SEPERTI APAKAH BERADA DI DALAM SORGA

(WHAT IT IS LIKE TO BE IN HEAVEN)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Wahyu 21

23-03-89

 

          Ketika saya tiba di bagian akhir Kitab Wahyu dan mulai menyajikan khotbah tentang kota yang kudus itu, rumah sorgawi kita, saya tidak memiliki seperti itu dalam seluruh hidup itu. Sorga adalah kategori yang lain. Yang berada di dalam definisi yang lain. Itu adalah dunia yang lain dan kehidupan lain dari segala sesuatu yang kita kenal atau yang kita alami.

            Hanya sebuah tipikal dari hal itu, di situ disebutkan bahwa kota itu, turun dari sorga, dari Allah, yang penuh dengan kemuliaan Tuhan dan “dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.”  Kedua kata itu merupakan kata Yunani. Dan “kristal” di eja dari kata Yunani. Dan kata Yunaninya adalah crystallite.  Dan kemudian di situ juga disebutkan dalam bahasa Yunani tentang sebuah batu iaspis. Dan kita mengejanya dari bahasa Yunani menjadi kata yaspis. Tidak seorang pun yang tahu seperti apakah batu yaspis itu. Kata itu hanya dieja dari kata Yunani, tidak seorang pun yang tahu jenis batu suci itu. Jadi saya menerjemahkannya dengan batu permata. Kota itu tampak sangat mulia,  permata yang berkilau-kilauan—batu yaspis, sebuah permata.

            Kemudian malaikat itu berkata kepada Yohanes:

Marilah ke sini, aku akan menunjukan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba. Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar tinggi dan ia menunjukan kepadaku kota yang tinggi itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah.

 

Jadi kota itu disebutkan untuk pengantin Tuhan kita. Dan tentu saja, makna dari pengantin Tuhan adalah jemaatNya. Dan sahabat-sahabat mempelai laki-laki berada di sana: Yohanenabi perjanjian lama dan orang-orang kudus perjanjian lama. Mereka da bersama-sama di dalam kota yang indah itu.

            Dan yang pertama, dia menggambarkan bagian luar dari Yerusalem Baru itu, rumah kita yang kekal. Yang pertama, dia berkata bahwa kota itu memiliki dua belas gerbang, yang mewakili dua belas suku Israel. Tuhan kita berkata, “Keselamatan datang dari orang Yahudi.” Dan kita memiliki sebuah hutang kepada mereka yang tidak akan pernah dapat kita bayar. Anti-Semit bagi saya, sepertinya menjadi anti-Allah. Saya tidak dapat memhami hal itu. Kedua belas gerbang itu mewakili dua belas suku Israel.

            Kemudian kota itu memiliki dua belas batu dasar, dan di atasnya, tertulis nama kedua belas rasul. Dasar dari pesan Injil kita dan pengharapan jiwa kita ditemukan di dalam pesan yang disampaikan kepada kita setelah kebangkitan Tuhan kita, oleh rasul-rasul yang telah dipilih oleh Juruselamat kita. 

             Kemudian dia melihat malaikat mengukur panjang, lebar dan tinggi dari kota itu. Dan kota itu berukuran dua belas ribu stadia. Bahasa Yunani adalah stadia.  Ketika anda mengubah kota itu ke dalam ukuran kita, maka ukurannya sekitar seribu lima ratus mil. Jadi, panjang dan lebar serta tingginya sama yaitu sekitar tiap-tiapnya berukuran seribu lima ratus mil. Itu adalah sebuah kota yang sangat besar. Kota itu akan meliputi Inggris dan Skotlandia dan Irlandia dan Prancis dan Jerman dan  Austria dan Italia dan Spanyol dan Eropa Turki, dan setengah Rusia. Jika anda membayangkan sebuah kota dalam sebuah cerita, bahkan jika kota itu terpisah satu mil, dan bahkan jika jalannya terpisah satu mil, maka ada delapan juta mil jalan di kota itu. Jika anda mengambil semua jiwa yang lahir dari Adam hingga masa yang sekarang, kita dapat  menduduki satu sudut dari kota besar itu. Itu adalah sebuah kota yang sangat besar, kota sorgawi dari Allah, rumah kita yang kekal.

           Dan Allah pastilah menyukai warna. Dasar dari kota itu dan tembok kota itu memiliki dua belas warna yang berkilauan. Ketika anda pergi keluar dan melihat langit, warnanya adalah biru. Ketika anda melihat sunset, rupanya seperti api. Ketika anda melihat sunrise yang permai, rupanya sangat indah. Allah pastilah menyukai warna. Dan di dalam kota yang indah itu, ada dua belas dasar yang mulia.  

            Kemudian, kita tidak akan tinggal di luar kota itu. Kita akan tinggal di dalam. Dan ketika kita masuk ke dalam, bagian dalam bahkan lebih luar biasa indah. Dia memiliki dua belas gerbang mutiara. Kita masuk ke dalam Yerusalem Baru, rumah kita yang kekal melalui penderitaan dan pengorbanan. Sebuah mutiara merupakan satu-satunya perhiasan yang dibentuk oleh luka. Dan seluruh gerbang Yerusalem Baru, rumah kita yang kekal terbuat dari mutiara. Kita masuk ke dalam kota itu melalui penderitaan dan melalui pengorbanan. 

Dan jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening. Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu. Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah menyinarinya dan Anak Domba itu adalah lampunya.

 

            Betapa merupakan sebuah tempat yang luar biasa bagi kita. Allah yang krelihatan, Allah di atas takhtaNya dan di sana kita melihat wajahNya dan tetap hidup. Cahaya dari kota itu berasal dari wajah Tuhan Yesus. Betapa merupakan sebuah kemunculan yang sangat indah, sebuah penglihatan yang sangat indah, sebuah kemuliaan yang sangat indah, untuk berdiri di atas jalanan emas dari kota Allah itu dan melihat Allah sendiri. Satu-satunya Allah yang pernah anda lihat adalah Tuhan Yesus. Anda tidak akan pernah punya tiga Allah. Allah satu-satunya yang akan anda lihat adalah Tuhan Yesus. Satu-satunya Allah yang pernah anda rasakan adalah Roh Kudus di dalam hati anda. Dan hanya ada satu Allah di sana, yaitu Tuhan Allah. Dan itulah yang akan kita lihat di sorga. Dan kita akan memuji nama Juruselamat kita yang mulia, menyebutkan namaNya, bersujud di hadapanNya, hanya bersyukur kepadaNya sampai selama-lamanya karena telah mati bagi dosa-dosa kita dan telah bangkit untuk pembenaran kita. Itulah yang akan terjadi di kota, memuji Tuhan, siang dan malam sampai selama-lamanya.

            Kemudian, gambaran dari kota itu sendiri.  Tepat di tengah-tengah kota itu, terdapat sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Semua buah dari pohon itu adalah untuk kita, kita semua dapat mengambil bagian-bagiannya. Setiap gigitan yang kita makan dan setiap substansi yang kita ambil merupakan warisan kita yang membuat kita menjadi abadi. Pohon kehidupan sebelumnya berada di Taman Eden. Dan agar manusia tidak mengambilnya dan hidup selama-lamanya, Allah memindahkannya ke dalam kemuliaan. Dan di tempat itu terdapat sungai kehidupan. Dan umat Allah boleh menikmatinya, memakannya dan hidup sampai selama-lamanya. 

            Dan di sana tidak akan ada lagi kutuk. Hal itu telah berlalu sampai selama-lamanya. Maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. Kita tidak akan pernah menjadi tua. Kita tidak akan pernah lagi sakit. Kita tidak akan pernah lagi dipisahkan. Kita tidak akan mati lagi. Kita berada di sana di dalam hadirat Tuhan kita sampai selama-lamanya. Oh Allah, betapa merupakan sebuah  pengharapan yang indah untuk melihat wajahMu dan di dalam hadirat orang-orang yang kami kasihi yang pernah hilang untuk sementara, untuk menyanyikan kemuliaanMu dan memuji namaMu di dalam dunia tanpa akhir!

            Dan hamba-hambaNya akan melayani Dia. Ah, betapa merupakan sebuah tugas yang indah. Di sana, tidak akan ada akhir bagi dedikasi kita. Pada saat siang hari, malam hari, musim gugur, di dalam musim semi, sampai selama-lamanya kita akan bekerja untuk Tuhan kita, menjalankan perintahNya. Lalu, mungkin anda berpikir bahwa saya telah kehilangan pikiran saya ketika saya menyampaikan hal ini, tetapi ini adalah sebuah bagian dari keyakinan saya. Saya berpikir ketika Allah berkata bahwa kita akan melayani Dia—kita berada di dalam pekerjaanNya—saya pikir kita akan memiliki sebuah ciptaan yang baru:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu.

 

           Allah akan menciptakan kembali seluruh alam semesta yang telah jatuh ini. Dan tidak akan ada lagi planet-planet yang mati. Dan di sana tidak akan ada lagi padang gurun dan laut yang mati. Tetapi seluruh ciptaan Allah akan hidup. Dan berdasarkan perumpamaan Tuhan kita, kita akan memiliki tugas untuk memerintah atas karya Allah yang luas dan yang tidak terbatas ini. Seperti yang Dia sampaikan kepada salah satu hambaNya:  

Engkau telah setia, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Engkau telah setia, karena itu terimalah kekuasaan atas lima kota. Engkau telah setia, karena itu terimalah kekuasaan atas dua kota.

 

Kita akan menjadi pemerintah atas seluruh alam semesta yang telah diciptakan kemabli ini. Dan kadang-kadang saya sering berkelakar di dalam mimbar, bahwa saya ingin Allah memberikan saya sebuah planet di angkasa yang luas ini. Dan saya ingin memiliki sebuah mimbar dan saya ingin berdiri di sana dan  berkhotbah dan tidak perlu melihat jam sampai selamanya-lamanya, hanya untuk memuji Tuhan tanpa henti.

Dan kita akan melihat wajahNya, klimaks dari semua. Kita akan melihat Yesus. Kita akan bersama-sama di dalam hadirat ilahiNya, dunia tanpa akhir, di dalam sebuah kekekalan. Itu akan menjadi sorga itu sendiri. Yesus ada di sana. Dan anda akan berada di sana. Hal itu seperti ini. Saya telah mendengar kesaksian dari seorang yang sudah tua, pengembara tua: seorang pahlawan iman Kristen masa lalu. Dan ketika orang tua itu berdiri, inilah yang dia sampaikan: “Ketika saya masih seorang bocah kecil, ketika saya masih seorang pengikut yang masih kecil, saya diberitahukan tentang surga, mendengar tentang surga. Surga adalah sebuah kota yang besar, jalanannya terbuat dari emas, gerbangnya terbuat dari permata, dindingnya terbuat yaspis, dan malaikat yang berpakaian putih, serta sebuah kumpulan orang banyak yang tidak seorang pun yang saya kenal. Ketika saya masih kecil saya selalu memikirkan sorga seperti itu.” Lalu dia melanjutkan, “Saudara laki-laki saya yang kecil meninggal dan saya membayangkan tentang surga yang dindingnya  terbuat permata yaspis, gerbang permata, jalanan yang terbuat dari emas, malaikat yang berpakaian putih, dan sekumpulan orang yang tidak ada seorangpun yang saya kenal kecuali satu wajah yang mungil: wajah saudara laki-laki saya yang kecil.”

Lalu orang tua itu melanjutkan kesaksiannya dan dia berkata: “Semua keluarga saya telah meninggal: ibu saya, ayah saya, semua saudara laki-laki saya dan semua saudari perempuan saya.” Lalu dia melanjutkan, “Istri saya telah meninggal, dan semua anak-anak kami. Mereka semuanya telah pergi. Sekarang, ketika saya berpikir tentang surga, saya tidak pernah lagi membayangkan tentang dinding yang terbuat dari yaspis atau jalanan yang terbuat dari emas, atau gerbang permata atau sebuah tempat yang luas yang tidak saya ketahui. Ketika saya membayangkan surga saat ini, itu adalah tempat dan ibu saya ada, dan tempat di mana istri saya menunggu dan anak-anak saya berada yang akan membuat keluarga menjadi sempurna. Dan saya sedang memandang ke depan pada hari yang penuh kemenangan itu ketika saya berkumpul dengan mereka di dalam sorga.” Sorga cukup seperti itu. Jika kita dapat bersama-sama dan melayani Tuhan kita dan menyanyikan pujian bagiNya, oh, dunia tanpa akhir, itu adalah sorga yang cukup bagi saya.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.