YESUS, TERANG DUNIA
(JESUS, THE LIGHT OF THE
WORLD)
Dr. W. A. Criswell
10-25-87
Yohanes 9:1-41
Ini adalah Pendeta dari Gereja
First Baptist Dallas, yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Yesus,
Terang Dunia. Ini adalah sebuah eksposisi dari Injil Yohanes pasal sembilan.
Yohanes menutup Injilnya dengan pasal dua puluh. Pasal dua puluh satu adalah sebuah tambahan, yang ditulis lama setelah dia menyampaikan pesan itu sendiri.
Dia menutup Injilnya dengan kata-kata ini di dalam pasal dua puluh satu: “Memang masih banyak semeion lain”—di tempat lain di dalam Injil Yohanes, kata itu diterjemahkan dengan “mujizat-mujizat.” Pada bagian ini, kata ini diterjemahkan dengan “tanda-tanda.”
Memang masih banyak sēmeion—tanda lain—yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridNya yang tidak tercantum dalam kitab ini
Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.
Dari semua mujizat-mujizat
yang menegaskan keilahian Kristus dan menunjukkan Yesus sebagai Juruselamat,
Yohanes memilih tujuh dari semuanya dan mempresentasikannya di dalam Injilnya.
Semua ini adalah tanda-tanda yang menegaskan Tuhan kita sebagai Juruselamat.
Sebagai contoh, di dalam
pasal 4, dia menjelaskan mujizat penyembuhan dari seorang anak pegawai istana.
Itulah Yesus, sang Tabib Agung.
Di dalam pasal selanjutnya—pasal 5—dia menjelaskan tentang Tuhan kita yang memberi makan 5.000 orang. Itulah Yesus, Roti Hidup.
Di dalam pasal 11, dia
menjelaskan tentang mujizat kebangkitan yang luar biasa dari Lazarus dari
kematian. Ini adalah Yesus, sang Kebangkitan dan Hidup.
Injil ini ditutup tentu saja
dengan kebangkitan yang jaya dari Tuhan kita atas kuburan. Itulah Yesus, menang
atas kematian.
Di sini di dalam pasal sembilan dari Kitab Yohanes, dia menjelaskan tentang mujizat yang luar biasa tentang pemulihan penglihatan: menciptakan sebuah penglihatan dari seorang yang buta sejak lahir. Dan itulah Yesus, Terang Dunia.
Jadi, kita akan memulai
dengan ayat pertama dari pasal 9 dari Injil Yohanes: “Waktu Yesus sedang lewat,
Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.” Dia buta sejak lahir. Dia lahir
tanpa penglihatan. Dan dia sedang duduk di sana sambil mengemis.
Saya berpikir bahwa orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya itu melewatinya, tanpa memberi perhatian kepadanya, bahkan mungkin tidak melihatnya. Tetapi kisah ini dimulai ketika Yesus lewat. Dia melihatnya, memperhatikan dia dan memandang dia.
Betapa Tuhan sangat sensitif
terhadap seseorang yang buta, yang miskin dan sedang mengemis! Jika anda
mengikuti kehidupan Juruselamat kita, Dia dikerumuni oleh orang-orang seperti
itu. Kemana pun Dia pergi, ada begitu banyak orang yang berkumpul
disekelilingNya—orang-orang sakit, orang-orang miskin, orang yang terhilang,
orang yang sakit kusta, orang-orang yang sekarat, orang yang patah hati dan
orang yang terluka. Keseluruhan kisah Yesus berlangsung seperti itu.
Yesaya 53 ayat 3 menjelaskan
bahwa Dia adalah seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita
kesakitan. Karena itu, Tuhan memperhatikan orang ini: yang sedang mengemis dan
terlahir buta!
Beberapa tahun yang telah
lewat, ada seorang wartawan Amerika dari sebuah suratkabar yang besar di Negara
kita, yang tinggal di Sanghai. Ketika di sana, dia membuat persahabatan dengan
seorang wartawan suratkabar Cina di kota yang besar itu.
Wartawan Cina itu adalah
seorang pengikut Budha yang saleh. Dan wartawan Amerika itu adalah seorang
Kristen yang setia.
Orang Cina itu berkata
kepada orang Amerika “Anda datanglah bersama dengan saya, di mana saya
menyembah Budha. Dan saya akan pergi ke gereja bersama dengan anda, di mana
anda menyembah Kristus.”
Pertama sekali, mereka
mengunjungi kuil Budha. Kemudian, pada hari Tuhan berikutnya mereka mengunjungi
gereja Kristen. Dan ketika mereka berjalan keluar, orang Budha itu berkata
kepada sahabat Amerikanya, “Saya menyukai agama saya jauh lebih baik dari pada
yang anda miliki. Ketika saya pergi ke kuil saya, di sana ada allah saya. Dan
dia bahagia. Dan dia makmur. Dan dia tersenyum. Tetapi, ketika saya pergi ke
gereja anda, di sana ada sebuah salib di puncaknya. Dan di dalamnya, ada pesan
dari Yesus anda, yang menderita dan mati. Saya menyukai agama saya jauh lebih baik
dari agama anda.”
Wartawan Amerika itu tidak pernah memikirkannya seperti itu, dan dia tidak memiliki cara yang dapat dia temukan untuk menjawab.
Dalam beberapa hari berikutnya, wartawan Amerika itu berada di atas sebuah riksaw, yang ditarik oleh seorang kuli sepanjang jalan Sanghai. Dan tiba-tiba kuli itu roboh.
Orang Amerika itu keluar.
Kuli itu di sana, sekarat karena kelaparan. Orang Amerika itu berusaha untuk
mencari pertolongan dari orang-orang Cina yang lewat. Tetapi mereka bahkan
tidak mau melihat. Dan orang Amerika itu mengangkatnya ke atas lengannya dan
melihat orang miskin itu dan wajahnya yang kurus kerempeng. Dan dia memiliki
jawabannya.
Kemanakah anda akan
membawanya? Akankah anda membawanya dan membaringkan dia di hadapan berhala
dari Budha kecil yang gemuk dengan tangannya yang terlipat diatas perutnya yang
gendut dan tersenyum? Atau akankan anda membawanya ke bawah salib, kepada Tuhan
Allah yang mengetahui apa artinya lapar, menderita, sakit dan mati?
Begitulah Tuhan kita—ketika
Dia lewat, Dia melihat seorang pengemis, yang buta sejak lahir. Dan Dia
berhenti. “Dan ketika mereka berhenti di sana, murid-muridNya berkata
kepadaNya, ‘Tuhan, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang
tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”
Itu adalah sebuah pertanyaan
teologis yang selalu didiskusikan di sekolah para rabi. Bagi mereka, semua dosa
memiliki sebuah reaksi dalam sebuah hukuman dan dalam penderitaan.
Jadi orang ini lahir buta—dari manakah asal dosa yang mengakibatkan hukuman penderitaan itu? Apakah orang tuanya…sehingga dia lahir buta? Apakah sejak dia sewaktu berada di dalam kandungan?
Dan, mereka mempercayai itu, sehingga dia lahir buta.
Rangkaiannya selalu kearah itu. Beberapa penderitaan disebabkan oleh sebuah dosa yang spesifik. Pada puncaknya, tentu saja, semua tragedi dan rasa sakit serta penderitaan datang dari pemberontakan yang terjadi di Taman Eden, dan puncak hukuman itu adalah kematian.
Tetapi ada hal lain. Ada
sisi yang lain. Ada kebenaran lain. Dan Tuhan kita mengakui hal itu ketika Dia
berkata, “Hal ini adalah untuk kemuliaan Allah’—pernyataan kemampuan dan
kekuasaan dari kehadiran Allah.
Bolehkan saya menjelaskan
kedua hal itu dalam sebuah waktu yang singkat? Tidak ada keraguan—tidak ada
penilaian yang saling bertentangan bahwa kita dapat menjelaskan penderitaan
sebagai hasil sebuah dosa. Di sini, di dalam jemaat kita, ada seorang pria
lajang yang tinggi, berambut pirang, kuat dan tampan, berusia sekitar 25 atau
26 tahun. Dia datang ke ruangan saya di gereja ini dan duduk di sana, dan
selama satu jam dia menangis dengan mencurahkan seluruh isi hatinya kepada
saya.
Dia adalah seorang
homoseksual. Dia mendapat AIDS dan menghadapi hukuman kematian di dalam
tubuhnya. Dia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada saya, menjelaskan hidupnya
yang penuh kompromi dan kesalahan, dan bagaimana dia telah bertobat dan
bagaimana Allah telah memafkan dia dan dia sudah siap menghadapi kematian—salah
satu sesi yang paling mengharukan yang pernah saya hadapi bersama dengan
seorang mitra.
Pemuda itu sangat setia ke
gereja ini. Setiap minggu pagi anda dapat melihatnya di sebelah sana. Setiap
minggu malam dia berada di sana. Dan setiap rabu malam dia juga berada si sana,
dan selalu saja mengunjungi saya setelah kebaktian selesai.
Kemudian, di akhir Agustus lalu saya pergi ke Inggris, dan dia meninggal tujuh hari kemudian, karena AIDS.
Tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal bahwa di sana ada sebuah hukuman yang mengikuti dosa dan pemberontakan. Tetapi, Yesus berkata, tidak semua penderitaan dan rasa sakit dan kesengsaraan di dalam kehidupan manusia yang merupakan hasil sebuah dosa, dari kesalahan. Kadang-kadang, Yesus berkata bahwa penderitaan dan rasa sakit dapat terjadi di dalam kehidupan manusia sehingga kita dapat memuliakan Allah, sehingga kita makin mengetahui anugerah dan kemampuan dari Tuhan kita.
Di dalam Perjanjian Lama, anda memiliki Kitab Ayub. Dia memiliki sahabat-sahabat yang menghiburkannya. Dan itu adalah sebuah peribahasa.
Sahabat-sahabatnya datang
kepadanya dan berkata, “Ayub, engkau adalah pendosa terbesar, karena engkau
mengalami penderitaan yang sangat dalam.” Itulah yang mereka katakan.
Tentu saja, Alkitab berkata
bahwa dia memuliakan Allah di dalam penderitaannya. Allah mengijinkan hal itu
sehingga dia dapat bertumbuh dalam kehendak sorga.
Apa yang akan anda katakan tentang penderitaan Tuhan kita? Dia telah menderita dan menanggung semua noda kita.
Saya tidak tahu sebuah bagian yang sangat tajam di dalam literatur selain dari tulisan Rasul Paulus ini:
Dan supaya aku jangan
meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi
suatu duri di dalam dagingku…
Tentang hal itu aku sudah
tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
Tetapi jawab Tuhan kepadaku:
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah
kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas
kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Karena itu aku senang dan
rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam
penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku
kuat.
Ada penderitaan dan rasa
sakit dan kedukaan yang datang ke dalam hidup kita yang Allah gunakan sehingga
membuat anda bergantung ke atas lenganNya yang kuat, untuk membuat anda
menunduk di hadapanNya, membuat anda memandang di dalam doa dan penyerahan
diri. Demikian juga dengan orang yang buta sejak lahir ini, yaitu agar
kemuliaan Allah dinyatakan di dalam dia.
Dari banyak pilar batu
mereka telah melihat visi sorga, dan dari banyak tugu yang didirikan dengan
usaha keras dan pencobaan untuk melihat tanah perjanjian. Penderitaan dan
kesulitan di dalam kehidupan manusia—.
Itulah sebabnya Tuhan kita
berkata dan mengulang apa yang telah kita baca di dalam Yohanes 8 ayat 12: “Akulah
terang dunia; barangsiapa percaya kepadaKu akan berdiam di dalam terang, akan
hidup di dalam Aku dan Aku di dalam dia.’ Dan di sini Dia mengulang kembali:
“Akulah terang dunia,” dan membuka mata
orang yang tidak dapat melihat itu.
Matahari menjadi terang bagi
dunia kita, demikian juga Yesus bagi kita yang terhilang dan jatuh serta umat
manusia yang sekarat. Orang ini dapat melihat—dan ketika anda membacanya dengan
cepat, anda tidak akan memikirkan hal ini. Orang ini buta sejak lahir dan
merupakan cacat bawaan. Dan mujizat Yesus adalah dalam memberikan
penglihatannya bukan merupakan pemulihan tetapi suatu penciptaan.
Orang ini tidak pernah melihat. Dia dilahirkan buta. Penyembuhannya bukan dari kebutaan yang dia peroleh setelah dia lahir. Dia terlahir dengan buta. Dan ini adalah sebuah penciptaan, di dalam kuasa Allah.
Ada beberapa hal yang dapat
mampu kita lakukan. Ada beberapa hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah.
Hanya Allah yang mampu membuat cahaya matahari. Hanya Allah yang mampu
mengendalikan lautan.
Kita tidak memiliki kunci ke
Atlantik. Tidak seorang pun yang mampu mempelajari kekerasn Pasifik dapat dengan
selamat keluar darinya. Kita tidak dapat mempercepat musim panas, mencairkan
salju. Kita tidak dapat memandu angin. Kita tidak dapat menyajikan sebuah
gerhana. Hal-hal ini berada di dalam kuasa Allah.
Dan ini adalah salah satu
diantaranya. Kita dilahirkan secara rohani buta. Kita dilahirkan untuk menghadapi
saat kematian yang tidak dapat dielakkan. Kerusakan dan kehancuran terbungkus
di dalam keberadaan kita.
Dan siapa yang dapat
memberikan kita hidup? Siapa yang dapat membuka mata kita? Siapa yang dapat
mengunjungi kita dengan terang dari sorga? Hanya Tuhan kita.
Salah satu hal yang paling
tajam, yang saya pikirkan dari seluruh Kitab suci adalah kutipan Yesaya yang
diambil oleh Matius dalam menggambarkan Tuhan Yesus, ketika Dia memulai
pelayananNya di Galilea—Matius berkata, dengan mengutip Yesaya:
Tetapi tidak selamanya akan
ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan
tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan
ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.
Bangsa yang berjalan di
dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri
kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
Paulus menyatakan hal itu seperti ini:
Sebab Allah yang telah memerintahkan terang untuk menyinari kegelapan, telah bersinar di dalam hati kita, untuk memberikan terang tentang pengetahuan kemuliaan Allah di dalam rupa Yesus Kristus.
Yesus, terang dunia!
Dan, ini adalah semeion itu, tanda ini. Apa yang Yesus lakukan dalam membawa terang kepada orang buta ini adalah sama dengan apa yang Yesus lakukan dalam membawa terang sorgawi ke dalam jiwa kita.
Saya ingin anda memperhatikan orang ini. Dia adalah salah satu karakter yang tidak biasa yang pernah anda baca di dalam hidup anda. Tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai orang buta, berkata, “Bukankah dia ini yang selalu mengemis?”
Dan ada yang berkata, “Benar, dialah ini.”
Yang lain berkata, “Ia serupa dengan dia.”
Tetapi, dia berkata, “Benar, akulah itu.”
Sebuah perubahan yang luar
biasa di dalam orang itu! Dia memiliki sebuah roman yang baru. Dia memiliki
sebuah wajah yang baru. Dia terlihat berbeda. Dia telah berbeda: “Barangsiapa
yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, dan
lihatlah yang baru sudah datang.”
Itulah yang secara tepat
terjadi pada orang ini. Dia tidak kelihatan sama. Tetapi, dia masih sama. Dia
adalah orang yang sama. Tetapi dia sudah berubah.
Dan mereka tidak menyangkal kerendahan dirinya atau kondisinya yang dulu. Dia berkata, “Akulah dia.”
Dan ketika mereka bertanya
kepadanya, “Siapa yang melakukan itu? Siapa yang telah mengubah kamu? Siapakah
yang telah membawa kepada kamu hidup dan terang? Siapa yang mencelikkan
matamu?”—dia berkata, “Tuhan Yesus. Dia yang telah melakukannya.”
Dan orang-orang yang
menghina Yesus—mereka berkata, “Kami tahu bahwa
orang ini adalah orang berdosa. Akan tetapi, berikanlah pujian pada
Allah.”
Dapatkah anda membayangkan
hal itu? Prasangka apa yang dilakukan kepada hati seorang manusia, penilaian atas
seseorang! “Orang ini, Yesus, yang mencelikan matamu adalah seorang pendosa.
Terpujilah Tuhan atas penglihatanmu.’ Prasangka!
Apakah anda tahu bahwa
prasangka yang buta di dalam hati manusia tetap menjauhkan mereka dari
kebenaran tentang Tuhan Yesus? Prasangka manusia merupakan sebuah perkembangan
yang mengherankan di dalam kehidupan manusia.
Dalam minggu ini saya telah
membaca seseorang yang berkata, di dalam tahun-tahun belakangan ini, hanya emas
yang datang dari Mexico dan Peru. Dan seseorang membawa kepada dia sebuah segumpal
emas dari Kalifornia dan berkata kepadanya, “Penguji kadar logam berkata inilah
emas. Dan hal ini ditetapkan di pasar sebagai emas.”
Dan orang itu mengambil
gumpalan itu, ketika dia melihatnya, dia berkata, “Saya tidak membantah pasar
yangmenetapkan ini emas. Saya tidak membantah apa yang disampaikan oleh
pengujian kadar logam tetapi saya memberitahukan anda bahwa ini bukan emas.
Sebab emas hanya datang dari Meksiko dan Peru.”
Kebutaan dari orang-orang
yang tidak mau melihat dan prasangka dari orang-orang yang tidak mau membuka
mata mereka dan telinga mereka serta hati mereka untuk menerima—tepat seperti
itu: “Ini adalah pendosa. Orang ini adalah orang berdosa.”
Dan jawaban dari orang buta
yang sekarang dapat melihat ini: Dia menjawab dan berkata, “Apakah orang itu
memang berdosa aku tidak tahu. Tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu bahwa
tadinya aku buta, dan sekarang dapat melihat.”
Oh, betapa sebuah keyakinan
dan penegasan yang baik: “Satu hal ini yang aku tahu, bahwa tadinya aku buta,
tetapi sekarang aku dapat melihat.”
Anda memiliki sebuah lagu yang seperti itu:
Anugerah yang sangat besar
Betapa manis suaranya
Yang telah menyelamatkan
seorang yang jahat seperti aku
Yang dahulu hilang
Tetapi sekarang telah
ditemukan
Yang dulu buta, tetapi sekarang aku dapat melihat.
Kita telah mendengarkan
kesaksian yang indah ini, seperti Roberts Hill’s, selama masa penatalayanan
ini. Anda tahu seseorang telah datang menemui saya di gereja ini dan berkata,
“Pendeta, anda memiliki ruang kesaksian pada waktu penatalayanan. Mengapa anda tidak
memiliki ruang kesaksian pada akhir tahun, dari beberapa jemaat ini yang telah
diselamatkan dengan luar biasa di dalam gereja kita? Mengapa anda tidak
memanggil mereka ke depan dan membiarkan mereka bersaksi tentang apa yang telah
Tuhan perbuat atas mereka?”
Saya tidak tahu mengapa saya
tidak melakukan hal itu dalam tahun-tahun belakangan ini. Kita akan
melakukannya dalam tahun-tahun mendatang. Beberapa pertobatan luar biasa yang
pernah saya lihat, terdapat di sini, di dalam jemaat kita. Dan kita akan memanggil
mereka ke depan supaya mereka memberitahukan apa yang telah Allah lakukan
kepada mereka.
Saudara yang terkasih, saya
tidak pernah melupakan sebuah natal yang sangat indah. Seseorang yang
mengepalai pelayanan misi kita di kota Dallas ini, pada saat natal akan
mengadakan sebuah pesta di gereja di Coleman Hall—membawa semua orang-orang
dari misi kita. Dan dia akan memberikan sebuah hadiah bagi mereka. Dan hal itu
sangat indah.
Kemudian, tahun ini dia melakukan sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dia memiliki orang-orang yang berbeda dari semua kapel-kapel misi itu. Dia menyuruh mereka berdiri dan bersaksi tentang apa yang telah Allah perbuat bagi mereka.
Saya duduk di sana selama
tiga jam berturut-turut dan menangis di dalam hati saya dengan ucapan syukur
kepada Allah ketika saya mendengarkan orang-orang itu bersaksi tentang apa yang
telah Allah perbuat bagi mereka. Ada seorang pria yang tertangkap dalam sebuah
pencurian—seorang perampok dan penipu dan dikirim ke penjara. Ketika dia keluar
dan pulang ke rumah, kemudian dia menunjuk kepada seorang pria saleh itu, “dan
orang inilah yang telah memenangkan saya kepada Kristus, dan saya telah
memiliki kehidupan yang baru dan pengharapan yang baru serta iman yang baru di
dalam Dia.”
Dan seseorang yang lain
kemudian berdiri: “Saya dulunya adalah seorang pemabuk, memukuli istri saya dan
anak-anak saya. Ketika saya pulang, istri saya akan sembunyi karena takut,
karena keberadaan saya di sana.” Dan
kemudian dia menunjuk kepada pria saleh itu: “Orang itu telah
memenangkan saya kepada Kristus. Dan sekarang—“ Dan kemudian dia menjelaskan
kehidupan keluarga Kristennya yang indah dan keluarganya yang berharga.
Tidak ada hal yang seperti itu di dunia ini” “Dulu aku buta, tetapi sekarang aku dapat melihat.”
“Apakah orang itu memang berdosa aku tidak tahu. Tetapi satu hal yang aku tahu, yaitu bahwa tadinya aku buta, dan sekarang dapat melihat.”
Saya telah mendengar tentang
Ironside, yang merupakan seorang gembala di Gereja Moody selama satu
generasi—saya telah mendengar dia berkata bahwa suatu kali dia berbicara di
jalan-jalan Kota San Francisco bersama dengan band Bala Keselamatan, dia
diinterupsi oleh seseorang di tengah-tengah kesaksiannya oleh seseorang yang
menantang dia untuk berdebat keesokan harinya pada tempat yang sama, dan pada
waktu yang sama.
Dan Dr. Ironside, pendeta-pengkhotbah itu berkata, “Saya sangat senang untuk berdebat dengan anda. Pada tempat yang sama dan jam yang sama. Saya akan bertemu dengan anda.
“Baiklah,” kata orang kafir itu, “Saya akan berdebat dengan anda.”
Dan Ironside berkata, “Saya ingin meminta satu hal yang harus kita lakukan. Pada waktu yang sama di tempat ini, besok saya akan membawa beserta dengan saya, seratus orang yang malang, yang telah diangkat dan diselamatkan serta dibebaskan oleh anugerah dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus, yang telah diselamatkan oleh Dia yang telah tersalib. Saya akan berada di sini. Dan saya akan membawa seratus orang yang telah diangkat dari lubang yang gelap dan yang telah berjejak di atas karang. Saya akan berada di sini dengan seratus orang. Dan mereka akan berada di sini, berdiri di samping saya esok hari—di tempat ini, besok pada jam yang sama.
“Dan anda akan berada di sini dengan seratus orang yang telah anda angkat dan selamatkan dengan kuasa dari injil atheisme dan kekafiran. Bawalah mereka. Dan kita akan bertemu di tempat ini pada jam yang sama.”
Dan debat itu tidak pernah terjadi.
Di mana anda akan menemukan seratus orang di dunia yang tenggelam di dalam dosa serta rusak total, telah diselamatkan oleh injil kekafiran dan atheisme? Di mana anda akan menemukan hal itu?
Tetapi saudaraku, berikan
saya kesempatan beberapa saat dan saya akan membawakan kepada anda seribu orang
yang akan berdiri dimana saja di dunia ini dan bersaksi, “Dulu aku buta, tetapi
sekarang aku dapat melihat.” Diselamatkan, bertobat, dan diubah oleh anugerah
Allah!
Saya harus menutup khotbah ini. Mereka mengusir dia. Ketika anda tidak mendapat jawaban, maka anda akan mengusir dia. Mereka mengusir dia keluar.
Dan Yesus menemukan dia.
Yesus mendengar bahwa mereka mengusir dia. Dan Dia menemukan orang itu.
Bukankah Tuhan kita seperti
itu? Dimana ada orang buta, dimana ada orang-orang yang diusir, dan orang-orang
terhilang, di sana ada Yesus. Mereka menjadi milikNya. Dia secara khusus
menjadi seorang gembala bagi mereka.
Dan Yesus berkata—dan perkataan ini merupakan penutup dari pasal itu:
Kata Yesus: "Aku datang
ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat
melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta."
Kata-kata itu didengar oleh
beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya:
"Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?"
Jawab Yesus kepada mereka:
"Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami
melihat, maka tetaplah dosamu."
Ketika seseorang berkata, “Saya tidak membutuhkan Allah. Saya membenarkan diri saya sendiri dan saya berkecukupan dan saya tidak membutuhkan suatu Tuhan untuk mati bagi saya. Dan saya tidak membutuhkan seorang Juruselamat yang membela saya pada saat pengadilan terakhir dari Allah yang Mahatinggi. Saya akan berdiri dengan kebenaran dan kemampuan diri saya sendiri,” orang itu, kata Yesus adalah orang yang buta dan terhilang.
Tetapi ketika seseorang
berkata, “Tuhan, aku membutuhkan Engkau. Aku tidak layak, tidak mampu, aku
membutuhkan Engkau,” orang itu akan mendapat penglihatan dan kehidupan dari
tangan Tuhan kita yang mulia.
Dan itu yang telah terjadi
di sini. Yesus berkata kepadanya, “Engkau telah melihat Tuhan, dan Dia sedang
berbicara dengan Engkau.”
Dan, orang itu berkata,
“Tuhan, saya percaya,” dan orang itu menyembah Dia.
Sebuah kesimpulan yang indah bagi sebuah kisah yang menakjubkan! Kisah itu ditutup dengan orang ini yang berlutut di bawah kaki Yesus, dan menyembah Tuhan kita.
O Allah semoga ibadah ini
berakhir seperti itu—bersujud di hadapan Tuhan, menyembah Tuhan Yesus yang
mulia!
Dan, itu adalah seruan bagi anda dalam kesempatan rohani yang sorgawi.
Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M.