Daftar Isi

 

SUNGAI-SUNGAI AIR KEHIDUPAN

(RIVERS OF LIVING WATER)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diterjemahkan Made Sutomo, M.A.

 

Yohanes 7:37-39

08-16-87

 

            Pada bagian ini saya akan mengajak Anda melihat satu peristiwa penting yang dilakukan oleh Yesus di Yerusalem, pada puncak Perayaan Tabernakel.  Kita akan memperhatikan beberapa pokok inti dalam perayaan tersebut, antara laian: beberapa makna perayaan tabernakel, makna perayaan pondok daun,  dan kita juga akan memperhatikan kepada siapa sebenarnya undangan Yesus ditujukan.  Ayat Firman Tuhan yang menjadi dasar pembahasan kita, saya ambil dalam Yohanes 7:37-39:

 

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran air hidup.” Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”

 

 

  1. Tentang Perayaan Tabernakel

 

Dalam Alkitab, maksud dari perayaan Tabernakel ini mempunyai beberapa makna:

 

            Pertama, merupakan hari penebusan.  Perayaan itu dimulai pada hari kelimabelas bulan Yahudi Tishri dan klimaksnya pada hari ketujuh.  Hari penebusan merupakan hari untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, merupakan hari pencarian dan pengakuan.  Untuk komunitas Yahudi, di mana saja mereka berada, mereka akan senantiasa memperingati hari penebusan ini, di mana pada hari itu jiwa mereka berkabung dan melakukan sujud di hadapan Tuhan. Lima hari sesudah hari pengakuan dan perkabungan itu, Perayaan Tabernakel, merupakan hari yang penuh sukacita dan hari pertemuan yang mulai bagi umat Allah.   Mereka berbondong-bondong datang dari setiap kota dan desa, dari Dan hingga Berseba untuk pergi ke Yerusalem, kota Daud. 

 

            Kedua, perayaan tersebut juga disebut ‘perayaan perkumpulan’.  Dalam literatur Rabi Yahudi, hari itu menunjuk kepada ‘hari raya panen.’  Bila itu disesuaikan dengan  kalender kita, bulan itu adalah bulan Oktober, dan merupakan hari ucapan syukur atas panen raya.  Orang-orang dengan penuh sukacita mengucap syukur kepada Allah atas hasil anggur, pohon palem, buah oliv, yang dihasilkan dari ladang mereka. 

 

            Ketiga, perayaan tabernakel disebut juga perayaan Pondok Daun.  Pada perayaan Tabernakel, hari itu bukan saja hari untuk mengucap syukur karena hasil panen, tetapi berdasarkan Hukum Musa, mereka berkumpul sebagai keluarga dalam pondok-pondok yang berdinding daun-daunan.  Dalam kitab Imamat 23:40-42 dikatakan demikian:

 

Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah dari pohon korma, ranting-ranting dari pohon yang rimbun, dan pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.  Kamu harus merayakan sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setiap tahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun.  Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.  Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun.”

 

Jadi, itulah alasannya mengapa kadang-kadang perayaan ini disebut “hari raya pondok daun.”   Pada hari perayaan itu orang-orang berada dalam tabernakel-tabernakel kecil dan dalam ponok-pondok daun selama tujuh hari.  Dari himpunan orang banyak itu akan terdapat raja, para ratu, orang-orang miskin, dan orang-orang biasa. 

 

            Keempat, merupakan perayaan untuk memperingati bangsa Israel keluar dari Mesir. Keterangan ini dapat kita baca dalam kitab Imamat 23:43, “ Supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN Allahmu.”  Jadi dengan demikian perayaan tersebut juga termasuk satu perayaan untuk memperingati hari pelapasan dari Mesir, bagaimana mereka berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun.  Dan setelah itu, lagu pujian dan perayaan ucapaan syukur untuk memasuki Tanah Perjanjian, yakni Kanaan. 

 

  1. Makna Perayaan Pondok Daun       

 

Saya dengan mudah melihat simbol dari kejadian tersebut untuk kita zaman ini.  Pertama mereka dikatakan tinggal di pondok-pondok daun yang sifatnya sementara; dan kemudian  di Tanah Perjanjian untuk selama-lamanya.  Hidup kita begitu singkat dan bersifat sementara; dan rumah kita di sorga, begitu mulia dan kekal.

 

            Selain itu, perayaan Tabernakel juga memberi makna lain kepada kita.  Dalam perayaan itu, selama tujuh hari, setiap pagi yakni pada waktu persembahan korban pagi hari, seorang imam akan pergi ke Kolam Siloam dengan membawa kendi dari emas, mengisi kendi tersebut dengan air sampai penuh dan memimpin barisan besar yang penuh sukacita.  Setelah ia tiba di tangga masuk ke Bait Allah, ia disambut dengan orang-orang banyak dengan sorak sorai.  Kemudian setelah tiba di daerah bagian dalam Bait Allah, di mesbah yang besar itu, ia akan mencurahkan air di sebelah barat dari mesbah itu sementara paduan suara orang-orang Lewi, yang terdiri dari 4000 penyanyi dan 287 pemain musik, menyanyikan nyanyian pujian (the Hellel).  Syair lagu pujian itu terdapat dalam Mazmur 118:14, 15, 17, 19, 24, 26, 29:

 

TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku;

Ia telah menjadi keselamatanku.

Suara sorak-sorai dan kemenangan

di kemah-kemah orang benar:

Aku tidak akan mati, tetapi hidup.

Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran,

Inilah hari yang dijadikan TUHAN,

Marilah kita bersorak-sorak dan bewrsukacita karenanya.

Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN.

Bersyukurlah kepada TUHAN,

Sebab Ia baik.

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.

 

Itulah pujian yang dinyanyikan oleh paduan suara orang-orang Lewi sementara air dicurahkan di sebelah barat dari mesbah itu.

 

  1. Undangan Tuhan Yesus

 

Yohanes melaporkan bahwa pada hari terakhir perayaan itu Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum! Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup...”

 

            Paulus melukiskan hal itu dengan indah, di mana dalam 1 Korintus 10:4 ia menulis demikian: “dan mereka semua minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”  Tentu saja gambaran ini merupakan kejadian perjalanan bangsa Israel di padang gurun ketika Musa memukul batu atas perintah Allah dan akhirnya air pun memancar keluar, yakni air hidup bagi yang dahaga.  Namun demikian, rasa dahaga mereka hanya dapat dipuaskan sementara saja. Dan Tuhan Yesus yang memandang peristiwa itu, kemudian berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!  Barangsiapa percaya kepadaKu ... dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”  Perlu di catat bahwa kata ‘dari dalam hati,’ istilah  Yunani koilia  kadang-kadang diterjemahkan ‘kandungan’ yang menunjuk kepada tubuh bagian dalam.  Dan saya akan menerjemahkan ‘dari dalam jiwanya,’ atau ‘dari dalam hatinya.’

 

            Bolehkah saya berkata kepada Anda bahwa betapa anehnya ketika  Yohanes berkata bahwa, Tuhan Yesus, “berdiri dan berseru?”   Sebagaimana Anda ketahui bahwa di zaman purba semua guru-guru akan duduk bila mereka mengajar.  Tetapi di sini dikatakan bahwa Tuhan Yesus berdiri dan berseru untuk mengundang orang-orang datang kepadaNya untuk minum.  Apakah Anda berpikir bahwa undangan itu untuk kita?  Dalam undanganNya, Yesus menawarkan hidup, pengampunan, keselamatan dan sorga.  Apakah undangan itu untuk kita orang-orang yang berdosa, orang-orang tersesat, dan kemudian datang dan tunduk di hadapanNya, berlutut mohon belaskasihan dan berkat Allah?  Atau sebaliknya di mana Allah memohon kepada kita? 

 

            Bukankah hal itu sesuatu yang janggal?  Kita memilih untuk mati, tetapi Allah memohon agar kita memilih untuk hidup.  Kita memilih dunia, Allah memohon dengan sangat agar kita memilih Dia.  Kita memilih kegelapan, ketidakbenaran dan ketersesatan,  tetapi Ia memohon dengan sangat agar kita memilih hidup, keselamatan dan kemuliaan. 

 

            Pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, ketika mereka mencurahkan air tersebut, Yesus berdiri dan berseru, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!”   Sebelumnya, dalam Injil Yohanes 4, Tuhan Yesus berkata hal yang sama kepada perempuan Samaria, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi.”

 

            Apakah ada sesuatu dalam pengalaman manusia yang dapat memuaskan lebih daripada hadiah dari bumi ini?  Dari semua raja-raja yang pernah hidup, Salomo memperoleh kesempatan untuk mengalami segala segi kehidupan manusia, tapi ia melihat bahwa tidak ada gunanya manusia berusaha untuk berjerih payah, karena segala sesuatunya sia-sia.  Dengan kata lain, itu semua satu kehampaan, satu kekosongan.

 

            Bobby Burns, seorang penyair Skotlandia, berkata sebagai berikut:

 

Kenikmatan adalah seperti penyebaran bunga apium:

Anda menangkap bunga tersebut,

Bunga tersebut gugur.

Atau seperti salju jatuh ke sungai:

Sekejap putih,

Kemudian lenyap selamanya.

Atau seperti perlombaan burung elang

Yang terbang sebelum Anda dapat

Menunjunjuk tempat mereka.

Atau seperti bentuk pelangi yang indah

Hilang lenyap ditengah-tengah badai.

 

           

            Betapa luarbiasanya kita memberikan energi hidup kita untuk waktu dan pengertian yang sepele dan tidak berharga, sementara realitas kekekalan sedang memanggil kita!  Saya merasa hal itu jauh di dalam jiwa manusia, mungkin secara tidak sadar dan tidak diekspresikan, ada kerinduan yang tak terpuaskan untuk arti dan tujuan hidup manusia, bagi Allah.

 

            Di abad yang telah lewat, seorang penyair Inggris yang luarbiasa berbakat datang ke Amerika mengunjungi kami, dan ia menderita sakit parah.  Di San Fransisco, sebelum ia meninggal, seorang perawat melihat bahwa penyair itu mebisikkan sesuatu.  Perawat itu menundukkan kepala dan memasang telinganya untuk mendengarkan apa sebenarnya yang dikatakan bapak itu.  Penyair yang bernama Rudyard Kipling, rupanya sedang berkata dengan suara terputus-putus, “Saya memerlukan – saya memerlukan Tuhan.”

 

            Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!”  Saya ingin berkata kepada Anda bahwa kata-kata undangan ini dialamatkan secara luas sekali.  “Jika seseorang, jika seseorang” – itu adalah undanganNya dalam Wahyu 22:17: “Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan Cuma-Cuma!”

 

            Ketika Yesus berkata, “Datanglah!” Maka undanganNya itu mencakup seluruh kehidupan manusia.  Siapa yang hidup dalam kesuraman dosa, terbuang, telanjang, biarlah ia datang.  Walaupun ia hidup dalam kegelapan dan dalam lembah kekelaman, ia adalah orang yang diundang untuk datang.  Apakah ia anak muda, orang tua, orang kaya, orang miskin, orang biasa, biarlah ia datang.  Jika ada seseorang yang tidak berpendidikan dan tidak dapat membaca, ia dapat minum air kehidupan itu. 

 

            Seorang pengkhotbah besar, Richard Baxter, yang hidup 300 tahun yang lalu, pernah berkata, “Sudahkah saya membaca undangan itu dan apakah nama saya tercantum di situ?  Saya berpikir bahwa itu mungkin ditujukan kepada orang laki-laki lain yang memiliki nama yang sama.  Tetapi, ketika saya membaca, ‘Jika seseorang, jika seseorang haus, biarlah ia datang kepada-Ku,’ kemudian saya tahu bahwa undangan itu juga termasuk untuk saya. Dengan demikian, “Saya bisa datang.”

 

            Betapa ramahnya undangan itu!  Apakah Anda memahaminya?  Apakah Anda mengerti dan memahaminya?  “Jika seseorang haus, biarlah ia datang.”  Di sini tidak ada usulan bahwa pertama-tama saya harus menemui diri saya dalam proses menjadi baik.  Dengan demikian saya harus merubah diri saya sebelum saya datang.  Saya harus melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Allah.  Saya harus meluruskan hidup saya.  Namun sama sekali tidak ada petunjuk tentang hal-hal seperti itu yang merupakan syarat bagi saya untuk datang.  Jadi, Anda harus datang sebagaimana adanya saudara, tidak harus merubah apapun – seperti apa adanya saudara.

 

Sebagai syair lagu hymn lama berbunyi:

 

Datanglah orang berdosa,

Miskin dan melarat,

Tersesat dan hancur oleh karena kejauthan.

Jika engkau mencoba

Hingga engkau lebih baik,

Engkau selamanya tidak akan bisa datang.

 

            Datanglah sebagai mana adanya saudara.  Keputusan terbesar dari kehidupan selalu dibuat di dalam Dia dan hanya di dalam Dia.  Bila Anda membuat komitmen besar itu terlebih dahulu,  maka semua yang lainnya, keragu-raguan dan pertanya-pertanyaan tentang doktrin dan seribu keistimewaan dan keanehan hidup, bagaimanapun juga hal itu dengan sendirinya akan diatasi.

 

            Adalah baik menghadapinya bersama Tuhan daripada tanpa Dia.  Datanglah sebagaimana adanya saudara!  Saya sangat heran minggu ini ketika saya mau membaca tentang hymn yang kata-katanya sebagai berikut: “Sebagaimana adanya aku, O Domba Allah, aku datang.”  Saya sangat heran ketika menemukan tentang penulisnya, dari mana dan bagaimana itu tercipta.  Ternyata itu ditulis oleh seorang wanita bernama Charlotte Elliot pada tahun 1834.  Dan ia adalah seorang yang lumpuh, yang seumur hidupnya di kursi roda.  Melihat di sekitarnya semua orang-orang yang kuat dan sehat, sibuk, bekerja, dan sedangkan hidupnya yang kelihatan tidak berguna, penuh dengan dipresi dan keragu-raguan serta  putus asa.  Dan dari tragedi hidup dalam kegelapan, tidak berpengharapan, tidak berdaya, ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus dan akhirnya menulis lagu hymn tersebut.

 

Sebagaimana adanya aku –

Lumpuh, tidak berguna.

Sebagaimana adanya aku,

Tanpa satu permohonan.

Tetapi darahMu

Dicurahkan bagiku.

Dan Engkau menawarkan aku

Datanglah kepadaKu.

O Domba Allah,

Aku datang.

 

            Sebagaimana adanya Anda, dan apabila Anda ada masalah yang Anda hadapai dan ada bukit untuk didaki dan keputusan untuk diambil, izinkanlah Allah bekerja dengan Anda, berjalan di samping Anda, memberikan Anda kekuatan dan hikmat untuk menempuh jalan tersebut.  Tuhan Yesus berkata,  “Marilah! Marilah!”  “Datanglah kepadaKu semua yang haus.  Datanglah kepadaKu dan minumlah.”  Inti dan hakekat keselamatan adalah Yesus Tuhan kita.  Ia adalah Alpha dan Omega, yang Awal dan yang Akhir, yang Pertama dan yang terakhir.  Semuanya itu diringkas dalam Kristus.

 

            Satu kali, saya pergi ke Essex, Inggris, di bagian timur pulau itu.  Saya ingin mengunjungi kapel gereja Methodist yang primitif di mana pengkhotbah besar, Charles Spurgeon pernah hidup dan bertobat.  Di sana terdapat tanda peringatan yang terbuat dari perunggu, di mana dalam kata-kata peringatan itu dikatakan, “di sinilah ia duduk.”  Dalam kisah itu diceritakan bahwa pada hari Minggu dan hari itu ada badai angin.  Spurgeon yang muda itu sedang pergi ke gereja lainnya, tetapi karena badai itu begitu buruknya, maka ia harus masuk ke Kapel gerja Metodist yang kecil dan primitif itu. Yang hadir di situ tidak lebih dari dua belas orang .  Ketika ia duduk di situ dan karena pendeta gereja tersebut tidak bisa datang berhubung hujan badai itu, maka seorang pengkhotbah awam berdiri dan berkhotbah.  Ia mengambil teks Alkitab yang berbunyi: “Berharaplah kepadaKu dan berilah dirimu diselamatkan, seluruh bumi.”  Dalam permohonannya, pengkhotbah Methodist awam itu berkata, “Firman Tuhan mengundang kita dan mendorong kita untuk berharap kepada Allah, kepada Yesus: “Berharaplah kepadaKu dan berilah dirimu diselamatkan.”

 

            Kemudian ia berkata, “Beberapa di antara saudara berharap akan dirimu sendiri.  Beberapa di anatara saudara bersandar dengan perasaan saudara.  Sebagian dari saudara berharap kepada pendeta atau hal-hal ritual, tetapi Allah berkata, “Berharaplah kepadaKu dan berikanlah dirimu diselamatkan, seluruh yang ada di bumi, berharaplah kepadaKu.”  Dan kemudian Spurgeon menyahut dengan berkata, “kemudian?”  Pengkhotbah awam itupun berpaling kepadanya dan menatap dia, dan berkata, “Anak muda engkau kelihatan sedih sekali.  Berharaplah kepada Yesus, anak muda.’ Berharaplah dan hidup.’  Dan Spurgeon berkata, “hari itu, saya berharap dan saya hidup.”

 

            Cara untuk diselematkan sama sekali tidak berliku-liku atau berbelit-belit atau sulit dimengerti.  Hal itu sangat sederhana sekali.  Tuhan berkata: “Berharaplah kepadaKu.”  “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu.”  Dalam Tuhan ada pengampunan anugerah dan kasih yang tidak putus-putusnya.  Kekristenan adalah Kristus, dan Kristus adalah Kekristenan.  Agama-agama lain begitu berbeda.  Mereka menunjuk kepada kebenaran.  Mereka menginvestasikan sistim filsafat yang diduga akan memimpin mereka kepada kebenaran.

 

            Kristus adalah kebenaran.  Kristus berkata, “Aku adalah kebenaran.”  Bila Anda menemui Dia berarti menemui Jalan Itu.  Dan Ia senantiasa bersedia, jika Anda berlutut dan berdoa, dan Ia akan di sana di samping Anda.  Jika Anda mengangkat hati Anda mengahadap ke sorga untuk memohon, Ia akan menjawab dalam jiwa Anda.  Jika Anda berjalan sebagai musafir dan mengundang Dia berjalan di samping Anda, Ia akan ada di sana.

 

            Sebagaimana saya sering berkata, Yesus Tuhan kita lebih dekat dari tangan dan kaki Anda.  Ia lebih manis dan lebih dekat dari nafasmu. 

 

Kesimpulan: Sekarang saya akan menutup bagian ini dengan satu komentar.  Yesus berkata “Dari dalam jiwanya akan keluar sungai air hidup.”  Ini berbicara tentang Roh Kudus dan Ia akan datang setelah Yesus mati di kayu salib, dimuliakan, dan terangkat ke sorga.

 

            Yang membuat saya heran dalam teks ini adalah kata majemuk dari “sungai-sungai air hidup” (rivers of living water).  Satu gambaran secara luarbiasa berkelimpahan.  “Sungai-sungai (rivers) air hidup, bukan sungai (river) air hidup.  Coba bayangkan bila sungai Missouri ditambahkan dengan sungai Mississipi, dengan sungai Amazon, dengan sungai Nil, dengan sungai Ganges, dengan Danube,  dengan sungai Rhine, luapan airnya akan luar biasa.  Demikianlah gambaran sungai-sungai air hidup yang  akan keluar dari jiwa, dari dalam hidup yang terdalam bagi mereka yang datang dan percaya kepada Kristus.

 

            Saudaraku, betapa sering kita membatasi Tuhan.  KaruniaNya, kehadiranNya, berkatNya serta kemanisanNya yang tidak terbatas itu.  Bila kita menaggapi undangan Kristus, maka kita harus minum air kehidupan itu sebanyak mungkin.  Bila kita menanggapi undanganNya, membuka hati kita untuk mempersilahkan Dia masuk untuk menjadi sahabat, teman perjalanan, dan Juruselama kita.  Kita boleh berkurang namun biarlah Yesus bertambah-tambah sehingga kita tidak nampak lagi melaikan hanya Dia.