Daftar Isi

 

PEMILIHAN ALLAH MENJADI DASAR KETEKUNAN UMAT-NYA

(GOD’E ELECTION OF HIS PEOPLE’S PERSEVERANCE)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dikhotbahkan pada kebaktian Minggu Malam, 26 September 1982

di First Baptist Church in Dallas

 

Bagian ini adalah bagian yang terakhir dari empat belas khotbah tentang Soteriologi, atau doktrin keselamatan. Dan saya pikir sudah seharusnyalah saya membahas berhubungan dengan pemeliharaan dan ketekunan umat pilihan Allah.

 

Mari kita membuka Filipi 1:3-6:

 

“Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

 

Hari Tuhan adalah periode waktu yang panjang ketika Allah mengakhiri sejarah dispensasi ini dan hari penghakiman/kesusahan besar tiba. Hari Tuhan Yesus Kristus adalah hari penampakkan-Nya, hari kedatangan-Nya, dan hari kebangkitan, dan hari pengangkatan orang percaya, Rapture, hari di mana kita berjumpa dengan Tuhan kita di udara. “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”

 

Ada bahaya yang mengerikan bagi setiap sisi kehidupan Kristen, setiap menit, setiap hari. Seperti itulah kehidupan fisikal kita. Betapa bila kita masih hidup sekarang ini adalah karena mujizat Tuhan. Pernahkah Anda melihat volume buku-buku tentang medis dan banyaknya penyakit yang dapat menyerang kita. Jumlahnya ribuan dan jenisnya bermacam-macam. Ada bermacam-macam mikroorganisme, bakteri, kuman, parasit, virus, mikroba. Semua itu adalah jenis-jenis penyakit yang dapat menyerang kita selain kecelakaan yang dapat mencelakakan kita, api dan demam tinggi yang dapat menyerang kita. Bagaimana anak kecil dapat hidup dalam menghadapi berbagai serangan ini, itu adalah mujizat Tuhan. 

 

Ini hanyalah gambaran kehidupan Kristen yang juga menghadapi bahaya mengerikan dari berbagai macam sakit penyakit yang tak terhitung jumlahnya dapat menyerang kita kapan saja. Secara harfiah sebagai orang Kristen kita seperti berada di antara tebing dan celah di tengah serangan 10,000 anak panah.

 

Itu benar-benar mujizat kehidupan Kristen. Seperti api di tengah samudera yang paling dalam, seperti batu karang besar menggantung di angkasa, seperti angsa berenang di sungai berlumpur. Itulah mujizat kehidupan orang Kristen.

 

Salah satu tanda dari pemilihan Allah adalah pemeliharaan Allah terhadap kehidupan Kristus secara terus menerus di tengah dunia yang bobrok ini. Jika seseorang menjadi murtad, berarti ia tidak dipilih, ia bukanlah orang pilihan. 1 Yohanes 2:19 berkata:

 

“Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita.”

 

Umat pilihan Allah akan tetap tekun atau tidak akan meninggalkan imannya. Mereka akan tetap setia sampai mereka tiba di pintu gerbang sorga suatu saat nanti dan masuk ke dalamnya. Mereka tidak akan gagal. Mereka tidak akan murtad, karena pemeliharaan Allah terhadap umat pilihan-Nya.

 

Ayat ini adalah suatu ringkasan atau kesimpulan yang baik sekali berhubungan dengan doktrin ini dan Alkitab terus menerus berkata: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”—yaitu hari kedatangan sang Juruselamat kita.

 

 

KETEKUNAN ORANG-ORANG KUDUS

ADALAH PEKERJAAN ALLAH

 

Paulus dengan terus terang berkata bahwa karya anugerah dan keselamatan adalah pekerjaan Allah. Dia yang mengerjakannya. Dan ketika  Anda memikirkannya, dalam pengalaman kita sendiri, dan menurut Kitab Suci, itu sungguh nyata bahwa semua itu adalah pekerjaan Allah: dan pekerjaan Allah itu sudah kita rasakan dari sejak permulaan pengalaman kita menjadi orang Kristen.

 

Alkitab berkata “kita mati di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita” (Efesus 2:1), dan tidak ada orang mati dapat membangkitkan dirinya sendiri. Kebangkitan adalah pekerjaan Allah. Hanya Allah  yang dapat mengerjakan itu. Manusia yang telah rusak atau bobrok (corruption) tidak dapat menerima warisan yang tidak rusak/bobrok (incorruption). Manusia duniawi yang fana tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri. Ia tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri dari sejak mulai sampai akhirnya.  

 

 

Allah yang Memulai Karya Keselamatan

 

Api neraka tidak memperanakkan benih-benih sorgawi, dan nyala api Gehena tidak akan berubah menjadi sukacita dan damai sejahtera kekal. Sejak semula Allah lah yang mengerjakan keselamatan dan pembaharuan di dalam diri kita. Jika Ia tidak melakukannya, kita tidak akan pernah hidup. Kita tidak akan pernah dihidupkan kembali. Kita tidak akan pernah dilahirkan kembali.

 

 

Allah juga yang Menyelesaikan Karya Keselamtan

 

Ayat ini juga berkata bahwa Allah yang menyelesaikan pekerjaan itu. Ia yang meneruskannya sampai pada akhirnya. Itu adalah ketetapan Bapa agar kita diselamatkan, agar kita dipelihara, sehingga kita tekun dalam iman kita. Itu adalah pekerjaan Kristus agar kita tetap terpelihara di dalam Dia.  Kasih penebusan-Nya telah membayar lunas penghukuman semua dosa-dosa kita. Dan Ia bangkit dari antara orang mati untuk pembenaran kita, dan Ia hidup di sorga untuk menjadi pengantara kita. “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Roma 5:10), yaitu hidup-Nya di sorga. “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7:25).

 

Itulah yang dikerjakan Kristus sekarang di sorga untuk memelihara kita agar kita tetap selamat, menjaga kita sampai akhir keselamatan kita. Allah yang melakukan itu, dan Roh Kudus bekerja bersama dengan Bapa dan dengan Anak di dalam hati kita, di dalam hidup kita, di dalam pengalaman kita, agar kita terus berjalan di dalam jalan musyafir kita. Rasul berkata bahwa pekerjaan ini dimulai oleh Allah dan akan diakhiri oleh Allah yang mahakuasa yang sama.

 

Apakah Anda memperhatikan bagaimana ia menjelaskan pekerjaan anugerah, untuk memelihara ketekunan orang-orang percaya ini? Ia berkata: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus,” yaitu kedatangan Tuhan kita yang kedua kalinya.

 

 

KETEKUNAN ORANG-ORANG KUDUS

ADALAH “PEKERJAAN YANG BAIK”

 

 

Kata “baik” – “perkerjaan yang baik.” Bahkan dalam bahasa Inggris, ini adalah kata yang indah: “good.” Dalam bahasa Yunani menurut saya lebih indah lagi. Dalam bahasa Yunani kata yang diterjemahkan “baik” di sini adalah agatha. Jika Anda memiliki anak gadis, dan Anda ingin memberikan nama yang indah kepadanya, beri nama anak itu, Agatha, yang berarti “baik.”

 

Ketika seorang muda kaya datang dan membungkuk di hadapan Yesus, ia berkata: Didaskale agathe, “Guru yang baik.” Dan Tuhan menjawab dia: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang agatha? Hanya Satu yang agatha, yaitu Allah” -- KJV (Matius 19:17) 

 

 

Hanya Allah yang Baik

 

Hanya Allah yang baik, agatha. Dan itu adalah kata yang indah yang Paulus gunakan untuk menjelaskan apa yang Allah kerjakan dalam hidup kita: pekerjaan agatha, pekerjaan yang baik.

 

Jika manusia dipulihkan dari sakit ke dalam kekuatan, kesehatan, itu adalah pekerjaan baik; adalah sesuatu yang ajaib jika orang miskin dapat dibawa ke dalam kondisi kecukupan; adalah sesuatu yang ajaib bila orang yang tidak berpendidikan menjadi orang yang sangat brilian, bijaksana dan terdidik. Semua ini adalah hal-hal yang baik. Itu semua adalah hal-hal yang sangat baik: yang sakit menjadi sembuh; miskin menjadi kaya; yang tidak berpendidikan kini terpelajar. Itu adalah hal yang agung.

 

Namun itu semua tidak dapat dibandingkan dengan “pekerjaan yang baik”, atau pekerjaan agatha yang membebaskan manusia dari kegelapan kepada terang, membebaskan dia dari perbudakan kebobrokan ke dalam kemerdekaan Anak Allah, diangkat menjadi anak-anak Allah, menjadi anak Raja. Tidak ada hal yang baik manapun yang dapat dibandingkan dengan ini semua, yaitu keselamatan di dalam Kristus.

 

 

Cara Allah Menyempurnakan Pekerjaan Baik ini

 

Sehingga Paulus menyebutnya sebagai “pekerjaan yang baik” yang Allah kerjakan di antara kita. Ketika saya membaca Surat-Surat Paulus, dan menjadikan ayat ini sebagai latar belakang untuk bab ini, bahwa kata “pekerjaan yang baik” ini mengimplikasikan, yang termasuk di dalamnya banyak hal di dalam kehidupan kita, bahkan yang kelihatannya mungkin tidak dapat kita sebut “baik.” Ini kadang-kadang mengimplikasikan suatu keadaan yang sangat menyedihkan dan dalam penderitaan. Seringkali Allah memimpin kita melalui berbagai macam kesusahan yang mendalam. 

 

Dr. Edward Judson adalah anak Adonirum Judson, seorang misionari terkenal. Dan pada acara peresmian gereja Judson Memorial Baptist Church di New York City, anak dari Adonirum Judson, yaitu Dr. Edward Judson adalah pembicaranya. Dan saya mengutip kalimat ini dari dia: “Penderitaan dan sukses saling berkaitan atau seiring sejalan. Jika Anda sukses tanpa penderitaan, itu karena orang lain sebelum Anda yang telah menderita. Jika Anda menderita tanpa menemukan kesuksesan, orang lain setelah Anda mungkin akan sukses.”

 

Pertama, Kadang-Kadang Melalui Kesusahan dan Penderitaan

 

Dalam hikmat Allah, ketika Ia mengerjakan “hal yang baik” bagi kita, ia memimpin kita ke dalam berbagai macam pengalaman atau masa sulit. Bahkan kadang-kadang itu sungguh memilukan.

 

Dalam kehidupan Rasul Paulus sendiri, yang menulis ayat ini – “pekerjaan baik” yang Allah kerjakan bagi kita – di dalam surat 2 Korintus pasal pertama ia berkata: “Rasanya seperti sudah dijatuhi hukuman mati saja. Tetapi hal itu terjadi supaya kami jangan bersandar pada kekuatan diri sendiri, melainkan pada Allah yang menghidupkan orang mati.”

 

Paulus berkata: “Di provinsi Asia, aku merasa seperti sudah dijatuhi hukuman mati saja.” Kemudian ketika saya membaca separuh terakhir dari 2 Korintus 11 sampai separuh awal dari 2 Korintus 12, Paulus menjelaskan kesedihan dan kesusahan serta kesulitannya yang tak terhitung jumlahnya: “Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu” (2 Korintus 11:26), dst.

 

Kemudian sampai ke pasal berikutnya ia berkata: “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku” (2 Korintus 12:7). Kata Yunani yang diterjemahkan “duri di dalam daging” ini  adalah “skolops te sarki yang menunjukkan berbagai penderitaan tragis. Dan untuk itu ia berkata, “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku” (2 Korintus 12:7). Dan Tuhan menjawab: “Tidak. Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

 

Oleh sebab itu Rasul Paulus berkata, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:10). Itu lah Allah. Itu lah “hal yang baik” yang Allah kerjakan di dalam hidup kita.

 

Di sini, di dalam pasal yang kita jadikan dasar pembahasan kita ini, Paulus berkata: 

 

“Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus” (Filipi 1:12-13)

 

Paulus adalah sosok yang luar biasa. Ia menulis 13 Surat yang masuk ke dalam kanon Perjanjian Baru. Dan orang ini justru berkata bahwa dalam penderitaannya justru itu akan menyebabkan kemajuan Injil.

 

 

Kedua, Kadang-Kadang Melalui Hukuman

Demi Kebaikan Kita

 

“Pekerjaan yang baik” yang Ia sedang lakukan di dalam diri kita kadang-kadang datang kepada kita melalui suatu hukuman demi kebaikan kita.   Dalam Ibrani 12, penulis kitab ini berkata: “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang” (Ibrani 12:6-8).  

 

 

 

Ketiga, Kadang-Kadang Melalui Api Pemurnian

 

Kadang-kadang Allah mengerjakan pekerjaan baik ini bagi kita dengan memasukkan kita ke dalam api peleburan dengan tujuan untuk kemurnian iman kita.

 

Saya pernah menyaksikan peleburan intan permata di Bangkok, dan betapa indah dan cemerlangnya permata yang telah dimurnikan itu. Pohon anggur harus dipapras carang-carangnya agar bisa berbuah lagi. Suatu porselin adalah tanah liat yang melalui proses pembakaran. Otot perlu ditempa agar menjadi kuat.

 

 

Keempat, Semua itu untuk Kebaikan Kita

 

Ada karakter dan kekuatan jiwa di dalam pencobaan-pencobaan dalam hidup kita. Tuhan memimpin kita dalam perjalanan musyafir kita. Paulus berkata bahwa “pekerjaan yang baik” Allah memiliki tujuan dalam hidup kita, dan seringkali kita menerimanya bersama dengan keputus-asaan, duka, kesedihan, kesulitan, berbagai pencobaan dan kefrustasian serta berbagai kekecewaan. Semua hal ini Allah ijinkan menimpa kita dan melaluinya Allah sedang menyempurnakan kita. Ia memiliki maksud dan tujuan yang indah bagi kita dalam setiap pencobaan yang kita alami. 

 

Saya pernah mendengar tentang seorang anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat kakinya. Dan ayahnya yang penuh kasih membawa anak itu kepada dokter ahli bedah. Dan kemudian mereka melakukan operasi berulang kali, namun selalu tidak membuahkan hasil. Anak kecil itu tetap cacat dan ia tidak dapat berjalan.

 

Ketika anak itu berumur delapan tahun, setelah ayahnya siang malam terus melakukan penelitian dan pembelajaran bagaimana agar setiap tulang dan otot dan urat syaraf kaki anak itu dapat bekerja, kemudian ia membuat kerangka (box) kaki dan menyambungkan setiap sambungan dengan baut dan kemudian memasukkan kaki anaknya itu ke dalam kotak itu. Dan ketika ia membaut kotak itu, anaknya menangis kesakitan sambil mengiba.

 

Dan setelah hari berganti hari, kemudian sang ayah mengencangkan lagi baut pada kotak itu dan lagi-lagi anak itu menjerit kesakitan dan sambil mengiba memandang ayahnya. Setelah saatnya tiba, sang ayah membuka kotak itu dan melepaskan setiap baut dan skrup itu dan kemudian berkata kepada anaknya itu, “Nak, sekarang coba berdiri. Berdirilah.”

 

Dan anak itu kemudian berdiri. Kakinya benar-benar sembuh dan ia dapat berjalan. Dan setelah bertahun-tahun kemudian, ada seorang laki-laki tua berdiri di depan kuburan ayahnya, yang telah lama dipanggil pulang ke sorga. Dan air matanya menetes deras ke atas pusara ayah terkasihnya, sambil ia mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kepadanya seorang ayah yang begitu mengasihi dia yang telah membuatnya menderita oleh karena ia selalu mengencangkan baut pada kotak yang membuat ia sangat kesakitan, namun yang melaluinya ia dapat berdiri dan berjalan.

 

Allah memiliki tujuan dari “pekerjaan baik” yang Ia kerjakan bagi kita dalam setiap kesusahan dan penderitaan yang kita alami dalam hidup kita. Ia memiliki tujuan yang indah dalam “pekerjaan baik” yang dikerjakan-Nya bagi kita.

 

 

KEYAKINAN KITA: ALLAH AKAN

MENYELESAIKAN TUJUAN PEMILIHAN- NYA

 

Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya” – Ia akan menyelesaikannya, yaitu sampai pada saat kita berjumpa dengan Juruselamat kita, bertemu muka dengan muka “pada hari Kristus Yesus.”

 

Saudaraku, Injil dimana kita berdiri takan tergoyangkan oleh apapun. Kristus yang di dalam-Nya kita percaya dan memperoleh kekuatan tidak akan dapat gagal. Kita tidak membangun pengharapan kita di atas pasir yang dapat terkikis hanyut oleh banjir.  Tidak. Karena kita berada dalam tangan dan janji-Nya yang kekal yang tidak akan pernah gagal.

 

Semua musuh boleh menyerang kita dan teman-teman mungkin meninggalkan kita, dan Setan pun boleh menyerang kita, dan sakit penyakit dan penderitaan boleh melemahkan kita dan awan gelap boleh menyelimuti kita, namun Dia tidak akan pernah gagal. Yesus berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5). Itulah “pekerjaan baik” yang Allah mulai di dalam kita, dengan setia Ia akan meneruskannya sampai selesai, yaitu sampai hari Tuhan kita Yesus Kristus.

 

Manusia mungkin dapat gagal dalam pekerjaannya. Mungkin ia bisa saja tidak dapat menyelesaikan perkerjaannya. Ada banyak masalah yang tak ia duga akan terjadi. Ada banyak kesulitan yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Ada banyak masalah yang tidak dapat ia duga sebelumnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaannya secara tuntas. Namun, tidak demikian dengan Allah. Apa yang telah Ia mulai di dalam kita, dengan setia Ia akan menyelesaikannya. Ia dapat melihat seluruh kehidupan kita dari awal sampai akhir. Oleh sebab itu, Ia pasti bisa dan akan menyelesaikan pekerjaan-Nya untuk membawa kita ke dalam kerajaan-Nya, yaitu kerajaan Sorga.

 

Mungkin ada beberapa orang yang berkata, “Jika saya menerima doktrin seperti itu – yaitu doktrin tentang ketekunan orang-orang kudus, bahwa umat pilihan Allah pasti akan masuk sorga, mengapa Anda harus bersusah payah. Anda diam saja, karena Ia akan membawa Anda ke sorga. Jadi kita abaikan saja tanggung jawab kita. Kita tidak perlu mengerjakan semua itu. Kita duduk diam saja dan biarlah Allah yang mengerjakan itu.” Itulah mungkin yang Anda pikirkan.

 

Itu terbalik. Justru jika kita membiarkan diri kita dalam pemeliharaan Tuhan, menjadi umat pilihan yang dipelihara Tuhan, kita akan dan mampu melakukan kehendak Tuhan. Dan justru jika kita bergantung pada kekuatan kita sendiri untuk melakukan kehendak Tuhan, kita tidak akan dapat mengerjakan atau menyelesaikannya. 

 

Seperti beberapa dari Anda telah mengetahuinya bahwa saya senantiasa membaca khotbah-khotbah Spurgeon sepanjang waktu. Saya mengutip ini dari Spurgeon: “Saya akan memberikan ilustrasi tentang diri saya sendiri kepada Anda. Itu terjadi terhadap diri saya ketika saya kira-kira berumur 10 tahun. Mr. Richard Neal, seorang pekerja Kristus yang begitu agung dalam ingatanku, saya tidak tahu mengapa, ia tergerak untuk mengangkat saya dan meletakkan saya dalam pangkuannya di rumah kakek saya.”

 

Spurgeon dibesarkan oleh kakek dan neneknya, dan kakeknya adalah seorang hamba Tuhan yang setia.

 

“Dan ia mengucapkan kata-kata yang sangat berharga bagi keluarga dan khususnya bagi saya dengan perkataan ini, ‘Anak ini,’ katanya, ‘akan menjadi seorang pemberita Injil. Dan ia akan berkhotbah di tengah jemaat terbesar pada masa kita ini.’ Saya percaya nubuatannya, dan saya berdiri di sini hari ini paling tidak disebabkan oleh karena kepercayaan itu.”

 

Ke manapun Spurgeon pergi, tidak ada bangunan yang cukup untuk memuat orang-orang yang datang untuk mendengarkan Dia memberitakan Yesus. Ia mengadakan kebaktian di Crystal Palace, sepanjang periode pembangunan gedung Metropolitan Tabernacle. Gedung itu dapat menampung 20,000 orang, dan itupun masih tidak muat.

 

“Saya percaya nubuatanya, dan saya berdiri di sini hari ini paling tidak disebabkan oleh karena kepercayaan itu. Namun itu tidak menghalangi aku untuk menuntut diriku sendiri rajin mendidik diriku sendiri, karena saya percaya bahwa saya telah ditentukan untuk berkhotbah di depan jemaat yang besar.  Nubuatan itu membantu saya untuk menuju penggenapannya.  Dan saya berdoa dan mencari dan berusaha keras mengikuti tuntunan bintang Betlehem di depan saya, sampai harinya tiba ketika saya harus menjadi pemberita Injil. ”

 

Itulah efek yang Anda miliki. Tuhan bersama dengan kita, dan Ia telah memutuskan atau menentukan kemenangan akhir kita, dan ketekunan kita adalah salah satu tanda dari tujuan pemilihan Allah di dalam kita. Pilihan Allah dan ketekunan umat-Nya seperti panas di dalam darah Anda. Itu yang membuat Anda berjuang dan bekerja keras. Kita adalah anak-anak Allah, umat pilihan Tuhan, dan Ia telah menetapkan kita sebelumnya untuk tujuan yang kudus dan mulia.

 

Pendahulu saya adalah seorang pendeta besar, pengkhotbah terbesar yang pernah dilahirkan oleh gereja ini, dan dia adalah Dr. George W. Truett. Ketika Dr. Truett terbaring sakit selama setahun penuh, dan di hari-hari dan tahun-tahun itu, jemaat di sini mulai surut. Ketika saya melihat jemaat ini di kebangkitan Minggu malam, saya seperti melihat kayu-kayu di depan saya. Semua yang saya dapat lihat hanyalah bangku-bangku kosong, bangku kayu, dan hanya sedikit jemaat yang hadir dan duduk di sana.

 

Kepada pimpinan deaken  yang telah memimpin selama 35 tahun, saya bertanya, “Mengapa Anda tidak datang pada kebaktian Minggu malam?” Sudah selama 15 tahun ia tidak pernah menghadiri kebaktian Malam.

 

Saya sujud dan menundukkan kepala saya memohon kepada Tuhan, “Tuhan, jika saya setia kepada Firman-Mu, dan jika saya setia memberitakan Injil-Mu, maukah Engkau memberikan orang-orang ini kepadaku? Maukah Engkau mengirim orang-orang kepada kami? Jika aku setia, Tuhan, maukah Engkau memberikan jiwa-jiwa bagi kami?”

 

Saya tidak lebih dekat dengan Tuhan dari pada Anda. Saya tidak memiliki akses yang lebih besar untuk menghadap tahta Allah yang mulia dari pada Anda.  Di sini saya hanya menjelaskan pengalaman saya di dalam doa saya.

 

Sejelas suara Anda yang dapat saya dengar, demikianlah Tuhan berbicara di dalam hati saya: “Kamu harus setia dalam mengkhotbahkan Firman – kamu harus mengkhotbahkan Injil-Ku dengan tekun, setia, senantiasa berdoa, dan Aku akan mengirim umat kepadamu. Aku akan mengirim jiwa-jiwa kepadamu.”

 

Dan mungkin Anda tidak tahu bagaimana Ia mengerjakannya bagi saya. Dalam kesulitan dan pencobaan serta frustasi dan kadang-kadang putus asa, namun saya tidak pernah ragu akan janji Tuhan, janji Tuhan yang tidak akan pernah berubah: “Kamu harus setia dalam mengkhotbahkan Firman – kamu harus mengkhotbahkan Injil-Ku dengan tekun, setia, senantiasa berdoa, dan Aku akan mengirim umat kepadamu. Aku akan mengirim jiwa-jiwa kepadamu.”

 

Dalam suatu kebaktian pagi, ada satu keluarga yang bergabung dengan kami – mereka memiliki empat anak yang manis-manis --  dan ibu terkasih dari keluarga ini mengajak mereka secara sukarela untuk datang ke gereja kami – karena saya tidak pernah mengundang mereka untuk datang ke kebaktian di gereja kami – dan ibu ini berkata, “Saya hanya ingin mengatakan kepada Anda, alasan kami ada di sini adalah oleh karena kesetiaan Anda dalam menyampaikan Firman Tuhan.”

 

Itu lah Tuhan. Ketika Ia berjanji bahwa Ia akan memelihara kita, Ia memberikan kekuatan kepada kita untuk tekun. Itu seperti pengumuman kemenangan sebelum peperangan dimulai. Itu seperti suara sangkakala di sorga yang menyambut kedatangan kita, bahkan sebelum kita sampai di sana. Itu adalah kekuatan dan kuasa untuk bekerja dalam kesuliatan yang terus meningkat.

 

Itulah Allah. Itulah Tuhan. Dan lihatlah serta dengarkanlah suara-Nya. Ada puluhan ribu kata yang menguatkan dalam Kitab-Nya yang takan pernah berubah ini: “Aku beserta dengan engkau. Aku datang untuk engkau.” Kita sedang menuju kemenangan, dan suatu hari nanti, kita akan berada di hadirat Yang Mahamulia, dan sukacita yang tiada taranya akan kita nikmati – itu adalah apa yang Allah telah kerjakan bagi kita!