RATU KEMULIAAN: SEORANG IBU DAN BAYINYA

(THE QUEEN OF GLORY: A MOTHER AND HER BABY)

 

Dr. W. A. Criswell

Yohanes 19:25-27

5-9-93

 

Dan selamat datang bagi anda semua, yang sedang bergabung melalui siaran radio kami dan jaringan televisi yang membawa pesan dari Gereja First Baptis Dallas kami yang terkasih. Judul dari khobah kita adalah Ratu Kemuliaan: Seorang Ibu dan Bayinya.

Beberapa tahun yang lalu, saya berkhotbah melalui misi saya yang pertama di Rusia. Dan di Gereja Baptis Moskow, di sebuah kota yang memiiki penduduk sekitar 6.000.000 orang pada saat itu dan memiliki satu gereja Baptis—dibangun sama seperti ini dan dihadiri oleh banyak orang, teristimewa dihadiri oleh banyak perempuan— terutama perempuan tua.

Di dalam menyampaikan khotbah, saya mulai berbicara tentang peralatan perang yang terbaru, Perang Dunia Kedua. Dan saya berbicara tentang persamaan yang umum di dalam penderitaan manusia.

Dan di dalam menjelaskan hal itu, saya menyebutkan air mata dari seorang ibu Amerika yang anaknya terbunuh dalam perang, air mata seorang ibu Inggris yang anaknya terbunuh dalam perang, air mata seorang ibu Prancis, air mata seorang ibu Jerman, air mata seorang ibu Rusia.

Dan yang mengejutkan saya bahwa seluruh jemaat itu menangis dengan terisak-isak. Itu merupakan sebuah pengalaman yang fenomenal bagi saya. Dan setelah kebaktian selesai, seorang pelayan berkata kepada saya, “Saya tahu bahwa anda dibanjiri oleh respon orang-orang yang meratap itu, ibu-ibu yang menangis. Tetapi anda harus menyadari” katanya, “bahwa setiap ibu itu telah kehilangan anaknya dalam perang.”

Ada sesuatu tentang para ibu dan Hari Ibu melewati setiap batas dalam kehidupan manusia. Ada batas bagi negara, batas bagi bangsa, batas bagi budaya, batas bagi suku bangsa, tetapi tidak ada batas bagi kasih seorang ibu. Hal itu sangat universal.

Dan kemudian, kita membaca di dalam Keluaran pasal 2, “Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.

Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.

Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.

Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani."

Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?"

Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu.

Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.

Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Rames.”

Seluruh raja Mesir yang hebat pada masa itu, dari tahun  1500 B.C. dan selama tiga ratus tahun berikutnya, mereka diberi nama Ramses: dewa matahari yang agung, “Ra,” dan “Musa,” diangkat, ditarik.” Dia memanggilnya Ramses. 

Kemudian, tentu saja, setelah panggilan Allah di Keluaran, mereka membuang nama ilahi berhala yang disebut “Ra” dan kemudian tinggallah nama “Musa.”

Salah satu hal yang paling menakjubkan dalah seluruh kisah sejarah umat manusia! Bayi menangis dan karena belas kasihan dari putri Firaun, dia mengambil bayi itu menjadi anaknya sendiri. 

Di Gold Rush di Kalifornia, seorang ibu membaya bayi perempuannya ke teater. Dan ketika orkestra mulai dimainkan, anak itu mulai menangis. Dan seorang pemilik tambang emas yang sudah tua berdiri dan berteriak, “Hentikan biola itu dan mari kita mendengar bayi yang menangis itu. Saya tidak pernah mendengar sebuah bunyi seperti itu selama 20 tahun lebih.”

Dan orang-orang menyambut dengan tepuk tangan dan orkestra berhenti dan bayi itu menangis di tengah-tengah tepuk tangan orang yang hadir itu.

Oh, saudara yang terkasih! Tidak ada pernikahan yang sukses hingga memiliki sebuah tangisan dari anggota keluarga. Bayi yang lahir. Tidak ada sebuah gereja yang sukses hingga ia memiliki sebuah nursery yang penuh dengan bayi-bayi. Bayi itu dan ibu itu, betapa merupakan sebuah tambahan dan sebuah pengalaman!

Saya telah berada di Ogbomosh, Afrika Barat dan mereka sedang berusaha untuk mendirikan klinik di sana melalui bantuan misionaris, awal dari sebuah rumah sakit. Dan saya tidak dapat melakukan apa-apa tetapi saya mengambil seorang bayi telanjang yang baru lahir dan memegangnya di tangan saya sementara mereka mengambil sebuah gambar saya.

Dan ketika saya memegang hal yang kecil itu, penduduk yang aneh dari negeri itu, ketika saya sedang menggendong bayi itu, bayi itu membanjiri saya dari atas ke bawah. Dan saya mengingat perkataan itu, “Seorang bayi adalah sebuah saluran pencernaan dengan suara yang rebut dan tidak bertanggung jawab terhadap yang laian.”

Kemudian di sana tidak ada benda untuk memotong ari-arinya, hanya terang dan cahaya ketika ibu menghadirkan bayi itu. 

Dan seorang anak kecil berkata kepada ibunya, “Mengapa bayi tidak berbicara?”

Dan sang ibu berkata kepada anak kecil itu, “Ya, memang bayi tidak menangis.”

Dan anak kecil itu berkata, “Ibu, saya berada di Sekolah Minggu, dan guru itu yang  membaca dari Alkitab tentang Ayub mengutuki hari kelahirannya.”

Dan Edgar kecil berkata kepada ibunya ketika mereka bersiap-siap untuk membawanya ke rumah sakit untuk sebuah pembedahan—mereka meletakkan saya di bawah kloroform ketika amandel itu keluar—kemudian bocah kecil itu berkata kepada ibunya dalam sebuah balasan kepadanya, “Aku berjanji, aku akan berani, aku akan berani.   

“Aku akan pergi ke rumah sakit dan menjalani operasi itu. Tetapi aku tidak menginginkan tangisan bayi atasku sebagaimana mereka melakukannya ketika engkau pergi ke rumah sakit. Aku menginginkan seekor anak anjing.”

Selalu menarik dan hidup serta cepat ketika bayi lahir! 

Kemudian ibu menentukan takdir dunia. Sama seperti kebanyakan dari anda, Saya telah mengunjungi tugu peringatan di mana Abraham Lincoln dimakamkan di Springfield, Illinois—salah satu monumen yang paling berkesan di dunia—dan saya membaca di sana ada perkataan Stanton, Sekretaris Perang, ketika Lincoln meninggal, “Sekarang dia menjadi bagian zaman.”

Kemudian, seperti kebanyakan dari anda, saya telah mengunjungi tugu peringatan yang luar biasa, Lincoln di Washington, yang sedang memandang Sungai Potomac, menghadap Congressional Mall dengan Monumen Washingtonnya dan Parlemen Kongressional.

Kemudian, seringkali ketika saya mengadakan perjalanan, saya mengendari mobil kecil saya ke tempat pengembalaan saya di Kentucky, saya melewati Tugu Peringatan Lincoln di Hodgenville, Kenctucky, tempat dia dilahirkan—sebuah tugu peringatan yang dibangun di atas sebuah pondok kecil tempat dia dilahirkan. 

Kemudian monument itu menghadap ke selatan dan di seberangnya ada sebuah kalimat, “Dengan menaruh dendam yang kosong, dengan kemurahan bagi semua,” dan di bagian dalamnya, sebuah kalimat dari Abraham Lincoln, “Segala sesuatu tentang aku atau tentang harapanku yang terwujud, aku berhutang pada malaikat ibuku.”   

Dan ketika saya berdiri sana, saya membaca kembali penghormatan kepada malaikatnya dan ibunya yang kudus, saya membayangkan Abraham Lincoln ketika berusia sembilan tahun, menggali kuburan dan memakamkan ibunya di sana di dalam tanah dan bumi Kentucky.

Membentuk sejarah dunia. Demikian juga dengan Konstantin, penguasa Kristen pertama dari Kekaisaran Roma, dimenangkan kepada Allah oleh Helena, ibunya.

Dan saya membayangkan Agustinus, seorang kafir dan akhirnya menjadi seorang teolog yang hebat, dimenangkan kepada Tuhan oleh Monika, ibunya. 

Dan saya membayangkan Valdmir yang penuh karunia yang luar biasa, komandan dan penguasa bangsa Rusai yang sangat luas, dimenangkan kepada Tuhan oleh ibunya Olga, membentuk sejarah dunia dan dikenal dengan iman.

Suatu ketika saya berdiri di Pacific Garden Mission di Chicago, tempat di mana Billy Sunday bertobat. Dan di atas salah satu sisi gedung itu misi itu, ada tulisan dari Yohanes 3:16 dan di atas sisi lainnya, ada tulisan “Kapan kamu terakhir menulis surat kepada ibu? Dan ketika saya berdiri dan memandangnya, betapa sebuah hal yang luar biasa di dalam misi yang luar biasa itu, Yohanes 3:16 dan disampingnya, “Kapan kamu terakhir menulis surat kepada ibu?”

Dan ketika saya berdiri dan mengenangnya, hal itu secara dinamis datang ke dalam hati saya, dia diidentifikasikan dengan injil Kristus dan pesan keselamatan dari Tuhan Yesus, pengharapan kita dan sorga kita.

Ketika Allah berinkarnasi, Dia datang berinkarnasi dalam rahim seorang perempuan. Dan berkat pertama di dalam Perjanjian Baru disampaikan kepadanya, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.”  

Seperti yang telah anda dengar, dia hadir di dalam peristiwa mujijat pertama yang dilakukan oleh Tuhan kita. Dan seperti yang telah anda dengar, dia berada di momen terakhir di mana dunia melihat Dia, berdiri di dekat salib, dan nubutan Simeon tergenapi, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Bersama dengan saya, mari kita melihat dia, berdiri di sana di dekat salib. Saya pikir dia telah berada di Galilea. Dan dia telah datang ke Yerusalem. Dan ketika saya melihatnya, terlihat jelas dia adalah seorang perempuan yang miskin—pakainnya menunjukkan hal itu—dia adalah orang Galilea, dia memiliki dialek Galilea. Bagi kita, kita dapat berkata, “Seorang udik, yang tidak berpendidikan, orang Galilea.”

Dan dia sudah tua. Usianya hampir mencapai 60 tahun. Dan berdasarkan kehidupan yang anda lihat di Timur, garis-garis penuaan terlihat di wajahnya.

Anda tahu, salah satu hal yang paling aneh di dalam seni dan literatur Kristen adalah dokrtin perawan abadi dan kemudaan Perawan Maria. 

Jika anda pernah berada di Saint Peter di Vatikan, ketika anda berjalan masuk ke pintu utama, di sebelah kanan anda ada sebuah pualam yang luar biasa, yang merupakan karya dari Michelangelo, patung Maria yang sedang memangku Tuhan Yesus yang telah disalibkan. Dan dia adalah seorang gadis. Dia terlihat seperti gadis yang berusia 17 tahun. Dan Anaknya berusia 33. Hal itu sangat aneh bagi saya

Mengapa orang berpikir bahwa kemudaan adalah sebuah waktu yang mulia dalam hidup, tetapi usia tua dhiindari dan kehilangan harapan? Apakah anda mengingat puisi Robert Browning dalam karyanya,  Rabbi Ben Ezra,

 

 Bertambah tua sepanjang waktu bersamaku

Yang terbaik yang akan terjadi

Kehidupan akhir

Yang telah dibuat dari awal mulanya

Sebuah masa di dalam tanganNya

Yang berkata, seluruhnya telah Kurencanakan

Engkau telah dipilih namun hanya sebagian

Percayalah kepada Allah, yang melihat semuanya

Jangan pernah takut

 

Lalu, Maria, berdiri di sana dalam usianya yang tua dan pengalaman hidupnya yang memiliki banyak variasi, dan manis, dalam mengikuti inkarnasi Allah, Tuhan Yesus. Di dalam Lukas pasal 1, dia menyanyikan sebuah pujian,  Magnificat.  Dan di dalam Kisah Rasul pasal 1, dia berada di sana, berdoa bersama dengan murid-murid pada hari Pentakosta. Dan sepanjang hidupnya, Kitab Allah berkata, “menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” Lalu, Maria berdiri di dekat salib.

Bagi orang-orang Roma, ketika penjahat itu ditempatkan di sana untuk dihukum mati. Mereka disalibkan. Itu adalah cara orang Roma, yang kemudian bersifat universal, untuk menghalangi usaha dan aktivitas seorang penjahat. Dan di sana ada tiga orang, tiga orang penjahat bagi orang-orang Roma: disalibkan, satu di sebelah kiri, satu di kanan dan satu lagi di tengah-tengah.

Tetapi bagi Maria, yang berdiri dekat salib, itu adalah Anak yang dikasihinya. Dan ketika Yesus memandang dari takhta salibNya, dia berkata kepada Yohanes, “Yohanes, inilah ibumu.”

Dan kepada ibuNya yang terkasih, “Ibu, inilah anakmu.” 

Betapa merupakan sebuah hal yang luar biasa! Di saat Dia sekarat bagi dosa-dosa dunia, Dia berkata, “Yohanes, rawatlah ibuKu.” Dan, “Ibu, tinggallah bersama anakmu Yohanes,” karena anak-anaknya tidak percaya kepada Dia.

Masyarakat bertanya, “Keturunan siapakah dia dan siapakah leluhurnya? Pengusaha bertanya, “Apakah honornya dan nilainya? Dan hukum bertanya, “Apakah catatannya dan kebajikannya?” Dan politikus bertanya, “Apakah pengaruhnya dan kuasa yang memilihnya?” Dan sarjana bertanya, “Apakah gelarnya dan pendidikannya?” Tetapi seorang ibu bertanya, “Apakah yang dapat saya lakukan untuk menolong dan untuk mengingat serta mengasihi?” 

Salah satu kisah yang paling mengherankan yang pernah saya baca di dalam hidup saya adalah tentang seorang pemuda yang jatuh cinta dengan seorang gadis dan gadis itu memandangnya dengan hina. Dan ketika pemuda itu memaksakan cintanya, gadis itu berkata, “Lalu, untuk menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupmu, kamu harus mengambil hati ibumu dan engkau harus membawanya kepadaku.”

Pemuda itu pergi dan membunuh ibumu serta mengambil hatinya dan dengan berlari dia kembali kepada wanita yang dia cintai itu. Dan ketika dia berlari, ia tersandung dan jatuh, dan hati ibunya terhempas ke tanah. Dan hati ibunya itu berkata kepada anaknya itu, “Nak, apakah engkau terluka?”

 

Seandainya aku digantung di atas bukit yang tinggi,

Aku tahu kasih siapa yang akan tetap mengikutiku.

Seandainya aku tenggelam di dalam laut yang paling dalam,

Aku tahu air mata siapa yang akan turun untukku.

Seandainya aku dikutuk dalam tubuh dan jiwaku

Aku tahu doa siapa yang membuatku pulih

Doa ibuku, ibuku sendiri

 

Seorang malaikat dikirim ke bumi untuk membawa kembali ke sorga, hal-hal yang paling manis dan hal-hal yang paling indah yang dapat dia temukan di bumi. Dan ketika malaikat itu kembali, dia telah membawa kembali sebuah lapisan awan, sekuntum bungan yang sangat indah, senyum seorang bayi dan kasih ibu.  

Dan malaikat mempersembahkan kepada Allah di sorga keempat hadiahnya itu. Lalu, ketika dia mempersembahkannya di hadapan Yehova, awan itu telah lenyap berhamburan; bunga yang indah itu telah layu; senyum bayi itu telah lenyap. Tetapi kasih ibu tetap sampai selama-lamanya! 

Kasih mereka begitu konstan; doa mereka begitu sungguh-sungguh; dan kenangan mereka sangat abadi.

 

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM