Daftar Isi

 

PENJALA MANUSIA

(FISHERS OF MEN)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diterjemahkan Made Sutomo, MA

 

Matius 4:18-22

10-11-64

 

 

Semua kebaktian di malam hari ini didedikasikan untuk satu khotbah tentang  kehidupan Yesus Kristus.  Malam ini kami memulai dengan lambat karena orang-orang merasa sulit untuk mendengar, saya tahu karena seperti tidak ada kemajuan.  Tetapi, Minggu demi Minggu, setiap Minggu malam, ada bagian dari kehidupan Tuhan Yesus yang akan dibahas pada saat kami berkhotbah.

Saya ingin berkata bahwa saya tidak terasa bahwa waktunya telah tiba, di mana  saat ini saya melihat dan mengalaminya selama berada di gereja ini, gereja bertumbuh dengan pesat.  Saya teringat bahwa selama bertahun-tahun, ketika State Fair dari Texas dibuka, gereja hampir saja ditutup.  Sekolah Minggu menurun secara drastis, dan Training Union menghilang secara dramatis, dan seluruh gereja terpecah-pecah secara drastis.

Waktu itu kami hampir-hampir tidak punya orang.  Kami tidak punya seorangpun di grup paduan suara.  Dan ketika saya mebaca, atau mendengar, jumlah yang hadir tadi pagi di Sekolah Minggu di gereja lokal ini lebih dari 4000, dan malam ini ada lebih dari 1400 di gereja local di Training Union ini.  Dan saya merasa luar biasa untuk berkhotbah di hadapan hadirin yang jumlahnya seperti ini. Saya merasa akan berkhotbah sepanjang malam tentang Injil Anak Allah.  Apakah  Anda mau tinggal di sini sampai pagi untuk mendengarkan khotbah saya?

Adalah suatu hal yang luar biasa untuk memberitakan tentang Tuhan. Sekarang, mari kita memperhatikan kehidupan Yesus dan pelayananNya. Stelah  Tuhan Yesus dibaptis, dengan segera Ia memulai satu pelayanan.  Pelayanan itu tidak pernah ditulis di Injil Sinoptis. Itu hanya dijelaskan dalam Injil Yohanes.

Pada awal pelayanan Tuhan Yesus,  hampir semuanya di Yudea.  Setelah Ia dibaptis dan setelah Ia dicobai oleh iblis, Yesus segera memulai pelayanan pertamanya,  dan murid-murid menemaniNya.

Sebagai salah satu contoh dari pelayanan Yesus adalah ketika Ia diwawancarai oleh Nikodemus di Yerusalem.  Setelah itu Yesus pergi ke Galilea dan dalam perjalanan ke situ ia melewati Samaria.  Dalam Injil Yohanes pasal 4 kita menemui Dia bercakap-cakap dengan perempuan Samaria.

Sekarang, ketika menyusuri danau Galilea, Matius mencatat bahwa di sini Yesus memanggil keempat nelayan untuk menjadi murid-Nya, dan berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”  Bukankankah ini satu konstruksi kata Yunani yang aneh?  Ia memanggil mereka dan  menjadikan mereka penjala manusia.

Sekarang, itulah yang akan saya ajarkan malam ini.  Kita akan mengambil cerita ini dalam Injil Matius dan Lukas.  Pertama kita akan membaca Injil Lukas 5:1-11 untuk melihat kisah yang ditulis oleh Lukas:

 

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 

Ia melihat dua perahu di tepi pantai.  Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalannya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.  Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.  Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”   Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;  Demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

 

Sekarang, dari Injil Sinopsis, Anda akan mempunyai kesan bahwa itu untuk pertama kalinya mereka melihat Tuhan Yesus, pertama kali mereka diperkenalkan dengan Dia.  Dan sewaktu pertemuan pertama, mengapa, mereka meninggalkan jala-jala mereka, ayah mereka, usaha penangkapan ikan yang lama, kehidupan lama dan dunia lama, lalu menjadi murid-murid Tuhan.

Sekarang, kita belajar hal yang berbeda dalam Injil Yohanes. Murid-murid telah bersama dengan Tuhan untuk  satu kurun waktu yang lama.  Mereka telah berjumpa dengan Dia di sana di tepi Sungai Yordan.  Mereka adalah murid-murid Yohanes Pembaptis.

Murid-murid mendampingi Tuhan Yesus selama dalam pelayanan awal di Yudea. Mereka telah bersama dengan Dia dari Kana di Galilea ketika Ia mengubah air menjadi anggur. Dan mereka kembali ke Yudea bersama Dia di dalam pelayanan di antara orang-orang di Yerusalem.  Mereka telah pergi bersama Dia di seluruh Samaria dan kemudian kembali ke Galilea lagi.

Sekarang setelah kembali ke Galilea, hari itu juga mereka kembali ke pekerjaan mereka yang lama. Dalam cerita itu kita membaca bahwa sepanjang malam mereka berusaha keras untuk menjala ikan, namun hasilnya nihil.  Keesokan harinya, setelah mereka mengalami kegagalan untuk menangkap ikan, tiba-tiba Tuhan Yesus datang ke Galilea lewat laut untuk menjumpai mereka.  Ketika Ia melihat keempat nelayan ada di tepi pantai, Ia berkata kepada mereka, “Ikutlah Aku.”

Untuk kita, panggilan itu bisa berarti hanya mengikut Dia berjalan di sampingNya.  Tetapi, untuk para murid yang mendengar panggilan itu, hal tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa karena yang memanggil adalah Tuhan. Nampaknya mereka tahu bahwa panggilan itu adalah panggilan untuk mengikuti secara permanen. Panggilan itu adalah panggilan untuk mengesampingkan semua kehidupan dan dunia mereka, jala-jala, ikan, danau, dan semuanya, untuk mengabdikan hidup mereka secara penuh dan seutuhnya kepada Tuhan Yesus.  Itulah maksud Tuan ketika Ia memanggil keempat orang ini.  Itulah maksud dari kata-kata Yesus ketika Ia berkata, “Ikutilah Aku.”


            Kata “Ikutilah Aku” mengandung tiga hal di dalam panggilan Yesus yang disadari oleh murid-murid.  Pertama, oposisi untuk menganiaya Yesus telah muncul. Namun itu kecil sekali.  Itu kelihatan sebesar telapak tangan orang lelaki dewasa. Tapi, penganiayaan yang lebih besar itu akan datang.

Dan ketika Tuhan memanggil murid-murid untuk mengikuti Dia, mereka tahu bahwa kesulitan-kesulitan sudah menunggu mereka.  Mereka telah memberikan hidup mereka untuk mengikuti Tuhan, dan mereka sadar bahwa dalam melaksanakan pelayanan misi dan tugas untuk memuridkan akan ada kesulitan dan kesukaran.

Namun demikian, ada hal penting yang pada akhirnya mereka tidak sadari.  Ketika Tuhan berkata, “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?”  Mereka langsung menjawab, “Kami dapat.” (Mat. 20:22).

Saya pikir mereka tidak menyadarinya apa yang dikatakan oleh Yesus. Yakobus, salah satu dari mereka, kepalanya dipenggal oleh Herodes Agrifa.  Simon Petrus disalib dengan kepala di bawah. Yohanes ditempatkan di pulau yang sepi supaya ia mati karena terik matahari dan kelaparan.  Dan tentu saja semua tradisi mengatakan bahwa Andreas mati sebagai martir.  Mereka mengerti tugas yang besar yang menjadi panggilan mereka, satu tugas dengan kesulitan dan oposisi yang berat.

Kedua, Tuhan Yesus memanggil mereka untuk tugas pemuridan. Tugas ini menuntut menyerahkan segala yang mereka tahu dan miliki.  Dan nampaknya mereka mengerti sedikit artinya berpisah dengan ayah dan ibu serta keluarga.  Yang jelas itu berarti bahwa mereka harus menyangkal diri, mengesampingkan tempat, rumah, keluarga dan anak-anak.  Itu berarti mengesampingkan kehidupan, semua yang mereka pernah tahu.  Dengan kata lain, seluruh kehidupan mereka tinggalkan di belakang. 

Ketiga, panggilan untuk menjadi penjala manusia.  Ketika Tuhan Yesus mengundang murid-muridNya Ia berkata,   “Ikutlah aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manuasia”  (Markus 1:17). Di dalam kalimat itu ditaruh kata  genesthai di dalamnya.

Kata-kata dalam panggilan ini kelihatannya sangat aneh. Tidak ada seorang rabi yang membuat undangan seperti itu.  Semua murid-murid lain yang diajar oleh para rabi  akan mengikut guru-guru mereka untuk belajar sesuatu.  Misalnya, seperti Saul dari Tarsus datang dari ibukota Cilicia, di sekitar Asia Kecil, dan sebagai murid ia akan duduk di hadapan Gamaliel, dan belajar semua hal mengenai hukum rabi. Dengan demikian ia menjadi murid Gamaliel.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa mereka yang belajar dari guru-guru seperti itu biasanya hanya mengikuti perintah dan arah tujuan yang mereka sudah pilih bagi hidup mereka.  Tapi, panggilan Yesus sangat berbeda, karena Ia memanggil mereka untuk menjadi sesuatu yang mereka tidak pilih. Dia memanggil mereka untuk melakukan sesuatu, dan sangat berbeda dengan murid yang duduk di bawah kaki seorang guru untuk belajar sesuatu. 

Sebagai Guru, Yesus tidak seperti rabi lain yang mengajar di Israel.  Yesus mengajar murid-muridNya untuk melakukan sesuatu. Saya perlu berhenti sejenak untuk menjelaskan perbedaan gereja kami dengan gereja-gereja lain yang saya tahu.

Ada beberapa orang yang saya tahu sangat bersemangat, saleh, dan suka untuk berkumpul bersama dan mendengarkan Firman yang dijabarkan.  Mereka juga suka belajar hal-hal yang dalam tentang Tuhan. Dan mereka memberikan diri mereka untuk menjadi murid, seperti Saul dari Tarsus, mirip dengan murid-murid di sekolah rabi Hillel dan Shimmai dan yang lain-lain dari pusat-pusat pelatihan teologi.

 

Tetapi pemuridan yang sejati dari Tuhan kita mempunyai panggilan yang berbeda.  Kita tidak hanya dipanggil untuk belajar.  Kita tidak hanya dipanggil untuk memperdalam ilmu.  Kita tidak hanya dipanggil untuk membuka hati kita akan kebenaran-kebenaran Tuhan, supaya Tuhan dapat mengajar kita.  Tapi, kita dipanggil untuk menjadi sesuatu, dan kita dipanggil untuk melakukan sesuatu.

Ini adalah tantangan yang besar bagi para murid: “Engkau datang kepada-Ku.  Engkau mengikuti Aku, dan Aku akan menjadikan engkau sesuatu.  Aku akan mengajar engakau untuk melakukan sesuatu.  “Ikutilah Aku, dan Aku akan menjadikan kamu penjala-penjala manusia.”

Jadi, para murid telah meninggalkan semuanya, dan mereka sekarang mengikuti Tuhan Yesus.  Lalu, Lukas mengatakan sesuatu tentang Simon Petrus sewaktu ia dipanggil.  Tuhan berkata kepada Simon Petrus, “Dorong perahu ini lebih ke tengah lagi.  Dayung lebih jauh dari pantai, karena orang banyak yang berdesak-desakan  membuat Aku tidak bisa melihat mereka dan tidak bisa berbicara kepada mereka.

Setelah berkata demikian, Yesus pun naik ke perahunya dan Simon mendayungnya sedikit jauh ke dalam.  Di sini kita melihat Tuhan Yesus menggunakan perahu sebagai mimbarNya dan Ia mengajar kepada orang banyak.  Kemudian, setelah Ia menyampaikan pesan dalam pengajaranNya, Simon Petrus sekaligus mendengarkan segala sesuatu yang disampaikan oleh Yesus.  

Saya bisa mengerti perasaan Simon Petrus.  Mungkin saja ia berkata,  “Tuhan, Engkau telah memanggilku untuk menyampaikan pesan Allah dan menangkap jiwa-jiwa bagi Yesus, dan menyampaikan kabar baik tentang kerajaan Allah yang luar biasa itu.  Dan Tuhan, saya tidak tahu bagaimana saya bisa melakukannya. Saya belum pernah merasakan ketidaklayakkan yang begitu rupa dalam hidup saya.”

Itulah yang saya maksud mengapa Simon Petrus, ketika ia melihat begitu banyaknya ikan-ikan yang ditangkap, akhirnya berlutut di kaki Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku seorang berdosa.”

 

Itulah yang saya maksud mengapa Simon Petrus melakukan hal itu.  Apa yang terjadi dalam pikirannya? Apa yang terjadi di hatinya, yang membuat ia bertekuk lutut di kaki Yesus ketika ia melihat jumlah ikan-ikan yang ditangkap, berkata, “Tuhan, saya sangat tidak layak.  Jauhilah saya, Tuhan.  Tuhan, saya orang yang sangat berdosa.” 

Simon Petrus duduk di sana di perahu yang ia miliki, dan ia mendengar pengajaran Tuhan Yesus yang luar biasa.  Petrus melihat bahwa ketika Yesus mengajar dari atas perahunya, sebenarnya secara rohani  Tuhan Yesus telah melempar jala rohani untuk menangkap jiwa-jiwa.  Simon Petrus mendengarkan apa yang diperintahkan Yesus lalu menebarkan jalanya, dan iapun menangkap sejumlah besar ikan-ikan.  Itulah bentuk pelayanan yang Yesus maksudkan ketika Ia memangil mereka. 

Dan karena merasa begitu kotor dan merasa tidak mampu, maka pastilah Petrus berpikir dalam hatinya. “Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal itu? Bagaimana saya bisa menyampaikan pesan seperti itu? Bagaimana saya bisa menjadi penjala manusia seperti itu?”  Petrus sedang membayangkan jala-jala yang ia tebarkan sepanjang malam dalam prospek sebagai penjala manusia, seperti Tuhan Yesus, yang sedang berdiri di sana, menebarkan jala sepanjang malam, dan apa yang ia peroleh  hanyalah sebuah jala yang kosong, penuh dengan lumpur, pasir dan pecahan batu-batu.  Tetapi pagi itu, ketika Tuhan datang, Petrus sedang mencuci dan memperbaiki jalanya yang kotor dan kosong itu.  Itulah yang dialami dan dirasakan oleh Simon Petrus.

Tahukah Anda apa yang saya rasakan selama bertahun-tahun? Sekarang saya merasa senang, saya merasa bersyukur karena saya telah melewati masa-masa itu karena pimpinan Tuhan. Atas pimpinan dan anugerahNya saya menjadi seorang pengkhotbah dan gembala sidang.  Tetapi, tahukah Anda bahwa selama 37 tahun saya sering mimpi kegentaran, ketakutan dan perasaan tidak mampu yang tidak dapat dijelaskan ketika saya memulai pelayanan ini sewaktu saya masih berumut 17 tahun?

            Pada masa-masa itu saya menghabiskan waktu saya sepanjang sore pada hari Minggu, menangis dan menangis.  Saya pergi ke kamar saya, dimana saya tinggal, menutup pintu, dan menundukkan kepala berdoa dan menangis dan menangis.

            Saya telah mencoba sebaik mungkin untuk berkhotbah pada minggu pagi itu.  Saya mempunyai jemaat yang kecil, antara 18 hingga 20 orang.  Saya mencoba sebaik mungkin tapi saya merasa gagal.  Saya tidak dapat membaca Firman, tidak dapat membuat sebuah khotbah, tidak dapat menyampaikan berita firman Tuhan, dan sore itu yang dapat saya lakukan hanyalah menangis dan menangis.

            Ketika saya keluar dari gereja, saya merasakan kegentaran dalam jiwa dan ketakutan yang begitu menggeluti hati saya.  Saya ingin berkata kepada Anda,  setelah 37 tahun melayani, saya masih sering bermimpi seperti itu dan perasaan ketakutan dan kegentaran itu sering datang.  Bila itu datang saya hanya bisa berkata, “Tuhan, saya tidak mampu. Tidak mungkin saya bisa melakukan hal itu.”

            Itulah kira-kira yang dirasakan oleh Simon Petrus ketika ia mendengarkan  Tuhan Yesus.  Tuhan memanggil Petrus untuk menyampaikan pesan Tuhan, menyampaikan kabar baik Tuhan, menjadi penjala manusia.

            Dan Tuhan berkata, “Baik, Simon, kita akan memperoleh sebuah pelajaran.” Oleh sebab itu, sekarang dayunglah perahu ini ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu dan tangkaplah ikan.”  Dan Simon berkata,”Tuhan, tidak ada gunanya.  Saya tidak dapat melakukan hal itu. Saya tidak mampu, saya tidak kuat, saya tidak tahu bagaimana caranya, Tuhan. Saya telah mencoba sepanjang malam, sepanjang malam kami telah berusaha dan kami tidak mendapatkan apapun.”  Tuhan berkata kepada Simon, “Simon, ketika engkau gagal, itu adalah tanda dari surga untuk mencoba lagi.” Hanya itu.  Ketika engkau tidak berhasil, Firman Tuhan untukmu adalah: Besarkan hati dan cobalah lagi. Hanya itu saja yang engkau perlu lakukan.

 

Bila kita gagal, maka kita perlu berkata kepada Tuhan, “Tuhan, ajarlah kami. Taruh pelajaran itu dalam hati kami. Dan apa yang kami lakukan boleh menyenangkan Tuhan.  Jadi, bila kita dipanggil untuk melayani Tuhan, janganlah patah semangat.  Jangan mundur, tetapi kita harus kuat bertahan dan terus bertahan.  Ketika Anda gagal, cobalah mulai lagi.  Ketika Anda tidak berhasil, pesan Tuhan adalah: coba lagi, dan coba lagi. Hanya itu.

Simon menjawab dan berkata, “Tuhan, kami telah berusaha sepanjang malam tetapi tidak mendapatkan seekorpun.  Tetapi yang kami peroleh hanya jala-jala yang robek, pasir, lumpur dan kerikil serta batu-batu.”  Tetapi Tuhan berkata, “Simon, dayunglah perahumu ke sana, dan tebarkanlah jala itu di situ.”

Perhatikan kata-kata Simon Petrus sebagai tanda dari penyerahan dirinya. Ia berkata, “Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah Simon Petrus menebarkan jalanya sesuai dengan perintah Tuhan,  maka merekapun menangkap sejumlah ikan yang besar dan jala merekapun hampir koyak. 

Simon Petrus memanggil rekan-rekannya dan Andreas, Yakobus dan Yohanes datang menolong dia. Merekapun mengisi kedua perahu mereka sampai penuh sehingga kedua perahu itu hampir tenggelam.  Ketika Simon Petrus melihat akan hal itu, pada saat itulah, dia berlutut di kaki Yesus, sambil berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (Lukas 5:8).

Tuhan dapat melihat banyak ikan di bawah sana.  Ia dapat melihat gerombolan ikan di bawah sana dan Ia melihat dasar dari danau itu.  Dan itu berarti, jika Tuhan dapat melihat dasar dari laut, Tuhan juga dapat melihat dasar dari hati saya dan dasar dari jiwa saya dan lapisan-lapisan yang di bawah dan yang terdalam dari hidup saya.

Lalu Ia berkata kepada Simon Petrus, “Jangan takut, dan teguhkanlah hatimu. Mulai saat ini engkau akan menangkap manusia.”

Demikianlah kisah Simon Petrus. Itulah bentuk dari kehidupannya.  Tuhan Yesus pernah berkata kepadanya: “Simon, Simon, iblis telah menanti untuk menampi engakau seperti gandum.  Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudarmu. Aku telah berdoa untuk engkau. Dan ketika Simon menyangkal Tuhan, Tuhan melihat dia, dan ia berlari dan menangis dengan sedihnya.

Namun Simon Petrus kembali karena Tuhan tahu dia akan melakukan hal itu.  Dia berdiri di hari Pantekosta, dengan berani dan tegar seperti seekor singa, dan berkhotbah tentang Injil Anak Allah.  Tetapi perhatikan kata-kata Yesus kepadannya, “Jangan takut, Simon, mulai saat ini engkau akan menangkap manusia.”

Oh, betapa mulianya bahwa Tuhan tahu semuanya tentang kita.  Ia tahu segala kekurangan dan kelemahan kita, tetapi tetap memilih kita, mengerti dan bersimpati dengan kita.  Ia memanggil dan memberkati kita serta menguduskan pekerjaan dari tangan-tangan kita.  Dan ketika kita tahu banyak hal satu sama lain, kita dipenuhi dengan kejijikan dan kita saling mengkritik dan tidak saling menyukai dan sebagainya. Tetapi sikap Tuhan terhadap kita sangat berbeda. Ia tidak memperlakukan kita seperti itu?   Ia tahu semuanya tentang Anda, sampai ke kedalaman jiwa Anda.  Tetapi, Dia tetap mengasihi dan memanggil Anda dan berkata, “Berdirilah. Jangan takut.  Aku telah memilih engakau untuk menjadi seorang penjala manusia.”

 

Sekarang, saya ingin menyampaikan beberapa hal mengenai hal itu, dan setelah itu, saya harus menutupnya.  Tuhan berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”  Pernahkah Anda berjalan di jalan dan menemui seorang pria yang ada tanda kail emas di kerah jaketnya?   Kadang-kadang saya melihat hal itu.  Saya pikir itu adalah salah satu hal yang terbaik di dunia.

Ketika saya melihat pria dengan tanda kail dari emas itu, saya menghampiri dia dan berkata kepadanya,  “Apakah anda bergabung dengan Coon Creek di sana, satu perkumpulan nelayan, atau apakah anda bergabung dengan suatu klub, atau apakah anda bergabung dengan klub lainnya?”

Dan ia berkata, “Oh, tidak.”

Lalu, kemudian, saya bertanya lagi, “Apa arti simbol itu?”

Dan ia berkata, “Saya telah memberikan hidup saya untuk menjadi seorang penjala manusia.  Saya tergabung dengan perkumpulan nelayan, menangkap jiwa-jiwa untuk Yesus.”

Bukankah ini sesuatu hal yang indah? Dan tentunya, Tuhan dapat membuat seseorang untuk menjadi penjala manusia.

Sekarang, saya ingin memberitahukan sesuatu hal yang saya lakukan minggu lalu. Saya pergi ke perkumpulan Amerika latin kita di Kapel Calvary. Dan saya mendengar Homer Martinez, seorang anak lelaki Katolik di San Antonio, yang baru diselamatkan dengan luar biasa.

Dan saya mendengar Homer Martinez mewartakan injil.  Dan ketika ia maju untuk berkhotbah, entah kenapa, ia berkata, “Sungguh senang melihat pendeta kita ada disini. Dan setelah kebaktian selesai, saya ingin pendeta kembali dan menemui saya.  Saya telah membawakan sebuah buku untuk dia dan saya ingin dia memiliki buku ini.”

Lalu, setelah kebaktian selesai, saya pergi untuk mengambil buku yang akan diberikan kepada saya. Tidak jadi masalah apapun pemberian itu saya akan terima, karena setiap pemberian adalah sesuatu yang indah.  Ketika saya pergi mengambil buku tersebut, dan sungguh saya tidak dapat membayangkan betapa senangnya saya ketika saya menerima buku tersebut.  Buku itu adalah The Conversion of Cyclone Mac, Baxter MClendon and Other Sermons.

 

Sebenarnya, saya telah mendengar tentang Cyclone Mac semenjak saya masih kecil.  Dan ketika saya ada di Kentucky dan berkhotbah di sana, saya melihat tulisan-tulisannya ada dimana-mana.  Dia mengadakan pertemuan-pertemuan di seluruh negara bagian itu dan suatu pertemuan yang luar biasa, yang diberkati Tuhan.  Saya tidak pernah bertemu dengan dia, karena ia meninggal sebelum saya punya kesempatan untuk mengenal dia.  Tetapi saya lihat pengaruhnya dimana-mana, selagi masih di Kentucky.

Dan buku khotbah yang ditulis Cyclone Mac, yang pertama adalah cerita tentang pertobatan dia.  Tentu, saya ingin Anda tahu  bahwa saya pergi ke rumah lalu  masuk ruang belajar, dan sayapun mulai membaca tentang pertobatannya.  Tahukah Anda bahwa begitu saya membuka halaman buku itu saya mulai menangis dan menangis.  Sama sekali belum pernah ada cerita semacam itu selama hidup saya. 

Mengapa saya katakan demikian? Memang sulit untuk dipercaya karena hal itu sungguh luar biasa, sungguh ajaib.  Begitu mulia bagaimana Tuhan dapat membawa seorang murtad yang tua, seorang penjudi, pemain poker, pemabuk, pencuri, penipu dan segala hal yang jahat dan yang bersifat jahat, fasik dan buruk, tetapi ia bertobat  dan Tuhan mengutus dia menjadi seorang pengkhotbah injil Tuhan yang mulia. 

Tuhan Yesus berkata, “Mari, ikutilah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Matius 4:19).

Oh, sungguh mulia.  Sungguh ajaib apa yang Tuhan dapat kerjakan dalam hidup seseorang. Kita patut berdoa kepada Tuhan dengan berkata, “Tuhan, sucikan dan kuduskan segala usaha dari tangan-tangan kami, muliakan kesaksian kami, jadikan kami manis dan berharga dan baik, daripada menjadi buas dan sinis dan jahat.  Berikan kami hati yang baru, kepribadian baru, sebuah lagu dalam jiwa kami dan kemulian dalam hati kami.  Biarlah sinar mataMu memancar, api dihembuskan dalam nada ucapanMu.  

Kita semua berbeda tapi Tuhan dapat melakukan banyak hal melalui kita dan  memberkati kesaksian kita.  “Ikutilah Aku dan Aku akan menjadikan kamu penjala-penjala manusia.” Ya Tuhan, anugrahilah itu kepada kami malam ini!

Ketika saya telah selesai, bolehkah saya membuat suatu undangan, selagi Anda mendengarkan radio?  Suatu kali, seseorang menulis kepada saya, yang bunyinya, “Selagi saya berkendaraan di jalan raya, saya mendengar khotbah Anda.” 

            Saya menerima sebuah surat yang saya wartakan di Reminder.  Sebuah pesawat terbang di atas Dallas dan orang ini mendengar seluruh kebaktian kami. Dia sedang memiliki pergumulan di dalam jiwanya.

            Dan ia berkata, “Saya menemukan suatu dorongan dan penghiburan di dalam Tuhan, selagi terbang di atas Dallas.  Khotbah itu hanya berlangsung sampai di perbatasan, di garis perbatasan dengan Meksiko Baru,”

            Anda yang sedang mendengarkan di radio, jika engkau ingin untuk memperoleh kemuliaan, dorongan, damai dan pertolongan dari sorga dan hadirat Tuhan dalam hidupmu,  izinkan Yesus membuat engkau menjadi seorang murid Tuhan, seorang pelayan di kebun anggur Yesus.

            Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku.”  Saudaraku, terimalah  undanganNya. Dan lihatlah, jikalau tidak ada hari yang baru, kemuliaan baru, sukacita baru, kebahagiaan baru, kemenangan baru, tujuan akhir yang baru.  Itulah yang Tuhan mampu lakukan.  Dia telah menciptakan kita dan Ia dapat menciptakan kita kembali menjadi baru.

            Malam ini, jika engkau memberikan hatimu kepada Yesus dan bergabung dengan persekutuan gereja ini, sambil kita menyanyikan himne undangan, saya memberi kesempatan kerpada Anda untuk datang.  Jadikan malam ini malam yang khusus dalam hidupmu.

            Ada sebuah tangga di depan dan di belakang, di dua belah sisi.  Anda mempunya waktu dan kesempatan untuk datang saat ini.  Di lantai bawah, di lorong ini, dan di depan sini.  Katakan, “Pak pendeta, malam ini saya berbalik kepada Yesus.  Saya membuka hati saya atas panggilan dan undangan Tuhan. Saya akan mengikuti Dia. Mulai saat ini, Tuhan memiliki saya.  Tuhan akan mengisi saya.  Tuhan dapat membawa saya dan saya datang.  Inilah saya.

            Dia memanggil Anda malam mini, “Mari, ikutlah Aku.” Datanglah dan bergabunglah dengan kami yang telah menemukan Tuhan pemenang atas hidup kami.  Lakukan sekarang. Lakukan sekarang juga. Sementara kita berdiri dan sambil kita bernyanyi, datanglah.