Daftar Isi

ROH KUDUS YANG MENGHIDUPKAN JEMAAT

(THE CHURCH THE HOLY SPIRIT QUICKENED)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dikhotbahkan pada kebaktian Minggu Malam, 24 Januari 1982

di First Baptist Church in Dallas

 

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah 2:41-42)

 

Kristus adalah yang membangun jemaat. Ini adalah pekerjaan-Nya. Sama halnya Tuhan menciptakan Adam, demikian jugalah Dia membangun jemaat. “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kejadian 2:7). Dan Ia membaringkan ciptaan yang tanpa daya itu di depan Tuhan – semua organ-organnya sudah terbentuk dan dibentuk dengan dimikian indahnya. Kemudian Kitab Suci berkata, “dan Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2:7). Demikian juga pada hari Pentakosta. Kritus telah membangun atau membentuk jemaat, dan pada hari Pentakosta Roh Kudus menghembuskan kehidupan dan kuasa di dalamnya. Anda memiliki contoh lain yang bagus untuk menggambarkan itu, yaitu dalam Yehezkiel 37. Nabi melihat lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering. Dan ketika ia diperintahkan Allah untuk bernubuat dan ketika ia bernubuat “kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain… urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas. Maka firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali” (Yehezkiel 37:7-9). Seperti itu jugalah pembentukan jemaat. Kristus yang membentuk dan mengorganisir serta membangunnya. Dan pada hari Pentakosta Roh Kudus menghembuskan kehidupan di dalamnya, memberikan kuasa dan kebangkitan dan menjadikannya hidup.

 

Dalam perikop yang baru kita baca dari Kisah Rasul pasal dua, di sana ada deskripsi tentang yang menghidupkan jemaat –yang menghidupkan atau membangkitkan jemaat. Deskripsi tentang jemaat ini menunjukkan bahwa jemaat dihidupkan oleh Roh Kudus. Ada empat karakteristik esensial yang dimiliki oleh jemaat yang dipenuhi kuasa Allah, kemuliaan Kristus dan kepenuhan Roh Kudus, yaitu: mereka bertekun dalam pengajaran (doktrin); mereka bertekun dalam persekutuan; mereka selalu berkumpul untuk memecah-mecahkan roti; dan mereka selalu berkumpul untuk berdoa. Semua itu adalah empat karakteristik jemaat yang didihidupkan oleh Roh Kudus. Kita akan memperhatikan keempat karakteristik itu satu persatu. 

 

 

BERTEKUN DALAM PENGAJARAN RASUL-RASUL

 

Mereka bertekun dalam didache (pengajaran) rasul-rasul.” Kata Yunanu untuk “mengajar” adalah “didasko,” dan kata Yunani untuk “pengajaran” adalah “didache” – yaitu berhubungan dengan apa yang diajarkan; dan dalam Alkitab bahasa Inggris KJV diterjemahkan “doctrine.” Dan mereka bertekun dalam doktrin, dalam pengajaran rasul-rasul. Dan yang kedua adalah bahwa mereka bertekun dalam “koinonia” yang diterjemahkan di sini “persekutuan.” Dalam1 Korintus 10:16 kata ini diterjemahkan “communion” dalam KJV – komuni ini menunjukkan persekutuan kita. Ketika kita memecah-mecahkan roti dan minum anggur dari cawan bersama-sama; itu adalah komuni atau koinonia, atau persekutuan kita dengan Tuhan. Itu adalah ketetapan kekal Allah, yaitu agar umatnya senantiasa bersekutu bersama. Ketetapan Allah dari sejak permulaan penciptaan adalah agar kita senantiasa bersekutu bersama.

 

Tentu saja itu terlebih lagi kita yang ada dalam persekutuan jemaat, dalam keluarga Allah.

 

Perhatikanlah apa yang kami katakan ini “saudara dan saudari” yang ada di sini

Oleh karena kita adalah keluarga dan saling mengasihi;

Ketika salah seorang dari kita bersedih, marilah kita semua ikut menangis bersama,

Dan bersukacitalah dalam setiap kemenangan dalam keluarga terkasih ini.

Dari pintu panti asuhan menuju istana sang Raja,

Tidak lama lagi di tempat yang asing, lagu baru aku nyanyikan;

Dari kain kotor menjadi kaya, dari lemah menjadi kuat,

Aku tidak layak ada di sini, namun PUJI TUHAN! Aku ada di sini!

Aku begitu bahagia menjadi bagian dari Keluarga Allah,

Aku telah dimandikan dalam mata air, disucikan oleh Darah-Nya!

Bergabung menjadi ahli waris bersama Yesus ,

Karena aku adalah bagian dari keluarga itu,

Yaitu Keluarga Allah

 [William J. Gaither, ”Family of God”].

 

 

BERTEKUN DALAM PERSEKUTUAN

 

Dan “mereka bertekun dalam didache rasul-rasul dan dalam koinonia – dalam persekutuan; Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti” (Kisah 2:42). Dari pemahaman terbaik saya tentang Kitab Suci, nampak bagi saya bahwa komunitas Kekristenan mula-mula senantiasa berkumpul untuk memecahkan roti yang mana dalam terminologi Perjanjian Baru ini mengacu kepada Perjamuan Tuhan. Dimanapun Anda menemukan itu, itu selalu berhubungan dengan Perjamuan Tuhan. Itu dikatakan juga dalam ayat 46:

 

“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati” (Kisah 2:46).

 

Ini nampak bagi saya bahwa sepertinya setiap makan malam mereka menutupnya dengan Perjamuan Tuhan. Mereka memecahkan roti dan mereka meminum anggur merah bersama-sama.  Ketika Anda mulai memikirkan itu, salah satu dari karakteristik agung dari jemaat yang dibangun Kristus dan dihidupkan oleh Roh Kudus,  ketika Anda mulai memikirkan tentang itu, itu akan mengejutkan Anda.

 

 

BERKUMPUL UNTUK MEMECAHKAN ROTI

 

Saudaraku yang terkasih, apa yang dimaksud dengan memecahkan roti itu? Itu untuk mengingat tubuh Tuhan yang telah dipecah-pecahkan dan dicabik-cabik. Apa yang ada dibalik cawan berisi anggur merah itu? Itu adalah untuk mengingat darah dan hidup-Nya yang telah dicurahkan bagi kita. Apa yang ada di balik kebiasaan memecahkan roti itu? Itu adalah untuk mengingat penderitaan Tuhan kita yang telah mati di kayu salib untuk menebus kita, dan itu juga disebut “Ekaristi” – mengucap syukur kepada Allah dan kemudian memecah-mecahkan roti. Mengucap syukur kepada Allah dan kemudian meminum anggur dari cawan itu. Itu disebut “Ekaristi” yang berasal dari kata “eucharisteo” yang berarti “mengucap syukur,” dan “eucharistia” yang berarti “ucapan syukur.” “Lalu Tuhan mengambil roti dan eucharisteo sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya. Demikian juga Ia mengambil cawan dan Ia  eucharisteo  -- Ia mengucap syukur atasnya dan kemudian mereka meminumnya” (band  1 Korintus 11:23-25). Dapatkah Anda membayangkan bahwa iman itu adalah eucharistic di dalam penderitaan dan kematian? Tidak heran bila mereka mengguncangkan dasar-dasar Imperium Roma – yaitu mereka yang bersukacita dalam berbagai-bagai penderitaan, pencobaan dan kerasnya kehidupan. Apakah Anda memperhatikan orang-orang ini? “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis” (ayat 41). “Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah” (ayat 46), dan bukan hanya itu saja. Ketika saya membaca pasal lima, di sana saya membaca, “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (Kisah 5:41). Mereka telah disesah, namun mereka bersukacita karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama-Nya. Ekaristi Kekristenan (Eucharistic Christianity)—memuji dan mengucap syukur kepada Allah dalam darah dan penderitaan dan kesusahan serta kematian.  Dan sepertinya itupun belum cukup. Dalam 2 Korintus 12, Paulus menulis:

 

“Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:7-10)

 

Ekaristi Kekristenan (Eucharistic Christianity) – ucapan syukur kepada Allah untuk berbagai pencobaan dan penyiksaan dan luka serta air mata. Berbagai penderitaan dan sakit penyakit dan frustasi serta berbagai kekecewaan di dalam hidup, bagaimana Anda menghadapainya? Di dalam segala hal kita mengucap syukur kepada Tuhan. Terimakasih Tuhan, karena saya sakit. Saya telah belajar berdoa:  “Terimakasih Tuhan, karena saya telah menderita. Allah menolong saya. Terimakasih Tuhan, Engkau jauh lebih tahu apa yang ada dalam debu tanah ini.” Saya telah belajar lebih banyak tentang Tuhan dalam kelemahan-kelemahan, sakit penyakit, dalam kekecewaan, dalam kepiluan hati, dari pada mengenal Tuhan dalam kekuatan saya atau kesuksesan dan prestasi saya. Ekaristi Kekristenan (Eucharistic Christianity)  -- memecah-mecahkan roti, meminum anggur dari cawan. Bukankah itu sesuatu yang istimewa? Dan tidak heran bila itu telah mengubah dunia.

 

 

BERTEKUN DI DALAM DOA

 

Dan karakteristik yang terakhir setelah mereka bertekun dalam didache (pengajaran) rasul-rasul dan dalam koinonia (persekutuan). Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti (eucharistic Christianity), mereka berkumpul untuk berdoa. Saya dapat menjelaskan apa yang tertulis di sini, yaitu “di dalam doa,” dengan mudah, frase ini berhubungan dengan kebaktian umum dan persekutuan doa yang sama baiknya dengan menaikan permohonan secara pribadi dalam hubungan pribadi dengan Tuhan. Kita kedatangan pengunjung baru dalam ibadah minggu yang lalu dan salah satu dari mereka berkata: “Saya adalah orang Baptis dan telah menjadi Baptis sepanjang hidup saya.” Dan selanjutnya ia berkata, “Saya tidak dapat menjelaskan kepada Anda betapa terkejutnya saya ketika menghadiri gereja Anda hari ini dan menyaksikan     jemaat Anda berlutut dalam doa. Saya tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.” Sampai saat ini saya belum menemukan kritikan dari gereja-gereja dalam persekutuan Baptis kita, namun saya berpikir bahwa salah satu tafsiran yang paling menyedihkan yang pernah dapat kita buat adalah: Saya sebelumnya tidak pernah melihat jemaat Baptis berlutut di dalam doa – tidak pernah. Inilah yang selalu nampak bagi saya ketika saya berbicara kepada Allah – saya yang tidak lain selain debu dan tanah – bahwa tempat saya adalah menundukkan wajah di hadapan Dia; lutut saya di hadapan Allah yang maha tinggi. Dan salah satu kharakteristik yang membangkitkan jemaat adalah: “mereka selalu berkumpul untuk berdoa.”  “Rumah-Ku,” kata Tuhan dalam kitab nabi Yesaya, “rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa” (Yesaya 56:7). Jemaah Israel selalu berkumpul di depan kemah suci untuk berdoa. Itu jugalah apa yang harus kita lakukan – pergi ke rumah Tuhan, memanggil nama-Nya, membuka hati untuk hadirat Allah dan Kristus dan sorga. Dan Tuhan memenuhi jiwa kita dengan anugerah dan rahmat-Nya. Selanjutnya berdoalah dalam kesendirian Anda; tutuplah pintu dan berdoa secara pribadi kepada Tuhan dimana seorangpun tidak mendengar selain Tuhan. Jemaat mula-mula senantiasa berkumpul dan tekun di dalam doa. – saling mendoakan satu dengan yang lain; berdoa untuk diri kita sendiri; berdoa untuk semua yang kita miliki; berdoa untuk pekerjaan yang ada di tangan  kita. 

 

Setiap kali saya diberi Alkitab baru, saya menuliskan kata itu di dalamnya. Ketika saya diberi Alkitab baru, inilah yang saya tuliskan di dalamnya, yaitu di lembaran Alkitab paling depan:

 

He stands best
Who kneels most. 
He stands strongest
Who kneels weakest. 
And he stands longest
Who kneels lowest. 

 

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan” -- bukan oleh kejeniusan atau kepintaran manusia – “ melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam” (Zakharia 4:6). Amin.