DOKTRIN KEILAHIAN KRISTUS

 (THE DOCTRINE OF THE DEITY OF CHRIST)

 

Dr. W. A. Criswell

 

Yohanes 20:20-25

04-15-73

 

Kita percaya terhadap sangkakala. Ketika sangkakala berbunyi dan orang-orang yang telah meninggal akan bangkit, dan sebuah potongan kecil itu kita rasakan ketika paduan suara bernyanyi dan seluruh alat musik itu menghembuskan catatan keindahan dan kemuliaan. Sekarang kita akan berpaling ke dalam Injil Yohanes pasal dua puluh. Dan bagi anda yang sedang mendengarkan ibadah melalui siaran radio, bersama dengan kami jemaat dari Gereja First Baptist Dallas, silahkan anda membuka Alkitab adalam dalam Yohanes pasal dua puluh, dan membacanya dengan nyaring bersama-samna dengan kami, dimulai dari ayat dua puluh empat hingga ayat terakhir dari pasal ini. Yang akan menjadi teks kita adalah ayat dua puluh delapan dan tiga puluh dua, dan khotbah ini berjudul DOKTRIN TENTANG KEILAHIAN KRISTUS, dan mari kita semua membacanya secara bersama, dari pasal dua puluh dimulai dari ayat dua puluh empat: 

 

Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.

Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."

Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. [Yohanes 20:24-31]. 

Di dalam Kitab Suci, ada beberapa pembelajaran yang memberi pengakuan yang jelas-jelas mengekspresikan bahwa Kristus adalah Ilahi—Kristus adalah Allah. Sebagai contoh, Injil Yohanes ini dimulai dengan, “Pada mulanya adalah logos, dan logos itu adalah Allah” [Yohanes 1:1]. Apa pun logos itu, Dia adalah Allah. “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang dijadikan” [Yohanes 1:2, 3].  Siapakah logos itu? “Logos itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14) Dan Yohanes Pembaptis memberi kesaksian tentang Dia, “Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang yang mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yohanes 1:27). “Dia telah ada sebelum aku.” Kesaksian Yohanes termasuk ke dalam pre-eksistensi kekal—sebuah studi pengakuan. Sekarang kita akan mengambil yang lainnya. Di dalam Titus 2:13. Rasul Paulus menyatakan, “Dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Saya jelas disebutkan, “Menantikan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselama kita Yesus Kristus. Pusat dari keilahian Kristus merupakan pusan dari iman Kristen. Jantung dari pesan Kristen adalah keilahian Kristus, dan dari kebenaran itu, sebagaimana jantung mengalir melalui pembuluh vena dan pembuluh arteri dari kehidupan Kristen. Jika doktrin itu terguncang maka Kekristenan akan terhuyung-huyung dan jatuh ke tanah. Inilah klimaks dari Injil Yohanes, “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!”’ (Yohanes 20:28).  “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31).  

Sekarang, untuk sesaat, kita akan melihat keilahian Kristus. Benarkah demikian? Apakah Dia Allah? Yang pertama, perkataan-perkataan yang Dia sampaikan adalah perkataan-perkataan yang hanya berani disampaikan oleh Allah. Dengan perkataan lain, perkataan-perkataan Kristus hanya disampaikan oleh pemegang gelar tertinggi. Dia berkata, “Akulah terang dunia” (Yohanes 8:12). “Akulah jalan, Akulah kebenaran” (Yohanes 14:6). “Akulah pokok anggur yang benar” (Yohanes 15:5). “Akulah hidup” (Yohanes 14:6). “Mintalah dalam namaKu” (Yohanes 6:26). “Aku akan bangkit dari kematian” (Yohanes 20:9). “Makanlah tubuhKu dan minumlah darahKu (Yohanes 6:56).” “Peganglah perintahKu” (Yohanes 14:15). “Akulah kebangkitan” (Yohanes 11:25). “Aku datang dari atas” (Yohanes 8:23). “Akulah terang dunia (Yohanes 9:5).” “Aku datang dari sorga” (Yohanes 6:38). “Sebelum Abraham—ego eimi—Aku ada” (Yohanes 8:58). “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 11:42). “Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (Matius 12:6). “Sesungguhnya yang ada di sini lebih besar dari Salomo” (Matius 12:42). “ Akulah Tuhan atas hari sabat” (Lukas 6:5).” “Barangsiapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9). “Marilah kepadaKu semua yang berletih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yohanes 13:13). “Langit dan bumi akan berlalu, akan tetapi perkataanKu tidak akan berlalu” (Matius 24:35). “Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa”(Lukas 22:69). “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28). “Aku akan membangkitkanmu pada akhir zaman” (Yohanes 6:40). “Aku akan menyertaimu hingga akhir zaman” (Matius 28:20). “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan BapaNya diiringi malaikat-malaikatNya, pada waktu itu ia akan membalassetipap orang menurut perbuatannya” (Matius 16:27). Setiap orang yang menyampaikan menyampaikan kata-kata seperti itu merupakan sebuah penghinaan bagi yang Mahatinggi. Yesus menyampaikan perkataan-perkataan yang hanya dapat disampaikan oleh Allah, itu karena Dia adalah Allah itu sendiri.  

Yang kedua. Yesus di dalam diriNya sendiri adalah Allah sendiri, di dalam pribadiNya, di dalam keberadaanNya, manusia di dalam Dirinya. Di dalam Yohanes pasalal pasal delapan ini, sebagai contoh, Tuhan berkata, “Siapakah diantaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yohanes 8:46). Yang artinya, “HidupKu tanpa dosa dan sempurna.” Manusia manakah yang dapat berkata bahwa dia kudus, murni dan bersih? Kita dapat membawa pertanyaan it kepada orang-orang yang terkemuka di dalam Alkitab dan di anatara umat manusia dan bertanya, “Musa, apakah engkau tidak berdosa? Apakah engkau manusia yang ideal?” Dan Musa akan menundukkan kepalanya dan berkata, “Dengan darah di tanganku, aku adalah seorang pembunuh.” Daud, manusia yang berkenan kepada Allah, “Apakah engkau sempurna dan manusia tanpa dosa?” Dan Daud akan berkata, “Aku adalah seorang penzinah, dan di dalam perzinahanku itu aku telah menghilangkan nyawa orang lain.” Kita dapat membawa pertanyaan itu kepada salomo. Kita dapat membawanya kepada Sokrates. Kita dapat membawa pertanyaan itu kepada  Charlemagne atau kepada orang-orang terkemuka lainnya di dunia. “Apakah engkau manusia sempurna, tanpa dosa dan murni?” Dan tanpa pengecualian, mereka akan menundukkan kepala mereka dan memberi pengakuan. “Hidupku dinodai dengan kesalahan dan dosa serta pemberontakan. Aku sama seperti manusia lainnya, seorang pendosa.” Lalu, Kristus menggambarkan diriNya sendiri sebagai keberadaan tanpa dosa, murni dan suci. Tidak hanya itu, tetapi mustahil bagi pikiran manusia untuk menciptakan pribadi yang ideal dan tanpa dosa. Literatur yang jenius dari manusia tidak dapat mendekati atau menciptakan seorang manusia yang ideal.  Lihatlah kepada pahlawan-pahlawan dari literatur yang terkemuka di dalam ras manusia. Di dalam Homer, ada Achiles, pahlawan perang Troya dan pahlawan dari puisi Homer—seorang penulis yang agung. Apakah Achiles tanpa dosa? Dia adalah seorang rekan yang terjatuh di dalam peperangan. Viktor Hugo, penulis novel yang terkenal yaitu Les Miserables.  "Apakah pahlawan yang anda dapati di sana, Joan—Valjoan—Jean—Valjean, apakah dia manusia yang sempurna?” Dan Viktor Hugo akan memberi jawaban, “Saya tidak dapat menciptakan seorang manusia seperti itu dan dia menjadi nyata.” Atau Alfred Lord Tennyson, Raja Arthur dari Meja Bundar, pahlawan dari rakyat Inggris, apakah dia sempurna dan tanpa dosa? Dan penyair yang terkemuka dari Inggris itu akan menjawab, “Saya tidak dapat menciptakan dalam lagu atau puisi, seorang manusia yang ideal dan hidup tanpa dosa.”

Akan tetapi di dalam lembaran-lembaran Alkitab ini, ditulis oleh orang yang sederhana—seorang Markus, seorang Matius, seorang Lukas, seorang Yohanes—orang yang merupakan pemungut cukai dan para nelayan, akan tetapi di dalam lembaran-lembaran Kitab ini, di sana digambarkan di dalam kerangka yang sederhana dan bentuk yang sederhana dari seorang Pribadi yang sama seperti Allah sendiri, murni dan suci serta tidak bercela. Di dalam PribadiNya, Dia sama seperti Allah. Musuh-musuhNya juga berkata demikian. Pontius Pilatus, wali negri Roma, membasuh tangannya dan berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya.” Yudas Iskariot melemparkan uang hasil pengkhianatannya dan berkata, “Aku telah mengkhianati darah orang yang tidak berdosa.” Istri Pontius Pilatus menyampaikan pesan kepadanya, “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu.’ Dan penjahat yang ada di atas salib, berpaling kepada Yesus dan berkata “Orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Dan kepala pasukan yang mengepalai penyaliban itu berkata, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.” Di dalam hidupNya, Dia hidup di dalam gambaran dan kepribadian ilahi.

Ynag ketiga, tidak hanya perkataan yang Dia sampaikan merupakan perkataan Allah, dan tidak hanya di dalam hidup yang Dia hidupi adalah kehidupan Allah—yang ketiga, perbuatan-perbuatan yang Dia lakukan adalah pekerjaan-pekerjaan Allah Yang Mahakuasa. Lihat Orang ini yang meredakan angin ribut dan menjadi tenang. Lihat, orang ini berbicara kepada orang lumpuh dan dia dapat berjalan. Orang ini dapat berbicara kepada orang sakit kusta dan menjadi tahir. Lihat, orang ini dapat berbicara kepada orang mati dan hidup kembali. Lihatlah orang ini. Tidak ada yang seperti Dia. Dan Dia berkata, Salibkanlah tubuh ini. Ambillah hidup ini dan pada hari yang ketiga Aku akan hidup kembali.” Itulah sebabnya di dalam Roma satu, ayat empat Paulus menulis, “Dia dinyatakan—horizo, ditunjuk—untuk menjadi Anak Allah yang dengan kuasa Roh Kudus dibangkitkan dari kematian” (Roma 1:4). Di dalam sebuah kelakar, seseorang datang kepada Napoleon Bonaparte dan berkata bahwa dia memulai agama yang baru, menemukan iman yang baru. Tetapi dia berkata, “Aku sulit untuk menemukan orang yang percaya kepadaku.” Dan Bonaparte sambil tersenyum berkata, “Bolehkan aku memberikan hal sederhana yang meyakinkan? Bunuhlah dirimu sendiri dan pada hari yang ketiga, bangkit kembali, dan orang mungkin akan percaya kepadamu.” Oh, itu adalah sebuah demonstrasi dari kuasa Allah yang ada di dalam Dia. PekerjaanNya dan perbuatanNya merupakan pekerjaan dan perbuatan ilahi. 

Yang terakhir, pengharapan yang Dia inspirasikan adalah pengharapan dari Allah. Hal itu berasal dari Allah dan mengalir kepada Allah. Martir pertma memandang hal itu dan melihat sorga terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan dari otoritas dan kuasa yang utama, kemudian dia menunduk dan berkata, “Tuhan Yesus, ke dalam tanganMu keserahkan nyawaku,” dan meninggal dan kemenangan yang penuh pengharapan dan di dalam iman. Rasul Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus…malahan segala sesuatu kuanggap rugi,…supaya aku dalam mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya” (Filipi 3:8-10). Dan ketika dia tiba pada hari hukuman matinya dan kemartirannya, dia berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, hakim yang adil pada hariNya, tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya” [2 Timotius 4:8]—mati dalam kemenangan di dalam iman. Pengharapan yang Dia inspirasikan adalah pengharapan dari Allah sendiri. Saya tidak memiliki waktu untuk menghitung nyanyian dan pujian dari para martir yang meninggal, dengan diikat kepada tiang api , memandang dan melihat Yesus. Dan di dalam kemuliaan para martir itu, mereka menyerukan pujian terhadap Anak Allah.

Saya dapat mengambil tentang hal itu di dalam salah satu lembaran hidup saya. Sebuah pesan datang kepada saya bahwa salah satu diaken yang sangat saya kasihi di dalam gereja yang saya gembalakan  sebelum datang kemari, sedang menunggu panggilan terakhir dari Tuhan. Dan saya pergi menemui dia. Saya kembali dan menemui dia. Dan ketika saya mengunjunginya, saya berada di sisi orang itu yang sedang menghadapi kematian, hidupnya hampir berakhir dan sekarang sedang bersiap-siap untuk masuk ke hadirat Yesus. Ketika kunjungan itu telah selesai, dia berkata kepada saya, “Maukah anda berlutut di sini, di samping saya dan berdoa?” Dan saya berlutut di sampingnya dan berdoa. Kemudian, ketika saya berdiri untuk pergi, dia berkata kepada saya, “Selamat tinggal, Pendeta,” dan dia mengangkat tangannya dan menunjuk jarinya ke atas dan berkata, “Aku akan menemui anda di dalam kemuliaan.” Dan saya mengangkat tangan saya dan jari saya menunjuk ke atas dan berkata, “Selamat tinggal diaken. Saya akan menemui anda di dalam kemuliaan.” Saya pergi ke pintu dan membuka pintu dan sebelum saya keluar, saya berpaling dan melihatnya. Dan dari tempat tidurnya, dia melihat saya dan menunjuk ke atas. Dan saya sekali lagi mengangkat tangan saya dan menunjuk ke atas. “Saya akan menemui anda dalam kemuliaan.” Itu adalah jantung dan jiwa serta pengharapan yang tertanam bagi kita di dalam iman, di dalam Tuhan, di dalam nama Allah dan Juruselamat Kristus Yesus, “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!”’ (Yohanes 20:28). Dan rasul menulis dalam kesimpulan permohonannya, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” [Yohanes 20:31]. 

Secara bersama-sama, dapatkah kita menunduk di dalam kehadiranNya yang mulia? Tidak seorang pun yang pernah kehilangan komitmen hidupnya terhadap Juruselamat yang mulia. Tidak seorang pun yang dipimpin ke dalam kesesatan, yang hatinya percaya bahwa Yesus adalah Kristus dari Allah. Tidak seorang pun yang pernah gagal di dalam kemenangan dan kemuliaan dari sebuah peralihan, ketika menghadapi kematian di dalam kasih dan anugerah Yesus. Dan kebaikan Allah yang memahkotai kehidupan Tuhan kita yang hidup di dalam masa kedaginganNya di dunia adalah kebaikan Allah yang sama dari Allah yang sekarang menjadi pengantara bagi kita pada hari ini di dalam kasih Yesus, Tuhan kita, Allah kita dan Juruselamat kita. Malam ini, seseorang dari anda, di dalam kesempatan yang khidmat ini, untuk yakin di dalam Dia, menerima Dia, untuk percaya kepadaNya, mengkomitmenkan hidup anda kepadaNya setiap hari; atau ketika Allah berbicara dalam pengabdian dan mengkomitmenkan kembali hati anda dan hari-hari anda atau kekita Allah menekankan seruan bagi hati anda, untuk meletakkan hidup anda di dalam lingkaran jemaat ini. Mari, datanglah sekarang. Lakukanlah sekarang. Buatlah keputusan itu di dalam hati anda sekarang di dalam hati anda, dan di dalam sebuah kesempatan saat kita berdiri untuk bernyanyi, anda boleh turun melalui salah satu tangga itu dan salah satu lorong bangku ini dan majulah ke depan. Katakanlah, “Pendeta, mala ini saya membuat keputusan kepada Allah.” Dan Tuhan kita akan menyucikan dan menguduskan kata-kata kesaksian ini dengan tuaian dyang manis dari jiwa-jiwa. Di dalam namaMu yang mulia. Amin. Mari kita berdiri untuk menyanyikan himne seruan kita, dan ketika kita menyanyikannya, dan berdiri di hadapan Allah, semoga Allah memberikan kepada kita sebuah hati baru yang Dia sentuh, menekankan seruan kepada anda dan anda jawablah dengan seluruh hidup anda. Datanglah sekarang ketika kita berdiri dan bernyanyi. 

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM