KRISTUS RAJA YANG KEKAL

(CHRIST, THE KING OF FOREVER)

 

Dr. W. A. Criswell

04-01-88

Yohanes 19:14

 

Khotbah pada hari minggu adalah: “Kemuliaan Iman Premilenial,” bahwa Dia segera datang; pada hari berikutnya, Selasa: “Mengapa Saya Menjadi Seorang Premilenialis”; Dan pada hari Rabu: “Tanda-tanda KedatanganNya”; dan kemarin: “Waktu Berada di Jam Allah”; dan pada hari ini: Kristus, Raja Yang Kekal

Di dalam Injil Yohanes pasal delapan belas dimulai dari ayat tiga puluh tiga—Yohanes 18:33:

 

Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?"

Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?"

Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?"

Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."

Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja.”

 

Itu adalah penegasan yang paling kuat di dalam bahasa Yunani: Dengan mengulangi pertanyaan orang itu—“ Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku."

Sekarang di dalam Kitab Yohanes pasal sembilan belas, dimulai dari ayat 14: “Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas.”

Di dalam mempersiapkan khotbah ini, saya berpikir, hal itu sangat tidak biasa. Ini adalah persiapan Paskah. Yohanes menggunakan waktu Roma, menunjukkan jam dua belas, sama seperti waktu yang sekarang, waktu yang seperti ini.

Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu, ecce homo!"

Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"

Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.

—Kalvari dalam bahasa Latin: Sebuah Tempat Tengkorak dalam bahasa Indonesia. Di sana mereka menyalibkan Dia.

 

Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "YESUS NAZARET, RAJA ORANG YAHUDI. "

Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."

Jawab Pilatus: " Gegrapha, gegrapha—Apa yang kutulis, tetap tertulis."

 

Ini adalah sesuatu yang kasar, ironi yang suram. Hal itu memang menjadi maksud dari Pilatus sendiri. Dia memiliki kebencian terhadap orang Yahudi, dia dikirim ke sana oleh pemerintah Roma, tetapi untuk menghina mereka. Dan hal ini merupakan kesempatan yang menyenangkan untuk dapat mengejek mereka dan hal ini tidak dilewatkan oleh Pilatus.  

Orang sederhana ini, raja mereka: orang ini—Dia memiliki sebuah tongkat; Dia memiliki sebuah jubah kerajaan yang berwarna ungu, yang sudah usang, yang sudah lapuk; Dia memiliki sebuah mahkota, yang terbuat dari duri; dan Dia memiliki sebuah takhta yaitu sebuah salib tua—itulah, rajamu.

Bahkan Pilatus yang tidak memiliki garis kebangsawanan, memakai jubah kebangsawanan. Dia memiliki sebuah istana sebagai tempat tinggalnya. Dia memiliki sebuah takhta untuk dia duduki. Dia memiliki sebuah pasukan Roma untuk diperintah.

Tetapi orang ini, Yesus ini—seorang raja? Penyembahan kepadanya adalah sebuah ejekan dari orang-orang yang bersujud kepadaNya dengan sikap yang menghina. Dan ketika Dia dipakukan ke atas salib, orang banyak dan kumpulan massa itu, melakukan parade di depan dengan teriakan dan cemoohan serta penghinaan. Dan untuk menambahkan penghinaan terhadap itu semua, Pilatus menulis sebuah tulisan dan dipakukan di atas kepalaNya di atas salib: “Yesus Nazaret, Raja Orang Yahudi.” 

Dan itu merupakan sesuatu yang ditolak oleh tua-tua Sanhedrin.

Kemudian, mereka pergi ke gubernur dan berkata, “"Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."

Dan Pilatus, menolak secara terang-terangan dan di dalam penghinaan yang ironi itu dia berkata: “Apa yang kutulis, tetap tertulis”—Gegrapha, gegrapha

Bukankah itu sangat luar biasa, pemeliharaan Allah yang sukar untuk dipercayai bahwa apa yang dimaksudkan untuk menghina dan mencemooh justru membuktikan kebenaran Allah yang di sorga. Dia adalah seorang raja.

Di dalam persekutuan diaken kita, kita memiliki seorang kartunis Kristen yang terkemuka di dunia, yaitu Jack Ham. Setiap bulan dia mengirimkan gambar yang telah dia buat untuk saya. 

Dan ini adalah salah satunya—sesuatu yang telah saya pegang: “Inilah Rajamu,” Yohanes 19:14. Dia memiliki tiga kolom atau lajur. Kristus adalah raja di dunia literatur. Begitu banyak buku yang ditulis mengenai Dia di dunia ini melebihi siapa pun yang pernah ada di dunia ini.

Beberapa di antaranya adalah Milton dengan karyanya, Paradise Lost dan Paradise Regained, Wordsworth dengan karyanya, Ode to Immorality, dan Bunyan dengan karyanya Pilgrim's Progress

Kemudian di dalam lajur musik, Kristus adalah raja di dalam dunia musik. Begitu banyak musik yang ditulis tentang Dia melebihi siapa pun yang ada di dunia ini yang pernah hidup: Bach dengan karyanya “Ascension,” Beethoven dengan karyanya “Mount of Olives,” Handel dengan karyanya “Messiah,” Haydn dengan karyanya “Creation.” 

Kemudian, lajur yang ketiga: Kristus adalah raja di dalam dunia seni. Dia adalah subjek dari Titians dengan karyanya, “Enunciation,”  Raphael dengan karyanya, “Sistine Madonna,”  “The Transfiguration,”  “The Veil of Tears,”  Da Vinci’ dengan karya “The Last Supper,”  Durer dengan karyanya “Crucifixion,” Rubens dengan karyanya “Descent from the Cross” dan Michelangelo dengan karyanya “The Last Judgment.”  Dia adalah seorang raja. Seluruh dunia telah mengakui pernyataan dan karunia yang berasal dari sorga itu.

Judul dari khotbah saya adalah: Kristus, Raja Yang Kekal. “KerajaanNya yang tidak akan berakhir.” Dia akan memerintah sampai selama-lamanya.

Yang pertama, semua kerajaan lainnya akan lenyap seiring dengan waktu, semua kerajaan itu. Di dalam pernyataan Allah yang luar biasa itu, yang berkenaan tentang sejarah umat manusia, di dalam penafsiran dari penglihatan Nebukadnezar, dalam Kitab Daniel pasal dua, dinasti Mesir di Thebes dan Dinasti Asyur di Niniwe, telah berlalu.

Kemudia Daniel memulai, “Engkau adalah raja dari patung emas itu.” Nabonidus dan Nebukadnezar serta Belsyazar, dan taman gantung itu—salah satu dari tujuh keajaiban dunia—lenyap.

Kemudian, dada dan lengan perak: Media-Persia dengan pemimpinnya, Koresy dan Cambyses dad Artaxerxes.  Dan istana emas mereka di Susa, di dalam Alkitab disebut benteng Susan. Lenyap—hancur ke dalam debu tanah.

Kemudian, pinggang yang terbuat dari perunggu: Kerajaan Aleksander dan Yunani dengan pemimpinnya yaitu Cassander dan Lysimakus dan Seleukus serta Ptolemy—lenyap, hancur ke dalam debu tanah, seperti reruntuhan Prathenon di Atena. 

Kemudian, paha besi itu: kekaisaran Barat dengan ibukota Roma dan kekaisaran Timaur dengan ibukotanya Konstantinopel—lenyap, terhempas ke dalam debu tanah dan dimakan zaman.

Kemudian, akhirnya, kaki dan jari-jari yang terbuat dari besi bercampur tanah liat: Bangsa-bangsa yanhg besar dan kecil. Mereka adalah bangsa-bangsa di dunia ini yang kita kenal di dalam generasi kita, satu demi satu dari mereka, di dalam kejayaan mereka akhirnya, terhempas ke dalam debu tanah. Kerajaan Jengis Khan, Kerajaan Turki; Kerajaan Portugal dan Spanyol, Napoleon dari Prancis; Bismark di Jerman, dan pada masa hidup anda, anda telah melihat perpecahan Imperium Inggris.

Tetapi pada masa kerajaan-kerajan ini, Allah akan mendirikan sebuah kerajaan yang tidak akan dapat dihancurkan sampai selama-lamanya. Pemimpinnya disimbolkan dalam sebuah batu yang  terungkit lepas tanpa sebuah tangan manusia—Abraham melihat masaNya dan bersukacita. Musa berbiacara tentang kedatanganNya. Lagu yang mereka nyanyikan di dalam chorus Haleluya, tentang kemuliaanNya. Dan malaikat sorgawi hilir mudik di hadapan Allah dan berkata, “Kerajaan-kerajaan di dunia ini akan menjadi kerajaan Tuhan kita dan Kristus. Dan Dia akan memerintah sampai selama-lamanya.” Kristus, raja yang kekal.

Semua kerajaan lenyap seiring dengan waktu. Tetapi kepunyaanNya akan tetap hingga selama-lamanya. Semua kerajaan lainnya akan pudar. Mereka membangun prinsip mereka di atas sesuatu yang tidak kekal. Mereka mendirikannya di atas perang dan penaklukan atau kekuatan. Semua kerajaan yang pernah memerintah di dunia ini dibangun dengan kemampuan dan kekuatan, bahkan Amerika Serikat yang kita kasihi ini.

Sejarah Amerika ditulis di atas darah dan perang: Perang Prancis dan Indian, Perang Revolusi, Perang pada tahun 1812, perang pada tahun 1845 yang melibatkan negara bagian Teksas, tragedi dari Perang Sipil yang mengerikan dan penuh dengan terror, Perang Dunia I dan Perang Dunia II serta keterlibatan kita di dalam Perang Korea dan Perang Vietnam.

Dan pada hari ini, kemampuan dan kekayaan serta kekuatan Amerika dicurahkan ke dalam apa yang disebut dengan “Perang Bintang” dan misil-misil atom. Pengharapan kita adalah seperti yang mereka katakan, bahwa kepala bom atom ini hanyalah untuk sebuah pertahanan dan tidak akan pernah digunakan.

Tidak ada pernah sebuah penemuan yang bersifat menghancurkan yang secara tragis tidak pernah digunakan. Salah satu hal yang paling tidak biasa ada di dalam sejarah Nobel Skandianvia, yang menemukan dinamit dan TNT. Dan kekuatannya memiliki daya penghancur yang sangat hebat serta mengerikan, dan Nobel pernah berkata, “Temuan itu tidak akan pernah digunakan. Temuan itu terlalu menghancurkan dan sangat mengerikan.”

Dan dia menanamkan di dalam sejarah bangsa-bangsa sebuah Hadiah Perdamaian. Mereka menamakannya sesudah dia: Hadiah Nobel Perdamaian. 

Alasan dari pembentukan badan itu, yang mendukung hadiah yang diciptakan oleh Nobel itu adalah karena dinamit dan TNT itu bersifat sangat menghancurkan, sehingga dengan adanya hal tersebut maka tidak akan ada lagi perang. Akan tetapi, pertama kali hal itu digunakan adalah untuk menghancurkan dan membunuh umat manusia.

Saya sangat bersimpati dengan pemerintah Amerika kita. Saya bukan seorang yang tidak cinta damai. Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa, tetapi di dalam masa damai ada persiapan untuk perang. Ketika anda memiliki sebuah kekuasaan yang sangat luas—presiden kita menyebutnya sebagai sesuatu yang jahat yang ditujukan kepada filsafat Karl Marx dan Nicolai Lenin, yang siap utuk berperang, dan kita lihat, di depan pintu kita, filsafat yang mengerikan itu ditanamkan di dalam kehidupan orang-orang Kuba di bawah kepemimpinan Fidel Castro yang sangat menakutkan, dan sekarang telah ditanamkan di Nikaragua dan di bawah kepemimpinan Sandinitas, dan yang paling mengejutkan kita—setidaknya bagi saya—bahkan telah merambah ke Panama di bawah kepemimpinan Noriega, dan saya tidak di tempat-tempat yang lainnya juga.

Di sini, di perbatasan selatan, berada di dalam gengaman tangan Komunis, ateis Rusia, dan saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Saya hanya mengetahui bahwa di dalam membaca sejarah bangsa-bangsa—mereka semua—menemukan  pokok akhir mereka di dalam kematian, jika mereka memiliki tragedi yang mengerikan itu. Yang berakhir dalam darah, air mata, kehancuran dan kematian. 

Kadang-kadang saya berpikir tentang Konferensi Pelucutan Senjata Dunia yang diadakan di Washington pada tahun 1922, setelah Perang Dunia I. Presiden Warren G. Harding dari Amerika Serikat, Charles Evans Hughes, Sekretaris Negara—yang kemudian menjadi Hakim Agung kita—dan David Lloyd-George, perdana menteri Inggris Raya. Mereka bertiga berada dalam satu mobil untuk pergi ke konferensi itu. Dan, Charles Evans Hughes berkata, “Kita bertiga adalah orang Baptis.” Dan  David Lloyd-George membalas, “Kita menjadi anggota persetuan yang paling bebas di dunia.”

Selanjutnya, pada hari pertama Konferensi Perlucutan Senjata dunia itu, dibuka oleh seorang pendeta Kristen, dipimpin dalam doa, memohon kepada Allah untuk memberikan kemurahan atas bangsa-bangsa di dunia sehingga kita tidak lagi belajar perang. Kemudian Charles Evans Hughes—suatu kali saya pergi ke sebuah gereja dan duduk di dekat dia, di mana saya dapat melihatnya, seorang pria yang luar biasa—Charles Evan Hughes memberikan pidato yang panjang pada hari itu, memohon campur tangan Allah di dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Dan itu merupakan sesi yang pertama. Dan hanya itu.

Malam itu, saat berada di dalam hotelnya, duta besar Jepang duduk termenung. Pelayannya  masuk ke dalam dan berkata, “Tuan, hari sudah larut. Anda harus beristirahat.”

Duta besar Jepang itu menjawab, “Tidak. Biarkan saya sendiri.”

Setelah beberapa waktu berselang, pelayannya datang untuk kedua kalinya dan berkata, “Tetapi Tuan, ini sudah sangat larut, anda harus beristirahat.”

Duta besar Jepang berkata, “Tidak. Biarkan saya sendiri.”

Setelah beberapa waktu selanjutnya, pelayannya, datang sekali lagi dan berkata, “Tetapi tuan, anda harus beristirahat.”

Dan duta besar Jepang itu berkata, ““Marilah dan duduk di dekat saya.”  Dan pelayannya itu duduk di dekatnya.

Dan duta besar Jepang itu berkata, “Hari ini merupakan pertemuan yang paling tidak biasa yang pernah saya hadiri: Pria ini memohon campur tangan Allah, dan Sekretaris Negara itu memohon pertolongan dari sorga dan tangisan hati dari masyarakat kita untuk dapat dibebaskan dari perang.”       

Dan pelayan Jepang yang mendengar duta besarnya besarnya itu berkata, “Mereka benar. Tidak ada pengharapan yang lain selain di dalam Allah dari seluruh umat manusia.”

Jika kita memiliki suatu kerajaan, hal itu terletak di dalam kasih dan anugerah dari Dia, seseorang yang Allah gambarkan sebagai Pribadi yang, “Sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan dan buluh yang terkulai tidak akan dipatahkannya:: kelembutan dan kasih serta pengorbanan Tuhan Yesus! Raja yang kekal! 

Tetaplah bergabung bersama dengan saya untuk beberapa saat lagi. Semua kerajaan gagal di dalam pengharapan mereka—semua kerajaan-kerajaan itu. Saat membaca sejarah, saya sering kali melewati nama-nama seperti Demetrius Soter, Ptolemais Soter, Philadelphia Soter, Seleucus Soter, Antiochus Soter. 

Melihat nama itu dalam bahasa Inggris, saya tidak memiliki ide tentang maksudnya. Ketika saya membacanya dalam bahasa Yunani, soter adalah kata Yunani untuk “juruselamat.” Dan orang ini datang, berharap untuk menjadi juruselamat bagi rakyat mereka. Tanpa kecuali, jabatan juruselamat mereka terpecah ke dalam keputusasaan dan kematian. 

Semua kerajaan yang kita lihat dan lalui di dalam hidup kita sama seperti itu. Apa pun ambisi atau sukses yang dapat kita tunjukkan atau harapkan untuk kita capai akhirnya larut di dalam keputusasaan dan di dalam kematian.

Saya ingat suatu kali saya membaca surat kabar dan membaca berita utamanya: “Mr. Eastman dari Kodak, di Rochester, New York—Mr. Eastman telah membunuh dirinya sendiri”—salah satu orang terkaya di dunia, salah satu orang yang paling sukses. Allah Mahabesar! Betapa kosongnya dan betapa sia-sianya hal-hal yang dapat kita raih di dalam hidup ini!

Presiden Amerika Serikata yang pertama kali saya lihat adalah Calvin Coolidge. Calvin Coolidge memiliki seorang anak yang sangat dia banggakan, seorang remaja. Ketika berada di Gedung Putih, entah bagaimana anaknya itu melukai dirinya sendiri. Lukanya kemudian beracun dan bocah itu mati karena darahnya keracunan.  

Calvin Coolidge berkata, “Ketika anak saya meninggal, kilauan dan kemegahan Gedung Putih hilang bagi saya.” Dan seperti yang anda tahu, dia pensiun dari kehidupannya di hadapan umum, dan kembali ke lahan pertaniannya yang kecil di Vermont, menanam sayur-sayuran dan menjualnya di jalan yang melintas di depan rumahnya, hanya memandang hari-hari ketika dia akan bergabung dengan anaknya di dalam sorga. 

Semua ambisi dan semua prestasi di dalam kehidupan umat manusia—jika mereka berada di dalam dunia ini, mereka menjadi milik dari sesuatu yang pudar dan perpecahan serta keputusasaan. Tetapi ada suatu prestasi yang luar biasa, yang menjadi panggilan sorgawi, bagi setiap orang yang paling sederhana dari kita, untuk dapat memberikan jiwa dan kasih serta hidup yang tidak akan pernah gagal: Kerajaan Yesus, Juruselamat kita.

 

Aku telah menyusuri jalan kehidupan

Dengan sebuah langkah yang ringan

Yang telah diikuti

Dimana kesenangan dan kebahagiaan memimpin

Hingga suatu hari

Dalam sebuah tempat yang hening

Aku bertemu Tuhan

Muka dengan muka

Dengan pancaran dan

Kemewahan serta kekayaan

Bagi tujuanku

Yang banyak dipikirkan hanya untuk tubuhku

Dan bukan untuk jiwaku

Aku telah masuk untuk menang

Dalam perlombaan hidup yang gila

Ketika aku bertemu Tuhan

Muka dengan muka

Aku telah membangun kastilku

Dan menempatkannya dengan tinggi

Hingga menembus

Birunya langit

Aku telah bersumpah terhadap aturan

Dalam perlombaan hidup yang gila

Ketika aku bertemu dengan Tuhan

Muka dengan muka

Aku bertemu denganNya dan mengenalNya

Dan sekilas melihatNya

Bahwa mataNya penuh dengan kedukaan

Yang tertuju kearahku

Aku terhuyung-huyung dan terjatuh

Di kakiNya pada hari itu

Sementara kastilku

Menghilang dan lenyap

Menghilang dan lenyap

Dan diatas tempat mereka

Tampak sia-sia olehku

Tetapi pada wajah Tuhan

Aku menangis dengan keras

Oh, buatlah aku bertemu

Untuk mengikuti jejak-jejak

Dari langkahMu yang terluka

Pikiranku dan doaku

Serta hidupku yang sekarang

Untuk jiwa-jiwa manusia

Aku telah terhilang

Untuk ditemukan kembali

Hingga suatu hari nanti

Dalam sebuah tempat yang hening

Aku bertemu Tuhan

Muka dengan muka

 

Ini adalah kerajaan dan prestasi serta panggilan yang bersifat abadi, yang kekal sampai selama-lamanya. O, Allah berikanlah kami jaminan sehingga kami memberikan hati dan tubuh, roh serta jiwa, pada hari-hari dan tahun-tahun yang kami jalani kepada Juruselamat yang mulia.

Sekarang, bolehkah kita berdiri bersama-sama? Dr. Keith Eitel adalah seorang Professor Misiologi di sekolah pendeta kita. Dan dia akan memimpin di dalam doa permohonan kita.

Allah begitu baik kepada anda, bagi kita, dan semoga Paskah menjadi hari Tuhan yang penuh kemenangan yang pernah kita bagi bersama-sama.

Dr. Keith Eitel?

Mari kita berdoa.

 

Alih basaha: Wisma Pandia, ThM