Daftar Isi

 

KRISTUS JURUSELAMAT KITA

(CHRIST OUR SAVIOR)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dikhotbahkan pada kebaktian Minggu Malam, 24 Septmber 1972

di First Baptist Church in Dallas

Teks: Galatia 3:10-14

 

            Para pendengar radio dan pemirsa televisi terkasih, anda sedang bergabung dalam kebaktian di First Baptist Church di Dallas. Dan ini adalah gembala kami yang akan menyampaikan Firman Tuhan dengan tema: KRISTUS  SANG PENEBUS.

 

            Dalam khotbah seri kita dari Surat Galatia, kita sampai pada pasal ketiga, dan khotbah ini adalah eksposisi dari ayat 10, 13, dan 14:

 

Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis – dan ia mengutip dari Keluaran 27 –: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’”

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’

Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:10, 13, 14).

 

 

SEMUA MANUSIA BERADA DI BAWAH KUTUK

 

Perhatilanlah bahwa semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat berada di bawah kutuk. Ketika manusia mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan perbuatan baik, melalui memelihara segala sesuatu yang tertulis dalam Tuarat dan perintah-perintahnya, ia terkutuk oleh karena usahanya sendiri itu. Tidakah anda berpikir bahwa agama akan membawa jiwa manusia untuk berkata, “Kamu harus melakukan perbuatan baik.”  Bagaimana agar anda dapat hidup? Taatilah semua perintah-perintah agama ini, dan anda akan memiliki hidup kekal. Namun penyataan Tuhan dalam Firman Tuhan ini justru mengatakan sebaliknya: “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’”

 

            Pemberian hukum Taurat disertai dengan suasana yang sangat mengerikan. Gunung Sinai hangus oleh api, dan disertai dengan kilat dan guntur yang menggelegar, serta bunyi sangkakala yang menggelegar dan sangat mengerikan. Itu seperti hari kiamat, dan hari pengutukan dan pembinasaan. Kitab Suci berkata bahwa orang-orang Israel sangat ketakutan ketika mendengar suara sangkakala tanda pembinasaan dan api yang menghanguskan dan kilat serta guntur yang menggelegar (Keluaran 19:16-23). Itu  adalah pemandangan yang sangat mengerikan sehingga bahkan Musa berkata: “Aku sangat takut dan gemetar.”

 

Sedemikian dahsyatnya sehingga dikatakan bahwa bila ada binatang atau manusia yang menyentuh gunung itu, ia harus dihukum mati. Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari batu atau dipanahi sampai mati. Baik binatang maupun manusia tidak dibiarkan hidup. (Keluaran 19:13). Betapa mengerikannya pemandangan yang menyertai pemberian hukum tertulis pada kedua loh batu itu. Dan hukum-hukum ini bersifat impersonal.

 

Hukum-hukum itu ditulis pada dua loh batu, batu karang yang berat yang menghancurkan kita – melumatkan kita, menimpa kita amblas ke dalam tanah, ke dalam debu: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia 3:10). Karena manusia yang mengharapkan dapat diselamatkan oleh pekerjaan hukum Taurat  menemukan dirinya sendiri berada di bawah hukuman atau kutukan, atau penghakiman sebelum ia benar-benar dihakimi. Hukum Taurat bersifat impersonal. Ia tidak memiliki perasaan. Dan ketika kita berhenti memelihara Taurat, pada saat kita melanggarnya, pada saat itu juga kita masuk ke dalam penghakiman dan penghukuman.

 

            Orang yang berhasil mentaati sembilan puluh sembilan persen dari Taurat, namun gagal satu persen, ia akan masuk ke dalam penghakiman dan penghukuman. Perhatikan perkataan Kitab Suci ini: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia 3:10).

 

            Taurat ini bersifat impersonal dan tidak berbelas kasihan. Anda ingat seorang wanita berdosa yang datang kepada Yesus dan mengurapi kaki Yesus dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya ketika Yesus berada di rumah Simon orang Farisi. Menurut Taurat perempuan itu harus dilempari batu. Berbeda dengan rahmat dan anugerah, Taurat berkata bahwa wanita itu harus diarak keluar kota untuk dilempari batu sampai mati. Namun sesungguhnya Taurat ini bukan hanya dapat diterapkan untuk menghukum pemberontak, penjahat, pembunuh, orang berdosa, namun itu juga dapat diterapkan untuk kita semua, karena tak seorangpun dari kita yang dapat mentaati Taurat secara sempurna, atau seratus persen.

 

Karena tanpa kekecualian. Sejak pencobaan ular di taman Eden, dosa itu telah menjalar bagai racun ke dalam mata air hati kita. Di sana terdapat tetesan noda hitam yang terus mengalir ke dalam setiap pembuluh darah kita.  Kita semua telanjang dan telah jatuh dan terhilang serta penuh dosa di hadapan Dia. Dan kita mencoba menutupi ketelanjangan dan dosa kita dengan kebenaran kita sendiri dan pakaian hasil usaha dan pekerjaan kita sendiri. 

 

Orang yang melindungi dirinya sendiri dari penghakiman Tuhan sama seperti seseorang yang menenun sarang laba-laba menjadi pakaiannya yang tipis mudah robek oleh pedang hukum Taurat.

 

            “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” Jika saya mencoba untuk membuat diri saya sendiri menjadi layak di hadapan Tuhan dengan perbuatan baik atau kebenaran diri saya sendiri, saya langsung jatuh dan masuk ke dalam penghukuman oleh karena pekerjaan saya atau perbuatan saya sama sekali tidak benar. Hidup kita semua tidak ada yang suci. Hati kita semua tidak ada yang bersih. Yang ada pada diri kita semua adalah dosa dan pelanggaran serta kesalahan. Dan pada saat kita melakukan kesalahan, pada saat itu juga kita terkutuk. Karena “terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.”

 

            Dan penghukuman itu sangatlah mengerikan. Penghukuman itu termasuk penghukuman yang mendatangkan kematian fisik. Upah dosa selalu membayangi hidup kita dan itu selalu mengerikan. Jiwa yang berdosa haruslah mati. “Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yehezkiel 18:4). “Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia 3:10). Dan bahwa kutuk itu menjangkau ke dalam seluruh kehidupan kita. Secara fisik kita pasti mati.

 

            Tubuh ini akan dihukum. Saya tidak mau mati kalau saya tidak berdosa. Tanda kelemahan natur manusia yang telah rusak ditemukan dalam pemandangan universal dari kematian kita. Namun bukan hanya kematian fisikal, tetapi kita juga mati secara rohani. Ini adalah kematian kedua. Kita mati dalam pengertian terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat. Ini adalah bukti bahwa dalam pemandangan Allah tak seorangpun dibenarkan oleh Taurat. Tak seorangpun dari kita yang dapat berdiri di hadapan hadirat Tuhan dan berkata, “Saya tidak dapat dihakimi. Karena saya suci. Saya kudus. Saya tidak harus mati.” Perkataan-perkataannya ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Bahkan pengalamannya sendiri akan menghakimi dia: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.”

 

 

BAGAIMANA AGAR KITA DAPAT DISELAMATKAN?

 

            Lalu bagaimana agar kita dapat diselamatkan? Bagi orang berdosa, manusia terkutuk yang patut dihakimi dan dihukum seperti kita yang sedang sekarat ini, bagaimana dapat diselamatkan?

 

            Inilah Injil kasih karunia dari Anak Allah: “Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita… Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu” (Galatia 3:13,14).

 

            Bukankah gampang bagi Tuhan untuk meniadakan atau menghapus saja hukum itu dari loh batu itu sehingga dengan jalan demikian manusia terbebas dari kutuk hukum Taurat.  Mengapa Ia harus susah-susah menjelma menjadi manusia, menderita dan menanggung kutuk serta penghukuman dari hukum itu? Sebenarnya tidaklah sesederhana yang anda pikirkan. Jika Tuhan tidak menghormati hukum-Nya sendiri, jika Ia mengabaikan hukum-Nya sendiri, bagaimana mungkin Allah dapat menyelamatkan kita?

             

            Seperti yang tertulis dalam Keluaran 34 dan Bilangan 14: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat” (Keluaran 34:6-7; Bilangan 14:18). Itulah Allah.

 

            Allah menghormati hukum-Nya. Lalu bagaimana caranya Allah menyelamatkan kita? Bagaimana Ia dapat membenarkan kita yang adalah orang-orang berdosa? Itulah Injil, yaitu bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan cara menjadi terkutuk menggantikan posisi kita.

 

            Itulah Injil. Itulah huper hemon .  Dr. Eddleman pernah menjumpai saya dan berkata, “Itulah Injil. Huper hemon. [Yesus mati] menggantikan kita, atas nama kita.” Hukum Allah telah dipuaskan dan dihormati. Pedang hukum Allah telah dipuaskan. Inilah Injil kasih karunia dari Anak Allah, yaitu Kristus yang telah dibuat terkutuk bagi kita. Ia dihukum menggantikan posisi kita atau huper hemon.

 

            Semua sistem upacara korban dalam Perjanjian Lama menggambarkan penggantian penebusan ini. Setiap anak domba yang disembelih dan darahnya dicurahkan menggambarkan penggantian penebusan ini. Ketika darah itu dipercikkan di antara kerub dan setiap kali imam memberikan korban bakaran di hadapan Allah, semua itu adalah tipe atau menggambarkan penyataan yang agung tentang penggantian penebusan. Ia mati menggantikan kita.

 

            Ketika mereka mengadakan upacara korban dalam Perjanjian Lama, ia menggambil binatang yang akan dikorbankan, meletakkan tangan di atas kepala binatang yang akan dikorbankan itu, mengaku dosa, dan kemudian binatang itu disembelih dan darahnya dicurahkan di atas altar. Mengapa demikian? Dengan meletakkan tangan di atas  kepala binatang itu, ia mengidentifikasi dirinya sendiri dengan anak domba atau anak lembu jantang itu. Dan ketika binatang itu disembelih, itu menunjukkan bahwa ia telah disembelih, karena binatang yang dikorbankan itu menggantikan dia. Itulah korban penggantian penebusan. Dan itulah berita Injil. Kristus  telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Di sana kita melihat penggantian penebusan atau substitusi yang nyata. Ini bukan lagi metafora atau simile. Ini bukan lagi syair atau fiksi. Ini bukan lagi suatu imajinasi. Ini adalah penggantian penebusan yang nyata. Allah menyerahkan Kristus, Anak-Nya yang tunggal, dan menyerahkan Dia untuk menggantikan kita dihakimi dan mati dan terkutuk karena kita: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.”

            Ia menjadi seperti itu. Ia telah menerima di dalam tubuh-Nya sendiri tikaman dan kutuk serta penghukuman. Ia telah mati demi menggantikan kita. II Korintus 5:21 berkata, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Kata “karena kita” di sini diterjemahkan dari kata “huper hemon.”

 

            Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita – huper hemon. Allah telah membuat-Nya demikian. Dalam natur-Nya tidak ada dosa. Ia kudus, Ia suci, Ia tanpa dosa. Ia tidak harus mati. Namun Allah membuat Dia menjadi dosa huper hemon atau karena kita – demi menggantikan kita. Di sini Allah menjadikan Dia terkutuk karena kita (huper hemon), agar di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

 

            Ketika anda memandang salib dan Tuhan kita yang mati di sana, itu adalah demi menggantikan anda. Seharusnya andalah yang tergantung dan mati di sana. Mungkin ada orang yang bertanya bagaimana satu orang benar dapat mati bagi kita semua? Jawabannya terletak di dalam pribadi keillahian-Nya.

 

            Ia dapat menanggung dosa semua manusia dan kematian-Nya menggantikan dosa kita semua oleh karena Dia adalah Allah yang menyatakan diri dalam daging atau menjelama menjadi manusia, dan oleh sebab itu penderitaan dan kematian-Nya dapat menyelamatkan kita semua. Itu adalah substitusi atau penggantian penebusan yang nyata.

 

            Ada beberapa hal yang dosa lakukan. Salah satunya atau pertama adalah dosa memisahkan antara manusia dan Allah. Ada dinding pemisah yang besar antara manusia dan Allah. Dosa memisahkan manusia dari Allah. Itulah yang terjadi di Taman Eden, ketika Adam yang sebelumnya memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan, dapat berbicara muka dengan muka, namun kemudian Ia melanggar larangan Tuhan, dan kemudian ia menyembunyikan dirinya sendiri.

 

            Dan ketika ia mendengar bunyi langkah Tuhan Allah  di taman itu pada waktu hari sejuk, Adam menyembunyikan dirinya. Dan Tuhan memanggilnya: Adam, Adam. Dimanakah engkau?

 

            Dan ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi” (Kejadian 3:10).

 

            Dosa memisahkan antara manusia dan Allah. Dosa juga memisahkan Yesus dari Allah ketika Ia tergantung di kayu salib dan berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dia dipisahkan oleh dosa dari Bapa-Nya oleh karena Ia menggantikan posisi kita yang berdosa dan terpisah dari Allah.

 

            Hal kedua adalah bahwa dosa itu merusak dan merampok. Dosa meninggalkan kita dalam ketelanjangan, berantakan dan tersesat. Dan pada waktu Yesus disalibkan, Ia ditelanjangi. Ia disalibkan dan mati dalam keadaan ditelanjangi. Kitab Suci mencatat bahwa “Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya’” (Yohanes 19:23-24). Mereka merampok Dia. Dosa merampok Dia. Mereka mengambil segala sesuatu yang Ia miliki, bahkan pakaian-Nya.

 

            Ketiga, dosa menyebabkan penderitaan dan kesakitan. Allah melihat penderitaan jiwa-Nya dan gumpalan darah dan bercampur dengan peluh-Nya yang menetes ke tanah. Yesus telah menderita. Ia mati dalam penderitaan dan kesusahan yang mendalam.

 

            Keempat, dosa membunuh. Ia telah mati. Ia diperhitungkan di antara orang jahat dan ia telah menundukkan kepala-Nya setelah berkata: Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku. Dan Ia menundukkan kepala-Nya dan mati. 

 

            Saya hanya dapat menggambarkan penggantian penebusan atau substitusi Kristus yang nyata dengan keempat hal di atas. Dan jelas itu nyata, bukan isapan jempol belaka, bukan suatu khayalan, bukan suatu fiksi. Ia telah mati huper hemon atau menggantikan kita dan itu nyata sekali. Itu adalah penebusan yang aktual.

 

            “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (Yesaya 53:6). Di sini ada penggantian penebusan yang nyata.

 

“Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” (Gal. 3:10). Kita terkutuk. Namun “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita (huper hemon)” (Gal. 3:13). Ia menjadi kutuk menggantikan posisi kita. Ini adalah penggantian penebusan yang nyata.

             

            Itu adalah berkat iman yang datang kepada kita yang menerima Tuhan dan janji Roh melalui iman. Kita sadar bahwa kita lemah, terhilang, patut dimurkai, patut dihukum, patut dihakimi, patut dikutuk, karena kita semua adalah orang berdosa dan berada di bawah kutuk.

 

            Namun Kristus yang lahir dari seorang perempuan, dibuat terkutuk di bawah Taurat, agar Ia dapat menebus kita dari kutuk hukum Taurat. Ia menebus kita dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Dengan demikian kita dapat memperoleh berkat dari Tuhan melalui iman di dalam Yesus Kristus.

 

            Itu terjadi ketika kita menerima Tuhan, ketika kita percaya di dalam Tuhan, ketika kita beriman kepada Tuhan, semua yang Tuhan memiliki adalah milik kita. Anda melihat ada dua sisi dari kematian untuk penggantian penebusan ini, yaitu:

 

            Jika Tuhan mengambil tempat kita, jika Ia mati huper hemon atau menggantikan kita, maka sisi lain dari Injil adalah bahwa saya memiliki tempat-Nya. Saya mengambil tempat-Nya. Saya memiliki kebenaran-Nya.  Ketika ia mengambil pakaianku yang kotor, kemudian aku mengenakan pakain-Nya yang indah, bersih dan putih, yang telah dicuci dengan darah Anak Domba.

 

            Saya telah menanggalkan status budak saya dan Ia mengambilnya. Saya menerima kebebasan atau kemerdekaan milik-Nya. Ia mati untuk saya, kemudian saya hidup di dalam Dia. Apa yang saya tanggalkan Yesus ambil, dan apa yang saya ambil dari Kristus, itu menjadi milik saya. Jika Ia mati bagi saya, maka apa yang Kristus miliki adalah milik saya juga, karena Ia menggambil tempat saya dan saya menerima tempat-Nya.

 

            Kita seperti  bertukar tempat dengan Dia. Ia mati bagi saya dan saya hidup karena Dia. Ia mengambil dosa dan kutuk dan penghakiman serta penghukuman saya dan saya menerima rahmat dan anugerah dan pengampunan serta hidup-Nya sekarang dan selama-lamanya. Ini adalah keajaiban Injil, kabar baik tentang Anak Allah.

 

 

 

KEAJAIBAN INJIL

 

Pertama, bersifat seketika. Injil ini berkata lihatlah dan kamu hidup. Percayalah dan kamu selamat. Dan itu terjadi seketika. Sama seperti ketika Ia menyembuhkan orang tuli dengan hanya berkata kepadanya, “ephratha”, dan seketika itu juga orang tuli itu dapat mendengar. Atau ketika Ia berkata kepada angin topan, “Diam!” dan seketika itu juga menjadi teduh. Atau ketika Ia berkata kepada anak Yairus, “Bangunlah!” Maka seketika itu juga anak itu bangun. Demikian juga pada saat orang berdosa memandang Dia, percaya kepada Dia yang telah dipakukan di kayu salib, seketika itu juga ia beroleh selamat. Haleluya, itu hanya dengan memandang maka hidup. Pandanglah Dia, percayalah Dia, saudaraku, maka engkau hidup.

 

            Pandanglah Yesus Kristus dan engkau hidup. Dan yang kedua ini selalu bersifat komplit, mutlak sempurna. Tidak perlu ditambah dengan apapun juga. Seluruh air di samudera Neptune tidak dapat membersihkan noda dosa dalam jiwa kita. Semua macam rempah-rempah dan parfum Arabia tidak bisa menghilangkan noda dosa kita. Namun darah Yesus kristus, Anak Allah, menyucikan kita dari segala dosa.

 

Itu bersifat sempurna atau komplit. Kristus tidak hanya menebus sebagian dosa kita, tetapi seluruh dosa kita. Allah tidak hanya mengampuni dosa kita yang kemarin saja, namun Ia juga mengampuni dosa kita yang sekarang dan yang akan datang. Karya penebusannya sudah selesai, mutlak sempurna dan komplit.

 

            Ketiga, tidak dapat dibatalkan. Ketika Allah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita, Ia tidak akan mengambil diri-Nya kembali dari kita. Dan yang telah Allah anugerahkan kepada kita adalah keselamatan, maka Dia tidak akan membiarkan kita jatuh kembali ke dalam jurang maut dan neraka. Keselamatan yang telah Ia berikan tidak dapat dibatalkan. Itu adalah untuk selama-lamanya. Itu adalah sekarang dan sampai selama-lamanya. 

 

            Itu adalah pemberian kekal. Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat, tetapi Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita.

 

            Kita memperoleh pembenaran Allah di dalam Dia. Dan itu telah terjadi. Transaksi besar telah terjadi ketika saya menerima Dia. Seperti yang Paulus tuliskan di dalam ayat ini, “sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”

 

            Ketika saya menerima Dia, ketika saya percaya kepada Dia, ketika saya membuka hati saya untuk Dia, transaksi besar telah terjadi. Allah membenarkan saya dan menyelamatkan saya.