KETIKA ALLAH MENGHAPUS AIR MATA KITA

(WHEN GOD WIPES AWAY OUR TEARS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Seri Wahyu—Part 88

Wahyu 21:1-7

21-07-63

 

           Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, anda sedang bergabung dalam ibadah dari Gereja First Baptist Dallas. Saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah pada pukul sebelas pagi, khotbah yang berjudul: Ketika Allah Menghapus Air Mata Kita. Di dalam seri khotbah kita melalui kitab-kitab dalam Alkitab setelah beberapa tahun, kita telah tiba di Kitab Wahyu. Dan di dalam seri khotbah kita melalui Kitab Wahyu, kita telah tiba di pasal 21. Jika anda ingin melihat teks itu di dalam Alkitab anda, maka anda akan dapat mengikuti khotbah pagi ini dengan mudah. Ini adalah sebuah eksposisi dari ayat 3 hingga ayat 7. Dan saya membaca dari Wahyu pasal 21 ayat 1-7:

 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihat Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.” Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan. Barang siapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi Anak-Ku.

 

            Hanya membaca bagian itu merupakan sebuah doa bagi jiwa kita. Itu adalah sebuah penghiburan bagi orang-orang kudus Allah di dalam pengembaraan melalui dunia yang membosankan ini.

            Bertentangan dengan segala sesuatu yang saya pikirkan, saya telah berharap bahwa ketika saya mempersiapkan khotbah tentang sorga ini, hal itu akan menjadi ceramah yang paling mudah dari seluruh ceramah yang akan saya sampaikan. Saya menemukan yang terjadi justru sebaliknya. Di dalam pembelajaran saya pada minggu ini. di dalam pembacaan saya, saya melewati sebuah kalimat dari ekspositor dunia yang sangat terkenal, dia berkata: “Dari semua subjek di Alkitab, hal tersulit untuk disampaikan adalah subjek tentang sorga.” Hal itu sangat berbeda dari segala sesuatu yang saya duga. Saya pikir pasal-pasal sebelumnya di dalam Wahyu, yaitu pasal 7 dan 8 dan 9 dan 12 dan 13 dan yang lainnya, merupakan subyek-subyek yang sulit. Tetapi ketika saya tiba di subyek tentang sorga, saya pikir persiapan khotbahnya akan menjadi sangat mudah. Ternyata tidak mudah untuk disiapkan. Sorga adalah subyek yang paling sulit untuk dikhotbahkan.

           Anda dapat menemukan kesulitan itu diilustrasikan dalam pengalaman manusia Allah yang telah menulis Kitab ini, seseorang yang di bawah Roh Yesus, yang telah menulis kata-kata ini di dalam Alkitab kita. Sebagai contoh, Rasul Paulus berkata, dan dia menggambarkan pengalamannya di dalam surat 2 Korintus pasal dua belas, rasul Paulus berkaata bahwa dia diangkat ke dalam firdaus, ke dalam sorga ketiga, sorga di mana Allah ada. Apakah Paulus menggambarkan pengalamannya? Apakah dia menyatakan apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat? Tidak! Segala sesuatu yang disampaikan rasul adalah hal ini, bahwa setelah diangkat ke dalam firdaus Allah, ke dalam sorga ketiga, bahwa dia mendengar kata-kata yang sulit untuk diungkapkan dan manusia tidak boleh mengucapkannya.  

            Miskin, bahasa yang lemah tidak dapat menanggung beban kemuliaan, pengalaman itu. Bahkan tidak dapat membuat kalimat atau menyampaikannya kata-kata yang telah dia dengar di sorga. Anda memiliki ilustrasi yang lain tentang hal itu di dalam pengalaman Musa, yang pada suatu hari meminta kepada Allah sehingga dia dapat melihat kemulianNya. Dan Tuhan berkata kepada Musa:

Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;  apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat. Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."

            Bagaimana seseorang yang mortal menggambarkan kehadiran Allah? Dan bagaimana dia dapat masuk ke dalam kebesaran Yehova? Sebab tidak seorang pun yang dapat melihat wajahNya dan hidup.

            Anda dapat memiliki contoh lain dari hal itu di dalam apa yang Paulus tulis di dalam surat 1 Korintus pasal dua:

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

 

Kita tidak dapat masuk ke dalamnya. Pikiran kita dan jiwa kita tidak dapat membayangkannya, ciptaan ini yang disebut Allah sebagai sorga kita dan rumah yang kekal.

            Ayat selanjutnya di dalam 1 Korintus pasal dua, Paulus berkata: “Tetapi Roh telah menyingkapkannya kepada kita.” Hal-hal ini yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia, Allah telah menyingkapkannya kepada kita oleh Roh. Dia berkata bahwa ada ada sebuah bahasa jiwa dan ada mata iman. Dan kita dapat merasakan hal-hal ini dan kita dapat merasakan hal-hal ini, sekalipun seorang manusia tidak dapat menggambarkannya dalam bahasa dan dia tidak dapat secara utuh menyajikannya dalam sebuah khotbah.  

            Anda dapat menemukan kesulitan itu dalam menggambarkan kemuliaan sorga dan mempersiapkan sebuah khotbah setaraf dengan apa yang telah disediakan Allah bagi kita, anda dapat melihat kesulitan itu di dalam apa yang ditulis oleh Yohanes dalam teks ini:

Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah (skene) Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan (skenoo) diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

 

Skene, (kemah Allah), dan Dia akan skenoo (“berkemah bersama dengan mereka”).  Tempat kediaman, pavilium, rumah Tuhan bersama dengan kita, yaitu manusia. Bagaimanakah anda dapat membayangkan hal itu? Dengan bahasa apakah anda akan menggambarkan kediaman Tuhan, kemah Allah yang dibentangkan di antara manusia?

        Tuhan tinggal bersama dengan orang tua kita yang pertama di Taman Eden: Dia berjalan bersama mereka. Dia mengunjungi mereka. 

        Allah tinggal bersama dengan bapa-bapa leluhur: Dia berbicara kepada Abraham seperti seorang manusia berbicara kepada sahabatnya, muka dengan muka. 

        Tuhan membentangkan kemahnya di antara Israel dan hadiratNya ada di sana, yang terlihat atas sebuah tiang api pada waktu malam dam tiang awan pada siang hari.

        Pada masa Bait Suci, Tuhan tinggal di kegelapan ruang Mahakudus.

        Di dalam 1 Yohnes 1:4, penulis Kitab Wahyu ini berkata:

Dan Firman itu telah menjadi manusia dan skenoo, kata yang identik ada di sini, dan skenoo, dan diam di antara kita, berkemah di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang telah diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa.

        Dan Tuhan tinggal pada hari ini di dalam jemaatNya oleh Roh Kudus dan hidup di dalam hati kita.

 

      Tetapi bagaimana dapat seperti itu dan dengan kata-kata apa anda dapat menggambarkannya ketika Allah sendiri akan hidup di tengah-tengah kita dan mata kita akan melihatNya dan telinga kita akan mendengar Dia berbicara, dan kita akan melihat kemuliaan dan keindahan Tuhan Allah Yehova sendiri? Anda tidak dapat menyampaikan perkataan itu. Ada sebuah sensivitas dari jiwa yang dapat masuk ke dalamnya, tetapi bagi seseorang yang mau mengkhotbahkan tentang realitas dari hal itu, maka hal itu melampaui puisi yang mungkin dapat dia kutip, dan lagu yang dapat dia nyanyikan atau paradigma yang fasih dapat dia cari untuk menggambarkan kemuliaan yang luar biasa dan sulit untuk diungkapkan bahwa Allah akan tinggal di antara kita.

            Anda menemukannya kembali di dalam gambaran dari pendirian kembali, penebusan dan kelahiran kembali alam semesta ini:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru—(dan saya telah menyampaikan hal itu minggu yang lalu)—sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi …

 

“Dan laut tidak ada lagi.” Apa maksud dari hal itu—di dalam ciptaan Allah yang baru ini, “dal laut tidak ada lagi”? Lalu, ketika orang yang suka merohanikan membaca hal itu, maka dia akan berkata bahwa hal itu merujuk kepada air mata yang jatuh dari semua rintangan politik dan nasional dan sosial. Dan itu merujuk kepada persaudaraan yang umum dari seluruh suku bangsa dan bangsa-bangsa di bumi. jadi, demikianlah orang yang suka merohanikan segala sesuatu. Saya tidak mengharapkan mereka untuk datang dengan sesuatu yang lain, jadi ketika mereka menyampaikan hal itu, itu sudah baik. Dia dapat mendiskusikannya di dalam karya Shakespeare atau Milton atau Plato, dan datang dengan hal yang sama. Itu tidak masalah. 

           Lalu, seorang simbolis akan berkata bahwa hal itu merujuk kepada fakta bahwa Yohanes sedang berkata bagi kita bahwa di dalam sorga tidak ada lagi pemisah. Itu adalah dasar bagi seorang simbolis, seseorang yang melihat hal-hal di dalam simbol-simbol Wahyu sebagai kebenaran rohani yang hebat. Saya memahami hal itu. Sebagai contoh, di dalam Wahyu ketika disebutkan Anak Domba Allah, saya tahu itu adalah sebuah simbol dari Penebus yang mulia, yaitu Tuhan Yesus. Dan seseorang yang melihat Wahyu ini sebagai sebuah simbol dari realitas-realitas rohani, saya dapat melihat bagaimana dia membaca bahwa: “Dan laut tidak ada lagi.” Itu adalah sebuah simbol. Laut adalah sebuah simbol dari pemisah. Yohanes berada di sebuah pulau yang terasing, di kirim ke sana agar mati kelaparan dan di seberang laut itu terdapat orang-orang yang dia kasihi, jemaatnya di Efesus, semua sahabatnya dan semua orang-orang kudus di rumah Allah. Dan di sinilah dia dan laut yang luas terbentang antara mereka. Saya dapat melihat, sebagai sebuah simbol Yohanes dapat berkata: “Tetapi di dalam kemuliaan, tidak akan ada lagi pengasingan dan tidak akan ada lagi pemisah.”

            Ada sebuah laut yang gelap yang bergulung antara waktu dan kekekalan. Dan sebuah sungai yang gelap dari kematian, air bah yang bergulung antara kita dan orang-orang yang kita kasihi yang telah pergi sebelumnya. “Dan laut tidak ada lagi.” Saya dapat melihat simbol yang mungkin dimaksudkan oleh Yohanes dan tidak ada lagi pemisah di antaranya. Kita akan bersama-sama, dunia tanpa akhir, di dalam sorga Allah yang kudus di esok hari. Saya dapat memahami hal itu.

             “Jadi, Pendeta, bagaimana maksud dari perkataan itu bagi anda—“Dan lau tidak ada lagi”? Menurut saya ada duh al. Hal ini dapat bermakna bahwa laut akan dihilangkan. Mungkin tidak akan ada lagi laut di sorga. Di dalam ciptaan baru, saya dapat melihat hal itu dengan mudah. Bagaimana pun, saya yakin, ini adalah sesuatu dari respon intuitif. Saya merasakan di dalam hati saya bahwa hal itu memiliki makna yang nyata yang sama dengan makna ketika hal itu dirujuk kepada langit yang baru dan bumi yang baru, Di dalam pemikiran saya bahwa tidak akan ada sebuah pemusnahan dari apa yang telah Dia lakukan di dalam ciptaanNya yang hebat ini. Cakrawala Allah dan firdaus Tuhan di dunia ini sebelum dosa dan kutukan datang. Dan Allah berkata bahwa hal itu tetap akan ada di sini ketika kutuk itu diangkat. Itu akan menjadi sebuah langit yang telah ditebus. Itu akan menjadi sebuah ciptaan yang ditebus dan diregenerasikan. Dan dosa dan Setan dan kutukan, semuanya akan disingkirkan. Allah akan membuatnya menjadi baru dan indah serta disenangi bagi kita.

            Lalu, saya memiliki perasaan yang sama tentang laut. Salah satu alasan yang saya memikirkan cara itu adalah karena bagi orang-orang pada masa lalu—orang-orang yang hidup pada masa Yohanes—bagi mereka, laut merupakan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan dan monster yang hebat. Mereka tidak memiliki kompas, sebagai contoh, jika hari berawan datang, perahu mereka akan tentu saja hilang di laut yang  dalam. Dan hati mereka yang lemah merupakan subjek bagi kehancuran di dalam badai yang menakutkan yang dapat muncul dan kehilangan hidup di dalam laut yang tidak terukur dan sangat luas. Bagi orang-orang kuno, laut merupakan monster yang mengerikan dan sesuatu yang menakutkan. Akan tetapi ketika Allah membuat langit yang baru dan bumi yang baru, akankah itu seperti yang dikatakan oleh Pemazmur:

Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.

 

           Tidak akan ada lagi murka, pergolakan, ketakutan, dan bencana yang mengerikan. Allah telah membuatnya menjadi baru. Dan laut seperti yang kita kenal, yang bergelora dan yang mengamuk serta menghancurkan, tidak akan ada lagi. Laut akan hilang seperti itu. Dan di tempatnya akan tetap berair di mana di bagian tepinya Allah akan mengembalakan kawanan domba sorgawinya. Jadi, itulah hal-hal yang saya rasakan di dalam hati saya ketika saya membaca Alkita. Saya sudah menyampaikannya kepada anda bahwa saya tidak dapat menggambarkannya atau masuk ke dalam kepenuhannya. Hanya melihat dan menunggu di dalam waktu Allah.

            Dan, inilah yang Tuhan tuliskan:

Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.

 

Saya tahu kemudian dari bagian ini, bahwa selama kita berada di dalam hidup ini, di dalam pengembaraan dunia ini, akan ada air mata di mata kita. Hingga kita tiba di sorga itu sendiri, umat Allah akan tahu bagaimana menangis. Kita mungkin lupa bagaimana tertawa, kita tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya menangis. Hingga kita tiba di gerbang mutiara dan masuk ke Yerusalem Baru, hal itu tidak akan lupakan hingga kemudian Allah akan menghapus air mata kita. Pengembaraan kita di dunia ini sama seperti pengembaraan anak-anak Israel menuju Tanah Perjanjian. Kita telah dibebaskan dari  begitu banyak rasa sakit dan pencobaan dari kutukan, tetapi kita belum dibebaskan dari rasa sakit dan wabah dan penderitaan serta pencobaan dari hidup ini.

            Ini adalah sebuah hal yang umum dan pengalaman dari seluruh anak-anak Allah. Yesus menangis, menundukkan kepalanya di dalam kedukaan, di dalam tangisan yang kuat dan air mata dan mencurahkan jiwaNya bagi Allah. Secara berulang-ulang Paulus berbicara tentang air matanya. Selama kita masih berada di dalam pengembaraan ini, hingga kita tiba di gerbang kemuliaan itu sendiri, umat Allah akan tahu bagaimana rasanya menangis. Hanya di sana, dibalik gerbang mutiara dan tembok yaspis, Tuhan akan menghapus air mata kita.

            Kemudian ada hal lain yang disampaikan dalam bagian ini, sebelum kita melihat hal yang nyata dari kata-kata itu sendiri: Kita tidak akan lupa, di dalam pengembaraan kita di dalam bebannya dan pencobaannya dan kehilangannya dan rasa sakitnya, kita tidak akan lupa bahwa tangisan kita dan kedukaan kita dan kesedihan kita, akan menghasilkan bagi umat Allah hal yang luar biasa dan hal-hal sorgawi dibalik sungai itu. Sebagai contoh, Paulus berkata: “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini….” Betapa pun beratnya penderitaan kita dan beban hidup di dunia ini, dia menyebutnya sebagai “sebuah penderitaan ringan.” Dia kemudian menjelaskan hal itu.

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

 

            Paulus berkata bahwa hal-hal ini, yang kita alami di bawah sini, penderitaan dan air mata dan beban dan keputusasaan dan kekecewaan dalam hidup kita, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang jauh lebih besar dari semuanya itu.

            Oh, ada lagi, bagaimana anda menempatkannya dalam bahasa. Seperti yang anda tahu, saya membaca tentang Spurgeon sangat banyak sekali, pengkhotbah Baptis kita di London yang sangat luar biasa di akhir abad sembilan belas ini. Apakah anda mengingat suatu kali setelah saya membaca tentang Spurgeon, saya berkata: “Spurgeon telah berkata bahwa ini merupakan sebuah hal yang sangat unik.” Spurgeon berkata: “Jika saya memiliki pilihan antara diangkat pada kedatangan Tuhan dan diubah dalam sekejap mata pada bunyi sangkalala terakhir—jika saya memiliki pilihan antara diangkat Tuhan dan mati dan dibangkitkan,” Spurgeon berkata, “Saya akan memilih mati dalam penderitaan. Karena,” kata pengkhotbah hebat itu, “Juruselamatku telah menderita, dan Juruselamatku telah mati dan Juruselamatku telah mengalami kuasa Allah di dalam kebangkitanNya.”

            Dia berkata: “Saya lebih suka mengikuti penderitaan Tuhanku, kepedihan kematian, untuk mengetahui bagaimana rasanya tekanan dan kematian dan dikuburkan. Dan saya juga dapat mengalami kuasa kebangkitan dari Allah ketika dia membangkitakn saya dari kematian.” Betapa hal itu merupakan hal yang luar biasa, sangat berbeda dari apa yang pernah saya rasakan untuk diri saya. Saya berpikir, oh Tuhan, untuk diangkat, untuk berada di sini ketika Yesus datang, hanya dalam sesaat. Seperti lagu itu:

 

O sukacita! O, kesenangan!

Haruskah kita pergi

Tanpa kematian,

Tanpa sakit, tanpa kesedihan,

Tanpa ketakutan tanpa tangisan,

Diangkat  ke dalam awan-awan

Bersama dengan Tuhan kita ke dalam kemuliaan

Ketika Yesus menerima milik kepunyaanNya.

           

           Saya selalu merasakan hal seperti itu. Saya tidak pernah memiliki pemikiran seperti hal yang disampaikan oleh Spurgeon itu. Untuk menderita sama seperti penderitaan Tuhan dan mati sama seperti kematian Tuhan dan untuk dikuburkan sehingga saya dapat mengalami kuasa kebangkitanNya. Itu adalah sebuah hal yang sama dari sebuah sentimen  yang disampaikan di sini oleh rasul Paulus: Penderitaan kita di sini, sama seperti Tuhan kita telah menderita—“Seseorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.”

            Tuhan kita telah menderita. Dan dia berkata di dalam surat 2 Korintus pasal pertama: “Sebab sama seperti kami mendapat bagian yang berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan yang berlimpah-limpah.”

            Seperti ini—Allah berkata di sini:

        Sorga adalah sebuah tempat di mana tidak ada lagi air mata. Apa maknanya hal itu bagi seseorang, jika sekiranya dia tidak penah menangis? “Allah akan menghapuskan air mata kita” Apa maknanya hal itu bagi seseorang, jika sekiranya dia tidak penah meratap?

        Di situ disebutkan: “Tidak akan ada lagi kematian.” Apa maknanya hal itu bagi seseorang, jika sekiranya dia tidak penah berdiri di depan sebuah kuburan yang terbuka, melihat seseorang yang anda kasihi dibaringkan di lapisan tanah yang teratas?

        “Juga tidak akan ada lagi dukacita.” Apa maknanya hal itu bagi seseorang, jika sekiranya dia tidak penah menunduk di bawah kepedualian yang dalam?

 

            “Juga tidak akan ada lagi ratap tangis dan rasa sakit.”
 hal itu karena kita telah mengetahui hal-hal ini di dalam hidup ini dan sorga itu manis! “Sebab penderitaan ringan,” kata Paulus, “yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”  Itulah sorga! Setelah menderita di sini, dan meratap di sini, dan menangis dalam penderitaan di sini, dan mati di sini—sorga adalah pembebasan Allah dari perbudakan kematian.

            Sekarang, di dalam waktu yang tersisa ini—Untuk melihat terhadap hal itu: Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” Ini adalah sebuah kesedihan: Yesus menangis: 

        Bersama dengan Maria dan Martha di depan kuburan saudara mereka—air mata kesedihan.

       Air mata dari kemiskinan dan kemalangan Lazarus yang berada di depan pintu orang kata.  

        Air mata ratapan, seperti tangisan Yeremia: “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam akau akan menangisi orang-orang putri bangsaku yang terbunuh.”

        Air mata keputusasaan dan penderitaan dan kekecewaan: “Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” 

 

            “Dan maut tidak akan ada lagi.” Dapatkah anda membayangkan sebuah dunia tanpa pemandangan dan tekanan dan kunjungan dari penunggang kuda berwajah pucat? “Dan maut tidak akan ada lagi.” Tidak ada rumah tanpa bayangannya—di dalam lingkaran keluarga anda, seorang ibu, seorang ayah, seorang istri, seorang suami, seorang putri, seorang putra, seorang anak kecil, seorang sahabat. Tidak ada sebuah kawanan domba, sekalipun telah dijaga dan diawasi di mana tidak ada anak domba yang mati di sana. Tidak ada tempat duduk di muka perapaian yang kursi tidak ada yang kosong. Di dalam sebuah alur yang sempit di Oklahoma barat daya ada sebuah kuburan kecil dengan sebuah catatan kecil di atasnya—saudara perempuan saya meninggal dunia sebelum saya dilahirkan. Saya tidak pernah menyebutkan hal itu. Saya pikir ini adalah pertama kalinya saya merujuk hal itu di dalam hidup saya dan menyimpannya di dalam pikiran saya. Sering kali saya ingin tahu seperti apakah berada di sana? Dan gadis kecil itu, seperti apakah dia? Apakah dia bertumbuh? Apakah dia tetap masih anak-anak? Oh, hal seperti itu tidak pernah disingkapkan—kita tidak diberitahukan tentang hal itu.  

            Hanya ini: Tidak ada pemahat batu nisan di dalam kemulian; tidak ada rangkaian bunga berbentuk lingkaran di atas tiang pintu di angkasa; tidak ada kuburan di lereng bukit sorga; tidak ada berita kematian di kolom surat kabar. Tidak ada prosesi pemakaman. Segala sesuatu yang kita dengar adalah sukacita dan kemenangan yang diulang-ulang oleh orang-orang kudus Allah yang telah ditebus, ketika mereka berkata:

Maut telah ditelan dalam kemenangan. Dan maut tidak akan ada lagi. Dia telah dilemparkan bersama dengan nabi palsu dan Setan yang telah menipu kita, dia telah dilemparkan ke dalam lautan api.

 

            Maut—“Dan tidak akan ada lagi perkabungan atau ratap tangis, atau dukacita.” Dukacita mengikuti kita seperti sebuah bayangan. Setiap hati mengetahuinya dengan pedih. Berapa banyak bantal pada malam hari yang basah oelh tetesan air mata yang tidak pernah dilihat dan diketahui oleh dunia ini? Yang dikenal dan dilihat oleh Allah—dukacita, dukacita.

            Kita memiliki seorang pengkhotbah yang hebat di mimbar ini. Anda menyukai pria itu. Mengadakan sebuah kebangunan rohani di sini. Dari masa kanak-kanak saya, saya menyukai manusia yang luar biasa itu. Ketika dia berada di sini mengadakan sebuah kebangunan rohani, dia mulai memberitahukan saya tentang masa kanak-kanaknya. Dia adalah seorang bocah pegunungan, yang muncul dari pegunungan. Ayahnya terbunuh ketika dia masih kanak-kanak. Ayah tirinya kejam dan bengis. Pada suatu hari, di meja sarapan, piring biscuit yang ditempatkan di sana, dia ambil dan melemparkan biskuit itu dan piring itu semuanya ke wajah ibunya. Kemudian ayah tirinya itu mengutuki ibunya. Kemudian dia mengepal tangannya dan memukuli ibunya itu. Kemudian menghentakkan kakinya dan menjauh dari pondok mereka. 

            Dan kemudian, bocah kecil itu pergi ke sampaing ibunya dan berkata: “Ibu, mari kita pergi. Mari kita pergi. Saya tidak tahu bagaimana, tetapi saya akan membuat sebuah kehidupan untukmu. Ibu mari kita pergi.”

            Dan sang ibu menjawab: “Nak, bukan begitu. Tidak akan ada perpisahan di dalam keluarga kita. Tidak akan pernah. Dan Nak, saya tidak akan hidup lama. Segera, saya akan bersama dengan Tuhan Yesus dan Allah akan memelihara engkau anakku.”

            Berdasarkan sebuah pengetahuan intuitif yang disingkapkan Allah kepadanya, dia meninggal sesudahnya. Dan bocah itu dibawa ke kota. Dan berdasarkan doa ibunya, dia diselamatkan di dalam kota dan menjadi pengkhotbah yang saya sukai dan dihormati dengan sangat baik.

            Penderitaan, penderitaan, dan dukacita, kekecewaan dan tangisan tidak akan ada lagi. “Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” 

            “Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: Lihat Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Baru! Aku menjadikan segala sesuatu baru—sebuah langit yang baru, sebuah bumi yang baru, sebuah kota yang baru. Kita akan tinggal di sebuah Yerusalem yang tidak pernah ada badai. Kita akan berjemur di bawah matahari yang tidak pernah turun. Kita tidak akan pernah berenang dalam sebuah pasang yang tidak akan surut. Kita akan makan dari sebuah pohon yang tidak akan pernah layu. Kita akan minum dalam sebuah sungai yang tidak akan pernah kering. “Aku menjadikan segala sesuatu baru!” 

 

Aku akan menyanyikan sebuah lagu bagimu tentang negri yang indah itu

Jauh disana, kediaman bagi jiwa

Dimana badai tidak akan pernah menghempas diatas hamparan pantai …

                                                [dari “Rumah dari Jiwa,” oleh Ellen M. H. Gates, 1865]

 

Anda lihat, penulis dari himne ini percaya bahwa ada ciptaan baru yang masih memiliki air.

                                                   

Dimana badai tidak akan pernah menghempas diatas hamparan pantai yang berkilau

Dimana tahun-tahun keabadian menggelinding…

 

Oh, betapa manisnya jika berada di negeri yang indah itu

Terbebas dari semua kedukaan dan kesakitan

Dengan lagu diatas bibir kita dan pengharapan di atas tangan kita

Untuk bertemu kembali antara satu dengan yang lain

 [dari “Rumah dari Jiwa,” oleh Ellen M. H. Gates, 1865]

 

Di dalam ibadah awal, kita menyanyikan lagu ini. Mari kita menyanyikannya sekarang—setiap orang, menyanyi bersama-sama.

 

Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihat Aku menjadikan segala sesuatu baru!”

 

Oh, Alah yang mulia, atas kebaikanNya, yang tidak diukur, yang tidak dapat dilukiskan, yang tidak dapat diduga, hal-hal sorgawi untuk kita. 

            Sekarang, ketika kita menyanyikan himne undangan kita, jika ada seseorang dari anda yang menyerahkan hatiNya kepada Allah, datanglah dan berdiri di dekat saya. Atau sebuah keluarga yang ingin meletakkan hidup mereka ke dalam persekutuan jemaat ini, maukah anda datang dan berdiri di dekat saya? Sebagaimana Roh Allah akan menuntun anda di jalan itu maka bagi anda yang berada di atas balkon dan di dalam kumpulan orang banyak yang berada di lantai bawah ini, datang dan majulah ke depan: “Pendeta, saya memberikan tangan saya kepada anda, saya menyerahkan hati saya kepada Allah.” Atau sebagaimana Roh akan menuntun di jalan itu, akan menyampaikan kata-kata, akan mengundang, akan membuka pintu, maukah anda melakukannya sekarang? Buatlah keputusan itu pada pagi hari ini, di waktu yang mulia ini. Datanglah! Datanglah, saat kita berdiri dan menyanyikan lagu. 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.