Daftar Isi

 

PELAYANAN PAULUS DALAM MEMENANGKAN JIWA

(THE SOUL-WINNING MINISTRY OF PAUL)

 

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diterjemahkan Made Sutomo, M.A.

 

Kisah Rasul 20:20f

02-21-54

 

            Bahan khotbah saya hari ini saya ambil dalam Kisah Para Rasul 20.  Pagi ini,  sementara kita mengarahkan pandangan kita ke masa di suatu tahun, hal itu membawa kita kepada kebaktian kebangunan rohani tahunan. Hari ini saya akan berbicara tentang pelayanan memenangkan jiwa.  Sekarang mari kita melihat Kisah Para Rasul 20:20, 21, 31, dan kita akan melihat beberapa pelajaran penting dari pelayanan Paulus dalam memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan:

 

Sesungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang bergua bagi kamu.  Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksia kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah, dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus... Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.

 

            Melalui ayat-ayat di atas, kita akan belajar pelayanan Paulus. Saya akan mengusulkan tiga pokok penting sebagai ciri-ciri pelayanan Paulus dalam menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang.  Setelah itu, sebagai aplikasi dari pelayanan Paulus, saya akan mengajak Anda untuk menerapkan ketiga prinsip yang dilakukan Paulus.

 

A. Pelayanan Paulus

 

  1. Manusia terhilang tanpa Kristus

 

            Untuk saya Paulus adalah seorang yang luar biasa.  Saya kira saya tidak berpikir seperti orang lain berpikir tentang Paulus.  Ia adalah seorang pengkhotbah dan seorang misionari.  Ketika kita berpikir tentang seorang pengkhotah yang terkenal dan begitu mulia, seorang eksponen dari Injil Yesus Kristus, kita berpikir tentang seorang pria dengan penampilan yang luarbiasa, seorang yang dengan kemampuan berpidato secara luarbiasa, dengan kasanggupan berpidato dengan memberi kesimpulan dari pidatonya yang begitu luas dan dengan bahasa yang lancar.  Mungkin saja ia seperti itu.  Tetapi musuh-musuhnya, yang mendengar Paulus berkhotbah, mengatakan sesuatu yang berlawanan tentang dia.  Dalam 2 Korintus 10:10, Paulus berbicara tentang bagaimana musuh-musuhnya berkata tentang khotbahnya.  Berikut ini adalah apa yang mereka katakan: “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka, sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.”  Saya berpendapat bahwa pernyataan itu tidak benar, dan itu hanyalah pendapat para musuhnya. Sekarang apakah itu benar atau salah, saya melihata ada satu kebenaran di dalamnya.

            Dalam setiap kejadian, poin saya pada saat ini adalah seperti ini, bahwa kekuatan atau kuasa dari kata-kata Paulus tidak berada dalam penampilannya yang luarbiasa, juga tidak terdapat dalam keindahan khotbahnya.  Tetapi kuasa hal itu ditemukan dalam pribadinya untuk memenangkan jiwa.  Paulus berkta, “Sesungguhnya demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu.  Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus” (Kis. 20:20-21). Dan, “bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kis. 20:31).  Itu adalah karakteristik pribadi Paulus, tentang pelayanannya yang luarbiasa yang terjadi di kota Efesus, ibu kota dari propinsi Romawi di Asia.  Ia memiliki keyakinan bahwa manusia terhilang tanpa Kristus.

            Bila kita berada dalam pasal sepuluh dari kitab Kisah Para Rasul, di sana digambarkan tentang Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi yang tinggal di Kaisaria dan ia digambarkan sebagai “seorang perwira yang tulus hati dan takut akan Allah” (Kis. 20:22); Seorang yang saleh dan yang memberi banyak sedekah kepada orang-orang dan yang senantiasa berdoa kepada Allah (Kis. 10:30, 31).  Tetapi Alkitab berkata bahwa ia seorang yang masih terhilang.  Kebaikannya tidaklah cukup di hadapan Tuhan.  Sebagai orang yang baik tapi tanpa Kristus.  Ia seorang yang terhilang dan malaikat berkata kepada Kornelius ketika berdoa untuk menyuruh dia mengirim seseorang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus yang akanmenyampaikan firman kepadanya supaya ia dan seisi rumahnya selamat (Kis. 10:32). 

Firman Tuhan berkata kepada kita bahwa di dalam diri kita, bahwa kita lahir dalam dosa, dan kita mati dalam kesalahan dan pelanggaran kita.  Dalam Kitab Yesaya dikatakan, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (Yes. 53:6).  Dalam kitab Roma dikatakan bahwa, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak” (Rom. 3:10). Oleh sebab itu karena manusia telah terhilang, maka manusia memerlukan keselamatan.  Dan itulah pra-asumsi dari iman Kristen.  Kita semua berada dalam penghakiman dan murka Allah yang Maha Kuasa.  Jadi, Paulus harus pergi dari rumah ke rumah, di hadapan umum dan secara pribadi memohon agar orang-orang bertobat kepada Allah dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengingatkan setiap orang siang dan malam dengan cucuran air mata.  Itulah pelayanan Paulus.

 

  1. Paulus merasa bertanggung jawab terhadap jiwa-jiwa yang terhilang

 

            Hal kedua yang dapat kita lihat tentang Paulus adalah bahwa ia merasa bertanggung jawab kepada Allah teradap orang-orang yang terhilang.  Dalam Kisah Para Rasul 20:26 ia berkata, “Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa.”  Dengan kata lain Paulus berkata bahwa ia telah melakukan bagiannya, ia telah melakukan yang terbaik untuk memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang bagi Kristus, dan tanganya bersih.

 

  1. Paulus menangisi jiwa-jiwa yang terhilang

 

            Hal terakhir tentang pelayanan Paulus adalah bahwa ia menangisi jiwa-jiwa yang masih terhilang.  Ia mengejarnya, dan mengasihi dengan hati yang penuh belas kasihan.  Dalam Kisah Para Rasul 20:31 ia berkta, “...bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.”  Dalam hal itu, Paulus seperti Tuhan Yesus.  Yesus menangisi kota Yerusalem.  Dan ketika Paulus memohon kepada orang-orang Efesus untuk kembali kepada Kristus dan menginzinkan diri mereka diselamatkan, namun ketika menolak permohonannya, hal itu mendukakan hatinya.  Paulus menangis dan menangis, dan itu menunjukkan bahwa ia adalah seorang pelayan Tuhan yang penuh belas kasihan akan jiwa-jiwa yang terhilang, dan seorang pengkhotbah Injil yang mulia dari Anak Allah.

 

B.  Pelayanan kita dewasa ini

 

            Sekarang saya mengajak Anda untuk melihat pelayanan kita dewasa ini.  Saya telah pergi mengadakan perjalanan selama dua minggu untuk pelayanan berkhotbah di sebelah timur dan di daerah bagian selatan, dan kami membawa para pengkhotbah kami.  Melalui khotbah-khotbah dalam konperensi penginjilan saya telah mendengarkan banyak dari mereka.  Sekarang, bukan saja saya mendengarkan dari denominasi kami, tetapi juga dari pengkhotbah dari denominasi yang lain. Ketika saya berada di pesawat, dan sambil berbaring saya merenungkan semua khotbah-khotbah yang saya dengarkan dan pembicaraan-pembiciaraan saya dengan mereka tentang pekerjaan yang mereka sedang lakukan; semuanya itu kembali kepikiran saya dan ada banyak yang masuk ke dalam hati saya dan memenuhi jiwa saya.  Saya ingin membagikan kepada Anda ketiga kategori yang menyifatkan pelayanan Paulus di dalam pelayan kami.

            Pertama, pra-asumsi fundamental bahwa manusia tersesat tanpa Kristus; dan  dalam pelayanan pemberitaan Injil ada satu keseriusan yang mendesak untuk memanggil orang-orang berdosa datang kepada Kristus.  Ini merupakan penilaian saya, ketulusan penilaian saya.  Agama bagi kami pertama-tama adalah masalah pilihan.  Jika seseorang memilih untuk menjadi seorang beragama, itu baik; jika ia tidak memilih untuk menjadi seorang beragama, itu pilihannya.  Ia boleh melakukan apa yang menyukakan hatinya.  Di Moskow, di sebuah kota yang berpunduduk tujuh atau delapan juta orang, ada lima puluh gereja yang masih berfungsi.  Di negara komunis, dianggap  hal yang buruk untuk menjadi seorang beragama. Di kota New York, ada dua ribu tujuh ratus gereja yang masih beroperasi.  Ini merupakan hal yang baik dalam dunia yang bebas untuk menjadi seorang beragama.  Tetapi agama semacam apa?  Itu mungkin  semacam agama yang Anda temukan pada Gereja Marble Collegiate.  Atau itu mungkin  semacam agama yang Anda temukan dibicarakan oleh dokter jiwa.  Saya telah membaca majalah-majalah yang mebicarakan masalah-masalah itu.  Banyak orang siang malam telah mengisi otaknya dengan hal-hal seperti itu.  Dalam majalah-majalah, Anda akan menemukan pendapat para psikolog dan psikater.  Para psikater akan berkta, “Adalah baik bagi Anda untuk pergi ke gereja.”  Para psikolog akan berkata, bahwa adalah bagi bagi Anda untuk menjadi anggota gereja.  Namun maksud mereka hal itu dalam arti sama, dan dalam kategori yang sama untuk menjadi anggota kelompok kedermawaan atau organisasi persaudaraan atau lemabaga-lembaga pemerintahan lainnya.  Mereka berkata bahwa hal itu baik untuk kepribadian Anda. Hanya itu saja.  Itu merupakan pilihan jika Anda mau meningkatkan kepribadian Anda dengan pergi ke gereja atau pergi ke kelompok-kelompok persaudaraan lainnya. 

Itu adalah satu hal tentang sikap kita terhadap agama, anggapan kita tentang manfaat menjadi anggota dalam salah satu anggota dari salah satu aliran agama atau klub-klub tersebut.  Sekarang saya tidak berbicara tentang psikolog atau psikiater, tetapi saya akan berbicara tentang pengkhotbah, tentang pemimpin agama tentang pejabat gereja, bagaimana pendapat mereka terhadap agama.  Setelah saya mendengarkan beberapa pendapat dari mereka, saya mendapatkan ide bahwa agama yang mereka maksudkan adalah sesuatu tentang budaya.  Itu merupakan sistem falsafah, tentang falsapah dan metafisik.  Ketika saya duduk di satu konperensi, di mana laki-laki duduk bersama seolah-olah menjual diri mereka untuk memenangkan banyak jiwa-jiwa yang terhilang bagi Kristus.  Salah satu dari konperensi ini, di mana mereka mengundang seorang pembicara dari tempat yang jauh, seorang teolog yang terkenal dari benua Eropah, yakni dari Skotlandia.  Pembicara tersebut berbicara melaluai catatan-catatannya dan pasal demi pasal mendiskusikan teologi dalam arti skolatisisme, mempelajari tentang cabang-cabang intelektual.  Saya sangat heran mengapa orang mendengarkan itu selama lima ratus tahun dan tidak memperoleh impresi tentang iman Kristen selain dari fakta bahwa itu merupakan diskusi filsafat.  Anda berpikir ini dan ia berpikir itu dan mereka berpikir lain, dan saya akan  menarik kesimpulan lainnya.  Dalam satu konperensi, seorang presiden dari sekolah Alkitab yang memenangkan dunia yang terhilang bagi Kristus, memberikan judul dari khotbahnya: “Implikasi Sosial dari Pertentangan Kultur Timur dan Barat.” 

Katakan kepada saya, siapa yang ada dalam sejarah?  Sebagai apa Albert Schweitzer untuk misionari di Afirka; dan sebagai apa Eistain dalam bidang matematika dan ilmu fisika; sebagai apa Toynbe dalam dunia sejara?  Toynbe adalah seorang pemimpin dalam sejarah dunia intelektual, dan ia sekarang menulis satu volume berjudul, Era Sesudah Kekristenan dari Zaman Peradaban / The Post-Christian Era of Zivilization.  Kadang-kadang saya berpikir bahwa Tynbee benar.  Namun demikian, apa pun hal itu, apa yang dimiliki oleh orang-orang di masa-masa Paulus,  hal itu tidak temukan sekarang.

Agustin bermimpi bahwa ia pergi ke sorga dan penjaga pintu sorga menahan dia dan berkata, “Siapakah engkau?”  Agustin menjawab, “Christionous egostule.”  Artinya, “Saya seorang Kristen.”  Penjaga pintu sorga menatap wajah Agustin dan berkata, “Tuan, engkau bukan orang Kristen.  Engkau seorang ahli pidato  / Ciceronian. Bila engkau berdiri, engkau memiliki seluruh pelajaran klasik dan engkau ilusi-ilusi klasik dan engaku belajar pola klasik dan engkau telah mengangkat sumpah menjadi seorang ahli pidato / oratorical perorations. Dan dalam kemuliaan kami menilai manusia dengan apa yang mereka pikirkan dana apa yang mereka lakukan.  Bukan menurut apa yang mereka katakan tentang diri mereka.  Engkau bukan orang Kristen. Engkau seorang ahli pidato / Ciceronian.”   Dan ketika Agustin bangun dari tidurnya, ia akhirnya mempelajari tentang pengajaran Tuhan Yesus dan pemberitaan Injil Anak Allah.  Anda melihat hal ini dari apa yang Paulus buat. Ia berkata, “bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu dengan cucuran air mata” (Kis. 20:31).  Alasan Paulus mengingatkan setiap orang siang dan malam adalah karena penghakiman Allah yang akan datang.  Ada Allah yang Maha Kuasa yang kita harus hadapai dan apa yang harus kita lakukan pada hari terakhir dan pada jam terkhir itu?  Jalan satu-satunya yang kita harus lakukan saat ini adalah mengingatkan orang-orang walaupun dengan mencucurkan air mata.  Tidak ada metafisik dalam kata-kata peringatan itu, tidak ada diskusi filosofis, tidak ada teologi rambut dibelah dua, dan tidak ada pelajaran membaca naskah.  Saudara-saudara, kita adalah manusia yang sedang mengalami kematian. Dan kita harus mengahadapi Allah yang adalah pengharapan kita yang akan membebaskan kita.  Itu adalah keyakinan rasul Paulus.  Di manakah keyakinan itu sekarang?  - Manusia terhilang tanpa Kristus.

Di sini, di negara ini, khususnya di Dallas, Anda melihat tiga pertemuan umum yang besar dari orang Yahudi, gereja Katolik, dan gereja Protestan.  Di Jepang, Anda akan melihat agama Sinto, agama Buddha, agama Yahudi, Katolok dan Protestan.  Di India, Anda akan menemukan agama Hindu, Buddha, Yahudi, Protestan dan Katolik.  Di Cina, ada agama Konfusius, agama Buddha, Yahudi, Protestan dan Katolik.  Jadi di setiap negara, kita akan menemukan berbagai kelompok agama.  Dan sebagai akibatnya, timbul dugaan dari orang-orang bahwa semua agama itu sama saja.  Bahkan Anda mungkin mau mengambil yang baik dari masing-masing agama itu dan kemudian mencoba mengembangkannya menurut tendensi, sikap dan kepribadian masing-masing.  Hal itu akan sama seperti kalau saya mengambil satu buku agama yang berjudul Agama-Agama Besar Dunia. Dalam buku ini kita menemukan gambaran Yesus, Musa, Muhamad, Mahavera, Lastasay dan Zoroaster.  Akhirnya, yang kita temukan adalah bahwa Yesus akan tampil sebagai salah satu dari tokoh-tokoh besar agama tersebut.  Jadi iman Kristen hanya salah satu dari sekian banyaknya kepercayaan di dunia. 

Itu sesuatu yang sangat menyedihkan.  Bila agama menjadi satu pilihan, dan orang-orang bisa memilih menurut kehendaknya, menurut budayanya, maka kita kehilangan keyakinan Perjanjian Baru, di mana di dalamnya kita diberitahukan bahwa manusia tanpa Kristus terhilang.  Kisah Para Rasul 4:12 berkata, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  Jadi, menurut firman Tuhan, bila seseorang ada dalam Kristus ia selamat. Tapi sebaliknya, bila ia tidak berada dalam Kristus ia hilang atau tersesat.  Agama menurut Perjanjian Baru adalah seperti itu.  Hanya ada dua pilihan mau selamat atau tidak selamat.  Bila mau selamat, kita harus percaya kepada Yesus Kristus dan berada dalam persekutuan denganNya.

Kedua, tanggung jawab kita akan jiwa-jiwa yang terhilang.  Prinsip kedua yang kita perlu pelajari dari Paulus adalah tentang kasihnya akan jiwa-jiwa yang terhilang.  Paulus merasa bertanggung jawab kepada Tuhan akan jiwa-jiwa yang terhilang, dan karena itu tidak heran kalau ia menangisi jiwa-jiwa yang terhilang dan ia  bekerja dengan keras untuk membawa mereka kepada Kristus.  Jika agama adalah sesuatu tentang kultur, pilihan dari beberapa sumber, lalu siapa yang akan menangisi jiwa-jiwa yang terhilang agar mereka datang kepada Yesus?    Siapa yang akan menangisi falsafah manusia?  Siapa yang akan meratapi metode Sokrates, atau ide Plato?  Tetapi jika tentang keselamatan adalah masalah hidup dan mati, atau tentang sorga dan neraka; jika kita percaya, siapa yang akan meratapi manusia agar mereka kembali untuk menerima undangan Anak Allah yang penuh berkat?  Belas kasihan Paulus telah terbungkus dalam keyakinannya bahwa manusia tersesat / terhilang tanpa Kristus.

Seorang pengkhotbah pernah berkata kepada saya, “Saya mau kamu duduk di sebelah sana.”  Jadi, saya duduk di sebelah sana.  Kemudian, sambil menunjukkan sepotong kertas, ia berkata, “Saya mau kamu melihat ini.”  Ia menaruh sepotong kertas itu di tangan saya dan saya duduk di tempat yang ia tunjuk lalu membaca tulisan dalam kertas tersebut.  Tulisan itu adalah berupa pengumuman yang saya harus sampaikan pagi ini, sesuatu yang akan kita buat.  Saya mempunyai bacaan yang harus dibaca pada jam ini.  Kita akan melakukan suatu di gereja kita. Kita akan memulai sesuatu dengan anugerah Allah dan pertolonganNya.  Ini adalah sepotong kertas dengan tulisan yang akan kita baca.  Setelah membaca tulisan ini, maka saya akan memberitahukan apa yang kita harus lakukan.

 

Pada suatu siang satu kelompok pria sedang bekerja di satu tempat, dan mereka adalah pekerja sukarela.  Sementara makan siang mereka bercakap-cakap, dan dalam percakapan mereka, akhirnya mereka tiba pada satu topik tentang agama, dan salah satu dari mereka berkata, “Saya ingin mengatakan kepada Anda mengapa saya tidak menjadi anggota gereja.  Saya bukan orang Kristen, dan alasan yang sebenarnya mengapa saya tidak mau menjadi orang Kristen adalah karena semua orang Kristen bermuka dua / tidak jujur.  Setahu saya tidak seorangpun dari mereka melakukan apa yang mereka percayai.”

Dalam kelompok itu ada satu orang yang merasa beriman dan sungguh-sungguh menjadi orang Kristen.  Mendengar temnanya tadi, ia akhirnya menantangnya, dengan berkata, “Itu tidak benar.  Anda berkata bahwa seluruh orang di gereja adalah orang-orang yang bermuka dua, dan mereka tidak melakukan apa yang mereka percayai. Itu sama sekali tidak benar. Mungkin ada beberapa orang bermuka dua atau tidak jujur, dan ada banyak dari mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh beriman.”  Dan akhirnya terjadilah tanya jawab yang agak serius antara orang yang tidak percaya dan orang Kristen itu:

Orang yang tidak percaya: “Kalau begitu, kata orang itu, “kamu orang Kristen ya?”

Orang Kristen: “Ya,” saya orang Kristen.”

Orang yang tidak percaya: “Dan Anda seorang anggota jemaat?”

Orang Kristen: “Ya, saya seorang anggota jemaat.”

Orang yang tidak percaya: “Anda percaya bahwa bila Anda meninggal Anda akan masuk sorga?”

Oranga Kristen: Dengan rencah hati orang Kristen ini menjawab, “Ya. Saya telah percaya kepada Yesus Kristus dan saya memiliki janji tersebut bahwa jika saya percaya kepada Tuhan, Ia akan mengawasi saya dan membawa saya ke sorga.”

Orang yang tidak percaya: “Kalau begitu, Anda juga percaya bahwa semua kami yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, akan masuk neraka.  Apakah Anda percaya itu?”

Orang Kristen: Ia menjawab, “Saya sedih untuk mengatakannya, tetapi menurut firman Tuhan, mereka yang menolak Anak Allah akan masuk neraka.  Ya itu benar.  Mereka akan masuk neraka.”

Orang yang tidak percaya: “Baiklah,  kalau begitu kami semua akan masuk neraka. Kami selama-lamanya akan berada di neraka dalam apai yang menyala-nyala. Kami semua akan masuk neraka.”

Orang Kristen: “Ya,” kata orang Krsiten itu, dengan rasa sedih, dengan  rendah hati saya harus berkata, ya.”

Orang yang tidak percaya: “Baik kalau begitu.”  Tapi saya ingin bertanya kepada Anda. “Anda telah bekerja selama dua puluh tahun bersama kami, dan Anda berpikir kami akan masuk neraka dan tinggal dalam api neraka dalam kekekalan.  Sekarang, saya ingin bertanya kepada Anda, selama dua puluh tahun itu, berapa kali Anda berdoa sehingga kami diselamatakan dari api neraka yang kekal itu? Apakah Anda berdoa selama tujuh malam?

Orang Kristen:  “Tidak, saya tidak pernah.”

Orang yang tidak percaya: “Apakah Anda berdoa selama enam malam?”

Orang Kristen: “Tidak, saya tidak berdoa.”

Orang yang tidak percaya: “Apakah Anda berdoa tiga malam?”

Orang Kristen: “Juga Tidak.”

Orang yang tidak oercaya: “Apakah Anda berdoa satu malam” Apakah Anda pernah menyediakan satu malam selama dua puluh tahun sehingga kami selamat, apakah Anda melakukannya?

Orang Kristen: “Tidak, sama sekali tidak.”

Orang yang tidak percaya: “Kalau begitu, apakah Anda pernah berodoa setengah malam?”

Orang Kristen: Dengan menundukkan kepalanya ia berkata, “Tidak saya tidak pernah.”

Orang yang tidak percaya: “Kalau beitu, izinkan saya menanyakan satu pertanyaan lain.  Apakah Anda pernah berdoa satu jam untuk kami, untuk teman-temanmu yang bekerja denganmu selama dua puluh tahun, supaya kami selamat?

Orang Kristen: Dengan menundukkan kepala, ia berkata, “Saya merasa malu untuk mengaku, saya tidak pernah berdoa walau satu jam suapaya kalian selamat.”

Orang yang tidak percaya: “Bukankah itu sesuai dengan apa yang saya katakan? Anda tidak jujur dan Anda tidak percaya apa yang Anda katakan.  Anda berkata kami sesat / terhilang dan akan masuk neraka namun dalam dua puluh tahun, Anda tidak pernah berlutut dan berdoa untuk satu jam sehingga kami selamat.”

 

Kita harus jujur bahwa itu adalah kesalahan dari banyak orang Kristen.  Bukankah percakapan itu baik sekali. Bukankah hal itu suatu fakta yang akurat sekali.  Tetapi saya ingin mengatakan kepada saudara bahwa hal itu menantang saya.

            Berikut ini adalah apa yang akan kita lakukan di sekitar Gereja Baptist Pertama (the First Baptist Church).  Kita akan mengadapan pada hari minggu depan pada pagi hari, saya akan meminta selama tiga puluh menit, dan saya akan meminta kepada Anda sebagai anggota jemaat untuk melakukannya.  Kita akan melakukan pada hari Sabtu, pada siang hari di Kapel, dan lampu akan dinyalakan, juga akan disediakan tikar di lantai depan.  Di sana ada orang yang akan berlutut berdoa, dan akan ada Alkitab yang terbuka.  Kita akan berdoa kepada Tuhan untuk jiwa-jiuwa yang terhilang.

            Jika kita percaya bahwa orang-orang di luar Kristus tersesat, maka kita harus bersedia berlutut berdoa dan memohon kepada Allah.  Kita berdoa kiranya Allah dengan anugerahNya, dengan kuasaNya, dengan hikmatNya dengan kasihNya, menolong kita menjangkau orang-orang yang terhilang bagi Kristus.

 

            Ketiga, tenggung jawab pribadi.  Kita akan memberitakan firman melalui siaran radio, tetapi bagaimana dengan Anda yang di auditorium?

Ketika saya di Selatan Carolina, seorang pria datang kepada saya dan menyalami tangan saya. Sementara memegang tangan saya, ia berkata, “Bapak Pengkhotbah, saya pernah pergi ke gereja Anda di Dallas. Anda tahu apa yang memberi kesan kepada saya tentang gereja Anda?  Saya pernah melihat gereja besar seperti itu sebelumnya.  Saya tidak melihat begitu banyak orang seperti itu datang ke rumah Tuhan. Paduan suara Anda menyanyi secara mengagumkan. Tetapi ia berkata, bukan itu.  Anda berkhotbah, tapi bukan itu. Yang mengesankan saya tentang gereja bapak adalah ketika bapak berkata kepada seorang pria, “Saya mohon kepadamu untuk bertanggung jawab kepada seorang anak laki-laki yang adalah milik satu keluarga yang berada di depan sana.”   Dan memang benar bahwa pada waktu itu ada seorang pria datang ke depan membawa seorang anak laki-laki dan berkata kepada saya, “Pak Pendeta, Anda berkata kepada saya, saya harus bertanggung jawab untuk anak ini, dan inilah dia.  Ia telah memberikan hatinya kepada Yesus.  Jadi, karena diberi tanggung jawab secara pribadi, ia telah dimenangkan anak laki-laki itu bagi Kristus.”

 

Saya bertanya kepada Bob, bukankah saya berkhotbah pada minggu malam di tempat ini?   Seorang pria memberikan hidupnya kepada Kristus pada hari Minggu pagi.  Dan ia berkata kepada saya, “Apakah keluarga saya bisa menjadi orang Kristen?  Apakah Allah menyelamatkan mereka?  Dan saya berpaling kepada jemaat dan berkata kepada mereka bahwa kita akan memenangkan keluarga ini bagi Kristus.  Itu saya katakan pada pagi hari. Dan pada petang harinya, Bob, Anda maju ke depan dengan membawa keluarga itu, dan Anda berkata, “Pak pendeta, ini anak laki-laki itu, dan ini ayah dan ibunya.”  Pada sore itu, Bob pergi ke rumah keluarga itu dan telah memenangkan mereka kepada Kristus.  Itulah yang saya maksud dengan orang Kristen yang bertangung jawab secara pribadi kepada Tuhan.

            Saudara-saudara yang terkasih, saya tidak tahu bagaimana menaruh hal itu dalam jiwa saya, dan terlebih lagi saya merasa kurang tahu bagaimana menaruh itu dalam hati saudara.  Tetapi saya tahu, dan benar-benar saya tahu bahwa agama dari Alkitab, iman di dalam Kristus adalah sesuatu yang Anda sendiri menaruhnya dalam jiwa Anda.  Itu suatu beban dalam hati Anda.  Itu akan mengingatkan Anda siang dan malam dan Anda akan mencucurkan air mata untuk jiwa-jiwa yang terhilang” agar mereka diselamatkan.  Doa dan harapan saya bagi orang-orang Amerika adalah agar mereka diselamatkan.  Mari kita mendedikasikan seluruh energi hidup kita untuk pelayanan memenangkan jiwa-jiwa.  Itulah iman, itulah adalah perintah Alkitab dan itulah tugas Gereja Tuhan zaman ini.

            Ya Roh Allah yang hidup, pimpinlah kami.  Sementara kami berdiri di sini, dan sementara kami menyanyikan lagu pujian, pimpinlah kami.