BAGAIMANA  MUNGKIN ALLAH MATI BAGIKU?

(HOW CAN GOD DIE FOR ME?)

Dr. W. A. Criswell

04-20-84

Yohanes 19:16-22

 

Ini adalah tahun ke-enam puluh delapan dimana gereja kita telah mengadakan ibadah siang pra-Paskah. Ibadah ini diadakan di sebuah teater yang berada di pusat kota selama bertahun-tahun. Tetapi ketika teater itu dibongkar, ibadah tersebut dipindahkan ke ruangan gereja di Gereja First Baptist Dallas kita. Ini adalah tahun ke-empat puluh saya memimpin ibadah pra-Paskah ini.

Tema tahun ini diambil dari Injil Yohanes pasal dua puluh satu: “Tuhanku dan Allahku!” Dan, pesannya diambil dari Injil Yohanes. Yang pertama: “Bagaimana Mungkin Allah menjadi Seorang Manusia?” Dan yang kedua: “Bagaimana Mungkin Allah Menciptakan Kembali, Memperbaharuiku?” Dan yang ketiga: “Bagaimana Mungkin Allah Menyelamatkanku Sampai Selama-lamanya? Kemarin: “Bagaimana Allah Bersimpati Kepadaku?” Dan hari ini: Bagaimana Mungkin Allah Bagiku

Pembacaan Kitab suci kita berada di dalam Injil Yohanes pasal 19, dimulai dari ayat 16:

 

Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.

Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus Nazaret, Raja Orang Yahudi. "

Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."

Jawab Pilatus: “Ho gegrapha, gegrapha.”

 

—Sebuah kata yang sangat terkenal yang berasal dari literatur kuno ini: Gegrapha, gegrapha: “Apa yang kutulis, tetap tertulis.” 

Kematian Tuhan kita, penyaliban Tuhan kita, merupakan tujuan dari kedatanganNya ke dalam dunia. Dia datang untuk mati—untuk berkorban dan mati. Di dalam Matius 20:28, Dia berkata bahwa Dia datang untuk memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi kita. Paulus menulis di dalam 1 Timotius 1:15: “Dia datang untuk menyelamatkan orang-orang berdosa, dan di antaranya akulah yang paling berdosa.”

Tujuan dari kedatangan Tuhan kita ke dunia ini adalah untuk menderita dan mati. Hal ini terlihat dalam kesediaan Tuhan kita sebelum penciptaan dunia.

Di dalam Kitab Ibrani pasal sepuluh, itu merupakan sebuah pemandangan yang dinamis di dalam sorga sebelum penciptaan: Dan di situ disebutkan bahwa Kristus Tuhan, Anak Allah menjawab Tuhan Allah yang di sorga, Bapa, dan berkata, “Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu. Sungguh Aku datang, untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu.”

Dia datang berinkarnasi dengan tujuan agar Dia mati bagi dosa-dosa kita. Hal ini terlihat di dalam substansi dari nubuatan yang agung dalam Perjanjian lama.

 

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

                              

Dia datang ke dunia untuk mati bagi dosa-dosa kita. Hal ini terdapat di dalam ucapan malaikat kepada Yusuf : “Engkau akan menamakan Dia Yesus—Pembebas, Juruselamat—Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.”

Hal ini terlihat saat Yohanes Pembaptis memperkenalkanNya kepada dunia: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”  

Inilah tujuan kedatanganNya yang ditemukan dan diilustrasikan dalam permulaan pelayananNya. Dia berkata, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”

Dia berkata kepada Nikodemus, yang datang menemuiNya pada tengah malam di permulaan pelayananNya:

 

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

 

Dia datang untuk mati bagi kita. Hal ini terlihat di dalam pelayanan lanjutan di Galilea. Dia mengajarkan murid-muridNya bahwa Anak manusia harus menderita, diserahkan ke dalam tangan orang-orang berdoa, bahwa Dia harus mati dan pada hari yang ketiga akan bangkit kembali.

Dan di dalam pelayanan Galilea itu, di puncak gunung Dia bertransfigurasi. Dan di sana ada Musa dan Elia yang sedang berbicara dengan Dia tentang “KepergianNya,” kematianNya yang harus Dia genapi di Yerusalem.

Dia datang untuk mati. Dan di dalam hari-hari terakhir pelayananNya, tujuan itu terlihat sangat jelas. Orang-orang Yunani datang dari jauh pada saat perayaan. Dan mereka berkata: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Dan ketika hal itu disampaikan kepada Tuhan tentang kedatangan orang-orang Yunani, hal itu mengingatkan Dia, dan Dia berbicara tentang kematianNya bagi suku-suku dan bangsa-bangsa dan umat manusia di dunia ini: “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.”

Dan pada penghujung hari, Dia diurapi oleh Maria dari Bethani. Dan ketika murid-murid menyalahkan hal itu, Dia menjawab, “Dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu.” 

Dan pada hari yang terakhir itu, Dia melaksanakan ordinansi Perjamuan Tuhan: “Inilah tubuhKu yang dipecah-pecahkan bagi kamu, dan inilah darahKu dari cawan kovenan yang baru, yang dicurahkan untuk pengampunan dosa.”

Dan di dalam kegelapan Getsemani, Dia menangis dengan kuat dan dengan mencucurkankan air mata kepada Dia, untuk tujuan anugerah penebusan, yang untuk hal itulah Dia telah diutus ke dalam dunia. 

Dan akhirnya, tibalah hari Penyaliban: 

 

Ketika Yesus datang ke Golgota

Mereka menggantungNya di atas sebuah pohon,

Mereka memakukan paku yang besar ke dalam tangan dan kakiNya

Dan membuat sebuah Kalvari

 

Mereka memahkotainya dengan mahkota duri,

Merah dari lukanya yang dalam,

Bagi orang-orang yang kasar dan hari-hari yang kejam,

Dan daging manusia yang murah.

Di luar kota

Dia diberi minum anggur asam yang diperas

Dari murka dan hukuman

Allah Yang Mahatinggi

Dan merahnya darah

Memancar keluar

 

Inilah alasan dari kedatanganNya ke dalam dunia—untuk menderita dan mati bagi dosa-dosa kita. Dan inilah injil, yang diberitakan dan disaksikan oleh para martir Kristen yang pertama dan oleh rasul-rasul ke seluruh dunia.

Dunia ini tidak akan menjadi sama lagi karena Yesus telah menderita untuknya dan mati di dalamnya. Di pusat bumi, dan di pusat waktu, para pengkhotbah ini dan rasul-rasul telah menancapkan salib dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Injil mereka menyelamatkan dan melepaskan jiwa kita dari hukuman dosa, hal itu telah sepenuhnya dibayar di atas Salib: Yesus mati bagi kita. Rasul Petrus memberitakannya di dalam 1 Petrus 1: “Sebab kita telah ditebus bukan dengan hal-hal yang dapat binasa, melainkan dengan hal-hal yang tidak dapat binasa, melalui darah yang mahal, yaitu darah Anak Domba Allah.” Paulus mengajarkannya sama seperti yang terdapat di Galatia 6: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus yang telah menyelamatkanku.” Dan Rasul Yohanes yang kudus menulis tentang orang-orang kudus ini, yang telah menemukan perlindungan di dalam Yesus:

… Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam….

….Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.

   

Inilah injil salib. Dan ini menjadi tanda dari iman Kristen dengan tangan yang direntangkan. Sejauh timur ke timur, dari barat hingga barat demikianlah tangan kasih Tuhan kita dibentangkan di dalam anugerah, di dalam kasih karunia, di dalam undangan yang penuh cinta.

Mari, minumlah di sumber air kehidupan. Mari, makanlah manna kehidupan dan hidup selama-lamanya. Mari dan temukanlah penebusan di dalam anugerah penebusan Tuhan kita yang hidup.

Dan bolehkah saya berbicara tentang hal lainnya? Salib, bagi seluruh dunia, membawa kepada kita sebuah keheningan yang besar, jeda yang besar, sebuah refleksi yang besar, sebuah perhatian yang besar.

Orang-orang ini, siapa pun mereka, di setiap daratan yang mereka tinggali, di bawah tekanan dimana hidup mereka dibuang—siapa pun mereka, mereka adalah jiwa-jiwa, mereka adalah umat, mereka adalah seseorang yang untuknya Kristus telah mati. Di dalam sebuah dunia konflik dan kekerasan serta perang, siapa pun mereka, mereka adalah suatu umat dan seseorang yang untuknya Kristus telah mati.

Saya tidak dapat menjelaskan sebuah kesempatan yang sangat pedih ketika saya sedang berkhotbah di Gereja Baptis Moskow, Rusia. Saya berada di Leningrad, menghabiskan waktu seminggu di sana. Dan mereka telah menceritakan kepada saya pengepungan terhadap kota itu dibawah serbuan pasukan Nazi. 

Selama bertahun-tahun mereka tertahan di dalam genggaman perang itu. Dan ratusan bahkan ribuan dari mereka yang meninggal dunia. Mereka membawa saya ke sebuah monument yang terdapat di pinggir kota itu yang menjadi tanda, tempat berhentinya pasukan Nazi.

Ketika saya datang ke Moskow, saya berkhotbah di gereja yang ada di sana, hal itu telah menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan bagi hati saya ketika mereka menjelaskan kepada saya tentang pengepungan yang mengerikan di Leningrad dan ribuan orang yang meninggal dunia di dalam konfrontasi yang mengerikan itu. Dan di dalam khotbah saya, saya tidak merencanakannya—tetapi datang begitu saja ke dalam pikiran saya, saya berbicara tentang perang dan pengepungan serta kematian di Leningrad.

Dan saya membuat sebuah penilaian. Sekalipun itu adalah ibu seorang Rusia, yang meratap atas tubuh anaknya yang mati, atau sekalipun itu adalah ibu seorang Jerman yang meratap atas putranya yang terbunuh, atau sekalipun itu adalah ibu seorang Amerika yang menangis atas anaknya yang telah terbunuh, air mata yang jatuh dari ketiga orang itu adalah sama. Dan kedukaan dari ketiga orang itu adalah berada dalam sebuah ikatan yang umum dari rasa sakit yang sulit untuk diungkapkan.

Kemudian apa yang terjadi adalah—saya tidak pernah mempersiapkan hal itu sebelumnya. Orang banyak yang berkumpul di sana kebanyakan adalah wanita yang sudah tua. Dan ketika saya menyampaikan hal itu, orang banyak itu mulai menangis. Mereka mengambil sapu tangan putih. Dan mereka mengambilnya serta menghapus wajah mereka yang dipenuhi air mata. Itu adalah sebuah pemandangan dan sesuatu yang tetap membekas di hati saya. 

Apa pun itu dan bagaimana pun jadinya, kita selalu terlibat dalam perang—dan saya bukanlah seorang yang tidak cinta damai, saya hanya memberikan pengakuan bahwa siapa pun yang kita hadapi dan bagaimana pun sebuah peperangan dilakukan—sekalipun di sisi ini atau di sisi itu—untuk kedua sisi itulah Yesus mati.

Mereka adalah jiwa-jiwa yang untuknya Yesus telah datang ke dunia untuk melepaskan kita dari perbudakan dosa dan masuk ke dalam sorga.

Saya katakan bahwa kehadiran Salib memberikan kita sebuah jeda. Hal itu akan mendiamkan kita. Kita semua sama ketika kita datang ke Kalvari. Tidak ada yang lebih besar. Tidak ada yang lebih kecil. Tidak ada yang lebih kaya. Tidak ada yang lebih miskin. Tidak ada ketenaran. Tidak ada yang dilupakan. Kita semua sama.       

Saya pikir tidak ada suatu kisah yang berasal dari Inggris yang pernah saya dengar yang lebih benar tentang iman selain dari pada ketika Inggris sangat mengagungkan Iron Duke dari Wellington, karena dia telah melepaskan mereka dari serangan yang dilakukan oleh Napoleon. Pemujaan dan pujian yang diberikan terhadap Duke Wellington melampaui apa yang dapat kita pikirkan. Inggris memuja dan meninggikan pemimpin militer yang luar biasa itu, yang telah membawa kemenangan atas pasukan mereka.

Berdasarkan cara Gereja Anglikan melaksanakan komuni, Iron Duke maju ke depan dan berlutut di hadapan pelayan gereja. Dan ketika dia melakukannya, seorang pria yang kotor dan kumal yang berasal dari jalanan datang dan berlutut di sampingnya. Dan petugas Gereja Anglikan itu berkata kepada pria yang kumal dan miskin itu, “Silahkan anda pindah. Silahkan anda pindah dari sini.” 

Dan ketika Iron Duke mendengar perkataan pendeta itu, dia mengangkat wajahnya dan berkata, “Tuan, biarkanlah dia di situ. Biarlah. Kita di sini, semuanya sama.” Kita adalah jiwa-jiwa. Kita adalah seseorang yang untuknya Kristus telah mati. Kita semuanya.

Dan saya tidak dapat mengakhiri khotbah ini tanpa berkata bahwa Salib—sisi dari iman Kristen ini—tidak hanya sebuah ketenangan yang besar, sebuah perhatian yang besar, itu adalah sebuah undangan yang besar. Di dalam Kitab Ibrani pasal dua belas, penulis kitab ini berkata dengan sangat fasih, bahwa jika seseorang berani untuk menyentuh gunung Sinai dengan  apinya yang menyala-nyala dan goncangannya dan kegelapannya, sekalipun bintang yang menyentuhnya, maka ia akan mati, dan sangat mengerikan pemandangan itu sehingga Musa berkata, “Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.”

Dia berkata bahwa kita tidak datang ke Gunung Sinai—dimana hanya dengan menyentuhnya kita akan mati—tetapi dia berkata, bahwa “kita datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”

Marilah! Datanglah! Setiap orang boleh mendekati Salib, dapat berlutut di hadiratNya, memandang ke dalam wajahNya dan menemukan hidup dan pengharapan serta sorga yang kekal. 

Bolehkah kita berdoa? Oh, Tuhan, berkatilah kami dengan permohonan pengantaraMu—Engkau yang telah mengasihi kami, memberikan diriMu bagi kami, mati untuk menggantikan kami, yang telah dibangkitkan untuk pembenaran kami, dan suatu hari datang untuk kepunyaanMu—Oh, Tuhan, sehingga kami dapat lebih mengasihi Engkau dan melayani Engkau dengan lebih baik! Di dalam namaMu  yang mulia, kami berdoa, Amin.

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM