KRISTUS DI DEPAN PINTU

(CHRIST AT THE DOOR)

 

Dr. W. A. Criswell

 

10-22-61

 

Revelation 3:20-4:1

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung bersama dengan kami dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Ini adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah dalam ibadah pukul tujuh pagi, khotbah yang berjudul: Kristus Di Depan Pintu. Di dalam seri khotbah kita melalui Alkitab dan melalui Kitab Wahyu, minggu yang lalu kita telah menyelesaikan bagian pertama yang terbesar dari Wahyu, jemaat  yang terakhir.

Di mulai dari pasal empat, kita masuk kepada kesudahan zaman. Hal itu telah ada di dalam pikiran saya dan telah diumumkan dalam program anda, bahwa khotbah pada pagi hari ini akan dimuali dari pasal empat itu.

Tetapi, ketika saya melihat ke dalam pasal tiga ini, hati saya masih merasa berat untuk meninggalkannya, tanpa mempersiapkan sebuah pasal dalam teks ini, yang merupakan teks yang paling indah dan paling lembut dari seluruh teks Alkitab. Jadi sebelum memulai pasal empat, yang akan kita gambarakan dan membuat garis besar atasnya dan  juga pasal-pasal yang mengkutinya, yaitu tentang periode kesusahan akhir yang akan terjadi atas dunia, dan sebelum memulai penjelasan tentang wahyu Allah yang menjelaskan hukuman Allah yang mengerikan dan menakutkan terhadap dunia ini dan sebelum memulai kemenangan umat Allah di dalam kemuliaan, kita akan berhenti sejenak di hadapan teks yang indah ini, yaitu di dalam Wahyu 3:20:

 

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

 

Salah satu hal yang menakjubkan dari teks ini ditemukan dalam lokasinya: dimanakah itu—karena Tuhan memiliki kata-kata pujian, restu, penerimaan dengan baik, dorongan bagi ketujuh jemaat Asia kecuali jemaat ini. Tidak ada surat kepada ketujuh jemaat yang penuh dengan celaan dan teguran, kecuali kepada jemaat Laodikia ini. Kepada setiap jemaat dan kepada setiap konggregasi, Dia memiliki kata-kata pujian, setidaknya kata-kata yang memberi restu, kecuali kepada jemaat yang terakhir ini: jemaat Laodikia. 

Surat kepada jemaat Laodikia penuh dengan peringatan keras, penuh dengan celaan. Akan tetapi di dalam surat yang penuh teguran dan hukuman serta penilaian anda akan menemukan undangan yang lemah lembut ini. Hal itu sama seperti sekuntum bunga yang indah di tengah gurun. Sama seperti mendengar sebuah kicau burung di atas sebuah musim dingin yang pucat. “Lihat,” Dia berkata, bahkan di dalam peringatan yang keras kepada jemaat Laodikia—“Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok.”

Teks itu juga merupakan teks yang mengagumkan karena pribadi dari Seseorang yang digambarkan sedang berdiri di depan pintu. Lihat, Kristus telah datang bagi kita!

Getaran dari hal itu, pemikiran tentang itu, keajaiban tentang itu, bahwa Dia, yang bahkan seluruh lapisan langit tidak dapat memuatnya, Dia yang kepadaNya Allah telah memberikan seluruh kuasa di sorga dan di bumi, berada di depan pintu kita. Dia datang untuk kita.

Saya masih ingat tujuh belas tahun yang lalu, dan bagaimana saya dapat melupakannya? Ketika komite dari gereja Dallas ini datang ke Muskogee, tempat saya menjadi pendeta. Hal yang menakjubkan bagi saya, yang menggetarkan saya, melampaui dari apa yang dapat saya gambarkan, bahwa jemaat ini datang ke pintu saya dan berbicara kepada saya. Dan seandainya saya tahu konsekuensi selanjutnya, saya akan bahwa lebih bergetar lagi.

Tuhan telah datang bagi kita. Dan Dia berdiri di depan pintu kita. Seandainya itu adalah malaikat dari sorga—betapa menakjubkannya, betapa agungnya, betapa luar biasanya hal itu, sama seperti malaikat yang menemui Abraham atau Manoah, atau seperti malaikat yang menampakkan diri kepada Zakharia, yang berdiri di dekat altar. Seandainya itu adalah seorang penguasa atau seorang raja, atau seorang perdana menteri, akan tetapi diatas semuanya itu, yang datang adalah Dia yang ditinggikan di atas sorga: Tuhan kita yang telah bangkit!

Apakah anda mengingat gambaran tentang Dia ketika Kitab Wahyu dibuka? 

Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

Dia berada di depan pintu: Tuhan kita yang telah bangkit dan Raja yang ditinggikan—sedang mengetok, sedang mengetok.

Pasal ini adalah sebuah wahyu yang menakjubkan tentang karakter Juruselamat kita, ditinggikan di sorga, Tuhan kita memiliki pencarian yang sama di dalam kemuliaan ketika Dia berinkarnasi. Karena Anak Manusia, anda baca di dalam bagian, “datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”  

Dan minat yang sama dan seruan yang sama serta pencarian yang sama tetap menjadi kerinduan di dalam hati Juruselamat kita sekarang ini, tetap dipenuhi oleh hal itu dan melakukan hal itu. Ketika Dia berada di sini, saat Dia menjadi manusia, Dia membuat seruan bagi setiap jenis manusia: para pemungut cukai, orang-orang berdosa, para ibu dan anak-anak mereka, orang-orang yang terbuang dan yang putus asa serta sarjana seperti Nikodemus. Dan semuanya saya, dipenuhi keinginan untuk melihat Dia, sama seperti Zakheus.

Dia tidak berubah, tetap berseru, tetap melawat, tetap mengetok di depan pintu, tetap melihat dan mencari, pencarian yang kekal, seperti seorang gembala yang mencari domba yang hilang, seperti perempuan yang menyapu lantai dan menyalakan lampu untuk mencari dirham yang hilang, Juruselamat kita tetap sama.

Dan dia berbicara dengan agresif dan penuh tujuan. Kadang-kadang kita berpikir bahwa merupakan bagian kita untuk mencari dan undangan itu adalah bersama dengan kita. Kadang-kadang kita merasa yakin bahwa Dia menggenggam kita dalam lengan yang kuat dan menyangkal rahasia dari kehadiranNya. Betapa salahnya kita. Seluruh keselamatan kita berasal dari Allah: “Bukan karena kita mengasihi Dia, melainkan karena kasihNya kepada kita.” Dan bukan kita yang mencari Dia, tetapi Dia yang mencari kita. 

Betapa indahnya hal itu, Allah yang mencari manusia, yang dibuat dari debu tanah, yang menghujat dan berdosa serta mengutuk Allah dan meragukan anugerahNya dan menolak kemurahanNya serta mengesampingkan RohNya. Betapa merupakan sebuah anugerah yang melimpah bahwa Allah mencari manusia. 

Tetapi di dalam keagresifanNya, Tuhan kita berdiri di depan pintu. Dalam perumpamaan domba yang hilang, saya menduga, ketika sanga gembala menemukan dombanya itu, dia mengangkatnya dengan kuat dan meletakkan di atas bahunya serta membawanya pulang. Tetapi di dalam perumpamaan ketiga tentang anak pemboros itu, sang bapa menunggu dan merindukan serta berdoa, supaya anaknya kembali pulang. Tidak ada sebuah paksaan. Dan ketika saudara yang sulung, karena kemarahannya, menolak untuk masuk ke dalam, perumpamaan itu berkata bahwa sang ayah pergi keluar dan memohon kepadanya untuk masuk ke dalam.

Demikian juga dengan Tuhan kita. Dia memiliki sebuah penghormatan yang dalam terhadap pribadi seseorang dan Dia tidak pernah melakukan kekerasan terhadap kehendak bebas yang telah diberikan kepada jiwa manusia. Dan Tuhan berdiri di depan pintu, setelah setelah melakukan seluruh hal yang dapat dilakukan oleh kemahakuasaanNya. Dia tidak pernah memaksakan keputusan. Hal itu tergantung kepada manusia yang berada di sebelah pintu. 

Dan Tuhan berhenti dan mengetok serta mengetok, meminta supaya Ia dapat masuk. Sama seperti cahaya matahari, ketika jendela tertutup dan maka cahaya itu tidak dapat masuk, tidak ada misteri dari cahaya kemuliaan Allah yang memenuhi ruangan sampai jendela itu dibuka dengan lebar dan kegelapan itu akan berlalu. Demikian juga dengan cahaya kemuliaan Allah di dalam Kristus Yesus, yang pertama harus dilakukan adalah, membuka jendela, mencelikkan kebutaan sehingga Raja yang mulia dapat masuk. 

Betapa anehnya untuk menemukan begitu banyak orang yang berkata: “Jika Allah melakukan beberapa hal mujijat, saya akan menerima Dia. Jika Dia melakakukan suatu paksaan kepada saya, saya akan setuju. Tetapi sebekum Dia melakukan suatu cara mujijat, saya tidak akan membuka pintu hati saya. Saya akan mengeluarkanNya.”

Dan betapa merupakan sebuah sikap yang aneh. Yang berpikir bahwa Allah akan memaksa jiwa manusia. Dia datang dalam sebuah undangan. Dan kita memiliki hak untuk menolak Dia dan mengusir Dia.

Betapa merupakan sebuah hal yang mengherankan: sama seperti ketika Tuhan melihat orang muda yang kaya itu dan mengasihi dia dan melihat orang muda itu menolak Dia dan pergi. Mengapa Tuhan tidak menahan dia? Mengapa Tuhan tidak memaksanya? Mengapa Allah membiarkannnya saja? Karena Allah tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada jiwa manusia. Itu adalah keputusan anda. Dan jika Dia masuk ke dalam, itu karena anda membuka pintu.  

Sesekali, seseorang mungkin akan berkata: “Tetapi saya tidap pernah merasa bahwa Allah mengetok pintu saya. Dia mengetok pintu di sebelah sana, tetapi Dia tidak mengetok pintu saya. Pintu hati saya tidak pernah disentuh oleh tekanan tangan Allah. Saya tidak pernah merasakan bahwa Dia mengetok pintu saya.”

Oh, sahabatku, saudaraku, tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan seruan Allah di dalam hatinya. Saya mungkin orang yang terhilang, tetapi Dia mengetok di depan pintu. Saya mungkin seseorang yang buruk, tetapi Dia mengetok di depan pintu. Saya mungkin seorang yang tercela tetapi Dia mengetok di depan pintu.  

Dimana saja ada jantung yang berdetak di dunia ini, di sana ada sebuah kerinduan dari Juruselamat, yang sedang mengetok di depan pintu. Di dalam seluruh hiruk pikuk kehidupan dan peruntungan yang lewat setiap hari, di sana akan ada Juruselamat yang sedang mengetok pintu hati kita.

Di dalam berapa banyak cara Dia mengetok?  Dia mengetok di dalam Firman. Dia berusaha masuk ke dalam melalui Firman. Setiap kutipan Alkitab, setiap rujukan terhadap Kitab suci, itu adalah sebuah ketokan di pintu hati seseorang. 

Dia mengetok di depan pintu hati kita dalam ibadah yang dilakukan dalam namaNya. Setipa gereja dengan sebuah puncak menara yang menunjuk kepada Allah adalah sebuah undangan kepada Kristus. Setiap sebuah himne yang dinyanyikan, setiap sebuah khotbah yang disampaikan, setiap kali namaNya di dengar melalui siaran Radio, setiap kali umat Allah berkumpul dalam sebuah ibadah umum, itu adalah sebuah ketokan bagi hati manusia yang merupakan bagian dari Juruselamat.

Dia mengetok di depan pintu hati, yang memiliki perasaan yang tidak layak dan berdosa dan kelemahan yang dialami oleh setiap manusia yang lahir. Tidak ada manusia yang tidak pernah mengalami  tekanan di dalam jiwanya yang bersalah dan yang telah kehilangan kemuliaan Allah. 

Dia mengetok di pintu hati kita melalui setiap ingatan, setiap air mata, setiap doa dari seorang ayah, seorang ibu dan pengalaman masa kanak-kanak sehingga kita lebih dekat kepada Allah. Banyak pria dan wanita telah menundukkan kepalanya, setiap mengingat doa seorang ibu atau doa seorang ayah. Semuanya itu merupakan seruan yang menjadi bagian dari Tuhan kita.

Dia mengetok pintu hati kita melalui semua pengalaman yang datang dalam hidup kita. Ketika dua orang bergabung dalam sebuah pernikahan, Kritus berada di sana mengetok pintu. Ketika seorang bayi lahir, Tuhan berada di sana, sedang mengetok pintu. Ketika dua orang berpisah, dan hati terasa kosong, dan keranjang sampah penuh, Dia berada di sana, sedang mengetok pintu. Di dalam kedukaan yang dalam dan penderitaan serta kekecewaan dalam hidup, semuanya itu merupakan sebuah ketokan di pintu hati kita.

Dan Tuhan mengetok pintu di dalam kemurahan dan berkatNya yang memenuhi hati kita dengan setiap karunia yang berasal dari sorga. Paulus berkata, “Lihatlah kebaikan Allah yang memimpin kamu ke dalam pertobatan.” 

Jika saya menundukkan kepala saya dalam sebuah kekecewaan yang pahit, Tuhan berada di sana dan sedang mengetok pintu. Jika saya berdiri di samping sebuah kuburan yang terbuka, itu adalah sebuah undangan untuk percaya kepada Tuhan. Setiap pengalaman keputusan yang saya hadapi adalah sebuah permohonan yang mendesak dari Kristus, untuk berdiri dengan jiwa saya, untuk memberikan kekuatan dan dorongan kepada hidup.  Setiap putaran dan keberuntungan dalam hari-hari kita merupakan ketokan Tuhan di depan pintu hati kita. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok.”  

Dan dengan hasrat apakah Dia masuk ke dalam? Bagaimanakah seseorang menjadi orang Kristen? Apakah dia membelinya. Apakah dia bekerja untuk itu. Tidak. Apakah dia membuat sebuah garis besar program. Tidak. Apakah dia mempelajarinya dan menguber-ubernya. Menggali dan menggali lebih dalam. Tidak. Apakah dia mendaki dan terus mendaki. Tidak.

Bagaimanakah seseorang menjadi orang Kristen? Kita semua melakukannya dengan cara yang sama. Seseorang mungkin terpelajar dan pintar serta seorang sarjana. Seseorang mungkin tidak terpelajar dan tidak berpendidikan. Seseorang mungkin kaya dan berpengaruh. Dia mungkin miskin dan tinggal dalam sebuah gubuk. Siapa pun dia, bagaimana pun keadaannya, semuanya datang kepada Yesus dengan cara yang sama. Di dalam sebuah kesederhanaan, tindakan iman yang sederhana, kita membuka pintu dan mengundang Juruselamat untuk masuk ke dalam.

Dan anda tidak perlu membeliNya. Dan anda tidak perlu cukup baik bagi Dia. Dan anda tidak perlu memprogramNya. Dan anda tidak perlu menguber-uber Dia. Itu adalah sebuah karunia dari anugerah. Di dalam sebuah tindakan iman, anda membuka pintu hati anda dan mengundang Tuhan masuk ke dalam. Sama seperti membuka sebuah jendela untuk cahaya senja, untuk cahaya pagi dan membuka tempat yang teduh untuk cahaya yang mulia, dan anda akan menemukan Juruselamat masuk ke dalam.

Kekuatan yang besar dari dunia ini tidak terlihat, kecuali ketika mereka ditunjukkan dalam keheningan. Ketika matahari terbit pada pagi hari, dan bermain di atas pipi seorang bayi, anak kecil itu tidak akan bangun. Di dalam keheningan yang sederhana itu, Allah membawa mujijatNya untuk lewat.

Demikian juga ketika seseorang diselamatkan. Dia mungkin memiliki sebuah perubahan pengalaman yang besar, tetapi dia tidak diselamatkan oleh perubahan besar itu. Dia mungkin memiliki sebuah cahaya sama seperti cahaya matahari siang yang menjatuhkan dia ke atas bumi, tetapi dia tidak diselamatkan oleh cahaya yang meninbulkan kebutaan itu. 

Kita semua diselamatkan dengan cara yang sama; dengan pengalaman yang sederhana dari membuka pintu hati kita dan mengundang Juruselamat masuk ke dalam. Seorang anak kecil dapat melakukannya. Seorang yang sudah tua dapat melakukannya. Seorang sarjana yang terpelajar dapat melakukannya. Dan seseorang yang tidak terpelajar dan tidak terdidik, yang tidak dapat membaca dan menulis dapat melakukannya. Setiap orang dapat melakukannya: membuka pintu hatinya kepada Tuhan Yesus dan mengundang Juruselamat masuk ke dalam.

 Ketika saya sedang mempersiapkan khotbah saya ini. Saya membaca sebuah kisah yang tidak biasa. Seorang pendeta pegunungan di Tennese terperangkap dalam badai salju dan kehilangan kesadaran dalam cuaca yang sangat dingin itu. Kudanya membawanya ke dalam sebuah gubuk orang gunung. Dan ketika dia mulai sadar, pendeta itu mendengar percikan nyala api dan melihat ke dalam wajah seorang pria yang dipenuhi janggut, membungkuk di hadapannya dan mengutuk karena dia tidak dapat membuka mulut pendeta itu untuk memasukkan leher sebuah botol.

Dan ketika dia kembali sadar, dia mengenali pria itu: seorang pelanggar hukum dan penghujat. Pria buruk itu dan istrinya merawat pria itu hingga dia pulih. Dan harinya tiba ketika dia akan pergi, pendeta itu merogoh kantongnya dan menawarkan orang pendosa itu seluruh uang yang dia miliki sebagai balas jasa karena mereka telah menyelamatkan hidupnya.

Dan pria buruk itu menolak uangnya dan berkata, “Seandainya anda datang ke rumah saya sebagai seorang pendeta, saya akan menembak anda. Tetapi kemarin malam anda datang dalam keadaan yang yang hampir beku, saya tidak dapat membiarkan anda pergi. Jadi pergilah. Pergilah dan simpan uang anda.”

Dan pendeta itu memiliki sebuah perasaan di dalam hatinya, bahwa dia harus menyampaikan sesuatu kepada pria itu. Dan dia berkata, “Sebelum saya pergi, maukah anda saya bacakan Alkitab dan berdoa?” Dan sebelum pria itu mengeluarkan sumpah serapah penolakannya, istrinya berkata, “Ya, pendeta. Silahkanlah.”

Dan pria buruk itu memandang pendeta itu dan berkata, “Dengar, 20 tahun yang lalu, ketika Yang Mahakuasa mengambil anak kami satu-satunya, bocah laki-laki kami, saya berkata, tidak seorang pun yang mewakili Dia dapat masuk ke dalam rumah saya.”

Tetapi istrinya berkata, “Pendeta, silahkan lakukan.”

Kemudian, pendeta itu membaca Lukas pasal lima belas, kemudian berlutut dan ketika Dia berbicara kepada Allah di dalam hatinya dia berkata: “Tuhan, tidak adakah suatu cara untuk meraih pria ini kepadaMu?”

Dan kemudian datang sesuatu ke dalam hatinya; keramah-tamahan sebuah keluarga selatan. Jadi, dia berdoa seperti ini, “Tuhan yang mulia, tadi malam ketika aku datang ke dalam pondok ini, saya dalam keadaan tidak sadar. Dan pria ini membuka pintu rumahnya, dan merawat saya hingga saya pulih. Tetapi Tuhan, Engkau telah berada di depan pintu ini lebih selama dua puluh tahun dengan tangan yang terbuka dan mereka melakukan apa-apa selain membanting pintu di depan wajahMu. O, Tuhan, tolonglah pria ini untuk membuka pintu rumahnya bagiMu.”

Betapa merupakan sebuah doa yang luar biasa! Dan setelah pendeta itu berkata, ketika dia membuka matanya, pria besar yang buruk itu, sedang menatap  pintu yang terbuka, salju yang meleleh dan cahaya yang terang. Dan dia berdiri dan berjalan ke pintu serta berkata, “Masuklah. Masuklah.” Dan dia menoleh kea rah pendeta itu dan berkata, “Pendeta, Dia masuk ke dalam.”

Kadang-kadang, kebenaran lebih aneh dari sebuah fiksi. Dia berkata kepad pendeta untuk meninggalkan Alkitab itu kepadanya dan berpaling ke dalam Lukas pasal lima belas dan berkata bahwa dia akan berusaha mencari seseorang agar dapat membaca bagian itu lagi kepadanya.

Dan dia bertanya kapan pendeta itu akan datang kembali dengan ke pegunungan itu. Dan dia akan berada di sana. Dan ketika pendeta itu kembali, istri dari pria itu menemui dia dan berkata, “Pendeta, saya tidak dapat menggambarkannya. Saya tidak dapat menjelaskannya. Dan anda tidak akan mengenal rumah kami. Saya tidak dapat menjelaskannya. Pendeta ketika anda datang hari ini, anda dipanggil untuk orang yang berduka, saya menemui anda.”

Dan pendeta itu, seperti yang saya baca tentang kisahnya, pendeta berkata, ketika dia dipanggil untuk memberi penghiburan kepada orang yang mengalami dukacita, pria besar yang buruk itu maju ke depan dan melihat ke sekelilingnya dan berkata, dia berkata, “Apa yang dikhotbahkan oleh pendeta ini benar. Dia berlutut di rumah saya dan berdoa supaya Tuhan masuk ke dalam. Dan saya melihat Dia masuk ke dalam. Dan saya berubah sejak itu.” Selanjutnya dia berkata, “Mari datanglah, saudara-saudari.”  Dan pengkhotbah itu berkata, “Dan saya melihat seluruh jemaat itu datang.”

Saya memberikan jaminan kepada anda bahwa kisah pendeta itu memiliki sebuah pertobatan yang sensasional. Dan itu merupakan sebuah peristiwa hidup yang tidak biasa yang membawa dia ke depan pintu rumah orang pegunungan itu.

Tetapi, pintu terbuka yang sama yang membawa Kristus ke dalam kehidupan pria yang buruk itu, juga membawa Kristus kepada saya dan juga kepada anda. Hanya mengundang Dia dan lihatlah apa yang Yesus lakukan. Mintalah Dia untuk setiap keputusan. Mintalah Dia dalam setiap pencobaan. Mintalah Dia. Undanglah Dia. 

Bukalah pintu dan lihatlah, apakah di sana ada kehadiran raja yang tidak terlihat yang berdiri di samping anda. Dia akan datang pertama kali dalam pengampunan atas dosa. Dia akan datang setiap hari dan waktu-waktu selanjutnya dan menetap di rumah anda serta tinggal di dalam hati anda. Mintalah. Bukalah pintu itu dengan lebar.

Martin Luther berkata, “Seandainya anda mengetok pintu hati saya sebelum saya bertobat, dan bertanya siapakah yang hidup di sana, saya akan menjawab, ‘Martin Luther hidup di sana.’ Dan seandainya anda masuk ke dalam, anda akan menemukan seorang biarawan, dengan kepala yang dicukur dengan sebuah cambuk yang tergantung di samping tempat tidurnya, tidur di atas sebuah bantal yang terdiri dari dua batu.’ Tetapi, jika anda mengetok pintu hati saya sekarang dan bertanya: ‘Siapakah yang tinggal di sana?’ Saya akan menjawab: ‘Martin Luther tidak lagi tinggal  di sini. Ini adalah rumah di mana Yesus hidup.’” 

Bukankah itu benar?

 

Jika engkau letih dengan beban dosamu,

Biarkan Yesus masuk ke dalam hatimu.

Jika engkau merindukan memulai sebuah hidup yang baru,

Biarkan Yesus masuk ke dalam hatimu.

Lakukanlah sekarang, jangan ragu untuk menyerahkannya,

Lakukanlah sekarang, jangan lagi menolak Dia,

Lakukanlah sekarang, bukalah pintu lebar-lebar.

Biarkan Yesus masuk ke dalam hatimu.

 

             “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”—sebuah persekutuan kekal dibalik kematian dan kuburan. Tuhan Yesus, masuklah. Masuklah.

 Maukah anda mengundang Dia pada pagi hari ini? Maukah anda melakukannya? Katakanlah, “Pendeta, saya memberikan tangan ini kepada anda, sebagai tanda bahwa saya telah membuka pintu hati saya untuk Kristus. Dan inilah saya.”

Maukah anda melakukannya pada pagi hari ini? Katakanlah, “Pendeta, ini istri saya, dan ini anak-anak kami. Kami semua datang pada hari ini.”

Jika ada seseorang dari anda yang berada di ujung bangku yang berada di atas balkon, jika Allah mengundang anda untuk datang, lakukanlah pada pagi hari ini. Ada sebuah tangga yang berada di bagian belakang dan bagian depan serta pada kedua sisinya. Lakukanlah itu pada pagi hari ini. Bagi anda yang berada di lantai bawah, berjalanlah melalui salah satu bangku ini dan maju ke depan dan katakan, “Pendeta, inilah saya dan saya datang. Saya membuka pintu hati saya bagi Allah. Saya telah mengundang Dia untuk masuk.”

Dan dia tidak akan pernah mengingkari janji ini: “Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”   

Maukah anda melakukannya? Maukah anda melakukannya sekarang? Di dalam waktu yang penting ini, di dalam doa yang sungguh-sungguh dari seluruh jemaat ini, di dalam nyanyian dari lagu undangan, ketika Roh berseru dan membuat permohonan, mari datanglah.

Datanglah, saat kita menyanyikan lagu ini dalam bait yang pertama dan baris yang pertama dan katakan: “Pendeta, inilah saya, dan saya segera datang. Saya akan melakukannya pada pagi hari ini,” ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu undangan kita.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, ThM