DI DALAM  UCAPAN SYUKUR KEPADA ALLAH

(IN THANKSGIVING TO GOD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Mazmur 100:11

11-18-79

 

Adalah sebuah sukacita yang dalam bagi kami untuk menyambut anda semua, yang tidak hanya bagi pengunjung yang ada di ruangan ini tetapi juga bagi anda semua yang sedang menyaksikan ibadah ini melalui siaran televisi dan yang mendengarkannya melalui dua buah siaran radio yang menyiarkan ibadah ini.

Ini adalah pendeta dari Gereja First Baptis Dallas yang sedang menyampaikan sebuah khotbah yang berkaitan dengan Perayaan Ucapan Syukur yang berjudul: Di Dalam Ucapan Syukur Kepada Allah.

Bukan sebagai sebuah eksposisi tetapi akan menjadi sebuah latar belakang bagi khotbah kita, yaitu di dalam Mazmur pasal seratus ayat empat dan dengarkanlah nyanyian pemazmur ini: “Masuklah melalui pintu gerbangNya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataranNya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepadaNya dan pujilah namaNya!” Di dalam ayat kecil yang indah itu, dari nyanyian ini, dua kali disebutkan supaya kita datang ke hadapan Tuhan dengan ucapan syukur, dengan hati yang melimpah dengan ucapan syukur atas kebaikan Allah.

Pada tanggal 5 April 1621, ada sebuah kejadian yang paling mengesankan dan sangat tajam dari semua momen yang ada di dalam sejarah Amerika. Itu adalah sebuah hari dimana sekelompok kecil dari Para Pengembara berdiri di tepi pantai dan menyaksikan MayFlower—kapal yang telah mereka naiki untuk datang dari Inggris ke Amerika—untuk menyaksikan kapal itu meninggalkan Pantai Plymouth dan berlayar ke samudera terbuka, untuk kembali ke Inggris, tanah kelahiran mereka.

Musim dingin yang pahit dan mengerikan itu, yang terjadi pada bulan Januari dan Pebruari, telah menyebabkan setengah dari jumlah Para Pengembara itu meninggal dunia. Ada seratus dua orang yang datang dengan kapal Mayflower dan lima puluh satu orang telah binasa dalam musim dingin yang kejam itu.

Mereka dikebumikan di Bukit Cole di atas Pantai Plymouth. Mereka dimakamkan di sebuah ladang jagung dan kuburan mereka ditandai dengan tanah Indian yang tidak bersahabat yang menyaksikan bagaimana jumlah mereka yang telah berkurang dan betapa lemahnya orang-orang yang tersisa.

Dan kemudian, pada 5 April 1621, dua puluh satu pria yang tetap bertahan dan enam orang anak muda yang sudah dapat bekerja, dan bantuan kecil dari wanita dan anak-anak yang berada di sisi mereka, berdiri di atas pantai dan menyaksikan Mayflower berlayar ke laut terbuka dan kembali pulang ke Inggris.

Tidak ada seorang pun dari Para Pengembara itu yang naik ke atasnya. Tidak seorang pun yang memilih untuk kembali pulang. Mereka tetap bertahan di padang liar. Sebab mereka telah membangun sebuah tatanan sosial yang baru yang berada di bawah Allah, dan menggunakan Inggris yang baru ini—Koloni Plymouth—sebagai basis bagi misi penginjilan dunia.

Mereka merupakan sebuah kelompok yang tidak biasa, Para Pengembara yang datang ke Amerika Baru. Mereka adalah orang-orang yang saleh dan memiliki komitmen. Mereka tidak memiliki apa-apa untuk kebaikan dunia ini. Tetapi mereka memiliki harta yang tak terkatakan di dalam kekayaan iman mereka kepada Allah.

Dan ketika mereka datang ke Amerika, mereka membawa Alkitab Versi King James bersama dengan mereka. Alkitab itu telah ditempatkan di dalam tangan mereka, yang diterjemahkan sembilan tahun lebih awal. Dan ketika mereka membangun keluarga mereka yang kecil, mereka menempatkan Alkitab sebagai pusat keluarga. Dan mereka berkumpul di sekitar Alkitab setiap hari di dalam doa, di dalam pembacaan Alkitab dan permohonan.

Hal selanjutnya yang mereka lakukan adalah membangun gereja mereka yang kecil dan pusat dari gereja itu adalah Alkitab, pengajaran dari Firman Allah. Dan hal yang ketiga yang mereka bangun adalah sekolah. Dan buku wajib di sekolah itu adalah Firman Tuhan yang kekal dan yang tanpa salah dan tidak ada salahnya.

Jika anda ingin mengetahui betapa jauhnya Amerika sekuler, Amerika modern telah beranjak dari fondasi dari bangsa kita, lihatlah ke dalam larangan dari pengadilan Amerika yang melawan setiap hal-hal kekristenan untuk diekspresikan di sekolah-sekolah umum.

Ada sebuah alasan mengapa setiap minggu ada tiga Akademi Kristen didirikan di Amerika. Ada sebuah alasan mengapa sekolah-sekolah khusus Kristen ini dimulai untuk mengimbangi sekolah-sekolah umum. Ada sebuah alasan mengapa kita memiliki Akademi Kristen First Baptist di gereja ini. Anda dapat menekan orang sejauh itu, dan selanjutnya mereka akan menjadi putus asa. 

Dan kita sedang menjangkau tujuan itu di dalam kehidupan Amerika. Siapa yang menginginkan anak-anaknya diajarkan bahwa dia adalah seekor binatang? Bahwa mereka berasal dari spesies yang paling rendah? Bahwa dia adalah seorang keturunan monyet dan kera besar serta manusia yang menyerupai monyet? Dan kemudian kepada mereka juga diajarkan tentang  nilai-nilai hidup sekuler dan hal-hal keduniawian?  

Demi kebaikan saya dan keluarga saya, demi kebaikan gereja ini dan anak-anak dari gereja ini, merupakan tugas kita untuk mengajarkan bahwa mereka telah diciptakan dalam rupa dan gambar Allah. Dan nilai-nilai kebajikan hidup yang tidak bersifat sekuler dan materi, tetapi bersifat rohani. Bahwa hal itu berada di dalam batin, sehingga mereka menjadi orang-orang yang saleh dan hidup dalam kehendak sorga.

Jadi, koloni yang kecil itu memulai dengan kehidupan keluarga Kristen, yang dibangun di sekitar Alkitab; dengan sebuah jemaat Kristen yang memberitakan Firman Allah tanpa salah; dan sebuah sekolah yang buku wajibnya adalah Alkitab Versi King James.

Tahun itu, yaitu pada tahun 1621, pada musim gugur, Gubernur William Bradford, gubernur yang terpilih di koloni itu, mengumumkan sebuah ibadah Ucapan Syukur. Musim gugur telah memberikan mereka makanan untuk dimakan. Dan ketika semua hasil panen telah dikumpulkan, mereka menghabiskan waktu tiga hari untuk bersukacita kepada Tuhan. Mereka mengundang para Indian yang bersahabat yang jumlahnya melebihi Para Pengembara dan itu merupakan permulaan dari Hari Ucapan Syukur di Amerika.

Gubernur William Bradford, sekalipun dia mengetahuinya atau tidak—saya yakin bahwa dia adalah seorang manusia Allah dan seorang pelajar dari Kitab Suci—Gubernur Willian Bradford telah mengikuti roh dan hari-hari perayaan dan persembahan-persembahan dari Alkitab itu sendiri ketika dia mengumumkan sebuah Hari Ucapan Syukur pada panen musim gugur yang pertama itu pada tahun 1621.

Sebab kita memilikinya di dalam Alkitab, kita memiliki perayaan-perayaan yang indah ini yang telah diberikan oleh Allah sendiri kepada umatNya. Dan jika anda melihat di dalam studi Alkitab dalam Kitab Imamat maka di dalamnya digambarkan kepada kita makna dari hari-hari raya ini. Dan salah satu dari antaranya akan saya sebutkan secara khusus sebagai ingatan bagi kita.

Mereka menyebutnya sebagai korban pendamaian—sebuah hari raya pendamaian. Itu yang disebutkan di dalam Alkitab. Ketika anda memperhatikannya dan ketika anda mempelajarinya, itu adalah sebuah korban ucapan syukur. Di dalam faktanya, jika kita memilih kata untuk itu seharusnya adalah “Ucapan Syukur.” Itu adalah sebuah korban Ucapan Syukur dan sebuah hari raya ucapan syukur.

Itu adalah hal yang paling unik dari antara semua perayaan-perayaan. Hanya ada satu hari raya di mana para penyembah memiliki partisipasi dan itu adalah hari raya ucapan syukur. Dan itu dapat dipersembahkan kepada Allah setiap waktu.

Jika seseorang ingin memuji Allah atas kebaikanNya yang luar biasa, dia akan pergi ke rumah Tuhan dan membawa sebuah persembahan. Persembahan itu kemudian dikorbankan dan disajikan oleh imam yang melayani dan  dimakan bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, dan sahabat-sahabat yang diundang dan pelayan-pelayan yang bertugas, sebuah hari raya ucapan syukur, memuji Allah atas kebaikannya yang luar biasa terhadap anak-anak manusia. 

Ada satu lagi perayaaan tahunan yang diberikan kepada anak-anak Allah di perjanjian lama. Perayaan itu disebut dengan hari raya Pondon Daun. Mereka duduk di dalam sebuah pondok-pondok untuk mengingat pemeliharaan dan perlindungan Allah selama perjalanan mereka di padang gurun. Tetapi hal itu secara nyata merupakan hari raya ucapan syukur, atau ungkapan terima kasih atas hasil panen. Di dalam musim gugur, orang-orang melaksanakan hal itu.

Hal yang sama juga dilakukan oleh rasul-rasul perjanjian baru yang membentangkan kepada kita sebuah tugas dan pelayanan yang indah dari ucapan syukur. Rasul Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 5:18; “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Dan dia menulisnya kembali di dalam Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Itu adalah iman Kristen, yang selalu merefleksikan ucapan syukur kita kepada Allah atas kebaikanNya yang luar biasa bagi kita.

Demikian juga pada tahun 1789, setelah masa-masa yang mengerikan dari Perang Rvolusi, dan setelah Kongres Continental menetapkan Konstitusi Amerika Serikat, hal pertama yang dilakukan oleh dua Dewan Kongres (Houses of Congress) yaitu Senat dan Dewan Perwakilan Amerika adalah meminta kepada Presiden Amerika Serikat untuk mengumumkan sebuah Hari Mengucap Syukur Nasional.

Inilah bunyi dari teks dari pengumuman Hari Ucapan Syukur nasional itu:

MENGINGAT bahwa merupakan tugas dari semua bangsa-bangsa untuk mengakui pemeliharaan Allah yang Mahakuasa, untuk mentaati kehendakNya, untuk berterima kasih terhadap rahmatNya, dan dengan penuh kerendahan hati untuk memohon dengan sangat terhadap perlindunganNya dan kemurahanNya; dan mengingat bahwa kedua Dewan Kongres, dengan ketetapam bersama, telah meminta saya “Untuk merekomendasikan rakyat Amerika Serikat sebuah HARI MENGUCAP STUKUR NASIONAL dan DOA, untuk dilaksanakan dan diakui dengan hati yang penuh rasa terima kasih atas limpahan dan tanda-tanda kebaikan Allah Yang Mahakuasa, khususnya dengan memberikan kepada mereka sebuah kesempatan yang tenang untuk menetapkan sebuah kondisi dari pemerintah  untuk kenyaman serta kebahagiaan mereka.”  

OLEH KARENA ITU SEKARANG, saya merekomendasikan dan menetapkan hari KAMIS, tanggal DUA PULUH ENAM NOVEMBER berikutnya, untuk dicurahkan oleh rakyat dari negara ini dalam beribadah kepada Pribadi yang agung dan Mulia itu yang penuh kemurahan, penulis dari semua kebaikan, atau hal itu merupakan kesempatan bagi kita semua dalam kesatuan untuk memberikan kepadaNya ketulusan hati kita dan penuh kerendahan hati berterimakasih atas kebaikanNya dan perlindunganNya terhadap rakyat negeri ini…

Diberikan di bawah tangan saya di Kota New York (yang pada waktu itu merupakan ibukota negara Amerika) tiga Oktober, dalam tahun Tuhan kita, seribu tujuh ratus delapan puluh sembilan.

 

Demikianlah hal itu menjadi permulaan yang pertama bagi penetapan nasional dari Ucapan Syukur, yang dibawah Abraham Lincoln telah dibuat menjadi sebuah hari libur nasional.

Akhirnya kita memiliki salah satu ketetapan yang unik dari Amerika. Hal itu tidak ditemukan di negara-negara lain, atau rakyat dari bangsa-bangsa lain, sebuah hari nasional untuk berterima kasih dan mengucap syukur kepada Allah. Yang pertama kali kita harusnya berterimakasih kepada Allah atas negeri kita dan atas rakyat kita. Sebuah kelompok kecillah yang telah memulai institusi Kristen ini.

Saat itu Amerika merupakan sebuah bangsa yang kecil, yang jumlah penduduknya tidak lebih dari empat juta orang, dan di bawah kepemimpinan George Washington, mereka saling berbagi bersama-sama di dalam hari raya Ucapan Syukur  pada November pertama itu. Amerika kemudian tumbuh menjadi sebuah bangsa yang besar dan sebuah rakyat yang besar. Pada saat ini, di dalam musim tahun ini, betapa kita harus melakukannya dengan bersungguh-sungguh dan penuh doa seperti yang dianjurkan oleh Rasul Paulus kepada kita; biarlah segala keinginan kita disampaikan kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Tuhan, dengan rasa terima kasih yang dalam bagi bapa leluhur kami, untuk pengorbanan yang telah mereka buat, untuk penderitaan yang telah mereka alami, untuk kematian yang telah mereka alami bagi kepentingan negeri kami. Tuhan, kami sungguh-sungguh mengucap syukur untuk masa-masa yang telah lewat, Allah yang Mahakuasa, ingatlah akan kami pada saat ini, dan hari-hari yang terbentang di hadapan kami dan anak-anak kami. Semoga bangsa kami tidak berpaling dari komitmen yang telah dibuat oleh Para Pengembara yang mula-mula itu.

Semoga kami tidak menjadi sebuah rakyat yang sekuler, yang bersifat keduniawian, tidak menjadi rakyat komunis, atheis dan sosialis. Semoga nilai-nilai kebajikan kami tidak diukur dan dinilai oleh materi hidup. Tuhan, tolonglah kami untuk mewujudkan nilai-nilai hidup itu di dalam karakter dan kualitas yang hebat dari rakyat kami.

Kami dapat menjadi miskin dan besar. Kami biasa tidak memiliki apa-apa tetapi tetap memuji dan menyembah Allah. Kami tidak menginginkan kepemilikan materi yang belimpah-limpah untuk berjalan di dalam keserupaan pengetahuan kemuliaan Allah; dengan mengucap syukur kepada Allah atas semua hal yang telah diberikan oleh bapa leluhur kami di dalam tangan kami, sebuah warisan pusaka yang luar biasa. Ya, Tuhan, semoga kami tidak akan kehilangan semua hal ini, yang menjalin kepentingan masyarakat Amerika modern—semoga kami tidak kehilangan kebajikan yang murni itu dan dedikasi rohani yang bersifat sorgawi, yang telah menjadikan bangsa kami menjadi besar. 

Kami bersyukur kepadaMu, ya Allah, untuk bangsa kami. Kami bersykur kepada Allah untuk jemaat yang mereka kasihi, dan Injil yang mereka beritakan, dan Alkitab sebagi dasar kehidupan mereka. Para pioneer yang penuh kesungguhan ini, yang memulainya dari Plymouth dan akhirnya menyebar ke daerah pesisir utara, menyeberang hingga Alleghenies; ke dalam padang liar Kentucky dan Tennessee, mendesak hingga setipa bagian barat, akhirnya melintasi padang rumput yang luas di jantung Amerika. Akhirnya dari sana mereka sampai di daerah Barat, tempat dimana  saya dibesarkan dan mendengarkan para pengkhotbah mula-mula ini.  

Tanpa pendidikan, tanpa petunjuk, perpustakaan mereka hanya Alkitab dan sebuah buku himne. Tetapi mereka telah mengkhotbahkan injil dengan penuh gairah, dengan penuh semangat dan dengan penuh belas kasihan. Orang-orang itu adalah pendiri semua institusi kita termasuk Universitas Baylor. Mereka adalah orang-orang yang mengorganisasi gereja-gereja kita dan yang telah mengajarkan orang-orang padang rumput yang keras dan kasar itu tentang iman di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Terima kasih Tuhan, untuk semua institusi yang telah mereka dirikan. Terima kasih Tuhan untuk gereja-gereja yang telah mereka dirikan. Dan terima kasih Allah atas anugerah dan kemurahan dari Tuhan yang bahkan menjangkau saya.

 

Aku mencintai gerejaMu, Ya, Allah

Dinding-dindingnya yang tegak di depanMu

Yang Kau kasihi seperti biji mataMu

Dan pahatan yang ada di tanganMu

Yang untuknya air mataku menetes

Yang untuknya doaku dinaikkan

Dan baginya kerja keras

Dan perhatian kuberikan

Hingga usaha dan kepedulianku akan berakhir

 

Mengucap sykur kepada Allah atas jemaat kita dan Alkitab kita dan atas pemberitaan Injil yang telah disampaikan kepada kita.

Dan kita harus mengucap syukur kepada Allah kita atas seluruh pemeliharaanNya dalam hidup kita. Memang semuanya tidak akan gampang. Dan mereka semua tidak akan dipenuhi oleh hal-hal yang seperti kita inginkan atau harapkan. Kita juga seharusnya mengucap syukur atas penderitaan dan air mata dan kedukaan yang kita kenal di dalam hidup kita.

"Di dalam segal hal,” kata Rasul Paulus, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  Di dalam segala hal—Tuhan, itu sangat sulit, sangat-sangat sulit.

Seorang anak muda yang bernama Tom sedang berbicara dengan seorang pengembara tua yang bernama Mr. George Burton di atas sebuah lembah.

Anak muda itu berkata kepada pengembara tua, prajurit tua dari Kristus Yesus, dia berkata kepadanya, “Saya tidak melihat ada sesuatu yang baik di dalam agama ini. Nampak oleh saya bahwa orang-orang yang berdoa dan membaca Alkitab dan pergi ke gereja tidak lebih baik dari pada orang-orang yang tidak melakukannya. Saya tidak melihat ada sesuatu yang lebih baik di dalamnya. Agama, doa, pujian, menyembah Allah, pergi ke gereja. Saya tidak melihat ada sesuatu yang lebih baik dengan melakukan semua itu. Orang-orang yang melakukan hal itu tidak lebih baik dari pada orang-orang yang tidak melakukannya. 

Dan anak muda itu berkata kepada pengembara tua itu, katanya, “Anda lihatlah orang tua yang bernama Monroe yang tinggal di dekat sungai kecil. Seluruh hidupnya dia berdoa untuk uang sehingga dia dapat mengirim anaknya ke sekolah dan dia tidak pernah memperolehnya dengan cukup. Selama masa hidupnya dan tahun-tahun yang dia jalani hingga sekarang dia selalu berdoa setiap hari untuk Charles anaknya yang paling kecil sehingga dia dapat sembuh. Dan anaknya itu masih tetap sakit. Dan tidak hanya itu, tetapi tahun yang lalu, petir telah membunuh seekor kudanya dari dua ekor yang dia miliki. Dan pada musim semi ini, angin telah meniup lumbungnya hingga hancur. Saya tidak melihat bahwa agama ini menolong seseorang.” Itulah yang disampaikan oleh anak muda itu kepada sang pengembara tua.

Dan Mr. Burton berkata kepada anak muda itu, “Nak, apakah engkau telah berbicara dengan Monroe tua itu sejak petir membunuh kudanya? Dan sejak angin menghancurkan lumbungnya, apakah engkau sudah berbicara dengannya?”

"Ya Pak,” kata anak muda itu, “Ya Pak, saya sudah berbicara dengannya.”

Dan prajurit salib yang sudah tua itu berkata, “Nak, ketika engkau berbicara dengannya, apakah dia mengeluh?” 

"Tidak,” kata anak muda itu, “Tidak, dia sama sekali tidak mengeluh.”

“Ketika engkau berbicara dengan dia, apakah dia menyumpahi orang lain, tetangganya, atau petir yang membunuh kudanya ataupun angina yang menghancurkan lumbungnya? Apakah dia menyumpahi kejadian-kejadian yang menimpa dia?”

Dan pemuda itu menjawab, “Tidak Pak, dia sama sekali tidak melakukannya.”

"Nak, ketika engkau berbicara dengan dia, apakan dia berterimakasih dan mengucap syukur atas berkat yang dia miliki? Apakan dia melakukan hal itu?

Dan anak muda itu menjawab, “Ya, Pak, dia melakukannya.”

Dan prajurit Yesus yang tua itu berkata, “Nak, kamu telah melihat di tempat yang salah. Saya telah mengenal Monroe sejak dia masih seorang yang jahat dan hina. Dia tidak memiliki tempat tinggal untuk keluarganya. Dan kami para tetangganya memperhatikan anak-anaknya. Dan akhirnya dia diselamatkan dengan luar biasa. dan sejak saat itu dia bekerja. Dan dia membangun sebuah tempat tinggal untuk keluarganya. Dan dia merawat mereka. Mereka memiliki makanan untuk dimakan; pakaian untuk dikenakan, dan sebuah tempat untuk tinggal.”

Dan prajurit Yesus yang tua itu melanjutkan, “Nak, engkau sedang melihat di tempat yang salah. Engkau sedang melihat sisi luarnya. Itu bukan sebuah tempat untuk diperhatikan. Engkau harus melihat ke dalam batin dan engkau harus melihat ke dalam hati Monroe tua itu.”

“Nak,’ kata prajurit Yesus itu, “sisi luar tidak berubah. Dunia masih memiliki kelaparan, penderitaan, angina rebit, badai dan petir. Bagian luar masih tetap sama. Yesus mengubah bagian dalam diri manusia. Bagaimana seseorang sikap seseorang ketika petir membunuh kudanya dan angin meniup lumbungnya. Bagaimana dia menghadapi hal-hal itu. Itulah orang yang telah diubah Allah, yang telah diberi pertolongan dan kekuatan.”

Kondisi luar tetap sama sejak kejatuhan di Taman eden. Tanah menghasilkan semak dan duri. Dan Kain telah membunuh Habel. Dan tanah telah dimerahkan oleh darah manusia. Dan kerja keras, air mata, dan kedukaan hati manusia melampaui hal yang dapat digambarkan oleh syair atau yang dapat dinyanyikan oleh sebuah lagu.

Tetapi perbedaan yang telah dibuat Yesus berada di dalam diri kita. Di dalam batin kita. Ketika masa kesukaran datang, ketika air mata tumpah, apakah saya dapat melihat wajah Yesus di dalam tangisan saya? Dan dapatkah saya memuji Allah sama seperti yang dilakukan oleh si tua Ayub ketika angin menghancurkan rumahnya dan petir membunuh kawanan ternaknya dan dombanya? Dan mengangkat suaranya serta memuji Allah dan berkata, “Dia yang memberi, Dia yang mengambil, terpujilah namaNya.”

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.