Daftar isi

MENUNGGU AIR YANG BERGONCANG

(WAITING FOR THE MOVING OF THE WATER)

 

Dr. W. A. Criswell

 

05-17-87

 

Yohanes 5:8-9

 

Ini adalah Gereja  First Baptist di Dallas.  Dan ini adalah Pendeta yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Menunggu Air Yang Bergoncang.

Ini adalah sebuah khotbah yang didasarkan atas kisah mujizat yang terdapat di dalam Kitab Yohanes pasal 5. Dan saya  memiliki tiga hal untuk disampaikan tentang hal itu, yang seakan-akan ntidak berhubungan akan tetapi penekanannya ada di dalam jantung dari pasal itu. 

Hal itu dimulai dari sebuah kata yang berhubungan dengan Kolam Betesda, di dalam kota Yerusalem. Dan itu adalah alasan mengapa kolam itu ada di sana, di sebuah wilayah yang kering, tempat yang tinggi dan berada di padang gurun. Untuk memiliki sebuah sumber air di dalam bukit yang tinggi merupakan sebuah mujizat dari Allah. Dan di sekitar kolam itu, di sekitar air itu, kota Yerusalem tumbuh berkembang.

Apa yang anda temukan dalam fenomena yang ada di Tanah suci, anda juga akan menemukannya di seluruh dunia. Ketika di suatu tempat terdapat sebuah sumber air yang berlimpah, maka di sana anda akan melihat orang-orang berkumpul disekitarnya, apalagi jika tempat itu adalah sumber air panas.

Sebagai contoh, di dalam Imperium roma, Romawi kuno membangun sebuah kota yang luar biasa indahnya di Bath, Inggris. Di sana ada sebuah sumber air. Dan orang Roma membangun barisan tiang yang memiliki atap dan sebuah kota di tempat orang-orang banyak yang berkumpul disekeliling sumber air yang berlimpah itu.

Anda akan menemukan hal yang seperti itu di seluruh dunia—Di Colorado, Pagosa Springs, dan di Arkansas, Hot Springs. Dan seringkali di mana anda menemukan orang-orang berkumpul, anda juga akan menemukan hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan duniawi. Dan salah satunya adalah lomba pacuan kuda. 

Ketika saya sedang membaca dan mempersiapkan khotbah ini, saya menemukan sebuah perikop yang mengesankan: “Di sekitar tempat kita yang berair adalah bisnis pacuan kuda. Pacuan kuda pada zaman kuno merupakan larangan bagi orang-orang Kristen. 

“Pada hari ini, ada jiplakan yang sama, taruhan, kemabukan, kelakuan yang aneh dan kebencian yang sama yang kita temukan dalam lomba pacuan kuda. Hal itu tidak berubah, apa yang terjadi kemarin, terjadi juga pada hari ini, dan akan berlanjut pada hari esok.

“Hari yang besar di tempat-tempat yang berair itu adalah pada hari perlombaan. Hotel-hotel dipenuhi oleh banyak orang. Setiap jenis  perlengkapan dijual dengan sebuah harga yang tinggi. Dan disitu ada orang-orang yang berminat dengan permainan dan judi dan tidak menghargai wanita dan pria yang bermulut penuh serta wanita yang merangsang

            “Sang bartender mengocok brandy. Taruhan yang tinggi dibuat. Orang yang tidak berpengalaman berharap hal itu dilakukan dengan adil, mereka meletakkan uang mereka dan segera sesudahnya mereka kalah.

Saudara, lihatlah pacuan itu, hanya ada dua kuda yang berlomba di arena. Bahu membahu mereka berpacu dalam perlombaan itu—kuda putih dan kuda hitam.

“Kematian berkata, ‘Aku akan bertaruh atas kuda hitam.”  

             “Penonton berkata, ‘Aku akan bertaruh atas kuda putih.”

            “Kuda putih sedikit memimpin di depan, dan kuda hitam—berpacu dengan waktu—berusaha mendahului. Para penonton, menahan nafas pada garis final.

“Dan Di sana berdiri, seperti yang saya harapkan. Kuda hitam memenangkan pertandingan dan Iblis datang  untuk mengambil upahnya.

             “Thomas Hughes, anggota Parlemen, penulis yang dikenal di seluruh dunia, yang sedang mendengarkan  sebuah pertunjukan baru  yang telah di mulai di Negara ini, yaitu di Texas, menulis sebuah surat, dimana dia berkata, ‘Sorga menolongmu! Untuk semua kanker dari peradaban kita, tidak ada sesuatu di dalam Negara ini yang datang dalam rasa malu yang tidak berarti, di dalam kesia-siaan, terhadap pertunjukan dari Inggris ini.’

             “Seorang negarawan terkenal lainnya menulis, “Berapa banyak bidang yang baik yang telah hancur oleh tuan rumah yang tamak ini? Dan banyak bidang yang telah jatuh dalam jurang yang sama?

“Dengan adu banteng yang terdapat di Spanyol dan menyiksa beruang di dalam lubang, semoga Tuhan menghapuskan balapan kuda yang terdapat di Inggris dan Amerika!”

Apa yang anda pikirkan tentang hal itu? Itu adalah hal yang sedang kita hadapi di Negara kita pada hari ini.

Dan seperti yang telah disampaikan semoga sorga menolong kita! Itu adalah yang pertama: Tempat yang berair.

Nomor dua—hal yang paling mengherankan dan yang paling asing dari semua pertanyaan yang pernah ditanyakan kepada orang yang lumpuh itu—Tuhan kita menemukan pria itu di sini, di kolam Betesda, sedang menunggu air yang bergoncang. Dan Tuhan bertanya kepadanya, “Maukah engkau berubah? Maukah engkau sembuh?”

Mengapa, Tuhan, dia telah berada di sana selama 38 tahun! Hatinya dipenuhi dengan penantian dan harapan. Dia tidak memiliki kemampuan. Dia lumpuh. Dia tidak dapat bergerak. Dan Engkau bertanya kepada dia, “Maukah engkau sembuh? Maukah engkau berubah?”

Tentu saja, pria itu ingin sembuh. Tentu saja pria itu ingin berubah. Dia telah berada di sana selama bertahun-tahun dengan pengharapan dan doa serta menunggu kesembuhan yang ajaib akan datang kepadanya. 

Tetapi ada yang lebih di dalam pertanyaan itu dari pada sekedar apa yang mungkin diharapkan pertama kali. Ada sesuatu yang lebih di balik pertanyaan itu. Anda lihat, itu adalah sebuah pertanyaan yang menyangkut sebuah jawaban dan sebuah konsekuensi beserta dengan sebuah hasil.

Dan saya dapat menggambarkannya dengan lebih baik jika saya mengubahnya dari gambaran penyembuhan fisik kita kepada penyelamatan dan kesembuhan jiwa kita.

Jika saya bertanya, “Apakah anda mau pergi ke neraka?”

“Tidak tuan. Saya tidak ingin pergi ke neraka.”

“Apakah anda mau pergi ke sorga?”

“Ya, tuan. Saya ingin pergi ke sorga.”

Tetapi, ada dampak dan konsekuensi dari pertanyaan yang paling mendasar itu: “Maukah anda disembuhkan? Maukah anda diselamatkan? Maukah anda diubahkan? Maukah anda menjadi sempurna?”

Bolehkan saya membuatnya dengan lebih sempurna? Misalkan di sini ada seorang pria yang  meringkuk di dalam penjara. Dan saya bertanya kepadanya, “Maukah anda hukuman anda diperingan? Maukah anda dibebaskan dari sel ini?”

Dan dia berkata, “Oh, ya. Tentu saja saya mau.”

Kemudian saya bertanya kepadanya, “Maukah anda berubah? Maukah anda disembuhkan? Maukah anda menjadi manusia baru di dalam hati anda—jujur dan lurus dan tinggal dalam kesalehan?”

“Oh.”

Atau sebuah contoh lain, misalkan ada seorang pencuri. Dan saya bertanya kepadanya, “Maukah anda dibebasakan dari hukuman anda?”

Dan dia berkata, “Tentu saja. Tentu saja.”

            “Tetapi,” saya bertanya kepadanya, “Maukah anda berubah? Maukah anda menjadi baik? Maukah anda menjadi orang yang jujur dan lurus dan seorang yang melayani Allah dan seorang yang takut Allah?”

“Oh.”

Misalkan ada seorang pembunuh. Dan saya bertanya kepadanya, “Maukah anda dibebaskan dari kursi listrik? 

Dan dia berkata, “Dengan sepenuh hati.”

Kemudian saya bertanya, “Maukah anda berubah? Maukah anda sembuh? Maukah anda menghormati Kristus, melayani Allah, jujur dan saleh? Maukah anda?” “Oh.”

Hal itu sama seperti orang Farisi dan orang berdosa, ketika mereka berdoa bersama. Dan orang Farisi berkata dalam kebanggaannya, “Terimakasih Allah. Aku tidak sama dengan orang lain. Terimakasih Allah, aku tidak sama dengan orang pendosa itu, orang berdosa yang putus asa itu berseru, ‘Allah, bermurah hatilah untukku yang ada di bawah sini.”’

Dan saya bertanya kepada orang Farisi, Maukah engkau bertukar tempat dengannya? Maukah engkau bertukar tempat dan meminta kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosamu dan membuat engkau menjadi baik dan sempurna?”

Dan dia berkata, “Saya akan merasa terhina kalau harus berlutut di hadapan Allah dan mengakui diri saya sebagai seorang pendosa.” Sebab dia berpikir bahwa dia sempurna dan sudah menjadi orang yang baik.

Pertanyaan yang paling mendasa adalah selalu seperti ini: Maukah anda menjadi orang kudus? Maukah anda menjadi orang yang melayani Allah? Maukah anda mengikuti Kristus? Maukah anda menjadi warga sorga yang terhormat?

Dan jawabannya adalah, “Saya tidak ingin pergi ke neraka. Saya ingin pergi ke sorga. Tetapi saya tidak ingin pergi ke sana jika syaratnya adalah saya harus menjadi orang kudus dan orang saleh. Saya ingin tinggal dan hidup di dalam dunia ini. Saya ingin bergabung dengan ketertarikan saya dengan orang-orang berdosa. Saya tidak mencari kebahagiaan dan sukacita sorga. Saya ingin menghidupi kehidupan ini. Saya ingin menjadi sebuah bagian dari dunia ini. Saya ingin menikmati keberadaan ini.”

Dengan kata lain, “Saya ingin sebuah hadiah dan tidak berlomba dalam perlombaan. Saya ingin mahkota, tetapi tidak ingin ada dalam konflik.” Dan hal itu dapat diperoleh tanpa usaha.

Jika saya pergi ke sorga, saya harus disembuhkan. Saya harus diubahkan. Saya harus lahir kembali. Saya harus memberikan hidup saya kepada Allah. Saya harus menjadi orang yang kudus dan saleh.

Itu adalah makna dari pertanyaan yang ditujukan kepada pria yang lumpuh selama 38 tahun: “Maukah engkau diubahkan?” Itu adalah sebuah konsekuensi—itu adalah sebuah hasil ketika anda memberikan hati anda kepada Allah yang telah membuat kita berubah dan kuat serta menjadi baik di dalam kehidupan kita.

Nomor tiga: Betesda adalah sebuah gambaran sebagai sebuah tempat di Yerusalem, dimana di tempat itu ada sebuah sumber air panas yang bergolak sewaktu-waktu—air akan keluar dari dalam tanah dan memancar keluar, akhirnya mengalir ke kolam Siloam.

Tempat itu masih ada hingga hari ini. Di kolam ini, tempat yang banyak air ini, ada lima serambi yang dibangun disekitarnya—dimana banyak orang menunggu airnya bergoncang—lima serambi yang dibangun di sekitar Betesda, setiap serambinya dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menunggu, menunggu dan menunggu air yang bergoncang—sama seperti masa Tuhan Yesus berada di Betesda. Jadi ada begitu banyak orang yang memenuhi kelima serambi itu yang sedang menunggu, menunggu dan menunggu, untuk disembuhkan, untuk diselamatkan, untuk disucikan,  sedang menunggu  apa yang Allah dapat lakukan bagi kita di dalam kelima serambi itu.

Serambi yang pertama: Di dalam serambi ini ada kumpulan orang banyak dan orang yang banyak ini sedang menunggu dan menunggu untuk saat yang tepat—suatu waktu, suatu hari, tetapi bukan sekarang. “Saya tidak ingin pergi ke neraka. Saya ingin pergi ke sorga. Tetapi saya sedang menunggu waktu yang tepat bagi kesembuhan saya dan yang mengubah saya.”

Begitu banyak orang muda yang memberikan respon terhadap injil dengan sikap yang seperti itu. Bagi mereka, agama adalah sesuatu yang membosankan, mandul dan tanpa kegembiraan. Dan mereka menginginkan waktu yang baik: “Dan setelah saya memiliki waktu yang baik dan sebuah waktu dunia, di akhir masa, pada sebuah masa yang tepat, saya mungkin menerima Tuhan sebagai Juruselamat saya, tetapi tidak sekarang—bukan saat ini, lain waktu saja.   

Seorang pengusaha akan berkata seperti itu “Saya tidak ingin membuang waktu untuk agama ini. Pikiran saya  sedang asyik dalam membangun kekayaan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kekuasaan, pengaruh dan kesuksesan. Saya tidak memiliki waktu untuk Allah dan untuk agama. Saya tidak ingin pergi ke neraka. Saya ingin pergi ke sorga tetapi pada saat yang tepat. Saya mungkin minum sup dan makan malam dengan iblis sekarang. Tetapi di akhir hidup, saya ingin duduk bersama dengan orang-orang kudus. Saya tidak ingin pergi ke neraka. Saya ingin pergi ke sorga, tetapi dalam sebuah waktu yang tepat—mungkin di ujung akhir jalan saya.”

Berapa banyak orang yang akan berkata, “Anda tahu, saya sedang menunggu seorang penginjil yang hebat untuk sebuah kebangunan rohani yang besar di sini dan kita berada dalam sebuah kebangunan rohani yang besar, saya mungkin datang menelusuri lorong itu untuk disembuhkan dan menjadi sembuh. Tetapi saya sedang menunggu waktu yang tepat dan waktu yang menarik bagi saya.”

Betapa merupakan sebuah tragedi! Yesus sekarang berada di sini. Dia selalu dekat. Hanya orang yang melangkah di dalam air yang bergoncang itu dapat diselamatkan. Yesus menyelamatkan di mana-mana, setiap waktu, setiap hari—bahkan pada saat ini.

Dan tidak pernah ada di dalam Alkitab disebutkan bahwa Allah pernah berkata “Tunggulah pada suatu hari atau suatu masa.” Allah selalu berkata hari ini. “Jika engkau mendengar suaraNya, jangan keraskan hatimu.” Allah selalu berkata, “Ini adalah waktu penerimaan.Ini adalah hari penyelamatan.” Ini adalah waktu kesembuhan. Ini adalah saat untuk diselamatkan. Ini adalah saat untuk datang kepada Kristus. Saat ini.

 

O Allah, semoga kami dapat membalas

Aku segera memutuskan untuk tidak berlambat-lambat

Diperdayakan oleh kesenangan dunia

Hal-hal  yang lebih tinggi

Hal-hal yang lebih mulia

Telah  memikat pandanganku.

            “Saya akan  segera datang kepada Yesus. Menunggu sebuah waktu yang tepat—penantian itu telah berakhir pada hari ini. Saya datang sekarang. Saya ingin diselamatkan sekarang. Saya ingin disembuhkan. Saya ingin mengenal Allah di dalam hati dan hidup saya. Saya menginginkan Dia sekarang.”

Serambi yang kedua—serambi yang kedua: Orang banyak berada di sana untuk menunggu sebuah tanda atau sebuah keajaiban—berapa banyak orang yang melakukan hal itu? “Saya sedang menunggu sebuah mujizat dari sorga.” Mereka telah mendengar tentang seseorang yang mendengar sebuah suara dari sorga atau melihat sebuah penampakan seorang malaikat atau diperkenalkan di dalam sebuah bayangan mujizat dan mimpi. “Dan saya ingin memiliki sebuah pengalaman seperti itu—seorang malaikat berbicara kepada saya atau sebuah suara dari sorga ditujukan kepada saya, atau beberapa intervensi yang menakjubkan yang akan membuat saya beriman kepada Allah.”

Betapa merupakan sebuah respon yang aneh dan tidak biasa yang ditujukan kepada Tuhan! Untuk percaya di dalam Allah saja tidak cukup, tetapi percaya kepada sebuah suara dari sorga; meragukan Firman Allah, tetapi menerima bayangan dari seorang malaikat. Betapa merupakan sebuah respon yang tidak dapat dipahami terhadap anugerah dan keberadaan dan kemuliaan dari pernyataan Allah di dalam Kristus Yesus!

Anda tahu? Salah satu bagian yang paling menakjubkan dari seluruh perikop yang ada di dalam Alkitab terdapat dalam dua Petrus pasal yang pertama—dimana rasul itu menggambarkan suatu peristiwa yang luar biasa yang pernah terjadi dalam jiwa manusia yang pernah dilihat atau dirasakan. Dia berada di puncak Gunung Transfigurasi.

Dan, ketika dia, Yakobus, dan Yohanes berada di sana, yaitu mereka bertiga, Tuhan sendiri tiba-tiba mengalami transfigurasi. WajahNya bercayaha seperti sinar matahari. PakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang.

Dan ketika mereka melihat kepada Transfigurasi Tuhan, Elia, Musa, orang-orang kudus Perjanjian Lama sedang berbicara dengan Tuhan. Dan ketika mereka sedang berpikir, mereka mendengar suara Allah dari sorga yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.”

Sekarang, itulah gambaran yang akan anda baca di dalam 2 Petrus pasal satu. Dan apakah anda mengingat ayat yang berikutnya? Setelah dia menjelaskan tentang transfigurasi yang menakjubkan itu dan kemuliaan yang mereka lihat saat mendengarkan pembicaran Musa dan Elia bahkan suara dari Allah sendiri—setelah dia menjelaskan hal itu, apakah anda mengingat ayat yang berikutnya?” “Tetapi kita memiliki keyakinan yang lebih di dalam kata-kata nubuatan”—Kitab Allah—“Dibalik kemuliaan dari transfigurasi itu dan suara dari Musa, Elia dan konfirmasi dari Allah sendiri.”

Lebih yakin tentang firman keilahian Kristus dan kemampuan serta penyelamatan dari Yesus Kristus yang ditemukan di dalam Kitab Suci. Itu adalah sebuah hal yang menakjubkan, hal yang mengherankan.

Serambi yang ketiga. Di serambi yang ketiga, orang-orang yang berkumpul di sana adalah orang-orang yang sedang menunggu sesuatu yang lebih dari pada sekedar kesaksian Injil tentang Yesus Kristus—sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih, sesuatu yang dibaliknya.

Sebagai contoh, ada begitu banyak orang yang meletakkan Alkitab di satu sisi tetapi memiliki Kitab Mormon di sisi yang lainnya. Alkitab saja tidak cukup: Saya harus memiliki Kitab Morman disini.”

Atau banyak orang yang meletakkan Alkitab di satu sisi: “Dan di sebelah sini Saya harus memiliki Kitab Mary Baker Eddy yang berisi tentang kitab suci, ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kesembuhan. Alkitab saja tidak cukup. Saya harus memiliki volume yang lain. Saya harus memiliki kitab yang lain. Alkitab harus ditambahkan. Alkitab saja tidak cukup.”

Oh, Allah, mungkinkah seperti itu, di dalam semua kebijaksanaanMu yang luar biasa dan di dalam kebaikan serta anugerahMu, masih ada yang belum disingkapkan kepada kami tentang jalan kesembuhan, tentang jalan kesehatan dan jalan keselamatan di dalam Kitab suci ini—sebab mereka membutuhkan beberapa kitab lain—beberapa penambahan—sesuatu yang lain untuk ditambahkan? Mungkinkah itu? 

Apakah anda mengingat fenomena itu, sesuatu yang sukar dipercayai, percakapan yang luar biasa antara orang kaya yang berada di neraka dan Abraham yang berada di sorga? Orang kaya itu dari dalam nyala api berkata kepada Abraham, “Bapa Abraham, Aku memiliki lima saudara. Kirimlah Lazarus dari kematian, sehingga dia dapat pergi ke rumah ayahku, supaya ia memperingati mereka, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.”

Dan Bapa Abraham menjawab: “Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.”

Jawab orang itu: “Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.”

Kata Abraham kepadanya: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Ini adalah jalan kesehatan dan kesembuhan dan keselamatan. Dan tidak ada yang lain. Tidak ada yang perlu ditambahkan, hanya injil yang sederhana dari Yesus Tuhan kita.

Serambi keempat, dimana ada begitu banyak orang yang sedang menunggu. Orang banyak itu sedang menunggu sebuah perasaan. “Saya tidak merasa seperti itu, pendeta.” Menunggu sebuah perasaan—itu adalah sebuah hal yang luar biasa di dalam penantian itu sendiri.

Menunggu sebuah perasaan: “Ketika saya merasa suka itu, saya akan melakukannya.”

Dengan tangan di atas Alkitab, saya bersumpah kepada anda, di hadapan Allah—dan dengan tangan yang terangkat ke langit yang tinggi, saya bersumpah kepada anda di hadapan Allah, jika anda menelusuri lorong ini dan memberikan hati anda kepada tangan Allah yang menyembuhkan, dan anda buka jiwa anda terhadap kehendak Allah dan kehendak sorga dan anda percaya kepadaNya dengan sepenuh hati anda, saya bersumpah kepada anda, di hadapan Allah di sorga, anda akan memiliki sebuah perasaan. Anda tidak dapat melakukannya tanpa sebuah perasaan.

Dan ketika anda pulang dan memberitahukan keluarga anda, “Saya telah berdiri di hadapan umat Allah dan saya telah mengakukan iman saya dan memberikan hidup saya kepada Kristus,” anda akan mempunyai sebuah perasaan.

Dan ketika Senin pagi datang dan anda pergi ke kantor anda untuk bekerja, dan anda bersaksi kepada orang-orang yang bekerja bersama dengan anda, “Saya telah memberikan hati saya kepada Kristus. Saya telah diselamatkan. Saya telah disembuhkan,” maka anda akan memiliki sebuah perasaan.

Dan ketika anda berjalan bersama dengan Tuhan di dalam pengembaraan ini, setiap langkah dari jalan yang anda tapaki, anda akan memiliki sebuah perasaan. Anda tidak dapat menyingkirkan hal itu. Anda tidak dapat melarikan diri darinya. Itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang dibuat dalam gambar dan rupa Allah yang Mahakuasa.  

Akhirnya serambi yang kelima: Di dalam serambi ini, lagi, ada orang yang begitu banyak berkumpul di tempat itu yang sedang menunggu dan menunggu tarikan paksaan dari Roh Kudus: “Saya menunggu hingga paksaan itu datang, Allah mempercayakan saya masuk ke dalam kerajaan. Dan hingga saat itu datang bahwa Dia akan menarik saya dengan paksa dan mendorong saya masuk ke dalam kerajaan dan ke dalam sorga, saya akan masih tetap berjalan di dalam dunia ini.”

Tragedi yang paling besar dari semua tragedi adalah hal ini—tidak pernah ada kuasa yang memaksa yang pernah ditunjukkan oleh Roh Kudus—sama sekali tidak pernah. Selalu saja Roh Kudus Allah berseru, mengundang dan membujuk—tidak pernah ada sebuah pengecualian, selalu dengan permohonan, menyampaikan hal-hal tentang Yesus dan menggambarkannya kepada anda.

Dan keputusan akhir terletak di dalam kehendak anda selamanya. Tidak seorang pun yang pernah dipaksa untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Tidak seorang pun yang pernah dikendalikan untuk masuk ke dalam  gerbang sorga. Jika anda berada di sana, itu karena pilihan anda. Jika anda merespon, hal itu karena keinginan hati anda.

Selalu saja, peran dan tugas Roh Kudus salah satunya adalah memohon, mengundang dan membujuk. Dan betapa indahnya, betapa merupakan sebuah mujizat yang penuh berkat ketika seseorang mendengarkan suara Roh Kudus!

Dan Tuhan Allah berkata kepadanya, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

            “Tetapi Tuhan, Engkau tidak mengerti. Orang ini tidak bisa apa-apa dan lumpuh selama tiga puluh delapan tahun, dan Engkau berkata kepadanya, ‘Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.’ Bagaimana mungkin?”

Itu adalah bagian Allah, mujizat adalah milik Allah. Tuhan berkata, “Berdirilah.” Dan bagiannya adalah untuk berdiri.

Hal itu tepat seperti kisah yang terkenal di dalam Kitab Keluaran. Musa telah memimpin orang Israel keluar dari Mesir. Dan mereka berdiri di pantai Laut Merah. Dan di bagian lain, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda serta pasukannya mengejar mereka. Dan Musa berseru kepada Allah, “Tuhan Allah bagaimana kami dapat tetap hidup? Apa yang harus kami lakukan? Bagaimana kami dapat selamat?

Apakah anda mengingat ayat yang terkenal itu?

Dan Tuhan Allah berfirman kepada Musa, “Mengapa engkau berseru demikian kepadaKu? Perintahkan orang Israel untuk maju ke depan.”

Allah Mahabesar—memrintahkan mereka untuk maju ke dalam laut yang dalam sehingga mereka tenggelam?

            “Perintahkan anak-anak Israel untuk maju ke depan.”

Bagian mereka adalah untuk berbaris. Untuk bergerak. Untuk melangkah. Adalah bagian Allah untuk melakukan mujizat, untuk membuka air, untuk membelah laut, untuk menghindarkan dan menyelamatkan umatNya.

Ini adalah kasus yang sama, yang selalu terjadi kepada kita. Allah berkata, “Akukanlah—pengakuan yang terbuka—iman anda di dalam Tuhan Yesus.” Anda harus mengakuinya tanpa rasa malu, dan menetapkan hidup anda terhadap berkat yang datang dari Tuhan Yesus. Bagian saya adalah untuk berdiri. Bagian saya adalah untuk merespon. Bagian saya adalah datang ke depan.  Bagian saya adalah untuk percaya dan patuh. Dan bagian Allah adalah untuk melakukan mujizat. Itu adalah hak preogratif Allah.

Tuhan, jika aku sembuh, Engkau yang menyembuhkan aku. Jika aku selamat Engkau yang menyelamatkan aku. Jika aku bebas, Engkau yang membebaskan aku. Jika aku memiliki kekuatan di dalam pengembaraan ini, engkau yang memberikannya kepadaku. Dan ketika aku berdiri di gerbang kemuliaan, itu adalah karena Engkau yang akan membukakan gerbangnya.

Aku bergantung kepada mujizatMu. Itu adalah artinya disembuhkan. Itulah artinya diberikan pertolongan. Itulah artinya diselamatkan. Itulah artinya untuk memiliki pintu sorga yang terbuka di depan anda, untuk percaya kepada Allah terhadap hal itu, untuk percaya kepada Allah atas mujizatNya dan membiarkan tanganNya yang melakukannya.

Apakah anda berpikir bahwa Allah akan membiarkan kita? Apakah anda berpikir bahwa Allah akan mengingkari janjiNya? Apakah anda berpikir bahwa Allah akan melupakan firmanNya? Dan sebagaimana Allah hidup, Dia hidup di dalam KitabNya, di dalam firmanNya, di dalam pernyataanNya, di dalam janjiNya, di dalam undanganNya. 

Bagaimana saya tahu bahwa Ia akan memelihara saya hingga akhir? Percayakan hal itu kepada Allah. Bagaimana saya tahu bahwa saya akan berada di dalam anugerahNya dan di dalam kasihNya pada saat kematian saya? Percayakan hal itu kepada Allah. Bagaimana saya tahu bahwa saya akan berada diantara para orang kudus masuk ke dalam kemuliaan? Percayakan hal itu kepada Allah. Itu adalah tugasNya. Itu adalah preogratifNya—mujizat. Bagian saya adalah untuk percaya, untuk berkomitmen dan untuk berdiri serta taat kepadaNya.

Dan itu adalah seruan Allah bagi hati anda pada pagi hari ini: “Pendeta, hari ini, saya percaya kepada Allah atas mujizatNya. Dan di sini saya datang”—mungkin untuk membawa seluruh keluarga anda ke dalam lingkaran persekutuan yang manis dari jemaat ini—“Kami datang—kami semua. Ini adalah hari Allah bagi kami.” Atau percaya kepada Allah bahwa Dia akan melihat anda dalam panggilan yang telah Dia buat di dalam hati anda”: Katakanlah, “Saya menjawabnya dengan hidup saya.” Buatlah keputusan itu sekarang. Lakukanlah sekarang.

Dan dalam sebuah kesempatan, ketika kita berdiri untuk menyanyikan lagu permohonan, dalam baris yang pertama katakan: “Pendeta, Ini saya datang. Di sini saya berdiri. Allah menolong saya dan melakukannya bagi saya, hal-hal yang indah ini dan yang luar biasa ini, yaitu kesehatan, kesembuhan dan keselamatan.” 

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.