JEMAAT PINTU TERBUKA

(THE CHURCH OF THE OPEN DOOR)

Dr. W. A. Criswell

Wahyu 3:7-8

06-09-68

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul, Jemaat Pintu Terbuka. Di Sebelum saya menyampaikan firman Allah dari Kitab Allah dan pesan yang Tuhan yang ada di dalam hati saya, ada dua hal yang ingin saya sebutkan terlebih dahulu. 

Yang pertama, hal ini telah ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat sebagai sebuah hari berkabung nasional. Dan sehubungan dengan ketetapan dari pemimpin bangsa kita, kita semua diharapkan untuk menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga Senator Kennedy, doa dan simpati kita atas kehilangan tragis dari seorang suami dan ayah serta sahabat. Dan kita akan mengambil kesempatan ini sebagai sebuah waktu untuk mendedikasikan kembali untuk melayani masyarakat, mencari dalam setiap perintah kita untuk mendorong masyarakat kita dan menghasilkan warga negara yang taat hukum dan memiliki rasa hormat terhadap otoritas tertinggi dalam negara kita. Dan di atas semuanya, dibawah perintah Allah, sebuah doa agar kita memiliki rasa hormat terhadap kehidupan umat manusia, yang merupakan sebuah karunia dari Allah. Dan khotbah pada hari minggu berikutnya, saya berharap agar saya dapat menyampaikan beberapa dari hal ini, dengan makna yang lebih dalam dan lebih panjang sertalebih luas.  

Hal kedua yang ingin saya sampaikan berhubungan dengan sebuah hal penting yang  telah ditempatkan kepada saya, yang mana saya didesak oleh rasa simpati dan kenangan dari jemaat yang terkasih ini. Beberapa minggu yang lalu, perwakilan dari kelompok penerbit dari Southern Baptist Convention, Broadman Press, datang kepada saya dan meminta saya untuk menulis sebuah buku. Saya telah mengumpulkan materi untuk buku itu, dan sekarang saya harus menuliskannnya. Untuk menunjukkan kepada anda, betapa pentingnya jam ini, saya tidak pernah menulis sebuah buku dalam tempo kurang dari satu tahun, dan bahkan beberapa diantaranya butuh waktu dua tahun untuk menuliskannya. Dan sekarang, saya hanya memiliki waktu tiga minggu untuk menuliskannya. Apa yang seharusnya saya lakukan selama satu tahun, sekarang saya harus melakukannya dalam tiga minggu. Jadi, anda akan mengerti bahwa saya akan menghabiskan waktu siang dan malam untuk tugas ini. Kemudian setelah tiga minggu, kita akan melihat nyala api lainnya yang akan dijatuhkan oleh pendeta. Jadi saya harap anda mengerti, dan saya akan melakukan hibernasi sepanjang waktu agar saya dapat memenuhi permintaan untuk menulis buku ini. 

Sekarang kita akan melihat khotbah pada hari ini, yang diambil dari Kitab Wahyu pasal tiga dimulai dari ayat 7: “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia...”  kemudian ayat 8: “Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu.”  Khotbah ini tidak akan mengekspos teks dari pasal Firman Allah, dimana teks ini ditemukan. Tetapi ini hanyalah sebuah judul untuk sebuah khotbah yang akan disampaikan pada jam ini. “Lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu.” Karena itu, judul dari khotbah ini adalah, Jemaat Pintu Terbuka.  

Salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan kepada saya dalam konferensi pers dan individu yang mewakili pers, dan dari sejumlah sahabat dan pemimpin dari konvensi kita adalah hal ini, mereka bertanya, “Mengapa pada tahun-tahun sebelumnya, anda selalu mundur dari pencalonan untuk menjadi pemimpin tertinggi dalam denominasi kita, tetapi sekarang anda menerimanya? Apa yang telah terjadi? Mengapa anda berubah? Mengapa sebelumnya anda menolak dan sekarang anda menerimanya?” Ada tiga alasan mengapa dalam tahun-tahun sebelumnya saya selalu menolak  pencalonan itu.

Alasan yang pertama, saya tidak pernah merasa bahwa hal itu merupakan kehendak Allah bagi saya untuk melakukan hal itu. Bahkan saya juga tidak dapat menggambarkan keyakinan itu masuk ke dalam perasaan yang ada di jiwa saya. Teman-teman sekelas saya dan sahabat-sahabat yang saya kenal dekat selama bertahun-tahun telah menerima sebuah tanggung jawab terhadap hal itu. Saya mengasihi mereka atas hal itu. Dan saya berdoa bagi mereka. Tetapi saya tidak pernah merasakan bahwa itu adalah kehendak Allah bagi saya.

Alasan yang kedua. Saya tidak penah merasa layak untuk menerima sebuah tugas yang luar biasa. Ini bukanlah kesalahan dan kelemahan kemanusian yang murahan. Saya hanya memberitahukan kepada anda mengapa dalam tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah menerima sebuah jabatan seperti itu. Saya tidak pernah merasa layak di dalam jiwa saya untuk sebuah tugas yang luar biasa dari Allah.

Dan alasan yang ketiga adalah anda, jemaat yang terkasih ini. Dan ada dua alasan yang berkaitan dengan jemaat ini. Yang pertama, saya telah melihat anggota jemaat dari orang-orang yang menerima mandat besar ini dan akibatnya jemaat-jemaat mereka menjadi menderita. Sehubungan dengan jemaat ini, Dr Truet merupakan duta yang berkuasa penuh untuk seluruh dunia. Dan jemaat ini pernah menderita dengan hebat. Dr. Truett telah menghilang dalam waktu yang lama. Dan karena hal itu serta jemaat yang menderita ini, saya menerima jabatan gembala di tempat ini sebagai tugas mendasar dan yang paling utama. Dan apa pun yang saya lakukan, pekerjaan utama yang saya lakukan di bawah pimpinan Allah adalah pelayanan pengembalaan ini. Dan selama bertahun-tahun saya tidak pernah menerima sebuah kebaktian kebangunan rohani. Selama bertahun-tahun saya tidak pernah meninggalkan jemaat ini. Saya tinggal di sini setiap minggu. Sampai akhirnya saya mulai menerima undangan untuk kebaktian kebangunan rohani, saya melakukannya tidak lebih dari dua kali. Saya akan menerimanya pada musim semi. Dan saya akan menerimanya pada musim gugur. Saya tinggal di sini selama bertahun-tahun, dan berusaha untuk menjadi bagi bagi kawanan domba ini. Jadi, saya menolak karena saya tidak ingin menyakiti jemaat kita. Pergi dengan menyakiti jemaat ini.

Dan yang kedua, saya gemetar di hadapan pertanyaan tentang masalah ras ini. Dan apa yang akan terjadi di dalam jemaat kita jika saya menerima sebuah tugas sebagai presiden dari Konvensi Baptis Selatan, apa maknanya bagi gereja ini di dalam huru hara kekerasan  yang telah menelan dan membuat gaduh bangsa kita di dalam krisis rasial ini. Saya hanya memberitahukan kepada anda, hal terbaik yang dapat saya sampaikan bahwa pada tahun-tahun yang lampau saya telah menolak bahkan memberi pertimbangan untuk sebuah jabatan seperti itu.

Lalu, mengapa sekarang saya mau menerimanya? Mengapa? Ada tiga alasan dari semua alasan sebelumnya, mengapa saya menolaknya, dan sekarang saya menerimanya. Yang pertama, sebagaimana hari terus berlalu, dan di dalam kepentingan dan keberuntungan dan putaran hidup, ada ribuan hal yang telah masuk ke dalamnya. Saya akhirnya datang ke dalam sebuah kesimpulan dan keyakinan yang dalam, bahwa ini merupakan sesuatu yang telah  Allah panggil dan  inginkan bagi saya untuk melakukannya. Istri saya, Nyonya Criswell, sangat keberatan terhadap hal itu. Selama berhari-hari dia berusaha untuk memalingkan saya dari hal itu. Beberapa sahabat yang mengasihi saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar saya berpaling dari hal itu. Tetapi sebagaimana hari terus berlalu, dan peristiwa hidup yang terjadi di dalam diri saya, keinginan itu makin meningkat di dalam jiwa saya bahwa ini adalah sesuatu yang Allah inginkan untuk saya lakukan. Itu adalah panggilan Allah bagi saya.  

Yang kedua, mengenai perasaan saya yang merasa tidak layak. Saya menyerahkannya di hadapan Allah, kesederhaan dan makna yang paling dalam serta ketulusan hati bahwa saya tahu mengapa. Dan akhirnya sesuatu datang ke dalam hidup saya tentang perasaan yang saya miliki ketika saya masih seorang anak-anak. Pada masa yang lampau, ketika saya masih anak-anak dan remaja serta masih muda, ketika Allah memanggil saya untuk menjadi seorang pendeta, saya mengkonsentrasikan hidup saya untuk mempersiapkan diri bagi pekerjaan ini. Dan ketika melihat kembali hal itu pada masa kanak-kanak itu, saya tidak dapat membayangkan bahwa hal itu akan menjadi kenyataan. Dan sebagai seorang anak kecil, sebagai seorang remaja, sebagai seorang pemuda, saya telah melakukan hal itu kembali pada hari-hari ini. Saya telah mengabdikan kembali dan mengkonsentrasikan kembali hidup saya kepada Tuhan.  

Kemudian yang ketiga. Bagaimana dengan jemaat? Yang pertama, hal itu akan teratasi. Seperti apakah itu? Tidak ada keraguan atau pun kita tidak dapat memalingkan wajah kita dari kenyataan bahwa seringkali saya pergi dalam tahun-tahun belakangan ini. Apakah itu? Dan bagiamana dengan jemaat ini? Ini adalah sebuah keyakinan saya tentang anda. Saya percaya bahwa akan ada di jemaat ini sebuah roh pengabdian dan konsentrasi, bahwa kita akan lebih setia untuk pekerjaan Allah  dari pada yang telah kita lakukan sebelumnya. Kita akan menerima bagi diri kita sendiri sebuah kontingen, komponen, yang membangun dan mengabdi bagi pelayanan ini. Dan diaken kita akan menjadi lebih setia dari sebelumnya. Dan para pengajar kita akan menjadi lebih setia. Para pemimpin kita akan menjadi lebih taat. Paduan suara kita akan menjadi lebih setia. Anggota jemaat kita akan menjadi lebih setia. Dan para staf kita akan lebih berkomitmen dari sebelumnya. Bukankah itu akan menjadi sebuah karunia dari Allah dalam dua tahun sesudahnya, prestasi terbaik yang dapat kita miliki? Oh, seandainya Allah memberikan hal itu bagi kita. Dan bukan menjadi gereja yang menyusut dan tumbang dan tersandung dalam dua tahun ke depan, akan tetapi malah sebaliknya jika kita memberikan prestasi kita yang terbaik kepada Allah. Saya merasa bahwa hal itu dapat dilakukan. Jika setiap orang dari kita memiliki pemecahan terhadap hal itu, dimulai dari saat ini dan sekarang ini, saya akan dua kali lebih terikat terhadap tugas dan pekerjaan saya.

Lalu bagaimana dengan masalah ras?—Gereja First Baptist dan tekanan ras dan huru hara yang kita saksikan di sekeliling kita—bagaimana dengan jemaat kita dan masalah ras? Jika kita memiliki yang cukup, kita akan sukar untuk masuk ke dalam pesan yang dapat disampaikan pada pagi hari ini oleh pendeta. Saya seringkali telah ditanya oleh banyak orang: Mengapakah di jemaat anda tidak pernah ada sebuah kebencian dan pertentangan ras? Sepanjang negeri ini, pertentangan ras hampir terjadi di setiap gereja. Dan gereja telah terkoyak-koyak dan mengalami perpecahan. Akan tetapi di Gereja First Baptist tidak pernah ada sebuah kejadian yang buruk itu. Lalu, anda mungkin berpikir bahwa dari seluruh gereja-gereja Konvensi Selatan, gereja kita akan menjadi target utama. Dan anda mungkin akan berpikir bahwa dari semua pendeta dari Konvensi Selatan, pendeta anda akan menjadi target yang pertama dan utama. Dan selama bertahun-tahun, lebih dari yang kita bayangkan bahwa masalah ras makin meingkat di Amerika. Akan tetapi di gereja kita tidak pernah mengalami peristiwa yang buruk itu. Mengapa?

 Dan saya memiliki jawabannya. Saya tidak pernah memiliki sebuah ketakutan. Tidak pernah ada sebuah ketakutan di dalan hati saya sehubungan dengan jemaat ini dan masalah ras yang menjijikkan itu. Saya telah menyerahkannya kepada Allah bertahun-tahun yang lampau. Dan saya memiliki sebuah jawaban doa dan jaminan dari sorga bahwa peristiwa yang buruk masalah ras itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah terlihat di dalam gereja ini. Dan selama tahun-tahun belakangan ini, saya telah berjalan dan berkhotbah tanpa rasa takut. Hati saya memiliki ketenangan. Saya merasa ada sebuah jawaban dari Allah. Kita tidak akan pernah memiliki kepahitan seperti itu di dalam jemaat kita. 

Lalu selama bertahun-tahun saya mengamati jemaat ini. Selama bertahun-tahun kita telah sama seperti sebuah jemaat Filadelfia. Jemaat Filadelfia adalah jemaat yang memiliki pintu terbuka. Dan saya telah mengamatinya dan sungguh-sungguh mengamatinya selama bertahun-tahun. Saya telah melihat orang Jepang menelusuri lorong ini, mereka dikasihi dan disambut oleh jemaat kita. Saya telah melihat orang Cina datang menelusuri lorong bangku ini, dikasihi dan disambut oleh jemaat ini. Saya telah melihat orang Indian, Indian Amerika dan India dari India berjalan menelusuri lorong bangku ini, mereka dikasihi dan disambut oleh jemaat kita. Saya telah melihat keluarga Meksiko  dan anak-anak dan orang-orang muda berjalan menelusuri lorong ini, dikasihi dan disambut oleh jemaat kita. Dan ketika saya melihat anda dan serat moral dari jemaat kita, saya mulai melihat orang-orang  berwarna berjalan menelusuri loromng bangku ini, dikasihi dan disambut oleh jemaat kita. Anda mungkin bertanya, “Apa maksud anda dengan  orang berwarna? Maksud saya, orang dengan kulit gelap dengan darah negro di dalam diri mereka. Seorang wartawan sedang berbicara dengan saya, dan saya bertanya kepadanya, “Apakah Adam Clayton Powell seorang Negro? “Ya,” katanya. Saya berkata, “Bagian Negro yang mana? Dia kelihatan orang seperti seorang kulit putih bagi saya?” Saya telah melihat mereka berjalan menelusuri lorong bangku ini. Orang-orang Meksiko dan Negro—orang-orang berwarna. Akhirnya saya melihat seorang Amerika Tengah  datang menelusuri lorong bangku ini. Dia berkulit hitam—dikasihi dan disambut oleh jemaat ini. Dan akhirnya saya melihat seorang Nigeria menelusuri lorong bangku ini dan dia dikasihi serta disambut oleh jemaat ini. Selama bertahun-tahun, sebagaimana mereka berlalu, saya telah melihat jemaat kita dengan sebuah hati yang terbuka dan roh yang berbelas kasihan menyambut ke dalam kerajaan dan tubuh Kristus, orang-orang yang mungkin berbeda dengan anda dan saya.

Kemudian beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah surat dari seseorang yang saya kasihi dan hormati. Seorang pemimpin yang penuh dedikasi di dalam Konvensi kita, di negara kita dan seorang penatua yang terkasih dari jemaat ini. Dan dari surat yang ditulis dari kedalaman hatinya, dia menulis surat yang termanis kepada saya. Dan di dalam surat itu dia berkata, “Pendeta, saya terbangun pada waktu malam di Carolina Selatan dengan sebuah beban di hati saya dan saya tidak dapat melarikan diri. Itu adalah tentang anda. Dan itu adalah tentang jemaat kita. Dan mengenai masalah presiden dari Konvensi ini yang ditekankan atas anda, saya memiliki sebuah beban, saya takut bahwa ada orang yang dengan sengaja berusaha untuk menghamcurkan anda dan menghancurkan jemaat.” 

Pada saat itu, saya, dalam beberapa hari yang lampau, pikiran saya menjadi penuh, bahwa saya tidak akan menerima sebuah jabatan seperti itu. Secara tiba-tiba saya menyebutkannya tanpa kehati-hatian, menyebutkan surat itu dan keputusan saya bahwa saya tidak akan ditekan kedalam sebuah tugas sebagai pemimpin dari Gereja-Gereja Baptis Selatan. Saya secara tiba-tiba menyebutkan kepada komite keuangan yang telah siap sedia untuk mengucurkan kepada gereja kita jutaan dolar untuk bangunan dan pengembangan program. Dan saya berkata di antara hal lainnnya, “Berdasarkan hitungan ras, saya tidak akan merespon permohonan itu.”

Dan orang-orang itu, nama-nama itu sudah dicetak dan anda dapat melihatnya. Orang-orang itu menjawab dengan pikiran bahwa mereka telah memikirkan hal ini selama seratus tahun. Mereka berkata, “Pendeta, waktunya telah tiba bagi kita menghadapinya sekarang dan selamanya.” Kemudian saya berkata, “Saya tidak ingin melakukannya sekarang. Hal itu seolah-olah akan menjadi tekanan dari orang lain mengenai presiden dari konvensi ini telah mempercepat suatu diskusi di dalam jemaat kita.” Mereka berkata, “Pendeta, presiden Konvensi tidak masuk ke dalam jalan ini atau yang lainnya. Kadang-kadang, suatu ketika, hal ini harus dihadapi dan sekarang adalah waktu untuk melakukannya.” Lalu, Mr. Cantrell yang berada di sana, mengadakan pertemuan diaken pada hari selasa minggu yang lalu. Dan setelah sesi yang menajdi urusan mereka telah seleesai, mereka berkata, “Sekarang, pendeta berdirilah di sini dan curahkanlah apa yang menjadi beban hati anda.” Jadi saya berada di sana selama satu jam dan menucahkan seluruh beban jiwa saya. 

Apakah hal ini berlaku di dalam jemaat kita dan di antara gereja kita? Inilah yang belaku di dalam jemaat kita. Saya mengarahkan pandangan saya ke Bucner Home dan Bucner Home memiliki anak-anak dari jenis warna kulit yang berbeda—kuning, hitam, putih dan merah. Dan ketika tiba masa di mana mereka mendiskusikan untuk membawa anak-anak itu ke Gereja First Baptist Dallas, sebagaimana banyak dari mereka hadir di sini pada pagi hari ini, salah seorang pemimpin datang kepada saya dan berkata, “Tetapi pendeta, beberapa anak-anak kami dengan warna kulit yang berbeda, sebaiknya tidak usah datang.” Saya membalas perkataannya itu, “Sukar untuk dibayangkan bahwa Gereja First Baptist Dallas kita akan menolak Buckner Home dan pelayanan mereka karena anda sendiri memiliki kasih dan belas kasihan sehubungan dengan seorang anak yang memiliki warna kulit yang berbeda. Datanglah. Kami akan menyambutnya.” Dan tahun ini anak-anak Buckner Home telah dibawa ke dalam gereja kita yang terkasih ini.

Kemudian saya berpaling dan memandang Dallas Baptist College. Saya telah pergi untuk berbicara di dalam ibadah kapel mereka. Dan Dallas Baptist College dipenuhi oleh orang-orang muda yang memiliki warna kulit yang berbeda. Dallas Baptist College kita.

Kemudian saya berpaling untuk melihat ke dalam Baylor School of Nursing kita.  Dan di dalam Baylor School of Nursing terdiri dari wanita muda dengan warna kulit yang berbeda. Dan saya berjalan ke ruangan dari Baylor University Hospital dan di sana anda akan melihat orang dari berbagai ras dan warna kulit mereka. Rumah Sakit kita berusaha untuk melayani mereka semua.

Dan ketika kita memulai pelayanan terhadap anak-anak terbelakang, salah satu hal yang termanis di dunia, mereka membawa kemari anak-anak yang terbelakang yang berasal dari rumah-rumah yang ada di Kota Dallas. Dan setengah dari mereka memiliki warna kulit yang berbeda. Mereka datang kepada saya dan berkata, “Haruskah kita menutup pintu?” Saya berkata, “Menutup pintu bagi anak-anak terbelakang ini karena mereka memiliki warna kulit yang berbeda? Tidak! Tidak!—dan mereka telah datang.

Dan ketika saya melihat seluruh institusi kita, di mana-mana ada pintu yang terbuka. Dan di sana ada tangan-tangan yang terulur dan lengan yang memberi sambutan. Saya telah berkata ribuan kali berkenaan dengan beban keuangan bagi institusi-institusi gereja, saya telah menyampaikan kalimat ini: “Anda tidak dapat memisahkan sebuah gereja dari institusi-institusinya.” Dan untuk memberikan dukungan uang kepada institusi yang menjadi milik gereja dan dijalankan oleh gereja adalah sama dengan memberikan dukungan uang bagi gereja itu sendiri. Dan saya telah mendapati di dalam jemaat ini dengan Buckner Home dan Baptist College kita dan sekolah perawat kita dan rumah sakit kita dengan mengumumkan kebijakan satu arah.     

Dan akhirnya, ketika saya berbicara kepada saudara-saudara saya dan rekan-rekan di gereja, diaken kita, saya berkata, “Dan saya membawa beban pribadi dari jiwa saya kepada anda. Saya tidak dapat menggambarkannya dan saya telah mememiliki beban yang berat terhadap hal itu. Saya tidak dapat menggambarkan apa yang saya rasakan ketika saya memberitakan Injil Anak Allah dan memanggil manusi untuk beriman dan untuk bertobat, dan berdiri di sana dengan rasa takut bahwa seseorang yang akan bertobat memiliki pigmen warna yang berbeda dengan saya. Itu adalah sebuah pemikiran di mana saya hidup dengan sebuah penyangkalan iman, berkhotbah dan takut bahwa seseorang akan merespon.” Bagaimana seandainya yang datang menelusuri lorong bangka adalah anak dari Buckner Home yang memiliki warna kulit yang berbeda? Bagaimana saya akan menjelaskannya kepada anak tersebut? Dalam sepuluh ribu tahun saya tidak akan dapat menjelaskannya kepada anak itu. Tetapi itu bukanlah poin yang utama, yang utama adalah bagaimana saya dapat menjelaskannya kepada Allah? Anda beritahukanlah kepada saya. Anda sampaikanlah sebuah perkataan kepada saya. Jawaban apa yang harus saya sampaikan kepada Allah? “Tuhan, anak ini yang berasal dari Buckner Home menemukan Yesus pada hari ini.” Apa yang harus saya sampaikan? Saya membayangkan Patrick Henry yang membela tiga pengkhotbah Baptis yang dipenjarakan karena memberitakan Injil Anak Allah. Dan di pengadilan itu, Patrick Henry yang fasih itu memegang dakwaan dan melambaikannya di atas kepalanya dan berkata, “Apa yang dikatakan oleh dakwaan ini? Orang-orang ini dihukum karena memberitakan injil Anak Allah. Luar biasa! Luar biasa! Dan dakwaan yang ada di sini adalah pendeta menyampaikan  Injil Anak Allah dan seseorang meresponnya tetapi pendeta itu menolaknya. Luar biasa! Luar biasa!

Ketika waktunya selesai, saya pikir para diaken kita bermaksud untuk mendiskusikannya. Dan ketika saya duduk, salah satu diaken tiba-tiba berdiri dan berkata, “Setiap orang di sini, dipersilahkan untuk berdiri.” Dan seluruh diaken berdiri. Dan Ketua Cantrell memanggil mereka maju ke depan. Seratus delapan puluh orang dari mereka bahkan lebih menundukkan wajah mereka dan memanggil diaken misionaris kita ke Nigeria, Dr. Wayne Logan untuk memimpin doa. Dan hal ini berlangsung tanpa keriuhan, tanpa dramatis. Hal itu sama seperti pengumuman yang sederhana seperti ketika anda berjalan di jalan, ketika anda mengunjungi Buckner Home, ketika anda melihat anak-anak yang terbelakang itu, hal ini sangat jelas dan sederhana, pengumuman tanpa hiasan bahwa Gereja First Baptist Dallas sama seperti jemaat Filadelfia di Kitab Wahyu. Itu adalah sebuah jemaat dengan pintu yang terbuka. Dan ketika pendeta berkhotbah, dia berkhotbah seperti dia mengutip dari Yesaya 55:1: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang”—setiap orang berada di dalamnya. Seperti yang disampaikan oleh Yesus dalam Matius 11:28: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”—setiap orang boleh datang. Seperti yang ditulis oleh Simon Petrus dalam 2 Petrus 3:9: “Karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Seperti yang ditulis dalam Kitab Wahyu 22:17: “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang. Dan barangsiapa yang mau hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma! Marilah. Datanglah. Dan Allah memberkati kita dan Allah hadir di jalan anda saat anda datang.

Sekarang, waktu kita telah habis. Kita harus menyanyikan lagu undangan kita. Dan ketika kita menyanyikannya, jika ada sebuah keluarga, sebuah pasangan, atau seseorang  dari anda, yang merasakan seruan Roh Kudus di dalam hati anda, datanglah, dan buatlah keputusan itu sekarang. Lakukanlah. Dan terberkatilah anda ketika anda datang dalam nama Yesus, kami menyambut anda. Lakukanlah ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu undangan kita.

Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM