Daftar isi

KETIKA KITA SEMUA BERADA DI SORGA

(WHEN WE ALL GET TO HEAVEN)

 

Dr. W. A. Criswell

 

10-29-67

 

Yohanes 10:16

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang mendengarkan radio, anda diundang untuk berpaling dan bergabung bersama dengan kami di sini, di Gereja First Baptist Dallas. Dan jika anda sedang mendengarkan radio, anda akan terkejut akan banyaknya orang yang berada di sini pada malam hari ini. Auditorium ini secara praktis sangat penuh, dan ini adalah salah satu auditorium yang terbesar di Amerika.

Jika anda sedang mendengarkan ibadah ini melalui siaran radio, berpalinglah ke dalam Injil Yohanes pasal sepuluh. Dan kita akan membaca dari ayat pertama hingga ayat sembilan secara bersama-sama. Kemudian, saya ingin anda membaca teks saya.

Anda sudah mendapatkannya? Setiap orang? Leroy? Anda membutuhkan Clark untuk menemukan bagian itu? Anda sudah mendapatkannya? Kita akan membacanya dengan nyaring secara bersama-sama. Itu adalah sebuah bagian yang sangat mulia.

Dan khotbah kita pada malam hari ini akan menjadi sebuah khotbah tekstual. Yang di dasarkan dari ayat enam belas. Tetapi mari kita membaca ayat pertama hingga ayat sembilan terlebih dahulu secara bersama-sama.

Sekarang kita baca bersama-sama, dari Yohanes 10:1-9:

 

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok;

tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.

Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."

Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu.

Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

 

Sekarang kita akan membaca teks saya secara bersama-sama. Yang terdapat dalam ayat 16:

Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan medengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

 

Dan teks ini merupakan ringkasan besar dari tujuan anugerah Allah: “Dan mereka akan menjadi satu kawanan dan satu gembala.” Dari timur dan barat, dari utara dan selatan, orang –orang yang tertidur di dalam Yesus, dengan orang-orang yang tertinggal dan tersisa sebelum kedatanganNya, Orang-orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi, hitam dan putih, kuning dan coklat, orang-orang Arab, orang-orang barbar, orang-orang Roma—kita semua, suatu hari akan berkumpul bersama-sama di dalam satu kawanan dengan satu gembala kita.

Ada banyak hal tentang sorga yang dapat dikhotbahkan oleh seorang pelayan Tuhan. Saya memilihnya satu pada malam ini di dalam teks kita yaitu: berkumpul bersama-sama dengan orang-orang tebusan Allah.

“Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga,” Dia sedang berbicara dengan orang-orang Yahudi. Mereka tidak pernah mendengar tentang orang-orang Amerika pada masa itu, mereka tidak mengetahui bahwa daratan kita ini ada. Tetapi di dalam tujuan kasih Allah kepada kita, Dia melihat kita dan memanggil nama kita sebelum kita lahir.

“Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Ketika saya mempersiapkan khotbah ini, saya tidak tahu bahwa kita memiliki sebuah malam internasional di bawah sini. Dan ketika pengunjung pertama yang kita undang untuk berdiri, orang muda yang berasal dari bangsa-bangsa yang berbeda, betapa hal itu merupakan tipikal dari tujuan Allah bagi kita.

Kita akan berkumpul bersama-sama dan akan menjadi satu kawanan di hadapan seorang gembala kita.

Di dalam khotbah ini, saya memiliki tiga hal tentang tujuan Allah bagi kita di dalam kemuliaan. Dan yang pertama adalah hal ini: Sorga adalah sebuah tempat untuk berkumpul bersama-sama. Itu adalah sebuah koinonia. Dan bagi saya, itu adalah penjelasan yang paling indah dari orang-orang kudus Allah yang saya tahu, yaitu: sebuah koinonia

Itu berarti saling berbagi bersama. Kadang-kadang kata itu diterjemahkan di dalam Alkitab dengan “sebuah persekutuan.’ Kadang-kadang kata itu diterjemahkan dengan sebuah “komunion.” Yang secara literal memiliki arti, “sebuah pertemuan yang salaing berbagi bersama-sama.” Dan itulah sorga: ketika semua umat Allah berkumpul di rumah.

Anda tahu, bahwa ada sebuah jalan  yang telah dibuat Allah bagi kita. Dan ada sebuah cara yang dibuat Allah dalam penyembahan kita serta pelayanan kita kepadaNya. Dan hal itu, tanpa kecuali memiliki pola yang sama. Allah membuat kita untuk bersama-sama.

Orang-orang Indian yang terasing datang untuk berkumpul bersama-sama dari daratan dan padang rumput yang luas, di dalam sebuah pertemuan untuk berkumpul bersama-sama. Orang-orang Eskimo yang terasing datang ke dalam permainan mereka untuk berkumpul bersama-sama. Dan seorang koboi—dan itu adalah asal dari rodeo—yang terpisah sangat jauh, datang bersama-sama untuk mengikat ternak dan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh koboi, menunggang kuda dalam sebuah rodeo, hanya untuk berkumpul bersama-sama.

Saya mengingat suatu kali saya berkendaraan melalui daratan Arizona yang luas, dan melintasi padang pasir yang luas, saya melewati sebuah kabin seorang kobooi di luar sana di atas sebuah tanah peternakan yang luas. Saat saya melintasi kabin itu, saya berhenti dan melihatnya. Saya melihatnya seperti sebuah gubuk yang murahan. Tetapi sangat cantik, dengan tirai putih yang membentang di jendelanya.

Dan saya pikir, “Di dalam rumah ini, pastilah tinggal seorang istri koboi. Dan tentu saja dia meletakkan tirai-tirai di jendela itu untuk keindahan dan sensibilitas seninya, saya yakin akan hal itu. Tetapi dia juga menempatkan hal itu di sana dengan harapan bahwa mungkin seseorang akan melintasi jalan itu dan melihatnya.”

Kita juga yang berada di dalam kota, juga memiliki pemikiran yang sama, kita ingin bersama dengan seseorang. Sebagai contoh, saya bertanya kepada orang asuransi, saya berkata, “Siapakah yang pada akhirnya akan memiliki investasi yang besar ini serta asset yang tidak terbatas ini seperti dari sebuah perusahaan serikat seperti Metropolitan Life atau New York Equitable Assurance Life?”  saya berkata, “Siapakah yang akan memilikinya, asset yang berjumlah jutaan itu?”

Dan dia berkata, “Secara teori, yang akan memilikinya adalah generasi pemegang polis yang bertahan paling akhir.”

Kemudian, saya memiliki sebuah pemikiran tentang hal itu. Saudara, jika saya dapat hidup seperti itu. Jika saya dapat melakukan hal seperti itu. Pikirkanlah hal itu. Saya akan memiliki milyaran dan milyaran dolar, seandainya saya dapat melakukan hal itu.

Kemudian, saya berpikir, seandainya saya adalah orang yang bertahan hidup paling akhir dan setiap orang telah meninggal, maka saya akan memiliki bangunan-bangun yang bertingkat 60, dan tidak ada jiwa di dalamnya; semua sistem kereta api yang saya miliki dan tidak ada yang menjalankannya dan pesawat udara ini serta investasi yang luas yang saya miliki ini, dan tidak ada orang-orang di sekeliling saya—hanya saya, orang yang bertahan hidup paling akhir.

Saudara, jika mereka memberikan semuanya itu kepada saya, saya tidak akan tertarik! Itu hanyalah sampah. Itu hanya kotoran. Apa yang membuat anda mulia adalah diri anda sendiri. Kita berada di sini bersama-sama. Itu adalah cara Allah yang telah menjadikan kita.

Hal itu tidak hanya benar bagi kita di dalam keputusan kita, tetapi juga benar di dalam kepercayan kita. Ada sebuah sisi sosial—sebuah sisi koinonia, sebuah komuni, sebuah persekutuan kepada kepercayaan yang tidak dapat dibantah. Saya tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya di dalam Perjanjian Lama atau pun juga di dalam Perjanjian Baru, kecuali dengan menyatakan hal ini: bahwa dari sejak permulaan, itu merupakan tujuan Allah, supaya kita berkumpul bersama-sama di dalam namaNya, di dalam gerejanya, untuk bernyanyi bersama-sama, untuk berdoa bersama-sama, untuk mendengarkan Firman Allah bersama-sama.

Anda dapat melayani Allah seorang diri di atas bukit, saya tahu. Dan anda dapat bernyanyi sendiri, saya tahu—hal itu mungkin akan lebih merdu, saya yakin, jika beberapa dari antara kita melakukannya dengan dikelilingi empat dinding di sekitar kita—anda dapat bernyanyi sendiri, saya tahu, membaca Alkitab sendiri. Ada doa pribadi. Ada pembacaan Alkitab pribadi. Ada nyanyian pribadi, saya yakin.

Tetapi, tujuan Allah bagi kita adalah untuk bersukacita bersama-sama, untuk bernyanyi bersama-sama, untuk membaca Kitab Allah bersama-sama, untuk berdoa bersama-sama, untuk bersama-sama di dalam sebuah koinonia, di dalam sebuah komuni, di dalam sebuah persekutuan, di dalam sebuah gereja. Itulah cara yang Allah lakukan di dalam kepercayaan kita.

Itulah tujuan Allah bagi kita: Kita akan berkumpul bersama-sama.

Di dalam Perjanjian Lama, sering kali Dia berkata, “Allah akan membangkitkan umatNya dari debu tanah; dari lembah-lembah tulang yang kering dan menghembuskan nafas kehidupan ke dalamnya dan mereka akan berdiri menjadi sebuah pasukan di hadapan Tuhan.”

Visi yang mulia itu terdapat di dalam Yehezkiel 37, yaitu tentang apa yang akan dilakukan Allah terhadap umatNya. Mereka akan hidup bersama-sama di dalam pandanganNya pada suatu hari, sebuah persekutuan yang hidup. Allah akan berkumpul bersama-sama dengan umatNya. Itu adalah perkataan para nabi yang disampaikan berulang-ulang kali.

Dan hal yang sama juga terdapat di dalam Firman Allah di Perjanjian Baru. Di dalam penglihatan yang luar biasa yang dilihat oleh Rasul Yohanes, dia melihat langit yang baru dan bumi yang baru, dan kemudian dia menambahkan: “Dan di sana tidak ada lagi lautan.”

Mengapa dia meletakkan hal itu di sana: “Dan di sana tidak ada lagi lautan?” Kalau anda mengingat hal itu, Yohanes merupakan seorang rasul yang sangat dikasihi oleh umat Allah, dan dia telah dibuang ke sebuah pulau yang terpencil yang bernama Patmos, dan dia tinggal sendirian di sana. Dan antara dia dan jemaat yang dikasihinya di Efesus, terbentang laut yang luas. Dan ketika dia berpikir tentang sorga, di dalam penglihatan itu, dia melaihat bahwa di dalamnya tidak ada lagi pemisahan. Di sana tidak akan ada lagi lautan. Tidak akan ada lagi pemisahan, tidak akan ada lagi kematian yang memisahkan ikatan, tidak akan ada lagi duka dan air mata serta kesedihan. Tetapi, umat Allah akan berkumpul bersama sampai selama-lamanya. Dan itulah sorga: sebuah kumpulan yang besar dari seluruh umat Allah.

Di sana akan ada sebuah kawanan di hadapan satu gembala yaitu Tuhan kita. Sorga adalah tempat berkumpul bersama-sama dari seluruh umat Allah.

Saya tidak menyangkal bahwa sorga juga merupakan sebuah kota yang indah, dengan bangunan yang terbuat dari batu-batu mulia. Dan saya tidak menyangkal bahwa ia akan memiliki gerbang yang terbuat dari permata dan jalananannya terbuat dari emas yang berkilauan.

Tetapi, hal-hal itu sendiri tidak akan membuat sorga itu menjadi sorga. Jika anda berada di sana sendirian, apa artinya gerbang permata itu? Apa artinya berjalan sendirian di jalan yang terbuat dari emas itu? Apa artinya rumah besar yang dibuat Allah itu, jika anda berada di sana sendirian? Sorga adalah tempat berkumpul bersama-sama dari umatNya. Itulah yang membuat sorga.

Seorang pelayan tua—dan, saya telah membaca hal ini beberapa kali dan hal itu sungguh-sungguh sangat benar ketika dia berkata, “Ketika saya masih seorang bocah kecil, ketika saya masih seorang pengikut yang masih kecil, saya diberitahukan tentang surga, mendengar tentang surga. Surga adalah sebuah kota yang besar, jalanannya terbuat dari emas, gerbangnya terbuat dari permata, dindingnya terbuat yaspis, dan malaikat yang berpakaian putih, serta sebuah kumpulan orang banyak yang tidak seorang pun yang saya kenal. Ketika saya masih kecil saya selalu memikirkan sorga seperti itu.”

 Lalu dia melanjutkan, “Saudara laki-laki saya yang kecil meninggal dan saya berpikir tentang surga yang dindingnya  terbuat permata yaspis, gerbang permata, jalanan yang terbuat dari emas, malaikat yang berpakaian putih, dan sekumpulan orang yang tidak ada seorangpun yang saya kenal kecuali satu wajah yang mungil: wajah saudara laki-laki saya yang kecil.”

Lalu dia berkata—dan dia menggambarkan hal itu—setelah tahun-tahun yang berlalu, dan beberapa dekade telah berganti, dan sekarang sebagai seorang yang sudah tua. Dia berkata, “Semua keluarga saya telah meninggal: ibu saya, ayah saya, semua saudara laki-laki saya dan semua saudari perempuan saya.” Lalu dia melanjutkan, “Istri saya telah meninggal, dan semua anak-anak kami. Mereka semuanya telah pergi. Sekarang, ketika saya berpikir tentang surga, saya tidak pernah berpikir tentang dinding yang terbuat dari yaspis atau jalanan yang terbuat dari emas, atau gerbang permata atau sebuah tempat yang luas yang tidak saya ketahui. Ketika saya berpikir tentang surga saat ini,” katanya, “saya berpikir tentang keluarga saya dan sahabat-sahabat saya dan serombongan besar yang telah pergi mendahului saya, orang-orang yang saya kasihi dan yang pergi hanya sementara, dan hanya saya yang tertinggal. Dan sekarang,” katanya, “Saya tahu bahwa yang saya miliki di sana lebih banyak dari pada apa yang saya miliki di sini”

Itualh sorga. Itu adalah tempat berkumpul dari seluruh umat Allah. Itu adalah koinonia.  Itu adalah komuni. Itu adalah persekutuan dari orang-orang kudus Allah, yang membuat tempat itu menjadi mulia. Dan tanpa hal itu, maka dia akan menjadi sebuah tempat yang kosong dan tidak memiliki arti apapun.  

Saya telah membaca sebuah kisah dan hal itu merupakan gambaran umum dari setiap kita di dalam keluarga kita, saya telah membaca seorang ibu yang sedang sakit keras. Kemudian, sahabatnya membawa anak gadisnya yang masih kecil jauh dari ibunya dengan harapan bahwa ibu itu akan segera sembuh.

Di dalam kedaulatan Tuhan, tragedi datang dan ibu itu tidak sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Dan setelah pemakaman, dan beberapa hari sesudahnya, sahabatnya itu berpikir bahwa saatnya untuk membawa kembali gadis kecil itu pulang ke rumah. Akhirnya mereka membawa gadis itu kembali pulang.

Dan ketika gadis itu sampai di rumah, ia memanggil-manggil ibunya. Dia mencarinya ke seluruh ruangan di seluruh rumah itu untuk memanggil ibunya, dan akhirnya dia kembali kepada sahabat ibunya itu dan berkata, “Dimanakah ibu? Dimanakah ibu?”

Dan sahabat ibunya itu berkata, “Anakku, ibumu telah pergi. Ibumu tidak berada di sini. Ibumu telah pergi.”

Dan gadis kecil itu mencucurkan air mata dan berkata, “Bawalah aku pergi. Aku tidak ingin berada di sini tanpa ibuku.”

Itulah sorga. Emas, permata dan yaspis dan batu-batu mulia, kubah dan rumah besar merupakan hal yang mulia, saya tahu itu. Dan mereka tidak memiliki arti apa-apa, mereka hanya merupakan sampah jika saya berada di sana tanpa anda. Sorga adalah tempat umat Allah berkumpul bersama-sama, anda dan orang-orang yang kita kasihi.

Yang kedua, di sana akan ada satu kawanan dan satu gembala: 

 

Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan medengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

 

Yang kedua, sorga adalah sebuah aristokrat. Itu adalah sebuah pemilihan. Itu adalah sebuah tempat seleksi. Tidak setiap orang akan pergi ke sorga. Kita Allah juga menyampaikan hal yang sama.

Tanpa dapat dibantah, sorga adalah sebuah tempar aristokrat, tempat para ningrat. Itu adalah tempat aristocrat yang kudus, dari umat manusia, dari oramg-orang yang memiliki keyakinan, penebusan dan keselamatan. Sorga adalah sebuat tempat berkumpulnya orang-orang pilihan Allah.

Sekarang, ada dua hal tentang pemilihan itu: Mereka dipilih berdasarkan kesukaan dan kasih dari hidup mereka.

Dengarkanlah apa yang tertulis di dalam 1 Korintus pasal 2 ayat 9:

 

… Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

 

Itu adalah sebuah pemilihan. Itu adalah sebuah keningratan. Itu adalah pilihan dari orang-orang yang mengasihi Allah. 

Lihat lagi di dalam 2 Timotius 4 ayat 8:

 

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

 

—kedatangan dari Tuhan Yesus—Yang mengasihi Allah.

Pemilihan berdasarkan atas kesenangan dan kasih dalam hidup kita. Dan jika kita tidak mengasihi Allah, dan kita tidak mengasihi Juruselamat kita, dan jika kita tidak mengasihi umat Allah, bagaimana kita dapat bahagia di sorga?

Suatu ketika saya mendengar sebuah hal yang cukup gila. Ada dua buah kapal—kapal pesiar—yang sedang bersandar di pelabuhan New York. Salah satunya adalah kapal dari sebuah kelas Sekolah Minggu, yang sedang mengadakan piknik, dan kapal yang lainnya adalah untuk para bartender yang sedang mengadakan sebuah kehebohan.

Kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang sedang berlari-lari ke pelabuhan, secepat yang dia bisa, dan dia sudah terlambat. Salah satu kapal itu telah pergi dan hanya tinggal satu yang berada di sana. Kemudian dia tidak tahu bahwa di sama ada dua buah kemungkinan. Dia hanya melihat bahwa hanya ada satu kapal, dan kapal itu juga sedang bergerak.

Dia adalah seorang bartender, dan dia sedang berlari secepat yang dia bisa. Dan dia melompat dari pelabuhan dan mendarat di dek kapal yang sedang bertolak dari pelabuhan itu.

Tebak, kapal apakah yang dia naiki itu? Itu adalah kapal Sekolah Minggu.

Ketika saya mendengar itu, dan saya berpikir, “Bukankah hal itu benar?” Bartender itu, yang menginginkan sebuah keramaian, tidak mengetahui bahwa dia akhirnya mendapatkan hal yang tidak menyenangkannya?  

Saya ingin anda tahu, seandainya saya berada di tempat itu dan ditinggalkan oleh kapal sekolah minggu itu dan justru berada di kapal para bartender itu, saya akan merasa menderita. Saya tidak suka akan apa yang mereka lakukan. Hal itu merupakan sebuah kotoran bagi saya, apa yang mereka minum serta apa yang mereka makan, dan rasanya pasti akan sangat buruk.

Ketika saya masih seorang bocah, kami membuat makanan yang seperti itu, dan memberikannya kepada babi-babi. Itulah yang kami lakukan. Kami mengambil biji-biji gandum, memasukkan air ke dalamnya dan mengaduknya dan membuatnya menjadi makanan babi-babi.

Seperti itulah yang akan mereka minum dan makan. Dan saya tidak menyukainya.  

Tetapi saya suka susu manis. Oh, itu adalah sebuah pilihan, yaitu orang-orang yang mengasihi Allah dan umat Allah.

Yang kedua itu adalah sebuah pemilihan—sebuah keningratan, saya katakan, dari umat manusia dengan perasaan yang menyesal karena dosa. Dan kita dapat melihat hal itu di dalam Yesaya 57 ayat 15:

 

Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus namaNya; Aku berdiam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati….

 

Bukankah itu merupakan sebuah hal sangat hebat? Dengarkanlah apa yang saya sampaikan: “Aku berdiam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati.”  

Itu adalah keningratan yang di dapat dari kesederhanaan dan pengakuan. Itu adalah perkumpulan bersama-sama dari orang-orang yang bersujud di hadapan Tuhan, dan orang-orang yang sederhana dan hatinya remuk karena penyesalan mereka terhadap dosa-dosa mereka.

Beberapa waktu yang lalu—dan jika anda lupa, tentu saja—tetapi beberapa waktu yang lalu, dua tahun yang lalu, ketika saya kembali dari Rusia, apakah anda mengingat ketika saya memberitahukan kepada anda tentang gereja di Leningrad? Saya tidak pernah melihat begitu banyak air mata di dalam hidup saya dalam sebuah ibadah seperti yang saya lihat di gereja itu. Dan kebanyakan saya tidak tahu apa yang mereka sampaikan, mereka berlutut dan berdoa dengan tangan yang terangkat kepada Allah, dan air mata bercucuran dari wajah mereka di dalam doa dan nyanyian mereka, saya juga ikut menangis. Dan ibadah itu berlangsung selama empat jam.

Dan, di dalam ibadah itu, pendeta dari gereja itu mulai membacakan surat-surat. Dan sebagaimana dia membacakan surat-surat itu, mereka hanya menangis dan menangis. Dan ketika surat lainnya dibacakan, mereka tetap menangis serta menangis.

Akhirnya saya berpaling kepada pemandu saya dan saya bertanya, “Apa yang mereka tangisi? Surat-surat apakah itu? Mengapa mereka menangis sedemikian keras?”

Dan pemandu turis itu berkata kepada saya, “Itu adalah surat-surat dari anggota gereja, yang kebanyakan merupakan keluarga dari anggota gereja ini, yang dibawah penganiayaan yang hebat dari pemerintah Soviet, mereka telah meninggalkan gereja dan telah meninggalkan iman dan menjadi komunis serta berpaling dari Tuhan mereka. Dan surat-surat itu adalah surat pengakuan dan penyesalan karena dosa mereka, dan mereka menginginkan  untuk diterima kembali menjadi anggota gereja—kembali pulang ke rumah.”

Dan ketika mereka membaca surat-surat  dari para anggota jemaat dan keluarga yang ingin kembali kepada Tuhan dan memohon agar mereka diterima kembali ke dalam gereja, serta meminta pengampunan dari anggota jemaat, orang-orang menangis dengan penuh sukacita dan dengan bahagia mereka mengampuni orang-orang itu dan menerima mereka kembali ke dalam lingkaran kasih dan persekutuan, koinonia, komuni orang-orang kudus, sekali lagi.

Itulah sorga. Itulah kemuliaan. Itu adalah sebuah persekutuan dari pengampunan, kesederhaan dan perasaan menyesal yang mendalam. Akan banyak orang-orang yang akan berdiam di dalam kemuliaan dan tempat kudus yaitu orang yang remuk dan rendah hati.  

Kita harus mempercepat khotbah ini.  

Yang pertama kita telah membahas bahwa sorga adalah sebuah tempat untuk berkumpul bersama-sama, sebuah persekutuan. Yang kedua; itu adalah sebuah tempat seleksi, yang terdiri dari orang-orang yang mengasihi Allah, orang-orang yang rendah hati dan memiliki perasaan menyesal yang mendalam karena dosa-dosa mereka. Dan yang ketiga, dan yang terakhir: itu adalah tenmpat bagi orang-orang yang telah ditebus. Tempat bagi-orang yang telah dilepaskan, yang telah dibeli oleh darah yang mahal, orang-orang yang telah ditebus.

Oh, seandainya kita memiliki waktu satu jam lagi. Begitu banyak lagu kita yang menggambarkan tentang hal ini.

 

Diselamatkan oleh darah Dia Yang telah tersalib

Semua pujian bagi Bapa, semua pujian bagi Anak

Semua pujian bagi Roh Kudus, Yang Agung, Tiga di dalam Satu

Diselamatkan oleh darah Dia Yang telah tersalib

Gloria, aku telah diselamatkan! Gloria, aku telah diselamatkan!

Semua dosaku telah diampuni, semua kesalahanku telah hilang.

Gloria, aku telah diselamatkan! Gloria, aku telah diselamatkan!

Diselamatkan oleh darah,  Dia Yang telah tersalib.

 

Itu adalah nyanyian yang terdapat dalam Wahyu. Di dalam pasal yang pertama:

 

Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.

 

Dan di dalam pasal yang kelima:

 

… "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

Dan pasal tujuh:

… Siapakah orang-orang yang berjubah putih itu?

… Mereka adalah orang-orang yang telah keluar dari kesusahan besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Itu adalah sebuah kumpulan dari orang-orang yang telah ditebus, orang-orang yang telah dibeli oleh darah Anak Domba, orang-orang yang telah dilepaskan.

Dan mereka juga merupakan buah-buah dari kasih kita dan air mata kita serta doa-doa kita. Oh, betapa besarnya kebenaran itu? Tidak ada seorang ayah atau seorang ibu yang tidak mengetahui air mata dan harapan yang anda ekspresikan sebagai seorang anak, dan selain  lingkaran keluarga, sahabat yang terdekat, tetapi juga ditebus di dalam air mata, doa dan permohonan. Itu adalah sebuah kumpulan yang telah ditebus oleh darah Anak Domba.

Salah satu penginjil kita yang terbesar, yang mendirikan sebuah gereja yang sangat besar, dan yang hidup pada masa ini—yang berada di Indianapolis—dia berkata tentang  saat dia pulang ke rumah pertaniannya, dimana ibunya telah sakit, menderita sakit yang sangat serius selama 20 tahun. Dan dia berkata, saat dia melihat ibunya terbaring di sana, tubuhnya telah menderita selama 20 tahun. Dan dia berkata kepada ibunya, “Ibu, kadang-kadang aku hampir kehilangan imanku, dan saya jatuh ke dalam keraguan, ketika aku melihat engkau sangat menderita. Aku tidak dapat memahaminya. Aku tidak memahaminya.”

Dia berkata, “Di kotaku, saya mengenal seorang wanita yang tinggal di dalam sebuah rumah gedung yang sangat besar. Dan dia adalah seorang yang kaya dan sehat dan hidupnya sangat terkutuk lebih dari setiap wanita yang saya kenal. Dan Ibu, di sini, engkau telah menderita sakit selama 20 tahun. Dan saya tidak mengerti. Dan kadang-kadang, sukar bagi saya untuk bersandar kepada Allah.”

Dan ibunya membalas anaknya itu dan berkata, “Nak, apakah engkau melihat lumbung tua yang ada di sana. Dan apakah engkau melihat kebun buahan-buahan yang sudah tua yang ada di sana itu?” Dia berkata, “Nak, tempat itu tidak lebih dari sepuluh kaki dari sekitar rumah ini di atas pertanian ini dimana kakiku tidak pernah ditekan lebih keras dari pada saat aku berdoa untuk kamu, ketika kamu masih seorang pemabuk, penjudi dan pencuri.” Dan dia berkata, “Nak, dalam masa-masa ini, ketika aku mengalami penderitaan dari rasa sakit, hal itu justru merupakan saat Yesus  paling dekat kepadaku.” Dan dia berkata, “Nak, seandainya saya tidak cukup dekat dengan Yesus agar dia mendengar suaraku, engkau mungkin tidak akan diselamatkan.” 

Apa yang anda pkirkan tentang hal itu? Rasa sakit dalam hidupnya, dan kecacatan dalam hidupnya dan penderitaan dalam hidupnya, justru membuatnya merasa bahwa Yesus lebih dekat kepadanya. Dan dia cukup dekat kepada telinga Yesus ketika dia berdoa di ranjangnya untuk anaknya yang terhilang. Dia adalah buah dari air mata dan doa dari seorang ibu kudus yang menderita.

Dan saya beritahukan kepada anda, secara praktikal kita semua akan berada di sana, kita akan mendapat piala anugerah, karena seseorang yang kita kasihi menangis untuk kita dan berdoa untuk kita. Bukankah hal itu akan menjadi sebuah masa berhaleluya ketika anda dikelilingi kemuliaan dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang yang telah mengasihi anda dan berdoa untuk anda. Anda akan berkata, “Terima kasih. Terima kasih. Seandainya bukan karena anda, maka saya akan kehilangan jalan itu.” Itulah sorga.

Oh, Allah yang penuh berkat, betapa manisnya dan betapa mulianya kedekatan dari Juruselamat kami!

Sekarang kita harus menyanyikan lagu kita. Dan ketika kita menyanyikannya, sebuah keluarga dari anda atau sebuah pasangan atau hanya seseorang dari anda, ketika kita menyanyikan lagu kita yang berjudul “When We All Get to Heaven,” mari datanglah.

Ketika kita menyanyikan lagu tentang rumah kita itu, maukah anda datang dan berdiri di samping saya dan berkata, “Pendeta, malam ini saya berada di sini dan saya telah datang.” Pada baris yang pertama dari stansa ini, telusurilah salah satu lorong ini atau turunilah salah satu tangga ini, mari datanglah dan katakan, “Pendeta, saya memberikan tangan saya kepada anda. Saya memberikan hati saya kepada Allah.”

Saya ingin melihat anda berada di sorga pada suatu hari. Mari kita membuat kemuliaan itu bersama-sama. Mari datanglah, ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu permohonan kita.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.