Daftar isi

TUHAN KITA SEBAGAI ROTI

(OUR LORD AS BREAD)

 

Dr. W. A. Criswell

 

07-12-87

 

Yohanes 6:48

 

 

Khotbah kita hari ini berjudul “Yesus, Roti Dari Sorga,” atau Tuhan Kita Sebagai Roti. Ini adalah sebuah eksposisi  bagian utama dari pasal enam Kitab Yohanes.

Yohanes pasal 6—Dan, saya akan membaca beberapa ayat, dimulai dari ayat 31: Yohanes 6:31.

Orang-orang Yahudi berkata kepada Tuhan kita:  

Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."

Maka kata Yesus kepada mereka... Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.

Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."

Ayat 35:

“Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Ayat 48:

Akulah roti hidup….

Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati.

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

Ayat 35:

Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

Ayat 58:

“Inilah roti yang telah turun dari sorga….Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

 

Anda tidak dapat menyangkal bahwa ini adalah sebuah perikop yang sangat mengherankan. Dan simbol dari itu adalah sesuatu yang asing bagi kita: roti, darah, makanan dan minuman kita. Roti terbuat dari biji padi-padian yang dihancurkan dan digiling dari atas dan bawah.

Batu Gilingan: Sebuah simbol dari salibNya. Dibakar dalam sebuah oven: simbol dari penderitaanNya yang dalam.

Roti dari Allah: Secara berulang-ulang di sebutkan dalam perikop ini, disebutkan bahwa Dia datang dari sorga sebagai roti dari Allah—bahwa kita memakan tubuhNya dan meminum darahNya. Tujuan itu telah diakui di dalam sorga. Seperti yang disebutkan dalam Kitab Wahyu, “Dia adalah Anak Domba yang telah disembelih dihadapan seluruh dunia.” Itu adalah tujuan dari sorga bahwa Dia telah turun untuk umat manusia yang telah terhilang dan mati bagi dosa-dosa manusia.

Apapun tujuan lain dari Allah yang telah menciptakan dunia yang luas ini dan bumi  yang hijau ini, bagaimana pun besarnya dan agungnya semua misteri dari silogisme matahari dan system, dimana setiap bintang-bintang berpijar, dengan sinarnya laksana surat yang mengeja namaNya, apa pun tujuan Allah yang mungkin sangat berharga di dalam seluruh ciptaan yang terdapat di alam semesta ini, ini adalah salah satu tujuan utamaNya. Di dalam sorga Allah bertujuan bahwa AnakNya turun ke dunia ini dan mati bagi umat manusia.

Debaran jantung Bapa terjadi di dalam kemasygulan hati Anak. Tuhan kita tidak datang ke dalam dunia ini dari sorga hanya untuk menjadi seorang pembaharu sosial. Dia tidak datang agar Dia hanya menjadi sebuah bayangan kemanusiaan yang temporer. Dia datang tidak hanya untuk menjadi seorang teladan. Dia tidak datang hanya untuk membawa kepada kita roti fana yang akan binasa. Tetapi Dia datang untuk menjadi penyelamat yang penuh harapan bagi orang-orang yang telah terhilang.

Dia datang dalam sebuah tujuan, dalam sebuah gol, untuk menderita dan mati. Salah satu bahasaNya adalah altar, korban dan darah penebusan.

Anugerah yang menghapus dosa-dosa kita, telah menghadirkan kita tanpa salah di hadapan kemuliaan hakim yang agung dari seluruh dunia. Tuhan kita telah turun dari sorga, sebagai roti sorga. Tuhan kita telah turun dari sorga dan menempatkan natur kita ke dalam diriNya, untuk tinggal di dalam kehidupan kita, untuk menanggung semua beban kita, untuk berbagi dalam seluruh kesusahan dan penderitaan kita. 

Di dalam semua penderitaan kita, Dia telah turut menderita. Apakah kita menderita dalam doa? Demikian juga dengan Dia. Apakah Dia sungguh-sungguh memohon di hadapan wajah Bapa? Ya, Dia melakukannya. Apakah Dia telah  dicemooh dan dicaci maki? Apakah Dia telah menangis? Di dalam semua cara, Dia telah mengalami apa yang kita derita di dalam hidup kita.  

“Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya dan oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh.” Ini adalah inti dari injil. Allah tidak meminta bayaran dua kali atas sebuah hutang. Dia telah membayar hutang itu. Dia menderita untuk menggantikan kita.

Salah satu hukum yang paling indah di dalam seluruh undang-undang Perjanjian Lama adalah; orang yang berdosa membawa sebuah koraban ke atas altar dan meletakkan tangannya di atas kepala korban itu. Dia mengidentifikasikan korban itu sebagai dirinya. Dan ketika korban itu disembelih dan darahnya dicurahkan, itu adalah penderitaannya, itu adalah korbannya dan darahnya serta kehidupannya. Mereka digambarakan sama.

Demikianlah Tuhan kita yang turun dari sorga, mengambil natur kita, tinggal di dalam kehidupan kita, menangis dengan air mata kita, menanggung semua kesalahan kita. Dia mati untuk kita. Roti dari sorga: Kita didorong untuk memakan dagingNya dan untuk meminum darahNya.  

Saya telah menghitung dari perikop kecil ini, dari ayat 50 sampai 58, tujuh kali kita diperintahkan untuk memakan roti yang berasal dari sorga ini. Makan. Makanlah—“jika kamu tidak memakannya, maka kamu tidak memiliki hidup di dalam diri kamu.” Makanlah—“Barangsiapa makan dagingKu, ia hidup olehKu. Ia yang memakan roti ini akan hidup selama-lamanya.” Kita didorong untuk memakannya, untuk mengambil bagian di dalam roti yang telah dikirim Allah dari sorga sehingga kita memiliki hidup yang kekal.

Itu adalah sebuah hal yang aneh: di dalam natur manusia. Yang ada di dalam diri  kita, ada sebuah jiwa yang lapar akan Allah yang bersifat abadi, yang tidak dapat disangkal, yang selalu hadir di dalam eksistensi manusia. Adalah benar bahwa kita telah terpuruk dan telah jatuh. Tetapi ada di dalam bejana dunia ini sebuah harta dari sorga. Kita masih tetap dijadikan dari rupa Allah yang Mahakuasa. Dan sama seperti sekam babi dan sampah dari kandang anjing, semuanya tidak akan memuaskan jiwa kita.

Tidak peduli dari mana seseorang itu berasal dan betapa dalamnya dia telah jatuh, di dalam dirinya masih rasa lapar terhadap kekekalan, terhadap Allah, terhadap kehidupan, terhadap sorga. Dan jawaban untuk manusia yang telah dibuat dalam rupa Allah itu, Allah telah menyediakan sebuah hal yang mulia.

Di padang gurun ada manna yang berasal dari sorga, yang dibakar dalam oven kemuliaan. Manna yang barus setiap hari: dan rasanya seperti biscuit yang dilapisi madu. Dan hal itu sangat banyak dan berlimpah-limpah yang cukup untuk kita semua.

Makan. Makanlah. Itu yang difirmankan Allah di dalam Mazmur, “Kecaplah dan lihatlah bahwa Tuhan itu baik.” Yang disebut sebagai makanan malaikat, tidak akan ada yang menjadi lapar dan yang tidak terpuaskan. Sangat berlimpah-limpah dan tersedia bagi kita semua. Dan bagi jiwa yang lapar, pekerjaan yang kita lakukan hanyalah untuk memakannya, untuk berbagi di dalamnya.

Apa yang kita makan? Di dalam apakah jiwa kita harus dimeditasikan, direnungkan dan diberi makan? Kita harus diberi makan oleh doktrinNya yang paling utama? Ya, dari keindahan hidupNya sebagai manusia?

Pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa yang telah Dia lakukan? Ya. Perintah dan prinsipNya? Ya.

Tetapi yang paling utama berdasarkan atas diriNya sendiri.

Kita harus diberi makanan atas diri Kristus itu sendiri. ‘Ini adalah hal yang luar biasa, kehadiran Tuhan di dalam hati kita, di dalam kehidupan kita, di dalam keheningan malam, atau di dalam hari-hari pengembaraan kita. Kita mendapat makanan kita yang berasal sari diri Tuhan itu sendiri, di dalam kehadiranNya.

Salah satu hal yang paling menyolok, seperti yang saya baca dalam Matius pasal tujuh belas, tentang Transfigurasi dari Tuhan kita di atas gunung: wajahNya bercahaya seperti matahari dan Musa berada di sisinya serta Elia berada di sisi yang lain dan sedang berbicara dengan Dia, dan kemudian ada suara yang berasal dari Allah Bapa dari sorga yang berkata, “Inilah AnakKu yang Kukasihi.” Di dalam peristiwa yang mengagumkan itu, Petrus, Yakobus dan Yohanes tersungkur di hadapan kemuliaan Yang Mahatinggi. Dan Tuhan datang kepada mereka dan menyentuh mereka. Dan ketika mereka mengangkat wajah mereka, mereka tidak melihat siapa pun kecuali Yesus sendiri—hanya Dia, yaitu Yesus Tuhan.

Seperti yang disampaikan oleh Paulus di dalam Filipi, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus, sehingga aku dapat mengenal Dia.” Diberi makan atas Tuhan itu sendiri: Dia akan menjadi seorang rekan, seorang yang ikut di dalam pengembaran kita, seorang yang memiliki rasa simpati terhadap penderitaan kita, seorang sahabat bagi kita—yaitu Yesus itu sendiri.

Suatu kali saya mendengar tentang seorang kudus yang sudah tua yang sedang sekarat. Dan seorang pendeta yang baru—seorang pengkhotbah muda—berada di sampingnya, berusaha untuk menyenangkan pengembara itu. Dan di dalam pembicaraannya, pendeta muda itu mengutip 2 Timotius 1: 12 yang berbunyi seperti ini:

Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

Dan orang tua kudus itu menyentuh tangannya, meletakkan tangannya di atas lengan pendeta muda itu, “Pendeta muda—pendeta muda katakanlah sebagaimana hal itu terdapat dalam firman Allah. ‘Aku tahu siapa yang aku percayai.’ Pendeta muda saya tidak menginginkan sebuah preposisi kecil antara saya dengan juruselamat saya. Bukan ‘aku tahu kepada siapa aku percaya,’ tetapi ‘aku tahu siapa yang aku percayai’—yaitu Yesus, hanya Dia saja.”

“Dan mereka tidak melihat siapa pun selain Yesus saya”—saya ingin diberi makan atas Dia, memiliki persekutuan yang sangat intim dengan Dia. ‘Ini adalah hal yang luar biasa. Dia membawa Allah kepada kita dan kita kepada Allah. Bagi yang redup, Dia adalah sebuah dorongan. Bagi yang Cemar, Dia adalah kemurnian. Bagi yang lekas marah, Dia adalah kesabaran. Bagi yang tidak berpengetahuan dan tidak berpendidikan, Dia adalah kebijaksanaan. Bagi yang mati, Dia adalah kehidupan. Diberi makan atas Tuhan kita sendiri. Tidak berdasarkan atas sebuah fantasi atau atas sebuah bayangan atau atas sebuah mimpi atau atas sebuah simbol, tetapi atas hidup dari Manusia Allah, yaitu Yesus sendiri.  

Ada dua ordinansi yang luar biasa yang terdapat di dalam Kitab suci ini—salah satunya ada di Perjanjian lama dan yang satunya lagi ada di dalam Perjanjian Baru. Dan keduanya merupakan gambaran dari bentuk yang hidup di dalam kehidupan Tuhan kita dan persekutuan kita dengan Dia.

Yang terdapat di Perjanjian Lama adalah Paskah. Dan Paskah secara fundamental adalah anak domba yang dipanggang—disembelih dan dibakar di atas api. Dan perintah dari Tuhan kita adalah supaya semuanya harus dimakan—semuanya. Tidak ada bagian yang boleh tersisa; semuanya harus dimakan. Dan jika keluarga itu terlalu kecil untuk memakan daging anak domba yang dipanggang itu, tetangga-tetangga harus diundang dan mereka harus bergabung di dalam perayaan itu bersama-sama.

Di dalam 1 Korintus pasal 5 Paulus berkata, “Yesus, Anak Domba Paskah, telah dikorbankan bagi kita.” Seluruh keluarga harus berkumpul di sekitar korban kita, Tuhan yang  telah menebus kita.” Dan kita semua harus berbagi di dalam kasih dan anugerahNya. Kita semua harus berbagi bersama di dalam perayaan itu, yang paling muda, hingga yang tertua. Dan dengan memakannya kita akan memperoleh kekuatan di dalam jalan kita. Kita semua, tidak hanya memandang, tidak hanya mengamati, bahkan tidak hanya mendiskusikannya dan berfilosofi, tetapi memakannya, mengambil bagian—itu adalah sesuatu yang esensial bagi hidup kita, yaitu bahwa kita memakannya dan berbagi di dalam perayaan itu.

Dapatkah saya membuat sampingan di sini? Hal sangat mengherankan saya, adalah begitu banyak, bahkan sangat banyak, orang yang berada di sekolah-sekolah, di komunitas akademik, di dalam kelompok-kelompok yang berbeda, akan berdiskusi dan berfilosofi tentang Tuhan dan tentang iman Kristen akan tetapi tidak pernah mengambil bagian di dalamnya, tidak pernah menemukannya di dalam Yesus, sebuah persahabatan yang dekat dan berharga dan seorang rekan yang menemaninya di dalam jalan pengembaraan ini. Makan. Makanlah. Allah mengundang anda untuk memakannya.

Ordinansi yang lain terdapat di dalam Perjanjian Baru. Yaitu ordinansi dari Perjamuan Tuhan. Tuhan kita berkata di sini, di dalam ayat 63, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Ketika Dia berkata, “Makanlah roti dari sorga. Makanlah dagingKu. Minumlah darahKu,” Tuhan berkata bahwa perkataan-perkataan itu adalah roh dan hidup. Mereka ditransfer dari makanan yang nyata, roti yang nyata, minuman yang nyata dari anggur. Mereka ditransfer kedalam hubungan jiwa kepada Kristus.

Roti yang kita pecahkan, bukankah itu berhubungan erat dengan tubuh Kristus?

Cawan yang kita minum, bukankah itu berhubungan erat dengan darah Kristus?

Seperti yang disampaikan Paulus di dalam Efesus, “Kita adalah anggota dari tubuh Kristus,” dari dagingNya, dan dari tulangNya. Kita adalah anggota yang nyata dari tubuh Tuhan kita. Dia di dalam kita dan kita di dalam Dia. Kita terikat bersama. Kita adalah satu.

Itu adalah sebuah hal yang indah bahwa Allah telah membuka pintu bagi kita, sehingga kita berada dalam sebuah hubungan yang erat bersama dengan Allah. Dan Allah sangat dekat, sedekat nafas anda, dan sedekat kaki kita. Kita diidentifikasikan dengan Dia dan Dia diidentifikasikan bersama dengan kita. Allah melihat melalui mata kita. Dia mendengar melalui telinga kita. Dia berbicara dengan lidah kita. Dia mengasihi dengan hati kita. Dia bekerja dengan tangan kita. Dia berjalan dengan kaki kita. Dan Dia bersaksi dengan kesaksian kita. Tuhan ada di dalam kita. Dan kita berada di dalam Dia—anggota-anggota dari tubuhNya dan dari daging serta tulangNya. 

Sebuah pengamatan terakhir dari teks ini adalah Allah secara berulang-ulang kali berkata kepada kita bahwa kita harus memakan dan meminumNya sehingga kita memiliki hidup yang kekal. Hidup Allah ada di dalam kita. Dan Allah adalah kekal. Dan jika kita berada di dalam Dia, kita juga bersifat kekal. Kita akan melewati hidup ini dan masuk ke dalam sorga, serta hidup sampai selama-lamanya. Kita tidak akan pernah mati.

Dia berkata bahwa kita akan memiliki hidup yang kekal. Dan ketika kita telah sampai dan berada di ujung akhir hidup kita, itu hanya meninggalkan keberadaan duniawi ini dan masuk ke dalam dunia yang lebih indah yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang mengasihi Dia.

Lihatlah ke dalam hal ini. Dengarkanlah. Ada sebuah ketetapan dan predestinasi yang pokok di dalam kehidupan setiap anak-anak Allah, yaitu, sebuah wujud yang kekal dan kehidupan yang kekal.

Biarkan saya menyampaikannya dalam sebuah cara yang berlawanan. Bukanlah tujuan Allah di dalam Kristus bahwa jiwa kita akan mengembara, bahwa kita akan menjadi hantu-hantu yang bahagia, bahwa kita tidak memiliki wujud. Saya telah seringkali menyampaikannya, di dalam cara sama bahwa natur tidak menyukai kekosongan, demikian juga dengan iman Kristen yang tidak menyukai sesuatu yang tidak berwujud. Semua agama-agama kuno percaya tentang jiwa yang kekal. Sedangkan iman kita adalah sebuah iman yang baru, doktrin yang baru dan penyingkapan yang baru, bahwa di dalam Kristus juga ada sebuah tubuh yang kekal; tubuh juga akan dibangkitkan dan memiliki kekekalan yang mulia yang akan diubah, bahwa di sana ada kepemilikan tubuh yang kekal, yang kita peroleh di dalam penebusan Tuhan kita.

Dia mati tidak hanya supaya jiwa kita dapat dimurnikan, tetapi Dia juga mati agar tubuh kita dapat dibangkitkan. Dan di dalam iman Kristen, selalu ada janji tentang tubuh yang baru, yang lebih baik, yang telah diubah dan bersifat kekal. Kita akan menjadi sebuah pribadi yang utuh, saya katakan, bukan sebagai sebuah jiwa yang mengembara atau sebuah hantu yang bahagia. Kita akan menjadi manusia yang utuh. Allah membuat kita dalam cara ini: sebuah roh di dalam sebuah tubuh.

Dan di dalam tujuan yang paling pokok dari Tuhan kita, kita akan diubah, tidak hanya jiwa kita, tetapi juga di dalam rupa manusia kita. Kita akan menjadi manusia yang utuh. Dan saya akan menjadi sebagaimana adanya saya. Dan kita akan menjadi sebagaimana adanya kita. Seperti Tuhan kita yang telah hidup, kebangkitanNya yang mulia, kita juga akan hidup bersama dengan Dia. Mereka bahkan mengenali Dia dengan bekas luka yang ada di tanganNya dan lambungNya yang tertikam oleh tombak.

Sifat bawaan pribadi yang kecil itu yang menjadikan anda, akan tetap ada di dalam tubuh kebangkitan anda. Anda akan masih tetap menjadi anda. Saya seringkali melihat hal itu di dalam hidup yang telah dibangkitkan dari Tuhan kita. Ketika Petrus dan Yohanes berlari ke kuburan, dan Yohanes berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga ia lebih dahulu sampai di kubur, akan tetapi ia ragu-ragu masuk ke dalam, dan akhirnya Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu, dan akhirnya ia mengikuti sabhabatnya yang lebih tua itu masuk ke dalam kuburan. Dan apakah anda mengingat apa yang dia katakan—ketika Yohanes melihat kain kapan peluh yang terlipat dalam sebuah tempat yang tersendiri? Dia percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Apa yang menjadi maksud dari hal itu adalah sesederhana ini: Yesus memiliki sedikit cara yang istimewa dalam melipat kain peluh. Dia melakukannya dalam cara yang tertentu. Dan ketika Yohanes, melihat kain peluh yang terlipat itu, lipatan itu adalah cara yang istimewa dari Yesus dalam melipat sebuah kain peluh, dia percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian, bahwa Dia telah hidup.

Di dalam kisah yang sama, apakah anda mengingat pada saat Tuhan berada di taman dimana Dia sedang berdiri? Maria Magdalena berpikir bahwa Dia adalah penunggu taman dan bertanya dimanakah tubuhNya telah diletakkan. Dan Yesus memanggil namanya, “Maria.” Dia memiliki sebuah cara yang berbeda dalam mengucapkan namanya.

Dan dia berpaling serta berkata, “Tuhanku.” Keistimewaan kecil—pribadi yang ada di dalam diri Yesus.

Atau dalam contoh yang lainnya ketika dua orang muridNya berjalan ke Emaus. Seorang asing datang berjalan di sebelah mereka. Dan Dia menerangkan kepada mereka tentang Kitab Suci. Dan hati mereka berkobar-kobar saat mereka mendengarkan orang asing ini.

Dan ketika mereka tiba di rumah, mereka duduk bersama untuk makan malam. Dan Dia diminta untuk mengucap berkat. Dan, mereka mengenal Dia dalam caraNya mengucapkan berkat. Yesus memiliki cara yang istimewa dalam mengucap syukur sebelum Dia makan. Dan mereka mengenal Dia dalam cara bagaimana Dia mengucapkan berkat.

Kita juga akan diubah dalam cara yang sama. Ada sedikit karakteristik tertentu yang membuat anda dan saya. Dan ketika kita dibangkitkanm, ketika kita ditransfigurasikan dan diubahkan, kita akan tetap miliki karakteristik itu.

Itu adalah apa yang Allah sampaikan. Bolehkah saya membacakannya kepada anda dalam bagian yang singkat? Empat kali disebutkan tentang hal itu dan lihatlah ke dalam kesimpulan  ayat itu. Di dalam ayat 39, inilah kehendak Bapa: “Supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.

Lihat kedalam ayat yang selanjutnya: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Sekarang kesimpulannya: “Dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Lihat kembali dalam ayat 44:  “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.”  

Lihat kembali di dalam ayat 54: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.

Inti yang paling utama dari pesan Kristus adalah hal ini: bahwa Dia tidak hanya menebus jiwa dan roh kita, tetapi Dia juga akan menebus tubuh ini. Dan kita akan dibangkitkan dalam keserupaan dengan tubuh yang mulia dari kebangkitanNya.

Mayat yang mati tidak membutuhkan roti. Dan, bangkai yang mati tidak membutuhkan Kristus. Tetapi saya iya, karena saya hidup di dalam Dia: Roti untuk dimakan. Dan itu adalah Tuhan saya dan Kristus yang untuk saya kasihi. Itulah Juruselamat saya. Ini adalah roti yang datang dari sorga, sehingga setiap orang yang memakannya akan hidup selamanya; persekutuan, ikatan persahabatan yang kita miliki bersama dengan Dia di dalam pengembaraan kita di bumi ini.

Bolehkah kita berdoa?

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.