Daftar isi

MELAKUKAN PEKERJAAN ALLAH

(DOING THE WORK OF GOD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

09-08-85

 

Yohanes 9:4

 

Kami mengucapkan selamat datang bagi anda semua yang sedang bergabung di dalam ibadah kami, baik yang melalui siaran radio maupun siaran televisi. Ini adalah Pendeta dari Gereja First Baptist Dallas, yang sedang menyampaikan khotbah dari Allah dan dari firmanNya yang suci yang berjudul: Melakukan Pekerjaan Allah, melakukan pekerjaan Allah di bumi.

Saya memiliki satu hal untuk diingatkan kepada jemaat kita. Pendeta selalu berkhotbah melalui sebuah seruan—selalu saja seperti itu. Tanpa harus melihat sebuah waktu, tetapi kita menjangkau orang-orang melalui seruan ke dalam hati dan ke dalam jiwa agar anda memberikan hidup anda kepada Allah, agar anda menemukan Kristus sebagai Juruselamat pribadi anda, agar anda membiarkan Dia masuk ke dalam hati anda dan keluarga anda.   

Dan di dalam seruan itu, tidak ada seorang pun yang seharusnya berpikir untuk meninggalkan gereja. Jika anda melakukan hal itu, maka hal itu sama seperti memukul tangan seorang dokter yang sedang mengadakan sebuah operasi yang serius. Orang-orang sedang membuat keputusan tentang Allah. Dan ketika kita berpaling dan berjalan keluar, itu merupakan sebuah penghinaan terhadap Allah.  

Jadi, seharusnya kita tetap tinggal. Kita berdoa. Kemudian, setelah undangan selesai, seluruh jemaat dapat melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Kami berharap supaya anda tetap tinggal dan bersukacita bersama dengan kami di dalam tuaian yang luar biasa yang selalu kita terima dari tangan Allah. Tetapi selama undangan diberikan, tidak seorangpun yang seharusnya pergi. Ada memiliki waktu yang banyak untuk melakukan apapun yang anda ingin lakukan pada hari ini. Pendeta tidak akan berkhotbah dalam waktu yang sangat lama. Tetapi hanya beberapa menit dan waktu itu sangat vital sekali.

Khotbah hari ini timbul dari sesuatu yang telah terjadi pada Minggu kemarin di negara bagian Texas ini. Dan anda akan melihatnya sebagai sebuah khotbah yang terbentang luas.

Ada sebuah latar belakang teks bagi khotbah yang berjudul, Melakukan Pekerjaan Allah, melakukan pekerjaan Allah di bumi. Di dalam Injil Yohanes pasal 9 ayat 4, Tuhan kita berkata—di dalam Alkitab versi King James, ayat itu dibaca—“Aku harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang, akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”

Teks kuno seharusnya berbunyi: “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang, akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”

Akan datang malam; kita harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Akan datang malam ketika kesempatan kita, pintu kita yang terbuka, akan habis dan tertutup, dan selamanya kita akan menyangkal kewajiban yang istimewa ini, yaitu untuk menaburkan benih Firman Allah di bumi ini. Akan datang malam; kita harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah, selagi masih siang, selagi kita masih memiliki sebuah kesempatan. Akan datang malam saat hari-hari kita akan berakhir.

Kita semua berharap—dan, saya hanya meringkaskan sebuah hal yang bagiamanapun juga kita rasakan di dalam hidup kita—waktu adalah sebuah ciptaan dari Allah dan hanya kita miliki di dalam hidup ini. Waktu bukanlah sebuah bagian di dalam kekekalan. Tidak ada waktu dibalik kuburan. Tidak ada waktu sesudah kehidupan ini.

Tidak ada waktu di dalam kekekalan—tidak ada sama sekali.

Waktu adalah sebuah ciptaan Allah. Dan setiap orang dari kita, memiliki sebuah bagian di dalamnya, sebuah bagian yang singkat di dalamnya. Dan hal itu akan diambil selamanya.

Saya dapat dengan mudah dan jelas serta bersifat dramatis dalam mengilustrasikan hal itu. Jika anda pernah berada di Mesir, anda tentu saja akan pergi ke beberapa museum yang terdapat di Kairo. Anda akan melihat mumi yang sudah berusia 5.000 tahun. Dan sebagaimana anda melihat ke arah mumi itu, bagaimana jika pria atau wanita yang menjadi mumi itu dapat membuka mata mereka dan menjadi hidup?

Lima ribu tahun yang telah berlalu akan menjadi hal yang tidak diduga-duga. Jika mereka membuka mata mereka, hal itu harus sekarang. Seandainya mumi itu telah berusia 50.000 tahun, dan 50.000 tahun telah berlalu begitu saja dan hal itu akan menjadi masa yang sekarang. Seandainya mumi itu berusia 50.000.000. tahun, dan mumi itu membuka matanya, maka 50.000.000 tahun telah berlalu dengan tidak disangka-sangka. Hanya sebuah ilustrasi yang dramatis bahwa tidak ada sebuah waktu dibalik kuburan. Tidak ada waktu di dalam kekekalan. Waktu adalah sebuah ciptaan di dalam hidup ini.

Dan hal-hal yang berkaitan terlihat dengan empati. Apa yang saya lakukan, apakah yang harus saya lakukan sekarang, menit ini, jam ini, dalam waktu yang singkat ini. Jika saya akan melakukan sesuatu untuk Allah, jika saya akan melakukan seluruh pekerjaan untuk Tuhan, maka saya harus melakukannya sekarang.

Itulah yang Tuhan maksudkan ketika Dia berkata, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang, selama kita memiliki kesempatan, akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.” Hari telah selesai. Kesempatan akan berakhir. Pintu akan tertutup. Apa yang ingin saya lakukan, saya harus lakukan sekarang.

Sekarang, sebab tidak ada alasan lain yang lebih penting selain pekerjaan kita untuk Tuhan. Dan hal itu terletak di dalam takdir dan kehidupan rakyat kita, di dalam bangsa kita. Ada sebuah akhir di dalam sejarah yang terlihat di mana saja. Anda dapat toidak membaca majalah, anda dapat tidak melihat sebuah program televisi, anda dapat tidak waspada terhadap Perang Bintang, anda dapat tidak waspada terhadap perkembangan senjata nuklir dan tidak peduli terhadap hal itu.

Baru-baru ini Billy Graham berkata, “Jika anda melihat ke dalam setiap arahan, baik itu di dalam teknologi, psikologi, dunia ini, seperti yang kita tahu sedang menuju ke sebuah akhir. Para ilmuwan memprediksikan hal itu. Sosiologis berbicara tentang hal itu. setiap orang berbicara tentang hal itu. sekalipun anda pergi ke Uni Soviet, atau sekalipun anda pergi ke tempat lain di dunia ini, mereka sedang berbicara tentang akhir dunia yang besar. Dunia sedang tinggal dalam sebuah ketetapan yang mengejutkan.”

Alexander Solzhenitsyn, seorang warga Soviet yang brilian yang menyeberang ke Amerika Serikat—dia berkata, “Kita sedang mendekati sebuah titik perpalingan yang besar di dalam sejarah. Sebuah pemusatan dari dunia kejahatan dari kebencian terhadap umat manusia sedang mengambil tempat. Dan hal itu penuh dengan kebulatan hati untuk menghancurkan masyarakat kita. Situasi yang ada di dalam dunia tidak hanya berbahaya, tidak hanya menakutkan tetapi juga merupakan bencana yang besar.” 

Dan hal yang mengejutkan bagi saya, minggu ini, saat saya membaca salah satu majalah nasional kita, ini adalah cara yang dimulai oleh artikel itu, yaitu mengutip ucapan dari Presiden Ronald Reagen. “Saya berpaling kembali”—dia sedang berbicara dengan sebuah kelompok orang Yahudi—saya berpaling kembali kepada, nabi-nabi anda yang terdahulu di dalam Perjanjian Lama dan tanda-tanda ramalan tentang Armageddon. Dan saya menemukan bahwa diri saya sangat takjub seandainya generasi itu dapat melihat kedatangan ramalan itu.” Dan setelah kutipan dari presiden itu, artikel itu memulai, “dalam setiap kesempatan Ronald Reagen yakin bahwa Armagedon sedang datang dan mungkin akan datang secepatnya.”

Semua hal-hal ini begitu banyak memenuhi media massa, baik di dalam siaran radio atau televisi atau surat kabar atau majalah atau forum politik. Akan datang sebuah akhir dari sejarah di dalam hari-hari kita dan di dalam masa hidup kita.

Sekarang, tidak hanya sebuah kepentingan yang sangat vital, karena singkatnya waktu yang kita miliki untuk melayani Allah dan tidak hanya karena keadaan darurat dari gerakan sejarah modern, tetapi juga sebuah kemerosotan moral dari Amerika yang kita cintai. Satu dari tiga orang Amerika adalah pecandu narkoba atau alkohol. Ketika anda melihat tiga orang Amerika di mana saja, salah satu dari mereka pastilah pecandu narkoba atau seorang pecandu alkohol.

Keuntungan kokain di Amerika berjumlah sekitar $25,000,000,000 setiap tahun—tiga kali lebih besar dari keseluruhan film dan rekaman dan industri media yang digabung secara bersama-sama.

Bunuh diri adalah pembunuh kedua yang terbesar di kalangan remaja di Amerika. Satu juta orang Amerika saat ini adalah pengidap AIDS. Dan hal itu menyebar dengan pesat, tidak hanya di negara kita akan tetapi di seluruh dunia.

Di dalam beberapa tahun terakhir ini, sekitar 18.000.000 orang Amerika meninggal karena aborsi. Hal-hal ini membawa keraguan ke dalam hati anda dan jiwa anda.

Dan perkembangan terakhir adalah Minggu yang lalu. Minggu yang lalu, kita semua mengetahui bahwa toko-toko di Dallas tetap terbuka, yang mana hal itu merupakan sebuah tanda dari keinginan yang besar dan ketamakan yang kikir dari kehidupan Amerika dan budaya Amerika.  

Saya telah berada di India. Dan tentu saja, anda tidak dapat mengujungi sebuah bangsa seperti itu, sebuah bagian kecil dari daratan Asia yang memiliki penduduk yang berjumlah sekitar 600,000,000 jiwa di dalamnya—anda tidak dapat mengunjungi sebuah bangsa seperti itu dan tidak takjub oleh banyak sekali hal yang terdapat di dalamnya.

Anda tidak dapat menolong, tetapi akan terkesan dengan cara mereka dalam melihat dewa-dewa mereka. Saya sangat terkejut terhadap hal itu. Mereka memiliki dewa-dewa yang melebihi jumlah mereka. Dan mereka melihatnya dengan dahsyat. Mereka melihatnya dengan ngeri, dewa-dewa dari India. 

Anda tidak dapat menolong, tetapi akan terkesan dengan luar biasa dan sulit untuk digambrakan tentang kemiskinan dari jutaan orang itu. Sebagai contoh, saya ke Kalkuta pada jam dua pagi. Dan saya pergi sepanjang jalanan Kalkuta, dan sedang berjalan menuju hotel, di tempat itu ribuan orang yang tidak terhitung jumlahnya tidur dan hidup di jalanan. Mereka berada di tempat-tempat terbuka. Mereka berada di ruang yang terbuka. Mereka berada dimana-mana. Mereka hidup dijalanan. Mereka mandi di luar sana, di selokan-selokan dan makan dari tempat-tempat sampah. Itu adalah sesuatu yang sulit untuk dipikirkan.

Tetapi diluar dari semuanya itu, yang paling berkesan bagi saya ketika saya berada di India, yang pertama adalah—saya tidak tahu apakah memang seperti itu, tetapi hal pertama yang mengejutkan saya adalah bahwa tidak ada hari Minggu di India. Setiap hari sama seperti hari lainnya. Dan hari terus berlangsung dan terus berlangsung. Tidak ada sebuah periode waktu di mana hal itu merubah langkah mereka. Mereka hanya terus berlangsung dan terus tetap berlangsung.

Tidak ada sebuah hari Minggu di India. Dan saya katakan, hal itu membuat sebuah kesan yang hebat kepada saya bahwa di sana tidak ada waktu ketika segala sesuatu telah berubah. Mereka hanya terus berlangsung dan terus berlangsung.

Sekarang, hal itu sedang datang ke Amerika. Amerika sedang meningkat dengan pemberhalaan. Menjadi sebuah dunia pemberhalaan. Amerika semakin meningkat dengan anti-Allah, anti-Alkitab, anti-Kristen, anti-segala hal-hal yang bersifat sorgawi.

Kita semakin bersifat duniawi, semakin memiliki pikiran yang materialistik. Dan kekerasan yang anda lihat, terpampang di televisi dan di dalam teater yang merupakan sebuah refleksi dari kehidupan Amerika modern.

Jadi sebagaimana anda melihat perkembangan hari-hari kita, dan Minggu kemarin—ketika kita mengumumkan kepada dunia bahwa tidak ada bagian dalam hari-hari dalam menyembah Allah yang merupakan sebuah hari yang kudus bagi kita, bahwa semua hari adalah sama, dan semua hari ini merupakan hari untuk bekerja, hari di mana kita dapat melakukan apa sajadan tidak ada waktu dan ruang bagi Allah—kita berada di dalam semuanya dari sebuah komitmen yang tidak terkekang untuk meraih dan memperoleh sejauh yang kita mampu. Jadi, seperti apakah itu? Seperti yang anda hadapi di dalam kehidupan Kristen dan di dalam iman Kristen dan di dalam gereja-gereja Kristen, seperti apakah itu?  

Jadi, itu adalah sebuah pesan yang saya dapatkan di dalam hati saya dan dari firman Allah pada hari ini. Iman kita, iman Kristen tidak pernah bergantung kepada sebuah hari, suatu hari.  

Sekarang, yang pertama kita akan menyebutkan tentang hari Sabat. Tidak ada hari Sabat di dalam iman Kristen. Hari Sabat adalah sebuah tanda, sebuah tanda perjanjian antara Allah dan Israel, antara Tuhan Yehova dan orang-orang Yahudi. Itu adalah sebuah tanda.

Sekarang, anda dengarkanlah kepada firman Tuhan yang terdapat dalam Keluaran 31, dimulai dari ayat 12:

 

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa

 Katakanlah kepada orang Israel, demikian; akan tetapi hari-hari SabatKu harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun temurun, sehingga kamu mengetahui bahwa Akulah Tuhan, yang menguduskan kamu..

Haruslah kamu pelihara hari Sabat; sebab itulah hari kudus bagimu, siapa yang melanggar kekudusan hari sabat itu, pastilah ia dihukum mati…

Maka haruslah orang Israel memelihara Sabat, dengan merayakan sabat, turun temurun, menjadi perjanjian kekal. Antara aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.

 

Hari Sabat adalah sebuah tanda perjanjian antara orang-orang ini, orang-orang Yahudi, anak-anak Abraham, yang merupakan umat pilihan Allah. Dan kemudian seluruh pernyataan dari Hukum merupakan pernyataan Allah sebagaimana Dia berusaha untuk menggunakan orang-orang Yahudi untuk mengajar orang-orang tentang kebenaran Allah. Tanda sabat merupakan sebuah tanda antara orang-orang Israel dengan Tuhan Allah.

Dan Dia berkata di sini, “Siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati.”

Dan ketika saya berpaling ke dalam Alkitab saya, kedalam Kitab Bilangan pasal 15 dimulai dari ayat 32:

 

Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat.

Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu.

Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan."

Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa.

 

Itu adalah hari Sabat. Hari Sabat adalah sebuah tanda antara Allah Yehova dan Israel, antara Allah dan orang-orang Yahudi. Kita adalah orang Kristen dari bangsa-bangsa lain berada dibawah sebuah perintah untuk tidak melaksanakan sebuah hari Sabat.

Paulus dengan jelas menulis di dalam Kolose pasal 2, dimulai dari ayat 16:

 

Karena itu janganlah biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru, ataupun hari Sabat; Semuanya ini adalah bayangan dari apa yang harus datang sedangkan wujudnya adalah Kristus.

 

Hal-hal ini ada di dalam Perjanjian Lama—najis dan tidak najis, sebagi contoh—tidak ada sebuah hal bagi kita yang bersifat najis atau tidak najis. Jika suatu hal itu menyehatkan, anda boleh memakannya. Tidak ada sebuah perintah bagi kita tentang hari-hari yang kudus. Kita tidak memiliki perintah dan tidak ada perintah sehubungan dengan hari Sabat.

Tidak ada perintah bagi orang Kristen sehubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Hukum Taurat. Mereka adalah tanda dan tipe serta bayangan, yang melihat ke depan, terhadap kedatangan Tuhan kita. Dan ketika hakekat itu datang, maka anda tidak perlu bayangan. Anda telah memiliki Dia. Dan kita memiliki Tuhan kita.

Kalu begitu, mengapa kita melaksanakan hari Minggu? Mengapa hari Minggu merupakan sebuah hari yang kudus bagi kita? Hal itu hanya berdasarkan kasih kita kepada Kristus—hanya itu.

Minggu adalah Paskah. Setiap Minggu adalah Paskah. Dia bangkit pada hari pertama Minggu. Dan pada hari itu, Dia menampakkan diri beberapa kali kepada orang-orang yang mengasihi Dia.

Mengikuti Minggu itu, Dia menampakkan diri kembali kepada murid-muridNya, dan murid-murid mulai mengadakan pertemuan pada hari pertama setiap minggu di dalam memuji Tuhan yang telah bangkit dari kematian, buah sulung yang pertama dari kita semua yang akan tertidur.

Itu adalah sebuah hari penyembahan. Itu adalah hari mengucap syukur kepada Yesus. Itu adalah sebuah hari yang rohani.

Rasul Yohanes di Pulau Patmos berkata, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh”—sebuah hari persekutuan dengan berkat kebangkitan dan keagungan serta kemuliaan Yesus.

Pada hari pertama setiap minggu, murid-murid berkumpul dan memecahkan roti bersama-sama. Mereka mengadakan Perjamuan Tuhan pada hari itu. Berdasarkan 1 Korintus 16, mereka membawa persembahan mereka dan meletakkannya di bawah kaki rasul-rasul. Itu sebuah hari yang kita laksanakan berdasarkan kasih yang timbul dari dalam hati kita kepada Yesus, Juruselamat kita.

Itu sama dengan ketika kita melaksanakan Hari Ibu. Tidak ada perintah untuk memperingati sebuah hari untuk ibu anda. Itu hanyalah sebuah hari, bahwa dengan sepenuh hati anda terhadap ibu anda yang terkasih, sebuah hari peringatan, sebuah hari istimewa bagi seseorang yang anda kasihi.

Hal itu sama seperti  sebuah hari ulang tahun bagi anak kita yang terkasih yang telah ditempatkan Allah ke dalam tangan kita. Hal-hal ini timbul dari hati kita yang paling dalam. Dan, kita melakukan hari pertama setiap minggu sama halnya dengan seperti itu. Sebuah ucapan syukur yang melimpah, yang timbul dari dalam hati kita kepada Yesus, atas kemenangan yang Dia berikan kepada kita dan untuk semua kebaikan yang luar biasa yang telah diberikan kepada kita melalui kasih karuniaNya dan anugerahNya, kita lalu menetapkan hari pertama setiap minggu untuk berkumpul bersama-sama, sama seperti yang dilakukan oleh murid-murid, untuk mengasihi Yesus, untuk memuji Yesus, untuk bernyanyi tentang Yesus, untuk mengundang orang lain masuk  ke dalam terang iman dan keluarga umat Allah. Kita melakukannya berdasarkan kasih yang timbul dari dalam hati kita.

Jadi, apakah kita terikat di dalam pekerjaan kita kepada sebuah hari Tuhan, terhadap sebuah hari Minggu? Tidak, sama sekali tidak. Setiap hari, setiap waktu, setiap tempat adalah sebuah hari yang baik, adalah sebuah waktu yang baik untuk melayani, untuk bersaksi dan untuk mengagungkan Tuhan Yesus. Setiap hari, setiap waktu, setiap tempat kita dapat melayani, menyembah, mengasihi dan bersaksi terhadap anugerah dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Saya berpikir tentang diri saya sendiri. Saya bertobat ketika saya masih kecil, memberikan hati saya kepada Tuhan Yesus dalam sebuah hari kerja. Saya telah berada di sekolah. Dan ibu saya menulis sebuah catatan kecil kepada guru, dan meminta kepada guru sehingga saya dapat diijinkan untuk pergi ke gereja.

Kami sedang mengadakan sebuah kebaktian kebangunan rohani.

Dan pada sebuah hari kerja, saya pergi ke ibadah pagi di gereja. Ini adalah sebuah hal pribadi yang sepele, tentang apa yang dikukan oleh seorang anak-anak. Pria yang mengadakan kebaktian kebangunan rohani itu tinggal di rumah kami. Dan setiap malam setelah ibadah, ibu saya selalu memiliki sesuatu yang disediakan baginya di meja makan. Dan dia duduk di sana serta makan dan minum. Dan saat dia melakukan hal itu, dia akan berbicara dengan saya seperti seorang anak yang berusia sepuluh tahun. Dia akan berbicara tentang Tuhan kepada saya. 

Dan dalam beberapa kali ibadah sebelum saya bergerak ke tepi bangku di dalam gereja kami yang sangat kecil itu. Dan keinginan saya akan selalu gagal. Saya hanya akan bergerak ke ujung bangku untuk datang dan memberikan tangan saya kepada pengkhotbah. Dan saya selalu memiliki sebuah dorongan yang timbul dari jari saya. Itu merupakan sebuah hal yang aneh jika saya melihat hal itu pada masa sekarang.

Dan kemudian, saya berpikir bahwa banyak orang yang seperti itu. Mereka memiliki  dorongan untuk datang menelusuri lorong itu dan menuruni salah satu tangga itu.

Saya mengalami hal yang seperti itu. lalu, hal itu terjadi begitu saja, saya tidak pernah merencanakannya ketika saya datang ke gereja dari sekolah.

Entah mengapa, tiba-tiba saja saya duduk dibelakang ibu saya. Dan ketika pengkhotbah memberikan undangan, entah kenapa ibu saya berpaling kebelakang. Dia sedang menangis. Dan dia berkata kepada saya, “Nak, hari ini, maukah engkau memberikan hatimu kepada Tuhan Yesus? Maukah engkau menerimaNya sebagai Juruselamatmu?”

Saya berkata, “Ya ibu. Ya.” Dan saya berjalan dari bangku—bahkan tidak melihat pengkhotbah yang sedang menangis. Itu adalah sebuah hari kerja. Itu adalah sebuah hari kebangunan rohani. Dan hari itu bukan hari Minggu.

Setiap hari adalah hari yang baik untuk menerima Yesus sebagai juruselamat anda. Setiap tempat adalah tempat yang baik untuk memberikan hidup anda kepada Kristus.

Kemudian akhirnya saya memberikan diri saya sebagai pengikut yang masih kecil, dan setelah itu, ketika saya berusia 12 tahun, saya memberikan diri saya sebagai seorang pengkhotbah. Saya melakukan hal itu dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani, sekali lagi yang berada di bawah tenda. Mereka memiliki sebuah tenda. Jemaat yang berjumlah sekitar 300 orang itu mengadakan sebuah kebaktian kebangunan rohani, dan mereka sedang mendapat kunjungan seorang pengkhotbah. Dan di sana, di tengah-tengah kota, mereka mengadakan ibadah dalam sebuah tenda. Dan dalam sebuah ibadah yang di lakukan saya maju ke depan dan memberikan diri saya untuk menjadi seorang pengkhotbah. 

Ibu saya sangat kecewa. Demikian juga ayah saya. Ibu saya adal putrid seorang dokter. Ayahnya adalah seorang dokter di pasukan konfederasi. Ibu saya adalah seorang Selatan yang tidak pernah mengalami rekonsiliasi. Dia membenci orang-orang Yankee dan orang Utara, dan Tuhan mengetahui segalanya. Dan dia meninggal dengan pikiran itu. Dia tidak pernah mengalami rekonsiliasi.

Ayahnya adalah seorang dokter di pasukan Konfederasi. Dan dia menginginkan agar saya menjadi seorang dokter. Ketika orang-orang menumpangkan tangannya ke atas kepala saya dan berkata, “Nak, sekarang, kamu ingin menjadi apa ketika kamu dewasa?” ibu saya memberitahukan kepada saya untuk berkata, “Saya akan menjadi seorang dokter sama seperti kakek saya.”

Jadi, ketika saya memberikan hidup saya untuk menjadi seorang pengkhotbah, oh, dia sangat kecewa sekali, dan berpikir bahwa saya akan melupakan hal itu, dan dia juga berkata demikian kepada saya. Dan dia berpikir bahwa itu hanya kepolosan dari kanak-kanak.

Tidak, itu bukan sebuah kepolosan anak-anak. Saya memiliki sebuah keyakinan bahwa Allah menginginkan saya untuk menjadi seorang pengkhotbah meski saya masih sangat kecil, masih anak-anak. Dan saya tidak pernah beranjak dari hal itu sejak waktu itu.

Dan ada hal lain yang sangat mengejutkan saya. Saya telah diundang untuk menjadi presiden dari dua buah universitas terkemuka. Dan saya juga pernah diundang untuk menjadi presiden di denominasi lain.

Saya tidak pernah menginginkan menjadi hal lain di dalam hidup saya, saya hanya menginginkan satu hal. Dan hal itu adalah untuk menjadi seorang pendeta, seorang gembala dari jemaat—tidak pernah ada sesuatu yang lain.

Tiada hal lain yang saya inginkan. Saya lebih baik menjadi seorang pendeta, seorang gembala dari kawanan domba, dari pada menjadi Presiden Amerika Serikat atau menjadi Perdana Menteri Inggris.

Saya lebih menyukai untuk menjadi seperti ini—tidak menginginkan untuk menjadi hal yang lain.

Saya telah memberikan hidup saya untuk menjadi seorang pengkhotbah, seorang pendeta, saat saya masih anak-anak di bawah sebuah tenda, dalam sebuah kebangunan rohani. Ketika saya mulai berkhotbah, saya mulai berkhotbah di sudut-sudut jalan. Saya telah berkhotbah di penjara. Saya telah berkhotbah bagi orang-orang miskin, di pertanian yang miskin.

Dimana saja merupakan sebuah tempat yang baik untuk memberitakan injil Kristus. Setiap hari merupakan hari yang baik untuk melakukannya.

Dan ketika saya lulus dari seminari, dan menerima tugas pengembalaan saya yang pertama, saya bertugas di sebuah kota wilayah yang kecil yang penduduknya berjumlah sekitar 14.000 hingga 15.000 orang. Dan saya mengingat bahwa setiap petani yang berada di bagian Oklahoma akan datang ke kota itu dan berbelanja atau berdagang atau hanya sekedar berkumpul. 

Dan kemudian saya mengambil Alkitab saya, dan pergi ke halaman gedung pengadilan. Dan pada hari Sabtu, saya berdiri di halaman gedung pengadilan itu dan saya mengkhotbahkan injil.

Beberapa dari hal yang luar biasa yang pernah saya pikirkan dalam hidup saya terjadi dalam hidup saya ketika saya sedang berkhotbah di gedung pengadilan itu pada hari Sabtu. Ada seorang model tahanan yang dibawa dari Penjara Negara Bagian McAlister, di Kota Oklahoma, ke Gubernur untuk mendapatkan pengampunan.   

Gubernur itu akhirnya kemudian menjadi seorang senator. Dia adalah seorang diaken di gereja Baptis dan guru Sekolah Minggu, dan pemimpin dari sebuah perusahaan minyak.

Mereka membawa model tahanan ini dari penjara kepada gubernur, sehingga gubernur itu memberikan pengampunan kepadanya. jadi di dalam konferensi, gubernur berkata kepada tahanan itu, ““Bagaimana anda dapat menjadi seorang tahanan yang menjadi teladan? Anda adalah seorang yang  sangat jahat, sangat keji, seorang penjahat yang penuh dengan kekerasan, seorang penjahat kelas berat. Bagaimana anda bisa menjadi seorang tahanan yang menjadi teladan?”

Dan pria itu menjawab, “Yang mulia, gubernur, saya telah berada di tahanan utama di gedung pengadilan Chickasha, Oklahoma, yang sedang menunggu pemindahan ke penjara Negara bagian McAlester.” Dan dia berkata, “Ketika saya berada di sana di dalam sel keamanan, saya mulai mendengarkan seorang anak muda yang berada di halaman gedung pengadilan, sedang memberitakan Injil.”

Dia berkata, “Ketika saya dikurung dan dipenjarakan di sana, saya marah karena saya tidak dapat ditolong, tetapi tetap dapat mendengarnya. Dia berbicara sangat keras, bahkan ketika saya menutup telinga saya, saya tetap dapat mendengarnya.” “Tetapi,” katanya, “Sebagaimana dia melanjutkan khotbahnya, dan firman Tuhan mulai masuk ke dalam pikiran saya dan akhirnya ke dalam hati saya, dan saya menemukan bahwa diri saya sedang mendengarkannya.” “Kemudian, “ katanya lebih lanjut, “Saya menemukan bahwa diri saya berada di bawah sebuah keyakinan.”

Kemudian dia berkata, “Gubernur, di dalam penjara dengan keamanan yang ketat itu, saya berlutut pada hari itu dan memohon kepada Yesus untuk datang ke dalam hati saya. Dan saya meminta Dia untuk mengmapuni dosa-dosa saya dan untuk memberikan kepada saya kehidupan yang baru dan sebuah hati yang baru.” Dan dia berkata, “Yang mulia, ketika saya masuk ke dalam Penjara Negara Bagian McAlester, saya masuk sebagai seorang Kristen.”

Dan dia berkata, “Itulah sebabnya mengapa mereka membawa saya kemari ke hadapan anda, menyatakan bahwa saya adalah seorang teladan Kristen. Saya telah menemukan Tuhan di sana, di halaman gedung pengadilan kota itu.” Itulah Tuhan.

Setiap tempat, saya katakan adalah sebuah tempat yang baik untuk memberitakan injil. Setiap hari adalah sebuah hari yang baik untuk memberitakan injil Yesus. Dan setiap tempat sama baiknya dengan tempat lain dalam mengabarkan kasih yang ajaib dari Tuhan kita yang mulia.

Anda melihat hal itu di dalam Firman Allah. Saya hanya takjub terhadap sebuah jenis tempat ketika Roh Kudus berbisik kepada Filipus, untuk pergi ke Gaza, sebuah jalan yang sunyi dan berkata: “Ketika engkau melihat sebuah kereta lewat yang diatasnya duduk seorang kepala perbendaharaan negeri Etopia, engkau beritahukanlah kepada berita baik dari anugerah yang menyelamatkan dari Allah.” Dan itu adalah pemulaan Gereja Kotik Etopia, dari pertobataan seseorang saat berjalan pulang di jalan yang sunyi dari Yerusalem.

Ketika Akwila dan Priskila mendengar Apollos, seorang Aleksandria yang brilian, yang tidak mengetahui tentang jalan Tuhan, yang sedang berkhotbah tentang Yohanes dari Perjanjian Lama, mereka membawanya dan mengajarkannya tentang jalan Tuhan dengan lebih sempurna. Saya berpikir, bahwa Apollos adalah penulis Kitab Ibrani, seorang yang brilian, Alkitab menyebutnya sebagai seorang yang bermulut fasih dari Aleksandria. Mereka melakukan hal itu di dalam rumah mereka. Di dalam Roma pasal enam belas, Paulus berkata, “Salam kepada Akwila dan Priskila, kepada semua jemaat di rumah mereka.”

Dan ketika saya melihat di dalam jemaat kita perkembangan dari pengajaran firman Allah selain dari Sekolah Minggu, di dalam rumah-rumah jemaat kita, saya memuji Allah. Saya ingin melihat hal itu berkembang dan semakin luas serta berlipat ganda.

Dan tentu saja, kita memiliki kelompok penginjil dan kita sedang berdoa untuk pusat kepedulian dan doa serta pembelajaran Firman Allah dan bersaksi tentang anugerah dari Juruselamat kita yang menyelamatkan.

Setiap Senin, di Coleman Hall ini, mereka mengadakan makan malam dengan para pengusaha wanita yang datang. Dan setiap Selasa, di tempat yang sama mereka memiliki pertemuan makan siang dengan pengusaha. Dan ratusan orang yang datang, memecahkan roti bersama-sama dan saling berbagi di dalam kekayaan dari pernyataan Firman Allah di dalam Kitab Suci. Itu sangat indah! Hal itu sangat luar biasa dan hebat.

Setiap hari adalah hari yang baik untuk bersaksi tentang Tuhan. Setiap waktu adalah waktu yang mulia untuk membawa seseorang masuk ke dalam iman dan keluarga Allah. Dan setiap tempat, setiap rumah, di mana saja merupakan sebuah tempat yang baik untuk kita berkumpul bersama-sama, untuk mencurahkan setiap lembar dari Kitab Suci ini agar Allah dapat mengajar kita tentang kekayaan anugerah dan kemuliaanNya. Itulah Tuhan.

Jadi, ketika saya melihat, apa yang telah terjadi Minggu kemarin, saya meratap atas bangsa kita ini. Dan saya telah jatuh ke dalam keputusasaan tentang masa depan kita terhadap budaya kita dan jenis kehidupan yang kita ciptakan untuk anak-anak kita di Amerika ini.

Tetapi, Allah berjaya selamanya, dan umat Allah akan selalu diberkati. Dan sekalipun di tempat ini, di rumah yang suci ini, atau sekalipun hari Minggu—hari Paskah Allah—atau sekalipun  hari yang lain yaitu hari kerja atau di tempat lain di kota ini, Yesus adalah Tuhan. Dan kita menyembah Dia, meninggikan Dia dan memuji Dia. Dan itu merupakan hal yang mengalir dari dalam jiwa kita, yang membuatnya demikian.

Dan itu adalah seruan kami bagi hati anda pada hari ini.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.