DOA SYAFAAT

(INTERCESSORY PRAYER)

 

Dr. W. A. Criswell

 

03-20-83

Yohanes 17:9-20

 

Ini adalah Pendeta dari Gereja First Baptist di Dallas, yang sedang menyampaikan khotbah yang berjudul: Doa Syafaat, berdoa bagi orang lain.

Di dalam Injil Yohanes pasal 17, di situ tercatat Doa Imam Besar dari Tuhan kita. Dan di dalam Yohanes 17 ayat 9: “Aku berdoa untuk mereka….yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu.”  

—Aku berdoa untuk mereka.” 

Dan di dalam ayat dua puluh: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka” Dan itu adalah sebuah doa yang termasuk bagi kita: Berdoa untuk murid-muridnya dan berdoa untuk orang-orang yang percaya bagi mereka sebagai pelayan firman Allah sepanjang generasi, yang akhirnya samapi kepada kita.

“Aku berdoa untuk mereka”: Doa Pengantara.  

Seseorang dapat menghitung keseluruhan hidup dari Tuhan kita di dalam doanya. Hanya dengan menceritakan kisah dari permohonan doaNya, dan anda akan menceritakan kisah dari Juruselamat yang mulia.

Injil Markus dimulai dengan jenis gambaran itu. Murid-murid di Kapernaum mencari Yesus dan tidak dapat menemukan Dia. Ketika akhirnya mereka menemukan Dia sedang berdoa di seberang Laut Galilea.

Tuhan kita sangat berkuasa, di dalam kuasa mujijat, memberkati orang-orang. Mereka melihatnya di dalam sebuah kesempatan untuk membebaskan bangsa dari kuk perjajahan Roma dan perbudakan. Ini adalah seorang pribadi yang dapat memberi makan sebuah pasukan dengan lima roti dan dua ikan. Ini adalah seseorang yang dapat membangkitkan seorang prajurit yang terbunuh.

Dan Yohanes berkata, di dalam injilnya, orang-orang berusaha menjadikan Dia seorang raja. Hal itu menyenangkan murid-muridNya, dan mereka memiliki kepentingan orang-orang di dalam keyakinan itu: Membuat Yesus sebagai raja militer dan politik. Kemudian catatan itu berkata Tuhan menyruh murid-muridnya pergi, dan Dia sendiri mengasingkan diri ke gunung dan berdoa sendirian.

Kita diberitahukan oleh Lukas bahwa sebelum Yesus memilih dua belas rasul, Dia berdoa semalaman. Kadang-kadang saya berpikir betapa hebatnya, betapa luar biasanya, dan hal yang tidak biasa adalah bahwa dari orang-orang yang tidak terlatih itu, orang sederhana yang tidak terpelajar itu, para nelayan, pemungut cukai ada seorang Simon Petrus dan seorang rasul Yohanes dan seorang Matius yang menulis Injil Pertama, di dalam jawaban doa dari Tuhan kita yang mulia.

Dia selalu berdoa. Dia berdoa sebelum Dia memberi makan 5.000 orang. Dia berdoa sebelum Dia mencelikkan mata orang buta. Dia berdoa sebelum Dia memanggil Lazarus dari kematian.

Ketika orang-orang Yunani mengunjungi Dia, sebuah tanda, sebuah simbol dari seluruh peradaban dunia, Tuhan kita menemui mereka dalam doa. Dia berdoa untuk Simon Petrus:

Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.

 

“Aku telah berdoa untuk engkau.”

Dia berdoa di taman Getsemani. Dia berdoa di atas kayu salib, ketika Dia meninggal. Dia berdoa ketika Dia naik ke sorga, merentangkan tanganNya dan memberkati orang-orang yang melihatNya, rasul-rasul yang sedang menunggu.

Dan berdasarkan kepada salah satu ayat yang paling bermakna di Alkitab, Ibrani 7: 25, Tuhan berdoa bagi kita di dalam sorga. Penulis Ibrani menulis:

Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Dia hidup selamanya untuk menjadi pengantara bagi mereka.

—“Untuk menjadi pengantara bagi mereka.”

Saya akan senang untuk berada di sana ketika Tuhan kita melihat ke dalam wajah Simon Petrus dan berkata, “Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau.” Saya senang jika dapat berada di sana untuk mendengan Tuhan kita berkata, “Aku telah berdoa untuk engkau.”  

Tetapi, saudara yang terkasih, tidakkah saya akan mengingat Dia bahwa Dia melakukannya setiap waktu bagi kita di setiap hari? Kita tidak dapat berdiri di hadapan serangan gencar dari Setan di mana Tuhan kita tidak berdiri bagi kita di sorga, dan menjadi pengantara bagi kita.

Saya ulangi bahwa anda  dapat menceritakan kisah Tuhan kita hanya dengan menghitung permohonan doaNya. Itu merupakan hal yang tidak biasa, ketika saya membaca Firman Allah, bagaimana Tuhan menjadi pengantara, bagaimana Dia memberkati atau Dia mengujungi pengadilan dan menjadi pengantara.

Tidak seorang pun dari kita yang dapat menjelaskan segala sesuatu tentang Allah dan karyaNya yang luar biasa. Kita hanya melihatnya. Kita hanya memandangnya. Hukum dari Yang Mahakuasa sebagaimana Dia mengatur alam semesta ini, kita tidak dapat menjelaskannya. Kita hanya menyaksikannya.

Tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan gravitasi. Itu sangat luar biasa bagi kita. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan tentang cahaya. Kita hanya dapat merasakannya. Tidak ada yang dapat menjelaskan tentang hukum penuaian. Kita hanya mengamatinya.

Demikian juga di dalam dunia rohani: kita hanya mematuhinya. Dan salah satu hukum rohani Allah adalah hal ini: Dia mendengarkan dan Dia menjadi pengantara. Dan Allah memberkati atau menilai berdasarkan apakah Dia menemukan pengantara atau tidak.

Israel, seperti yang anda tahu—Yehuda, seperti yang anda ketahui, mereka telah dihancurkan. Mereka pergi ke dalam pembuangan. Bangsa mereka telah diruntuhkan. Kota mereka telah dikeruk. Bait Suci mereka telah  dibakar. Dan mereka hidup dalam perbudakan. Mengapa?

Hanya dengan berpaling ke dalam sebuah  dari Alkitab, maka kita akan melihat alasannya, di dalam Yesaya 59 ayat 15 dan 16:  

         

Dengan demikian kebenaran telah hilang, dan siapa yang menjauhi kejahatan, ia menjadi korban rampasan. Tetapi Tuhan melihatnya, dan adalah jahat di mata-Nya bahwa tidak ada hukum.

Ia melihat bahwa tidak seorangpun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendiri memberi Dia pertolongan, dan keadilan-Nyalah yang membantu Dia.

 

Saya berpaling ke dalam Yesaya pasal 63 dan 64. di dalam pasal 63 ayat 4 dan 5:

 

Sebab hari pembalasan telah Kurencanakan…

Aku melayangkan pandanganKu: tidak ada yang menolong; Aku tertegun: tidak ada yang membantu.

 

Pasal selanjutnya—64, ayat 6 dan 7:

 

Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami.

 

Di dalam Yehezkiel, pasal 22 ayat 30:

 

Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.

 

Tidak ada yang menjadi pengantara dan kemusnahan serta kehancuran datang kepada umat.

Di dalam Yoel pasal 2 ayat 17:

 

Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

 

Biarkan para imam dan pelayan-pelayan berdiri di antara serambi dan altar, dimana mereka melayani di hadapan Allah. Dan biarkan mereka meratap dan memohon dan menjadi pengantara, “Tuhan, sayangilah umatMu.”

Inilah jalan Allah. Inilah jalan yang telah Dia pilih. Di melihat. Dia mencari pengantara. Dan jika seseorang berkata, “Mengapa doa? Mengapa memohon?”—jawabannya terletak di dalam hati Allah.

Sekali pun kita hidup atau mati, kita berbaring di dalam pengantara itu. Jawabannya ditemukan dari doa jemaat yang memimpin saya ke dalam sebuah pengakuan yang saya pikir bahwa hal itu menjadi fakta dari diri sendiri: Tugas kita memaksa kita, menundukkan kita. Hal itu menekan kita. Kita berada di atas wajah kita. Kita berada di atas lutut kita.  

Tuhan, Tuhan, siapakah yang layak dari semua ini? Kemudian seluruh takdir dari hidup kita bergantung atas doa kita. Tuhan, Tuhan, apa yang harus saya lakukan?

Rasul Paulus seringkali menulis tentang kebutuhan pribadinya untuk diingat dalam doa. Di dalam Roma 15 ayat 30: “Tetapi demi Kristus Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untukku.”

Saya berpaling ke bagian lain, di dalam Efesus, pasal yang terakhir: “Berdoalah dalam segala doa dan permohonan di dalam Roh, juga kepadaku,” Efesus 6:18 dan 19.

Saya berpaling lagi ke dalam Kolose 4:2: “Bertekunlah dalam doa. Berdoalah juga untuk kami.”

Saya berpaling lagi ke dalam 1 Tesalonika 5:25: “Saudara-saudara, berdoalah untuk kami.”

Saya berpaling lagi ke dalam 2 Tesalonika pasal yang terakhir—2 Tesalonika 3:1: “Selanjutnya saudara-saudara, berdoalah untuk kami.”

Saya tidak akan membaca 2 Korintus 1:11, Filipi 1:19, Filemon 22: “Saudara-saudara, berdoalah untuk kami.”

Tidak ada suatu kekuatan yang kita miliki di dalam pekerjaan kita keculai hal itu datang melalui doa. Banyak hal lain yang dapat kita lakukan di dalam daging, di dalam rencana pribadi kita, di dalam karunia dan kemampuan kita. Tetapi kita tidak dapat melakukan pekerjaan Allah tanpa doa.

Saya katakan lagi, tugas yang diberikan kepada kita begitu luas, berjejalan. Hal itu memaksa kita untuk berlutut. Di atas wajah kita, kita tersungkur di hadapan Allah, meminta kepada Allah pertolongan dan kekuatan, berdoa untuk dunia kita.

Ada sesuatu seperti 2. 000.000 orang Cina yang mati setiap bulan tanpa Kristus. Tuhan, apa yang harus kami lakukan? Ini hanyalah satu bangsa dari kemungkinan 260 bangsa: Orang-orang yang terhilang yang mati tanpa Kristus.

Kita perlu berdoa untuk bangsa kita, negeri kita sendiri. Kita sedang menghadapi perpecahan dari setiap segi permukaan hidup kita: kehancuran keluarga-keluarga, kehancuran serat moral bangsa, dan masalah yang tidak dapat dipecahkan oleh pemerintah kita.

Tuhan, siapakah yang layak dengan hal-hal ini? Kita harus berdoa. Allah pasti menolong kita.

Kita harus berdoa untuk gereja kita. Tidak ada kekuatan di dalam kita. Tidak ada kemampuan di dalam kita. Kekuatan yang kita miliki dan kemampuan yang kita miliki terletak di dalam kuasa dan kehadiran Allah. Kita harus berdoa.

Salah satu permukaan yang dihadapi oleh kehidupan gereja kita adalah pelayanan doa pengantara kita yang berlanjut hingga 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Tetapi kita membutuhkan pengantara. Kita membutuhkan orang-orang untuk bergabung dengan kita di dalam doa itu. Tuhan membutuhkan pendoa-pendoa yang menjadi pengantara.

Dan kita tidak pernah mendapatkan diri kita begitu tidak berdaya ketika kita berusaha untuk melakukan pekerjaan Allah di dunia. Dan saya berharap untuk menjadi pelayan yang terlatih dan berpendidikan. Sebagai contoh, saya mendapatkan lima gelar doktor. Dan saya telah menjadi pendeta lebih dari setengah abad. Sekarang telah lima puluh lima tahun saya menjadi seorang pendeta.

Tetapi dengan semua latihan dan latar belakang yang saya miliki, ketika anak yang paling kecil di bawa ke hadapan saya, dan anak kecil melihat wajah Allah untuk dislamatkan, apa yang saya lakukan untuk pertobatan, untuk meregenerasikan jiwa seorang anak kecil—orang yang paling sederhana di tengah-tengah kita? Ini adalah sebuah pekerjaan Allah. Allah sediri yang dapat menciptakan kembali, melahirbarukan, meregenerasikan, mempertobatkan jiwa-jiwa.

Itu adalah sebuah penyenbahan di hadapanNya: “Tuhan, Tuhan.” Itu adalah sebuah tugas bagi aku yang tidak layak. Allah harus menolong. Kita mencari wajah Allah di dalam doa.

Setelah delapan belas tahun melayani, ada sesuatu yang datang kepada saya, seorang istri muda yang cantik di gereja. dan dengan penuh air mata, kami berlutut di atas altar, berdoa untuk sebuah beban di dalam hatinya, untuk anggota keluarga yang mengasihinya.

Jika kita bisa, menyentuh sebuah tombol  atau melakukan sebuah usaha untuk mengubah hidup, O Tuhan, kami tidak dapat melakukan hal ini oleh diri kami sendiri. Tidak ada sebuah tombol untuk disentuh. Dan tidak ada usaha dari daging yang dapat menghasilkan regenerasi yang luar biasa di dalam roh, di dalam jiwa. Kita harus menyerah kepada Allah.

Sekarang Allah telah melakukan hal yang luar biasa bagi kita. Ada beberapa pelayanan yang tidak dapat kita masuki. Beberapa dari kita memiliki karunia. Beberapa dari kita memiliki kemampuan. Beberapa dari kita memiliki talenta. Dan orang-orang yang memiliki karunia, bakat dan talenta ini tidak dapat melakukan hal-hal tertentu kepada Tuhan—bernyanyi atau bermain atau memberi atau melakukan hal-hal yang yang saya lihat di dalam jemaat yang ada di gereja ini. 

Bebetapa dari mereka dalah guru yang berbakat yang ada di dunia yang mengajar di sini setiap hari Minggu. Saya hanya takjub akan kemampuan mereka. Jadi melalui seluruh jemaat, ada orang-orang yang memiliki bakat yang luar biasa. 

Dan tidak semua dari kita yang memiliki talenta itu. Tidak semua dari kita yang dapat berbagi di dalam pelayanan itu di hadapan Tuhan. Tetapi ada satu hal yang di dalamnya kita dapat berpartisipasi: Kita dapat berdoa. Kita semua dapat melakukannya.

Di dalam Kitab Ibrani pasal 4 ayat 14 dan 15 disebutkan:

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

 “Sebab itu,” kata penulis kitab ini, “marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita tepat pada waktunya”—setiap orang, siapa saja.

Tirai telah terbelah dua. Tidak ada penghalang antara setiap orang dari kita dengan Allah. Datang dengan penuh keberanian. Tongkat lambang kekuasaan dari raja yang besar selamanya diulurkan. Selamat datang! Datang dengan penuh keberanian di hadapan Allah dan Juruselamat dan biarkan permintaan anda dibuat kepada Tuhan. Berdoa. Selamat datang, kata Allah.

Dan di dalam pelayan yang mulia itu, yang kita semua dapat berbagi dengan indah dan luar biasa. Pengumuman telah dibuat pagi ini bahwa Minggu depan—hari Minggu besok kita akan memulai ibadah tahunan dari pra-Paskah kita. Pendeta akan berkhotbah setiap hari pada tengah hari, Minggu hingga Jumat, seminggu sebelum Paskah.

Saya berpikir tentang ibadah pra-Paskah pertama yang saya pimpin. Mereka dilangsungkan di Teater Palace, di mana Dr. Truett telah berkhotbah sejak teater itu dibangun. Dan ketika Dr. truett meninggal dunia, saya memimpin ibadah pra-Paskah di Teater Palace itu.

Pada hari itu, setelah saya selesai berkhotbah di sana, sebaik yang dapat saya lakukan, saya berjalan ke pintu depan, sesuatu yang jarang saya lakukan. Biasanya saya keluar melalui pintu samping. Saya berjalan keluar melalui pintu depan dan di sana di serambi teater itu, berdiri seorang wanita tua yang mungil dengan memakai pakain hitam-hitam. Topinya, sepatunya, pakainnya, semuanya berwarna hitam. Dia adalah seorang wanita yang sangat mungil.

            Dan dia datang kepada saya dan berkata, “Pendeta, ini adalah pertama kali saya melihat anda.” Dia berkata, bahwa dia benar-benar cacat dan dia hanya mendengarkan melalui radio. Tetapi telah menjadi anggota gereja itu.

            Dan dia memberitahukan jumlah tahun-tahun dia mendengar melalui radio. Dan dia berkata, “Hari ini adalah sebuah hari yang indah, seorang tetangga membawa saya ke sini, ke teater ini sehingga saya bisa melihat wajah anda dan bertemu anda.”

            “Sekarang,”  katanya, “Pendeta saya minta maaf. Tidak ada yang saya dapat lakukan untuk membantu anda dalam pelayanan. Saya miskin dan tidak memiliki uang dan saya sudah tua dan tidak dapat datang. Dan semua hal yang dapat lakukan hanyalah berdoa untuk anda.”  

Saya meletakkan tangan saya ke atas bahu wanita yang kudus itu dan saya berkata, “hal yang dapat anda lakukan adalah berdoa, hanya berdoa? Hal itu,” saya berkata kepadanya, “Itu lebih dari pada segala sesuatu yang dapat anda berikan yaitu: bahwa anda berdoa untuk saya.”

Tidak ada pelayanan yang didalamnya memiliki pengulangan sorgawi seperti doa pengantara. “Saudara-saudara, kata Paulus, “Berdoalah untukku”—berdoalah untukku. Ini adalah saluran Allah di dalam kuasa dan anugerah serta ingatan Allah. Ini adalah cara yang Allah yang telah membuat seluruh alam semesta. Kita menjangkau Allah melalui doa.

Bolehkah saya menunjukkan bagaimana doa, doa pengantara akan melakukannya bagi kita, bagi orang lain, apa yang akan dilakukannya terhadap anggota keluarga kita.

Yang pertama, apa yang akan dilakukannya bagi kita—bagaimana doa seseorang lain melakukan sesuatu bagi kita. Saya telah memegang sebuah traktat kecil, dan saya membaca hal ini: “Istri seorang petani memberitahukan kepada saya bahwa suaminya keluar dari gudang sedang memilah domba, lalu saya melihat bagaimana dia melakukannya. Melihat saya sangat tertarik, petani domba datang melalui pintu gudang itu. Dia menghapus keringat di wajahnya. Dia berkata, “Berkerja dengan domba membutuhkan banyak kesabaran. Kadang-kadang kita memiliki sebuah kerja keras agar anak domba itu dapat mulai menyusu pada induknya. Mereka tidak dapat menemukan susu induknya. Jadi kita harus membantu mereka.  

Sekarang, pekerja upahan seringkali tidak suka membungkuk untuk menolong mereka. Dia berusaha memukul domba kecil itu agar berkumpul di sekeliling induknya, tetapi itu bukan cara yang harus dilakukan. Saya selalu berlutut melakukannya dengan anak domba itu. Kemudian hal itu akan menjadi lebih mudah menolongnya, dan mereka akan belajar dengan segera. Anda harus berlutut. Tidak ada jalan pintas. Anda harus berlutut, jika anda ingin menolong domba kecil itu.”’

Kemudian dia melanjutkan: “Seorang gembala yang baik tahu bagaimana harus berlutut bersama dengan anak-anak domba. Sulit untuk memukul anak domba ketika anda berlutut bagi dia di hadapan Allah. Tangan yang disewa, ketika anak domba lahir, hanya memukul domba kecil itu ke samping induknya. Tetapi seorang gembala yang baik akan berlutut dan menuntun anak domba itu ke induknya dan untuk hidup serta makan.”

Dan pendeta berkata, “Sulit untuk memukul anak domba ketika anda berlutut dan sedang berdoa. Sulit untuk membenci dan mengkritik ketika anda berlutut dan berdoa bagi seseorang. Hal itu akan mengubah anda ke dalam sesuatu yang lain ketika anda berdoa bagi orang lain.” Tuhan, Tuhan, betapa kami butuh untuk diajar hingga kami dapat menjadi pengantara: berdoa bagi orang lain.

Itu merupakan sebuah hal yang luar biasa tentang apa yang terjadi bagi orang lain ketika kita berdoa, khususnya bagi musuh-musuh kita dan orang-orang yang tidak kita sukai. Di dalam Khotbah di Bukit, Tuhan kita berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Dan Dia merupakan sebuah teladan dari apa yang Dia ajarkan ketika di atas salib, dia berdoa bagi orang-orang yang memakukan tangan dan kakiNya.

Dan akibat dari kematian Tuhan kita tidak hanya menjangkau ke dalam kepala pasukan yang berdiri yang memimpin penyaliban itu. Tetapi, dampaknya telah menjangkau kita pada hari ini. Ada sesuatu tentang keindahan hidup dan kasih Tuhan kita yang menggerakkan dunia, dan menggerakkan saya: “Tuhan, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Atau ketika Tuhan menampakkan diri kepada Saulus dari Tarsus di jalan ke Damsyik, Dia berkata kepadanya: “Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.” Apa maksudNya dengan hal itu: “Sukar bagimu menendang ke galah rangsang?”  

Itu sangat jelas, ketika anda berpikir tentang hal itu. Dia memimpin para perajam martir Allah yang pertama. Dia melakukannya. Dia adalah pemimpin dari eksekusi itu: Saulus dari Tarsus, berusaha membunuh umat Allah. Ketika dia melihat Stefanus meninggal, dia juga melihat wajah Stefanus, saat mukanya seperti muka malaikat. Dan dia mendengar Stefanus berdoa, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan kemudian dia meninggal.

Ketika Saulus terbangun di tengah malam, dia melihat wajah Stefanus. Ketika Paulus membuka gulungan Kitab suci, di atas lembaran-lembaran suci, dia melihat wajah Stefanus. Berjalan di setiap jalanan, dia melihat Roh dari martir Allah yang pertama.

Itulah sebabnya mengapa Tuhan berkata, “Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.” Kehidupan seseorang seperti Stefanus akan membawa pertobatan terhadap setiap hati manusia. Itulah yang dilakukan oleh doa, doa pengantara yang penuh kasih.

Dan saya tidak memiliki waktu untuk membicarakan apa yang dilakukan oleh doa pengantara di dalam lingkaran rumah dan keluarga kita. Minggu ini saya telah membaca beberapa kali di tahun yang lewat, sebuah survei statistik tentang bagaimana orang-orang dimenangkan kepada Tuhan. 

Hal itu akan mengejutkan anda tentang apa yang disingkapkan oleh survei itu. Orang-orang yang dimenangkan kepada Kristus melalui radio merupakan sebuah persentase yang yang paling kecil. Atau orang-orang yang dimenangkan kepada Kristus melalui aktivitas organisasi keagamaan hampir sangat sedikit.

Tetapi ketika anda menghitung orang-orang yang dimenangkan kepada kasih Kristus dan doa serta kesaksian dari keluarga atau sahabat, yang dapat dilakukan oleh anda mimiliki posisi terbesar. Saya dapat melakukannya. Anda dapat melakukannya. Di luar dari jumlah yang kecil itu, kita semua dimenangkan kepada Kristus oleh karena kasih dan doa yang sungguh-sungguh terhadap seseorang.

Itulah cara yang dibuat Allah. Hal itu menyenangkan Tuhan, bahwa kita harus bersaksi, bahwa kita harus berbicara kepada orang lain dengan perhatian yang dalam kepada mereka dan perjuangan mereka. Dan Allah menyendengkan telingaNya untuk mendengar umatNya ketika mereka berdoa dan Dia menjawabnya dari atas sorga.

Jika saya diminta, seperti yang seringkali saya lakukan di dalam jemaat ini, dalam beberapa tahun belakangan ini, anda semua dimenangkan kepada Kristus, dikenalkan kepada Kristus, melalui kasih dan doa yang sungguh-sungguh berkenaan dengan orang lain, secara pribadi—jika saya meminta anda untuk mengangkat tangan anda, secara praktis kita semua akan mengangkat tangan kita—doa ibu, doa ayah, perhatian dari para tetangga.

Itu adalah cara Allah melakukan pekerjaanNya di dunia ini. Dan hal itu terbuka bagi kita semua. Setiap orang dari kita dapat berdoa. Dan setiap orang dari kita dapat menyampaikan perkataan yang baik tentang Yesus. Dan Allah melakukan sisanya.

Dan kita meminta kepada Allah, bahwa pada saat ini, untuk melakukan sebuah hal yang mulia, bagi juruselamat yang berada di sorga dan bagi kita yang telah mengundang dan mengasihi dan berdoa untuk hal itu.

Di dalam kesempatan ini, ketika kita menyanyikan himne permohonan kita, anda akan berkata, “Pendeta, hri ini saya akan menjawabnya dengan seluruh hidupku. Aku datang dengan pertolongan Allah, untuk membuka hatiku terhadap kehendak sorga dan kehendak Kristus. Aku akan menerima Yesus ke dalam hidupku dan ke dalam hatiku.” Atau, “Pendeta, inilah keluargaku, dan kami semua datang ke dalam persekutuan jemaat yang penuh kasih ini.” Atau, “Pendeta, Allah telah menyampaikan di dalam KitabNya bahwa ketika aku percaya kepadanya, aku harus dibaptis dan mengikuti Dia ke dalam air sungai Yordan.” Atau, “Pendeta, hari ini Allah telah berbicara kepadaku, dan aku datang untuk menjawab panggilan Allah.” 

Atau, dapatkah saya mengalamatkankan secara khusus dan permohonan yang khusus? Ada begitu banyak dari anda yang telah menjadi anggota dari organisasi Zig Ziklar. Anda tidak harus bergabung dengan gereja ini untuk maju ke depan. Anda mungkin tinggal di kota yang lain. Anda mungkin bekerja di area yang lain atau mungkin keluarga anda terikat ke dalam persekutuan yang lain. 

Tetapi, jika hari ini, Allah telah menempatkan ke dalam hati anda untuk memberikan hidup anda kedalam sebuah pengabdian yang baru dan makna yang lebih mendalam kepadaNya, maukah anda datang? Dan Zig beserta dengan saya akan berdoa, anda berlutut di sini dan kami akan berdoa bagi anda. Hal itu akan memberkati anda. Itu akan menyenangkan Bapa kita di dalam sorga.

Sebagaimana Roh Kudus menyentuh hati anda, jawablah dengan hidup anda. Lakukanlah pada hari ini. Dan Allah memberkati dan menguduskan respon pengabdian yang anda buat ketika anda datang.

Bolehkah kita berdiri bersama-sama?

Tuhan kami yang berada di sorga, bagaimanakah aku dapat membingkai rangkaian kata-kata ucapan syukur dari jiwaku yang terdalam bagi orang-orang yang telah berdoa bagiku? Ibuku, Ayahku, orang-orang yang mengenalku ketika aku masih kecil, terima kasih Tuhan karena mereka telah mengingatku dalam doa mereka. Aku bersyukur kepadaMu Yesus yang mulia, untuk ribuan anggota jemaat ini yang menyebutkan nama pendeta mereka di depan takhta anugerah Allah. Allah memberkati mereka. 

Dan Tuhan kami, di dalam kumpulan orang banyak yang hadir pada pagi hari ini, jika ada seseorang yang belum mengasihi dan berdoa, di dalam jawaban doa, semoga mereka memberikan hidupnya kepadaMu. Tuhan Yesus yang mulia, buatlah hari ini menjadi hari yang luar biasa.

Dan ketika jemaat kami menunggu dan berdoa, buatlah keputusan itu di dalam hati anda pada hari ini: “Aku akan menjawab panggilan Allah dengan seluruh hidupku, dan aku datang.”

Di sekitar balkon, turunlah melalui salah satu tangga ini, bagi anda yang berada di kumpulan orang banyak yang berada di lantai bawah, telusurilah salah satu lorong ini, datanglah untuk berlutut dan berdoa. Anda dapat kembali ke tempat anda atau tetap duduk atau anda dapat tetap tinggal dan biarkan saya memberitahukannya kepada orang-orang sehingga anda dapat datang. Jawablah, dan semoga Roh Kudus hadir ketika anda datang.

Terima kasih Tuhan, untuk tuaian yang manis. Di dalam namaMu yang mulia, Amin.

 

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.