BENANG KIRMIZI SEPANJANG ALKITAB MALAM TAHUN BARU

(THE SCARLET THREAD THROUGH THE BIBLE - NEW YEAR'S EVE)

Bagian 1

 

Dr. W. A. Criswell

diterjemahkan oleh Dr. Edi Purwanto

Khotbah ini adalah seperti seseorang yang seakan berdiri di puncak tertinggi dan memandang seluruh ciptaan Allah. Sama seperti Musa di puncak Gunung Pisga dan memandang dari kejauhan seluruh Tanah Perjanjian, demikianlah khotbah malam ini. Kita sedang berdiri dan kita memandang keseluruhan kisah sejarah manusia dari permulaan hingga kepada kekekalan, dari permulaan masa lalu yang begitu jauh yang tak kita ketahui sampai akhir zaman yang tiada bandingnya di masa yang akan datang.

Sebelum waktu diciptakan, Roh Allah – Allah yang Mahakuasa, TUHAN Allah – telah menciptakan para penghuni atau mahkluk sorgawi-Nya yang tiada batas. Ia menciptakan para malaikat dengan tugasnya masing-masing. Beberapa dari mereka disebut para malaikat; beberapa yang lain dinamakan seraphim; beberapa yang lain lagi dinamakan kerubim, dan beberapa yang lain lagi disebut para penghulu malaikat. Di dunia rohani itu, di sorga, Allah menciptakan penghuni sorga yang begitu besar jumlahnya. Para malaikat yang diciptakan Allah itu berada di sorga di mana Allah berada, dan di sana ada malaikat yang agung yang dipercayakan untuk menjaga kerub yang bernama Lucifer, atau “Putra Fajar.” Itu adalah penciptaan agung pertama oleh Allah yang mahakuasa di masa sebelum adanya waktu.

Penciptaan kedua yang TUHAN Allah telah lakukan adalah ini: Ia menciptakan dunia fisikal. Setiap kali para pendeta mencoba untuk merohanikan agama sehingga mengabaikan dunia materi dan hal-hal fisikal, maka mereka lebih menghormati agama dari pada Allah. Allah menyukai materialitas. Ia telah menciptakannya. Allah menyukai planet-planet, batu-batu karang, samudera dan bintang-bintang, dan Ia mengasihi semua manusia. Ia telah menciptakan semua itu. Ia menyukai kehidupan. Ia telah menciptakannya. Penciptaan agung Allah yang kedua adalah dunia materi ini, dan Alkitab membuka perkataannya di dalam Kejadian 1:1 dengan pernyataan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Ketika itu terjadi, tak seorangpun menyaksikannya dan dapat memahaminya. Pikiran kita tidak dapat menembusnya. Pada permulaan dari permulaan, Allah merentangkan alam semesta yang begitu luasnya ke dalam suatu ruang, tempat dimana alam semesta ini berada di bawah hukum-hukum kemahakuasaan-Nya yang agung, dan segala sesuatu yang Allah telah kerjakan begitu indah dan sempurna, dipenuhi dengan cahaya kemuliaan. Ciptaan-Nya di dunia rohani atau sorga begitu indah dan sempurna. Demikian juga ciptaan-Nya di dunia materi juga begitu indah dan sempurna. Setiap orbit diatur menurut tempatnya masing-masing oleh kemahakuasaan Allah, sehingga segala sesuatu menjadi begitu indah.

Kemudian suatu masa di permulaan zaman, di zaman masa lampau, di masa sebelum adanya waktu, masuklah apa yang kita namakan dosa ke dalam hati pemimpin malaikat sang penjaga kerub di dunia rohani atau di sorga, yaitu “Sang Putra Fajar.” Saya membacanya, pertama dari nabi Yehezkiel. Allah menjelaskan tentang dia demikian: “Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu…  Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya. Dengan banyaknya kesalahanmu dan kecurangan dalam dagangmu engkau melanggar kekudusan tempat kudusmu. Maka Aku menyalakan api dari tengahmu yang akan memakan habis engkau. Dan Kubiarkan engkau menjadi abu di atas bumi di hadapan semua yang melihatmu” (Yehezkiel 28:12-18).

Bagian lain yang menjelaskan tentang Lucifer, sang Putra Fajar ini, adalah dalam Yesaya: “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!”… Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! – mengambil tempat Allah –Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur”  (Yesaya 14:12-15). Di dalam dunia tanpa waktu di masa lampau, dosa telah masuk ke dalam hati penjaga kerub, penghulu malaikat Tuhan Allah yang Mahatinggi, yang berada di bawah kekuasaan Allah yang telah menempatkan para penghuni sorga di sana. Ketika Lucifer jatuh dan ketika dosa ditemukan di dalam dirinya, sepertiga bagian dari seluruh malaikat di sorga ikut jatuh bersama dengan dia (Wahyu 12:4). Dalam kejatuhan Lucifer ini, sebagian ciptaan Allah turut jatuh bersama dengannya. Dosa selalu menghancurkan. Di masa lampau setelah Allah menciptakan para penghuni sorga dan setelah Allah menciptakan langit dan bumi, dosa ditemukan di dalam diri Lucifer. Ia mengusirnya keluar. Sepertiga malaikat di sorga juga diusir keluar bersama dengan dia, dan di dalam dosa dan pelanggaran itu, alam semesta yang begitu indah yang diciptakan Allah itu menjadi hancur berkeping-keping. Planet-planet, matahari, bintang-bintang rusak oleh api, oleh kabut, oleh air, dihancurkan dan diledakkan oleh angin badai. Dunia yang begitu indah yang diciptakan Allah jatuh ke dalam kekosongan, ke dalam kekacau-balauan, tanpa bentuk dan gelap gulita menyelimutinya.

Kemudian Allah melakukan hal yang ajaib dan menakjubkan. Selama enam hari – enam hari, hari yang ditunjukkan dengan satu pagi dan satu malam, hari yang menunjukkan 24 jam – dalam enam hari, Allah menciptakan kembali planet dan alam semesta ini, matahari dan planet-planet, serta planet bumi ini. Dalam enam hari, Allah menciptakannya, memperbaiki dunia yang sudah tanpa bentuk, kosong dan kacau balau, dan mengusir kegelapan dari dalamnya dan kabut tebal yang menyelimutinya dan memisahkan darat dari air; dan Allah, dalam enam hari, menciptakan ulang alam semesta ini.

Pada hari pertama, Allah berfirman, “Jadilah terang, maka terang itupun jadi.” Terang dari sorga bersinar menembus kegelapan dan kekosongan, ketika bumi “belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” sehingga alam semesta yang belum berbentuk itu dipenuhi oleh terang.

“Pak Pendeta, bagaimana anda mengetahui semua hal itu?”  Jelas dari Alkitab. Dikatakan di sini dalam Alkitab ini: “Bumi tohu wa bohu,”  di sini diterjamahkan “belum berbentuk dan kosong.” Saya menghubungkan ini dengan apa yang dituliskan nabi Yesaya dalam Yesaya 45:18, dan nabi besar ini berkata, “Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan (bara – menciptakan dari tidak ada menjadi ada) langit, --Dialah Allah-- yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, -- dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong (tohu), tetapi Ia membentuknya untuk didiami (bohu)” (Yesaya 45:18).

Allah tidak pernah menjadikan alam semesta ini tanpa bentuk, kacau balau, kosong, gelap, dan rusak. Allah menjadikannya dengan begitu indah dan sempurna. Penciptaan dunia materi, alam semesta fisikal-Nya ini sesempurna dengan ciptaan dunia rohani-Nya yang ada dalam kemuliaan. Namun dosa telah menghancurkannya dan alam semesta yang Allah ciptakan menjadi kacau balau dan menjadi tanpa bentuk dan gelap gulita. Kemudian nabi Yesaya berkata bahwa Allah tidak menciptakannya seperti itu. Setanlah yang telah merusaknya. Dosa yang telah merusaknya. Kejahatan yang telah merusaknya. Pelanggaran yang telah merusaknya. Kemudian, Allah menciptakan kembali alam semesta-Nya. Pada hari pertama, Ia  menembusnya dengan cahaya kemuliaan-Nya. Dengan kemahakuasaan-Nya Allah berfirman, “Jadilah terang.”

Kemudian pada hari kedua, Dia menciptakan cakrawala.  Dia memisahkan air yang ada di atas cakrawala itu dari air yang ada di bawahnya. Kemudian pada hari ketiga, Dia menciptakan lautan, mengumpulkan air, dan muncullah tanah kering.  Kemudian pada hari keempat, Allah menciptakan senja yang benar-benar mengagumkan. Mengapa senja? Sepengetahuan saya itu adalah bagian yang paling tidak berhubungan dan tidak bermanfaat dari suatu pekerjaan.  Namun Allah menyukai hal-hal yang indah dan penuh warna. Pada hari keempat itu, Allah melenyapkan kegelapan dan menghilangkan kabut serta menyingkirkan awan, dan Allah menciptakan senja dan fajar yang indah di hari keempat itu, dan bulan tampak bersinar di malam hari.  Semuanya itu telah tercipta sejak awal.  Itu bukanlah saat Allah menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang.  Ini adalah penciptaan kembali oleh Allah, saat Allah melenyapkan kegelapan dan kekacau-balauan, ke dalam mana bumi telah terbenam.  Dia menciptakan fenomena yang Anda sebut senja, fajar, bulan yang bersinar dan bercahaya, menjadi ratu surga di malam hari. Kemudian di hari ke lima, Dia menciptakan kehidupan binatang.  Semua makhluk yang kita lihat hidup di bumi ini, Dia menciptakannya hanya dalam waktu satu hari. Bukan dalam waktu sejuta, seribu, atau satu triliun tahun, tetapi hanya dengan berfirman, Tuhan menciptakan itu semua dengan Firman yang diucapkan-Nya.  Pada hari keenam, Dia menciptakan manusia dan istrinya. “Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi"” (Kejadian 1:26-28).
 
Setiap kali saya bertemu seseorang yang memiliki pertanyaan teologis hebat mengenai perjalanan ke bulan.  Memangnya kenapa, itu adalah bagian dari jagad raya ciptaan Allah yang Dia berikan ke tangan manusia untuk dikuasai.  Jika ada orang yang menawari saya untuk pergi ke bulan dan jika mereka menjanjikan saya bisa kembali pulang dengan selamat, saya siap untuk ikut dalam rombongan pertama.  Saya menginginkan pengalaman seperti itu. Semua ciptaan Allah, burung-burung yang terbang di udara, dan kita bisa terbang lebih tinggi dari mereka; ikan-ikan di lautan, dan kita bisa menyelam lebih dalam dari mereka; dan setiap benda yang telah Allah ciptakan, Dia menciptakan manusia untuk menguasainya, dan untuk memerintah atasnya, dan untuk menjadi anak Allah sebagai penguasa di bawah Tuhan Yang Maha Kuasa, memerintah atas nama Tuhan.

Kemudian di Taman Eden, dimana dia menempatkan manusia itu, dan Taman Eden itu terletak di bagian selatan Lembah Mesopotamia.  Saya tahu hal ini karena dalam penyebutan nama keempat sungai yang mengalir taman yang indah itu, salah satunya diberi nama Efrat, dan satu lagi diberi nama Hiddekel atau Sungai Tigris.  Kedua sungai ini mengalir melewati Taman Eden yang indah itu, dan di sanalah Allah memulai hal baru dengan dunia yang Dia ciptakan kembali.
Masuklah mahkluk jahat, si ular, ke dalam Taman Eden yang telah diciptakan kembali itu. Kita mengenalnya setelah dia dikutuk, berjalan dengan perutnya, menjilati debu tanah.  Tetapi si ular itu dulunya adalah ciptaan terindah, yang paling dipuja, dan yang paling bertalenta dari semua ciptaan Allah di dunia ini setelah manusia. Seperti apakah bentuknya dan apapun kemampuan yang dia miliki, si ular itu menyerahkan dirinya kepada Iblis. Iblis itu adalah roh.  Dan roh tidak memiliki raga.  Roh itu dapat masuk ke dalam diri manusia ketika ia membutuhkan tubuh. “Ah,” kata Anda, “Itu kan pemikiran orang jaman dulu, teologi kolot.” Dengar, saya melihat roh jahat masuk ke dalam hati manusia — roh dusta, roh tipu muslihat, roh kejahatan, pembunuhan, kekejaman, ketidakadilan, semua roh itu masuk ke dalam hati manusia. Iblis adalah ciptaan terindah dan paling terberkati dari semua makhluk ciptaan Allah selain manusia itu dan istrinya.  Di dalam ular itu, Iblis melakukan hal-hal yang fenomenal dan mengagumkan.  Dia mulai berbicara dalam bahasa manusia kepada perempuan cantik yang sempurna, anggun, yang bentuk oleh tangan Allah dari tulang rusuk laki-laki itu.

Anda menerjemahkannya sebagai “tulang rusuk” dalam Kejadian 2:21,22.  Satu-satunya tempat kata ini diterjemahkan sebagai “tulang rusuk” di seluruh Alkitab Perjanjian Lama Bahasa Ibrani adaalah di sini.  Di semua tempat lainnya diterjemahkan sebagai “sisi,” seperti di “sisi” bahtera.  Anda tidak akan mengatakan “tulang rusuk” bahtera, tetapi “bagian sisi” bahtera, atau “bagian sisi” tabernakel.  Dari tulang rusuk Adam Allah membentuk Hawa.  Adam memandang perempuan itu dan berkata, “Inilah tulang dari tulangku, dan inilah daging dari dagingku,” dan laki-laki itu mencintainya sepenuh hati.  Si Iblis melihatnya dan Iblis mulai berbicara kepada perempuan cantik itu. 

Apakah konflik terbesar sepanjang zaman? Beberapa orang mungkin berkata bahwa konflik terbesar sepanjang zaman adalah pertarungan sampai mati antara kebebasan demokrasi kita dan ideologi tirani totalitarianisme.  Yang lain dapat berkata bahwa itu adalah perang yang berkecamuk di seputar Jerman.  Yang lain lagi mungkin berkata bahwa itu adalah aksi mengerikan yang menghantam Eropa di bawah Napoleon. Yang lain lagi mungkin berkata bahwa itu adalah perang mengerikan dari para Kaisar. Namun konflik terbesar sepanjang zaman adalah konflik antara kejahatan Iblis dan kebaikan serta kasih Allah.  Dalam kemuliaannya, Lucifer memandang pra-eksistensi Tuhan Yesus dan berkata dalam hatinya, “Aku harus menjadi yang pertama.  Aku harus memerintah.  Aku harus berkuasa.” Iblis membenci TUHAN Yesus, Tuhan Kristus, di surga dan memutuskan untuk menggantikan Dia dan menghancurkan Dia. 

Anda lihat, surga mengasihi Tuhan Yesus. Sulit untuk mengatakan hal-hal ini dalam bahasa manusia karena Dia dikenal dengan nama “Yesus” hanya dalam inkarnasi-Nya. Namun pada permulaan dari segala permulaan, sebelum adanya waktu, sebelum adanya zaman, telah ada Allah yang tidak diciptakan dan Kristus yang tidak diciptakan. Ketika Allah berfirman, “Marilah kita menciptakan manusia,” bentuk jamak itu mengacu kepada Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, Allah Tritunggal yang tidak dapat diselami manusia. Pikiran kita yang terbatas tidak mampu memahaminya sepenuhnya.  Kita tidak dapat mengertinya sepenuhnya. Tetapi di surga, di dunia roh, sebelum adanya waktu sudah ada Tuhan Kristus. Iblis dengki kepada Dia dan membenci Dia dan membusungkan dadanya melawan Dia untuk menggantikan Dia. Terhadap Tuhan Yesus, Iblis dengan segala kelicikan dan tipu muslihatnya, mengumandangkan perang siang dan malam, sehingga Iblis memilih untuk merebut dunia yang diciptakan Allah dari Dia.  Iblis telah berikrar untuk memerintah atas dunia dengan menggantikan Tuhan Kristus.  Ketika Allah menjadikan alam semesta ini, Iblis berkata, “Aku akan merebutnya.” Ketika Iblis melihat Adam dan Hawa di Tman Eden, dalam kesempurnaan dan kecantikan dari yang Mahakuasa, Iblis berkata, “Aku akan membinasakan mereka. Aku akan menghalangi mereka untuk memerintah alam semesta di bawah Kristus. Aku akan merebut kekuasaan itu untuk diriku sendiri, dan aku akan membinasakan manusia; aku akan memerintah atas ciptaan ini.”

Dari mulanya semua ini telah diketahui oleh Allah yang berdaulat. Dari mulanya Tuhan Yesus telah menawarkan dan menjadi sukarelawan untuk menjadi penebusan dan pengampunan dan penanggung dosa dan Juruselamat dari keturunan Adam yang telah jatuh. Ketika Yesus berhadapan dengan penggoda-Nya di padang gurun  Yudea, itu hanyalah satu segmen kecil dari konflik antara keduanya: antara Lucifer, Putra Fajar, dan Tuhan Yesus Kristus, Tuhan Allah. Kisah dalam Matius 4:1-11 itu hanyalah satu segmen kecil, satu hubungan kecil, dalam konflik besar antara Yesus dan Iblis yang telah mulai terjadi di sorga sebelum dunia ini diciptakan.  Itu dimulai sebelum adanya waktu, konflik sengit antara kebencian Lucifer terhadap Yesus, dan kasih serta kasih sayang Tuhan Yesus Kristus terhadap ciptaan-Nya dan anak-umat-Nya. 
Jadi di taman itu, pada mulanya, ular itu dipakai oleh Iblis untuk berbicara kepada perempuan yang telah diciptakan Allah itu.  Bagaimana Iblis melakukannya?  Tidak ada hal baru untuk dikatakannya.  Setiap pendekatannya adalah pendekatan lama.  Kita tahu apa yang akan dikatakannya sebelum dia mulai bicara.  Tidak ada serangan yang baru yang dilancarkan Lucifer kepada Allah.  Kita tahu persis apa yang akan dikatakannya. 

Pertama, dia akan membubuhkan tanda tanya terhadap Firman Allah.  “Ya, apakah Allah berkata begitu?  Apakah Allah memberitahu kepada kamu bahwa neraka itu memang ada?  Apakah Allah berkata kepada kamu bahwa akan ada penghakiman? Apakah Allah berkata kepada kamu bahwa jika kamu berdosa, maka kamu akan mati?  Apakah Allah berkata demikian?” Pertama memberikan pertanyaan, dan kemudian menyisipkan kebohongan.  Kebohongan pertama adalah:  “Kamu tidak akan mati.  Kamu tidak akan mati.  Kamu tidak akan mati.” Kemudian dia menunjuk buah pengetahuan baik dan jahat itu kepada Hawa.  Dan perempuan itu memakannya, terpikat dan tertipu oleh ular itu. Dia membawa buah itu kepada Adam, dan Adam tidak tertipu.  Adam tahu saat itu bahwa jika dia makan buah itu dia akan mati.  Iblis menipu perempuan itu, tetapi dia tidak menipu Adam. Saat Adam melihat dan memakan buah pengetahuan baik dan jahat itu, Adam membuat sebuah pilihan.  Adam sangat mencintai Hawa dan jiwanya terikat pada Hawa sehingga Adam memilih untuk mati di sisinya daripada harus hidup tanpanya.   Saya terpaksa mengucapkan kekaguman tiada tara untuk kepala federal pertama dari umat manusia ini.  Dia memilih untuk mati bersama Hawa yang sangat dicintainya daripada harus hidup tanpa dia.  Allah bisa saja menciptakan lagi seorang Hawa yang lain.  Dia bisa saja menciptakan kembali setengah lusin Hawa.  Adamlah yang memilih untuk mati di sisi perempuan cantik dan bersemarak yang telah ditempatkan Tuhan di pelukannya dan di hatinya.

Ketika Allah datang mengunjungi manusia dan istrinya pada hari yang sejuk itu, Ia tidak menemukan mereka.  Dia berkata, “Adam, Adam, Adam, dimanakah kamu?”  Dari balik pepohonan di taman itu, Adam menjawab, “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut.” Allah berfirman, “Takut?  Siapa yang membuatmu takut?  Siapa yang mengajarimu kata 'ketakutan'?  Takut?”  “Ya,” kata Adam, “Aku takut, karena aku telanjang dan istriku juga telanjang.”  Tuhan berkata, “Siapa yang memberitahu kamu bahwa kamu telanjang?” Kemudian kisah itu diceritakan kembali kepada Allah yang Mahakuasa, dan saat mereka duduk di hadirat Allah, mereka mengambil daun ara untuk menutup kemaluan dan ketelanjangan mereka.  Saat Allah memandang mereka, Dia berkata, “Tetapi itu tidak akan berhasil. Bukan apa yang bisa ditenun oleh tangan manusia. Itu tidak akan berhasil.” Di suatu tempat di Taman Eden, Allah mengambil seekor binatang yang tidak berdosa, dan di depan mata Adam dan Hawa, Allah menyembelih hewan tidak berdosa itu, dan bumi meminum darahnya. Inilah permulaan dari “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab.” Dengan pengorbanan nyawa hewan tidak berdosa itu, Allah membuat cawat dari kulitnya dan menutup kemaluan dan ketelanjangan laki-laki itu dan juga untuk istrinya. Ini adalah korban pertama yang diberikan oleh tangan Allah yang Mahakuasa. Saya seringkali berpikir bahwa ketika Adam melihat hilangnya nyawa ciptaan tidak berdosa itu dan melihat darah merah tua tertumpah di tanah, itu adalah pengalaman pertamanya untuk mengetahui apa artinya mati karena dosa.  Demikianlah kisah penebusan dosa dan pengorbanan mulai disingkapkan di sepanjang Firman Allah, sampai akhirnya dalam kemuliaan Anda akan melihat kumpulan besar orang kudus yang telah mencuci pakaian mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba. Inilah “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab.”

Di Taman Eden, saat Tuhan menutupi ketelanjangan laki-laki dan perempuan itu, Dia berpaling ke si Iblis, dan berkata, “Di dalam perempuan ini, yang telah kau tipu dan melalui siapa kamu telah menghancurkan kepala federal umat manusia, dalam perempuan ini Aku akan membuat dia melahirkan Seseorang yang akan meremukan kepalamu.” Selanjutnya para rabi selama berabad-abad mengumandangkan Sabda Allah Yahwe kepada Iblis ini.  “Benih perempuan ini,” dan sebagaimana Anda semua tahu, benih itu maskulin.  Benih adalah milik laki-laki.  Perempuan tidak memiliki benih.  Benih adalah milik laki-laki. Para rabi terus mengumandangkan firman dan janji Allah ini, benih perempuan ini akan meremukkan kepala Iblis.  Janji ini berhubungan dengan konflik sepanjang-zaman dan pertempuran antara kebencian Lucifer dan kasih Allah di dalam Yesus Kristus. Ini berbicara tentang Yesus Kristus, benih perempuan itu, akhirnya mengalahkan Iblis di Kalvari. Yesus telah menderita. Tumit-Nya telah diremukkan. Namun dalam keremukaan itu, Ia mengalahkan sekali untuk selamanya kuasa si ular tua itu, yaitu Iblis. Ia telah meremukkan kepalanya.

Adam dan Hawa diusir keluar dari Taman Eden, namun mereka tidak pergi tanpa pengharapan. Tuhan menempatkan kerub dan altar di sisi timur.  Dimanapun di dalam Alkitab Anda mendapatkan kerubim, mereka selalu merupakan simbol anugerah dan kasih dan belas kasihan serta pengampunan dari Tuhan Allah. Dia menempatkan kerubim dan juga altar di sana bagi orang yang penuh dosa untuk datang dalam penyesalan, dalam iman, untuk mendekat kepada Allah.  Dia menjaga Pohon Kehidupan itu agar manusia tidak memakannya dan mati.  Ini adalah kemurahan hati Allah; karena jika nenek moyang kita memakan Pohon Kehidupan itu dan telah dihisab dalam tubuh maut, ini akan menjadi hal yang paling tragis dari semua hal yang bisa dibayangkan, yang bisa membinasakan kehidupan keluarga manusia. Saya tidak mau hidup selamanya dalam tubuh maut, kehilangan penglihatan saya, kehilangan pendengaran saya, punggung saya menjadi bungkuk, rangka saya tercerai-berai, dan masih tetap terhisab dalam tubuh maut ini, dan tidak pernah dapat mati.  Allah menjauhkan dan membuat penjagaan menuju Pohon Kehidupan itu karena jika tidak, manusia akan memakannya dan hidup selamanya dalam keadaan yang fana.  “daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” (I Korintus 15:50).  Allah telah membuat kita mungkin untuk menukar rumah tanah liat lama ini, tubuh dengan kelemahan dan keuzurannya, dengan “suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (2 Korintus 5:1). Itulah sebabnya mengapa Dia memagari dan membuat penjagaan menuju Pohon Kehidupan.  Suatu waktu nanti, Kitab Suci mengatakan, kita akan menemukan Pohon Kehidupan itu  dalam kemuliaan, di dalam surga yang permai. 

Jadi Allah mengusir laki-laki itu dan istrinya. Selanjutnya perempuan itu melahirkan dua anak.  Yang satunya dinamai Kain, dan yang satunya dinamai Habel.  Kain membawa buah sulung dari hasil ladangnya ke atas mezbah, seperti seorang peraga di pasar raya daerah. Dia begitu menyombongkan dirinya sendiri, ketika dia menaruhnya di kaki Allah dalam kesombongannya. Habel dengan perasaan bahwa dirinya tidaklah berharga dan tidak layak, dengan iman membawa seekor domba, buah sulung dari ternaknya, dan menuangkan darahnya dan mempersembahkannya di atas mezbah itu.  Allah berkenan kepada Habel karena iman di dalam hatinya, dan menerima korban itu.  Tetapi Allah tidak berkenan kepada Kain, karena rasa sombong di dalam hatinya. Kain sama seperti Lucifer yang menyombongkan dirinya dan memegahkan dirinya. Ketika  Kain melihat bahwa dia tertolak, dia mengangkat tangannya atas Habel dan membunuhnya. Maka kemudian ada gundukan tanah pertama di bumi, dan di bawahnya terbaring seorang anak laki-laki.  Adam dan Hawa tahu apa artinya mati saat kehilangan anak itu, yaitu Habel.  Air mata mereka membasahi tanah di atas kuburannya. 

Dalam kebaikan Allah, Tuhan memberikan kepada mereka seorang anak lain, Set.  Selanjutnya Set adalah seorang yang beriman, namun Kain diusir dari hadirat Allah sebagai seorang penghujat.  Alkitab mengisahkan dua garis keturunan: garis keturunan Kain, anak-anak iblis; dan garis keturunan Set, anak Allah.  Sepanjang anak-anak Allah terpisah, Allah memberkati bumi, dunia, dan keluarganya. Namun dalam Kitab Kejadian pasal enam, sebuah kejadian tragis terjadi.  Anak-anak Allah, anak-anak Set, memandang dunia dan mereka mencintai gemerlapnya dunia malam.  Mereka suka akan pesta seks serta mabuk ala dunia.  Mereka memisahkan diri dari keterpisahan serta pengabdian dan kesucian mereka, dan mereka mulai menikah dengan keluarga dari anak-anak Kain.  Allah memperhatikan mereka, dan anak-anak-Nya telah meninggalkan altar-Nya dan meninggalkan pengabdian mereka, dan seluruh bumi dipenuhi oleh kekerasan dan kejahatan dan ketidaksusilaan. Bilamana seorang perempuan datang kepada saya dan berkata bahwa ia mau menikah dengan seorang pemabok yang tak berguna dan ia berkata,  “Pendeta, saya akan mengubahnya menjadi seorang Kristen.” Jangan pernah Anda berpikir bahwa saat anak-anak Allah menikahi orang jahat dan orang dunia yang tidak punya susila Anda akan mampu mengangkat mereka kepada Allah.  Justru mereka yang akan menarik Anda turun ke dalam Neraka.  Itulah yang sebenarnya terjadi di bumi ini sebagaimana tertulis dalam Kejadian 6. Anak-anak Allah mulai menikahi keturunan Kain, dan bumi dipenuhi oleh kejahatan dan darah dan pembunuhan dan penghujatan.  Akhirnya Allah berfirman, “Cukup, ini sudah cukup.” Dia memandang seluruh umat manusia, anak-anak Adam yang lama dan menemukan hanya ada satu orang benar di bumi ini, hanya satu.   Orang itu bernama Nuh. 

Allah berfirman kepada Nuh, “Cukup, sudah cukup.  Seratus dua puluh tahun dari sekarang, Aku akan menghancurkan dunia ini dengan air bah.  Buatlah sebuah bahtera bagi dirimu sendiri dan bawalah masuk keluargamu.”  Kemudian karena kasih sayang-Nya pada dunia yang Dia telah ciptakan, Tuhan Allah memerintahkan dia untuk memasukkan ke dalam bahtera itu, tujuh dari spesies yang halal dan dua dari spesies yang haram. Jadi Nuh membangun bahtera besar itu, dibuat dan diciptakan dari simetri kelautan terbaik yang dikenal saat ini.  Kemudian setelah Nuh dan keluarganya masuk, Allah menutup bahtera itu. 

Saat hujan mulai turun dan air bah mulai naik, orang-orang mulai memukuli pintu bahtera itu, mengapa Nuh tidak membuka pintunya agar mereka bisa masuk?  Karena Allah yang menutup pintu bahtera itu.  Ada masa anugerah yang telah ditutup sehingga manusia tidak bisa lagi berharap sesuatu dari Allah.  Ada waktu untuk mengenal Dia dan bila seseorang ada di luarnya, dia tidak akan pernah diselamatkan, tidak akan pernah.  Dalam Perjanjian Baru, kita menyebutnya “dosa yang tidak terampuni.”  Allah menutup pintu bahtera, dan umat manusia serta generasi itu dibinasakan. 

Kemudian setelah air surut Allah membuka pintu bahtera itu dan Nuh keluar. Di sinilah awal dari semua bangsa di bumi yang diterangkan di sini dalam Kitab Kejadian pasal sepuluh dan sebelas.  Semua bangsa itu dibagi menjadi tiga bagian. Anak-anak Nuh adalah Sem, Ham, dan Yafet.  Anak-anak Yafet adalah apa yang Anda sebut bangsa Arya, Indo-Eropa. Anak kedua, Ham, menjadi bapa dari bangsa Kanaan, bangsa Mesir, bangsa Filistin, dan semua orang yang hidup di Afrika.  Anak ketiga, Sem adalah bapa dari bangsa Semit, bangsa Elam, bangsa Kasdim, bangsa Asiria, bangsa Siria, bangsa Ibrani, dan bangsa Arabia.

Keluarga-keluarga ini adalah satu dan mereka berupaya untuk tetap bersama, persis seperti yang dilakukan keluarga.  Tetapi Allah telah bersabda agar manusia mendiami seluruh bumi ini dan untuk berkuasa atas seluruh ciptaan, jadi saat semua keluarga ini diam bersama di dalam Kejadian pasal 11 dikisahkan mereka membangun sebuah monumen sentral megah yang akan membuat mereka tetap bersatu.  Mereka juga berpikir bahwa jika mereka mengalami air bah lagi (padahal Allah telah mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi lagi) mereka akan membuat sebuah menara yang akan menjangkau langit sehingga mereka bisa lolos dari air bah itu. Ketika Allah memandang ke bawah dan lagi-lagi melihat kesombongan di dalam hati manusia, Dia mengacaukan bahasa mereka dan mereka tidak berhasil membangun menara Babel.  Karena tidak mampu lagi saling memahami satu sama lain, orang yang bisa berbicara bahasa tertentu pergi ke arah sana, dan orang yang bisa berbicara dalam bahasa itu secara otomatis berkumpul ke arah itu. Mereka yang berbicara dalam bahasa lain pergi ke arah lain, dan mereka yang berbicara dalam bahasa ketiga pergi ke arah lain lagi dan seterusnya.
Sehingga mereka terpecah menurut bahasa mereka, menurut bahasa bangsa mereka, menurut bahasa ibu mereka. Mereka terserak dari Babel dan menutupi seluruh permukaan bumi. Jadi bangsa-bangsa di dunia berkembang dari ketiga bagian besar keluarga Nuh ini. 

Sebelas pasal pertama dari Kitab Kejadian berbicara mengenai keseluruhan keluarga umat manusia.  Mulai dari pasal 12 Kitab Kejadian kita melihat satu keluarga yang telah Allah pilih, yang mana melalui siapa Allah akan menepati janji-Nya, “Aku akan member kepadamu benih yang akan meremukkan kepala Iblis.” Dalam pasal keduabelas dari Kitab Kejadian kita diperkenalkan dengan Abraham, yang berdiam di Ur Kasdim, di bagian paling randah dari Lembah Mesopotamia, dimana sungai Tigris dan Efrat mengalir ke Teluk Persia, kepadanya Allah berfirman, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (Kejadian 12:1). Dia tinggal di sebuah kota penyembah berhala, dan bapanya adalah seorang penyembah berhala.  Nama ayahnya adalah Terah.  Dikatakan bahwadia telah membuat patung-patung dan menjual patung-patung itu.  Allah berfirman kepadanya, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar…. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:2,3). Jadi ia berasal dari keturunana Sem, Allah memilih Abraham dari Ur Kasdim. 

Pada mulanya Abram tidak meninggalkan rumah ayahnya dan keluarga ayahnya.  Dari Ur Kasdim dia naik ke bagian utara Lembah Mesopotamia di suatu tempat yang disebut Haran.  Abram, nama saudaranya adalah Nahor, nama ayahnya adalah Terah, dan Lot adalah anak saudaranya, mereka semua pindah ke Haran. Di dalam Alkitab, Anda juga akan menemukan tempat yang akan disebut Padan-aran, itu adalah Haran.  Di sanalah Abraham mengambil istri bagi Ishak (Ribka) dan ke sanalah Yakub lari dan tinggal di sana selama 20 tahun menjadi hamba Laban demi menikahi Lea dan Rahel. Setelah Terah, ayah Abraham, meninggal, kemudian Abraham membawa istrinya, Sarah, dan membawa keponakannya, Lot, dan meninggalkan Nahor saudaranya di sana dan Abram menuju ke Tanah Perjanjian. Dia datang ke Sikhem dan kemudian ke Betel dan kemudian ke Hebron, kemudian turun ke daerah Mesir selama beberapa waktu karena ada kelaparan, dan kemudian kembali ke Hebron.  Di Hebron dia dan Lot berpisah, dan Lot turun ke kota-kota di padang datar dan memasang tendanya mengarah ke Sodom dan menjadi walikota Sodom, kota yang jahat itu.

Dua malaikat Tuhan datang dan berkata kepada Abraham,  “Karena dosa dan tindakan asusila kota yang kacau balau ini telah sampai kepada Allah, kami harus membinasakannya.” Kemudian saat para malaikat itu telah pergi, Abraham berdiri di hadapan Tuhan, mengetahui bahwa Lot ada dikota itu, Lot yang adalah orang benar, yang mengacaukan jiwanya dengan kehidupan kotor orang Sodom. Abraham berdoa kepada Allah, “Jika ditemukan lima puluh orang benar di sana, apakah Engkau akan menyelamatkan kota itu demi kelima puluh orang itu, jika empat puluh, jika tiga puluh, jika dua puluh, jika sepuluh?”  Jika saja dia meminta kota itu diselamatkan walaupun hanya ada satu orang benar, saya pikir Allah akan mengabulkan permohonannya. Namun dia tidak bertanya seandainya ada orang benar kurang dari sepuluh. Para malaikat tidak dapat menemukan sepuluh orang benar dan di sana saat Abram memperhatikan dari Hebron, api turun ke atas Sodom dan Gomora setelah Lot, istrinya, dan dua putrinya melarikan diri.  Yesus berkata bahwa itu menggambaran kedatangan-Nya,  “Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot” (Lukas 17:28).  Di akhir zaman  umat Tuhan harus pertama-tama harus dikeluarkan dahulu sebelum api dan belerang diturunkan.  Di Hebron Abraham melihat dan memandang kehancuran kota-kota di dataran itu. Kemudian Abraham pindah ke Bersyeba.

Di Bersyeba mengikuti kisah Ishak dan Arabahm dan kemudian kisah Ishak dan Yakub. Kehidupan Ishak pertama kali terlibat dengan Abraham, ayahnya dan kemudian dengan kedua putranya, Ishak dan Yakub.  Di Bersyeba, di rumah Ishak, Ribka menyayangi Yakub dan Ishak manyanyangi Esau.  Yakub memiliki kulit yang licin dan Esau berbulu.  Anda akan menyukai Esau.  Dia akan menjadi kapten tim sepak bola.  Dia adalah seorang pemburu, dia adalah seorang nelayan, dia suka berburu membawa anjing. Dia suka berada di luar rumah. Itulah Esau. Tetapi dia suka kedagingan. Ishak menyukainya karena dia suka makan daging rusa hasil buruan Esau. Sehingga pada suatu hari saat Esau baru kembali dari perburuan dimana dia begitu kelaparan, dia menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi semangkuk bubur merah. Kemudian bersama Ribka, Yakub menipu Esau mengenai hak kesulungannya, berkat dari ayahnya, membeli hak kesulungannya dari Esau.  Dengan geram Esau berkata, ”Aku akan membunuhmu.”  Kemudian Yakub melarikan diri ke Padan-aram, tinggal di sana dimana Nahor tinggal di Haran di utara Lembah Mesopotamia. 

Jadi Yakub melarikan diri, dan dia berhenti di Betel dan di sana Allah menegaskan kepadanya janji tentang benih itu dan mengenai tanah perjanjian serta Juruselamat yang akan datang. Dari Betel dan penglihatannya mengenai para malaikat, dia pergi ke Padan-aram, ke Haran.  Ia tinggal di rumah cucu Nahor yang bernama Laban, yang juga adalah saudara Ribka. Dia bekerja kepada Laban tujuh tahun untuk mendapatkan Rahel.  Namun saat dia bangun esok paginya, dia melihat bahwa perempuan yang telah dinikahinya semalam bukanlah Rahel. Saya selalu berpikir bahwa itu adalah hal terbodoh yang pernah dilakukan oleh seorang laki-laki dalam hidupnya, bahwa dia tidak dapat memastikan di malam pertamanya apakah itu Rahel atau bukan.  Dia seharusnya mengenal dia dengan sangat baik. Setelah menikahi Lea, dia bekerja tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel.  Kemudian dia bekerja enam tahun lagi untuk Laban.

Setelah duapuluh tahun itu Allah berfirman kepada Yakub untuk kembali ke Palestina. Sehingga Yakub kembali ke sisi timur Yordan menyeberang ke Sikhem.  Mereka tinggal di sana, di Sikhem, dan Simeon dan Lewi melakukan hal kejam dan mengerikan dengan membinasakan para lelaki di Sikhem.  Akhirnya Yakub kembali ke Betel dan memperbaharui ikrarnya kepada Allah, dan dari Betel turun ke Hebron.  Dalam perjalanannya ke Hebron, Rahel meninggal dunia di Betlehem. 

Di Hebron, Yusuf diutus untuk pergi ke Dotan, yang jaraknya sekitar sepuluh mil dari Samaria, untuk melihat ternak dan saudara-saudaranya yang sedang menjaga ternak itu.  Saat Yusuf muncul mereka berkata, “Itu anak yang dikasihi bapa kita, dan ia memanjakannya dengan jubah warna-warni.”  Mereka berencana untuk membunuhnya.  Namun Ruben membujuk mereka untuk menyayangkan nyawanya dan mereka menjualnya kepada orang Ismael yang kemudian membawanya ke Mesir.  Di Mesir kemudian Yusuf menjadi perdana menteri di bawah Firaun.  Setelah bertahun-tahun kemudian terjadilah kelaparan di tanah Kanaan dan saudara-saudara Yusuf turun ke Mesir untuk membeli gandum.  Kemudian mereka kembali kepada ayah mereka, dan kemudian pada masa kelaparan itu mereka akhirnya pindah ke Mesir,  dan kepada mereka diberikan tanah Gosyen.  Sebagaimana Anda lihat di Mesir, Mesir memiliki sebuah delta segitiga dimana berbagai sungai bermuara ke Laut Mediterania.  Di sisi kanan delta itu, antara sisi kanan delta dan padang gurun ada sebuah daerah kecil yang disebut Gosyen, yang sangat subur.  Di sanalah Firaun dan Yusuf menempatkan Yakub, atau Israel dan keluarganya.   Kemudian kita membaca tentang kematian Yusuf dan tentang pesannya untuk membawa tulang belulangnya dibawa kembali ke Tanah Perjanjian ketika Allah melawat mereka.

Namun kemudian bangkitlah seorang Firaun yang tidak mengenal Yusuf dan dia melihat betapa makmurnya orang Israel, karena Allah memberkati mereka.  Orang Mesir takut kepada orang Israel, sehingga Firaun memperbudak mereka untuk membuat batu bata tanpa jerami, untuk membangun kota-kota. Saat mereka berkeluh kesah karena tekanan berat itu Allah menyendengkan telinga-Nya untuk mendengar, dan di sana bangkitlah seseorang yang merupakan anak angkat Firaun, seorang pewaris tahta, yang diambil Nefertiti dari air saat Firaun yang kejam memerintahkan agar semua anak laki-laki Israel harus dibunuh. Pemuda itu telah mempelajari semua seni dan ilmu orang Mesir, namun hatinya ada bersama orang-orang Israel karena ia diasuh dan dididik oleh ibunya sendiri mengenai Allah Yahwe dan umat pilihan Israel.

Setelah melarikan diri dari Firaun ke padang gurun, di Sinai Musa menggembalakan domba.  Pada waktu dia sedang menggembalakan domba di padang gurun di kaki Gunung Sinai, Allah berbicara kepadanya dalam semak yang menyala-nyala.  Allah berfirman, “Aku telah mendengar tangisan umat-Ku. Aku mengutus kamu untuk menyelamatkan mereka.” Musa menjawab, “Utuslah siapa saja selain aku. Tetapi Tuhan menjawab, “Tidak, Aku memilih kamu.  Umat-Ku, melalui siapa janji ini akan terpenuhi harus diselamatkan.” Musa pergi menghadap Firaun setelah sepuluh tulah dijatuhkan. Itu adalah malam dari segala malam. Pada malam di atas segala malam itu, mereka harus mengambil seekor anak domba dan menyembelihnya, mencurahkan darahnya, memercikkannya dengan hisop di ambang pintu membentuk tanda salib.  “Pada waktu malaikat maut melintas di malam itu,” Allah berfirman, “Saat Aku melihat darah, Aku akan melewati rumahmu dan keluargamu.”  Namun dalam semua rumah dan keluarga lainnya ada kematian dan isak tangis serta ratapan dari semua keluarga orang Mesir, kecuali bagi mereka yang berada di bawah darah. “Benang Kirmizi Sepanjang Alkitab.”

Next