Daftar Isi

KEMANA KITA AKAN PERGI KETIKA KITA MATI?

(WHERE DO WE GO WHEN WE DIE?)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

Diadaptasi Dr. Eddy Peter Purwanto

 

Khotbah ini dikhotbahkan pada kebaktian Minggu Malam, 11 Maret 1979

di First Baptist Church in Dallas

 

“Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luke 23:39-43).

 

Kemana Kita akan Pergi Ketika Kita Mati? Tujuan Allah menebus seluruh milik-Nya – bukan hanya roh dan jiwa tetapi juga tubuh fisikal. Dalam Roma 8, Rasul menulis,

 

Dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Roma 8:21, 22).

 

Bahkan sapi maupun kuda mengalami sakit pada waktu melahirkan anak. Seluruh dunia mengalami penderitaan yang teramat dalam. “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk – segala makhluk di sekitar kita -- sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (Roma 8:22, 23).

Hari Sabtu kemarin saya pergi membesuk empat diakon kita yang sedang mengalami sakit yang serius dan mereka sangat menderita. Dan sebelum saya sampai di kebaktian ini saya memperoleh kabar bahwa salah satu dari keempat diakon kita yang sedang sakit itu telah meninggal. Segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Frase seperti ini juga dipakai oleh Rasul Paulus dalam Efesus 1:14, “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.” (Efesus 1:14). 

Ini adalah ketetapan Allah, bahwa Allah memilih kita untuk menyelamatkan kita secara sempurna. Yaitu untuk membawa kita kembali kepada kemurnian dan kekudusan serta kebahagiaan yang pernah dialami oleh ayah dan ibu kita yang pertama di Taman Eden. Kita akan sepenuhnya ditebus, baik roh kita, jiwa kita dan tubuh kita, sama seperti seluruh ciptaan di sekitar kita. Di sana tidak akan ada lagi panas matahari yang membakar kita dan tidak ada lagi berbagai bencana penghukuman bagi bumi ini. Namun    semuanya akan menjadi begitu indah dan mulia seperti pertama kalinya semua itu diciptakan oleh tangan yang sempurna, yaitu Allah yang suci dan mahakuasa.

Selanjutnya itu sangat jelas untuk dilihat – dan itu yang mendorong saya untuk menyampaikan khotbah ini malam ini. Itu sangat nyata bahwa antara roh kita yang ditebus dan jiwa kita yang dilahirkan kembali – antara pada saat saya diselamatkan dan saat kebangkitan tubuh saya – tubuh saya akan diubahkan menjadi tubuh mulia – ada suatu periode waktu yang besar. Ada masa antara. Tubuh saya masih rusak atau korup walaupun roh saya telah dilahirkan kembali, jiwa saya telah dilahirkan kembali. Ada masa antara hari ketika kita menerima Yesus sebagai Juruselamat kita dan hati saya dilahirkan kembali, dengan hari ketika tubuh saya dibangkitkan dari antara orang mati dan diubahkan menjadi tubuh yang mulia pada saat Yesus datang untuk menjemput umat milik-Nya.

 

 

MASA INTERMEDIATE

 

Periode waktu ini mungkin sangat singkat bagi beberapa orang, namun bagi orang-orang yang lain, mereka terus menerus menanti waktu itu sangat lama. Coba   Anda pikirkan berapa lama periode waktu antara kematian Adam atau Nuh atau Abraham atau Musa dan hari kebangkitan. Saya menyebutnya dan banyak mahasiswa yang menulis kepada saya dengan menyebut itu sebagai “intermediate state”, yaitu periode waktu antara kelahiran kembali jiwa saya dan hari ketika tubuh saya dibangkitkan ke dalam tubuh yang tidak akan bisa binasa lagi; yaitu hari penebusan dari seluruh milik kepunyaan-Nya yang telah dibeli dengan darah-Nya.

Ketika saya mati, roh saya yang telah dilahirkan kembali dipisahkan dari tubuh  saya yang membusuk di dalam tanah. Apa yang terjadi terhadap saya dan siapakah saya, dan kemana saya akan pergi ketika saya dipisahkan dari tubuh saya yang fana ini? Mungkinkah roh saya masih hidup, masih bisa merasa dan masih memiliki emosi dan sensitivitas? Sesungguhnya iya. Allah adalah roh. Para malaikat adalah roh. Dan dalam roh dalam kematian ini, saya akan pergi ke mana? Bersama dengan Tuhan. Dalam 2 Korintus, paulus berbicara tentang perpisahan antara roh dan tubuh, dan ia berkata, “Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih [ekdemeo] dari tubuh ini untuk menetap [endemeo] pada Tuhan.” (2 Korintus 5:8)

Dalam King James Version: “We are confident and willing to be absent from the body and to be present with the Lord” (2 Korintus 5:8). 

Apekdechomai berarti “menunggu, menanti’; ekdemeo berarti “beralih atau pindah atau meninggalkan rumah”; endemeo berarti “menetap di rumah.”

Jadi ia berkata, “Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih [ekdemeo] dari tubuh ini untuk menetap [endemeo] pada Tuhan.” Oleh sebab itu, Kitab Suci menjelaskan bahwa kita [mereka] akan meninggalkan rumah ini – atau tubuh ini – untuk menetap bersama dengan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Saya akan meninggalkan tubuh yang fana dan rusak ini, dan pada saat saya mati, saya langsung menetap bersama dengan Tuhan.

Itulah sebabnya mengapa dalam perikop ini Anda baru saja membaca, “sesungguhnya hari ini [semeron] juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus [paradeisos] (Lukas 23:43). Tiga kali kata paradeisos ini digunakan di dalam Alkitab; dan itu adalah deskripsi yang agung dan mulia. Dalam bahasa Persia kuno itu berarti, “suatu taman atau surga.”

Kata ini pertama kali dipakai di sini. Hari ini atau semeron – ini berarti tidak ada hari lain, atau beberapa jam setelah itu; ini berarti bahwa orang itu tidak akan tinggal dalam dunia orang mati selama seribu tahun, tetapi “hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43). 

Kata ini atau paradeisos untuk kedua kali dipakai dalam 2 Korintus 12 di mana Paulus berkata, “orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga” (2 Korintus 12:2). Dan kemudian ia mengulanginya dengan berkata, “ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus” (2 Korintus 12:4). Jadi firdaus adalah langit ketiga di mana Allah berada.

Yang ketiga kalinya kata firdaus digunakan dalam Wahyu pasal dua. Ketika Tuhan mengalamatkan surat-Nya kepada jemaat di Efesus, Ia berkata, “Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah” (Wahyu 2:7). Dan itu memberikan isyarat kepada kita di mana tempat itu berada. Dalam Wahyu 22:2, “Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya” (Wahyu 22:3).

Dan di dalam Wahyu pasal 2 dikatakan bahwa ada pohon kehidupan di dalam firdaus. Jadi firdaus adalah kota suci yang suatu hari nanti akan turun dari Allah dari sorga. Itu artinya bahwa ketika kita mati, kita akan langsung bersama dengan Tuhan di firdaus, di sorga, di Yerusalem, kota Allah yang kudus dan indah itu. Itu adalah tempat ke mana kita akan pergi pada saat kita mati.

Itu adalah suatu keadaan yang begitu indah dan tanpa batas. Dalam suatu kisah yang indah dalam Injil Lukas, ketika pengemis itu, yaitu Lazarus mati, ia dibawa oleh para malaikat ke “pangkuan Abraham,” yang mana ini adalah bahasa atau istilah Talmudik untuk menjelaskan firdaus Allah, sorga di mana Tuhan kita berada. 

Dalam Wahyu 14:13, Roh berkata, “Tuliskan.” Apa itu? “Tuliskan: "Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka” (Wahyu 14:13).

Dalam meterai kelima, ia melihat jiwa-jiwa dari orang-orang yang menjadi martyr dari bahwa mezbah Allah. Itu adalah gambaran tentang korban. Darah itu dipercikkan ke atas mezbah. Dan orang-orang yang telah menjadi martyr demi nama Kristus melihat Dia yang dikorbankan bagi hidup mereka untuk Allah. “Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar?” ( Wahyu 6:10). Dan Allah menjawab mereka, “Sebentar lagi. Istrirahatlah sejenak sampai hari penghakiman agung tiba.”

Di masa antara, yaitu periode waktu antara hari kematian kita dan hari kebangkitan tubuh kita, kita ada bersama dengan Yesus. Kita bersama dengan Tuhan di firdaus. Yang mana itu adalah nama untuk kota Allah yang indah dan kudus.

 

 

SUASANA FIRDAUS

 

Lalu sekarang seperti apakah firdaus itu? Apakah kita dapat menjelaskannya?

Paulus menulis dengan luar biasa dalam 1 Korintus 13 ketika ia berkata, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (1 Korintus 13:12).

Apa yang dimaksudkan oleh Paulus bahwa di firdaus, di sorga, kita akan mengenal Tuhan sama seperti Tuhan mengenal kita. Dan di sini ia menggunakan kata epiginosko, “mengenal.” Itu berarti “mengenal secara eksperensial, mengetahui yang sesungguhnya dan kenyataannya.” Anda dapat menerjemahkan kata ini “recognize” dalam bahasa Inggris atau “mengenal secara dekat” bukan hanya sekedar “tahu.” Kita akan saling mengenal satu sama lainnya bahkan sama seperti Allah mengenal kita.

Anda memiliki dua puluh empat kata epiginosko ini dalam Injil Lukas. “Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal [epiginosko] Dia” (Lukas 24:16).

Kemudian kata itu juga dipakai ketika Tuhan duduk pada perjamuan makan malam dan berdoa memberkati roti itu, “Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal (epiginosko) Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka” (Lukas 24:31). Mereka mengenal Dia. Itu adalah kata yang Paulus gunakan berhubungan dengan kita di sorga nanti; yaitu epiginosko. Kita akan mengenal satu sama lain sama seperti Kristus mengenal kita. Dan mereka yang ada di sorga memiliki nama seperti kita memiliki nama. “Akulah Gabriel yang melayani Allah” (Lukas 1:19). Itu adalah apa yang ia katakan, “Akulah Gabriel.” Ia memiliki nama. Yesus berkata, “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat” (Wahyu 22:16). Ketika Ia menampakkan diri kepada Rasul Paulus, Ia bekata, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kisah 9:5). 

Ketika Yesus dimuliakan di bukit, murid-murid mengenal Musa dan Elia dan mengetahui nama mereka. Dengan intuisi rohani murid-murid itu mengenali walaupun mereka tidak pernah melihat mereka. Dalam kisah orang kaya dan Lazarus, orang kaya itu mengenal Abraham dan berbicara kepada Lazarus; dan Lazarus juga mengenal orang kaya itu dan Abraham.

Ini lah apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Kita tidak akan dikumpulkan di suatu kegelapan tanpa wajah dan tanpa nama dan tanpa personalitas. Namun kita akan dikumpulkan bersama Tuhan, kita adalah suatu pribadi yang telah dimuliakan dan saling mengenal antara satu dengan yang lain.

Seperti itulah Tuhan kita. Ia mengenal kita secara pribadi. Para murid mengenali Tuhan yang telah bangkit sama dengan mereka mengenal Dia sebelum Dia mati. Anda ingat, Maria mengenali Dia setelah Dia memanggil namanya di dekat kubur Yesus. Di dekat kubur itu, Tuhan menghampiri Maria dan berkata, “Maria.” Rasul Yohanes berkata bahwa ketika ia masuk ke dalam kubur, kubur itu kosong, dan ia melihat kain kapannya dilipat rapi dan diletakkan pada tempatnya, ia tahu bahwa Yesus melipat kain kapan itu. Dan ketika ia melihat kain kapan yang tersusun rapi itu, ia percaya bahwa Tuhan telah bangkit, Tuhan hidup; bahwa Ia bangkit dari antara orang mati.

Dua murid yang berada dalam perjalanan menuju Emaus mengenal Dia ketika I mengucap berkat. Yesus pernah mengucap berkat sebelum memecah-mecahkan roti. Dan ketika Yesus mengucap berkat atas roti itu, mereka mengenal Dia. Ketika Ia berdiri di hadapan para murid-Nya dan kepada Tomas yang ragu itu Ia mengangkat tangan-Nya dan berkata, “Lihatlah tangan-Ku bekas lobang paku ini dan lihatlah lambungku.” Pengenalan Dia adalah secara pribadi. Yesus adalah Yesus. Dan Anda akan tetap menjadi Anda. Dan saya akan tetap menjadi saya. Dan kita akan tetap menjadi kita.

Itu akan menjadi penebusan penuh bagi umat tebusan-Nya ketika Allah menyempurnakan pekerjaan anugerah dan kemuliaan-Nya di dalam kita. Dan suatu hari nanti kita akan berkumpul di sorga yang mulia bersama dengan Tuhan.

Terakhir kali saya mengunjungi ibu saya yang sudah tua dan sakit-sakitan, ia berkata kepada saya,

“Nak, sudahkah kamu berbicara dengan kakekmu?”

Saya menjawab, “Belum, ibu.”

Ia berkata, “Nak, sudahkah kamu memberi salam kepada nenekmu?”

Saya menjawab, “Belum, ibu.”

Ia berkata, “Nak, sudahkah kamu berbicara dengan pamanmu, Joe.”

Saya menjawab, “Belum, ibu.”

Kakek dan Nenek telah meninggal lebih dari lima puluh tahun sebelumnya pada waktu ia bertanya kepada saya. Dan paman Joe telah meninggal lebih dari tujuh puluh tahun sebelumnya pada waktu ia bertanya kepada saya. Dan ia berkata kepada saya, “Pernahkah kamu berbicara dengan kakekmu dan ibumu dan pamanmu Joe?”

“Belum, ibu.”
Dan kemudian saya berkata, “Ibu, di mana mereka? Bagaimana saya dapat berbicara dengan mereka?

Ia menjawab, “Nak, mereka ada di sini.”

Saya berkata, “Ibu, mereka ada di sini?”

“Ya”, ia menjawab, “Nak, mereka ada di sini.”

Akhirnya saya berkata, “Ibu, apa yang membuat ibu berpikir bahwa mereka ada di sini?”

Ia berkata, “Nak, aku telah melihat mereka. Dan mereka telah mengunjungi ibu. Dan mereka ada di sini. Dan nak, sebelum kamu pulang, saya ingin kamu bertemu dengan kakek dan nekek serta pamanmu, Joe.”

Saya menjawab, “Saya tidak tahu sekarang, tetapi saya berjanji bahwa suatu hari nanti, saya akan mengunjungi kakek dan nenek dan paman Joe.”

Bagaimana Anda menjelaskan itu? Setelah mati saya dapat berjumpa dengan kakek dan nenek serta paman Joe.

Segala sesuatu yang kita tahu dan alami sebagai orang Kristen dan segala sesuatu yang kita baca di dalam Alkitab adalah janji yang begitu indah tentang rumah kita di sorga,  Allah membuat kita sempurna bahkan dalam ketidak-sempurnaan kita.

Kemana kita akan pergi ketika kita mati? Ke dalam hadirat Tuhan yang ada di firdaus, yang ada di sorga, yaitu kota Allah yang kudus; rumah kita untuk selama-lamanya.

Dan kami mengundang hati Anda malam ini untuk bergabung bersama dengan kami dalam kemuliaan Allah yang telah menuliskan karya keselamatan yang agung bagi kita; yang telah berjanji akan menyelamatkan kita; yang telah membeli kita sepenuhnya menjadi milik-Nya; bukan hanya roh dan jiwa kita, tetapi Ia juga akan memberikan tubuh kemuliaan kepada kita, yaitu tubuh yang tidak akan pernah binasa. Kita semua bersama adalah keluarga yang telah ditebus oleh Tuhan.

Marilah bergabung bersama kami. Saya tidak tahu betapa tragedi yang teramat menyedihkan bagi orang-orang yang siap ke sorga, namun beberapa anggota keluarganya masih terhilang dan akan ditinggalkan. Oh, Tuhan, Tuhan akan memberikan kepada kita tubuh yang tidak akan binasa; dan kita semua akan bersama dengan Juruselamat kita dalam kemuliaan untuk selama-lamanya.

Dan ini adalah undangan Allah bagi hati Anda. “Datanglah.” Tuhan sedang membuka pintu, kasih sedang terbuka, undangan masih dikumandangkan, Tuhan berkata, “Datanglah kepadaku.”

Seseorang datang kepada saya sebelum saya naik mimbar dan berkata, “Pak Pendeta, ayah saya masih terhilang dan malam ini ada di sini. Berkhotbahlah untuk dia. Tantanglah dia.” Dan sekarang saya ingin berkata kepada ayah orang ini, “Apa yang lebih berharga dalam hidup Anda selain memberikan hati Anda kepada Allah?”