Daftar isi

TUHAN KITA YANG TELAH MENJADI MANUSIA

(OUR LORD’S ENTRANCE INTO HUMAN FLESH)

 

Dr. W. A. Criswell

 

04/12/81

 

Yohanes 1:14

 

Ini adalah pendeta yang sedang membawakan pesan dalam sebuah seri yang penjang dari khotbah doktrinal. Bagian yang sekarang kita khotbahkan adalah bagian Kristologi: Doktrin tentang Kristus.

Judul dari khotbah hari ini adalah: Tuhan kita Yang Telah Menjadi Manusia, sebuah khotbah doktrinal tentang inkarnasi. Kemudian, akan ada khotbah yang akan mengikuti yang berjudul “Tuhan Masuk ke Dalam Penderitaan,” kemudian “Tuhan Kita masuk ke Dalam Kubur”—ke dalam kematian, kemudian “Tuhan Kita Masuk ke Dalam Kebangkitan Hidup”—ke dalam sorga, dan “Tuhan Kita Masuk ke Dalam Ruang Maha Suci,” mediator dan pengantara kita yang besar. Dan hari ini, pada jam ini, Tuhan Kita Yang Telah Menjadi Manusia.

Pengakuan terhadap hal itu menjadi permulaan Injil Yohanes yang dibaca seperti ini: “Pada mulanya adalah logos.” Itu adalah terminologi filosofi yang menunjuk kepada alasan aktif Allah—Allah yang menggerakkan, yang bertindak, yang menciptakan dan yang mengunjungi manusia. “Pada mulanya adalah logos—diterjemahkan dalam Alkitab versi King James sebagai “Firman”—“dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”, dan logos itu—Firman—adalah Allah.” Ayat 14: “Dan logos itu—Firman—telah menjadi manusia—masuk ke dalam kehidupan manusia— 

 

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

 

Dari permulaan ini merupakan kerygma, pemberitaan tentang injil bahwa Allah telah menyatakan diriNya. Dan mereka sangat suka menggunakan kata “menyatakan diri” di dalam Alkitab. Allah telah menyatakan diri di dalam daging manusia. Allah telah berinkarnasi di dalam Yesus Kriatus. Allah telah datang ke dunia dalam sebuah tubuh, dalam tugas untuk membuat pengampunan bagi dosa-dosa kita

 

… Allah yang berada di dalam Kristus, telah mendamaikan dunia dengan diriNya, dan tidak memperhitungkan dosa-dosa mereka…

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.  

 

Ini merupakan jantung dan jiwa dari pemberitaan injil yang sederhana oleh para rasul: Allah telah berada di dalam Kristus—Allah berinkarnasi, dinyatakan di dalam Kristus, sehingga kita dapat diselamatkan dari hukuman dosa-dosa kita.

Dari mulanya, bahkan pada zaman rasul-rasul, di dalam kehidupan Paulus dan bahkan di dalam kehidupan Yohanes—bahkan dari permulaan, injil telah disangkal dan ditambahi. Penyesatan dari kelompok sofis masuk ke dalam pemberitaan Injil. Dan orang-orang ini disebut sebagai orang yang berpengetahuan, agnostik, sofis, menyangkal inkarnasi, menyangkal kelahiran dari anak dara, Allah yang masuk di dalam daging manusia, dan menyangkal kebangkitan tubuh.

Latar belakang dari bidat itu selalu terlihat berulang-ulang dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Mereka telah meresap. Mereka berada di mana-mana—Gnotisme, yang paling berkembang adalah bentuk Dosetik dan Cerintian. 

Gnostik Dosetik—kata Yunani untuk “pengetahuan” adalah gnosis, berlawanan dengan agnostik. Gnostik Dosetik: dokeo, “untuk melihat.”  Gnostik Dosetik mengajarkan bahwa Kristus tidak pernah memiliki sebuah tubuh yang nyata. Dia memiliki sebuah tubuh yang maya, tubuh yang semu. “Sangat tidak mungkin,” kata mereka, “bahwa Allah menyentuh tubuh manusia, dapat berada dalam rupa manusia.”  Jadi Dosetik berkata bahwa Dia memiliki sebuah tubuh yang maya—Dia hanya terlihat memiliki daging dan tulang.  

Cerintian berasal dari Cerinthus, yang merupakan musuh yang sengit dari Rasul Yohanes di Efesus. Cerinthus berkata bahwa kuasa Allah datang kepada Yesus pada saat Dia dibaptis dan meninggalkanNya pada saat Dia disalibkan. Cerinthus menyangkal bahwa Yesus adalah inkarnasi Allah. Dia menyangkal kelahiran dari anak dara. Dia menyangkal kebangkitan tubuh. Ini adalah bidat Gnostik yang menyerang latar belakang injil yang diberitakan di dunia Graeco-Romawi.

Para rasul di dalam pembelaan mereka terhadap iman, tidak pernah berbelok dari injil yang menggambarkan dualitas pribadi Kristus: Allah seutuhnya dan manusia seutuhnya—Manusia-Allah, dan menentang keyakinan Gnostik, bidat yang menyangkal keilahian Kristus dan bidat yang menyangkal kemanusiaan Kristus.  

Sebagai contoh, di dalam pasal terakhir dari surat kepada Timotius, sang Rasul menulis kepada anaknya di dalam pelayanan” Timotius—Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut—dan dia menyebutkannya gnostik, yang diterjemahkan di sini, ‘pengetahuan—kesalahan gnostik’—pseudonymos,” gnosis.

Gnostikisme: tentanglah hal itu, hindarilah hal itu. Santo Rasul Yohanes menulis  suratnya yang kedua dalam ayat tujuh yang berbunyi: “Sebab banyak penyesat yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia—bahwa dia telah datang dalam daging”—bahwa Yesus memiliki tubuh, tulang dan daging. 

Mereka tidak mengakui Firman: Mereka menyangkal bahwa Yesus telah datang—erchomenos, sebuah bentuk present partisif dari erchomai, “datang.”  Mereka menyangkal bahwa Yesus Kristus telah datang—Mereka menyangkal bahwa Yesus Kristus erchomenos—telah datang dalam daging.

Partisif itu juga mengacu kepada kedatanganNya yang pertama—mereka menyangkal bahwa Allah telah berinkarnasi, bahwa dia telah lahir dari seorang perawan—atau hal itu juga dapat mengacu kepada kedatanganNya yang kedua—mereka menyangkal bahwa Yesus Kristus datang dalam daging, dengan sebuah tubuh yang nyata, sebuah pribadi. Tuhan Yesus yang sama. Mereka menyangkal hal itu.

Ini adalah paham Gnostik yang harus ditentang, saya katakan bahwa rasul mengecam ajaran mereka. Baik dalam kedatanganNya yang pertama atau kedatanganNya yang kedua, gnostik menyangkal  manifestasi fisik dari Allah yang telah datang dalam daging.

Gnostik modern pada hari ini tidak jauh berbeda. Bidat yang sama yang berkonfrontasi dengan para rasul adalah bidat yang sama juga yang merasuk ke dalam kekristenan pada hari ini. Dalam banyak mimbar. Dalam kursi teologi yang banyak terdapat di akademi dunia.

Hal itu jelas-jelas merupakan penerimaan penjelasan filsafat terhadap kekristenan hari ini: Gnostikisme—sebuah superior, pendekatan intelektual terhadap Injil Kristus yang menyangkal kelahiran anak dara, menyangkal kebangkitan tubuh, menyangkal kedatangan Tuhan kita ke bumi yang terlihat secara pribadi dan nyata. Bagi gambaran itu adalah sesuatu yang mustahil, bahwa Allah mengambil rupa manusia dan menjadi manusia, bahwa di sana ada seorang Allah-manusia. 

Saya sangat mengingat khotbah saya melalui Alkitab, pada pasal yang terakhir dari Injil ketiga, yaitu Injil Lukas pasal yang kedua puluh empat. Pada saat menjelaskan Kitab Suci saya berada pada bagian tengah pasal terakhir.

Itu adalah kisah penampakan dari kebangkitan, dan kemuliaan Tuhan kepada rasul-rasulNya. Ketika Dia tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka, dan Kitab Suci berkata “Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu,” kepada roh.

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?"

Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. itu adalah bagian yang saya jelaskan—nyata, memiliki fisik, tubuh kebangkitan dari Yesus Tuhan kita.  

Ada sesuatu yang terjadi pada orang gnostik modern yang hadir pada pagi hari itu—seorang intelektual yang menyangkal kelahiran dari anak dara, Inkarnasi Allah, dan kebangkitanNya secara tubuh. Ketika dia keluar dari gereja setelah ibadah, dia berkata kepada seorang temannya, “Sebuah khotbah yang sangat menekankan materi! Betapa tidak dapat dipercaya dan fisik yang sangat kasar!”

Anda lihat, Kristus yang mereka khotbahkan bukanlah Inkarnasi Allah. Kristus yang mereka ajarkan tidak dilahirkan dari seorang anak dara. Kristus yang mereka ajarkan tidak pernah bangkit secara tubuh dari kematian. Kristus yang mereka ajarkan tidak pernah naik secara tubuh ke dalam sorga. Dan tentu saja, Kristus yang mereka ajarkan tidak akan pernah datang lagi secara pribadi dan terlihat nyata.

Kristus yang mereka ajarkan adalah sebuah spekulasi metafisk. Sebuah opini filsafat. Kristus yang mereka ajarkan adalah seorang hantu yang tidak memiliki materi. Adalah sebuah ide. Sebuah pikiran. Sebuah presuposisi intelektual.

Dapatkah anda membayangkan seorang pria berkata, “Saya percaya secara rohani, ide intelektual dari George Washington, tetapi saya tidak percaya dalam eksistensinya secara fisik sebagai manusia itu sendiri? Saya tidak percaya terhadap George Washington secara fisik yang lahir di pada tahun 1732.  Saya tidak percaya bahwa menikahi Mary Custis dari Mount Vernon.  Saya tidak percaya bahwa George Washington yang memimpin sebuah Revolusi, yang memiliki ide dalam membentuk Konstitusi dari Amerika Serikat dan merupakan orang yang pertama kali dipilih sebagai Presiden Amerika Serikat, tetapi saya percaya secara spiritual terhadap George Washington dan merupakan ide yang meresap pada masa Puritan dan yang idenya tetap ada diantara kita pada hari ini.”

Mereka adalah rasionalis tanpa sebab. Mereka adalah pemikir tanpa pikiran dan tanpa logika.

Dengan sebuah kebulatan suara yang tidak dapat dibantah, Kitab Suci mrmberikan kesaksian kepada dualitas pribadi Kristus. Dia adalah Allah seutuhnya, Allah yang berinkarnasi. Dan Dia adalah manusia seutuhnya, seorang manusia yang telah menjadi sama seperti kita.

Kitab Suci menggambarkan dualitas Kristus sebagai sebuah hal yang menakjubkan untuk dipegang di dalam pernyataan kebaikan Allah. di dalam Perjanjian Lama, ada sosok yang luar biasa, yang indah dan mulia yang menampakkan diri secara berulang-ulang, bahkan di dalam sebuah tubuh yang nyata. Dia adalah Malaikat Teofani. Dia adalah Malikat Yehova. Dia adalah Malaikat yang menyatakan kehadiran Allah. 

Dia dia menampakkan diri Di Perjanjian Lama secar fisik kepada Yakub di Pniel, atau kepada Yosua di Yerikho sebagai Panglima Balatentara Allah. Dia memperkenalkan diriNya sebagai Tuhan Yehova seperti yang dilihat Yesaya dalam tempat yang mahatinggi. Dan Dia memperkenalkan diriNya sebagai Yang Lanjut Usia kepada Daniel. Di dalam Perjanjian Lama ada sebuah sosok yang luar biasa dan mulia yang selalu menyatakan diriNya secara berulang-ulang.

Pada kesempurnaan zaman, di bagian terakhir pada akhir zaman, sosok yang mulia itu tetap menampakan diri. Dalam kitab Wahyu pasal pertama, rasul Yohanes menggambarkan diriNya sebagaimana dia telah melihatnya, yang berjalan di tengah-tengah tujuh lampu dian, di tengah-tengah jemaatNya— Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah. Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Dan di hadapanNya, Yohanes tersungkur sama seperti orang mati.

Pribadi yang mulia yang sama seperti pada zaman sebelumnya, pre-eksistensi dan kekal, di dalam zaman berikutnya, pribadi yang sama, yang luar biasa, yang mulia, yaitu Kristus Yesus, dan di dalam—pada masa yang singkat—pada masa Dia menjadi manusia, dari Dia merendahkan diriNya, pada masa penderitaanNya ketika kita mengenalNya sebagai Tuhan Yesus yang lemah lembut dan penuh hormat.

Itu adalah Allkitab dan itu adalah pernyataan Allah dan itu adalah injil yang diberitakan oleh para rasul.

Saya telah membuat pengakuan terhadap hal itu, dengan sebuah kebulatan, kesaksian dari Alkitab tentang dualitas Kristus: Dia adalah Allah seutuhnya; Dia adalah manusia seutuhnya—Allah-manusia; Allah yang berinkarnasi. Sebagai contoh, dalam Kitab Yesaya pasal sembilan sebuah nubuatan yang sangat indah dan yang sangat luar biasa berbunyi:

 

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

 

Lihat ke dalam dualitasNya di dalam nubuatan itu: “Seorang anak telah lahir untuk kita.” Sang nabi memimpin kita kepada kemanusianNya. Dia memperkenalkan kepada kita seorang Anak yang luar biasa.

Dan dia membawa kita ke Betlehem, ke sebuah kandang dan palungan. Dia membawa kita ke padang dengan rasa laparNya. Dia membawa kita ke air terjun dengan rasa hausNya. Dia membawa kita ke samudera dengan bintang-bintang malam. Dia membawa kita ke pertukangan kita dengan segala peralatannya. Dia membawa kita, dengan semua penghinaanNya, ke Golgota, dimana Dia mati sebagai seorang penjahat. Dia membawa kita ke Getsemani dengan jiwanya yang mengalami penderitaan yang dalam. Dan dia membawa kita ke kuburan di mana Dia telah dimakamkan. “Seorang anak telah lahir untuk kita”—kemanusiaanNya. 

Tetapi lebih dari pada hal itu: “Seorang Putra telah diberikan bagi kita.” Dia adalah seorang Putra sebelum Dia dilahirkan. Sang nabi sekarang memimpin kita ke arah sorga: kepada pre-eksistensi, kekekalan Kristus, yang memiliki gelar, Yang Ajaib, Penasehat, Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai. Dualitas dari Kitab Suci, dan mereka selalu berada di sana.  

Saya berpaling kepada Rasul Paulus, Dia mengutip himne dari jemaat mula-mula. Dan himne ini terdapat dalam 1 Timotius pasal tiga ayat yang terakhir, Paulus menulis:

“Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia.” Mereka menyukai kata “manifestasi/menyatakan diri,” phaneroo, sebuah pribadi yang memiliki pre-eksitensi yang diperkenalkan kepada kita, dan yang sekarang telah menyatakan diri kepada kita.

Dan Paulus menulis: “Agunglah rahasia ibadah kita,” di terjemahkan dalam versi King James, “keilahian,’  eusebeiaEusebeo adalah “untuk menyembah Allah,” “untuk bersujud di hadapan Allah”—eusebeoEusebeia, bentuk substansifnya adalah “menyembah Allah yang benar,” “kepercayaan.”

Paulus menulis, “Dan sesungguhnya agunglah rahasia keyakinan kita yang benar, iman yang benar, yaitu Allah yang telah menyatakn diri dalam rupa manusia.” Itu adalah misteri yang menyelubungi kita: bahwa Allah telah menjadi manusia dan diam diantara kita.

Kitab Ibrani mengikuti hal itu dengan penuh kemuliaan. Di dalam pasal sepuluh, Allah ini, yang adalah “gambar wujud Allah,” yang merupakan “cahaya kemuliaan Allah”—dalam pasal sepuluh, Allah yang sama, Allah yang mulia itu di berikan sebuah tubuh sehingga Dia dapat membuat sebuah korban—penebusan, yang mencurahkan hidup dan darahNya bagi dosa-dosa kita—dan pada pasal dua, sehingga Dia dapat menjadi Imam Besar yang setia—yang memiliki simpati  terhadap kita, “dicobai dalam segala hal sama seperti kita, namun dia tidak berdosa.” “Sebab itu Ia datang dalam daging kepada takhtaNya sehingga kita dapat menemukan anugerah pertolongan pada saat yang dibutuhkan”—selalu bersifat dualitas, Allah yang mulia di dalam kehidupan manusia.

Dan demikian juga dengan Rasul Petrus yang menulis dalam nada yang sama: “Dia telah dipilih sebelum dunia dijadikan” dan di sana ada kata yang mereka sukai yaitu phaneroo—“tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir.” Yang Mahabesar, kekal, pre-eksistensi Allah yang sekarang dinyatakan kepada kita, dengan tujuan agar kita beroleh keselamatan.

Dan pesan yang mulia itu kembali lagi diulang oleh Rasul Yohanes di dalam Surat Pertamanya, dalam pasal 3: “Untuk tujuan ini, Anak Allah telah” dan di situ ada kata itu lagi: phaneroo—“Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya.” Logos yang kekal yang telah menjadi manusia dan kita telah melihatNya.

Dia telah menyatakan diriNya sehingga Dia dapat luo—diterjemahkan di sini dengan “membinasakan”—sehingga Dia dapat “mematahkan” perbuatan-perbuatan iblis. Untuk tujuan inilah Allah datang ke dunia di dalam rupa manusia dan di dalam daging: sehingga dia dapat mematahkan rumah keputusasaan dari Setan, lubang penjara bagi orang-orang berdosa, program penghukuman, rumah bagi yang tidak memiliki pengharapan serta orang yang membutuhkan, kuasa kematian dan kegelapan. Dia datang ke dalam dunia, telah menyatakan diriNya sehingga Dia dapat menghancurkan rumah Setan dan perbuatan-perbuatan iblis.

Dan Sang Rasul menulis dalam nada yang sama sebagaimana dia mengawali Surat Pertamanya:

 

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang logos—Firman—hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Hidup itu telah

 

—dan di situ ada lagi kata:phaneroo

dinyatakan,

Hal itu diasumsikan sebagai daging

dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang

—Di situ ada lagi kata: phaneroo

telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga….

Para rasul mengenal Kristus sama seperti ahli kimia yang mengenal garam atau seorang geologis yang mengenal batuan atau seorang astronomi yang mengenal bintang-bintang. Mereka mengenal Kristus—mereka telah mendengar Dia, mereka telah meraba Dia, mereka telah mendengarkanNya, mereka telah melihatNya, mereka telah menyentuhNya dan mereka telah hidup bersama dengan Dia.

Dan mereka memberikan kesaksian kepada Allah yang hidup ini: Di dalam kelahiranNya melalui anak dara, di dalam hidupNya sebagai pengajar dan injil yang membawa kabar baik, di dalam kematian dan penguburanNya, di dalam kebangkitanNya yang mulia dan di dalam kenaikanNya ke sorga serta janjiNya yang akan datang kembali.

Itu adalah injil. Itu adalah kesaksian Firman.

Itu adalah manifestasi pernyataan Allah: di dalam kelahiranNya, di dalam InkarnasiNya, Yesus Kristus memiliki daging dan tulang-tulang. Di dalam pelayananNya, Dia adalah seorang pemberita injil—seorang manusia yang memiliki daging dan tulang. Di dalam kematianNya, Dia adalah seorang manusia yang disalibkan, tubuh yang mati dan memiliki tulang. Di dalam penguburanNya, Dia adalah manusia—yang telah disalibkan yang memiliki daging dan tulang. Di dalam kebangkitanNya, Dia adalah orang yang sama, bangkit dari kematian, dimuliakan, seorang manusia dengan daging dan tulang. Di dalam kenaikanNya ke sorga, di dalam kapasitasNya yang luar biasa sebagai seorang pengantara menjadi Imam Besar bagi kita, Allah yang Mahabesar adalah manusia yang memiliki daging dan tulang, seorang yang kita akan lihat secara nyata dan seorang pribadi, yang datang dalam kejayaan dan di dalam kemulian dalam awan Shekinah. Dan setiap mata akan memandangNya, Tuhan Yesus yang sama.

Jika berpisah dari kesejarahan Yesus, kita berpisah dari injil itu sendiri dan kita mengosongkan iman Kristen dan defenisinya yang sesungguhnya. Seandainya tidak ada Yesus yang dilahirkan dari anak dara Maria, seandainya tidak ada Yesus yang memiliki tubuh yang dibangkitkan dari kematian, maka tidak akan ada Yesus yang tidak memiliki tubuh secara fisik yang akan terlihat secara terbuka turun dari sorga, yang mana gereja melihat ke atasnya—tidak seperti menatap sebuah bintang, tidak seperti seseorang yang menandai kelendar—tetapi gereja melihat ke atas, mengangkat wajah terhadap kehendak sorga dan kehendak Kristus, percaya bahwa Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi kita.

Kita melihat kepada Yesus—bukan sebuah hantu, bukan sebuah hal yang muncul tiba-tiba, bukan sebuah ide filsafat, bukan sebuah pengharapan metafisik atau keyakinan. Kita memandang kepada Yesus, Allah-manusia, Juruselamat yang Ajaib, Raja dunia, Panglima Balatentara sorga, Kekasih yang telah menebus jiwa kita—Dia yang menulis nama kita dalam kitab kehidupan, yang menemani dan mengikuti kita dalam pengembaran kita di dalam dunia ini, sahabat kita yang terbaik di dalam masa kematian dan yang menunggu kita di dalam sorga.

Itulah Yesus, Allah-manusia, Kristus Yesus—itu adalah injil dari Alkitab. Itu adalah injil dari Petrus, Paulus dan Yohanes. Itu adalah injil kita, yang di dalamnya kita menemukan pengharapan dan perlindungan pada hari ini.

Seorang dokter yang terkasih di dalam jemaat kita, mengirimkan kepada saya sebuah catatan kecil dan menutupnya dengan sebuah syair. Dan di dalamnya ada sebuah pengakuan yang benar, yang telah saya usahakan untuk menjelaskannya dalam khotbah doktrinal pada jam ini tentang dualitas pribadi Kristus: Allah dan manusia.

 

Tuhan kita yang penuh berkat

Berkombinasi dalam Satu

Dua natur

Keduanya sempurna

Manusia yang sempurna

Agung seluruhnya

Di dalam keAllahanNya

Utuh seluruhnya

Sebagai manusia

Dia menunjukkan keadaan diriNya dalam menghadiri pesta

Seorang tamu sederhana pada saat makan malam

Sebagai Allah,

Dia mengubah air di sana

Dan mengubahnya menjadi anggur

Sebagai manusia,

Dia mendaki gunung yang tinggi

Dan menaikkan permohonan

Sebagai Allah

Dia meninggalkan tempat doa

Dan berjalan di atas laut

Sebagai manusia

Dia menangis dalam hati yang penuh kedukaan

Di samping seorang terkasih yang berduka

Sebagai Allah

Dia membangkitkan orang yang mati

Yang Mahatinggi tetap menyelamatkan

Sebagai manusia

Dia berbaring dalam sebuah perahu

Kelelaahan dan butuh istirahat

Sebagai Allah

Dia bangkit dan menghardik badai

Dan meredakan kemarahan yang dalam

Demikianlah Tuhan kita

Dalam kehidupanNya di dunia

Dalam dua natur tetapi satu kesatuan

Benih wanita sungguh nyata

Dan Putra kekal Allah

Oh, Anak, Oh Putra

Firman yang telah menjadi manusia

Semoga KemuliaanMu tetap ditinggikan

Yang disebut sebagai Yang Ajaib

Allah yang perkasa

Raja damai kami yang kekal.

 

Itu adalah injil: Allah yang telah mati bagi kita, Allah yang telah menyelamatkan kita, Allah yang akan membangkitkan kita juga, dari kematian, Allah yang akan datang untuk kita, dan Allah yang telah menyiapkan sebuah tempat bagi kita di sorga—namaNya adalah Yesus, Tuhan kita di dalam daging.

Itu adalah injil yang sangat mulia yang tidak pernah dapat dibayangkan oleh pikiran kita: Allah itu adalah Kristus—yang dapat disentuh, yang tersentuh oleh segala kelemahan kita, mengetahui tentang kita, yang tetap mengasihi kita, yang menyelamatkan kita, yang mendengar kita ketika kita berdoa, yang merendahkan telingaNya untuk mendengarkan, tinggal di dalam hati kita, yang menunggu kita di dalam sorga. Oh, Gloria, itu yang dapat kita nyanyikan bagi itu semua dan memuji Dia dengan sepenuhnya—Juruselamat yang mulia, Tuhan kita Yesus!

Sekarang, bolehkah kita berdiri bersama-sama?

 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.