Daftar isi

AKU TERTIUS, SALAM KEPADAMU

(I, TERTIUS, SALUTE YOU)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Roma 16:23

02-13-55

 

Ini adalah ibadah dari Gereja First Baptis di pusat kota Dallas. Dan ini adalah Pendeta yang membawakan khotbah dari bagian akhir Kitab Roma. Untuk beberapa bulan terakhir ini, dalam bulan yang baik, kita telah berkhotbah melalui Alkitab sepanjang Kitab Roma. Dan khotbah pada pagi hari ini adalah khotbah yang terakhir dari Kitab Roma pasal enam belas. Dan saya pikir hal ini akan memberkati hati anda, jika anda berpaling ke dalam Alkitab anda dan mengikuti saya sebagaimana saya membaca Firman ini dan berbicara dari dalamnya. Kitab Roma pasal terakhir, yaitu pasal enam belas—

Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,

supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang

orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.

Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.

Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.

Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.

Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.

Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.

Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.

Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.

Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.

Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.

Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.

Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.

Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.

Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.

Sekarang dalam ayat dua puluh satu samapai dua puluh empat—

Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa.

Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini.

Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita.

Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin (Roma 16:21-24)

 

Sekarang saya telah membacanya karena tidak seorang pun yang pernah melakukannya. Anda tidak pernah mendengar hal itu dibaca dalam hidup anda. Dan bahkan di dalam doa khusus, saya berpikir bahwa kebanyakan orang melewatkannya. Jika bukan untuk alasan lain, maka itu adalah salah satu alasan bagi saya mengapa saya menyampaikan sebuah khotbah atas dasar itu. Saya beritahukan kepada anda. Apakah kadang-kadang anda berpikir, seperti apakah orang-orang Kristen pada generasi pertama? Apakah kadang-kadang anda berusaha untuk membayangkan bagaimana ibadah mereka berlangsung? Siapakah yang ada di sana? Seluruh keluarga dan bangsa-bangsa dan orang-orang? Apakah anda kadang-kadang berpikir bagaimana keadaan mereka pada masa itu, ketika Paulus berkhotbah dan Simon Petrus adalah pemimpin dari dua belas rasul. Dan ketika pekerjaan dari jemaat Kristen dimulai untuk mendirikan fondasinya di dalam Imperium Roma. Jadi, anda dapat menemukannya di sini. Untuk beberapa saat pada hari ini, mari kita melihat ke dalam salah satu dari jemaat mula-mula itu. Jemaat pertama di Roma.

Paulus memulai dengan berkata: Aku meminta perhatianmu terhadap Febe saudari kita yang melayani di Jemaat Kengkrea. Kengkrea adalah kota pelabuhan Korintus yang “yang berada di sebelah laut.” Supaya kamu menyambutnya dalam Tuhan,” dia berkata kepada jemaat di Roma. Febe ini, “dia adalah seorang pelayan”—seorang diaken. Bahasa Yunani adalah “Seorang diaken di jemaat Kengkrea.” Sekarang dia datang ke Roma untuk sebuah urusan. Dia adalah salah seorang dari jenis wanita yang sibuk, seorang pengusaha. Dia telah pergi ke Roma untuk sebuah urusan resmi atau urusan pribadi atau permohonan kepada pemerintah, dan kamu dapat membantunya. Apapun yang sedang dia lakukan, maka secara alami dia memerlukan pengaruh dari teman-temannya yang akan menolong dia. “Berikanlah bantuan bila diperlukannya,’ kata Paulus kepada jemaat di Roma. Wanita ini, yaitu Febe, “Sebab dia telah memberikan bantuan yang besar kepada kami yang berada di Akhaya.”

Dan juga, “Priskilla dan Akwila.” Anda mencatat bahwa dia menempatkan nama wanita terlebih dahulu. Ada beberapa orang dari antara kita yang dikenali karena telah menikahi seorang wanita yang luar biasa. Dan salah satunya adalah pasangan ini. Itu sangat menakjubkan saya bahwa dua orang yang pertama kali disebutkan di atas adalah wanita: Febe dan Priskilla. Dan jika saya memiliki banyak waktu, saya dapat berhenti di sini dan membicarakannya secara panjang lebar—saya tidak tahu berapa lama—tentang apa yang sudah dilakukan oleh Kekristenan terhadap kaum wanita. Di setiap tempat di luar dari lingkaran iman Kristen, seorang wanita hanyalah bertugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan berada di bawah kaki laki-laki. Semua dunia berhala dan dunia kuno—semua peradaban  dan kebudayaan dunia, mereka melihat wanita hanyalah sebagai sebuah beban. Adalah iman di dalam Kristus Yesus yang telah memberikannya tempat di dalam keluarga Allah. Perempuan menjadi pendamping yang setara. Perempuan adalah anak seorang raja. Dia telah diselamatkan, dilahirbarukan. Dia adalah seorang jiwa, yang untuknya Kristus telah mati, dan tempat bagi kaum wanita, dimana pun Injil diberitakan adalah sebuah tempat yang bermartabat dan terhormat. Itu adalah kekristenan. Febe dan Priskilla. “salam juga kepada jemaat di rumah mereka” (Roma 16:5).  

“Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, dan yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku” (Roma 16:7—bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi, sama seperti Paulus juga adalah orang Yahudi.” Mereka pernah dipenjarakan bersama-sama karena iman “yang telah menjadi Kristen sebelum aku. (Roma 16:7). Mereka telah bertobat sebelum Paulus. “Salam kepada Apeles yang telah tahan uji dalam Kristus” (Roma 16:8), bahwa dia pernah dicobai. Saya tidak tahu jenis pencobaan yang seperti apa. Saya dapat membayangkan, dan jika saya memiliki waktu kita akan berbicara tentang beberapa pencobaan yang dilalui oleh orang Kristen mula-mula. Tetapi Apeles, menghadapi singa-singa. Dia menghadapi obor dan kayu sula. Dia menghadapi hujan batu dan rintangan-rintangan. Dia menghadapi kematian. Dan dia tetap benar. Apelles. “Salam kepada mereka yang termasuk dalam isi rumah Aristobulus… dan isi rumah Narsikus,” dam mereka semuanya adalah budak. Dan mereka telah bertobat. Seorang budak? Mengapa hal itu tidak terdengar. Itu adalah suatu hal biasa dalam peradaban Roma, peradaban Yunani, peradaban Mesir dan peradaban Asia—adalah sebuah hal yang tidak pernah didengar, bahwa seorang budak menjadi seorang saudara di dalam rumah tangga iman. Paulus berkata: “Salam kepada budak-budak yang berada di rumah Aristobulus dan Narsikus.” “Salam kepada Trifena dan Trifosa. Sangat mungkin mereka adalah pasangan kembar, salah satu dari nama mereka memiliki arti “kemewahan” dan nama yang lainnya berarti “kehalusan.” Kelihatannya mereka lahir dalam sebuah rumah yang indah. Dan mereka berdua saling mengasihi—kedua saudari ini—dan mereka berduia diberi nama yang indah: Trifena dan Trifosa. Sangat mungkin mereka kembar. “Salam kepada Persis yang kukasihi” (Roma 16:12). Dia adalah seorang gadis budak, yang dibawa dari Persia. “Salam kepada Parsis yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.” “Salam kepada Rufus dan salam kepada ibunya yang juga adalah ibu bagiku” (Roma 16:13).  

Sekarang salam yang berasal dari Korintus. “Timotius temanku sekerja” (Roma 16:21). Kita semua mengenal Timotius. “Gayus yang nmemberi tumpangan kepadaku, dan seluruh jemaat….Erastus”—bendahara negeri Korintus—dan “Kwartus”—seorang saudara yang sederhana—dia memberi salam kepadamu” (Roma 16:23). Oh, saya dapat membaca sebuah isi kerajaan penuh dalam ucapan salam ini. Beberapa dari antara mereka adalah orang-orang non Yahudi. Beberapa dari antara mereka adalah orang-orang Yahudi. Beberapa orang dari antara mereka adalah orang-orang Roma. Beberapa orang dari antara mereka adalah orang-orang Yunani. Beberapa orang dari mereka adalah orang-orang bebas. Beberapa orang dari antara mereka adalah budak. Beberapa dari antara mereka adalah orang-orang yang berpengaruh seperti Gayus dan Erastus. Beberapa dari antara mereka adalah orang miskin. Tetapi mereka semua berada di dalam gereja dari Tuhan Yesus Kristus. Dunia tidak pernah melihat hal itu sebelumnya. Mereka tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya—orang-orang Goth yang berambut merah dan orang Arab, orang-orang taklukan Roma, yang memiliki pendidikan dan budaya yang tinggi seperti Yunani, orang-orang Barbar, orang-orang Yahudi. Orang Yahudi melihat bangsa mereka sebagai umat pilihan Allah dan orang-orang non Yahudi mereka sebut sebagai anjing-anjing. Tetapi mereka semua bersama-sama ada di gereja. Betapa sebuah hal yang sangat luar biasa. Itu adalah sebuah perkembangan dunia yang belum pernah terlihat sebelumnya.  

Sekarang saya akan mengambil salah satu dari mereka. Dan saya akan berkhotbah tentang dia pada pagi hari ini. Di dalam Kitab Roma pasal enam belas dan ayat dua puluh dua, ada sebuah catatan kecil dalam surat ini—“Dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini kepadamu, salam dalam Tuhan kepada kamu” (Roma 16:22), Tertius, bukankah itu hal yang asing? “Salam dalam Tuhan kepada kamu, dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini.”  Kembali kepada masa yang lalu di dalam lukisan dari kepercayaan  yang lama, para seniman akan banyak sekali melukiskan dirinya sendiri dalam sebuah pojok yang tidak menarik perhatian orang. Di luar sana di Lubbock, saya sedang membicarakannya, dan presiden dari sekolah di sana—Texas Tech—mengambil sekelompok kecil dari kita untuk membuat sebuah pemandangan yang luas di dalam museumnya, dan di dalam pemandangan itu digambarkan kisah tentang dataran selatan Lubbock. Dan sebuah peruntungan yang bagus bagi kita yang telah memiliki seniman yang memiliki karunia dan berada di sekeliling kita. Dan lihat ke dalam lukisannya, menggambarkan tentang kita, tentang hubungan kita satu dengan yang lain. Dan dia telah melukis dirinya sendiri sebagai salah satu koboi di dalam salah satu pemandangan itu. Itu adalah yang sama yang dilakukan oleh Tertius di dalam surat ini. Dia menuliskan namanya, dan memberitahaukan kepada mereka siapakah dia. “Salam dalam Tuhan kepada kamu, dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini” (Roma 16:22). Saya berpikir, apa yang membuat dia melakukan hal itu. Itu adalah sebuah hal yang asing. Sebagaimana saya membaca Alkitab, biasanya  melewati hal itu. Tetapi dia menghentikannya dan menulis: “Salam dalam Tuhan kepada kamu, dari Tertius, yaitu aku yang menulis surat ini.” Dia adalah orang yang asing bagi mereka yang berada di Roma, dan mereka juga asing bagi dia. Dia telah memperkenalkan dirinya kepada mereka, siapakah dia. Saya berpikir apa yang membuat dia melakukan hal itu.  

Saya tahu secara tepat apa yang membuat dia melakukan hal itu. Pada masa yang lalu, kekristenan masih sangat sedikit. Mereka kesepian. Mereka juga dihadapkan kepada  sebuah penghinaan dan penganiaayaan serta menjadi kelompok yang dikucilkan. Dan banyak kali mereka telah dipanggil untuk menyerahkan hidup mereka demi iman. Dan orang ini Tertius, dia memiliki sebuah nama Latin, Roma. Dan Tertius, mengeluarkan tangannya melintasi lautan dan dia berkata, “Saya tidak mengenal anda dan anda tidak mengenal saya; tetapi kita mengenal Allah. Dan saya pikir,” kata Tertius, “Saya berpikir bahwa sebagaimana anda membaca surat ini di dalam jemaat Roma, bahwa anda mungkin suka untuk mengetahui hal itu yaitu bahwa ada tangan seorang Kristen yang menulis kalimat-kalimat seperti yang diucapkan oleh Paulus dengan sepenuh hati.” Mengapa, ada sesuatu tentang hal itu—hal itu menggerakkan jiwa anda. “Aku Tertius yang menulis surat ini, saya tidak mengenal anda dan anda tidak mengenal saya, tetapi kita sama-sama orang Kristen, dan kita sama-sama mengenal Allah. Dan dengan melewati lautan dan samudera. Saya memberi salam kepada anda semua, saudara-saudara Kristenku.” Mereka memiliki sebuah simpati yang dalam antara satu dengan yang lainnya.

Itu adalah alasan bagi pelajaran kita di dalam Alkitab pada hari ini. Mari kita membaca bersama-sama dari 1 Korintus 13:1, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Korintus 13:1). Para martir meletakkan jemaat Kristen pertama secara bersama-sama dan memiliki simpati yang besar di antara umat Allah. “Aku Tertius, aku memberi salam kepadamu dalam Tuhan. Aku ingin engkau tahu, bahwa tangan yang menulis surat ini adalah tangan seorang Kristen.” Itu merupakan hal yang sangat sederhana. Merupakan tugas yang sederhana. “Aku Tertius, yang menulis surat ini”—sangat sederhana tetapi penting.

Saya tidak tahu ada apa dengan Paulus. Sebagaimana anda membaca dan membaca di dalam surat-suratnya, ada sesuatu hal di dalam diri Paulus. Saya maksud secara fisik—“sebuah duri dalam daging” dia merujuk kepada hal itu. Kebanyakan dari para sarjana akan mengatakan bahwa Paulus sangat mungkin memiliki penglihatan yang sangat buram. Dia memiliki sebuah kelemahan di dalam matanya. Dia menunjukkannya sekali waktu di dalam suratnya kepada jemaat Galatia bahwa mereka sangat mengasihinya, sehingga sekiranya mungkin, mereka bersedia untuk memberikan mata mereka (Galatia 4:15)—seperti yang dipikirkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan mata Paulus. Di dalam setiap kesempatan, ketika dia menulis suratnya, dia akan melakukannya dengan perantaraan seseorang. Dia mengatakan hal itu kepada orang-orang Galatia di dalam surat kepada jemaat-jemaat Galatia. Dia membicarakan hal itu kepada jemaat Kolose. Dia menyebutkannya kembali ini surat yang kedua kepada jemaat Tesalonika. Paulus memiliki seseorang untuk menuliskan pesan yang akan dia sampaikan. “Untuk menuliskan hal itu sangat sederhana. Itu benar, tetapi sangat penting. Dan di dalam kerajaan Allah, saya beritahukan kepada anda ketika berpikir bahwa dalam pandangan Allah itu sangat besar, maka dalam pandangan Allah hal itu sangat kecil. Jika anda mulai berpkir bahwa dalam panddangan Allah itu sangat penting maka sebaliknya, dalam pandangan Allah hal itu tidak penting.  Apa yang mungkin kita pikir besar di dalam pandangan Allah maka hal itu merupakan hal yang kecil. Apa yang kita pikir di dalam pandangan Allah itu kecil, sebaliknya, hal itu dapat menutupi Horizon.

Orang ini adalah salah satu saudara Kristen yang sederhana, menuliskan apa yang disampaikan oleh Paulus. Anda tahu, segala sesuatu dalam hidup hampir seperti itu. Jika anda sungguh-sungguh melihat secara ke dalam filsafat. Alat pemanggang yang besar dan turbin yang menghasilkan energi, bukanlah sesuatu yang apa-apa jika anda tidak memiliki sebuah mesin yang dapat memutarnya. Dan kadang-kadang mekanisme yang kecil itu sama pentingnya dengan bagian besar yang menghasilkan tenaga. Atau instrument yang indah ini. Setiap nada dalam setiap karangan dari konser musik adalah vital dan penting. Dan tubuh, Paulus di dalam 1 Korintus berbicara tentang tubuh berkata: “Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.” Anda memiliki kelenjar bawah otak. Dokter memberitahukan saya bahwa letaknya ada di belakang kepala—yang besarnya tidak lebih dari sebuah biji kacang polong. Tetapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika anda tidak memiliki kelenjar bawah otak.  Yang pasti kita tidak akan bertumbuh. Bukankah begitu Dr. Carland? Kita tidak akan pernah bertumbuh. Bagian kecil itu, yang tidak pernah saya lihat. Tetapi merupakan organisme yang paling vital dalam tubuh. Oh, anda tidak tahu. Pelayaan kecil yang sederhana ini seperti Tertius, “Saya yang menulisnya. Saya yang menulisnya. Jika saya tidak menulisnya untuk dia, maka anda tidak akan memilikinya.’

Hal lain tentang orang ini, Tertius, orang Roma yang menulis surat ini, hal lain tentang dia adalah bahwa dia bangga atas pekerjaannya. Dia merasa bahwa dia telah melakukannya dengan baik. Dia menuliskan namanya di dalamnya. “Aku, Tertius, yang menulis surat ini.” Mengapa, saya hanya melihatnya sebagai seseorang yang menuliskan surat ini.  “Lihat betapa rapinya surat ini, Tertius akan mengatakan hal itu. Dan betapa bagusnya saya berusaha untuk melakukannya.” Dia bangga akan pekerjaannya. Bukankah hal yang baik bahwa bukan saya yang menulis surat itu atau seseorang dari anda? “Aku Tertius, yang telah menulis surat ini.” Dia bangga akan pekerjaannya. Dia menuliskan namanya di atasnya. Dia telah melakukannya dengan baik. Itu baik. Untuk melakukan apa yang kita lakukan—dan melakukannya dengan baik. 

Saya akan berbicara  untuk melihat suatu hal di dalam kehidupan Sir Joshua Reynolds. Pelukis potret yangterkenal dari Inggris. Seperti berita yang tragis—dia melukis suatu masa dalam tahun 1700-1784—dia melukis potret dari Sarah Sidon, salah satu aktris dari drama karya Shakespeare. Dan dia melakukannya dengan sangat baik, dan itu adalah salah satu potret yang besar pada hari ini. Dan sebagaimana mereka berdiri melihatnya, Sarah Sidon yang hebat berkata kepada Sir Joshua Reynolds, “Apakah warnanya tidak akan pudar?” dan Sir Joshua Reynold membalas perkataannya, “Selama kanvas itu tetap bersama-sama, maka warnanya akan tetap tidak pudar.” Kemudian dengan anggun dan sopan menambahkan—dia berkata, “Dan untuk memastikan pandangan saya, saya telah menempatkan nama saya di pinggir pakaian anda. Saya telah  mengelilinginya dalam pinggiran gorden ini.”  Dan sungguh bahwa foto itu tetap abadi, anda akan menemukan namanya tertulis di pinggir pakaiannya. Itulah Tertius. Dia telah melakukannya dengan baik. Dia telah menulis namanya dalam marjin Alkitab, yang masih terdapat hinga saat ini.

Saya berpikir apa yang dia terima untuk hal itu? Apa yang Paulus lakukan untuk membayarnya? Saya akan katakan tidak banyak. Paulus adalah seorang Kristen yang dicemooh dan seorang pemimpin dari kelompok yang dikucilkan dan dibuang. Dan apa yang Tertius lakukan, saya berpikir bahwa dia mendapat penghargaan yang sangat sedikit sekali untuk itu. Tetapi tidakkah anda tahu, kita tidak bekerja berdasarkan itu. Kita bekerja berdasarkan bagaimana kita melakukannya di dalam. Anda dapat melakukan pekerjaan terhormat dalam sebuah cara seperti budak. Atau anda dapat melakukan sebuah pekerjaan yang sederhana dalam sebuah cara yang terhormat. Saya suka cerita tentang  Epaminondas. Cicero berkata Epaminondas adalah seorang Yunani terkemuka yang pernah dimiliki oleh bangsa Yunani. Dia adalah seorang Theban—seorang orator yang luar biasa dan seorang jendral, ahli stategi dan negarawan. Dan pada suiatu hari, di kota Thebes, musuh-musuhnya melakukan koalisi untuk melawan dia dan memutuskan dia keluar. Dan kemudian dalam perintah untuk menertawakan dan menolak jendral yang besar dan negarawan itu, mereka memilihnya untuk menjadi pengumpul sampah dan pembersih jalanan. Anda tahu apa yang dilakukan Epimodas? Dia melakukan pengumpulan sampah dan membersihkan jalanan dengan sangat terhormat dan sangat baik serta bagus hingga hal itu tidak berlangsung lama sampai orang-orang melihat kebijakan hidupnya, lalu memilih dia kembali untuk menjadi jenderal dan negarawan pemerintahan mereka. Saya suka itu. Perbedaan di dalam orang bukanlah di dalam perbedaan posisi yang anda miliki. Perbedaan terletak di dalam kehormatan, di dalam anda melakukannya. Oh “Aku Tertius,” yang menulis surat ini, aku menyampaikan salam dalam Tuhan kepada kamu. Beritahukan saya. Bukankah dia akan terkejut jika dia tahu bahwa saya sedang mengkhotbahkan dia pada hari ini? Dua ribu tahun yang lalu, dia duduk di samping pengkhotbah dari Yesus yang sering dicemooh.  Dia mengambil pena di tangannya dan dengan kemapuan yang dia miliki, dia mendedikasikannya kepada Kristus. Dan dia menulis surat yang abadi dari Rasul Paulus kepada jemaat di Roma. Kelihatan seperti sebuah hal yang sederhana. Kelihatan seperti sebuah keheningan dan hal yang yang tidak memiliki halangan—“Aku, Tertius, memberi salam kepadamu yang menulis surat ini.’ Tetapi ada sebuah hubungan di dalam rantai yang melambungkan dunia untuk lebih dekat kepada kaki Allah. Dan saya katakan bahwa anda tidak tahu apa yang anda lakukan. Anda tidak tahu apa yang anda lakukan, sebuah kenangan kecil, segelas air dingin, sebuah pelayanan yang berharga. Itu juga sebuah rantai yang melambungkan dunia ini untuk lebih dekat ke dalam hati Allah.

Biarkan saya memberitahu anda sesuatu. Kembali kepada masa Puritan zaman dahulu, ada seorang pelayan Tuhan yang sederhana yang bernama Richard Sibbs. Dia hidup pada masa akhir tahun 1600-an—seorang yang sederhana, manusia Allah yang pendiam. Setiap orang memanggilnya “Richard Sibb Surgawi.” Dia menulis sebuah potongan kecil, hanya sebuah brosur kecil dan dia menyebutnya, The Bruised Reed and the Smoking flax. Apakah anda mengingat bagiannya? Tuhan Yesus Kristus, yang ramah, lembut, manis, yang terluka, dia tidak akan mematahkan buluh yang patah terkulai? Apakah anda mengingatnya? Itu adalah sebuah brosur kecil—sebuah bagian kecil yang menghembuskan keyakinan dari seorang manusia zaman. Bahwa Tuhan peduli terhadap orang-orang yang lemah dan yang miskin, tak berdaya dan tua. Itu adalah kebaikan dari suatu hal. Seorang penjual keliling memperolehnya, dan sebagimana dia sering berkeliling, dia meminta traktat kecil itu. Dan pada suatu hari, di sebuah rumah, ada seorang anak muda yang bernama Richrad Baxter, yang datang karena traktat itu yang ditulis oleh Richard Sibbs—The Bruised Reed.  Dan dia membacanya. Dan bertobat karena itu. Dan dia memberikan hatinya kepada Yesus. Dan Richard Baxter adalah salah satu pengkhotbah terkemuka sepanjang zaman. Adalah Richard Baxter yang berkata: “Saya berkhotbah seakan saya tidak akan pernah berkhotbah lagi, seperti orang yang hampir sekarat kepada orang yang sedang sekarat.” Tidak ada seorang pengkhotbah di dunia ini yang tidak mengenal Richard Baxter. Dengan diinspirasikan oleh buku kecil  yang ditulis oleh Richrad Sibbs, Richard Baxter menulis buku sebuah buku kecil. Dan dia menyebutnya, The Call to the Unconverted.  Ada seorang muda di Inggris dari keluarga yang berpengaruh yang dikelilingi oleh kesenangan, tetapi hatinya sangat kosong dan seseorang bertanya kepadanya, “Apakah kamu pernah melihat buku kecil yang ditulis oleh Richard Baxter?”

“Tidak.”

“Engkau akan memperolehnya.”  

Dan dia memperolehnya. Dan anak muda itu adalah Phillip Doddridge, yang bertobat dengan luar biasa. Dan Phillip Doddridge adalah salah satu penulis sederhana dari  Himne gereja sepanjang zaman. Rabu malam kemarin, mereka menyanyikan lagu itu:

Hari yang sunguh bahagia, hari yang sungguh bahagia

Ketika Yesus membasuh semua dosaku

Dia mengajarku untuk melihat dan berdoa

Dan hidup bersukacita setiap hari

Hari yang sungguh bahagia, hari yang sungguh bahagia

Ketika Yesus membasuh semua dosaku.

 [Philip Doddridge, “O Happy Day”].   

Apakah anda pernah menyanyikannya. Phillip Doddridge menulis lagu itu dan banyak lagu lainnya. Dia telah bertobat karena sebuah buku kecil yang ditulis oleh Richard Baxter.

Sekarang, dibawah insipirasi dari buku kecil yang telah ditulis oleh Richard Baxter, Phillip Doddridge menulis sebuah buku kecil yang berjudul The Rise and Progress of Religion in the Soul.  Pada tahun 1784, pada tahun yang sama ketika Joshua melukis potret yang luar biasa dari Sarah Sidon, Orang yang paling brilian dan memiliki kemampuan yang luar biasa dari seorang anak muda  Kerajaan Inggris, sedang melakukan persiapan untuk melakukan perjalan di daratan Eropa bersama seorang sahabatnya. Dan dua orang muda  berdiri dalam sebuah tumpukan buku sedang mengambil buku-buku yang akan dibaca dalam perjalan mereka. Dan anak muda ini mengambil volume keci yang ditulis oleh Phillip Dodridge dan berkata kepada temannya, “Apakah ini?” Dan temannya menjawab, “Itu adalah salah satu buku terbaik yang pernah ditulis.” Mereka lalu membawanya bersama mereka. Dan sepanjang perjalan mereka melalui daratan Eropa, mereka membacanya dengan keras kepada orang lain. Dan keduanya diselamatkan dengan luar biasa dan kembali ke Eropa—kembali ke Inggris, ke London, menjadi orang Kristen yang saleh. Orang muda brilian yang saya maksudkan bernama William Wilberforce—salah satu negarawan Inggris yang terkemuka. Dia dipanggil sebagai orang Inggris yang berhati nurani. Dia memimpin legislatif Inggris untuk membebaskan sistem perbudakan di Kerajaan Inggris. Dan kembali manusia sosial di legislatif Inggris yang terkemuka itu memberkati Inggris sampai selama-lamannya—William Wilberforce.  Di bawah inspirasi dari buku yang ditulis oleh Phillip Doddridge, William Wilberforce menulis sebuah buku yang berjudul A Practical View of Real Christianity

Pada tahun 1819 di Scotlandia, terbaring di pintu kematian, seorang pengkhotbah muda dan orator pertama yang terbesar dan pengurai dari Injil Yesus Kristus. Tetapi hatinya kosong. Dia tidak mengenal Yesus dalam pengampunan dosa-dosanya. Dan pada hari itu ketika dia sembuh dari sakitnya, dari sebuah penyakit yang berbahaya, ke dalam tangannya jatuh sebuah buku kecil yang ditulis oleh William Wilberforce yang berjudul A Practical View of Real Christianity.  Dan ketika pengkhotbah muda itu sembuh dari sakitnya ia membaca buku itu. Dia menangis dan menjerit dan dia berdoa, dan jiwanya tercurah atas hal itu dan Tuhan mengembalikan kekuatannya. Dan Thomas Tlmadge, pengkhotbah muda itu kembali ke gerejanya, dan di dalam mimbar, dia menjadi manusia yang baru dan seorang pengkhotbah yang bernyala-nyala, dia menggerakkan seluruh Skotlandia dan dunia dengan kekuatan pesan rohani yang dia miliki. Dan hal itu berlangsung terus menerus. Saya berpikir apa yang Richard Sibbs pikirkan ketika dia menulis buku kecil itu, A Bruised Reed? Saya berpikir apa yang akan dia sampaikan jika seseorang berkata bahwa dia adalah mata rantai pertama dan ada rantai kedua serta rantai selanjutnya dan hal itu terus menerus bersambung hingga akhir waktu?

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.