Daftar isi

KEHENDAK ALLAH BAGI KITA

(THE WILL OF GOD FOR US)

 

Dr. W. A. Criswell

 

10-11-87

 

Yohanes 7:17

 

Seringkali Pendeta menyampaikan khotbah dalam sebuah eksposisi. Dia akan mengambil sebuah perikop dan menjelaskannya. Kadang-kadang saya mengkhotbahkan sebuah khotbah tekstual. Dan khotbah pada hari ini diambil dari teks Yohanes 7:17.

Teks kita, terdapat dalam Injil Yohanes 7;17, di dalam versi King James: Barangsiapa mau melakukan kehendakNya, ia akan tahu entah ajaranKu berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diriKu sendiri.” Melakukan kehendak Allah—Kehendak Allah Bagi Kita.  

Sebagaimana Yohanes menulisnya, “Barangsiapa t-i-s”—itu adalah sebuah bentuk kecil kata Yunani yang berarti “setiap orang, siapapun, setiap waktu, dimana saja”—merujuk kepada kita semua. Barangsiapa mau melakukan kehendakNya thele to thelema—bukan bentuk kata future ‘akan’ tetapi  kemauan. “Jika setiap orang, dimana saja memiliki kemauan untuk memberikan dirinya kepada Allah, Tuhan akan menyingkapkan kepadanya didache”—kata ‘didaktik’ kita berasal dari kata Yunani itu—Ia akan tahu didache—diterjemahkan di sini dengan ‘ajaran,’ dia akan mengetahui jalan.” Allah akan menyingkapkan kepadanya apa yang telah dipilih dan ditetapkan sorga kepadanya.

Sekarang bagi seseorang yang tidak percaya, hal itu merupakan kesia-siaan. Hal itu adalah kebodohan. Bahkan memikirkan hal itu merupakan ketololan, hal yang ngawur. Bagaimana saya dapat mengetahui kehendak Allah ketika—bagi beberapa orang—tidak ada Allah dan –bagi yang lainnya—tentu saja tidak ada kehendak bagi kita, sebuah tujuan, sebuah rencana ilahi?

Orang-orang Gnostik berkata, “Tidak ada sesuatu yang merupakan kehendak Allah.” Dia adalah agnostik. Tidak ada sebuah alpha primitif, demikian mereka menyebutnya. Ada agnostic di dalam bahasa Yunani. Dan kata ‘tahu’:  g‑n‑o, gno.  Itu adalah sebuah kata Yunani: gno.  Jadi kata, agno, agnostik: memilki arti  ‘dia tidak tahu.’  “Saya tidak tahu kehendak Allah. Saya tidak dapat mengetahuinya.”

Seorang agnostik tidak mengetahui apa pun. Dia adalah seorang agnostik. “Saya tidak tahu.” Tetapi, ketika dia mengakui bahwa saya tidak tahu, tiba-tiba dia melompat kepada kemahatahuan. Lalu, tidak seorang pun yang dapat tahu. Dia beranjak dari ketidaktahuan terhadap segala sesuatu menjadi mengetahui segala sesuatu!

Itu adalah sesuatu kebiasaan khusus dalam tingkah laku yang aneh dalam pikiran. Seorang agnostik tidak mengetahui apa pun. Seorang agnostik, seorang yang masih muda, sedang berdiri di depan seorang tua yang bijaksana. Dan orang tua itu berkata, “Kamu menyebut diri kamu apa?”

Dia berkata, “Saya seorang agnostik.”

Dan orang tua itu berkata, “Dan apakah itu, tolong beritahukan kepada saya?”

Dan orang muda itu berkata, “Maksudnya adalah bahwa saya tidak memiliki kepastian tentang apapun.”

Dan orang tua yang bijaksana itu berkata, “Lalu, mengapa engkau merasa pasti bahwa kamu adalah seorang agnostik?”

Orang agnostik berkata: “Sangat mustahil untuk mengetahui kehendak Allah. Anda tidak mengetahui apapun.”

Dan orang kafir juga mengakui, “Kita tidak mengetahui kehendak Allah, sebab tidak ada Allah.”

Dia juga adalah sebuah fenomena, coba lihat ke arah dia. Dia adalah seorang kafir. Di adalah seorang atheis. Dia tidak percaya Allah. Bagaimana pun tidak ada sebuah hal yang merupakan kehendak Allah.

Seorang atheis, seorang kafir, harus menjadi mahatahu. Anda tanyalah kepadanya, “Apakah anda mahatahu? Apakah anda mengetahui segala sesuatu?” Jika dia sepenuhnya jujur, dia harus berkata, “Tidak, saya tidak mengetahui segala sesuatu.”

            “Jadi, mungkin, dalam sebuah area pengetahuan yang tidak kami tahu, Allah mungkin berada di sana.”

Anda dapat bertanya kepadanya, “Apakah anda mahahadir? Apakah anda telah berada di setiap tempat?”

Jika dia jujur, dia akan berkata, “Tidak, saya tidak mahahadir.”

            “Jadi, mungkin dalam sebuah area yang anda tidak pernah berada di sana, mungkin di sana ada Allah. Jadi bagaimana anda dapat tahu bahwa tidak ada Allah?”

Salah satu hal yang paling aneh di dalam Alkitab adalah hal ini. Tidak pernah satu kali pun, tidak ada sebuah contoh, tidak ada sebuah tempat, dimana keberadaan Tuhan pernah diargumentasikan atau dibuktikan. Semua hal yang disampaikan Allah di dalam Alkitab ini mengenai seorang ateis atau seorang kafir adalah hal ini. Di dalam Mazmur pasal 14, ayat 1, dan di dalam Mazmur pasal 53 ayat 2, Allah berkata: “Orang bebal berkata dalam hatinya, Tidak ada Allah.” Itu merupakan satu-satunya tempat yang pernah disebutkan mengenai hal itu.

Seseorang adalah seorang yang bebal, kata Allah, adalah seseorang yang menyangkal keberadaanNya. Dan saya dapat dengan mudah memikirkan mengapa Allah menyatakan hal itu. “Langit menyatakan kemuliaan Allah.” “Cakrawala memperlihatkan pekerjaan tanganNya.” “Seluruh bumi penuh kemuliaanNya.”

Bagaimana anda dapat melihat ke arah setangkai bunga dan tidak melihat pekerjaan tangan Allah? Bagaimana anda melihat seorang bayi yang mungil dan tidak melihat kemapuan kemahakuasaan Allah? Bagaimana anda melihat ke dalam hati anda dan tidak pernah menyimpulkan bahwa di sana mungkin ada seseorang yang berada di suatu tempat, seseorang yang telah menempatkan di dalam jiwa anda sebuah kerinduan kepadaNya? “Engkau telah menjadikan kami bagimu dan kami gelisah hingga kami beristirahat di dalam Engkau.” 

O Allah, berapa banyak penegasan yang Engkau telah berikan kepada kami di dalam hidup ini dan dunia tempat Engkau tinggal, bahwa Engkau ada, bahwa Engkau nyata!

Tetapi, bagaiman saya tahu kehendak Allah? “Tidak ada sebuah tujuan dari Allah bagi saya,” kata orang duniawi. Dia dipenuhi dengan kepentingan dirinya sendiri di dalam hidup ini dan dunia ini. Dan bagi dia, sebuah dunia yang akan datang adalah sebuah khayalan. Itu adalah sebuah syair bayangan. Itu adalah sesuatu pikiran agama yang menyimpang, bagi mereka hal-hal yang direnungkan adalah hal-hal yang berguna bagi kepentingannya dan hidupnya dihambur-hamburkan di dalam dunia ini dengan dirinya sendiri dan hal-hal kepemilikan.

Di dalam Kitab Ibrani pasal sebelas anda akan membaca sebuah kalimat yang luar biasa. Penulisnya menyebutkan daftar orang-orang yang beriman, yang telah meninggal dalam iman. Dan penulisnya menulis kalimat ini: “Sebab Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.”  

Sebab mereka menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah

…Sebab itu Alllah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Tetapi, orang-orang yang menghambur-hamburkan hidupnya di dunia ini, yang kehidupan mereka dibangun di sekeliling diri mereka sendiri, mereka tidak melihat kota itu. Bagi mereka hal itu sama sekali tidak nyata.

Mereka menutup telinga mereka terhadap bisikan Roh Kudus. Oleh karena itu Roh Kudus tidak berbicara kepada mereka.

Mereka melukai dan mengeraskan jiwa mereka melawan kehendak Allah. Oleh karena itu, kehadiranNya tidak diketahui oleh mereka.

Mereka memetakan dunia ini dalam sebuah kabut yang gelap dan kematian. Oleh karena itu cahaya yang bersinar di wajah Yesus padam. Hal itu tidak nyata bagi mereka.

Seperti yang anda pikirkan dan seperti yang anda ketahui, saya tidak dapat masuk ke dalam keyakinan mereka yang menyangkal bahwa Allah memiliki sesuatu bagi kita. Jadi, dalam teks kita yang luar biasa ini menyebutkan: Barangsiapa mau—jika setiap orang mau—jika setiap orang memilih untuk melakukan kehendakNya, Allah akan menunjukkan Dia setiap langkah dari jalan itu.” 

Itu adalah sebuah hal yang luar bisa bagi kita. Saya dapat mengenal kehendak Allah melalui sebuah ketaatan hati, melalui sebuah ketundukan roh dan ibadah, melalui sebuah kemauan untuk mendengar dan sesudahnya mau mengikuti hal itu. Dan jika saya memiliki sebuah kesederhanaan dan respon yang taat kepada Allah, Dia akan menunjukkan kehendakNya dalam setiap langkah, dalam setiap waktu, hari demi hari. Sama seperti lampu sorot yang besar pada sebuah lokomotif yang menyorot jalurnya, ketika saya mengikutiNya, Allah akan menyingkapkan setiap mil dari perjalanan itu, dan dia akan melakukan hal itu kepada setiap orang yang mau.

Setiap orang, termasuk setiap orang dari kita. Barangsiapa mau memberikan dirinya kepada sebuah ketaatan—di dalam kasih yang diserahkan sepenuhnya—kepada kehendak Allah, Tuhan akan memimpin anda dalam setiap langkah anda di jalan itu.

            “Apakah kehendak Allah bagi kita? Saya mau, Pendeta. Saya sedang mendengarkan.”

Ini adalah kehendak Allah bagi kita. Yang pertama dan yang paling utama dari semua, bahwa kita harus mengasihi dan percaya serta menerima AnakNya yang terkasih. Tidak ada satu pun di dalam hidup ini yang dapat dibandingkan terhadap maksud Allah, Bapa kita yaitu supaya kita  mengasihi dan menerima dan percaya dan meyakini serta meninggikan AnakNya yang terkasih.

Pada saat Dia dibaptiskan, Allah berkata, “Inilah Anakku yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Pada saat transfigurasi, Tuhan Allah yang sama berbicara dari sorga: “Inilah AnakKu yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Bagi kita, untuk menerima dan mengasihi serta meninggikan, percaya di dalamNya dan mengikuti Anak yang dikasihi Allah merupakan hal yang paling utama dari semua kehedak Allah bagi kita—dan menyenangkan Bapa kita di sorga.

Di dalam Perang Dunia ini, saya telah mendengar sebuah kisah yang sangat menggerakkan hati saya. Ada dua orang pemuda yang berbaris dalam seragam yang sama di dalam Negara kita yang tercinta ini. Dan di dalam sebuah seragam atau dalam sebuah pasukan, perbedaan yang kita kenal di dalam hidup ini dihilangkan: sekalipun seseorang itu terpelajar atau tidak terpelajar, sekalipun dia kaya atau pun miskin, tidak ada masalah  dengan latar belakang mereka.

Dua orang yang berbaris dalam seragam itu memiliki kecakapan yang sama. Mereka sama persis. Mereka berada dalam tugas yang sama dan mereka menghadapi kematian demi kita.

Jadi, kedua orang yang berada di dalam pasukan ini menjadi sahabat dan mereka menjadi sahabat yang sangat karib. Salah seorang dari antara mereka adalah anak keluarga kaya, seorang keluarga yang berpengaruh. Yang lainnya adalah seorang anak yatim piatu—yang tidak memiliki ayah dan ibu, tumbuh dalam kemiskinan.

Kedua orang ini menjadi sahabat karib. Ketika mereka pergi ke sebuah pertempuran, anak muda dari keluarga yang terpandang itu, mengambil sebuah surat yang tertutup dari kantongnya, di atasnya terdapat nama seorang pria beserta dengan alamatnya di sebuah kota di Amerika ini. Dan dia memberikan amplop yang tertutup itu kepada sahabatnya itu dan berkata kepadanya, “Jika saya tidak kembali, jika saya meninggal, berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan mengantarkan amplop yang tertutup ini kepada alamat ini.”

Pemuda itu berkata, “Saya berjanji.”  

Pertempuran telah berlangsung. Dan di dalam tugas hingga mati, pemuda yang berpengaruh itu kehilangan nyawanya. Seorang prajurit Amerika memberikan naywanya bagi kita—ribuan orang dari mereka telah melakukan hal itu.

Pemuda yatim piatu itu selamat dan melihat amplop yang tertutup itu, dan ketika pertempuran telah selesai dia kembali ke Amerika—dan kembali ke kota itu dan ke alamat itu, dan berdiri depan sebuah rumah yang sangat besar. Dia mengetuk pintu. Dan seorang ayah di rumah itu datang ke depan pintu dan melihat kearah prajurit itu. Dan pemuda itu meletakkan surat yang tertutup itu ke dalam tangannya.

Sang ayah membukanya dan membaca surat anaknya yang telah terbunuh dan yang telah gugur.

“Orang ini”—dan dia menyebut nama anak yang membawa surat itu—adalah diriku sendiri. Saya telah berjanji kepadanya jika saya meninggal, dia akan mengantarkan pesan ini kepadamu. Dan saya ingin agar engkau,” kata pemuda itu, “untuk membuka pintu hatimu dan rumahmu dan menerima dia dan mengambilnya sebagai anakmu.”  

Ketika sang ayah membaca surat itu, dia berpaling kepada pemuda yatim piatu itu, dan berkata, “Demi permintaan anakku dan demi permintaan putraku, masuklah. Masuklah ke dalam.”

Hal itu sangat tepat dan sangat sesuai dengan apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Bagaimana pun miskinnya pun kita dan tidak berharga, Allah berkata,” Demi permintaan AnakKu, masuklah ke dalam.” Saya adalah anak seorang Raja. Saya menjadi milik dari Bapa sorgawi. Saya adalah salah satu anggota dari rumah tangga iman.

Inilah yang telah dilakukan oleh Tuhan saya kepada saya. Dan ini adalah kehendak Allah dan keinginan Allah yang pertama: bahwa saya harus percaya dan mengasihi serta meninggikan dan menerima PutraNya. Adalah karena permintaanNya sehingga nama saya tertulis di dalam kitab kehidupan. Mereka berjalan dalam jubah putih bersama dengan orang-orang kudus di dalam kemuliaan pada suatu hari yang indah nanti.

Apakah kehendak Allah bagi kita? Yang pertama dan yang paling utama dari semua, bahwa kita harus menerima Tuhan sebagai Jutruselamat kita, untuk mengasihi Dia, menyembah, meninggikan dan melayani Dia.

Apakah kehendak Allah bagi kita? Supaya saya harus mengasihi dan menjadi anggota jemaat, kumpulan dari orang-orang kudus Allah. Efesus 5:25: “Kristus telah mengasihi jemaat dan memberikan nyawanya untuknya.’” Dan ketika saya mengasihi jemaat dan menjadi anggota dari kumpulan orang-orang kudus Allah, saya menyenangkan hati Bapa kita yang di sorga.

 

Aku mencintai KerajaanMu Tuhan

Rumah  yang menjadi kediamanMu selamanya

Jemaat, orang-orang tebusan kami yang penuh berkat

Yang diselamatkan oleh darahNya yang mulia

Aku mengasihi gerejaMu, Ya Allah

Tembok-temboknya yang berdiri di depanMu

 Yang penuh perhatian dan kasih sayang

Dari mataMu dan

Patung-patung di atas tanganMu

Yang untukNya air mataku akan jatuh

Yang untuknya doa-doaku dipanjatkan

Yang untuknya jerih payah dan perhatianku aku berikan

Hingga kerja keras dan perhatian yang terakhir.

 

Hal itu mengenangkan Allah bahwa saya mengasihi, dan menjadi salah satu anggota, dari kumpulan umat Allah. Sedapat-dapatnya, saya harus mengingat nasehat di dialam Kitab Ibrani: Kita jangan meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah yang kita lakukan secara bersama-sama. Ketika waktu ibadah tiba, saya ingin berada di sana.

Salah satu pria minggu yang lalu berkata kepada saya, “Saya sedang berjalan disamping salah satu anggota staff di gereja anda. Dan dia sedang berbicara kepada dua orang dekat anda. Dan sepintas lalu saya mendengar mereka sedang berdiskusi apakah mereka akan menghadiri ibadah gereja atau tidak.” 

Saya tidak habis pikir tentang sesuatu yang seperti itu. Mereka adalah para staff gereja—yang dibayar dengan persembahan dan perpuluhan kita—sedang mendiskusikan apakah mereka akan menghadiri ibadah gereja atau tidak. Allah Mahabesar yang di sorga, apa yang Engkau pikirkan tentang kami?

Jauh sebelum saya digaji menjadi seorang pelayan di Rumah Tuhan, hal itu adalah sebuah sukacita bagi hati saya yang masih muda untuk berkumpul, ketika orang-orang berkumpul untuk bernyanyi dan memuji Tuhan, untuk mendengarkan khotbah dan beribadah. Saya suka untuk pergi ke Rumah Tuhan: “Saya sangat senang ketika mereka berkata kepada saya, ‘Mari kita pergi ke rumah Tuhan.’”

Tidak ada suatu pertunjukan yang ditawarkan di dunia ini, yang dapat mendekati, atau untuk meninggikan perasan dan dorongan yang saya rasakan dari pada ketika saya berada hadir di sini bersama dengan anda. Allah berada di tempatNya. Saya memuji namaNya. Saya melihat dan merasakan ibadah yang berlangsung tahun demi tahun.

Apakah kehendak Kristus bagi kita? Apakah kehendak Allah bagi kita? Di dalam surat 1 Korintus, pasal sebelas: “Aku harus memuji kamu, saudara-saudara, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ordinasi yang kuteruskan kepadamu.”

Ke dalam tangan kita, Allah telah memerintahkan untuk melakukan dua ordinasi kudus. Yang pertama adalah baptisan. Tidak banyak hal yang dapat  saya lakukan kepada Allah. Dunia ini adalah milikNya dan segala segala sesuatu yang di dalamnya. Dia tidak kekurangan apapun.

Tidak banyak yang dapat saya lakukan bagi Allah. Tetapi saya dapat melakukan hal ini. Saya dapat mengikuti Dia di dalam baptisan. Sebagaimana Dia telah menetapkan tatacaranya, saya akan mengikutinya. Jika saya dapat dibaptis. Saya akan dibaptiskan. Saya ingin dibaptiskan. Setiap orang di dalam dunia yang telah diciptakan Allah, di dalam sebuah pengakuan iman kepada Tuhan kita, bukti kasih kita kepadanya, kita semua harus dibaptis, dikuburkan bersama dengan Dia, dan dibangkitkan dalam keserupaan kebangkitanNya yang mulia.

Dan di dalam pasal sebelas, seperti yang saya baca di dalam ayat itu, rincian-rincian yang ada di perjamuan Tuhan—menasihatkan kita untuk melaksanakannya dengan indah dan sikap yang penuh hormat.

Dan kita harus melaksanakannya di dalam gereja kita. Sekali sebulan, kita berusaha untuk melaksanakan ordinansi yang kudus itu untuk memecah-mecahkan roti—itu adalah tubuhNya—dan minum anggur—itu adalah darahNya, duduk di sini bersama dengan yang lain, mengingat akan pengorbanan dan kematian Tuhan kita dan memandang ke depan, kepada hari ketika Dia datang kembali, dan terus melaksanakan hal itu hingga Dia kembali untuk kita. O Allah betapa merupakan sebuah kewajiban yang mulia untuk melaksanakan hal itu di dalam kumpulan orang-orang kudus Allah!

Jika saya melakukan kehendak Allah, apa yang akan saya lakukan? Tidak hanya mengasihi Tuhan kita, tidak hanya mengasihi jemaat kita yang untuknya Dia telah memberikan tubuhNya, tetapi memiliki bagian untuk mendukungnya.

Hal itu bukan menjadi sebuah beban bagi saya. Tuhan Engkau dapat memberikan hal itu kepada malaikat. Tetapi Engkau tidak melakukannya. Engkau memberikannya kepada kami. Kami adalah utusanMu dan pelayanMu serta dutaMu. Dan Engkau telah memberikan kami kerajaan.

“Sudara-saudara,” tulis Paulus dalam ayat pertama dari 2 Korintus pasal delapan, “kami hendak memberitahukan kepadamu.” Bukankah itu sebuah kata yang sangat indah? “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.” 

Itu adalah sebuah anugerah bahwa Allah memberikan kepada mereka, di dalam kepemilikan mereka, mereka melimpah di dalam pemberian mereka. Mereka memberikan menurut kemapuan mereka bahkan melampaui kemampuan mereka kepada Allah.

Tuhan, saya suka untuk menjadi seperti itu. “Apapun, Tuhan, yang datang ke dalam tangan saya, sekalipun sepotong roti—sekalipun itu sedikit—tetapi jika hal itu adalah sebuah porsi yang diberikan kepada Allah, Tuhan Allah akan mengingat anda di dalam hal itu. Itu telah menjadi pola di dalam hidup saya, apapun yang saya miliki, walau pun sedikit, Tuhan, aku akan memberikannya kepadaMu.” Tuhan akan senang jika saya melakukan hal itu, mengingat Dia.

Saya harus mempercepat khotbah ini. Yang terakhir dari semua adalah melakukan kehendak Allah di dalam kehidupan pribadi saya. Tidak hanya menerima Yesus sebagai Juruselamat, dan tidak hanya berkumpul bersama-sama dengan jemaat yang untuknya Dia telah memberikan hidupNya, tetapi di dalam kehidupan pribadi saya yang dapat melakukan kehendak Allah atas saya.

Ibu saya yang terkasih dan penuh berkat—ibu saya yang kudus—memiliki sebuah keinginan bagi saya. Dia memiliki—ayah dan ibu saya—memiliki dua orang anak laki-laki. Dan saya adalah anak tertua. Dia membayangkan bahwa saya akan menjadi seorang dokter, sama seperti ayahnya.

 

 Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M