SALIB DAN MAHKOTA

(THE CROSS AND THE CROWN)

 

Dr. W. A. Criswell

Yohanes 19:14-22

10-15-72

 

Bukalah Alkitab anda di dalam Injil Keempat, yaitu Injil Yohanes. Dan kita akan membaca dua bagian dari Injil Yohanes. Yang pertama dari pasal delapan belas ayat tiga puluh tiga hingga ayat tiga puluh tujuh. Dan bagi anda yang sedang bergabung dalam ibadah ini melalui siaran radio, ambillah Alkitab anda. Jika anda telah mendapatkannya, bergabunglah bersama dengan kami dan kita semua akan membacanya dengan nyaring secara bersama-sama—Yohanes 18:33-37. Sekarang mari kita baca bersama-sama:

 

Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?"

Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"

Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?"

Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."

Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."

 [Yohanes 18:33-37].

 

Sekarang kita akan berpaling ke dalam pasal sembilan belas. Dan kita akan mulai membaca dari ayat empat belas hingga ayat dua puluh dua. Dan judul khotbah kita adalah SALIB DAN MAHKOTA—Yesus Raja mati di atas kayu salib. Sekarang bagian kita di dalam Injil Yohanes pasal sembilan belas, kita akan mulai baca dari ayat empat belas hingga ayat dua puluh dua. Sekarang mari kita baca bersama-sama—

 

Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu!"

Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.

Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "YESUS NAZARET, RAJA ORANG YAHUDI. "

Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."

Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis." [Yohanes 19:14-22]. 

 

Pilatus menjawab, [ho] gegrapha, gegrapha.—“Apa yang kutulis, tetap tertulis.”  SALIB DAN MAHKOTA—Tulisan yang ditempatkan di atas salib Kristus adalah: YESUS NAZARET, RAJA ORANG YAHUDI (Yohnanes 19:19). Dan dia memutuskan  demikian sehingga semua dapat membacanya dan dia menulis dalam bahasa orang-orang yang mungkin akan berkumpul di sana dari tempat yang jauh, yang kebanyakan ingin menghadiri perayaan Paskah. Dia menulisnya di dalam bahasa Ibrani. Dan dia menulisnya dalam bahasa Yunani. Dan dia menulisnya dalam bahasa Latin. Dan ketika disarankan kepada Pilatus untuk mengubah tulisan itu, Pilatus berkata dalam ketetapan dan keputusan yang final : “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yohanes 19:22). Dan di atas salib  Tuhan kita terdapat tulisan dalam tiga bahasa, “Inilah Yesus raja.” Hari ini, tidak ada sebab dan keberatan untuk menulis tulisan itu dalam setiap bahasa. Sebab bahasa salib bersifat universal. Hanya dengan melihatnya saja, akan segera diketahui sama seperti injil anugerah dari Anak Allah. 

Suatu kali, saya berada di Oberammergau [Jerman], duduk di sana dengan ribuan orang lainnya yang sedang melihat Passion Play yang terkenal itu.  Banyak orang di sana yang tidak mengerti bahasa Jerman. Tetapi setiap orang yang hadir tahu bahasa salib. Sebab di dalam ribuan lidah, kisah itu telah diceritakan. Kematian Juruselamat kita sebagai seorang raja.

Danm Pilatus menulisnya dalam bahasa Ibrani. Itu adalah bahasa agama. Dan iman Kristen itu sendiri memisahkan dirinya dari semua agama-agama yang ada di dunia ini. Sesuatu yang unik, berbeda, terpisah, karakteristik dan tampilan agama Kristen adalah seperti ini. Bahwa di dalamnya ada Kristus. Jantung dari agama itu adalah Kristus. Substansinya adalah Kristus. Injil adalah Kristus. Agama itu bukan tentang diriNya. Bukan etika tentang Dia. Bukan filsafat tentang Dia. Bukan sesuatu yang lain kecuali hanya Dia. Iman adalah Yesus, Kristus. Hal itu tertulis dalam bahasa Ibrani. Inilah Yesus, Raja, Raja dan Tuhan di dalam hati manusia, dari jiwa manusia, dari seluruh penghakiman dan seluruh alam semesta. Yesus adalah sesuatu yang berbeda dan unik dari yang lainnya. Ketika saya melihat sebuah Kitab dan di depan kitab itu ada gambar dari pemimpin-pemimpin agama dunia. Akan ada gambar Muhammad. Akan ada sebuah gambara Zoroaster. Akan ada sebuah gambar Konfusius. Akan ada sebuah gambar Maharesi. Dan ada sebuah gambar dari Lao Tse. Dan akan ada sebuah gambar dari pemimpin-pemimpin agama dunia lainnya. Dan juga akan ada sebuah gambara Tuhan Yesus. Dan buku itu bertujuan untuk memberikan kisah dari para pendiri agama dari iman yang besar dan yang ada pada masa sekarang. Dan ketika saya melihat sebuah hal seperti itu, saya merasakan sesuatu di dalam hati saya bahwa itu adalah sebuah kekerasan dari penilaian keyakinan. Yesus tidak boleh ditempatkan dalam kategori yang sama sebagai seorang filsuf seperti seorang Sokrates atau pendiri agama seperti Muhammad. Perbedaan anatara Yesus dan Muhammad adalah sama seperti perbedaan antara siang dan malam, antara langit dan bumi, antara atas dan bawah, antara timur dan barat. Hal itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa iman dan kepercayaan: Inilah Yesus seorang raja. Tulisan itu ditulis dalam bahasa Yunani, bahasa budaya dan seni. Oh, betapa banyak iman tentang Tuhan kita yang masuk ke dalam karya yang terkenal dan substansi dan badan serta stuktur peradaban barat. Jika anda mengambil Yesus keluar dari kehidupan modern, peradaban barat itu merupakan sebuah kekacauan. Ia tidak berarti apa-apa. Fondasi kebenaran yang utama telah dibangun atas peradaban barat yang telah didirikan, yaitu kebenaran itu ditemukan di dalam iman kepada Yesus. Hal itu benar di dalam dunia seni. Hal iu benar di dalam seni. Hal itu benar di dalam lagu. Hal itu benar di dalam literatur. Tetapi kata itu juga ditulis dalam bahasa Latin.  Tuhan adalah seorang raja di dalam bahasa negarawan dan pemerintahan. Khotbah di Bukit merupakan sikap etika terbaik yang diajarkan oleh Yesus yang merupakan model dari setiap kebaikan yang dilakukan oleh anak-anak Allah di dunia ini. Itu merupakan keagungan itu sendiri. Dan Tuhan kita di atas salib, di dalam bahasa Latin, dan di dalam bahasa Yunani, dan di dalam bahasa Ibrani ditinggikan sebagai seorang raja.  

Inilah Yesus, Raja Orang Yahudi. Lalu, itu adalah sebuah pendahuluan bagi kemuliaan, dan pengagungan yang luar biasa terhadap Tuhan kita. Sesungguhnya tidak ada hal lain di dalam teologi yang akan melampaui gerakan yang luar biasa dalam bagian yang ditulis oleh Rasul Paulus di dalam Kitab Filipi pasal yang kedua:

 

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit—kumpulan sorga yang mulia—dan yang ada di atas bumi—seluruh ciptaaan— dan yang ada di bawah bumi—dalam dunia yang lain, yang berada di bawah kita—

Dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!  [Filipi 2:8-11]. 

 

Yesus adalah raja yang kekal dan Universal.

Dan di dalam Kitab Ibrani pasal dua belas ayat yang kedua, penulisnya berkata bahwa Tuhan kita, “Sukacita yang disediakan bagi Dia—hadiah yang besar yang telah disediakan Allah bagi Dia—yang dengan  mengabaikan kehinaan tekun memikul salib, dan sekarang Dia duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:20. Inilah Raja Yesus—mati di atas kayu salib, ditinggikan di sebelah kanan Allah, dan Raja universal dari seluruh ciptaan. Sekarang, kebenaran dari pesan itu. Di atas salib, pangkat kerajaan dari Tuhan kita Yesus. Di dalam kebenaran pesan itu, seluruh masa,  zaman dan abad-abad menegaskan anugerahNya dan kuasanya yang mulia—salib dan mahkota. Seorang raja disalibkan, dibangkitkan dan ditinggikan. Hal itu tertulis di dalam bahasa Latin, bahasa pemerintah. Di dalam salib Kristus, di dalam ketaatan dan penderitaan Tuhan kita, kita menemukan kunci yang sangat hebat kepada pemerintahan yang universal dan perdamaian yang universal.

Saya dapat mengingat dengan jelas Perang Dunia Pertama. Dan itu meninggalkan bangsa Jerman dalam sebuah kekacauan. Sukar bagi kita untuk membayangkan penghinaan yang dalam, kehancuran, beban yang mengerikan dari sebuah bayaran dan dari pengabaian dan sikap yang menghina dari seluruh dunia yang ditujukan terhadap masyarakat Jerman. Dan hal itu berakar di dalam generasi Jerman—di dalam kehidupan nasional, sebuah kebencian terhadap seluruh dunia. Dan kebencian itu disimbolkan dalam sebuah patung—sebuah patung batu yang didirikan masyarakat Jerman di perbatasan Polandia. Itu adalah patung seorang wanita, yang sedang berpikir dengan ketetapan hati menghadapai bangsa Polandia. Dan di bawah patung wanita itu tertulis kalimat ini: “Tidak pernah lupa, Jerman, dari kebencian yang telah merampok engkau. Menunggu waktu yang akan membalas rasa malu dari perbatasan yang berdarah ini.” Dan di bawahnya  tertulis nama-nama kota yang pernah dikuasai oleh Prusia, propinsi Jerman Timur dan yang sekarang menjadi milik Polandia. Dan di dalam kebencian itu, di dalam kepahitan itu, dan di dalam kedengkian itu, ditempatkan di sana di dalam sebuah batu yang membangkitkan benih yang terpendam, yang di dalam semangat Hitler hal itu tumbuh berkembang hingga akhirnya dimiliki oleh seluruh jiwa dari orang-orang Jerman. Dan selanjutnya diikuti oleh kengerian yang luar biasa dan pertumpahan darah dan perang yang dahsyat serta kematian di dalam Perang Dunia Dua.  Sebaliknya, beberapa orang dari anda telah melintasi pegunungan Andes yang memisahkan Chili dari Argentina. Dan melalui rute udara di atas Andes, pilot secara hati-hati akan menunjukkan kepada anda “Kristus dari Andes.” Di atas salah satu gunung yang tertinggi di dunia itu, ada sebuah patung Kristus yang hidup—dan salib. Dan setelah bertahun-tahun peperangan antara Chili dan Argentina, di atas garis perbatasan antara dua negara itu, persemakmuran dari kedua negara itu dibangun salib dan patung Kristus itu. Dan inilah tulisan yang terdapat di dasar patung itu: “Lebih baik gunung-gunung ini akan hancur ke dalam debu tanah dari pada Argentina dan Chili menghancurkan perdamaian yang telah mereka ikrarkan di bawah kaki Kristus, Penebus kita.” Kata-kata itu ditulis dalam bahasa Lati, bahasa pemerintah—“Inilah Yesus Raja.” Dan semua pemerintahan yang benar di dasarkan atas semangat pengorbanan dan kasih serta pencurahan hidup.  

Dan bayangan dari kebenaran itu telah jatuh melintasi seluruh budaya dan seni dunia. Dia dinobatkan sebagai seorang raja di dalam bahasa Yunani. Dan betapa merupakan sebuah perbedaan yang dibuat oleh semangat Kristus di dalam bentuk seni dan literatur dan ekspresi musik dari seluruh dunia. Sebagai contoh, jika anda pernah berada di Florence Italia, anda akan mengunjungi Biara St. Mark.  Saya ingin kesana lebih karena Savonarola, pijar, ciptaan yang luar biasa, utusan Allah dalam pra-Reformasi. Savonarola adalah seorang biarawan di Biara St. Mark. Dan dia hidup dalam sebuah sel yang kecil yang terdapat di biara itu dan memiliki lorong menuju Katedral  Great Duomo.  Dan disana ada sebuah nyala api yang hidup yang memberitakan injil sebagai kuasa yang menyelamatkan. Jadi ketika kita berkeliling di sekitar Biara St. Mark dan melihat sel-sel kecil itu—tempat kecil dimana biarawan tinggal, itu merupakan sesuatu yang mengagumkan. Itu sukar untuk dipercayai. Saya tidak melihat bagaimana seseorang dapat melakukan apa yang telah dilakukan oleh seorang biarawan di biara itu. Sel-sel mereka, ruangan mereka yang kecil itu ditutup dengan lukisan sorgawi. Lukisan yang sangat indah, lukisan yang sangat luar biasa. Beberapa pertunjukan seni di dunia berada di dinding kayu yang menjadi ruangan para biara itu, sel-sel yang kecil itu. Apa maksud dari hal itu? Apa maknanya. Ini adalah bukti dari maksud hal itu. Ketika biarawan tinggal di sana, di dalam sel itu, dan ketika dia berdoa dan ketika dia memuji Allah dan ketika dia membaca Kitab Suci, pikirannya dan jiwanya terangkat naik dan semakin naik ke atas. Dan akhirnya memiliki temperamen artis , dia menggambar lukisan  dari mimpi yang ada di hatinya dan penglihatan yang ada di jiwanya. Dan anda ketika anda melihat lukisan itu. Lukisan itu adalah para malaikat dan penghuni sorgawi serta kemuliaan Allah. Dan ketika anda berkeliling dan melihat hal-hal ini, anda akan terkesan dengan  pikiran dan hati orang-orang yang saleh itu, manusia yang berpusat pada mimpi dan melihat suatu visi dan melukiskannya dalam bentuk seni yang luar biasa.

Hal itu benar di dalam musik. Beberapa musik yang agung di dunia ini ditulis oleh orang yang mengasihi Allah dan menyembah Kristus. Sekarang, singkirkanlah Kristus dari hal itu. Keluarkan dia dari hal itu. Dan lihatlah bentuk seni yang jorok yang kita temukan pada hari ini—di atas panggung, di film keluarga, di dalam ribuan cara lain. Novel ruang angkasa—sampah modern dan kotor yang berada di literatur modern. Hal itu ditulis dalam bahasa Yunani, di dalam bahasa seni. Dan dimanapun ada pangkat raja dan kebangsawanan dan pengagungan dan hal-hal sorgawi, di sana anda akan menemukannya, salib Kristus dan bayangan Tuhan kita, Yesus Raja yang menguasai  seni dan literatur serta musik dunia. 

Dan yang terakhir, tulisan itu ditulis dalam bahasa Ibrani. Bayangan dari iman yang benar atas jiwa dan hati manusia. Tuhan kita mengundang untuk “Datang, memikul salib dan mengikut Dia” (Matius 16:24). Mati terhadap diri sendiri sehingga anda dapat hidup untuk Allah. Oh Tuhan, mati bagi diri sendiri, ada sebuah bagian yang mengkritik permainan di dalam hidup kami. Baik. Baik. Itu akan menjadi watak kami. Itu akan menguatkan kami. Itu akan memberikan dorongan di dalam jiwa kami. Ada sebuah bagian yang mengkritik permainan di dalam hidup kami yang telah disalibkan. Kekecewaan dan frustasi. Baiklah. Adan sebuah bagian di dalam penyaliban hidup bahwa frustasi dan kekecewaan akan bermain. Gagal. Baiklah. Ada sebuah tempat yang gagal yang berdiam di dalam hidup kami di bawah bayangan salib. Oh, saudara yang terkasih, ketika saya memikirkan hidup Yesus di dalam berbagai cara dan di dalam berbagai kesempatan Dia gagal, keberatan dan mendapat malapetaka. Dia gagal dengan orang muda yang kaya—tidak dapat meraihnya sama sekali. Dia gagal dengan para pemimpin pada masaNya. Dia gagal dengan umatNya di dalam bangsaNya sendiri. Di dalam faktanya, jika ada seseorang yang kasar dan tidak percaya, seorang yang kafir, dia dapat menunjuk kepada kehidupan Tuhan kita sebagai contoh kegagalan. Salib.  

Tetapi Dia adalah seorang raja. Di adalam kematianNya, Dia adalah seorang raja. Di dalam penderitaanNya, Dia tetap seorang raja. Di dalam eksekusiNya, Dia adalah seorang raja. Sebab itu adalah cara sehingga kita dapat hidup.

“Yang pertama adalah Salib, dan kemudian, Mahkota”

Hidup adalah sebuah beban; pikullah;

Hidup adalah sebuah tugas; beranilah;

Hidup adalah sebuah mahkota duri; kenakanlah,

Sekalipun itu menghancurkan hatimu dalam kesakitan;

Sekalipun beban meremukkanmu hingga jatuh’

Tutuplah bibirmu, dan sembunyikan rasa sakitmu,

Yang pertama adalah Salib, dan kemudian Mahkota.

 [Father Ryan, “A Thought”]. 

Inilah Yesus, seorang raja. Dan bayangan kebenaran itu jatuh atas seluruh kehidupan manusia. Jika kita memerintah bersama dengan Dia, kita harus menderita bersama dengan Dia. Jika kita hidup bersama dengan Dia, kita harus mati bersama dengan Dia. Jika kita mendiami kerajaan bersama dengan Dia, kita harus disalibkan bersama dengan Dia. Salib dan kemudian mahkota. Inilah Yesus, Raja. Mengapa ketika anda memikirkan hal-hal ini, anda ingin mengumumkannya. Marilah—

Semua menyambut kuasa nama Yesus!

Biarkan para malaikat bersujud

Membawa mahkota kerajaan

Dan memahkotaiNya sebagai Tuhan atas semua.

Biarlah setiap keluarga, setiap suku bangsa

Di atas pusat daratan ini,

Bagi Dia semua keagungan ditujukan,

Dan memahkotaiNya sebagai Tuhan atas semua

 [Edward Perronet, “All Hail the Power of Jesus’ Name”]. 

Apa yang akan anda nyanyikan hari ini? Mari kita menyanyikannya. Mari kita menyanyikan: “Semua Menyambut Kuasa Nama Yesus.” Mari kita menyanyikan lagu itu. Nomor berapa pun itu. Kita tidak membutuhkan nomor. Kita akan menyanyikannya dari kasih yang mengalir di dalam hati kita: “Semua Menyambut Kuasa Nama Yesus”—Raja Yesus. Dan ketika kita menyanyikan lagi seruan itu, bagi anda yang berada di sekitar balkon, dan bagi anda yang berada di lantai bawah, anda yang mengasihi Tuhan, ikutilah Dia dalam jalan kemuliaan dari dunia ini ke dalam dunia yang akan datang. Turunlah melalui salah satu tangga ini, ke dalam salah satu lorong ini, untuk maju ke depan, katakan, “Pendeta, saya membuatnya sekarang. Saya bergabung dengan anda dan jemaat ini di dalam pengembaraan menuju kemuliaan. Dan inilah saya. Inilah seluruh keluarga saya. Kami datang semua; atau hanya anda. Ketika kita menyanyikan himne ini, lakukanlah sekarang. Buatlah sekarang. Datanglah sekarang. Ketika kita berdiri dan menyanyikan lagu ini.  

Semua menyambut kuasa nama Yesus!

Biarkan para malaikat bersujud

Membawa mahkota kerajaan

Dan memahkotaiNya sebagai Tuhan atas semua.

Biarlah setiap keluarga, setiap suku bangsa

Di atas pusat daratan ini,

Bagi Dia semua keagungan ditujukan,

Dan memahkotaiNya sebagai Tuhan atas semua

 [Edward Perronet, “All Hail the Power of Jesus’ Name”].

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM