Daftar isi

"HUTANG YANG TIDAK PERNAH DAPAT SAYA BAYAR"

("DEBTS I CAN NEVER REPAY")

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Alih bahasa Wisma Pandia, Th.M.

Editor Dr. Eddy Peter Purwanto

 

 

 

7-12-92

Romans 1:14-15

 

            Kami menyambut anda semua yang sedang bergabung dengan kami baik melalui siaran radio dan televisi.  Anda sekarang menjadi bagian dari gereja First Baptist Dallas, dan ini adalah pendeta senior W.A. Criswell, yang sedang membawakan khotbah yang berjudul, “Hutang yang Tidak Pernah Dapat Saya Bayar.”.

            Di dalam khotbah kita, melalui Kitab Roma, kita telah sampai kepada ayat 14 dan teks kita berbunyi “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun bukan kepada orang Yunani, baik kepada orang yang terpelajar maupun kepada orang yang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan injil juga untuk kamu yang diam di Roma.”

            Dia menyampaikan hal ini termasuk kepada orang-orang di seluruh dunia dan setiap jiwa yang merupakan bagian dari hutangnya. Kepada orang-orang Yunani, kepada orang-orang Roma, kepada orang yang suratnya ini ditujukan, kepada orang-orang Barbar, kepada orang-orang pilihan Allah, Kepada orang-orang Yahudi, kepada orang-orang terpelajar, dan kepada orang-orang yang tidak terpelajar. Sebuah hutang kepada seluruh dunia.

            Saya dapat mengilustrasikan hal itu dengan mudah. Ada seseorang yang sedang sekarat karena kanker. Saya tidak mengenal dia, tidak mengetahui namanya, tidak pernah berkenalan dengannya, tetapi dia sedang sekarat karena kanker. Dan jika saya memiliki sebuah obat, jika saya tahu sebuah cara untuk menyembuhkannya, saya memiliki sebuah hutang kepadamya untuk memberitahukan kepadanya bagaimana dia bisa sembuh dan sehat kembali, sekalipun saya tidak pernah mengenalnya ataupun mendengar tentang dia. Sebuah hutang yang harus saya bayar.

            Saya dapat mengilustrasikannya dengan mudah, jika dalam sebuah padang gurun, ada sebuah kumpulan orang, sekelompok orang yang sedang kehausan dan saya mengetahui dimana ada sebuah oasis yang sangat indah, dan di dalam air itu saya dapat madi, berenang, bermain, dan minum, serta disana ada orang-orang yang sedang kehausan, maka saya berhutang kepada mereka untuk memberitahukannya.

            Di dalam Kitab Raja-Raja 2 pasal tujuh, Yerusalem dikepung oleh Benhadad Raja Aram sehingga orang-orang mulai kelaparan. Sementara itu ada empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati." Lalu pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke tempat perkemahan orang Aram. Tetapi ketika mereka sampai ke pinggir tempat perkemahan orang Aram itu, tampaklah tidak ada orang di sana. Sebab TUHAN telah membuat tentara Aram itu mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar, sehingga berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Sesungguhnya raja Israel telah mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan kita, supaya mereka menyerang kita." Karena itu bangkitlah mereka melarikan diri pada waktu senja dengan meninggalkan kemah dan kuda dan keledai mereka serta tempat perkemahan itu dengan begitu saja; mereka melarikan diri menyelamatkan nyawanya. Ketika orang-orang yang sakit kusta itu sampai ke pinggir tempat perkemahan, masuklah mereka ke dalam sebuah kemah, lalu makan dan minum. Sesudah itu mereka mengangkut dari sana emas dan perak dan pakaian, kemudian pergilah mereka menyembunyikannya. Lalu datanglah mereka kembali, masuk ke dalam kemah yang lain dan mengangkut juga barang-barang dari sana, kemudian pergilah mereka menyembunyikannya.

            Lalu berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang, marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja."  Sebuah hutang. Yang tidak dapat dihindarkan.  

            Dalam sebuah jalan menuju Yerikho, seorang imam melihat orang yang sekarat dan melewatinya melalui seberang jalan, seorang Lewi juga melewati orang yang sekarat itu, dan seorang Samaria lewat, lalu ia melihat orang itu dan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Dia berhenti dan merawat orang itu, sebuah hutang yang ada di dalam dirinya.

            Demikian juga dengan diri kita dalam hidup kita. Paulus berkata, “Aku berhutang kepada orang-orang Yunani dan orang-orang Roma, dan orang-orang Barbar serta kepada seluruh dunia karena aku memiliki sebuah pesan yang hidup, dan mereka sedang sekarat.” Itulah sebabnya mengapa pendeta kita membuka sesi ini, dimulai dari sekarang, untuk memenangkan jiwa dan penginjilan: Kita berhutang kepada sebuah dunia yang sekarat.

            Beberapa waktu yang lalu saya memenangkan seorang pria kepada Yesus. Ketika saya sedang melewatinya di gereja ini, dia menghentikan saya dan berterima kasih serta berkata, “Anda telah memperkenalkan saya kepada hidup itu sendiri. Saya berterima kasih kepada anda.” Saya menjawab dia,”anda tidak berhutang apa-apa atas semuanya. Saya memiliki sebuah hutang bagi anda untuk memberitahukan anda tentang Tuhan.”

            Jadi, rasul menulis di sini,”aku berhutang terhadap seluruh dunia yang sedang sekarat.” Dia menyebutkan mereka di sini, dan ketika kita melihat ke dalam daftarnya, kita dapat mengerti kewajiban yang dia temukan di dalam dirinya. Kepada orang-orang Yunani. Seluruh dunia memakai bahasa Yunani. Dalam masa zaman yang hebat itu yang  telah berlalu budaya Yunani, literatur Yunani, filsafat Yunani, bahasa Yunani menguasai dunia. Salah satu hal yang sangat mengherankan saya adalah ketika Paulus menulis ke Roma, ibukota kekaisaran bangsa Latin, dia menulis suratnya dalam bahasa Yunani. Ketika Paulus menulis dalam ensiklik yang kita sebut sebagai Efesus, manuskrip-manuskrip kuno dari Efesus memiliki kata-kata yang kosong. Ia merupakan sebuah surat yang di tulis ke seluruh propinsi seperti: Asia, Bithynia. Kappadokia, Galatia, Sisilia—dan semuanya ditulis dalam bahasa Yunani. Betapa mereka memiliki hutang yang harus dibayar kepada orang Yunani.

            Kepada orang-orang Roma: Hukum Roma. Pemerintahan Roma, jalan-jalan yang dibangun oleh Roma di setiap tempat.  “Aku seorang yang berhutang,” kata Paulus.

            Dan apa yang dapat saya katakan tentang Israel dan orang-orang Yahudi? Hutang apakah yang harus kita bayar kepada mereka. Tidak hanya Paulus tetapi kita. Mereka memberikan kita Kitab, mereka memberikan kepada kita Juruselamat kita, dan mereka memberitahukan kita tentang kebencian kita kepada jalan hidup yang kekal. 

            Dan dia menyebutkan orang-orang Barbar, semua suku yang tidak berbudaya dan bangsa-bangsa yang berada di bawah kekaisaran Roma. Betapa sensitifnya mereka terhadap Injil dan betapa responnya mereka terhadap pengharapan yang mulia di dalam Kristus. Betapa saya berhutang terhadap mereka.  

            Itulah sebabnya ketika Tuhan kita disalib, diatas salibnya ada tertulis namaNya dan Kerajaannya dalam bahasa Ibrani, Yunani dan Latin.

            Kita berada di Dallas, sebagai sebuah kota, dunia tanpa akhir, seseorang berkata,” Saya mencukupi diri saya sendiri. Saya membuat diri saya sendiri, dan saya tidak berhutang apapun kepada orang lain.” Itu merupakan jalan pikiran mereka; itu merupakan cara mereka hidup; itu merupakan cara mereka bertindak. “Saya membentuk diri saya sendiri.”  Anda bisa melihat kearah dia dalam semenit, hanya sehari dalam hidupnya. Sembilan belas dari dua puluh yang dia miliki membuktikan bahwa dia berhutang kepada orang-orang sebelumnya, dan dua puluh satu sisanya dia berhutang kepada orang-orang yang hadir dalam hidupnya. Dia bangun di saat pagi, dia beranjak dari tempat tidurnya. Mengapa dia di sana, dan dari mana dia berasal? Disuatu tempat ada seorang ibu yang berjalan melalui lembah dari bayangan kematian dan dalam rasa sakit ketika melahirkan dia, sehingga dia dapat hidup. Dan dalam pagi hari dia bangkit menjadi seorang manusia yang bebas. Siapa yang telah menjaga keselamatannya, siapa yang telah meninggal sehingga dia memiliki kebebasan? Dia berhutang hal itu kepada orang lain. Dia berpakaian. Akan sangat mengagumkan jika dia sendiri yang membuat pakaiannya. Seseorang telah membuat pakaian itu. Dia berbicara.  Manusia yang membaringkan hidupnya bahkan memiliki kebebasan untuk berbicara! Dan dia berjalan menyusuri jalanan. Seseorang telah membuat jalan itu.  Bukan dia. Dia pergi ke kantornya. Seseorang telah membangunnya. Bukan dia. Dia menggunakan telepon. Dia tidak pernah menemukannya. Dia menyalakan lampu dan aliran listrik menyala. Dia tidak pernah menemukan listrik itu.  Orang-orang yang manis,  segala hal yang kita bawa dalam hidup kita ini dalam sehari-hari kita berhutang kepada orang lain. Dalam 1 Timotius pasal 6 ayat 7: “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak membawa apa-apa keluar.” Kita berhutang terhadap itu semua.

            Saya berpikir tentang sesuatu bahwa Robert Louis Stevenson, seorang penyair yang hebat, suatu kali berkata dengan berkelakar. Dia berbicara dalam sebuah satir tentang harga diri kita, dan dia berkata, “Ada sesuatu yang telah ditempatkan di dalam setiap tangan manusia, dan tidak ada yang lain kecuali empat jari dan sebuah jempol.” Apapun yang kita punya, Allah telah, memberikan hal itu kepada kita. Dan kita berada dalam hutang.

            Dan ketika saya berpikir tentang kehidupan rohani, ya Tuhan, betapa berhutangnya saya. Saya berhutang terhadap Kitab  ini, Kitab yang suci, dan berharga, volume yang berasal dari surga dan yang berada di dalam tangan saya. Ini merupakan sebuah karunia. Saya berhutang kepada orang-orang yang telah menulisnya dan menyerahkan hidup mereka untuknya dan membasuh setiap halamannya dengan darah mereka. Sebuah karunia. Saya seorang yang berhutang.

            Dan gereja. Oh, Tuhan, persiapkanlah pesan ini, saya , saya menghidupi hari-hari pada masa remaja saya. Kotak biskuit putih yang kecil itu dari sebuah gereja rumah, dan para pioneer yang datang ke bagian barat dari Negara kita ini dan memberitakan injil. Anda tahu, saya dilahirkan pada tahun 1909, dan manusia Allah itu yang hidup pada tahun 1800-an masih mengkhotbahkan injil ketika saya masih seorang bocah kecil. Dan di dalam gereja itu dimana saya telah menemukan Allah dan dibaptiskan serta mendengarkan pesan keselamatan dari Kristus, oh Tuhan, merupakan sebuah hutang. Sebuah hutang bagi saya.

            Dan di dalam gereja yang indah ini. Bagaimana saya dapat berada dalam ribuan kehidupan dan dalam jutaan pelayanan yang dapat membayar hutang saya terhadap jemaat yang berharga ini? Ya Tuhan, betapa saya mengasihi setiap jendela dari ruangan gereja ini dan setiap tempat duduk dimana anda telah duduk dan setiap kenangan selama 48 tahun. Betapa sebuah hutang yang harus saya bayar.

            Dan himne yang kita nyanyikan. Saya tidak pernah menulis mereka. Saya seorang yang berhutang.

              Dan persekutuan manis yang terjadi di sini, saling berbagi dalam momen dan waktu yang berharga ini.

            Dan apa yang akan saya katakana tentang Tuhan Yesus? Betapa berhutangnya saya kepada Dia. Tidak hanya jika kita berada di Israel, tetapi kita yang pergi ke Inggris dan Skotlandia. Dan sementara kita pergi melalui Skotlandia, saya memberitahukan kembali tentang pendeta Robert Murray McShane, seorang Pendeta di Dundee, meninggal ketika dia berusia 29 tahun, dan literatur Kristen menyebutnya sebagai salah satu orang kudus. Robert Murray McShane, seorang yang manis dan indah dan pelayan Tuhan yang berharga.

            Anda masih ingat suatu kali saya pernah berbicara tentang seseorang yang datang dari jauh dan pergi ke Dundee di Skotlandia, hanya untuk melihat di mana dia menggembalakan? Pengkhotbah muda itu telah pergi, jadi penjaga gereja itu, seorang pengganti sementara, melihat orang itu kecewa karena telah datang dari jauh dan tidak dapat bertemu dengan pendeta muda itu, lalu penggantinya itu berkata, “Ikutlah dengan saya.” Lalu dia membawa orang asing itu ke ruang belajar pendeta dan berkata,”sekarang duduklah di kursi itu.” Ketika orang asing itu duduk di kursi, pengganti sementara itu berkata,”Sekarang, benamkan wajah anda di dalam tangan anda dan menangislah.” Lalu pendeta pengganti itu membawanya  ke mimbar dan berkata, “Berdirilah di atas mimbar itu, buka Alkitab anda, dan benamkan wajah anda ke dalam Alkitab itu dan menangislah.”

Seorang pendeta kudus yang mulia, Robert Murray McShane. Dan ini yang telah dia tulis:

 

            “Ketika dunia yang berlalu ini telah selesai,

            Ketika cahaya matahari telah tenggelam,

            Ketika kita berdiri bersama Kristus dalam kemuliaan,

            Melihat ke atas kisah hidup yang telah selesai,

            Kemudian, Tuhan, haruskah aku mengetahuinya dengan sepenuhnya

            Tidak lama kemudian, betapa banyak aku berhutang,

             

            Ketika saya berdiri di hadapan takhta

            Berpakaian dengan indah yang bukan milikku,

            Ketika aku melihat Engkau sebagaimana Engkau adanya,

            Mengasihimu dengan hati yang tidak bersinar,

            Selanjutnya, Tuhan, haruskah aku mengetahu dengan sepenuhnya,

            Tak lama kemudian, betapa banyaknya aku berhutang

             

            Ketika aku mendengar pujian dari surga,

            Tuhan, seperti guruh di telingaku,

            Bergemuruh seperti suara air yang berdesau,

            Manis seperti suara melodi dari hati,

            Lalu, Tuhan, haruskan aku mengetahui sepenuhnya,

            Tak lama kemudian, betapa banyaknya aku berhutang.

           

            Bahkan diatas bumi, bagai melalui sebuah gelas,

            Kegelapan membiarkan kemuliaanMu berlalu,

            Membuat perasaan pengampunan terasa manis,

            Membuat Roh pertolonganMu terasa manis,

            Bahkan di atas bumi, Tuhan, membuat saya mengerti

            Sesuatu tentang betapa banyaknya aku berhutang.

             

            Sebuah hutang yang tidak akan pernah dapat saya bayar. Jadi saya melihat ke sekeliling saya. Tuhan, saya seorang pengutang kepadaMu untuk banyak hal. Bagaimana saya dapat merespon? Bagaimana saya akan membayarnya? Dimana saja jika ada jiwa nyang terhilang, dimana saja ada hati yang terluka

            Dan itulah sebabnya, dalam beberapa tahun ini dan tahun-tahun yang telah lewat kita telah memulai pelayanan terhadap orang-orang miskin di Kota Dallas ini. Kita telah memulai dari Dallas bagian barat dan melanjutkannya sehingga kita memiliki 31 kapel, melihat sehingga kita bisa membawakan pesan Kristus dan pengharapan dari Allah kepada orang-orang yang miskin, para gelandangan dan yang membutuhkan pertolongan. Selama beberapa tahun ini, kita memiliki sebuah misi ke seluruh penjuru kota, dan Allah kemudian memberikan kepada kita sebuah fasilitas yang indah dan luar biasa yaitu The Dallas Life Foundation. Dan setiap hari dibawah cahaya mentari, kita melayani ratusan dan ratusan keluarga, yang miskin dan lapar serta gelandangan dan yang membutuhkan bantuan. Saya menyukai hal itu. Saya mengasihi hal itu. Ini merupakan salah satu pelayanan yang manis, dan itulah sebabnya kita memiliki sebuah pelayanan kepada orang-orang yang terhilang, yang membutuhkan pertolongan dan para gelandangan.

            Dan ketika saya berpikir tentang akhir dan pokok dari hutang kita, ia merupakan sebuah janji bagi saya hingga saya meninggal, dan setelah penghakiman itu, saya memiliki sebuah hutang yang harus saya bayar: hutang dari kematian saya. Ketika saya datang kemari, kelas Baraca merupakan salah satu kelas terbesar di dalam kota ini atau di dalam konvensi. Mereka memiliki beberapa ratus orang di dalam kelas Baraca. Saya bertemu dengan orang-orang ini selama bertahun-tahun, dan sekarang ketika saya bertemu dengan pemimpin Baraca, hanya ada dua atau tiga orang. Kebanyakan dari mereka telah pergi. Meninggal dunia. Saya memiliki sebuah hutang yang harus dibayar yaitu kematian.

            Lalu saya merenungkan berkat-berkat dari Firman Allah,”Yesus yang telah mati bagi kita.” Itu merupakan frasa yang anda baca dalam Kitab suci secara berulang-ulang. “Yesus telah membayar semuanya; saya berhutang semuanya kepada Dia.” Yesus telah mati bagi saya. Dia telah membayar hutang yang paling yang paling besar bagi saya. Dan sekarang kematian merupakan sebuah tidur yang panjang, menunggu Yesus yang akan membangunkan kita dan membangkitkan kita ke dalam kemuliaan kebangkitan pada hari yang berkemenangan itu.

            Apakah anda mengingat hal ini? Hal ini yang kami sampaikan kepada anda dengan firman Tuhan: “kita yang hidup, kita yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka—apakah itu pendeta?—yang tidur. Menyebut kita sebagai orang yang telah meninggal dengan tidur. Hanya tertidur. “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang tertidur di dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit.” Hutang yang paling pokok yang yang terakhir adalah hari terbesar kita dalam kebangkitan. Kita hanya tertidur di dalam Kristus, menunggu bunyi sangkakala dan suara dari penghulu malaikat, dan kita akan dibangkitkan dan diberikan hidup yang baru dalam Yesus.

            Oh Tuhan, betapa berharganya dan betapa jayanya saat itu. Saya tidak gemetar dan saya tidak sangsi. Saya tidak akan menjadi takut. Ketika hari itu datang, hal itu akan menjadi hari yang paling berkemenangan bagi saya. Ketika saya mati? Tidak. Ketika saya tertidur di dalam Kristus.

            Dan mungkin saya dapat menambahkan hal lainnya: Saya memiliki sebuah hutang kepada Tuhan saya. Anda tahu apakah itu? Saya memiliki sebuah hutang untuk menerima undanganNya untuk menghadiri Perjamuan Kawin Anak Domba. Dan saya berhutang hal itu terhadap Tuhan. Ini merupakan sebuah hutang yang saya rasakan di dalam hati saya untuk menerima undangan itu, undangan pribadi terhadap saya, ke Perjamuan Kawin Anak Domba. Dan satu-satunya jalan yang membuat bahagia dan berjaya bagi anda adalah untuk menerima undangan itu juga. Jika tidak ada orang yang datang, jika tidak ada orang di sana, betapa akan kecewanya Allah, dan betapa menjadi sebuah tragedi dan kedukaan bagi saya yang ada di sana di Perjamuan Kawin Anak Domba dan anda tidak berada di sana. Saya berhutang terhadap Allah untuk menerima undanganNya secara pribadi, untuk datang, untuk hadir, di perjamuan kawin itu dari Anak Domba. Dan itu adalah surga: Anda berada di sana, kita berada di sana, Juruselamat kita berada di sana. Dia telah mengundang kita, dan kita menerima undanganNya, dan kita duduk bersama-sama dengan Dia untuk memecahkan roti di dalah Kerajaan Tuhan kita. Itulah surga.

            Anda tahu, bertahun-tahun yang lalu, sebelum anda lahir, bertahun-tahun yang lalu, dalam hari ketika kami memiliki kesaksian dalam pertemuan doa Rabu malam, di sana ada seorang tua, seorang yang sudah tua, yang berdiri untuk bersaksi. Saya tidak akan pernah lupa tentang apa yang dia sampaikan. Dia berkata, “Ketika saya masih seorang bocah kecil, ketika saya masih seorang pengikut yang masih kecil, saya diberitahukan tentang surga, mendengar tentang surga. Surga adalah sebuah kota yang besar, jalanannya terbuat dari emas, jembatannya terbuat dari permata, dindingnya terbuat dari batu-batu mulia, dan sebuah tempat yang sangat luas, dan tidak seorangpun yang saya tahu. Itu adalah surga.” Lalu dia melanjutkan, “Saudara laki-laki saya yang kecil meninggal dan saya memberitahukan tentang surga seperti dindingnya yang terbuat dari batu-batu mulia, jembatan permata, jalanan yang terbuat dari emas, sebuah tempat yang luas, dan tiadak ada seorangpun yang saya tahu kecuali satu wajah yang mungil: wajah saudara laki-laki saya yang kecil.” Lalu dia berkata—dan dia menggambarkan hal itu—tahun-tahun berlalu, dan beberapa dekade telah berganti, dan sekarang sebagai seorang yang sudah tua. Dia berkata, “Semua keluarga saya telah meninggal: ibu saya, ayah saya, semua saudara laki-laki saya dan semua saudari perempuan saya.” Lalu dia melanjutkan, “Istri saya telah meninggal, dan semua anak-anak kami. Mereka semuanya telah pergi. Sekarang, ketika saya berpikir tentang surga, saya tidak pernah berpikir tentang dinding yang terbuat dari batu-batu mulia atau jalanan yang terbuat dari emas, atau jembatan perak atau sebuah tempat yang luas yang tidak saya ketahui. Ketika saya berpikir tentang surga saat ini,” katanya, “saya berpikir tentang keluarga saya dan sahabat-sahabat saya dan serombongan besar yang telah pergi mendahului saya, orang-orang yang saya kasihi dan yang pergi hanya sementara.” Itulah surga.  Semua dari  gambaran-gambaran itu adalah hal yang lain.  Tetapi surga adalah karena anda ada di sana.

            Anda ada di sana, kita pergi untuk berada di sana, dan bersama dengan Juruselamat kita. Apa yang saya katakan? Kita akan duduk di perjamuan kawin Anak Domba dan memecahkan roti bersama-sama. Sebuah hutang yang harus kita bayar adalah untuk menerima undangan yang manis dari Tuhan kita.

            Dan itu merupakan undangan kami kepada anda yang telah mendengarkan pesan ini melalui siaran televisi. Kepada anda secara pribadi, Allah mengundang anda untuk bersama dengan Dia dan bersama dengan kami dalam kemuliaan hidup yang akan datang. Dan jika anda tidak tahu cara untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat anda, hubungi nomor yang ada di layar televisi anda. Disana akan ada seseorang yang memiliki dedikasi yang akan menunjukkan kepada anda bagaimana anda dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. dan jika anda menerima undangan itu. Saya akan melihat anda di dalam surga dalam kemuliaan dan hari yang penuh kemenangan. 

            Dan kepada kumpulan orang-orang banyak yang sedang berada di dalam rumah Allah pada jam yang kudus ini, di atas balkon dan sekitarnya, yang duduk dibangku bagian bawah, dan orang-orang yang ada di lantai bawah, telusurilah salah satu lorong ini dan katakan “Pendeta, ini merupkan hari Tuhan bagi saya, dan saya menjawabnya dengan seluruh hidup saya, membuka hati saya kepada berkat Tuhan Yesus, datang ke dalam persekutuan dari keluarga Allah.” Kami selalu menyambut anda, sementara kami berdiri dan menyanyikan sebuah lagu. “Ini merupakan hari Tuhan bagiku, dan Saya datang.” Dalam catatan pertama stansa ini. Buatlah hal itu sekarang. Allah memberkati anda. Ya, Allah memberkati anda.