BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH MATI BAGIKU?

(HOW COULD GOD DIE FOR ME?)

 

Dr. W. A. Criswell

Yohanes 19:16-22

02-19-89

         

            Ini adalah Gereja First Baptist Dallas. Sebuah jemaat yang telah bertumbuh selama seratus dua puluh satu tahun, memandang kepada Allah untuk sebuah penigkatan berkat Pantekosta.

            Dan ini adalah pendeta yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Bagaimana Mungkin Allah Mati Bagiku? Di dalam seri khotbah kita melalui Injil Yohanes, kita telah berada di pasal sembilan belas, di dalam minggu terakhir dari hidupNya di dalam daging dan di dalam dakwaan dan penyaliban Juruselamat kita. 

            Sebagai sebuah latar belakang teks, saya membaca dari Yohanes pasal sembilan belas ayat 16 sampai 22:

 

Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.

Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "YESUS NAZARET, RAJA ORANG YAHUDI. "

Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."

Jawab Pilatus: " Ho gegrapha, gegrapha. (Apa yang kutulis, tetap tertulis)."

 

Kemudian, Yesus mati, seorang Raja, seorang Juruselamat, dan Tuhan yang akan datang dan memerintah.

           Sebelum penciptaan alam semesta, di dalam pikiran Allah dan di dalam tujuan Yang Mahatinggi kita akan ditebus dari dosa. Itu adalah sebuah gambaran yang luar biasa. Sebelum keberadaan dari segala sesuatu, Allah telah menetapkan bahwa kita akan ditebus dari pemberontakan kita.   

            Sebagai contoh, di dalam Kitab Wahyu pasal enam belas merujuk kepada Tuhan kita sebagai Anak Domba yang telah disembelih sebelum dunia dijadikan. Sebelum alam semesta ini diciptakan, Allah telah menetapkan bahwa Juruselamat kita akan menjadi pengantara kita dan korban yang menebus kita. Sulit untuk memahai semua hal ini yang berada di dalam pikiran Allah sebelum semua materi terbentuk.

            Di dalam Kitab Ibrani pasal sepuluh—dari apa yang telah kita baca pada pagi hari tadi—ada sebuah gambaran yang dramatis dari kesukarelaan Tuhan kita di dalam sorga. Sebelum eksistensi dari keberadaan seluruh ciptaan, Dia secara sukarela menyerahkan diriNya untuk menjadi Juruselamat kita. Pembebas kita, Penebus kita.

            Dan ketika kita membaca Firman Suci ini, Kitab Suci Allah, semua nubuatan menuntun kepada Hari Penebusan Yang Mulia itu—dari Eden yang telah jatuh hingga Kalvari. Di dalam hidupNya, dilukiskan di dalam nubuatan, mulai dari palungan hingga ke kuburan dan dari permulaan hidupNya di kandang domba hingga ke kubur tempat Dia dimakamkan, semua itu berdasarkan Hari Penebusan ketika Kristus mati bagi dosa-dosa kita, berdasarkan Kitab Suci. Itu merupakan dekrit, bahwa hukuman Allah sejak semula bahwa kematian akan menjadi hukuman atas dosa. Pemberontakan berakhir dalam kematian.

            Dan telah menjadi dosa universal, kita menghadapi kematian yang universal. “Jiwa yang berdosa harus mati.” “Sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

            Dan bagaimanakah saya dapat dilepaskan dari hukuman yang mengerikan itu serta pengadilan Allah Yang Mahatinggi? Anda tidak dapat menyelamatkan saya. Anda tidak dapat menyelamatkan saya sebab anda mati. Saya tidak dapat menyelamatkan atau melepaskan anda karena saya mati. Kita tidak berdaya, kita membutuhkan pertolongan, mati dibawah hukuman dan kutukan akibat dosa-dosa kita.

            Hanya ada Satu yang dapat membuat penebusan bagi kita. Dan hanya Dia yang tidak berdosa, yang hidupNya suci dan murni. Hanya Allah sendiri yang di sorga yang dapat menebus kita dari pemberontakan kita. Tetapi bagaimana mungkin Allah menderita dan mati bagi kita? Allah sangat agung. KeluasanNya memenuhi seluruh ciptaan. Allah sangat halus. Dia tidak menjatuhkan bayangan di atas cahaya intelegensia. Tujuan Allah sangat luas dan hebat, membutuhkan kekekalan dan durasi sepanjang waktu dan semua batas ruang untuk membawa kepada kesudahan dan hasil yang diperoleh dengan baik.

            Allah sangat hebat, di dalam cahaya, di dalam terang, di dalam kemilau yang gemilang dan nyala api yang membara, bahkan malaikat menudungi wajah mereka dengan sayap mereka dan berdiri dengan jauh dari kemuliaan Yang Mahatinggi.  

            Mungkinkah Allah dapat mati bagi kita? Saya dengan terus terang menyatakan bahwa seluruh teologi dunia, tahu bahwa mereka tidak percaya bahwa Allah dapat menderita, bahwa Allah dapat disentuh dengan segala kelemahan kita, bahwa yang ilahi dapat mengalami rasa sakit dan penderitaan.

            Seluruh teologi dunia percaya akan hal itu. Dan sangat aneh sebab saya tidak percaya akan hal itu. Saya bersyukur kepada Allah di sorga, Allah Yang Mahatinggi, yang telah menempatkan planet-planet ini di dalam ruang angkasa. Saya bersyukur kepada Allah yang telah mengalami rasa sakit dan penderitaan dan kedukaan di dalam rasa sakit serta penderitaan dan kedukaan kita.

            Di dalam Kitab Kejadian, sebagai contoh: Ketika Allah melihat ke atas dunia, yang telah jatuh ke dalam dosa, Alkitab berkata bahwa hal itu memilukan hatiNya. 

           Suatu ketika saya membaca sebuah hal yang tidak biasa: Seorang guru homelitik—seorang professor homelitik, yang mengajar khotbah—memiliki murid-murid, dan menyuruh pengkhotbah-pengkhotbah muda itu untuk berdiri dan membaca kisah kejatuhan di dalam Kitab Kejadian. Dan Allah berjalan-jalan di Taman Eden pada waktu hari sejuk dan tidak menemukan pasangan yang telah Dia ciptakan, Adam dan Hawa. Dan Dia memanggil mereka dan berkata: “Dimanakah engkau, Adam? Dimanakah engkau?”  

            Dan ketika orang-orang muda itu berdiri untuk membaca bagian kitab suci itu, salah satu anak muda membacanya dan menanyakan pertanyaan itu dengan sembrono, “Adam, dimanakah engkau?” Yang lainnya membaca dengan berbeda—tetapi seorang pelayan muda berdiri. Ketika dia membaca bagian itu dan sampai kepada pertanyaan itu, “Adam, dimanakah engkau? Dia membacanya dengan sebuah sedu sedan pada suaranya. Dan professor homilitik itu berpaling kepadanya dan berkata, “Nak, suatu hari engkau akan menjadi pengkhotbah yang hebat.”

            Rasa sakit dan kedukaan yang berada di dalam jiwa Allah disebabkan oleh manusia yang telah jatuh ke dalam dosa di dunia ini! Kadang-kadang saya berpikir bahwa ketika hujan turun, itu adalah air mata Allah yang jatuh. Rasa sakit, kedukaan, dan penderitaan yang dalam karena natur hidup kita yang telah jatuh. Dan karena hal itu kedukaan ada di dalam hati Allah dan kasih Allah kepada kita, yang digerakkan oleh kelemahan kita dan pemberontakan kita sehingga Allah sendiri membuat penebusan bagi jiwa kita. 

            Dan pasal yang sangat luar biasa, yaitu dari Kitab Filipi pasal dua, digambarkan bagaimana Allah melakukan hal itu: “Yesus Kristus yang walaupun dalam rupa Allah’—apapun morphe Allah itu—“Dia yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri.” Dia mengosongkan diriNya ke dalam sebuah tempat, seorang manusia yang dibuat dari debu tanah. Dia telah mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi sama dengan manusia. “Dan mengambil rupa seorang hamba, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”  

            Inkarnasi Allah secara sukarela menyerahkan diriNya sendiri kepada siksaan dan kengerian serta penderitaan dari salib—sehingga di dalam kematian, Dia dapat menaklukkan dia yang memiliki kuasa kematian dan membebaskan kita dari pemberontakan kita, dan kesalahan kita serta dosa-dosa kita. Dan itulah sebabnya Allah mati bagi saya. Dan drama dari penebusan itu dilukiskan dengan sangat berkesan di dalam Firman Allah yang Suci: bagaimana Dia membuat penebusan atas dosa-dosa kita.

           Yang pertama, saya akan berbicara tentang prosesinya di Via Dolorosa, sebagaimana Dia bergerak di antara orang banyak, kumpulan manusia yang sangat besar jumlahnya. Raja Penderitaan dituntun ke dalam takhta kedukaanNya. Para malaikat di sorga melihatNya. Roh-roh mengamati Dia dari jendela kemuliaan. Dan Allah Bapa mengikuti gerak majuNya. Dan mereka membawaNya ke puncak bukit yang disebut Golgota.   

            Ada tiga kejadian si sepanjang jalan itu. Yang pertama, mereka menanggalkan jubahNya, dan mengolok-ngolokkan Dia. Dan mengenakan pula pakaianNya kepadaNya. Saya berpikir bahwa mereka melakukan itu supaya Dia tetap dikenali oleh orang-orang. Seandainya Dia mengenakan jubah ke Kalvari, banyak orang mungkin tidak akan mengenali Dia. Mereka mengenakan pakaianNya sendiri. Ini adalah Yesus Nazaret yang sama. Mereka menanggalkan segala sesuatu yang ada padanya kecuali mahkota duri, mahkota yang telah dipenuhi oleh tetesan-tetesan darah.

            Kedua, ketika Dia berjalan ke Kalvari—Via Dolorosa, Jalan Penderitaan—Dia jatuh dibawah salib yang berat itu. Dan mereka memaksa seorang asing yang datang dari daerah yang hendak masuk ke dalam kota Yerusalem, seorang pria yang bernama Simon dari Kirene untuk memikul salib Yesus.

            Dimanakah Simon Petrus, seseorang yang berkata, “Seluruh dunia mungkin akan menyangkal Engkau, tetapi aku tidak akan menyangkal Engkau,” dan “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak?” Dimanakah dia? Simon ini yang berasal dari Afrika Utara—dari Kirena yang ada di Afrika Utara—mereka memaksanya untuk memikul salib Yesus.

            Dan tidakkah anda tahu, dari Markus pasal lima belas dan dari kitab Roma pasal enam belas, dia menjadi lebih dekat kepada Yesus dan memikul salib Tuhan Yesus—bersama dengan keluarganya menjadi orang-orang Kristen yang indah, pengikut Kristus? Markus menyebutkan nama anak-anaknya, Rufus dan Aleksander. Paulus berbicara tentang ibu mereka, istri Simon.

Bukankah itu sebuah hal yang tidak biasa, bagaimana penderitaan dan salib seringkali membawa kita lebih dekat kepada Allah? Jika anda memikul sebuah salib, jika anda mengetahui sebuah beban penderitaan, anda memiliki rombongan yang hebat. Anda berada di dalam rombongan Tuhan Yesus. Anda berada di dalam rombongan Simon dari Kirene. 

           Suatu kali seorang pengusaha—seorang pengusaha sukses—memberikan hidupnya dan kekuatannya kepada usaha, uang, pengaruh dan kesuksesan—tiba-tiba jatuh. Setiap orang dari kita dapat mengalami hal itu sewaktu-waktu. Dia memanggil saya, dia berada di sana, lumpuh dan tidak berdaya, dia berkata, “Saya telah membuat kesalah besar di dalam hidup saya. Saya telah memberikan kekuatan hari-hari saya kepada uang dan kesuksesan. Dan saya telah meninggalkan Allah di dalam hidup saya. Pendeta, berdoalah untuk saya.”  

Saya berdoa, berlutut di sebelahnya, dan meminta kepada Allah untuk mengampuninya, dan datang ke dalam hatinya. Dia memberikan respon yang indah dan menambahkan, “Dan saya ingin dibaptis. Saya ingin maju di hadapan jemaat anda dan memberi pengakuan tentang iman saya. Saya telah menemukan Tuhan.”    

            Lalu, bagaimana anda dapat membaptiskan seorang yang lumpuh? Dia bersikeras untuk itu. Kemudian saya memanggil para diaken dan berkata, “Kita akan membawa dia ke rumah Allah. Dan anda akan membantu saya. Kita akan membaptiskannya dalam nama Allah Tritunggal.”

            Kadang-kadang, hal-hal yang luar biasa yang pernah datang ke dalam hidup anda, yaitu ketika anda memikul sebuah salib dan ketika anda menunduk di bawah beratnya penderitaan dan kekecewaan.

            Hal yang ketiga: Pada jalan salib, perempuan-perempuan mengikutiNya sambil meratap. Saudara yang terkasih, saya beritahukan kepada anda, apa yang saya temukan minggu ini. Mengapa saya tidak pernah melihat hal itu sebelumnya setelah saya menjadi pendeta selama enam puluh dua tahun, saya tidak tahu. Di dalam kisah penginjilan Tuhan kita—di dalam empat injil—tidak ada seorang wanita yang mencela atau menyangkal atau mengejek atau mencemoohkan Tuhan Yesus. Tidak ada seorang pun. Para prialah yang mengutuk Dia. Mereka menyumpahiNya. Mereka mengejekNya. Dan akhirnya, mereka menyalibkan Dia. Di dalam Alkitab, tidak ada wanita yang melakukan hal itu—apa yang mereka lakukan adalah menangis. Mereka meratap seiring mereka mengikuti prosesi ke Kalvari. Dan ketika mereka meratap, Tuhan berkata kepada mereka, “Janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!”

Sangat menakjubkan bagimana Allah sangat peka terhadap wanita—dia memberkati mereka. Dia meminta supaya Allah mengingat anak-anak mereka. Dia telah menyembuhkan mereka. Dan di dalam momen penderitaan itu, dia berkata: “Tangisilah dirimu sendiri. Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata, “Berbahagialah perempuan yang mandul dan rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.”’ Sebuah nubuatan tentang kehancuran bangsa itu yang digenapi pada tahun 66 A.D, dan mencapai puncaknya pada tahun 70 A.D, dibawah serangan Titus. Dan orang itu tidak akan terbunuh atau dijual ke dalam perbudakan. “Tangisilah dirimu sendiri.” Kelembutan hati dari Tuhan kita. 

Dan akhirnya mereka tiba di Kalvari, dan di sini, bolehkan saya berbicara tentang tiga hal? Yang pertama, Dia disalibkan di luar kota, bukan di dalam. Di luar. Korban penghapus dosa dibakar, berakhir di luar kota. Tidak ada korban penghapus dosa di daerah yang kudus, di kemah suci, di bait Allah. Di atas altar, hanya persembahan yang manis diberikan kepada Allah. Tetapi korban penghapus dosa di bawa keluar perkemahan—di luar kota—dan dibakar di hadapan Allah. 

            Ketika saya mempelajari hal itu dalam minggu ini, saya sangat terkejut terhadap jumlah yang disebutkan di dalam Alkitab bahwa korban penghapus dosa digambarkan dengan sangat teliti. Hal itu dijelaskan dalam Keluaran 29, di dalam Imamat 4, di dalam Imamat 8, dan di dalam Imamat 16. Dan dijelaskan kembali, seakan hal itu tidak cukup, di dalam Bilangan 19. 

Di luar kota, dan Yesus, korban penghapus dosa kita, disalibkan di luar kota—bahkan tidak di dalam tembok yang tertutup dan di dalam ras yang tertutup atau sebuah bangsa. Dia dipersembahkan di luar kota bagi seluruh dunia, bagi semua umat manusia.

            Yang kedua:Dari jam dua belas siang, hingga jam tiga sore, kegelapan meliputi seluruh permukaan bumi. Manusia melihat ke atas penderitaan Tuhan kita, tetapi alam menolak untuk melihatnya. Manusia melepaskan pakaianNya dan membuat Dia telanjang dan membuang undi atas jubahNya. Dan sebuah tangan yang tidak terlihat menyelubungi Tuhan kita dengan kegelapan, untuk menyembunyikan tubuhNya yang telanjang. Kegelapan membungkus rasa sakit dan penderitaan Juruselamat kita. 

            Bumi berkata, “Aku tidak dapat menggambarkannya. Aku tidak melihatnya.”

Kegelapan menutupi salib Tuhan kita. Allah memalingkan wajahNya dan langit berkata, “Aku tidak melihatnya.”

            Dan seperti yang anda tahu, semua murid-murid meninggalkanNya dan melarikan diri. “Kita tidak pernah melihatnya, penderitaan yang tidak terkatan dari Tuhan kita.”

Dan ketika Dia mati, Dia mati dalam sebuah cara yang tidak pernah anda pikirkan.

            Imam besar dan orang Farisi serta ahli-ahli Taurat datang dan berkata: “Sesuai dengan setting matahari, dalam beberapa jam, merupakan Sabat Kudus dan jika para penjahat itu berada di sana, mereka akan mencemari kita.”

            Betapa merupakan sebuah hal yang asing! Mereka baru saja bersalah tentang kejahatan terbesar di dalam kisah yang kudus. Dan kemudian mereka gentar di hadapan sebuah perayaan yang akan mencemarkan hari Sabat. Untuk memenuhi permintaan mereka, Pilatus mengirim prajurit untuk mematahkan kaki mereka, untuk membunuh mereka segera. 

            Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus, Dia telah mati, dan mereka tidak mematahkan kakiNya. Tetapi salah satu prajurit mengambil sebuah tombak dan menusuk lambungNya. Dan ketika dia menarik tombak itu, segera mengalir keluar darah dan air. Yesus mati dari sebuah hati yang remuk, sebuah hati yang pecah. Dan darah itu tertampung di dalam selaput jantung,  kantung yang ketika hati hancur maka dia akan terpisah—darah kemudian mengental.

            Dan Yohanes berbicara panjang lebar tentang apa yang dia lihat. Dia melihat hal itu, mencatatnya dan catatannya itu benar. Dan dia menulis hal itu agar anda percaya—darah dan air—darah tebusan bagi dosa-dosa kita dan air yang membersihkan jiwa kita.

 

Biarkan darah dan air

Yang mengalir dari lukaMu

Karena dosa, mereka menjadi obat yang ganda

Yang menyelamatkanku dari murka dan membuatku suci

 

            Dan yang terakhir, lipatan ketiga respon yang terjadi: yang pertama, penjahat yang berada di sisiNya. Merupakan hal yang luar biasa sebuah perbedaan yang dapat dibuat oleh salib di dalam kehidupan manusia. Kedua penjahat itu kelihatannya sama, seimbang secara formal—Yesus berada di tengah dan kedua penyamun itu berada di sisiNya. Mereka kelihatannya sangat sama. Tetapi salah satu dari mereka mengutuk Tuhan: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami.”

           Dia tidak memiliki pertobatan atas dosanya. Kemudian, dia merasa tidak membutuhkan seorang Juruselamat. Seandainya dia bebas, dia berharap dapat kembali ke dalam kehidupannya yang lama dan melakukan kejahatan yang sama lagi.   

            Apakah anda membaca di dalam surat kabar minggu ini? Ada seorang pria yang didakwa di depan pengadilan karena inses, memperkosa putrinya yang berusia enam belas tahun di rumahnya. Dan ketika dia berada sebuah jaminan, menunggu dakwaan, dia memperkosa kembali gadis itu. Inses! Putrinya sendiri yang berusia enam belas tahun! Seperti itulah penjahat ini. Seandainya dia bebas, dia akan melakukan hal yang sama lagi.

            Penjahat lainnya berkata, “Tuhan, kami selayaknya dihukum. Kami layak mati atas kejahatan kami. Tetapi, Tuhan, ketika Engkau masuk ke dalam kerajaanMu, Tuhan, maukah Engkau memanggil namaku? Maukah engkau mengingatku? Maukah Engkau memperkenalkanku? Maukah Engkau membuka pintu bagiku?”

            Dan Tuhan membalas: “Semeron”—“Hari ini!” “Hari ini!”  “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di firdaus.”

            Saya telah ditanya minggu yang lalu, “Apakah kita akan saling mengenal di dalam sorga?”         

            Saya menjawab, “Ketika Tuhan masuk ke dalam kemuliaan, Dia bergandengan tangan dengan penyamun itu, apakah anda berpikir mereka saling mengenal satu sama lain?” Saudaraku, kita sungguh-sungguh tidak mengenal satu sama lain, hingga kita berada di sorga.   

            Dan yang terakhir. Sebuah balasan lipatan yang kedua: Di dalam Kitab Ibrani pasal enam, disebutkan bahwa orang yang menolak anugerah Allah mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum. Orang-orang yang menolak kasih dan pengampunan serta penebusan dari Tuhan kita akan bersalah karena menyalibkan Dia kembali dan dia akan berdiri di pengadilan Allah Yang Mahatinggi. Anda bersalah terhadap kematian Tuhan kita, Anak Allah. 

            “Oh, Kristus!  Saya tidak dapat memahami kasihMu yang sangat melimpah, orang-orang banyak yang menghina Engkau, penjahat yang menghujat Engkau dan para prajurit yang membuang undi atas jubahMu. Kemudian di dalam kasihMu, Engkau mati bagi mereka semua.” Tetapi, oh sahabatku, betapa tragis menjadi orang yang bersalah terhadap penyaliban Juruselamat kita!

Dan di sisi yang lain: Dia menundukkan kepalaNya dan berkata, “Sudah selesai,”  dan menyerahkan nyawaNya kepada Allah. Ini adalah periode puncak Allah dan poin yang menjadi seruan dari semua nubuatan dan tujuan Allah selama berabad-abad. Dari permulaan hingga akhir, inilah penebusan Allah terhadap dosa-dosa kita. Bagaimana Allah mati bagi saya. 

            Dan tidak seorang pun yang dapat berkata lebih baik dari pada apa yang disampaikan Rasul Paulus di dalam 2 Korintus 5:19, yang memohon anugerah Allah di kepada dunia ini, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.

            “Jadi, kami ini adalah utusan-utusan Kristus dan pelayan-pelayan Kristus, menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah….

            “Sebab Allah berfirman: Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenaan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Sekarang. Kemuliaan yang sekarang.

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM