dikepung oleh Muhammad II dan Ottonam Turki, mereka menyerbu melalui gerbang kota itu yang telah hancur. Dan penguasa Kristen dari Imperium Roma, Constantine Palaeologus, meminta prajurit Kristennya untuk membunuh dia. Dan mereka tidak mau melakukannya. Kemudian dia melemparkan dirinya ke pedang Turki yang memotong dia hingga berkeping-keping. Demikianlah kematian dari penguasa dari Roma kuno itu.
Saya telah berdiri, di Dome of the Rock (Kubah Batu Karang) dan melihat seperti Mesjid Omar seperti yang dilakukan oleh kebanyakan dari anda. Dia adalah Khalifah yang kedua, yang menaklukkan seluruh Arab dan mendirikan mesjid itu.
Ketika saya berdiri di sana dan melihatnya, dan ketika saya membaca Kitab Wahyu, saya sangat takjub. Di dalam Kitab Wahyu, disebutkan bahwa akan ada sebuah Bait Allah di sana. Akan tetapi sekarang masih ada sebuah mesjid di sana. Kapankah mesjid itu akan dihancurkan dan Bait Suci Yahudi didirikan dan dibaharui kembali? Saya tidak melihat sebuah cara lain selain dari pada perang. Dan di dalam konflik yang hebat itu, mesjid itu akan dihancurkan dan sebuah Bait Suci akan didirikan di atas tempatnya.
Latar belakang keagamaan dari orang-orang yang bertarung dan berperang dalam memgikuti Mumammad merupakan sebuah hal yang mengherankan bagi saya. Nabi itu memiliki empat belas istri. Sedangkan dia melarang pengikutnya untuk memiliki istri lebih dari empat. Dan dalam Alquran ada sebuah dispensasi yang diberikan kepada Muhammad tentang keempat belas istrinya itu. Dia bahkan mengambil istri dari anak angkatnya. Alquran berkata, “O, Nabi, Allah mengijinkan engkau untuk memiliki semua istrimu, juga budak-budakmu dan harta rampasanmu, dan setiap wanita yang percaya yang telah menyerahkan dirinya kepada nabi, jika nabi berhasrat untuk menikahinya—sebuah keistimewaan bagimu di atas keistimewaan orang-orang beriman lainnya.” Dan Alquran mereka menggambarkan sebuah sorga sebagai sebuah harem, dengan kutipan, “sejumlah kumpulan gadis akan ada untuk melayani tiap-tiap hasratmu.”
Pada masa anda, Ayatollah Khomeini, diktator Iran, mengadakan sebuah konferensi dunia untuk melihat sebuah solusi bagi huru hara yang terjadi di Timur Tengah. Di istana yang pernah menjadi milik dari Shah Iran itu, mereka mempersiapkan sebuah makan malam kenegaraan bagi delegasi dari konferensi dunia yang telah diundang. Ketika masanya tiba bagi mereka untuk datang, Ayatollah Khomeini memerintahkan wanita untuk menutupi diri mereka di dalam tirai hitam. Mereka menolak dan konferensi itu batal. Makan malam yang telah dipersiapkan itu tidak pernah dimakan. Makanan itu tidak pernah disentuh. Tidak ada sebuah pembicaraan di sana. Mereka tidak pernah mengadakan sebuah diskusi.
Sikap dari nabi itu terhadap perang, dan saya akan mengutipnya dari Alquran, “Jalan yang ditentukan bagi kamu adalah perang.” “Lawanlah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah.” “Sesungguhnya, Allah mengasihi orang-orang yang berperang di jalannya.” “Berperanglah dengan penuh pengabdian terhadap orang-orang yang tidak percaya.” Dan lagi, “Pribadi Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalannya.” Perang adalah sebuah kemuliaan. Jalan yang pasti bagi seorang prajurit untuk masuk ke dalam sorga adalam mati dalam peperangan. Saya mengingat beberapa tahun yang lalu, sebuah gambar yang terdapat di halaman utama surat kabar kita ketika Turki memerangai orang-orang Kristen Armenia. Gambar dari seorang Turki yang buta. Dan dia berteriak dengan keras kepada seseorang untuk membawa kepadanya seorang Kristen Armenia sehingga dia dapat memotong leher orang Kristen itu dan dengan demikian dia dapat masuk ke dalam kemuliaan sorga.
Anda telah mendengar melalui radio dan melihat melalui siaran televisi, dan anda telah membaca di dalam surat kabar bahwa teroris dari Sadam Husein telah diperintahkan untuk menyerang musuh-musuh Husein, bangsa-bangsa Eropa Barat dan khususnya Amerika. Dan serangan teroris yang mengerikan telah ada bersama dengan kita dalam beberapa tahun ini dan semakin meningkat pada masa sekarang ini.
Ketika Ayatollah Khomenei menguasai Iran, orang-orang Amerika berada di Kedutaan Amerika. Dan mereka ditahan dalam sebuah penyanderaan yang kejam. Dan di dalam pemeliharaan Allah, beberapa pemimpin kita dapat membebaskan mereka, dan membawa mereka kembali pulang ke Amerika. Kita telah berada di Iran. Kita telah berada di sana, sekalipun kita adalah orang-orang asing, kita telah diundang untuk makan malam di rumah orang-orang yang kita kasihi itu. Saya tidak dapat mempercayai apa yang dapat dilakukan oleh seorang teroris.
Saya telah berada di Libanon beberapa kali. Tidak ada negara di bumi ini yang memiliki keindahan seperti Libanon, bahkan tidak ada sebuah kota yang lebih ramah dibandingkan dengan kota Beirut. Tetapi sekarang, saya tidak berani untuk pergi ke sana. Para teroris telah mengubahnya menjadi tempat penghukuman dan neraka.
Saya telah berada di Libia. Orang-orang yang ada di Libia sangat ramah dan baik. Akan tetapi Momamar Kadafi, telah mengambil keputusan tentang orang-orang Kristen yang tinggal di tanah Arab dan berkata, “Orang-orang Kristen telah mengikuti sebuah jalan yang salah dan mereka harus mengubah jalan mereka untuk membuktikan bahwa mereka adalah muslim yang sungguh-sungguh dan sejati. Mereka harus memeluk Islam atau akan dibinasakan.”
Dan di dalam dunia ini, termasuk di dalam peradaban yang didominasi oleh peradaban barat, teroris berada di mana-mana. Di bandar udara Athena, ketika sebuah pesawat TWA diambil alih dan dihancurkan menjadi berkeping-keping. Di dalam bandar udara kota Roma, senapan mesin dilepaskan ke ruang tunggu dan menumpahkan darah manusia. Dan di Skotlandia, pesawat Pan Amerika dengan nomor 103 dibakar dan dalam kebakaran itu menghanguskan setiap orang yang berada di atas pesawat itu. Mereka menyandera sebuah kapal pesiar di Mediterania. Dan tidak ada bandar udara di Amerika atau di Eropa Barat yang tidak merangkak di depan sebuah kemungkinan akan kematian yang mengerikan yang dilakukan oleh teroris ini.
Saya telah membaca tulisan dari Ann Landers dan Abby. Saya hanya ingin mengetahui apa yang orang-orang bodoh itu yang disebut dengan homo sapiens, ras manusia, apa yang mereka pikirkan dan apa yang mereka lakukan. Saya tidak tahu mengapa, saya berusaha memikirkannya mengapa. Tetapi pada hari senin tanggal 5 Mei 1986, saya melihat pandangan dari Ann Landers. Setelah melalui hal-hal yang menggairahkan, anda tahu, yaitu tentang seks dan pergi ke ranjang dan segala hal lainnya, saya sangat terkejut ketika menemukan hal ini, salah satu pandangan mereka yang berbunyi, “Bukan Rusia, bukan di Rusia, tetapi ancaman yang nyata dan sangat bengis, tanpa sebuah pertimbangan, adalah terorisme yang berada di negara-negara timur tengah. Bagaimana mungkin seseorang sepakat dengan orang-orang yang percaya bahwa adalah sebuah keistimewaan dan sebuah penghormatan untuk mati dalam pertempuran dan upah bagi tindakan bunuh diri mereka adalah hidup yang kekal? Saya berharap saya memiliki jawabannya.” Bagaimana mungkin seseorang dapat meyakinkan dirinya bahwa dia sedang melayani Allah jika dia menghancurkan orang-orang yang tidak bersalah, meledakkan sebuah pesawat yang dipenuhi oleh ibu-ibu dan anak-anak? Saya tidak tahu. Kita hanya tinggal dalam sebuah dunia yang seperti itu. Dan kita sedang disibukkan dengan sebuah pergumulan kematian dengan seorang pemimpin macam itu.
Kemudian saya mengingatkan diri saya sendiri: kelembutan dan kesederhanaan dan keramahan Yesus yang datang ke dunia ini. Bagaimanakah Dia diterima? Bagaimanakah Dia mati? Di dalam kekerasan disalibkan di atas salib Roma, diludahi, dihina dan ditolak. Ini adalah sifat dari sebuah dunia. Dan itulah sebabnya mengapa Dia sangat murah hati bagi kita. Ibu-ibu ini yang bersujud di hadapan Allah atas nama putra dan putri mereka di dalam konflik ini, dan kita semua yang sedang menghadapi usia tua dan kematian dan keterpisahan, betapa melegakannya untuk memiliki seorang sahabat seperti Yesus, Dia yang berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”
Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM