Daftar isi

BAPTISAN YESUS DAN YOHANES

(THE BAPTISM OF JESUS AND JOHN)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Yohanes 1:19-27

03-15-87

 

            Ini adalah Pendeta kami yang sedang membawakan khotbah yang berjudul: Baptisan Yesus dan Yohanes. Di dalam khotbah kita melalui kitab Yohanes minggu yang lalu, kita mulai dari pasal empat, dan saya telah berkhotbah atas bagian kecil—kebaikan—di dalam kehidupan Tuhan kita: Dan Dia Harus Butuh Pergi Melalui Samaria. Tidak ada orang Yahudi Ortodoks yang akan menjejakkan kakinya di Samaria. Mereka menyeberangi Sungai Yordan ke Perea, berjalan di atas sisi yang lain, kemudian menyeberangi kembali Lembah Yordan—tetapi mereka tidak akan mau pergi melalui Samaria. Tetapi—khotbah minggu yang lalu—Yesus melakukan hal yang berbeda. Dia tidak hanya pergi melalui Samaria, Dia mengkhotbahkan injil kepada orang-orang itu dan secara pribadi memenangkan seorang wanita Sikhar kepada Tuhan.

            Kemudian saya kembali berpaling ke dalam hati saya, tentang bagian terakhir dari pasal yang telah saya lewati. Dan semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa tidak seharusnya saya melakukan hal itu. Jadi Minggu ini, saya kembali ke pasal tiga dan saya berkhotbah melalui sebuah bagian kecil, sebuah tambahan kecil, yang disebutkan di dalam bagian terakhir dari pasal tiga.

            Dan sebagaimana saya telah mempersiapkan khotbah minggu ini, hal itu memakan waktu yang sangat lama sehingga saya membaginya menjadi dua bagian. Jadi pada hari minggu ini, khotbah ini akan menjadi bagian yang pertama dan Minggu yang akan datang menjadi bagian yang kedua. Bagian ini ditemukan dalam Injil Yohanes pasal tiga ayat dua puluh tiga.

            Dimulai dari ayat dua puluh dua:

 

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-muridNya ke tanah Yudea dan Ia berdiam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.

 

Ketika anda samapai ke dalam pasal empat, di situ dikatakan:

 

…Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes—meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melaikan murid-muridNya—….

 

Sekarang di dalam ayat dua puluh tiga (dan ini adalah tambahan kecil dari ayat sebelumnya):

Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di dekat Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis.

 

Sebuah bagian kecil: “Sebab di situ banyak air (hanya sebuah penambahan kecil yang insidental).”

Anda tahu, ini adalah sebuah keanehan, ketika seseorang menyampaikan kebenaran, dia hanya dapat berbicara dan berbicara serta berbicara; dan setiap suku kata  dari apa yang dia sampaikan akan diletakkan secara sempurna dengan bersama-sama. Dia memberitahukan kebenaran—dia bahkan tidak perlu mengingat apa yang dia sampaikan—hanya biarkan saja dia berbicara, dan berbicara serta berbicara. Dan sebagaimana dia terus berbicara, segala sesuatu yang dia sampaikan—jika dia menyampaikan kebenaran—akan diletakkan dengan tepat.

            Jika seseorang tidak menyampaikan kebenaran, jika dia berdusta, biarkan dia berbicara dan terus berbicara dan berbicara; dan sebagaimana dia terus berbicara, akan ada sebuah bagian kecil yang tidak cocok, akan ada sesuatu di sana yang tidak sungguh-sungguh dapat ditangkap. Dan sepanjang dia terus berbicara, ada beberapa hal kecil yang tidak sesuai dengan apa yang dia telah sampaikan—dan tidak ada pengecualian untuk hal itu.

            Demikian juga di dalam pernyataan Allah: jika apa yang anda lakukan, dan apa yang anda ajarkan, adalah kebenaran yang dari Tuhan, maka akan ada sedikit bagian tambahan; akan ada sampingan kecil, akan ada detail-detail yang kecil dari apa yang memberi penegasan terhadap kebenaran yang Allah nyatakan—dan ini adalah salah satu diantaranya.

            Anda tidak dapat membaptiskan dengan secangkir teh, anda tidak dapat membaptiskan dengan tempat baptisan yang dalamnya hanya satu inci, anda tidak dapat membaptiskan dengan satu cangkir air. “Yohanes pun membaptis juga di dekat Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air.” Untuk dibaptiskan, anda harus dikuburkan dan dibangkitkan. Dan di sana “banyak air” di Ainon, dekat Salim, di sana Yohanes berdiri, dan mereka datang serta dibaptiskan.  

Semua hal itu bermula secara mengejutkan dari kemunculan seorang pengkhotbah Baptis. Selama empat ratus tahun, tidak ada seorang nabi, tidak ada wahyu dari Allah. Sorga adalah kuningan dan dunia adalah besi. Allah kelaihatannya menarik wahyuNya dan kehadiranNya dari umatNya. Selama empat ratus tahun tidak ada pesan dari sorga yang dikirim dari hadapan Allah dan Pencipta yang Mahakuasa. 

            Sebagai hasilnya, agama telah didefinisikan di dalam bentuk formalitas, ritual-ritual dan tatacara-tatacara. Tidak ada pengecualian untuk itu di dalam pengalaman manusia; semakin anda beranjak pergi dari Tuhan dan getaran dari kehadiran Allah, semakin anda menemukan agama yang mengambil bentuk ke dalam sebuah kebiasaan, ritual dan aturan-aturan. Seperti itu yang telah terjadi di Israel, dan mereka menyebutnya “tradisi tua-tua.” Mereka hidup berdasarkan pandangan orang Farisi, dan aturan-atauran serta ritual-ritual.

Dan ditengah-tengah hal itu, datanglah sebuah kehadiran, seperti guntur yang keluar dari langit, seperti sebuah suara klarion. Mereka mendengarkan pesan  dari nabi ini yang berasal dari Allah. Dia seperti datang pada saat yang mendadak, yang telah disembunyikan dalam sekian waktu yang lama hingga waktu kemunculannya bagi Israel.

Manusia Allah ini, Ioannes ho baptistes, tiba-tiba muncul dengan pesan yang mengejutkan dari sorga. Permulaan pesannya dari sorga. Dan respon yang menggairahkan terhadap kedatangannya sangat luar biasa. Dari seluruh penjuru bangsa, mereka tercurah ke dalam Lembah Yordan untuk mendengarkan pria ini berbicara tentang kata-kata yang diperintahkan Allah kepadanya.

            Tetapi hal yang sangat mengherankan, ketika mereka mendengar, ketika mereka melihat, ada sebuah tatacara yang baru yang dibawa dari Allah kepada umat. Bagi dia, bagi pengajar itu, itu adalah sebuah pembasuhan, sebuah pembersihan, itu adalah sebuah pengudusan. Saya tahu hal itu karena, di dalam pasal tiga ini, di dalam diskusi mereka, mereka berbicara tentang pengudusan—pengucian. Bagi dia itu adalah sebuah pembersihan, dan itu adalah sebuah persiapan bagi kerajaan mesianik dan sambutan dari Mesias Raja. Tetapi bagi Allah—dimana Dia akhirnya menyingkapkan artinya—itu adalah sebuah penguburan dan sebuah kebangkitan. Orang ini, Yohanes Pembaptis datang terlebih dahulu dengan sebuah tatacara yang baru dan sebuah ritual yang baru yang tidak pernah dilihat oleh dunia.

            Pada saat itu di Israel banyak pembasuhan, di dalam Yunani banyak baptismos.  Mereka membasuh dengan mencelupkan bejana dan panci-panci mereka. Mereka membaptiskan kaki dan tangan serta kepala mereka; dan kadang-kadang mereka membaptiskan seluruh tubuh mereka. Mereka memiliki banyak pembasuhan dan penyelaman.  Tetapi mereka selalu melakukannya sendiri. Mereka membasuh kaki mereka, mereka membasuh tangan mereka, mereka membasuh tubuh mereka. Mereka membaptis diri mereka sendiri; mereka membaptiskan sendiri. Pertama kali dunia melihat seseorang membaptiskan orang lain dan membasuh dia—membaptiskan dan menyelamkan orang lain—adalah Yohanes Pembaptis yang melakukannya di Sungai Yordan. Itulah sebabnya mereka menyebut dia sebagai Ioannes ho baptistes

            Ada begitu banyak Yohanes yang hidup pada masa itu; sama seperti banyak Yohanes yang hidup pada hari ini—banyak Yohanes yang duduk di auditorium ini. Tetapi hanya satu orang yang membaptis yaitu, Ioannes ho baptistes—seseorang yang membaptis.

            Mereka tidak pernah melihat ritual itu sebelumnya. Akhirnya komite Sanhedrin datang dari Yerusalem. Mereka terdiri dari orang-orang Saduki, orang-orang Farisi, dan  Ahli Taurat, orang Lewi dan imam-imam. Mereka mewakili seluruh orang Yahudi. Dan mereka berada dalam sebuah komite resmi, datang kepada Yohanes di sungai Yordan, dan mereka berkata: “Siapakah engkau dan dari manakah engkau berasal? Apakah engkau Kristus, Mesias?”

            Dan dia menjawab, “Bukan!”  

            "Apakah engkau Elia?” 

            "Bukan!" 

            "Musa berkata, ‘Sesudah aku. Allah akan membangkitkan seorang nabi seperti dia, kamu harus mendengarkan dia.” Apakah engkau nabi itu?”

            Dan dia berkata, “Bukan!”  

            Kemudian mereka berkata: “Dengan hak apa dan dengan kekuasaan apa engkau melaksanakan ritual yang baru ini—baptisan ini? Darimana engkau memperolehnya dan dari manakah hal ini berasal?”

            Dan Yohanes menjawab: “Aku memperolehnya dari sorga. Dia yang mengutus aku untuk membaptis—Allah di sorga!”

            Dan di dalam Kitab Matius pasal dua puluh satu, Tuhan kita menegaskan pengakuan itu. Dia berkata: “Baptisan Yohanes berasal dari sorga.” Itu adalah sebuah tatacara, sebuah ritual, sebuah bentuk yang diberikan Allah kepada kita dari kebijakan dan perintah ilahiNya. Dan tatacara serta ritual itu telah terbentu dalam permulaan pesan kekristenan, di dalam dispensasi Kristen, di dalam kerajaan mesianik.

Di dalam pasal tiga Yesus membaptis. Di dalam pasal empat, Dia membaptiskan lebih banyak pengikut dari pada Yohanes Pembaptis, sekalipun bukan Dia sendiri yang membaptiskan, tetapi murid-muridNya yang melakukannya. Di dalam Kitab Matius pasal dua puluh delapan, penutupan dari Amanat Agung, perintah baptisan itu merupakan jantung dari Amanat agung itu sendiri:

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus… 

Dan para rasul dengan setia melakukannya. Tidak ada sebuah contoh, di dalam Perjanjian Baru, dari setiap orang yang datang ke dalam iman, dan pengetahuan, dan komitmen kepada Kristus tanpa dibaptiskan; dan tidak ada pengecualian selama berabad-abad dalam iman Kristen.

            Di dalam Kisah Rasul pasal 2, pada hari Pentakosta saat pencurahan Roh Allah disebutkan:

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah merek bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

            Di dalam Kisah Rasul pasal delapan, Allah telah mengutus Filipus—sang diaken, sang penginjil—di jalan Gaza yang sunyi. Dan ketika dia berdiri di sana dan menunggu seperti yang difirmankan Tuhan, datanglah seorang Bendahara negeri Etopia, lalu roh berkata kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Dan dia memberitakan tentang Yesus kepada sida-sida itu. Dan saat mereka melanjutkan perjalanan mereka, mereka tiba di suatu tempt yang ada airnya: lalu kata sida-sida itu (kepada Filipus sang penginjil), “Lihat di sana ada air; apakah halangannya jika aku dibaptis?”

            Gerakan pertama dari Roh Allah yang berada di dalam hati seseorang yang telah menerima Kristus adalah, “Saya ingin dibaptiskan. Lihat, di sini ada air. Apakah halangannya jika aku dibaptis?”

 

Sahut Filipus: "Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh." Jawabnya: "Aku percaya, bahwa Yesus (adalah) Kristus adalah Anak Allah"(Juruselamatku)

Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.

 

            Di dalam pasal berikutnya, Ketika Tuhan yang telah bangkit menampakkan diri kepada Saulus dari Tarsus—dalam sebuah jalan ke Damsyik, dalam tugasnya untuk memenjarakan orang-orang Kristen—ada sebuah penampakan dari cahaya yang berkialu dengan terang, yang sangat mulia, transfigurasi dari anak Allah sendiri yang lebih terang dari cahaya matahari. Dan dalam kebutaannya oleh cahaya itu, dia dituntun masuk ke dalam kota Damsyik, dan Ananias, salah seorang orang kudus Kristus, datang kepadanya dan berdoa bagi dia, kemudian matanya terbuka, berkata: “Dan sekarang mengapa engkau berlambat-lambat? Bangunlah dan beri dirimu dibaptis, dosa-dosamu telah dihapus dan serukanlah nama Tuhan.”

            Di dalam pasal berikutnya—pasal sepuluh—ketika Simon Petrus di bawah perintah Allah, saat dia menyampaikan pesan keselamatan kepada orang non-Yahudi, Roh Kudus turun kepada orang-orang yang sedang mendengarkan firman itu. Dan Simon Petrus berkata:

“Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?

 

Lalu mereka di baptiskan ke dalam iman dan  ke dalam keluarga Allah.

Lalu, melalui tahun-tahun yang berlalu, dan akhirnya sampai kepada keluarga saya—keluarga saya telah dibaptiskan—dan akhirnya kepada saya. Saya telah dibaptiskan atas pengakuan iman saya di dalam Kristus Yesus.

Itu adalah sebuah pengaakuan yang terbuka dan tanpa rasa malu, mengakuinya di depan umum dan mengkomitmenkan hidup kita, dan jiwa kita serta pengharapan kita kepada Tuhan Yesus. Tepat seperti itu! Dan kita telah diselamatkan dalam komitmen itu.

            Di dalam Kitab Roma pasal enam, Paulus mendiskusikan: “Kita telah dibaptiskan ke dalam kematianNya dan telah dibangkitkan dalam keserupaan kebangkitanNya.” Di dalam kitab yang sama, dalam pasal sepuluh terdapat risalat Kitab Roma yang sangat indah:

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Karena dengan hati orang percaya(dalam kebaikan Allah) dan dibenarkan, dan dengan mulut (yang terbuka) orang mengaku dan diselamatkan.

 

Di dalam komitmen dan pengakuan serta penegasan yang terbuka itu, baptisan mengambil tempat tertinggi sebagai tanda bahwa kita telah menerima Tuhan; bahwa kita telah mati bagi dunia di dalam Dia; bahwa kita telah dibangkitkan ke dalam sebuah kehidupan yang baru di dalam Kristus. Itu adalah cara Allah, dan perintah serta contoh bagi pintu masuk kita kedalam Kerajaan Mesianik di dalam sorga.

Ketika saya masih seorang pemuda, yang baru memulai pengembalaan di sebuah gereja kecil, ada sebuah toko—dan orang yang memiliki toko itu secara alami, dengan kurang hati-hati, menjadi pemimpin komunitas kota itu—dia memiliki toko; dan menjadi pemilik toko. Dan ketika setiap orang pergi ke toko, mereka pergi ke toko miliknya itu. Tetapi dia bukan seorang Kristen, dan itu adalah sebuah rintangan yang besar—warga dari komunitas pedesaan ini yang hanya memiliki toko dalam seluruh komunitas itu—bukan seorang pengikut dari Juruselamat kita.

            Pada suatu hari—saya sedang berkhotbah sama seperti saya sedang berkhotbah di sini—pada suatu hari saya sedang berkhotbah di dalam gereja dan memberikan undangan pada akhir khotbah, dengan menelusuri lorong bangku dia datang dan memegang tangan saya. Dan dia berkata: “Hari ini, saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat saya, dan saya memberikan tangan saya kepada anda sebagai tanda bahwa saya telah memberikan hati saya kepada Tuhan Yesus.

            Saya sangat bersukacita dengan tidak terkatakan.

Kemudian dia berkata: “Dan sekarang saya akan kembali ke bangku saya.”            Di dalam keheranan saya, saya berkata, “Anda tidak dapat melakukan itu dan menjadi selamat.”

            Dia berkata kepada saya: “Saya, seluruh hidup saya,” katanya, “saya tidak akan pernah duduk di bangku depan. Tidak akan pernah! Dan saya tidak akan pernah berada dalam tempat baptisan itu! Tidak akan pernah! Tidak akan pernah” Dan dia berkata: “Saya tidak akan duduk di bangku depan itu dan saya tidak akan berada di tempat baptisan itu! Saya akan kembali ke bangku saya.”

            Dan saya berkata kepada dia—sekalipun itu adalah teologi yang baik atau bukan—saya berkata kepada dia: “Tuan, anda kembali ke bangku itu, dan anda akan kembali menjadi manusia yang terhilang dan akan menghadapi penghakiman dan penghukuman di neraka! Anda tidak dapat diselamatkan jika anda tidak duduk di sini di bangku depan dan tidak berada di tempat baptisan itu, dan tidak mengakui iman anda di hadapan Tuhan Yesus tanpa rasa malu.” 

            Segera ada pertentangan di dalam batinnya dan hal itu terlihat pada wajahnya saat dia menggenggam tangan saya. Dan syukur kepada Tuhan! Syukur kepada Tuhan dan terpujilah Tuhan. Roh Allah memenangkan permohonan yang ada di dalam hatinya. Kemudian dia duduk di deretan bangku depan, dan dia membuat pengakuan imannya tanpa rasa malu di depan orang banyak dan akhirnya saya membaptiskan dia.

            Hal ini persis sama seperti yang kita baca dalam 2 Raja-raja pasal lima, tentang Namaan, yang merupakan seorang yang pemberani yang hebat, yang tidak pernah kalah dalam peperangan, dia adalah Panglima Benhadad, raja Aram, yang memiliki ibukota Damsyik. Kemanapun dia pergi, selalu ada kejayaan. Dia sangat bangga. Dia adalah seorang pemenang. Dia orang yang hebat, tetapi dia memiliki sakit kusta—seorang penderita kusta!

Dan di dalam salah satu penyerangan yang dilakukan oleh  Namaan, mereka menawan anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya."

Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: "Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu."

Maka jawab raja Aram: "Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel." Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian.

Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: "Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya."

Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: "Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku."

Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel."

Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa.

Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi (dalam bahasa Yunani, “baptiskanlah”) tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir."

            Dan ketika Gehazi, suruhan Elisa datang dan memberitahukan hal itu, dia sangat marah:

Di sini aku seorang yang terkemuka di Aram, dan Panglima tentara Aram, dan paling sering mendapat kemenangan dari seluruh jendral di Damsyik; dan Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?"

 

Dan dia berpaling dan pergi dengan hati yang sangat panas, tidak pernah dihina sedemikian rupa dalam hidupnya—seorang yang terkemuka, dan penakluk, dan pahlawan militer pada masanya.

           Dan ketika dia dengan panas hati mengendarai kereta kudanya  ke Damsyik dengan tetap menderita lepra, salah satu pegawainya yang berada di atas kereta kuda memegang lengannya dan berkata:  

Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu (seperti menaklukkan Etopia atau menaklukkan kota Venesia, atau membawakan dia seribu talenta emas) bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir."

Percaya dan diselamatkan! Berpaling dan ditebus!

            Dan Naaman memutar keretanya  dan kembali. Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan: satu kali. Dua kali, empat kali, lima kali enam kali dan setelah dia membenamkan dirinya tujuh kali ke dalam air dan lihatlah, kulitnya kembali menjadi seperti kulit anak kecil, dan dia menjadi sembuh dan dia telah tahir! 

            Berapa banyak orang dari ribuan orang yang tidak terhitung jumlahnya berkata: “Saya tidak akan dibaptis. Tidak, saya tidak akan pergi ke tempat baptisan itu. Saya tidak akan turun ke dalam air itu. Saya tidak akan dibaptis. Dan saya tidak akan mau!” Harga diri dan tradisi—Apa sulitnya ketika Allah berkata: “Basuhlah dan menjadi tahir! Percayalah dan menjadi selamat!” Menunduk dalam kerendahan hati dan merasakan kehadiran Allah di dalam jiwa anda, dan di dalam hati anda serta di dalam hidup anda.”

            Itulah Tuhan! Dan untuk menunduk di dalam kepatuhan dan mengikutinya dalam ketaatan yang sederhana—untuk dikuburkan bersama dengan Tuhan kita sebagaimana Dia telah dikuburkan dan untuk dibangkitkan dengan Tuhan kita sebagaiman Dia telah dibangkitkan—menjadi anggota keluarga Allah, dibasuh, dibersihkan, diselamatkan, dimuliakan. Ya, Allah! Mengapa setiap orang ragu-ragu ketika Allah telah membuat jalan itu menjadi sangat mudah, dan sangat sederhana serta sangat jelas?

            Bolehkah kita berdoa?  

            Tuhan kami yang ada di sorga, hal-hal ini telah dituliskan dalam KitabMu, betapa indah dan betapa berharganya mereka ketika mereka berinkarnasi di dalam hidup kami—untuk menunduk, untuk merendahkan diri, untuk taat, untuk mengikuti Engkau. Oh Allah! Betapa manis jalan itu, dan betapa mulia janji itu dan betapa penuh berkat akan kehadirannya—hanya menunduk, hanya membungkukkan dan merendahkan diri kami. “Dibasuh dan menjadi bersih! Percaya dan diselamatkan.” Oh Tuhan, semoga kesaksian dari kehadiran ilahi turun kepada mereka, yang telah Roh Kudus berikan di sini, bersama-sama dengan kami.

            Tuhan berkatilah permohonan ini, dan dalam sebuah momen, ketika kami menyanyikan lagu kami, untuk memberikan hati mereka, tanpa rasa malu kepada Tuhan, Untuk mengakui Dia sebagai Tuhan, dan untuk masuk ke dalam persekutuan keluarga Allah, dan untuk dibaptiskan—kami menyambutnya. Roh Kudus menawarkan kepada anda untuk datang, untuk membawa keluarga anda dan menjadi sebuah bagian dari persekutuan yang kudus dari umat Allah; atau untuk menjawab panggilan Roh Kudus di dalam hati anda. Dalam sebuah momen, ketika kita berdiri untuk bernyanyi, buatlah keputusan sekarang ini.

            Dan dalam baris pertama dari bait pertama lagu ini, mari datanglah. Itu akan menjadi sebuah langkah terbesar yang anda buat di dalam hidup anda. Di sekitar balkon, turunlah melalui salah satu tangga ini, dari kumpulan orang banyak yang berada di lantai bawah, telusurilah salah satu lorong ini dan katakan, “Pendeta, ini adalah hari Allah bagi saya, dan di sini saya berdiri.”

            Tuhan kita menjaminnya, tanpa kehilangan satu orang pun. Semoga anda semuanya dalam kehadiran ilahi menjawab panggilan Roh, menerima Tuhan, datang ke dalam persekutuan jemaat, mengikuti Juruselamat kita dalam baptisan, mendengarkan suara dari Roh Allah di dalam hidup kita dan hati kita. Terima kasih Tuhan, bagi mereka yang telah Engkau berikan kepada kami—di dalam penyelamatanMu, dan namaMu yang luar biasa. Amin.

            Saat kita berdiri dan saat kita bernyanyi, buatlah sebuah keputusan sekarang: “Pendeta, inilah saya. Ini adalah hari Allah bagi saya. Ini adalah waktu Allah bagi saya, dan saya segera datang. Di sini saya datang dan inilah saya.”

Allah memberkati anda,—saat kita bernyanyi, ketika kita membuat permohonan, mari datanglah.

 

 

 Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.