JIWA SETELAH MATI

(THE SOUL AFTER DEATH)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 6:9-11

13-05-62

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, dan yang menyaksikannya melalui siaran televisi, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pada pukul sebelas pagi, khotbah yang berjudul: Jiwa Setelah Mati. Ini adalah khotbah tentang waktu antara, periode antara kematian dan kebangkitan.  

Di dalam Khotbah kita melalui Firman Allah, setelah bertahun-tahun berkhotbah melalui kitab-kitab di dalam Alkitab, kita telah tiba di kitab yang terakhir dan yang klimaks yaitu Kitab Wahyu. Dan kita telah memiliki sebuah periode kecil, dalam beberapa hari yang telah berlalu, melalui musim Paskah dan melalui kebangunan rohani kita, ketika mimbar kita di berikan kepada subyek yang lain dan hal-hal yang lain.

Pagi ini kita akan mulai berkhotbah lagi melalui Kitab Wahyu. Khotbah yang terakhir adalah sebuah khotbah yang membahas tentang lima materai. Yohanes melihat sebuah kitab di dalam tangan Allah Yang Mahatinggi, yang dimateraikan dengan tujuh materai. Dan ketika pencarian dilakukan sepanjang seluruh ciptaan Allah: melalui sorga yang di atas, dan bumi yang berada di sekitarnya, dan dunia bagian bawah, tidak seorang pun yang ditemukan, tidak seorang pun di dalam sorga, sorga Allah, tidak ada seorang pun di wilayah bumi ini, dan tidak seorang pun di dunia bawah, yang ditemukan layak untuk membuka materai materai-materai itu dan melihat ke dalam kitab itu: rencana penebusan Allah, kitab keselamatan Allah.  

Dan ketika Yohanes menangis, tidak seorang pun yang telah ditemukan layak untuk membeli kembali warisan Adam yang telah hilang—ketika Yohanes menangis, salah satu tua-tua, yang dirinya sendiri ditebus oleh darah Anak Domba—salah satu tua-tua itu berkata,

Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan untuk membeli kembali tebusan yang tekah hilang di dalam dosa Adam.

Kemudaian bagian tubuh utama dari Wahyu dimulai. Di pasal enam, tiap-tiap materai itu dibuka. Dan ketika tiap-tiap materai itu dibuka di sana disingkapkan bagi kita sebuah bagian dari program klimaks yang di dalamnya Allah melemparkan penyusup dan perampas itu. Allah akan membersihkan bumi ini dari semua noda dan dosa dan Allah akan mengembalikannya kembali kepada umatNya warisan pusaka mereka yang hilang dalam pemberontakan.

Kemudian khotbah yang sebelumnya merupakan pembukaan dari materai-materai itu. Minggu depan merupakan khotbah yang akan membahas teantang pembukaan materai yang keenam, yang merupakan hari penghukuman dari Tuhan, di mana, “Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” Itu akan menjadi khotbah hari minggu pagi selanjutnya.

Lalu, khotbah pagi ini merupakan bagian yang kedua yang telah disiapkan sebelumnya dalam pembukaan lima materai. Dan pembagian dari bagian itu adalah seperti ini:

Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki.

Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?"

Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.

Sekarang, khotbah yang terakhir membahas tentang makna dari kelima materai itu dan makna dari perkataan yang kit abaca di dalam teks. Subjek pada pagi hari ini berkaitan dengan fakta kehidupan, eksistensi, kesadaran hidup dari jiwa-jiwa Yohanes di dalam sorga. 

Perbedaan antara jiwa dan roh adalah hal ini: roh yang murni tidak memiliki hubungan terhadap sebuah tubuh. Allah adalah Roh dan Dia tidak memiliki tubuh. Malaikat adalah sebuah roh dan mereka tidak memiliki tubuh. Setan adalah sebuah roh dan dia tidak memiliki tubuh.

Tetapi sebuah jiwa harus memiliki sebuah tubuh. Jika sebuah jiwa dipisahkan dari tubuh, jika jiwa tanpa tubuh, hal itu mungkin dirujuk sebagai sebuah roh. Tetapi kata “jiwa” selalu menyiratkan sebuah tubuh. Tidak ada sebuah hal seperti sebuah jiwa yang tidak memiliki sebuah tubuh. Ketika roh anda di dalam tubuh anda, jiwa anda hidup. Ketika jiwa anda melampaui tubuh, tidak memiliki tubuh, jiwa anda hidup. Tetapi sebuah jiwa harus memiliki sebuah tubuh.

Kemudian Yohanes berkata, melalui para martir yang terbunuh ini, mereka telah mati—Yohanes berkata: “Aku melihat jiwa-jiwa mereka di sorga dan aku mendengar mereka berseru.” Seseorang mungkin berkata bahwa ini adalah sebuah situasi yang tidak nyata. Ini adalah sebuah penglihatan. 

Hal itu benar. Tetapi itu adalah sebuah penglihatan dari realitas. Itu adalah sebuah penglihatan tentang fakta. Itu adalah sebuah penglihatan supranatural dari fakta sebelkum waktu, tetapi itu adalah sebuah penglihatan dari fakta itu sendiri. Ini adalah realitas yang dilihat Yohanes sebelum waktu. Kemudian, di dalam kematian, itu bukan akhir dari mereka.

Tubuh mereka terbaring hancur di dalam tanah. Tubuh mereka terbaring rusak di dalam tanah. Darah mereka telah ditumpahkan keluar di dalam tanah. Tetapi jiwa-jiwa mereka tetap hidup dan memiliki kesadaran di dalam sorga. Mereka berbicara dan mereka mengetahui apa yang sedang terjadi di bumi ini. Dan mereka hidup dan berbicara kepada Allah. Mata manusia, mata dari daging, tidak dapat melihat mereka. Tetapi mereka dikenal oleh mata Allah dan di dalam kondisi  nubuatan supranatural ini di mana Tuhan mengangkat Yohanes dan membawa dia ke dalam sorga untuk melihat hal-hal yang akan datang, Yohanes berkata, “Aku melihat mereka dan aku mendengar mereka.”  

Lalu, salah satu nubutan umum sepanjang Kitab Suci yang sering ditemukan di dalam sajian itu: bahwa kematian bukanlah akhir dari hidup kita. Tetapi ada sebuah kesadaran yang bersifat tetap dibalik kematian dan dibalik hari ini dan bumi ini. Sekalipun seseorang itu sudah diselamatkan atau belum diselamatkan, benar atau jahat, baik atau buruk, jahat atau kudus, jiwa hidup melampaui kematian ini dan kuburan ini.  

Ada seorang yang kaya. Ada seorang pengemis. Dan tibalah waktunya orang pengemis itu mati dan dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, dan dia memiliki sebuah ibadah penguburan. Orang miskin itu tidak memiliki sebuah ibadah penguburan. Mereka hanya membuangnya ke tempat ladang pembuatan tembikar. Tetapi orang kaya itu mati dan dikuburkan, secara mewah.

Dan di dalam Hades, orang kaya itu mengangkat wajahnya, dan menderita sengsara dan berseru kepada Abraham untuk mengirim Lazarus, pelayan. Orang kaya itu telah berada di dalam kebiasaan untuk memerintah orang-orang di sekitar hidupnya. Lalu, mengapa ia tidak memerintahkan mereka? “Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.”

Ah, inilah orang-orang yang anda sebut telah mati. Tetapi mereka berada di dalam sebuah kesadaran tetap di dunia yang lain. Jadi, mari kita mengambil tipikal dari diri kita semua. 

Orang-orang yang tidak benar, yang tidak percaya, yang menghujat, yang menolak dan mengejek dan menghina, mereka juga hidup dibalik kematian ini dan alam maut ini. Pria ini, yang menolak Firman Allah, yang tidak mendengarkan nabi-nabi, juga kitab Musa—pria ini, yang meolak untuk berpaling, untuk bertobat, pria ini yang memiliki semuanya dalam hidupnya untuk dapat ditawarkan—dia tinggal dalam rumah besar, utara dan selatan. Dia memiliki sekumpulan orang yang siap untuk diperintahkan. Dia hidup dengan mewah, tetapi dia sama seperti yang disampaikan Alkitab. Dia tidak bertobat. Dia tidak berpaling. Dia tidak memandang kepada Allah. Dia tidak mempercayai Alkitab. Dia tidak menerima pesan dari nabi-nabi, atau pun Musa. Di dalam kemewahannya, dia mati, sama seperti semua manusia yang tidak dapat menghindari kematian.

Tetapi dia sama seperti semua orang lainnya, sekalipun mereka miskin atau sekalipun mereka kaya, ketika mereka mati di dalam ketidakpercayaan dan tanpa pertobatan dan dalam dosa yag tidak diampuni. Dia pergi ke dunia lain yang dipenuhi dengan rasa sakit dan kesakitan serta menderita sengsara. Ketika dia mati, ketika dia menutup matanya di dalam rumah sakit, atau di lembaran seprai sutra, atau menutup matanya di rumah yang mewah—ketika dia menutup matanya, dia meninggalkan tubuhnya, dia membuka matanya, dan berada di dalam nyala api.

Betapa merupakan sebuah kengerian yang sukar untuk dilukiskan dan menakutkan serta hal yang sangat tragis! jadi jiwa dari orang yang tidak percaya, dari orang yang mati tanpa tebusan pengorbanan Kristus, berada di dalam nyala api. Dia berada di dalam penderitaan. Dia berada di dalam rasa sakit yang dalam. Dia berada di dalam penderitaan. Dan hal itu banyak kali disebutkan dalam Alkitab dan kita tidak memiliki waktu untuk membahas semuanya.

Hal lainnya tentang orang-orang yang mati tanpa pertobatan ini. Mereka dipenjarakan di suatu tempat dalam dunia lain, yang diciptakan Allah. Mereka berada di dalam penjara, menunggu Hari Penghakiman Takhta Putih Allah. Di dalam 1 Petrus 3 ayat 19, mereka digambarkan berada di dalam penjara: “Jiwa-jiwa, roh-roh yang berada dalam penjara.”

Dan mereka ini, yang dirujuk ke dalam bagian ini adalah orang-orang yang mentertawakan Nuh, ketika Nuh selama 120 tahun memberitakan kebenaran dan memanggil orang-orang yang jahat dan penghujat dunia untuk bertobat: untuk berpaling, untuk percaya. Mereka berada dalam penjara, menunggu hari penghakiman Tuhan. 

Kemudian, hal itu dirujuk lagi dalam 2 Petrus 2 ayat 4 dan ayat 9:

Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka—bukan Hades, tetapi  neraka—dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman. 

Kemudian di ayat sembilan, dia berkata, demikian juga dengan semua orang yang terhilang.

Maka nyata bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang yang saleh dari pencobaan itu dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk di sikasa pada hari penghakiman.

Kemudia, di sana ada sebuah api, sebuah nyala api, sebuah hal yang membakar, sebuah penderitaan, sebuah kesengsaraan, sebuah rasa sakit, sebuah kertak gigi, sebuah kegilaan bagi jiwa-jiwa yang mati tanpa Kristus. Oh! Hal-hal ini—kita harus memberikan jiwa kita untuk memenangkan jiwa, untuk penginjilan, untuk berdoa, untuk berseru. Jiwa-jiwa yang mati tanpa Kristus

Kemudian di sana, ada kehidupan yang berdosa, jiwa yang hilang yang telah berpaling dalam iman kepada Kristus. Apakah anda sudah melakukan hal itu? Apakah anda telah meminta Yesus untuk mengampuni dosa-dosa anda? Sudahkah anda melakukannya? Jika anda mati pada hari ini—dan bisa saja terjadi—sudahkah anda benar di hadapan Allah?

Di sana ada sebuah jiwa yang berpaling, yang bertobat, yang membuat pengakuan, yang meminta kemurahan Allah. Bagiamana dengan mereka? Apa yang terjadi bagi mereka? Ada tiga hal tentang mereka. 

Yang pertama, mereka segera masuk ke dalam firdaus. Dalam Lukas 23: Salah satu penjahat itu berpaling kepada Yesus dan berkata,

Tuhan kami memang selayaknya dihukum, sebab kami menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kami, Tuhan, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. Kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.

Hari ini, hari ini. Dan orang miskin itu mati dan malaikat-malaikat membawanya ke pangkuan Abraham. “Hari ini engkau akan bersama-sama dengan aku di dalam firdaus.”

Lalu, dimanakah tempat itu? Alkitab sangat jelas tentang maknanya di dalam kata “firdaus.” Itu adalah sebuah kata Persia yang bermakna “taman”: Taman Allah yang sangat indah. Tanah dari kisah Eden.

Lalu, “hari ini bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Dimanakah itu? Saya katakan Alkitab sangat jelas. Anda lihatlah kedalamnya, Dalam 2 Korintus, pasal 12, ayat 2 Paulus berkata, “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga (langit).” 

Langit  yang pertama adalah langit dimana burung-burung terbang dan awan-awan menyebar. Langit yang kedua adalah langit dari alam semesta yang luas, Galaksi Bima Sakti, langit Allah yang bertabur bintang-bintang. Dan langit yang ketiga adalah sorga Allah, tempat takhta Allah, di mana orang-orang kudus berada, tempat di mana Yesus berada.

Ngomong-Ngomong, maukah anda menghentikan eksegesis ini sejenak untuk membuat sebuah komentar tentang orang kafir yang datang kemari dari Rusia dan berkata bahwa dia telah mengelilingi dunia ini sebanyak tujuh belas kali, yang bernama Tito, seorang yang berpikiran sempit? Orang itu berkata, “Aku telah membuktikan bahwa tidak ada malaikat. Dan Aku telah mendemostrasikan bahwa tidak ada Allah. Aku telah berada di angkasa, dan aku telah mengelilingi dunia sebanyak tujuh belas kali, dan  aku tidak pernah bunyi sayap malaikat dan aku tidak pernah melihat malaikat terbang dan juga aku tidak pernah bertemu Allah.” “Karena itu,” kata burung kecil dari Moskow itu, “tidak ada Allah.”

Saya tidak pernah mendengar sebuah argumen seperti kebodohan itu terhadap atheisme. Saya tidak pernah mendengarnya. Saya pernah mendengar pembicaraan professor. Saya pernah mendengar pembicaraan orang-orang kafir. Saya pernah mendengar  di dalam sesi omong kosong hingga saya tertidur. Tetapi saya tidak pernah mendengar argumen bagi atheisme sebodoh demosntarasi yang dilakukan oleh Tito dari Uni Soviet itu.

Baiklah. mari kita kembali ke dalam khotbah. Kita berkata, dimanakah firdaus. Di dalam surat 2 Korintus pasal 12 ayat 4, Paulus berkata, “Aku diangkat ke Firdaus.” Jadi Paulus berkata bahwa, ketika dia diangkat ke firdaus ke dalam langit yang ketiga, dalam ayat dua, dia merujuk tempat firdaus yang sama di dalam 2 Korintus pasal dua belas ayat empat.

Baiklah, hal yang sama lgi. Di dalam Kitab Wahyu pasal dua ayat tujuh, Tuhan berkata kepada jemaat Efesus: “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Kemudian saya berpaling ke dalam Wahyu pasal 22 ayat 2, di sana Yohanes berkata:

Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

Anda ingat? Kemudian pohon kehidupan, yang Yesus katakana berada di dalam firdaus Allah, berada di dalam sorga. Ke sanalah orang-orang yang kita kasihi, dan orang-orang kudus telah pergi. Kemudian, hal pertama yang disampaikan Alkitab, kita berada di dalam sorga. Kita berada di dalam firdaus. Kita menutup mata kita terhadap hal-hal yang melelahkan di dalam dunia ini dan kita membuka mata kita ke dalam kemuliaan Allah dari rumah sorgawi Allah.

Kemudian hal yang kedua. Seperti apakah kematian bagi orang Kristen, bagi orang-orang percaya? Yang kedua, mati adalah untuk bersama dengan Tuhan. Itu adalah alasan yang saya miliki bagi anda—karena saya memiliki beberapa hal untuk disampaikan tentang hal itu—itulah alasan bagi saya untuk meminta anda membaca bagian ini dan surat 2 Korintus pasal lima.

Dan itulah sebabnya saya meminta editor dari Remainder kita, dari pada menyampaikan orang ini telah meninggal atau orang ini telah mati, saya berkata, “jangan dengan cara itu. Itu adalah cara yang dilakukan oleh penyembah berhala. Tetapi tuliskanlah di dalam buku anda, di dalam Ingatan kita, tuliskanlah seperti ini: “Beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” Dan ketika kita mendaftarkan orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal, orang-orang yang telah mendahului kita, selalu saja nama mereka berada di bawah bagian Kitab Suci itu: “Beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Korintus 5:8). 

Itu adalah hal yang kedua tentang jiwa-jiwa yang telah meninggal yang percaya kepada Yesus. Segera saja, dia bersama dengan Tuhan. Itulah bagian yang kita baca  dari Kitab Lukas pasal dua puluh tiga: “Hari ini, engkau akan bersama-sama dengan Aku—bersama dengan Aku di Firdaus.” Dan itu adalah dasar utama yang terletak di belakang apa yang Paulus tulis di dalam Kitab Filipus pasal pertama: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Tidak seorang pun yang dapat menyampaikan hal itu, tetapi orang Kristen dapat menyampaikan hal itu:

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

 

Saya telah diminta untuk melihat salah satu anggota jemaat kita yang sedang sekarat. Dan ketika saya berdiri bersama dengan keluarga di sekitar tempat tidur rumah sakit itu, oh, jaminan apa yang dapat diberikan oleh seorang pelayan Kristus untuk disampaikan: Allah berkata adalah jauh lebih baik di seberang sana. Di sini, menderita layu, tetap hidup dan menderita di dalam pemutusan dari rumah tanah liat ini. 

Apakah artinya mati bagi orang Kristen?  “Pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik.”  Seorang Kristen yang sejati harus datang ke tepi kekekalan yang agung itu, untuk datang dengan kemenangan dan jaminan, dengan sebuah lagu di dalam hatinya dan sebuah senyum di wajahnya.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik.” Lalu, jiwa orang Kristen adalah jiwa yang bersama dengan Yesus dalam kematian, Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita.   

Saya berharap kita dapat memiliki waktu untuk mengutip seluruh bagian itu. Anda ingat bagaimana akhir dari Kitab Roma pasal delapan? 

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Itu adalah yang kedua, untuk bersama dengan Yesus. Tidak ada apa pun yang dapat memisahkan anak-anak Allah dari Tuhan kita yang mulia.

Sekarang, hal yang ketiga: Beristirahat dalam kebahagiaan. “Dan Tuhan berkata kepada mereka agar mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi.”  Tepat seperti itu, mereka sedang beristirahat. Bahwa mereka tidak mengembara, seperti hantu yang murung. Tetapi mereka berbahagia di rumah bersama dengan Tuhan kita. 

Saya berharap, saya memiliki waktu di sini untuk menyampaikan sebuah khotbah, dan mungkin ketika saya akan tiba di dalam Wahyu 14:13: “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” 

Jadi, bagi jiwa yang beranjak dari sebuah tubuh, dan jiwa yang telah percaya kepada Yesus, hal pertama yang akan terjadi bagi mereka adalah, pergi ke sorga di dalam firdaus. Yang kedua, bersama dengan Tuhan kita. Dan yang ketiga, beristirahat di dalam kebahagiaan dan di dalam kekudusab dan kemuliaan Allah. 

Sekarang, saudara yang terkasih, biar saya meringkaskan khotbah yang lain secepat yang sya bisa, sebelum kita berhenti mengudara melalui siaran radio. Dan dengarkanlah hal itu: Bolehkah saya membuat beberapa kesimpulan dari bagian-bagian Kitab Suci, hal-hal yang menjadi bukti bagi mereka?

Yang pertama, tidak ada sebuah hal di dalam Firman Allah tentang “jiwa yang sedang tidur,” tidak ada contoh yang seperti itu. Bahkan di dalam bagian-bagian dari Perjanjian Lama, mereka berkata tentang kebusukan dan kerusakan dari orang-orang yang tellah matin tubuh. Tetapi tidak ada dalam Alkitab yang berbicara tentang jiwa yang sedang . Mereka berbicara tentang kerusakan tubuh. Tetapi tidak ada apa pun di dalam Firman Tuhan yang berbicara tentang jiwa yang sedang tidur. Kita akan pergi untuk bersama dengan Tuhan di dalam sorga.

Baiklah, kesimpulan yang kedua, pengakuan yang kedua, hal kedua yang berkaitan. Tidak ada di dalam Firman Allah yang berbicara tentang “purgatori.” Hal itu tidak konsisten dengan seluruh pemenuhan yang cukup dari penebusan Kristus. Seperti yang disampaikan oleh penulis Ibrani dalam bagian penutup dari pasal sembilan: 

Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Semuanya berada dalam Kristus. Kita tidak akan masuk ke dalam api purgatori. Kita diselamatkan oleh anugerah Allah, bukan oleh sebuah pengorbanan yang menjadi bagian kita—oleh penderitaanNya—dan kita membuka mata kita dan melihat wajahNya yang mulia. 

Baiklah, hal ketiga yang berkaitan: Di akhir hidup ini, tidak ada perubahan setelah kematian. Bagaimana kita meninggal, itu bersifat tetap dalam kekekalan. Seperti yang disampaikan dalam Kitab Pengkhotbah pasal sebelas: “Bila pohon tumbang, di tempat pohon itu jatuh, di situ ia tinggal tergeletak.” Seperti yang disampaikan dalam Matius pasal dua puluh lima, ketika pintu itu ditutup, kelima gadis yang bodoh itu mengetuk dan terus mengetuk, tetapi pintu telah tertutup. Oh sama seperti yang disampaikan dalam Kitab Wahyu dalam pasalnya yang terakhir, “Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar.” Hal itu ditetapkan sampai selama-lamanya. Dan seperti pada bagian pertama yang telah kita lihat: “Di sana ada terbentang jurang yang tidak dapat diseberangi; supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” Itu adalah ketetapan kekal. 

Dan sekarang, pengakuan yang terakhir: Saya pikir ini adalah bagian utama dari iman Kristen, karena bagi para penyembah berhala, mereka berpikir kematian adalah sebuah eksistensi bayangan jenis tertentu dibalik Sungai Styx.  Tetapi ini adalah pusat utama dari pengharapan Kristen:

Bahwa keadaan sementara itu, jiwa yang tanpa tubuh, bukanlah pengharapan orang Kristen.

Tetapi pengharapan orang Kristen adalah bahwa kita akan dibangkitkan dari kematian, bahwa kita akan mengalami sebuah kebangkitan oleh kuasa Allah yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari kematian dan bahwa kita akan menjadi umatNya: Ciptaan yang ditebus Allah di dalam sebuah dunia yang baru dan dalam sebuah langit yang baru.

Anda mengingat bagian yang telah anda baca? 

Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 

Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang.

Sebagaimana Dr. Fowler selalu berhenti untuk menyampaikan bukan roh tanpa tubuh. Sorga membenci perwujudan ini seperti alam membenci kehampaan.  Tidak berarti bahwa kita tidak akan berpakaian tetap mengenakan pakaian yang dari atas, sehingga Allah dapat memberikan kepada kita tubuh yang dibangkitkan ini, kekekalan yang dapat menelan hidup.

Pasal kemenangan yang hebat dari 1 Korintus 15:

… Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"

Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita

Itulah sebabnya mengapa, ketika orang Kristen mula-mula meninggal mereka menentang hukum pemerintahan Roma yang memerintahkan supaya orang-orang yang telah meninggal, tubuh mereka dibakar, tubuh mereka dikremasikan. Tetapi orang-orang Kristen mula-mula secara hati-hati meletakkan tubuh orang-orang kudus yang telah meninggal di dalam kuburan yang berada di bawah tanah di dalam kota. Karena mereka percaya sebagai orang Kristen bahwa Allah pada suatu hari akan menghidupkan kembali orang-orang yang telah meninggal di dalam Yesus.

Jangan membiarkan seorang pun merampas pengharapan anda. Itulah tanda menjadi orang Kristen. Anda dan orang-orang lumpuh ini akan kuat dan berjalan tegak. Dan orang-orang buta akan melihat. Dan orang-orang yang tuli akan mendengar. Dan tubuh orang-orang yang lemah akan dibuat kuat dalam Allah dan kita akan menjadi sama seperti Tuhan kita yang hidup. Dan seluruh berkat serta kemuliaan dari pengharapan Allah akan diberikan kepada kita, yang di dalam iman memandang kepadaNya!

Sekarang, saya tidak tahu kemana waktu ini telah pergi. Seakan-akan saya hanya baru saja menyampaikan pengantar dari subyek saya, dan kita telah beranjak jauh dari waktu siaran radio.

Allah memberkati anda, saudara-saudara yang terkasih, ketika kita membuka hati kita kepada kebenaran Tuhan. Ada begitu banyak yang menentang kita di dalam keraguan dan ketidakpercayaan dunia ini. Tetapi, lihatlah apa yang telah disediakan Allah bagi seseorang yang akan meletakkan kepercayaannya dan imannya di dalam AnakNya.

Dan itu adalah seruan kami bagi anda pada pagi hari ini: Serahkanlah hati anda kepada Allah. Serahkanlah rumah anda dan keluarga anda kepada Allah. Besarkanlah anak-anak itu di dalam kasih dan didikan Tuhan. Hidup dengan sebuah nyanyian di dalam jiwa anda, bagaimana pun air mata menyelubungi lembah kedukaan ini.

Datanglah bersama dengan kami. Bernyanyi bersama dengan kami. Bersukacita bersama dengan kami. Lakukanlah sekarang. Buatlah keputusan itu sekarang. Percaya di dalam Dia sebagai juruselamat anda, meletakkan hidup anda di dalam persekutuan jemaat yang mulia ini, datanglah pada hari ini. Datanglah pada hari ini.

Saya akan berdiri di sini, di sebelah meja Persekutuan kita. Datanglah dan ulurkan tangan anda kepada pendeta. “Pendeta, saya menyerahkan hati saya kepada Allah.” Atau “Saya ingin meletakkan hidup saya  di dalam jemaat ini.” 

Buatlah keputusan itu sekarang, saat kita berdiri dan saat kita bernyanyi. 

 

Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M.