MENGIKUT YESUS SAMPAI MATI

(FOLLOWING JESUS UNTO DEATH)

 

Dr. W. A. Criswell

 

10-29-89

 

Yohanes 21:1-22

 

Bagi kita semua yang berada di gereja ini, sekarang kita bersama-sama di dalam iman yang sama dari injil Kristus. Saya adalah pendeta dari Gereja First Baptis Dallas, yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Mengikut Yesus Sampai Mati.   

Ini adalah sebuah eksposisi dari pasal terakhir Injil Keempat. Di dalam hari-hari belakangan ini hingga tahun-tahun belakang ini, kita telah memiliki khotbah sepanjang Injil Yohanes. Dan ini adalah pesan yang klimaks serta bagian yang terakhir.

Yohanes pasal dua puluh satu, terlihat sangat terlihat merupakan sebuah apendiks. Pasal ini merupakan sebuah tambahan. Injil Yohanes mencapai puncaknya dalam pasal dua puluh. Dan kemudian ada kata-kata tambahan yang ditulis oleh rasul Yohanes. Itu adalah sebuah penghormatan bagai sahabat lamanya, Simon Petrus.

Simon mati martir antara tahun 64 dan 68 A.D. Dan Yohanes masih tetap hidup hingga tahun 100 A.D. Dan jika anda mengingatnya, Injil Sinoptik menutup Injilnya dengan meninggalkan  Simon Petrus tanpa sebuah cahaya yang tidak bahagia. Dia mengutuk bahkan bersumpah bahwa dia tidak mengenal Tuhan. Dan sebagai sebuah penghormatan terhadap sahabat lamanya, yaitu Smon Petrus, Rasul Yohanes menulis sebuah pasal tambahan ini ke dalam Injilnya yang Keempat. 

Dan pasal ini dimulai dengan kisah ini. Simon Petrus dan keenam rasul lainnya sedang berada di Galilea, kembali kepada pekerjaan mereka yang lama. Amanat belum diberikan. Dan tentu saja, Roh Kudus belum dicurahkan. Mereka tidak memiliki ide dari tugas luar biasa, yang terbentang di hadapan mereka sebagai utusan dari kerajaan Allah.

Kemudian, mereka kembali kepada hidup mereka yang lama dan pekerjaan mereka yang lama. Mereka kembali menjala ikan. Dan ketika mereka menjala ikan, setelah semalaman, mereka belum mendapat apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada."

Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.

Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.

Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu.

Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.

Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu."

Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak.

Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan.

Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.

Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Beri makan anak  domba-domba-Ku—arnia-Ku."—bukan domba-dombaKu, tetapi anak-anak domba, domba-domba yang kecil.

Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Kemudian Tuhan menambahkan:

Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

Dia akan disalibkan. Dia akan mati dengan tangan yang direntangkan. 

Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"

Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"

Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

Di dalam bahasa Yunani, itu merupakan sebuah kata yang sangat empatik: “Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

Dan kita memiliki gambaran penutup tentang kehidupan Simon Petrus, mengikut Tuhan dengan mati di atas kayu salib. Dan dalam sebuah penjelasan tentang pasal ini, kita akan melihat beberapa gambaran sehubungan dengan hal itu. Yang pertama adalah, bahwa di dalam mengikut Yesus, harus ada sebuah penyerahan total, sebuah pengorbanan, menyerahkan segala sesuatu. Yesus berkata kepada Simon, “Simon, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”

Ketika anda membaca tafsiran bahasa Inggris tentang ayat ini, mereka semua memberi komentar yang sama. Apa yang akan mereka katakan adalah bahwa Tuhan bertanya kepada Simon Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada kasih dari murid-murid ini kepadaKu?” Dan mereka mendasarkan hal itu atas pengakuan Simon Petrus ketika Yesus disalibkan. Semua murid yang lain mungkin akan menyangkalmu, tetapi aku sekali-kali tidak akan menyangkalMu. Itu yang mereka dasarkan dalam memberi komentar terhadap ayat ini.

Tetapi mereka tidak mendasarkannya atas teks yang terdapat dalam pasal 21 tersebut. Bahasa Yunani ini bersifat tegas dan bergerak dalam jurusan yang berbeda. Kontrasnya bukan antara “engkau” dan “mereka,” engkau dan murid-murid itu, engkau dan mereka. Akan tetapi kontras yang dimaksud adalah antara saya dan hal-hal ini.

Apa yang ditanya oleh Tuhan kepada Simon Petrus adalah, “Engkau kembali kepada pekerjaanmu yang lama. Engkau kembali kepada ikan, jala, dan laut. Engkau telah kembali kepada hidupmu yang lama. Aku memanggilmu ke dalam sebuh hidup yang baru, sebuah dedikasi yang baru, sebuah pengabdian yang baru kepadaKu. Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada kehidupan yang lama ini, pekerjaan yang lama ini, tugas menjala ikan ini? Apakah engkau mengasihiKu lebih dari semua ini?”  

Dan Simon Petrus berkata, “Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Dan Tuhan berkata, “Aku meminta kepadamu untuk berkorban, untuk melepaskan segala sesuatu dan ikutlah Aku.” Untuk mengikut Yesus, hal yang paling utama dari semua adalah sebuah pengorbanan, untuk melepaskan segala sesuatu.

Kadang-kadang, sebuah undangan dari sorga adalah untuk mengorbankan hal-hal yang kecil. Di dalam salah satu pengembalaan saya beberapa waktu yang lalu, saya memiliki seorang jemaat yang profesinya adalah tukang permata. Dan saya sedang berada di dalam tokonya yang sangat indah. Dan saya mengamati sebuah permata yang berada di tangannya. Saya sangat memuji permata itu.

Akan tetapi dia berkata, “Amatilah. Permata ini tidak bernilai.”

Saya tidak dapat membayangkannya.

Dia berkata, “Amatilah. Dan di bagian tengahnya anda akan melihat sepotong batu kecil yang berwarna hitam.

Betapa banyak orang Kristen yang seperti itu? Mereka tidak memiliki kesaksian karena mereka terperangkap dalam jaring-jaring kehidupan dunia. Hal-hal kecil yang ada di dunia.

Saya melihat ular duniawi itu di depan pintu gereja kita. Saya melihat liukannya yang licin di bangku jemaat kita dan menjulurkan lidahnya ke dalam wajah saya. Keduniawian: hal-hal duniawi yang berbeda dan bertentangan dengan kesaksian orang Kristen, meskipun hal itu kadang-kadang bersifat kecil.

Ketika saya datang kemari untuk mengembalakan jemaat ini empat puluh lima tahun yang lalu, ada seorang wanita yang sangat kaya dan berpengaruh, yang mana dia beserta dengan keluarganya menjadi anggota dari gereja ini. Dan pada suatu malam, dia mengadakan makan malam bagi saya di rumahnya yang mewah yang terletak di Highland Park. 

Saya duduk di sana, di dalam tempat yang megah itu, di meja yang besar, iringan yang indah dan sesuai dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, juga termasuk dengan pelayanannya serta kelompok yang ada di sana. Dan dia bangkit dari kursinya dan mulai melayani dengan menuangkan anggur. Dia membawa anggur dua botol, dan berkeliling, dan setiap orang menerimanya dari tangannya, saat dia menuangkan anggur ke dalam gelas mereka. 

Dan dia datang kepada saya. Dan dia bertanya kepada saya, botol anggur mana yang akan saya pilih.

Dan saya berkata kepadanya, “Saya tidak minum anggur.”

“Oh,” dia berkata dan terus memohon kepada saya: “Anda adalah tamu saya dan ini adalah rumah saya yang indah, dan saya ingin supaya anda mau meminumnya.” 

Dan saya berkata, “Tidak, saya tidak akan melakukannya.”

Kemudian dia berkata lebih lanjut, “Tetapi, saya telah menyiapkan makan malam ini untuk anda dan saya telah membeli anggur yang terbaik ini. Dan saya ingin supaya anda bergabung dengan kami semua.”

Saya berkata, “Tidak, saya tidak akan minum.”

Kemudian berdirilah salah satu dari para perempuan itu dan menunjuk ke arah dia serta berkata, “Engkau kalah. Engkau kalah. Kami menang.”  

Dan mereka semua tertawa, bertepuk tangan dan berseru, “Engkau kalah dan kami menang.”

Saya tidak habis pikir tentang hal itu. Saya berpikir bahwa saya sedang bersama dengan segerombolan orang bodoh. Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu di dalam hidup saya.

Dan gadis yang berdiri dan berseru itu, berpaling kepada saya dan berkata, “Pendeta, anda tidak mengerti. Sebelum makan malam, kami membuat taruhan dengan dia. Dia berkata, ‘Saya dapat membuatnya minum.’ Dan, kami berkata, ‘Kami bertaruh bahwa kamu tidak akan bisa.’ Dan kami telah menang, dia telah kalah.” 

Saudara yang terkasih, saya tidak berkata bahwa jiwa anda akan dihukum dalam hukuman kekal karena anda adalah sebuah masyarakat peminum. Saya hanya berkata kepada anda, bahwa anda akan kehilangan kesaksian anda ketika anda melakukan hal itu.

Alasan terhadap hal itu sangat jelas. Minuman alkohol adalah termasuk bagian dari obat terlarang. Dia memiliki candu sama seperti obat-obat terlarang lainnya. Dan satu dari sembilan orang yang minum minuman beralkohol menjadi pecandu alkohol.

Dan itu hanyalah salah satu hal kecil yang saya korbankan bagi Yesus, menyelaskannya demi Yesus. Untuk mengikut Yesus kita harus melepaskan segala sesuatu. Ada beberapa hal yang anda lakukan dalam hidup anda, ketika anda mendedikasikannya kepada Yesus, oleh sebab itu, anda memiliki undangan dari sorga untuk mengorbankan semua itu, untuk melepaskan hal-hal tersebut dan mengikut Dia—sebuah pengorbanan.

Hal yang kedua untuk mengikut dan mengasihi Yesus adalah menerima sebuah tanggung-jawab: “Beri makan domba-dombaku.” Arnia: itu adalah sebuah kata yang tidak biasa. Kata Yunani untuk domba adalah arnion, arnion.  Dan, arnia adalah kata yang digunakan untuk domba-domba kecil. Kemudian tentu saya, dua ungkapan yang selanjutnya adalah: “Beri makan probate-Ku, domba-dombaKu.”

Tetapi saya tidak akan lupa bahwa ketika Tuhan memanggil Simon Petrus, tugas pertamanya adalah untuk “Gembalakanlah anak-anak domba, anak-anakKu, bayi-bayiKu.” Dan anda telah mendengar saya berbicara panjang lebar bahwa ketika saya datang ke gereja Dallas ini, dari sanalah saya memulainya. 

Untuk membangun kembali gereja ini, untuk membuatnya bersemangat dan hidup, saya memulainya dengan nurseri, ruangan untuk para bayi. Dan anda secara berkelakar akan berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang bayi datang sendirian ke gereja.” Ketika anda melihat seorang bayi, tentu ada orang lain di sekelilingnya. Hal itu menyenangkan Allah, ketika kita membesarkan pelayanan kita untuk bayi-bayi kita dan untuk anak-anak kita. Allah sangat berkenan akan hal itu. Itu adalah tugas Petrus yang pertama: Rawatlah arnia-Ku, domba-domaba kecilKu.”

Kemudian, tentu saja, hal selanjutnya adalah: “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Kita semua memiliki sesuatu yang hanya kita sendiri yang dapat melakukannya. Ada sebuah tugas yang tidak ada seorang pun yang dapat menyelesaikannya di hadapan Allah kecuali anda. Anda memiliki keistimewaan. Anda adalah seseorang yang istimewa di hadapan Allah. Dan di sana ada sebuah tugas, yang hanya anda sendirilah yang dapat melakukannya. Dan ketika anda melakukannya, nama Allah ditinggikan dan hati anda di dorong di dalam iman.

Kemudian, yang ketiga adalah, sebuah kesetiaan, setia sampai mati:

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

Mengikuti Tuhan kita sampai ke salib dan sampai mati—itu adalah sebuah hal yang paling menakjubkan dari banyak hal yang menakjubkan! 

“Dan hal ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.” Memuliakan Allah di dalam penyaliban, di dalam penderitaan, di dalam rasa sakit, di dalam kesengsaraan dan di dalam kematian: Itu adalah cara kita dalam memuliakan Allah. 

Sudaraku yang terkasih, jika saya datang dan melihat anda dan segala sesuatu sangat indah, dan anda memiliki kehidupan yang makmur, anda memiliki hidup yang sehat serta segala sesuatu berjalan seperti yang anda inginkan, tidak heran, jika anda berkata, “Saya bersyukur kepada Allah.” Itu adalah sesuatu yang sangat indah, berkat yang melimpah. Dan seharusnyalah anda mememiliki sikap seperti itu. 

Tetapi apa yang ingin saya perbuat adalah seperti ini, saya datang ke rumah anda dan melihat ke dalam hati anda ketika sebuah bencana yang besar sedang menyelimuti anda, anda diremukkan dan merasa hancur. Lalu, justru pada saat itu, saya ingin mendengar anda memuliakan Tuhan di dalam kedukaan, penderitaan, kesukaran dan rasa sakit serta kekecewaan.

Bukankah seperti itu yang terjadi dengan kehidupan Ayub? Setan datang ke hadapan Tuhan dan berkata, “Tidak heran kalau dia memuliakan Engkau. Lihatlah dia. Engkau membuat pagar di sekekilingnya. Engkau memberikan semua berkat sorgawi atas dia. Dia kaya. Dia memiliki banyak anak. Dia juga memiliki sahabat-sahabat. Dia adalah orang terbesar yang ada di Timur. Tidak heran kalau dia memuliakan Engkau.” Kemudian Setan berkata, “Tetapi ulurkanlah tanganMu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapanMu.”

Dan Tuhan berkata, “Engkau pikir demikian? Kalau begitu, segala yang dipunyainya dalam kuasamu; hanya janglah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.”

Dan Setan mendatangkan sebuah angin tornado, sebuah badai, yang meniup segala kepunyaan Ayub, dan menghancurkan semuanya—rumahnya, segala ternaknya dan bahkan membunuh anak-anaknya. Dan Setan melihat apakah Ayub akan mengutuki Tuhan di hadapan wajahNya.

Akan tetapi, sebaliknya Ayub berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah namaNya”—memuliakan Tuhan di dalam pencobaan yang kita hadapi.

Kemudian, Setan muncul kembali di hadapan Tuhan. Dan Tuhan berkata, “Lihatlah dia. Lihatlah dia di bawah sana, remuk dan terluka. Tetapi dia tetap memuliakan namaKu.”

"Ya, itu benar," kata Setan, “Biarkan aku menyentuhnya maka pastilah ia akan mengutuki Engkau.”

Allah berkata kepada Setan, “Engkau pergilah dan sentuhlah dia, hanya sayangkan nyawanya.” Dan Setan turun ke bumi dan ditimpanya Ayub dengan barah busuk dari telapak kakinya sampai batu kepalanya. Lalu Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya. Anda tahu apa yang dia lakukan? Dia duduk dengan penderitaan yang dalam, dan dia berkata, “Sekalipun Dia membunuhku, aku akan tetap percaya kepadaNya.”

Kita memuliakan Tuhan. Kita memuliakan Tuhan di dalam kesengsaraan kita, di dalam penderitaan kita, di dalam kekecewaan kita, di dalam rasa sakit kita dan di dalam keterhilangan kita. Saat itulah Allah dimuliakan: Ketika saya memuliakan namaNya di tengah-tengah rasa sakit yang hebat, yang saya alami. Makna yang dalam dari mengikut Yesus sampai mati. 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"

Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"

Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

Selanjutnya, di dalam mengikut Yesus, ada sebuah pribadi yang bertanggung-jawab, seseorang yang dapat diminta pertanggung-jawaban. Pertanggungjawaban antara kita dan Allah.

Ada tempat dimana hanya anda sendiri yang berdiri di hadapan Allah sendiri. Apapun yang mungkin dapat dilakukan oleh orang lain, tetapi di dalam hal itu, yang ada hanyalah anda dan Allah. Anda lahir bagi diri anda sendiri. Anda akan mati, dan hanya bagi diri anda sendiri. Anda akan dihakimi hanya atas diri anda sendiri. Ada tempat di dalam hidup anda, ketika apa yang orang pikirkan atau lakukan tidak dapat masuk ke dalam penyamaan itu. Hanya anda dan Allah, sebuah tanggung-jawab pribadi.

Ini adalah sebuah kisah yang terjadi di dalam hidup saya, yang terjadi hampir sekitar lima puluh tahun yang lalu.  Saya menerima sebuah undangan untuk mengadakan kebaktian kebangun rohani selama dua minggu di West Coast, di Kalifornia. Saudara perempuan saya, tinggal di Oregon. Dan dia datang ke kota kecil tempat di mana saya sedang berkhotbah, dia memesan sebuah kamar di hotel dan mengunjungi kebaktian kebangunan rohani itu. Saya hanya berspekulasi bahwa dia hanya ingin melihat bagaimana saudaranya berkhotbah. 

Pada hari-hari kebaktian kebangunan rohani itu, ketika Roh Kudus bekerja di dalam kebaktian kebangun rohani itu, dia datang dengan prertobatan yang sunguh-sungguh. Dan pada suatu malam, ketika saya memberikan undangan, dia datang maju ke depan. Dengan air mata yang berlinang, dia menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya dan memberikan hati serta hidupnya kepada Tuhan. 

Pada hari senin, ketika kebaktian itu selesai, dia kembali ke rumahnya di Oregon, dan saya kembali ke tempat pengembalaan saya, dan dia bertanya bahwa apakah dia dapat berbicara dengan saya. Dan akhirnya kami berdiskusi cukup lama.

Dan dia berkata, “Saudaraku, ketika saya pulang ke rumah, suamiku bukanlah orang Kristen. Dan sahabat-sahabatku adalah orang duniawi. Mereka bukanlah orang Kristen. Apa yang harus aku lakukan?”

Saya menjawabnya, “Ketika engkau kembali ke rumah, hal pertama yang harus engkau lakukan adalah duduklah bersama dengan suamimu dan beritahukan kepadanya bahwa engkau telah memberikan hatimu kepada Tuhan. Sekarang engkau adalah orang Kristen. Engkau telah diselamatkan. Engkau telah diampuni. Engkau jelaskanlah kepadanya apa yang telah terjadi kepadamu. Lalu bergabunglah dengan sebuah gereja: percaya kepada Alkitab, menghormati Kristus dan gereja. Kemudian hubungilah teman-temanmu sekali waktu, dan beritahukanlah bahwa engkau bukan lagi orang duniawi. Engkau tidak akan menjalani kehidupan seperti itu lagi. Engkau telah memberikan hidupmu kepada Allah. Dan engkau harus bekerja dan melayani Dia di dalam jemaat.”

Dia kembali ke Oregon. Dan setelah beberapa hari, datanglah surat pertamanya. Dia berkata, “Saudaraku, Aku telah memberitahukan suamiku. Dan dia sungguh mendapat dorongan yang sangat luar biasa.”

Dia berkata, “Aku akan memberimu sebuah mobil. Dan kamu dapat bekerja dan melayani Tuhan. Saya tidak akan pernah dapat berdiri di tempatmu. Aku hanya dapat membantu dan memberi dorongan.” Itu adalah suratnya yang pertama.

Kemudian, setelah beberapa waktu berselang, datanglah suratnya yang kedua. Dan dia berkata, “Saudaraku, aku telah kehilangan sahabat-sahabat lamaku. Ketika aku memberitahukan kepada mereka apa yang telah terjadi kepadaku, dan bahwa aku sudah meninggalkan semua kehidupan duniawi, dan melayani Yesus, mereka semua meninggalkanku. Dan aku telah kehilangan semua sahabat lamaku.” 

Tetapi, dia berkata, “Aku telah memiliki sahabat-sahabat baru. Dan mereka berada di gereja, di rumah Tuhan. Dan sahabat-sahabat baruku, jauh lebih baik dari sahabat-sahabat lamaku.”

Kemudian setelah waktu terus berlalu, surat yang ketiga datang dari salah seorang anggota keluarga saya. Saudara perempuan saya itu telah meninggal di dalam Tuhan dan telah pulang ke rumahnya yang di sorga.

Aman di tangan Yesus

Aman di jagaNya

Rasa jiwaku damai

Dan berbahagia

 

Itu adalah sebuah tanggung-jawab pribadi. Bagaimana dengan dia? Bagaimana dengan mereka? Dan bagaimana dengan orang-orang ini? Ada tempat di dalam hidup anda di mana hanya anda sendiri yang berdiri di hadapan Allah. Dan itu terjadi ketika anda mendengar suara Tuhan ketika Dia memanggil anda untuk tugas yang telah Dia tulis di dalam Kitab Kehidupan bagi anda.

 

Alih Bahasa: Wisma Pandia, Th.M.