AIR MATA YESUS

(THE TEARS OF JESUS)

 

Oleh Dr. W. A. Criswell

 

Khotbah ini dikhotbahkan di First Baptist Church of Dallas

Pada tanggal 21 Pebruari 1988

 

 

Yohanes 11:35

02-21-88

 

           Sekali lagi, Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang bergabung di dalam ibadah kami, baik yang mendengarkannya melalui siaran radio maupun yang menyaksikannya melalui siaran televisi. Ini adalah Gereja First Baptist Dallas, dan saya adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Air Mata Yesus. Di dalam seri khotbah kita melalui Injil Yohanes, kita telah berada dalam pasal sebelas. Dan di dalam pasal sebelas, di tengah-tengah pasal tersebut ada sebuah ayat yang paling singkat di dalam Alkitab. Yohanes 11:35: “Maka menangislah Yesus.” Di dalam Perjanjian Baru Bahasa Yunani, sama seperti di dalam Alkitab bahasa Inggris kita, itu adalah ayat yang paling pendek, yang paling singkat di dalam Firman Allah: “Maka menangislah Yesus.”

            Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-muridNya: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”

            Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan:Elia (pertanda Mesias). Tetapi ada juga yang mengatakan: Yeremia—Engkau seperti nabi yang meratap.”

           Adalah Yeremia yang memulai dalam pasalnya yang sembilan:  

Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam akau akan menangisi orang-orang putri bangsaku yang terbunuh! 

            Adalah Yeremia yang menulis di dalam Ratapannya, di dalam pasalnya yang pertama:

Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berlalu? Apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan Tuhan kepadaku….

 

Kata mereka, “Dia sama seperti Yeremia, nabi yang penuh ratapan.”

            Tidak ada satu kali pun dalam Alkitab yang menyebutkan Tuhan kita tersenyum atau Dia tertawa. Tetapi tiga kali dinyatakan bahwa Dia menangis. Di sini, di dalam teks kita—di dalam Yohanes 11:35: “Maka menangislah Yesus.” Kemudian di dalam Lukas 19:41, ketika Dia naik ke Puncak Bukit Zaitun, dan melihat kota itu terhilang, yang akan dihukum, yang terletak di hadapanNya,  Ia mencucurkan air mata.

         Dan yang ketika terdapat di dalam Ibrani 5 ayat 7, dimana di situ disebutkan saat Dia menghadapi salib, Dia memohon kepada Allah—Bapanya—dengan tangisan yang nyaring dan air mata.

            Apakah itu merupakan sebuah tanda kelemahan kalau menangis? Saya sangat jelas mengingat ketika saya masih anak-anak, ketika saya sangat digerakkan dalam ibadah, saya akan menundukkan kepala saya ke bangku dan menangis. Saya malu karena saya begitu digerakkan, sehingga mengeluarkan air mata. Saya mengingat di salah satu gereja desa saya di Kentucky, kepala sekolah dari sekolah menengah merupakan seseorang yang sangat besar. Dia merupakan pemain utama di Universitas Kentucky di tim football. Di salah satu ibadah kami, dia memberikan kesaksiannya dan menangis dan dia meminta maaf karena mencucurkan air mata.

Siapa yang menangis? Siapa yang meratap? Simom Petrus menangis dengan sedihnya setelah dia menyangkal Tuhan: dan Yesus berpaling dam memandang Petrus, dan dia teringat akan perkataan Tuhan kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya.

            Siapakah yang meratap? Para Penatua Efesus menangis dengan tersedu-sedu ketika Paulus memberitahukan kepada mereka bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi.

            Siapakah yang menangis? Ibu saya menangis  dengan sedalam-dalamnya ketika dia berpaling kepada saya ketika saya masih berumur sepuluh tahun dan bertanya apakah hari itu saya mau menerima Yesus sebagai Juruselamat saya. Ayah saya menangis saat terakhir kali saya melihat dia. Ayah saya menangis ketika dia berkata kepada saya: “Nak, aku memiliki perasaan di dalam hatiku bahwa aku tidak akan melihat engkau lagi.”              Siapakah yang menangis? Hati seorang ibu, hati seorang ayah, hati seorang gembala, hati orang-orang yang bertobat, hati yang berduka—Salah satu hal yang paling luar biasa bagi saya dalam presentasi Alkitab tentang Juruselamat kita adalah hal ini: Di dalam tiga contoh di dalam Firman Allah, dimana di situ disebutkan bahwa Tuhan kita menangis, kata kerja yang digunakan sangat berbeda. Di sana ada tiga kata kerja yang menjelaskan tentang tangisan Tuhan kita.

            Di dalam Yohanes 11:35, kata kerja yang digunakan adalah dakruo, yang berarti menangis dengan lembut. 

            Di dalam Lukas 19:41, kata kerja yang digunakan adalah klaio, yang berarti meratap.

            Dan di dalam Ibrani 5:7, kata kerja yang digunakan adalah kraugazo, yang berarti menangis dengan penderitaan yang dalam. 

            Kata kerja yang pertama itu,  dakruo, digunakan dalam Yohanes 11:35, Tuhan kita menangis dengan lembut—itu adalah air mata simpati dan belas kasihan. Ketika Dia berdiri di depan kuburan Lazarus, yang telah meninggal, bersama Maria dan Marta, saudari-saudarinya, Dia menangis dengan lembut di dalam rasa simpati terhadap kedukaan mereka.

            Saya mendengar tentang seorang gadis kecil yang pulang ke rumah dari sekolah dan berkata: “Ibu, sobat kecilku, teman sekelasku di sekolah menangis hari ini. Ibunya telah meninggal.”

            Dan sang ibu berkata: “Manisku, apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu katakan?”

            Dan gadis kecil itu menjawab: “Ibu, aku tidak tahu apa yang harus aku katakana, jadi aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya meletakkan tanganku di atas dia dan menangis bersamanya.”

Air mata simpati dan perhatian yang penuh belas kasihan! Anda tahu, kita memiliki sebuah reaksi yang sangat aneh terhadap Tuhan kita yang mana hal itu tidak ada hubungannya dengan kebenaran Alkitab. Kita berpikir dan memiliki sebuah perasaan bahwa pada saat Tuhan kita ada di sini, selama Dia hidup di dunia ini; Dia mengalami pencobaan dan penderitaan dari hidup kita, hal itu terjadi hanya sewaktu Dia di sini, tetapi—sekarang Dia berada di sorga—sehingga Dia tidak dapat disentuh dan digerakkan oleh perasaan terhadap segala kelemahan kita. Tetapi tidak ada hal yang dapat beranjak lebih jauh dari kebenaran.

Ketika Tuhan kita berada di sini, demikian juga halnya saat Dia berada di sorga. Dia tidak berubah. Dia tetap sama, penuh berkat, penuh belas kasihan, penuh kasih dan perhatian, yaitu Tuhan kita Yesus. Alkitab menggambarkan hal itu kepada kita dengan lebih panjang, fakta yang luar biasa bahwa pengenalan terhadap Tuhan kita masih tetap manusia.

            Sebagai contoh, Dia berkata kepada Tomas dan rasul-rasul: “Lihatlah tangan dan kakiKu.” Dia memiliki bekas luka! Dibangkitkan dari kematian dan naik  ke sorga—Tuhan kita masih memiliki bekas-bekas luka pada tangan dan kakiNya.

Saya katakana bahwa Dia tetap dikenali dari kemanusiaanNya. Ketika Dia dibangkitkan dari kematian, Maria mengenali Dia dari caraNya mengucapkan nama Maria. Dia memiliki sebuah cara untuk menyebutkan “Maria” yang berbeda dari orang lain.

           Yohanes mengenali Dia dari caranya melipat kain peluh. Salah satu ciri khas yang menjadi karakteristik Juruselamat kita—cara Dia dalam melipat sebuah kain peluh.

            Dua orang murid yang berjalan ke Emaus mengenali Dia dari cara Dia mengucap berkat. Yesus memiliki sebuah cara dalam mengucap berkat yang berbeda dari orang laian—mengucap berkat di atas meja—dan mereka mengenaliNya dari cara Dia mengucapkan berkatNya.

            Dan tidak hanya itu yang diakui dalam Alkitab, tetapi penulis Kitab Ibrani beranjak ke bagian yang lebih besar untuk mengakui hal itu:

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya.

 

Dia tetap sama! Dia digerakkan oleh air mata oleh kedukaan dari orang-orang yang Dia kasihi, dan Dia menangis di sorga bersama-sama dengan kita pada hari ini. Dia tergerak oleh penderitaan kita dan kelemahan-kelemahan kita.

            Hal kedua yang menjelaskan Tuhan kita menangis terdapat di dalam Injil Lukas pasal sembilan belas, di dalam ayat 41, ketika Dia berada di puncak Bukit Zaitun, dan melihat kota itu terletak di hadapanNya. Klaio, Dia”Meratap.” ‘Dia menangis dengan meratap.” Kota itu akan menghadapi sebuah penghukuman yang kejam dan mengerikan—dan terhilang. Dan ketika Tuhan kita memandang kota itu, akan hukuman yang akan menimpanya, Dia menangis dengan meratap.

            Pada suatu kali, seorang pendeta dipanggil ke sebuah gereja di kota besar—dia masih muda, sama seperti saya—dipanggil dalam usia yang masih sangat muda untuk menjadi gembala di gereja ini, di kota ini. Dia menjadi seorang pendeta dari gereja yang berada di sebuah kota yang besar. Seorang pendeta tua yang bertahun-tahun telah berada di kota itu datang untuk menemuinya. Dan ketika dia melihat orang muda ini, di dalam ruang belajarnya, pendeta muda itu sedang berdiri di depan jendala, sedang memandang ke arah kota itu. Dan sebagaimana dia berdiri di situ, dia menangis—dia meratap.           

             Dan pendeta tua itu bertanya kepadanya mengapa dia mencucurkan air mata.

            Dan pelayan muda itu menjawab: “Saya hanya sedang memandang kota itu dan berpikir tentang ribuan orang yang terhilang yang berada di kota yang besar ini.”

            Dan pendeta tua itu berkata kepadanya: “Nak, anda akan jarang melakukan hal itu. Hari-hari dan tahun-tahuan yang akan berlalu akan mengeraskan hati anda. Anda tidak akan meratap lagi.” Betapa merupakan sebuah tragedi yang menjadikan hati sangat kebal dan keras, bagi kehidupan orang-orang yang terhilang yang tidak lagi menggerakkan kita dan kita tidak akan meratap lagi.  

            Suatu kali saya membaca sebuah buku yang menceritakan seorang filsuf yang bernama Marius. Dan dia duduk di salah satu deretan bertingkat di Coloselum Roma dan sedang menyaksikan pertarungan gladiator. Dan Marius sang filsuf berkata: “Apa yang dibutuhkan adalah hati yang membuat mustahil untuk melihat penderitaan dan pertumpahan darah semacam ini—dan dunia masa depan akan memiliki kekuatan itu untuk menciptakan sebuah hati yang seperti itu.”

            Seperti yang anda tahu, Kristus melakukan hal itu! Iman Kristen melakukan hal itu—jika anda berdiri di Coloselum itu—ia telah menjadi reruntuhan selama beratus-ratus tahun dan tidak pernah ada lagi sebuah pertarungan yang mengerikan yang berakhir dengan pertumpahan darah dan kematian. Iman Kristen melakukan hal itu! Iman Kristen adalah sebuah iman yang penuh kasih, dan peduli, yang meratap dan menangis. Hal itu sangat peka terhadap rasa sakit umat manusia.

            Suatu ketika saya membaca sebuah tambahan yang asing terhadap kebangunan rohani yang diadakan di kota-kota besar Amerika oleh Dwight L. Moody. Kemanapun dia pergi, ada seorang awam sederhana yang bernama John Vassar. Dan ketika Moody mengadalkan kebaktian rohani di setipa kota, John Vassar akan mengunjungi rumah-rumah dan setiap jalan untuk mengundang orang datang kepada Tuhan. Dan ada seorang wanita di kota itu yang mendengar tentang John Vassar. Dan dia berkata: “Jika dia datang ke rumahku dan mengetuk pintuku, aku akan membanting pintu ke wajahnya.”

            Hal itu sungguh terjadi, di dalam providensi Allah, dia mengetuk pintu rumah wanita itu. Dia mulai mengundang wanita itu untuk datang kepada Tuhan dan kebangunan rohani itu. Dan dia langsung  menyela: “Apakah anda John Vassar?”

            Dan pria itu menjawab: “Ya.”

            Dan wanita itu membanting pintu ke wajahnya, sesuai dengan perkataannya. Tetapi pria itu tidak pergi. Dia duduk di bawah tangga dan menyanyikan lagu ini.

 

Sungguhkah Juruselamatku telah mencucurkan darah,

Dan apakah penguasaku telah mati?

Akankah Dia mencurahkan kepala yang suci itu

Bagi seekor cacing seperti aku?

 

Apakah itu untuk kejahatan yang telah aku lakukan

Dia tergantung di atas kayu?

Belas kasihan yang luar biasa! Anugerah yang tak dapat terselami

Dan kasih yang melebihi segalanya!

 

Tetapi tetesan kedukaan takkan pernah mampu membayarnya

Hutang kasih yang aku miliki

Inilah aku Tuhan, kuberikan seluruh hidupku,

Hanya ini yang dapat aku lakukan.

 

            Malam itu, dia maju ke depan pada saat kebangun rohani itu, dan setelah selesai ibadah, dia memberikan kesaksiannya, dia menjelaskan tentang apa yang telah dilakukan oleh John Vassar. Dan dia menambahkan: “Ketika dia mulai bernyanyi tentang tetesan kedukaan itu, setiap kata-katanya jatuh ke dalam hati saya.”

            Saya memiliki sebuah pengalaman yang hampir sama seperti itu: Seorang gadis remaja yang berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun meminta saya untuk memenangkan suadara laki-lakinya kepada Tuhan. Dia berusia sekitar lima belas tahun. Dan saya datang ke rumah itu dan duduk di sebelah bocah itu, dan berusaha menunjukkan jalan kepada Allah, untuk diselamatkan, untuk menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Dan anda akan berpikir bahwa saya sedang berbicara dengan seorang penjahat berat. Dia tidak bergeming dan tidak tersentuh. Dan bagaimapun saya berusaha; dan permohonan yang saya lakukan, dia menolaknya.

Saudarinya yang perempuan melihat apa yang sedang terjadi, ia kemudian mengambil kursi dan meletakkannya di samping bocah itu. Saya duduk di sana—remaja laki-laki itu ada di sana—dan saudara perempuannya meletakkan sebuah kursi disampingnya. Tanpa mengucapkan sebuah kata—hanya membenamkan wajahnya di kedua tangannya dan mulai menangis. Air mata jatuh di antara jari-jarinya. Dan bocah itu melihat saya, dan melihat ke arah saudari perempuannya; dan kembali melihat saya; dan saudari perempuannya. Saudara yang terkasih, tidak lama sesudahnya saya dapat meraih bocah itu masuk ke dalam kerajaan Allah, dan membaptiskan dia pada minggu malam berikutnya.

            Ada sesuatu tentang air mata yang dapat berfungsi sebagai sebuah perantara untuk menggerakkan hati manusia.

 

Aku menangis untuk anakku yang demam dan sakit

Aku memohon kepada berkat Tuhan untuk menyembuhkannya

Tetapi aku malu dengan kesederhanaanku ketika aku memanggil namaMu

Berapa lama hingga aku menangis untuk sebuah jiwa

Aku menangis untuk ibuku, yang sekarang telah pergi dari dunia

Berpikir bahwa dia bersama dengan Juruselamat yang aku bicarakan

Dan dari sebuah tempat di atas

Yesus menjawab dalam kasih

“Berapa lama sejak engkau menangis untuk sebuah jiwa?”

Aku menangis untuk tujuan yang kuharapankan dapat aku capai

Untuk kegagalan-kegagalan hidup, keuntungan dan emas

Tetapi sebelum engkau menghukum

Biarakan engkau bertanya kepada sahabatku

Berapa lama sejak engkau menangis untuk sebuah jiwa?

 

Yesus menangis atas orang-orang terhilang dengan meratap. Yesus menangis ketika menghadapi salib—kraugazo—dengan penderitaan yang sangat dalam. Di dalam Kitab Ibrani pasal lima ayat tujuh disebutkan:

Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia… Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.  

 

            Di dalam Kitab Yesaya pasal lima puluh tiga, Allah berkata bahwa Dia mempersembahkan jiwa dari hambaNya sebagai sebuah tebusan bagi dosa-dosa kita. Saya tidak dapat masuk ke dalam hal itu! Jiwa dari Tuhan dipersembahkan sebagai sebuah penebusan bagi dosa-dosaku.  Saya berpikir tentang kerohanian orang Negro itu.

 

Apakah engkau di sana ketika mereka menyalibkan Tuhanku?

Apakah engaku di sana?

Apakah engkau di sana, ketika mereka memaku Dia ke atas kayu?

Apakah engkau di sana?

Apakah engkau di sana ketika Dia menundukkan kepalaNya dan mati?

Oh, kadang-kadang hal itu membuatku gemetar,

Gemetar,

Gemetar.

Apakah engkau di sana ketika mereka menyalibkan Tuhanku?

 

            Wapakah ini: kematian Tuhan kita, kayu yang ditegakkan di kalvari? Apakah itu? apakah arti dari hal itu? apakah itu sebuah permainan drama seperti Agamemnon [dari] Aeschylus atau seperti karya  Shakespeare, yaitu Hamlet or King Lear atau Macbeth?  Apakah itu seperti karya Eugene O’Neill dalam  The Strange Interlude?

Apakah itu? Apakah itu kisah tentang sebuah kekalahan atau pemberontakan?  Albert Schweitzer, di dalam buku karya teologinya yang berjudul, The Quest for the Historical Jesus, mengakui hal itu. Itu adalah tema keseluruhan dari bukunya—bahwa Yesus mati dalam kekalahan dan keputusasaan. Apakah seperti itu?

            Apakah yang telah terjadi di Kalvari ketika Yesus di salibkan? Kitab Allah berkata bahwa itu adalah untuk penebusan dosa-dosa kita, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di dalam hidup kita.

            Bagaimana hal itu dapat terjadi? Siapa yang melakukan hal itu? Siapakah yang menyalibkan Tuhan? Siapakah yang bertanggung jawab atas kematianNya? Beberapa orang berkata Allah yang melakukannya—menyalahkan Allah untuk setiap tragedi di dalam hidup ini, termasuk di diri mereka—sama seperti istri Ayub: “Kutukilah Allah dan matilah!”

Beberapa orang berkata itu adalah kesalahanNya. Dia seharusnya menjadi seorang dalang yang lebih baik.

Ada orang-orang yang berkata Yudas yang melakukannya. Yudas menjualnya dengan tiga puluh keping perak. Yudas yang melakukannya.

Ada yang berkata Pilats yang melakukannya. Kelemahan dan kebimbangan Pilatus—dia yang melakukannya. Dia bertanggung jawab atas kematian Tuhan kita?

Beberapa orang berkata orang Yahudi yang melakukannya. Mereka yang menangkapNya.

            Ada orang-orang yang berkata bahwa prajurit Roma yang melakukannya. Siapakah yang memakukannya ke kayu salib? Siapakah yang memakaikan mahkota duri di kepalaNya dan menekannya ke atas keningNya? Tentara Roma yang melakukannya.

            Pada hari penghakiman Allah Yang Mahatinggi, saya dapat melihat orang-orang Yahudi itu bangkit dan berkata: “Itu bukan salah kami. Jangan tanggungkan darah orang ini atas kami.”

            Pada hari yang besar itu, saya melihat Pilatus bangkit dan membasuh tangannya kembali dan berkata: “Saya tidak berdosa atas darah orang ini. Itu bukan salah saya.”

            Pada hari itu, saya dapat melihat tentara Romawi, ketika mereka berdiri di hadapan Allah dan berkata: “Ya, Allah, kami hanya berada di bawah sebuah perintah. Pemerintah memerintahkan kami untuk menyalibkan Dia sama seperti seorang penjahat.”

            Siapa yang melakukan hal itu? Siapa yang menekan mahkota duri ke atas keningNya? Dan siapa yang memakukanNya ke atas kayu salib? Aku yang telah melakukannya! Dia sedang membayar hukuman atas dosa-dosaku. Dia mati untuk menggantikan posisiku. Aku yang telah melakukannya! Kita yang telah melakukannya! Adalah untuk dosa-dosa kita sehingga Tuhan kita menangis dengan penuh penderitaan, berdoa dengan ratap tangis dan keluhan; dan mati di atas kayu salib. 

            “Tuhan, bagaimana mungkin aku dapat melewati engkau tanpa sebuah kata? Bagaimana mungkin aku pernah menghentikan kasihku kepadaMu? O, Yesus, suatu hari nanti, muka dengan muka, saya berharap untuk berterimakasih kepadaMu karena telah membukakan gerbang sorga bagiku, ketika Engkau membukakan bagiku gerbang anugerah. Paku yang sama yang melukai tangan Tuhan, Tuhan terima kasih.”

Dan itulah maksudnya menjadi seorang Kristen dan mengikuti Juruselamat kita yang luar biasa, katakanlah: “Aku menerima EngkauYesus yang mulia, kasihMu yang menebusku. Aku membuka hatiku untuk kasih dan anugerahMu. Dan tanpa malu, aku berdiri di hadapanMu, memberi pengakuan atas imanku dan kasih, serta ucapan syukur atas apa yang telah Engkau lakukan untukku.”

Oh, oh, oh, Betapa luar biasa hal  yang telah Dia lakukan untukku!

            Mari kita berdoa?

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.