Daftar Isi

 

SALIB SEBAGAI BATU SANDUNGAN

(THE OFFENSE OF THE CROSS)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dikhotbahkan pada kebaktian Minggu Pagi, 31 Desember 1972

di First Baptist Church in Dallas

Teks: Galatia 5:11

 

Para pendengar radio dan pemirsa TV sekalian, anda sedang bergabung bersama kami dalam sharing Firman Tuhan di kebaktian First Baptist Church di Dallas. Ini adalah gembala kami yang akan membawakan Firman Tuhan dengan tema: SALIB SEBAGAI BATU SANDUNGAN.  Pada jam pagi ini, kita akan membahas khotbah seri kita dari Kitab Galatia. Dan sekarang kita sudah sampai pada Galatia pasal 5 dan khotbah ini didasarkan pada ayat 11:

 

“Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi” (Galatia 5:11).

 

Ketika saya membaca ayat ini di dalam bahasa Yunani, ada kata yang menarik bagi saya ketika membacanya: “Sebab kalau demikian, salib bukanlah scandalon. Dari kata inilah kata bahasa Inggris “scandal” berasal.

 

Saya pernah menjumpai kata ini sebelumnya dalam 1 Korintus 1:22 dan dalam ayat tersebut Paulus menulis demikian:

 

“Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:22-24)

 

            Di dalam ayat-ayat itu ada kata yang sama [dengan Galatia 5:11]. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu ‘scandalon.’ Dalam KJV diterjemahkan “stumblingblock” atau “batu sandungan” dalam TB-LAI. Dan kata ini dalam Galatia 5:11 diterjemahkan “offence” dalam KJV atau “batu sandungan” dalam TB-LAI.

 

            Bagi orang Yahudi salib adalah suatu ‘scandalon’, dan bagi orang Yunani adalah suatu ‘morion,’ yang berarti “ketololan, kebodohan.” Namun bagi kita yang telah diselamatkan oleh, Kristus adalah ‘Theou dunamin’ atau ‘kekuatan Allah’ dan ‘theou sophian’ atau “hikmat Allah.”

 

            Maksud kata salib sebagai ‘scandalon’ adalah bahwa orang-orang Yahudi menentang Paulus yang menulis surat ini kepada jemaat-jemaat di Galatia, karena orang-orang Yahudi hanya mengakui Yesus sebagai manusia yang mulia (a great man), orang baik (a good man). 

 

            Kemurahan hati-Nya, perbuatan-Nya yang suka mengampuni, kebaikan-Nya, belas kasihan-Nya, semua itu dapat mereka terima dengan senang hati. Namun Ia sebagai jalan keselamatan dan salib-Nya adalah suatu scandalon, itu adalah suatu batu sandungan. Menurut mereka itu bertentangan dengan kenyataan hidup.

 

            Bagi orang Yahudi jika ada orang yang berpikir dapat diselamatkan melalui upacara-upacara ritual dan melalui seremonial dan ketaatan terhadap perintah-perintah Taurat dan melalui memelihara Taurat itu secara sempurna mereka dapat menerimanya, namun jika ada orang yang berkata bahwa ia diselamatkan melalui percaya kepada Kristus, salib adalah scandalon bagi mereka. Salib Kristus adalah batu sandungan bagi mereka.

 

            Sekarang kurang lebih dua ribu tahun telah berlalu. Apakah salib itu masih menjadi suatu scandalon? Apakah itu masih menjadi batu sandungan pada hari ini? Sudahkah itu berubah. Pada zaman ini salib terlihat sebagai bagian dari kultur masyarakat barat.

 

            Ketika kita membangun gereja kita, kita membuat rencana penempatan salib itu. Di tengah altar kita dirikan salib. Salib kita dirikan juga dengan megahnya di atas bumbungan gedung gereja kita sebagai tanda kebanggaan kita. Salib diembos di Alkitab kita. Banyak perhiasan dibuat berbentuk salib. Bandul kalung dibuat berbentuk salib. Dalam dekorasi-dekorasi gereja-gereja Kristen banyak menggunakan salib sebagai hiasannya.

 

            Salib menjadi obyek seni. Banyak penyair yang bahkan mungkin belum bertobat dan tidak memiliki iman namun menggunakan salib sebagai suatu hiasan dalam syair-syair mereka. Seluruh dunia telah menerima salib sebagai simbol sentimentil tentang pengorbahan.

 

            Apakah salib masih menjadi batu sandungan pada zaman ini? Apakah masih ada orang pada zaman ini yang tersandung oleh salib? Sebenarnya pada zaman ini tidaklah berbeda dengan zaman rasul Paulus. Batu sandungan yang sama, scandalon yang sama ditemukan baik pada zaman rasul Paulus maupun pada zaman kita ini dan generasi kita ini.

 

            Kebenaran yang sama disampaikan oleh Yesaya dalam Kitabnya; “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya” (Yesaya 53:1-2). Dan dalam pernyataan senada Paulus menulis: “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan” (1 Korintus 1:23).

 

            Orang-orang pada zaman ini banyak mengikuti apa yang diajarkan oleh Tuhan di pantai-pantai Galelia, memperhatikan khotbah Kristus di bukit atau golden rule yang diberikan oleh Kristus, atau teladan Kristus yang penuh belas kasihan dan pengampunan, dan pengajaran-pengajarannya yang penuh hikmat. Semua itu bisa mereka terima. Namun pada kenyataannya salib Kristus adalah ‘scandalous,’  batu sandungan bagi orang-orang zaman ini sama seperti pada zaman Paulus. Saya pernah tertarik membaca tentang hal-hal yang terjadi pada zaman  Thomas Carlyle. Ia tinggal di London, dan ia pernah bertamu di rumah suatu kelompok atau perkumpulan sosial.  Ia menjadi tamu di rumah seorang tokoh sosial terkemuka.

 

            Tokoh wanita tersebut adalah orang yang sangat cerdas dan memiliki pemahaman teologi yang sangat baik. Dan dalam percakapan itu, ia mulai berbicara tentang kesalahan orang-orang Yahudi yang membunuh Anak Allah, Juruselamat dunia. Dan ia berkata bahwa jika seandainya Kristus datang pada zaman ini, kita akan membuka pintu rumah kita bagi Dia dan menyambut Dia.

 

            Kemudian wanita itu berkata, “Bukankah benar demikian, Mr. Carlyle?”

 

            Dan Thomas Carlyle menjawab, “Tidak, saya pikir tidak, Nyonya. Saya pikir jika seandainya Ia datang dengan mengenakan pakaian yang sesuai dengan mode zaman ini dan mengkhotbahkan pengajaran yang enak untuk didengar, mungkin saya akan memperoleh kartu undangan kehormatan dari anda yang tertulis di sana, “Temuilah Juruselamat kita.”

 

            “Namun jika Ia datang untuk mengucapkan pengajaran yang mulia dan menegur orang-orang Farisi dan bergaul dengan para pemungut cukai seperti yang pernah Ia lakukan, anda pasti akan memperlakukan Dia sama seperti orang-orang Yahudi pernah memperlakukan Dia dan berseru, “Bawa Dia ke Newgate dan gantung Dia di sana.”

 

            Sangatlah diragukan, apakah bila seandainya Tuhan datang di zaman ini, ia akan diterima dan dipercaya oleh generasi ini, tidak seperti pada zaman rasul Paulus. Karena salib adalah batu sandungan, salib adalah suatu scandalon. Mungkin anda bertanya kepada saya. Bagaimana mungkin anda dapat mengatakan hal ini?

 

            Baiklah. Saya memiliki tiga jawaban untuk pertanyaan itu.  Mengapa salib masih menjadi suatu batu sandungan (scandalon) dulu, sekarang, dan bahkan generasi yang akan datang – di sepanjang abad sejarah manusia?

 

 

SALIB KRISTUS ADALAH TEGURAN BAGI HATI MANUSIA

YANG TELAH RUSAK TOTAL

 

Yang pertama, bukti bahwa salib menjadi batu sandungan dapat ditemukan dalam kenyataan bahwa salib adalah teguran bagi natur dan hati manusia duniawi yang telah rusak.

 

            Ketika saya mempersiapkan khotbah ini saya tertarik dengan apa yang saya baca tentang gereja di Edinburgh, salah satu kisah yang terkenal. Seorang hamba Tuhan melayani kebaktian pagi dan hamba Tuhan yang lainnya melayani kebaktian malam. Kedua orang itu adalah gembala di gereja itu.

 

            Dan hamba Tuhan pertama yang khotbah di pagi hari berkata bahwa ada pemujaan yang tidak dapat dihindari untuk kebaikan dalam hati manusia. Dan jika kebajikan dan kebaikan itu nampak, itu akan langsung ditahtakan dan diterima dan dipuja oleh sebagian umat manusia.”

 

            Selanjutnya, hamba Tuhan yang berkhotbah pada kebaktian malam, kelihatannya tidak menyadari apa yang dikatakan hamba Tuhan satunya di kebaktian pagi, dalam khotbah di kebaktian malam ia berkata, “Kebaikan moral dan kecantikan hidup serta karakter datang menjelma ke dalam dunia ini. Dan dari pada mentahtakan Dia, manusia justru membawa Dia, mengejek Dia, mentertawakan Dia, dan akhirnya memakukan Dia di atas kayu salib dan ia mati dengan cara yang sangat memalukan di kayu salib yang kasar itu.”

 

            Yang mana yang benar dari kedua pernyataan itu? Sejarah mengatakan bahwa hamba Tuhan yang kedua yang benar-benar mampu melukiskan betapa dalamnya kerusakan hati manusia. Dan kita semua seperti itu dan kita tahu itu ketika kita membaca setiap lembaran sejarah dan khususnya setiap halaman Alkitab yang menjelaskan tentang penghakiman yang sedang bergayut di atas umat manusia.

 

            Sebagai contoh, dalam Kejadian 6, Alkitab berkata, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:5).

 

            Dan semua kisah selanjutnya memverifikasi tentang penghakiman dari sorga, misalnya kisah Israel dan Yehuda adalah salah satu kisah dari kejahatan dan dosa yang terjadi secara terus menerus. Kisah tentang Ninewe dan kisah tentang Babel adalah salah satu kisah tentang kebengisan dan kekejaman yang tidak kenal ampun. Kisah tentang seluruh umat manusia disimpulkan dalam Roma pasal 1.

 

            Saya belum pernah membacakan ayat ini di depan publik. Saya juga belum pernah mendengar seorangpun yang membacakan Roma pasal 1 ini kepada publik. Anda juga belum pernah membacakannya di depan publik. Namun ayat ini bukan hanya merupakan karakteristik dari Imperium Roma dan masyarakat Roma, namun kelihatannya ini juga merupakan deskripsi tentang moralitas dalam kehidupan bangsa Amerika modern ini.

 

            Namun tidak ada yang menunjukkan dan membongkar isi hati manusia ketika kita menemukan di dalam penyaliban dan di dalam salib Anak Allah. Yohanes pasal 20 berkata bahwa ia tergantung. Ia dipakukan pada salib, di luar tembok kota, di luar gerbang kota, di jalur utama yang menuju ke Yerusalem. Banyak orang melewati tempat itu. Dan mereka melihat penderitaan dan erangan-Nya serta mendengar rintihan-Nya serta melihat air mata-Nya dengan sikap acuh tak acuh.

 

            Salib itu adalah teguran bagi seluruh umat manusia. Salib itu adalah teguran bagi Herodes Antipas dengan sikap buruknya, Kayafas, imam besar yang licik, Pontius Pilatus, gubernor Roma yang hanya memikirkan karir dan jabatannya.

 

            Itu adalah teguran bagi Yudas Iskariot yang berkhianat karena ketamakannya. Bagi para prajurit Romawi yang mengundi jubah-Nya di bawah salib. Bagi orang-orang Farisi dan ahli Taurat dan para pemimpin agama Yahudi yang mengolok-olok Dia atau yang diam acuh tak acuh.

 

            Bahkan bagi semua murid yang melarikan diri dan meninggalkan Dia ketika Yesus ditangkap dan Simon Petrus yang menyangkal tiga kali dengan mengatakan bahwa ia tidak mengenal Dia. Bagaikan bayangan sayap malaikat maut yang mengelilingi Mesir pada waktu malam Paskah, demikianlah bayangan kerusakan hati manusia yang meliputi seluruh umat manusia.

 

            Penyaliban Kristus adalah penghakiman atas kota, atas suatu negara, atas suatu imperium, dan atas seluruh umat manusia. Dan kita tidak ada bedanya dengan semua itu. Dosa dan kejahatan yang umat manusia mampu lakukan begitu rendah.

 

            Kemarin sore, saya menguburkan seorang istri yang masih muda nan cantik, yang masih berumur 20 tahun. Suaminya sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Dallas. Ia mengendarai mobilnya untuk pergi melihat suaminya. Ketika, akhirnya, mereka menemukan dia, dia telah ditembak mati, ia dibunuh dalam kondisi ia masih duduk di jok mobilnya dengan sabuk pengaman (seatbelt) masih mengikatnya.

 

            Pagi ini, pukul 8:15, keluarga terkasih ini datang ke sini bersama dengan suami perempuan muda tadi yang baru saja keluar dari rumah sakit untuk menangis di hadapan Tuhan. Setiap berita utama koran, kisah-kisah dari setiap lembaran sejarah, apa yang terjadi siang malam adalah suatu kutukan bagi dunia, dan adalah refleksi kebenaran bahwa salib Kristus adalah teguran bagi natur manusia dan jiwa manusia yang telah rusak. Salib adalah scandalon, batu sandungan bagi hati manusia yang telah bobrok.

 

 

SALIB MERUPAKAN PANGGILAN PENYANGKALAN DIRI

DAN PENOLAKAN TERHADAP PENGHORMATAN DUNIA

 

Kedua, salib merupakan batu sandungan atau scandalon, karena salib merupakan panggilan untuk menyangkal diri sendiri dan menolak penghormatan dunia. Anda dapat melihat kehidupan yang sangat menyedihkan dari seorang muda yang kaya. Ia terhormat dilihat dari semua segi kebaikannya. Ia telah memelihara perintah-perintah Tuhan, Ia memuji dan melayani Tuhan sejak masa mudanya.

 

            Dan Tuhan memandangan dia dengan belas kasihan. Ia adalah lambang dari kesuksesan duniawi. Penghargaan secara sosial telah ia miliki. Ia adalah seorang muda yang kaya. Seorang pengusaha yang sukses.

 

            Namun ketika ia bertanya kepada Tuhan tentang bagaimana memperoleh hidup kekal seperti yang diberitakan oleh nabi dari Galelia ini, Tuhan berkata kepadanya: “Sulitlah bagi orang muda ini untuk masuk ke dalam kerajaan sorga bersama dengan semua kekayaan yang mengikat hatinya.”

 

Tuhan berkata, “Juallah semua hartamu dan berikanlah kepada orang-orang miskin dan kemudian pikulah salibmu dan ikutlah Aku.”

 

            Dan Alkitab berkata, “Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Markus 10:22).

 

            Oh, bagaimana Kristus memandang semua hal dan bagaimana Kristus memandang dunia ini dan bagaimana dunia memandang dirinya sendiri. Dalam suratnya yang terakhir, pasal terakhir Paulus berkata, “Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku” (II Timotius 4:10).

 

            Oh, saya jamin, sungguh menyenangkan mengikuti langkah sang Guru ini menyusuri pantai-pantai Galelia yang biru dan indah. Tentu akan menyenangkan bergabung dengan suatu parade besar seperti yang akan kita ikuti besok di sini di Dallas, bergabung dengan parade besar pada Palm Sunday dan masuk ke kota indah Yerusalem, masuk dalam kemenangan Tuhan kita.

 

            Namun pikulah salib-Nya dan pergi keluar kota dengan membawa salib-Nya yang adalah suatu scandalon, suatu batu sandungan. Tentu itu akan menjadi lain ceritanya.

 

            Kita pernah memiliki seorang diaken di gereja ini. Dan ia pergi ke gereja dengan menaiki sepeda. Apakah anda ingat itu? Ia datang ke gereja dengan menaiki sepeda. Suatu kali sebuah mobil menabraknya ketika ia sedang menaiki sepedanya dan kemudian ia meninggal. Dan saya yang melayani penguburannya. Ia adalah orang yang selalu berpenampilan sederhana dan hidup sederhana. Namun ia telah memberikan segala milikinya kepada gereja terkasih ini. Segala sesuatu yang ia miliki.           

 

            Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa anda juga harus melalukan seperti itu, atau meminta beberapa dari kita untuk melakukan itu. Tuhan tidak pernah meminta Zakhius untuk menjual segala miliknya. Tuhan tidak pernah berkata kepada Nikodemus dan Yusuf Arimatia yang adalah orang-orang yang kaya untuk melakukan itu. Namun saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam pemandangan kita atau dalam penilaian kita atau kadang-kadang apa yang kita pikir sebagai suatu kesuksesan besar atau prestasi yang gemilang, namun dalam pemandangan Allah itu adalah sesuatu yang tidak penting.   Dan banyak hal yang mungkin kita pikir sangat hina namun di mata Tuhan itu sesuatu yang sangat berharga. Salib adalah suatu scandalon.  Salib merupakan panggilan  untuk menyangkal diri dan ponolakan terhadap penghormatan dunia.

 

 

SALIB DIPERKENALKAN SEBAGAI

SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN

 

            Ketiga, Mengapa salib menjadi suatu scandalon, suatu batu sandungan? Karena itu diperkenalkan dalam Alkitab, dalam Firman Allah, dalam kerrouson, dalam kerygma, dalam khotbah, dalam pemberitaan tentang salib, tentang Injil Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

 

            Salib diperkenalkan sebagai satu-satunya jalan keselamatan secara terbuka dan dengan penuh semangat. Tidak perlu diragukan bahwa firman Allah dengan jelas memperkenalkan salib sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Itu adalah kebenaran. Itu adalah jalan dan hidup. Dan tidak ada lagi jalan lain selain melaluinya.

 

            Seperti Simon Petrus berdiri dan mengumumkan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Rasul 4:12). 

 

            Oh, ketika berita Injil diperkenalkan oleh Alkitab, Kitab Suci selalu memperkenalkan salib seperti itu. Kristus bukanlah suatu kemungkinan. Kristus bukanlah suatu alternatif. Kristus bukanlah salah satu, tetapi Kristus adalah satu-satunya. Dan itu adalah suatu batu sandungan bagi kebanyakan manusia di dunia ini.

 

            Mengapa? Karena sedikit sekali orang di dunia ini yang percaya bahwa salib Kristus adalah satu-satunya jalan menuju sorga. Kebanyakan manusia di dunia percaya bahwa ada banyak jalan menuju sorga. Mereka percaya bahwa kita semua sedang berada pada jalan yang menuju ke tempat yang sama. Orang Budha menuju sorga melalui jalannya sendiri, dan orang Islam melalui jalannya sendiri, dan Shintoisme melalui jalannya sendiri, dan pengikut Confusius melalui jalannya sendiri, dan para penganut Taoisme melalui jalannya sendiri. Dan semua animisme, mereka semua menuju sorga melalui jalannya masing-masing. Dan orang Kristen menuju sorga juga melalui jalannya sendiri. Jadi kita semua berada pada jalan masing-masing namun menuju ke tempat yang sama.

 

            Itu adalah pemandangan umum dunia. Jika ia adalah seorang Budha yang taat kepada ajaran agamanya atau orang Islam yang taat akan imannya atau jika ia adalah seorang penganut agama Shinto yang taat, atau jika ia adalah pemuja nenek moyang mereka dengan tulus dan taat, atau jika ia adalah pengikut Confusius – apapun agama mereka – ia juga memiliki kepastian diselamatkan dan masuk seorga seperti orang Kristen yang beriman di dalam darah Kristus.

 

            Itu adalah sikap mutlak yang dipercayai manusia pada umumnya di seluruh dunia. Dan ketika orang Kristen berdiri dan berkata, “Tidak ada jalan lain, tidak ada nama lain kecuali di dalam Yesus Kristus yang disalibkan.” Itu akan menjadi suatu scandalon, suatu batu sandungan.

            Oh, betapa itu benar. Bahkan hamba Tuhan liberal mengingkari efek, penyucian, kuasa penebusan dari darah Kristus. Mereka dikenal sebagai penjagal took agama, dan mereka menyebutnya agama tak bertuan. Dan saya pernah berada di gereja-gereja yang menghilangkan penekanan tentang darah Kristus dalam semua lagu-lagu rohani mereka.

 

            Kristus hanyalah seorang manusia yang agung (a great, good man). Ia adalah seorang pahlawan. Ia adalah seorang manusia yang ideal. Namun dalam dunia liberal mereka menyangkal bahwa Kristus adalah Juruselamat melalui darah-Nya. Karena iman seperti itu merupakan batu sandungan bagi masyarakat modern.

 

            Anda tahu, yang selalu menarik perhatian saya tentang bagaimana iman Kristen dalam Alkitab diberitakan, itu selalu diberitakan oleh para pemberita, pengkhotbah, tanpa mengenal kompromi. Mereka selalu memberitakan bahwa salib Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan dan tidak ada jalan yang lain. Itulah yang selalu dikumandangkan dalam Alkitab. Tidak ada alternatif.

 

Mengapa orang-orang Roma menganiaya orang Kristen?

Ketika Imperum Roma menjadi sangat toleran dan sangat liberal dan sangat bijaksana dan cerdik dalam menangani banyak provinsi dan bangsa dan agama yang berada di bawah kekuasaan Roma, tidak pernah ada imperium atau kerajaan yang secerdik atau yang sangat toleran dalam sikapnya terhadap agama yang seperti Imperium Romawi. Mereka bebas menyembah apapun. Mereka bebas memiliki tempat ibadah masing-masing. Mereka bebas membangun rumah ibadat menurut agama masing-masing. Mereka dapat memeluk agama apapun dengan bebas menurut kesukaan masing-masing. Agama adalah pilihan mereka masing-masing.

 

            Namun demikian Penguasa Roma, para Kaisarnya, menganiaya orang-orang Kristen. Mengapa bisa demikian? Karena satu alasan sederhana ini: Orang Kristen menolak mengkompromikan imannya dengan semua agama lain yang ada dalam wilayah kekaisaran itu. Dan ketika mereka meminta orang Kristen untuk mensejajarkan Yesus dengan dewa-dewi mereka seperti Jupiter, Juneau, Neptune, Isis, Osiris, orang Kristen itu berkata “tidak.”  Mereka hanya percaya kepada Kristus saja.

 

            Kurios Caesar, tidak. Kurios Iesous, ya.  Dan ketika mereka diminta untuk menyembah patung Kaisar Roma kalau mereka masih ingin hidup, mereka lebih baik menyerahkan hidup mereka untuk dibakar di depan patung Kaisar Roma dari pada harus sujud menyembahnya. Orang Kristen itu lebih baik mati dimakan singa dari pada mengkompromikan imannya dengan menyembah patung itu.

 

            Saya akan menjelaskan kepada anda apakah iman itu. Seperti apakah iman Perjanjian Baru dan iman para martir, dan iman umat Allah yang sejati di sepanjang sejarah. Dan iman itu adalah iman yang tanpa mengenal kompromi – iman yang percaya bahwa tidak ada keselamatan selain di dalam Kristus. Dan iman seperti itu adalah suatu scandalon, suatu batu sandungan bagi dunia.