IBU YESUS

(THE MOTHER OF JESUS)

 

Dr. W. A. Criswell

 

05-14-89

 

Yohanes 19:25

 

Selamat datang di Gereja First Baptist Dallas. Dan ini adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Ibu Yesus.

Latar belakang teks kita—dan ini adalah sebuah kejadian yang kebetulan yang seringkali saya temukan di dalam khotbah saya melalui Alkitab—tepat di depan saya, di dalam Kitab Yohanes pasal sembilan belas, yang sedang saya khotbahkan selama beberapa waktu belakangan ini—tepat di depan saya, adalah kisah dari latar belakang teks saya, Yohanes 19:25-27:

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Secara umum, Minggu kedua di bulan Mei, Minggu ini, ditunjuk sebagai Hari Ibu. Ada batas bagi keluarga-keluarga, negara-negara, bangsa-bangsa, suku-suku bangsa dan masyarakat. Tetapi tidak ada batas bagi kasih ibu. Itu sangat universal.

Saya memiliki sebuah respon yang tidak biasa, yang pernah saya alami di dalam hidup saya ketika saya sedang berkhotbah di Gereja Baptis Moskow, Rusia. Saya tidak mengharapkan hal itu. Dan itu merupakan sesuatu yang terjadi yang membanjiri diri saya.

Di dalam khotbah saya, saya sedang berbicara tentang sebutan yang umum dari seluruh umat manusia, sekalipun mereka tinggal di timur, barat, utara atau selatan; sekalipun mereka berkulit merah, putih, kuning; sekalipun mereka kaya atau miskin. Saya sedang berbicara tentang sebutan umum dari seluruh umat manusia. Dan secara insidental, saya merujuk kepada fakta bahwa, sekalipun itu adalah air mata dari seorang ibu Amerika atau air mata seorang ibu Jerman atau sekalipun air mata seorang ibu Rusia, ketika mereka menunduk atas ketidakberdayaan ketika anak mereka terbunuh di dalam peperangan, semua air mata itu sama. 

Kemudian, saudara yang terkasih, ketika saya menyampaikan hal itu, ada air mata yang tumpah mengalir dari orang banyak itu. Dan jika anda berada di sana dan melihat mereka, setiap orang dari mereka memiliki sebuah sapu tangan putih yang besar. Setiap orang di hadapan Yang Ilahi mengambil sapu tangan putih itu dan menghapus air mata dari mata mereka.

Lalu, setelah ibadah itu selesai, saya bertanya kepada Pendeta Zidkov—saya berkata, “Mengapa itu terjadi, ketika saya berbicara tentang orang-orang yang hilang di dalam perang ini, mereka menangis sedemikian rupa dan menumpahkan air mata?” 

Dia berkata, “Dari semua yang hadir ini, tidak ada yang tidak kehilangan seorang saudara laki-laki atau seorang anak atau seorang ayah di dalam perang.”

Air mata seorang ibu: Betapa sesuatu yang tidak biasa bahwa air mata itu melewati semua batas yang memisahkan umat manusia.

Lalu, Ibu Yesus, Perawan Maria—dia digambarkan kepada kita memiliki kelebihan yang pertama di dalam kisah Tuhan kita. Anda dapat membacanya sekarang. Dan malaikat berkata kepadanya, “Salam hai engkau yang dikaruniai….Diberkatilah engkau di antara semua perempuan.”  

Dan ketika dia mengunjungi sepupunya Elisabet—Elisabet menemui dia dan bayinya, Yohanes Pembaptis, melonjak di dalam rahimnya. Dan Elisabet dipenuhi oleh Roh Kudus dan berkata:

Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

… Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang ada di dalam rahimku melonjak kegirangan.”

Kelebihan yang utama: “Diberkatilah engkau di antara semua perempauan.”

Dan ketika Tuhan kita memulai pelayanannya, mujizat pertama dari MesianikNya, dia berada di sana. Dan ketika hidupNya ditutup, pada masa hidupNya di dalam daging, dia berdiri di sana, berdiri di bawah Salib. Yang pertama dan yang terakhir—ibu yang saleh itu.

Dan apa pun yang mungkin terjadi di dalam hidup, anak itu selalu milik seorang ibu. Ketika  Hawa melahirkan anak yang pertama dalam ras manusia, dia berkata, “Aku telah mendapat anak laki-laki dengan pertolongan Tuhan,” menerima kehidupan yang berasal dari Allah dan di dalam kebenaran, betapa berartinya hal itu. Dan apa pun jalan dan takdir dari orang muda itu—pergi ke akademi dan menjadi seorang sarjana, mengepalai dunia bisnis dan menjadi pria yang kaya atau wanita yang kaya, masuk ke dalam dunia politik dan menjadi seorang gubernur atau seorang presiden, masuk ke dalam dunia militer dan memimpin sebuah pasukan, masuk ke dalam dunia rohani dan menjadi seorang misionaris di wilayah yang jauh---tetapi dimana pun mereka berada, anak itu tetap miliknya, yang dikasihi dan diingat selamanya.

Demikian juga di dalam penderitaan dan kematian Tuhan kita di kayu salib: Tuhan kita sedang mengenang ibunya yang sedang berdiri di sana, di dalam kedukaan yang tidak terbatas dan Tuhan menyerahkan ibuNya ke dalam kasih dan perawatan Rasul Yohanes yang terkasih. 

Ketika Dia memandang ibuNya yang berdiri di salib, apa yang Dia lihat? Ada tiga hal di dalam dia:

Yang pertama: Dia jelas merupakan seorang yang berasal dari daerah, seorang yang udik. Dia berbicara dengan aksen Galilea. Dia tidak menjadi bagian dari budaya Yerusalem, dan tentu saja tidak berasal dari kalangan keluarga Saduki. Dia adalah seorang yang berasal dari daerah.

Hal yang kedua tentang dia: Dia jelas merupakan seorang wanita miskin yang sederhana. Dia menjadi bagian dari strata sosial yang berasal dari kalangan pekerja keras dan kalangan buruh. Dia berpakaian seperti seorang miskin yang sederhana.

Dan ketika dia telah tua, tangannya dibalut oleh kerja keras selama bertahun-tahun. Dan wajahnya telah bergaris-garis dan berkerut.

Di Timur Dekat, dan pada masa yang lampau, seorang wanita terlihat lebih tua dibanding usia yang sebenarnya. Dan Maria, berumur lebih dari setengah abad.

Saya tidak pernah dapat memahami atau dapat masuk ke dalam doktrin gereja Roma: bahwa Maria adalah seorang perawan abadi dan bahwa dia selalu tampak muda. Sebagai contoh, jika anda pernah ke gereja Roma dan melihat ke dalam Katedral Saint Petrus, anda akan melihat sebuah patung yang sangat indah yang dibuat oleh Michelangelo, yang disebut Pieta. Di sana anda akan melihat seorang gadis, yang berusia 18 tahun, yang tangannya sedang memegang jenazah Yesus, yang berusia sekitar 33 tahun.

Saya tidak mengerti mengapa terjadi bahwa banyak orang beranggapan usia tua merupakan kurang menarik bagi Allah dan manusia. Bagi saya hidup yang lama, usia yang tua mencerminkan sebuah kemurahan hati yang tidak terbatas yang berasal dari kebaikan sorga.

Apakah anda mengingat stansa ini yang ditulis oleh Robert Browning yang berjudul “Rabbi Ben Ezra?”

 

Bertambah tua sepanjang waktu bersamaku

Yang terbaik yang akan terjadi

Kehidupan akhir

Yang telah dibuat dari awal mulanya

Sebuah masa di dalam tanganNya

Yang berkata, seluruhnya telah Kurencanakan

Engkau telah dipilih namun hanya sebagian

Percayalah kepada Allah, yang melihat semuanya

Jangan pernah takut

 

Jangan takut terhadap tahun-tahun yang terus bertambah. Mereka membawa beserta dengan mereka berkata yang tidak terbatas, sukacita sorgawi, kehadiran Allah di jalan pengembaraan.

Dan saya dapat membayangkan hal itu bagi ibu yang luar biasa ini, Maria: Mazmur yang dia nyanyikan, doa yang dia panjatkan, pengalaman dalam pengembaraan ini. O, Allah!

Hari Penebusan telah datang, Dan nubuatan Simeon telah digenapi dalam hidupnya: “Ya, dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Dan di sanalah dia, berdiri di bawah salib: bagi orang-orang Roma yang brutal dan keras. Salib yang ditinggikan merupakan sebuah pemberitahuan kepada dunia: “Ini adalah seorang penjahat. Ini adalah seorang perusuh. Ini adalah seorang penyamun, seorang pendosa, yang secara benar mati dengan hukuman mati, disalibkan.” Itu adalah makna bagi orang Roma, kayu yang ditinggikan: penyaliban.

Tetapi bagi itu, berdiri di bawah Salib, inilah Anak Allah. Dan kasih seorang ibu tidak pernah berubah.

Dunia bertanya, “Dari manakah anda berasal? Apakah status anda?”            

Pengusaha berkata, “Bagaimana dengan laporan Bank anda? Apakah yang menjadi asset anda?

Masyarakat bertanya, “Apakah keistimewaan anda?        

Sarjana dunia berkata, “Apakah gelar anda?”         

Ibu bertanya, “Apakah anda sesuatu yang dapat saya Bantu?”

Salah satu kisah yang paling aneh dan asing yang pernah saya baca dalam hidup saya adalah ini: Ada seorang wanita yang kejam dan ganas. Dan seorang pria berpacaran dengan dia.

Dan sebuah perintah diberikan kepada pria itu sehingga dia dapat menikahi wanita itu, wanita itu berkata, “Engkau keluarkanlah hati ibumu dan bawalah hati itu kepadaku.”

Dan dia pergi menemui ibunya dan memotong hatinya serta mengeluarkannya, dan ketika dia sedang membawa hati itu di tangannya untuk dibawa kepada wanita yang kejam itu, dia tersandung dan jatuh, dan hati ibunya itu berguling entah bagaimana ke sebuah tempat dan lenyap.

Dan hati ibunya itu berkata, “Nak apakah dirimu terluka? Apakah dirimu terluka?”

 

Seandainya aku digantung

Di atas bukit yang tinggi

Aku tahu kasih siapa

Yang akan tetap mengikutiku

Seandaimya aku tenggelam

Di dalam laut yang paling dalam

Aku tahu air mata siapa

Yang akan turun untukku

Seandainya akau dikutuk

Dalam tubuh dan jiwaku

Aku tahu doa siapa

Yang membuatku pulih

Yaitu ibuku

Ibuku yang kudus

 

Seorang malaikat datang ke sorga Allah untuk membawa kembali ke hadapan Allah Yang Mahatinggi hal-hal yang paling indah di bumi. Dan malaikat memilih sebuah lapisan awan dan sekuntum bunga yang indah dan senyum seorang bayi serta kasih seorang ibu.

Dan ketika malaikat muncul di hadapan Allah untuk mempersembahkan hal yang paling indah di bumi: yang pertama, awan, tetapi hal itu berhamburan dan lenyap; kemudian bunga. Bunga itu telah menjadi layu dan mati; kemudian senyum seorang bayi. Hal itu menghilang lenyap, tetapi kasih ibu telah berkembang di dalam keindahan dan di dalam artinya sepanjang hari-hari yang terus bertambah.         

Di dalam kisah penyaliban Tuhan kita ini, ada sebuah pengorbanan yang menjadi bagian dari Allah Bapa: Dia tidak dapat melihat AnakNya yang menderita dan mati. Dia memalingkan wajahNya.

Dan seluruh alam semesta diliputi kegelapan. Kemudian pengorbanan Anak, yang menderita bagi dosa-dosa kita di atas Salib.

Di sana juga ada pengorbanan itu.

Anda tahu, suatu kali saya pernah bepergian ke Italia, ke Appenies, punggung dari pegunungan Italia.  Dan, tiba-tiba—Saya tidak memiliki ide tentang hal itu—saya melintasi sebuah kuburan militer, sebuah kuburan orang-orang Amerika. Di sana, di Appenies, sebuah makam yang sangat luas, tempat di mana prajurit Amerika yang meninggal dalam perang dikuburkan. Dan saya berjalan di antara makam itu dan menemukan tulisan ini: “Orang-orang ini adalah prajurit-prajurit Amerika kami, yang telah menyerahkan hidupnya bagi kami.”

Anda tahu, saya berpikir di dalam hati saya: “Kembali di Amerika, di sana ada seorang ibu di suatu tempat yang meratap atas seorang anak, yang telah hilang.

 

Pertempuran yang paling berani

Yang pernah diperjuangakan

Haruskah aku memberitahukanmu

Di atas peta dunia,

Engkau tidak akan menemukannya

Hal itu diperjuangkan oleh

Para ibu manusia

 

—Kasih mereka begitu konstan; doa mereka begitu sungguh-sungguh; dan kenangan mereka sangat abadi.

Allah dimuliakan atas ibu-ibu kita yang kudus! Dan, Allah dimuliakan atas ibu anda, yang memimpin anda di dalam jalan Tuhan!

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM